Rabu, 12 Oktober 2016

Eksotisme Lembah Bada, Rajutan Prasejarah yang Masih Bertahan hingga Kini

Menelusuri Pulau Besi tak cukup waktu sehari. Mutiara-mutiara indah masih banyak terpendam di dalamnya. Sayang, kenapa harus asing yang lebih peduli. 
Salah satu sudut Lembah Bada, tempat Patung Palindo Sepe berdiri. Foto: Dok. Pribadi
Sulawesi Tengah yang beribukota Palu adalah satu pemerintahan dengan bentuk kerajaan. Terdiri atas 15 kerajaan di bawah kepemimpinan para raja, dikenal dengan tujuh kerajaan di Timur dan delapan kerajaan di Barat.  Sekitar tahun 1905 Sulawesi Tengah dibagi tiga, meliputi Sulawesi Tengah bagian Barat, Sulawesi Tengah bagian Tengah (Teluk Tomini), dan Sulawesi Tengah bagian Timur (Teluk Tolo).
 
Lembah Bada dari ketinggian 1740 dpl yang sempat terekam dalam kamera telepon pintar saya. Foto: Dok, Pribadi
Orang-orang Portugis sebagai orang yang pertama kali ke Sulawesi memberi sebutan dengan nama “Celebes”. Arti nama Celebes sendiri tidak begitu jelas. Salah satu teori mengatakan jika nama itu memiliki arti “Sulit untuk Dicapai”. Mengapa? Karena pulau ini dikitari oleh laut dengan gelombang yang besar, arus sungai yang deras, dan hutan belantara. Sementara, nama beken Sulawesi kemungkinan berasal dari kata “Sula” yang berarti pulau dan “wesi” yang berarti besi. Kemungkinan juga dapat mengacu pada banyaknya ekspor besi yang diperoleh dari Danau Matano yang sangat kaya dengan bijih besinya.

Jika diperhatikan secara saksama, Provinsi Sulawesi Tengah menjadi satu wilayah yang sangat indah dan menarik dengan pegunungan, bukit-bukit, danau, dan lembah yang mengitari daerah tersebut. Semua itu menjadi kekuatan objek wisata Sulawesi Tengah untuk menarik wisatawan, baik domestik maupun mancanegara datang.


Daya tarik paling utama Sulawesi Tengah kini adalah wilayah megalitikum peninggalan zaman prasejarah yang berada di lembah Bada dan Besowa. Juga tradisi pembuatan kain kulit kayu yang masih dipertahankan hingga sekarang. Akan  tetapi, harta yang paling berharga untuk Sulawesi Tengah adalah keramahan penduduk dengan bentang alam yang sangat indah untuk dijadikan bahan yang ditonjolkan dan dikenalkan kepada khalayak dalam pengembangan objek wisata di daerah ini.

Sulawesi Tengah menjadi tempat yang sangat indah sebagai perpaduan kecantikan alam yang boleh dibilang  mendunia, baik dari sisi keindahan, kekayaan budaya, juga sejarah masa lampau yang hingga kini masih ada.  Palu, menjadi ibukota provinsi Sulawesi Tengah boleh dibilang sebagai kota yang sangat jarang disinggahi hujan. Karenanya, menjadi salah satu kota kering di Indonesia. Sementara itu, udara yang menyelimuti kota ini di siang hari terasa panas, dan malam hari terasa dingin. Berjalan-jalan siang di kota ini sepertinya perlu membawa payung sebagai penghalau panas.

Perjalanan saya ke Palu ini meliputi beberapa daerah yang sempat beberapa saat saya singgahi. Mulai dari Palu sendiri, Donggala,  Poso, Parigi Moutong, Tentena, hingga ke tujuan akhir yang menjadi tempat paling dicari, yaitu Lembah Bada. Saya tak sendiri, tetapi bersama Profesor Isamu Sakamoto, seorang pengajar berasal dari Sarugadai University di Tokyo, Jepang dan sangat konsen terhadap penelitian dan pengembangan kulit kayu di Indonesia, baik kain kulit kayu maupun kertas dari kulit kayu (kertas Daluang) yang juga seorang konsevator kertas kulit kayu;  Dr. Rene Teijgeler Antropolog dari Belanda, Founder of Culture and Development; Nur Astri Damayanti Founder Kriya Indonesia yang berfokus pada pengembangan hasil kerajinan tangan negeri ini yang juga seorang penulis buku anak-anak dan kerajinan tangan dengan lebih dari ratusan judul buku telah diterbitkan di penerbit mayor, Indonesia; serta Wakil Deputi Bidang Pariwisata Provinsi DKI Jakarta, Bapak Usmayadi, dengan kepiawaian dan keahliannya menggerakan sektor pariwisata di negeri ini, khususnya Jakarta. Juga kerajinan-kerajinan lokal wilayah Indonesia untuk diekspor hingga mancanegara.

Perjalanan saya dan rekan-rekan ke Lembah Bada untuk melihat peninggalan prasejarah yang masih dipertahankan hingga sekarang, yaitu pembuatan kain kulit kayu dengan jenis pohon Bea dan Fuya (Ivo). Hal ini sebagai bentuk kepedulian Museum Tekstil Jakarta yang digawangi oleh Ibu Misari (Ibu Ari), sebagai pelaksana tugas di tiga museum di Jakarta, meliputi Museum Tekstil, Museum Wayang, dan Museum Seni Rupa & Keramik untuk tetap mempertahankan bagaimana kain kulit kayu menjadi satu produk bernilai ekonomi tinggi dan mampu mengangkat harkat dan martabat Suku Lore di Bada menjadi Suku dengan kehidupan yang baik dan sejahtera.
Cagar Budaya Megalitik Palindo (Sepe). Foto: Dok. Pribadi
Melalui Ibu Ari, saya dipertemukan dengan Profesor Sakamoto yang ternyata seorang profesor dengan keahlian pada kulit kayu. Profesor Sakamoto berkeliling dunia untuk mencari keberadaan sejarah kulit kayu di beberapa negara, seperti Vietnam, China, Meksiko, juga Indonesia (seperti Garut, Cirebon, Ponorogo, Sidoarjo, dan Lembah Bada). Sementara, hasil dari kunjungan dan “riset kecil” kami untuk kain kulit kayu dari Lembah Bada, akan dibuat kerajinan tangan yang diolah oleh Mba Astri  Damayanti dengan desain-desain (gambar) yang dicoret indah oleh tangan cantik Mba Tanti Amelia. Penasaran, kan? Tunggu jadwalnya.
Prof, Sakamoto, saya, dan Dr. Rene Teijgeler di Museum Negeri Palu. Foto: Dok. Pribadi
Sebagaimana  kita kenal, Poso di Sulteng menjadi salah satu objek wisata yang sangat populer, apalagi kalau bukan Danau Poso. Danau yang sangat indah dan cantik. Danau Poso menjadi danau terbesar ketiga di Indonesia dengan luas sekitar 32 ribu hektar memiliki kedalaman rata-rata 500 meter. Panjang danau lebih kurang 32 Km dengan lebar 16 Km. Dari ketinggian 660 meter di atas permukaan laut. Danau tersebut punya keunikan karena memiliki pasir putih, bukit, dan hutan yang mengelilinginya. Terletak di Kota Tentena dengan keindahan luar biasa, orang-orang menamainya sebagai cermin raksasa. Hal ini menjadi salah satu alasan orang ingin menyinggahi Tentena.
Danau Poso, begitu indah. Foto: Dok. Pribadi
Tentena sendiri terletak di ujung utara Danau Poso adalah desa yang lebih besar dan indah dibanding Pendolo. Dikelilingi bukit yang ditumbuhi tananam cengkih. Ketika cengkih mulai berbunga, aromanya akan menyebar ke seluruh kota. Akomodasi dan tempat makan di Tentena terbilang lengkap. Banyak penginapan yang terbilang cukup murah dan makanan “enak” di tempat ini.

Sementara Donggala, merupakan kota tua yang terletak sekitar 34 Km timur laut kota Palu dengan arsitektur Belanda yang masih menyelimuti kota itu. Sekarang, keberadaan Donggala untuk wisatawan hanya sebagai tempat transit sebelum menuju ke salah satu lokasi penting pariwisata ke Tanjung Karang.

Mulanya, Donggala sebagai wilayah karesidenan Celebes en Onderhoorigheden  yang berada di Makassar sebagai Gubernur Timur Besar. Selama beberapa tahun yang ditandai dengan situasi politik yang terjadi di Donggala, daerah itu berubah statusnya menjadi Afdeeling Midden Celebes yang berpusat di ibukota Donggala di bawah Karesidenan Manado.

Donggala sebagai wilayah kekuasaan Kerajaan Banawa yang berpusat di desa Ganti. Sebagai daerah Pelabuhan, semakin mendesak peranan daerah lain sebagai kota emporia yang menghubungkan pedagang-pedagang di Nusantara.

Lembah Bada
Lembah Bada, terletak di Kabupaten poso, Sulawesi tengah, masuk ke dalam areal Taman Nasional Lore Lindu. Posisinya berada di sebelah Selatan kota Palu atau sebelah Barat Kota Tentena. Dapat dicapai dengan kendaraan mobil juga motor. Perjalanan jika dilalui dari Palu sekitar 8 jam perjalanan. Perjalanan menuju ke Lembah Bada tergantung situasi dan kondisi di jalan. Jika cuaca sedang tidak hujan, jalanan aman untuk dilalui. Apabila turun hujan, perlu berhati-hati karena beberapa jalan masih ada dalam bentuk tanah dan belum diaspal.
Salah satu jalan yang harus kami lalui demi menuju Bada. Foto: Dok. Pribadi

Untuk menuju Bada, saya dan rekan-rekan ditemani pula seorang ahli Antropologi asal daerah setempat Bang Ikhsam biasa disapa. Juga seorang ahli Sejarah, Bang Rim namanya. Di kiri kanan jalan terdapat perkampungan dengan nuansa pedesaan yang sangat indah, subur, dan menakjubkan. Sebelum perjalanan panjang ke Lembah Bada, saya singgah dan bermalam terlebih dahulu di kota Tentena. Di Tentena, banyak pilihan penginapan untuk melepas penat setelah berjam-jam berada dalam mobil dengan makanan yang cukup beragam pula.

Jembatan Malei, singgah sesaat melepas penat, detik-detik menuju Lembah Bada. Foto: Dok. Pribadi
Bersyukurnya, perjalanan saya ke Lembah Bada untuk saat ini relatif aman dan lancar. Jalan-jalan mulai diaspal dan tak begitu banyak ditemui jalanan bertanah liat basah. Beberapa waktu lalu, berdasarkan pembicaraan Bang Ikhsam kepada saya, perjalanan menuju ke lembah pernah ditempuh dalam waktu panjang, mungkin bisa belasan jam. Itu karena kondisi jalan yang tak bersahabat, ditambah lagi jika turun hujan, jalanan semakin buruk.
Patung Palindo Sepe, terbesar di antara yang ditemukan. Foto: Dok. Pribadi
Apa daya tarik terkuat di lembah ini sehingga banyak orang berbondong-bondong ingin mengunjunginya, baik orang-orang yang berasal dari luar Palu, maupun yang berasal dari luar negeri. Ya, hal paling menarik di Lembah Bada adalah Patung Palindo (Sepe) (Palindo Statue). Ketika dahulu saya belajar sejarah, hanya bisa membaca dari buku tentang budaya megalitikum yang sangat terkenal itu. Akan tetapi, kini nyata di depan mata saya.  
Loga, salah satu patung batu yang ditemukan di Bada
Foto: Dok. Pribadi
Tanpa dinyana, saya menginjakkan kaki tepat di depan Patung Megalitikum Palindo (Sepe). Patung  yang berdiri miring di atas permukaan tanah Bada. Masyarakat di sekitar sangat percaya terhadap patung tersebut yang dulunya berdiri tegak, menjadi sumber kekuatan untuk Suku Lore, yaitu suku asli yang mendiami lembah bada. Menurut Bang Rim, Patung Palindo Sepe ini sebagai bentuk  perwujudan patung kesuburan yang ada pada masa Megalitikum.

Berama Prof. Sakamoto di Gintu, Lembah Bada. Foto: Dok. Pribadi
Perjalanan menemui patung-patung peninggalan budaya megalitikum itu tak berhenti pada patung Palindo semata. Banyak patung-patung lain yang keberadaannya tersebar di sekitar Lembah Bada, seperti di Besowa. Saya terperangah, terperanjat, dan apalah nama lainnya melihat keberadaan patung-patung peninggalan megalitikum itu. Betapa tidak, negeri ini penuh dengan peninggalan masa prasejarah yang sangat indah untuk ditelusuri yang masih tetap ada hingga sekarang.
Bentang alam yang indah dengan Patung Palindo Sepe di Lembah Bada. Foto: Dok. Pribadi
Ketika saya singgah di salah satu tempat bernama Gintu, saya dibawa oleh salah seorang penjaga dan perawat situs untuk melihat keberadaan salah satu patung batu yang relatif kecil. Menurut si penjaga, patung-patung batu yang ditemukan di sini (Bada) arahnya selalu menghadap ke Patung Palindo Sepe, begitu pula yang ada di Besowa.  
Pagi di Lembah Bada, Foto: Dok. Pribadi
Sangat beruntunglah saya menjumpai patung-patung megalit yang ada di lembah tersebut. Mengapa saya bilang beruntung, karena patung-patung megalit yang saya lihat merupakan patung-patung langka yang ada di dunia. Wow Indonesia! Patung-patung ini hanya terdapat di Napu, Besowa, Bada, dan salah satunya di Amerika Latin, di daerah Marquise Island.

Lembah Bada, punya magnet sangat kuat untuk orang-orang di luar Bada sendiri datang. Selain patung-patung prasejarah peninggalan Megalitik, ada satu tradisi yang sudah dilakukan sejak zaman dahulu kala hingga kini. Apa itu? Ya, tradisi pembuatan kain dari kulit kayu.

Kain Kulit Kayu Lembah Bada
Salah seorang peneliti kain kulit kayu Profesor Isamu Sakamoto yang berasal dari Universitas Sarugadai Jepang mengatakan, tradisi pembuatan kain kulit kayu yang berada di  Lembah Bada muncul pada zaman Neolitikum, sekitar 3.600 tahun lalu. Itu artinya, sebelum zaman megalitikum, pembuatan kain kulit kayu sudah ada dan berkembang pesat. Masa prasejarah Indonesia ditandai dengan hal-hal hebat dan terbilang maju.  
Kain kulit kayu dari Lembah Bada. Foto: Dok. Pribadi
Perkembangan di dunia, masih menurutnya, kain kulit kayu yang sekarang ini ada hanya ada di Sulawesi Tengah saja. Hingga sekarang, kain kulit kayu terseut masih terus dibuat. Apabila dilihat di lain tempat, hal tersebut sudah tidak ada. Jika diperhatikan secara saksama, masyarakat yang mengolah kain kulit kayu menggunakan batu dan batu itu hanya ada di Lembah Bada, tidak akan dapat dijumpai di tempat lain.  Diperhatikan secara saksama pula, batu-batu yang digunakan untuk membuat kain, hanya ditemukan di situs-situ kuno yang terdapat di sekitar lembah (dengan lokasi yang sama).

Hal yang membuat saya lebih tercengang lagi adalah, ternyata batu-batu yang digunakan sebagai alat pembuat kain kulit kayu itu tadi, menurut para arkeolog dibuat sekitar 3.600 tahun silam. Waaw! Salutnya saya, batu-batu itu hingga kini masih bertahan dan utuh. Luar biasa!

Bukan apa-apa, hal ini benar-benar memukau dan membukakan mata saya. Sejarah yang sudah berlangsung 3.600 tahun berlalu, tetapi hingga sekarang masih terus berlangsung, yaitu pembuatan kain kulit kayu. Masyarakat setempat masih terus mempertahankannya meski beberapa pengrajin sudah lanjut usia.

Oleh karenanya diharapkan, anak-anak cucu mereka dapat mewarisi dan meneruskan tradisi orang tua mereka membuat kain kulit kayu tersebut. Jangan pernah berpikir bahwa membuat kain kulit kayu sebagai pekerjaan sia-sia atau buang waktu. Justru hal ini sebagai lecut cambuk agar pemerintah setempat dapat berperan serta menjaga, melestarikan, dan mengembangkan kain kulit kayu yang ada di Lembah Bada melalui tangan-tangan terampil penduduk setempat. Dukungan pemerintah setempat sangat berarti untuk keberlangsungan tradisi sejarah panjang yang sudah terukir di negeri ini, terutama Lembah Bada, Palu.

Memang, tidak semua jenis pohon dapat diambil kulitnya untuk dibuat kain kulit kayu. Di Lembah Bada, terdapat 16 jenis pohon yang menurut penelitian dapat diambil kulitnya untuk dibuat kain kulit kayu. Sementara, di daerah Kulawi hanya ada 6 jenis pohon saja.Terbanyak masih di Bada. Oleh karenanya, perlu upaya mempertahankan keberlangsungan pohon tersebut melalui pembibitan. “Planting (pembibitan) diperlukan agar pohon tersebut tidak musnah. Sumber daya untuk pembuatan kain kulit kayu agar tetap tersedia”, ucap Sakamoto.

Pohon Bea, salah satu pohon yang dapat diambil kulitnya untuk pembuatan  kain kulit kayu.
Foto: Dok. Pribadi
Jenis-jenis pohon yang dapat diambil kulitnya untuk dijadikan bahan pembuatan kain kulit kayu dan paling sering adalah pohon Ivo atau Bea, pohon Malo, dan beberapa jenis beringin. Kulit kayu dari jenis pohon inilah yang paling sering dipakai. Beberapa penelitian mengatakan, semua pohon yang bergetah dapat dijadikan kain kulit kayu dan memiliki potensi. Pembuatan kain kulit kayu  di Sulawesi Tengah sebagai satu budaya kearifan lokal masyarakat setempat yang ingin dan peduli mempertahankan tradisi agar tak mati. Di beberapa daerah, penyebutan nama lokal tentu berbeda. Contohnya di Garut-Jawa Barat, orang-orang menyebutnya dengan nama pohon Saeh.

Tak dapat dipungkiri, masyarakat kini tak tertarik dengan kain kulit kayu, mengapa? Karena negeri ini sudah dipenuhi dengan tumpukan kain-kain modern yang lebih menarik, baik dari sisi warna, motif, maupun ketahanannya. Tetapi, tidak serta merta  budaya yang sudah ada ribuan tahun silam yang hingga kini masih ada dilenyapkan begitu saja karena keberadaan kain modern.

Mama Berri, salah seorang tetua yang masih membuat kain kulit kayu
dan menanam pohon Bea. Foto: Dok. Pribadi.
Upaya untuk mempertahankan ini tak semata-mata hanya dari penduduk lokal, tetapi bagaimana peran pemerintah untuk turut serta agar tetap ada aktivitas pembuatan kain kulit kayu bahkan bisa terus berkembang.

Bagaimana proses pembuatan kain kulit kayu ini berlangsung? Tunggu ceritanya yaa…

0 komentar: