Sunday, January 14, 2018

Berkebun Tak Harus Punya Lahan




Pekarangan rumah masih bisa ditanami [Foto: Dok Pri]
Berkebun itu salah satu bentuk olahraga juga. Seperti mencangkul, menggali, memotong, memangkas, menyusun pot, menanam tanaman, pemberian pupuk, juga mengangkat air untuk menyiram tanaman. Nah, hal-hal inilah yang dilakukan orang tua saya dan anak-anaknya hingga sekarang.

Bapak-selepas bekerja-sebagai PNS, pulang ke rumah hanya beberapa jam saja beristirahat. Beliau termasuk orang yang tak bisa diam, ada saja yang dikerjakan. Entah itu menjahit baju anak-anaknya yang robek, buat bangku, hingga tempat tidur sendiri. Bapak juga termasuk orang yang kreatif.

Begitu pula ibu (almarhumah). Semasa hidupnya Ibu pun tak bisa tinggal diam. Boleh dibilang, hampir tak ada waktu untuk tidur siang. Usai mengerjakan pekerjaan rumah sebagai ibu rumah tangga, tak lantas leyeh-leyeh. Akan tetapi, mengurus ternak ayam dan bebek yang dipelihara tak jauh dari rumah. 

Beragamn plastik bekas bisa didayakan [Foto: Dok Pri]
Ibu juga rajin menanam beragam jenis bunga yang diperoleh dari teman-temannya. Bahkan mencangkul beberapa bidang tanah untuk ditanami singkong, ketela rambat, dan talas. Kedua orang tua saya memang hobi bercocok tanam.

Hal ini pula yang menurun kepada anak-anaknya. Rata-rata, anak-anak bapak-ibu saya senang berkebun. Alhamdulillah, di rumah ada sebidang tanah yang dikelola oleh Mba pertama saya. Tanah itu dibuat kolam ikan dan kebun jamur tiram.



Tanaman bunga dan sayuran ditanam di botol, polybag, dan ember bekas [Foto: Dok Pri]
Ukuran kolam 4 x 4 m sebanyak dua kolam itu ditanami beberapa jenis ikan. Seperti Nila Merah dan Hitam, Gurame, Bawal Air Tawar, dan Patin. Memang, mesti bersakit-sakit terlebih dahulu untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.


Ada kenikmatan tersendiri ketika memancing ikan di kolam sendiri [Foto: Dok Pri]
Semua perlu proses hingga mendapat hasil seperti yang diinginkan. Tak jauh dari rumah, ada tanah kosong yang tidak digarap oleh pemilikinya. Oleh Mba saya dipinjam untuk ditanami singkong dan ketela rambat, juga beberapa bumbu dapur seperti serai, kunyit, juga lengkuas.

Bersyukurnya, tiap hari tak kekurangan yang namanya bahan makanan. Semua diambil dan diolah dari kebun sendiri. Sementara, di sekitar rumah juga ditanami beberapa pohon pisang yang  sudah banyak beranak pinak. Bahkan, beberapa batang pohon kelapa pun ada.

Tanaman cabe di polybag [Foto: Dok Pri]
Jadi, di rumah untuk keperluan bahan-bahan masakan, saya sangat bersyukur, semua ada. Tak perlu beli. Di beberapa pojok rumah ditebar bibit cabai dalam polybag. Alhamdulillah, cabai-cabai tersebut sudah berbuah dan matang. Apapun yang dikerjakan dengan ketulusan dan kecintaan, Insya Allah, tinggal menunggu hasil saja. 
 
Meski rumah berada di tengah-tengah kota di Jambi, tetapi tanah yang kosong masih relatif luas dan bisa ditanami dengan beragam tanaman, hingga buat kolam ikan. Bersyukurlah tinggal di daerah itu menurut saya. Pun di kota besar, seperti Jakarta ini juga bisa menanam, asal sedikit kreatif.
Pohon iler untuk bumbu masak [Foto: Dok Pri]
Botol bekas air minum bisa dijadikan pot kalau tidak mau mengeluarkan bujet lebih membeli polybag. Atau kalau ada ember bekas yang sudah pecah, bekas cat, pipa paralon sisa yang sudah tidak terpakai lagi, bisa kita manfaatkan. 

Intinya, bagaimana kita sedikit memutar otak untuk menciptakan pekarangan hidup dengan beragam tanaman yang bisa dikonsumsi langsung.  Ditambah lagi tinggal di daerah metropolitan yang notabenenya sulit tanah. 

Kota metropolitan dunia lainnya, contohnya Jepang, bisa kok memanfaatkan tempat tinggalnya jadi kebun. Mereka-mereka yang tinggal di apartemen, menurut percakapan Prof. Sakamoto ke saya, orang-orang Jepang diminta untuk menanam beragam sayuran di atas tempat tinggal mereka. Termasuk juga memelihara lebah madu.

Hebatnya, hal itu dilakukan dengan keterbatasan lahan yang ada dan berhasil. Kini di Jepang, menurut Sakamoto, tempat tinggal mereka yang berada di apartemen, terlihat hijau dan menyejukkan mata karena program menanam diwajibkan oleh pemerintahnya.

Nah, apakah pemerintah kita (Indonesia mewajibkan bercocok tanam tanpa ada lahan) khususnya di Jakarta?  Saya kurang tahu, apakah pernah ada program pemerintah seperti ini tau tidak. Jika pun ada, saya juga belum menemukan di daerah mananya.

Berkebun itu banyak banget manfaat yang  orang tua dan anak-anaknya rasakan. Keringat keluar seperti layaknya olahrga. Bayangkan saja, misalnya mencangkul tanah. Cangkung yang relatif berat saja sudah butuh tenaga berapa banyak. Belum lagi saat diayunkan.

Kalau di sekitar rumah banyak tetumbuhan hijau, otomatis udara menjadi segar dan lingkungan terasa sejuk dan dingin. Stress pun enggan melanda. Tetumbuhan dan jenis sayur-sayuran yang ada di pekarangan, mampu menghilangkan stress seseorang. 

Dengan melihat banyaknya tetumbuhan hijau dan buah-buahan yang sudah matang, pikiran stress jadi lenyap. Berkebun dapat dijadikan salah satu terapi kesehatan jiwa. Saya mengalaminya sendiri, ketika capek pikiran mendera, mata saya tergerak untuk mencari tetumbuhan hijau. Melihat pemandangan hijau sebentar, mata kembali cerah dan segar.

Nah, ini juga yang penting, berkebun dapat meningkatkan perekonomian keluarga. Dengan berkebun, besar kemungkinan kita melakukan penanaman serius. Bersiap saja ketika ada yang ingin membeli. Di situlah perekonomian kita bisa terbantu. 

Jadi, tak ada alasan untuk tidak berkebun, kan? Karena dapat dilakukan dengan cara-cara yang kreatif dan tak butuh juga lahan atau pekarangan yang luas. Selamat berkebun!