Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Friday, October 28, 2016

Wastra-Gerabah Tinggalan Prasejarah, Regenerasi Agar Tak Mati




Meet The Makers dalam Helatan ke-11 Alun Alun Grand Indonesia
Foto: Dok. Pribadi
Kain Indonesia merupakan  warisan budaya nusantara. Kaya motif dan warna mempesona dengan beragam pola. Perpaduan sejarah dan budaya yang tertuang pada setiap detail, menjadi penanda fase kehidupan manusia yang diwariskan dari generasi ke generasi. Melalui perajin kain di beberapa daerah di Indonesia hingga pembuatan gerabah dengan teknik miring ada.

Gagasan dan tindak nyata Meet The Makers  kembali menghelat acara bertajuk “Regenerasi Mempertahankan Tradisi” di Alun-Alun Grand Indonesia mulai tanggal 21 Oktober hingga 2 November 2016. Meet The Makers sebagai tempat pameran “Craft as Art” yang diikuti  beragam komunitas perajin, desainer, dan beberapa organisasi akar rumput di negeri ini.

Regenerasi! Ya, regenerasi pelestari kerajinan negeri  ini. Hal itu perlu dilakukan agar kerajinan dari berbagai pelosok negeri ini tak mati, tak hanya menjadi benda kesenian belaka. Akan tetapi, mencuatkan nilai dan perjalanan sejarah, nilai budaya, dan fungsi yang teramat dalam untuk kehidupan masyarakat di masa lalu, sekarang, dan akan datang.

Meet The Makers menggandeng Alun Alun Indonesia yang konsisten menyasar pasar anak muda, juga bersamaan dengan ulang tahunnya yang ke-9. Semangat kerja yang tinggi, didukung sosialisasi di segala lini, tentunya akan mampu mempertahankan kerajinan budaya yang sudah berusia ratusan bahkan ribuan tahun untuk terus diturunkan ke generasi berikutnya, pun tak terlindas  modernisasi zaman.


CEO, PT Alun Alun Indonesia, Pincky Sudarman mengatakan, “Sekarang saatnya melakukan regenerasi. Kami  ingin menumbuhkan kecintaan anak muda terhadap produk Indonesia yang tak lekang di makan zaman”.


Pincky Sudarman, CEO PT Alun Alun Indonesia memberikan sambutan
dalam Pembukaan Meet The Makers ke-11 di Alun Alun Grand Indonesia
Foto: Dok. Meet The Makers 11
Ya, Bregas Harrimardoyo, selaku Steering Comitte Meet The Makers 11 pun berucap, “Ajang ini sebagai tempat bertemunya perajin dengan khalayak, terutama kalangan muda. Ini sebagai pengenalan dan sosialisasi keragaman budaya”.


Bregas Harrimardoyo selaku Steering Comitte
Meet The Maker 11 menyampaikan sambutan
Foto: Dok. Meet The Makers 11
Kriya Indonesia begitu hebat, tak hanya di mata bangsa sendiri, tetapi dunia mengakuinya. Melirik kehebatan yang tertera dalam Alun Alun Indonesia, ke-16 artisan mengambil peran untuk menunjukkan kebolehan mereka dalam berkreasi membelakakkan mata, mengangakan mulut pecinta kriya.

Effan dan Novi, Cinta Bumi Artisans yang konsen mengangkat kain kulit kayu
menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Foto: Dok. Pribadi
Bagaimana tidak, peninggalan masa prasejarah hingga kini masih bertahan ada. Kain kulit kayu salah satunya. Cinta Bumi Artisan bergiat dengan hal ini. Sungguh menakjubkan! Sebuah tradisi Neolitik dan Megalitik, 4.000 tahun lalu yang masih berlangsung hingga kini di salah satu wilayah Indonesia, Lembah Bada Poso, Sulawesi Tengah. Masyarakat yang mempertahankan kebaikan alam untuk terus diolah agar berkelanjutan. Cinta Bumi menghidupkan dengan cara-caranya. Selanjutnya membuat tempat yang dapat menginspirasi banyak orang dalam berkarya, berekspresi, dan berbagi kreativitas.


Pak Agus Tomaha, sedang menjelaskan  pembuatan kain kulit kayu 
yang dilakukan dua wanita Lembah Bada sebagai penerus pembuat kain kulit kayu. Ki-Ka: Irma dan Sonya
Foto: Dok. Meet The Makers 11
Lembah Bada, menjadi tempat yang sangat eksotis di mata dunia sebagai bagian dari keberadaan kain kulit kayu. Tradisi Megalitikum yang bertahan ini masih tetap dipertahankan agar tak lekang oleh zaman. Melihat keberadaan kain kulit kayu yang mulai punah, Cinta Bumi Artisan langsung mendatangkan perajinnya dari Lembah Bada, Pak Agus Tomaha, Kak Sonya, dan Kak Irma. Selama ini, ketika saya berkunjung ke Lembah Bada, yang melakukan pembuatan kain kulit kayu wanita-wanita lanjut usia. Ada yang telah berumur 90 tahun. Mereka perlu regenerasi. Bahkan tetua mereka yang sebelumnya membuat sudah tiada.

Adanya Kak Sonya dan Kak Irma, menjadi satu generasi pelestari kain kulit kayu agar tak mati. Merekalah yang mewarisi tradisi Megalitikum pembuatan kain kulit kayu dari orang tuanya. Tak dapat dipungkiri, jejak panjang prasejarah tertoreh hampir sempurna di Lembah itu.

Pak Agus, Ka Sonya, dan Kak Irma, membawa serta peralatan untuk membuat kain kulit kayu di Meet The Makers 11 ini. Bagaimana mula pertama kulit kayu diambil untuk dijadikan bahan baju atau lainnya, berikut kulikan saya.

Ada beberapa jenis kulit pohon yang dapat dibuat kain, seperti kulit pohon Saeh, Malo, Bea, atau Ivo, dan Nunu (beringin). Akan tetapi, dari sisi kualitas dan hasil, lebih terlihat bersih dan berkualitas Malo, Bea, atau Ivo dan Saeh, hasilnya lebih putih. Sementara, Nunu (beringin) akan menghasilkan kain kulit kayu berwarna kecokelatan.


Pohon Bea, salah satu pohon untuk pembuatan  kain kulit kayu
Foto: Dok. Pribadi
Pada proses pembuatannya Pak Agus menjelaskan, kulit kayu yang dibawa saat saya menjumpainya di Alun Alun Grand Indonesia adalah kulit pohon Malo. Terlihat memang, berwarna lebih bersih (putih) yang sudah dibuka dari bungkus daun pisang, beserta peralatan landasan dan pukul. Alat pukul tersebut terdiri dari enam, yang masing-masing fungsinya berbeda-beda.

Alat pukul pertama terbuat dari batang pohon Enau, atau biasa disebut Ruyung Enau. Selanjutnya adalah alat pukul yang terbuat dari batu dengan  pegangan terbuat dari rotan, biasa disebut Batu Ike. Konon, batu ike itu sudah ada sejak zaman Megalitikum. Batu dengan alur yang berbeda-beda itu difungsikan berbeda dan punya nama berbeda pula. Batu Ike berfungsi untuk memanjangkan dan melebarkan kulit kayu yang sedang diproses. Ada enam jenis batu Ike yang digunakan, Batu Ike Tinahi, Batu Ike Hore, Batu Ike Pogea, Batu Ike Bengko, Batu Ike Pampii, dan Batu Ike Popapu.
Alat pemukul untuk membuat kain kulit kayu
Atas ke Bawah: Ruyung Enau dan Batu Ike
Foto: Dok. Pribadi
Sementara itu, untuk landasannya  dikenal dengan nama Tatua. Kayunya sangat keras. Fungsinya, untuk menahan ketika kulit kayu dipukul-pukul di atas landasan itu, kayunya tidak mudah pecah atau  retak-retak, karena akan mempengaruhi hasil kain kulit kayunya juga. Ada juga Parondo atau setrika kayu. Bentuknya bulat dengan bagian tengah sebagai pegangan kecil. Gunanya untuk memukul-mukul kain yang sudah kering dan berlekuk-lekuk agar rata dan halus.


Sebagai alat pemindah atau menggeser kain kulit kayu saat dipukul dan digeser, dipergunakan alat bernama Pongko. Pongko ini dapat dibuat dari kayu juga dari bambu. Ketika Kak Sonya dan Kak Irma memperagakan menggeser kain kulit kayu, mereka menggunakan bambu untuk memindahkan maju-mundurnya kain.

Mulanya, bila tak terbiasa mencium hasil fermentasi kulit kayu ini akan menutup hidung. Karena  bau asam yang keluar dari kulit kayu agak menyengat. Fermentasi kulit kayu dilakukan agar menghasilkan lendir. Lendir itu berguna ketika kain dipukul-pukul akan menjadi mudah, lembut, dan tidak pecah berantakan.

Proses pembuatan kain kulit kayu
Kulit kayu yang diambil dapat berasal dari pohon Beringin; Malo, Bea, atau Ivo. Bagian yang diambil adalah cabang-cabang pohon. Mengapa mereka tidak memotong kayu indukan? Di sinilah terlihat cara mereka melestarikan dan tetap mempertahankan keberadaan pohon-pohon tersebut. Artinya, orang-orang Lembah Bada tetap menginginkan ada bibit indukan yang akan terus bertumbuh. Layaknya generasi penerus pembuat kain kulit kayu.

Kulit kayu selanjutnya dikuliti dengan memakai pisau atau parang. Oya, tugas dari memotong cabang-cabang pohon dan menguliti adalah tugas lelaki. Setelah kulit kayu dikuliti dan dipisahkan dari kulit jangatnya, kulit kayu tersebut lantas direbus dalam belanga tanah selama dua jam. Tugas merebus adalah tugas wanita.

Untuk mendapatkan hasil kain kulit kayu yang lebar, diperlukan juga potongan kulit kayu dalam jumlah banyak. Setelah direbus, kulit kayu didiamkan agar dingin dan dibungkus daun pisang. Selanjutnya diperam (difermentasi) kurang lebih 3--7 hari. Setelahnya dapat diolah.
Kulit kayu Malo yang sudah difermentasi
Foto: Dok. Pribadi
Kulit kayu yang sudah disusun diletakkan di atas landasan (tatua), kemudian dipukul-pukul dengan menggunakan ruyung Enau hingga melebar dan tidak pecah. Setelah semua kulit kayu rata, untuk menghaluskannya dipergunakan batu ike dengan ukuran dan besar yang berbeda-beda. Proses pengerjaan kain kulit kayu seluruhnya dilakukan oleh wanita. Satu catatan: Proses pengerjaan kain kulit kayu tidak dapat dipindahtangan, mengapa? Karena kekuatan dan pukulan masing-masing orang berbeda. Hal itu juga nantinya yang akan menentukan hasil kain kulit kayu seperti apa.
Landasan (Tatua) untuk membuat kain kulit kayu
Foto: Dok. Pribadi
Kain yang sudah diproses, lantas diangin-anginkan di tempat yang sejuk, tanpa terkena sinar matahari langsung. Kain kulit kayu yang sudah kering memiliki bentuk yang masih berlekuk. Untuk meratakannya digunakan alat yang disebut Parondo atau setrika kayu. Caranya, dengan memukul-mukulkan Parondo di atas kain kulit kayu hingga menghasilkan tekstur kain yang halus.


Parondo, setrika kayu untuk meratakan kain kulit kayu setelah dijemur
Foto: Dok. Pribadi
Kualitas kain yang sudah jadi terlihat dari warnanya. Kualitas bagus biasanya berwarna putih. Satu meter kain yang sudah jadi dihargai dengan kisaran Rp75.000 hingga Rp200.000. Cinta Bumi Artisan menciptakan  hasil kain kulit kayu berupa tas juga dompet. Sisa potongan kain dibuat semacam kalung sebagai aksesories. 


Sisa kain kulit kayu yang dibuat aksesori kalung
Foto: Dok. Pribadi


Produk olahan kain kulit kayu Cinta Bumi Artisan, salah satunya Tas dan Dompet
Foto: Dok. Pribadi
Dalam obrolan saya dengan Mas Effan, sebagai pengembang produk kain kulit kayu mengatakan, “Untuk mendapatkan bahan baku kain kulit kayu masih agak sulit. Itu karena terbatasnya material yang ada di Lembah Bada. Selain itu, pohon-pohonnya semakin terbatas. Untuk itu perlu adanya pembibitan. Sementara, untuk produk kain kulit sendiri, kami akan kembangkan lebih jauh lagi, misalnya untuk pembuatan sepatu”.


Inilah generasi penerus budaya Megalitikum pembuat kain kulit kayu Lembah Bada
Kak Irma, Pak Agus Tomaha, dan Kak Sonya
Foto: Dok. Pribadi
Gerabah Teknik Putar Miring

Gerabah  berguna untuk tempat atau wadah keperluan rumah tangga. Namun, di beberapa tempat gerabah berguna untuk tempat menyimpan tulang manusia, abu orang yang telah meninggal. Di Bali, gerabah digunakan sebagai bekal kubur, sedangkan di daerah Banyuwangi dan Sumba digunakan untuk kandang sapi.


Beragam Gerabah hasil Teknik Putar Miring yang dibuat keluarga Pak Harno
Foto: Dok. Meet The Makers 11
Gerabah-gerabah yang berkembang sejak zaman prasejarah mulai zaman Neolitikum hingga perundagian, banyak yang sudah berubah. Itu karena ada pengaruh teknologi dan kemampuan manusia memodifikasi. Perubahan itu menyebabkan banyaknya gerabah yang ada di Indonesia, memiliki bentuk bervariasi. Teknik-teknik pembuatannya seiring sejalan. Ragam hiasnya pun berkembang pula karena menjadi kebutuhan.

Gerabah banyak ditemukan di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, juga Yogyakarta. Kalau mendengar kata gerabah, di telinga saya sudah tidak asing. Gerabah dari tanah liat tentunya. Namun, ada satu hal yang menarik perhatian saya saat mengunjungi Meet The Makers 11 ini, yaitu pembuatan gerabah dengan teknik miring.

 
Bu Harno beserta putrinya, regenerasi pembuat gerabah Teknik Putar Miring
Foto: Dok. Pribadi
Teknik miring pembuatan gerabah mulai jarang ditemukan. Salah seorang yang hingga kini masih mempertahankannya adalah Pak Harno. Beliau berasal dari Desa Bayat, Klaten Jawa Tengah.  Gerabah teknik putar miring sebagai hasil olah pikir salah seorang Sunan, yaitu Sunan Bayat. Ada tiga hal menarik untuk gerabah putar miring ini, yaitu:
Pertama, desainnya sangat sederhana sehingga nyaman digunakan ketika seorang perempuan mengenakan kebaya dan kain panjang. Karena pada masa Sunan Bayat, hampir semua perempuan mengenakan kebaya dan kain panjang sebagai tanda kesopanan.

Kedua, Sunan Bayat termasuk orang yang sangat mementingkan etika dan hal-hal kesopanan, terutama yang ada dalam masyarakat atau wilayahnya. Ketiga, alas atau tatakan gerabah teknik putar miring dapat menaikkan produktivitas kerja, karena ada pengaruh gravitasi. Oleh karenanya, tanah lebih mudah diolah dan dibentuk.
Gerabah Bayat dengan pewarnaan yang sudah direduksi
Foto: Dok. Pribadi
“Untuk membuat gerabah teknik miring ini kita harus konsentrasi. Mata, pikiran, hati, dan kaki tertuju pada satu tumpuan tanah liat. Memikirkan apa yang akan dibentuk dengan penuh konsentrasi. Untuk mendorong alatnya dengan kaki tidak perlu terlalu kencang, karena semua dibuat secara tradisional dan harus menggunakan perasaan. Apabila kaki terlau kencang mendorong, kemungkinan tali pegas akan putus,” begitu ucapnya saat dijumpai di Meet The Makers 11 di Alun Alun Grand Indonesia.

Harno berasal dari Desa Bayat Dukuh Pagerjurang. Gerabah dari desa ini lebih dikenal dengan nama Gerabah Bayat, meski tidak diproduksi di Bayat. Mulanya dibuat di Dukuh Bayat, Desa Melikan, Kecamatan Wedi. Letaknya berseberangan dengan Pagerjurang. Sementara, Dukuh Bayat sendiri sebagai daerah perbatasan antara Wedi dengan Bayat.
Gerabah yang sudah dicampur tanah merah menghasilkan warna eksotis
Foto: Dok. Pribadi
Keluarga Pak Harno mempertahankan tradisi pembuatan gerabah teknik miring kepada anak perempuan dan istrinya. “Untuk melestarikan budaya dan kerajinan, perlu perjuangan dan belajar teru menerus, otomatis akademik akan dapat  mengikuti,” begitu ucapan Pak Harno kepada anak perempuannya yang berhasil mengikuti jejak langkahnya yang sudah  dua tahun berselang.

Teknik putar miring ini ternyata dapat memberikan hasil gerabah dengan bentuk yang tipis, kecil, dan cantik. Teknik ini biasanya dipergunakan untuk menghasilkan wajan, piring, kendi, atau wadah makan lainnya.

Alhasil tak disangka, teknik miring menjadi hal yang sangat menarik untuk peneliti luar negeri datang dan mengadakan penelitian lebih lanjut. Salah satunya adalah peneliti berkewarganegaraan Jepang, yaitu Chitaru Kawasaki, seorang Profesor dari Universitas Kyoto Seika, Jepang. Dia punya perhatian lebih pada gerabah teknik miring di Bayat yang dipertahankan oleh Pak Harno.

Untuk menggali lebih jauh teknik miring pembuatan gerabah ini, Kawasaki rela mengeluarkan uang hingga satu miliar rupiah. Dia membangun Laboratorium Pusat Pelestarian dan Budaya Keramik Putar Miring pada tahun 2004. Laboratorium itu diresmikan pada 14 April 2005. Dia pun rela tinggal bersama warga di Melikan demi mengembangkan risetnya tersebut. Artinya apa? Mengapa bangsa lain lebih peduli terhadap hal-hal yang memang layak dipertahankan dibanding bangsa sendiri? Kawasaki seperti menghidupkan kembali regenerasi perajin ini untuk dapat terus dipertahankan.  

Gerabah-gerabah hasil putar miring Pak Harno dipamerkan pula di Alun Alum Grand Indonesia pada Meet The Makers 11. Sungguh menjadi perhatian kita bersama, teknik-teknik yang dipergunakan terbilang jarang dan patut dipertahankan. Sejarah mencatat bahwa banyak teknik pembuatan gerabah yang sudah punah. Tetapi, teknik miring yang masih ada tetap perlu dijaga.  Ceruk pasar Gerabah Bayat ini sangat luas, tak hanya di dalam negeri, tetapi sudah merambah mancanegara. Contohnya ke Australia, Belanda, Belgia, Perancis, Jepang, bahkan Argentina.

Perpaduan warna Gerabah Bayat yang cantik
Foto: Dok. Pribadi
Hal unik lainnya yang masih dipertahankan adalah dari segi pewarnaan. Gerabah Bayat-Pagerjurang tidak menggunakan pewarna dari zat kimia. Tetapi menggunakan pewarna alami dari tanah merah. Pun gerabah itu dibiarkan alami atau natural dengan warna kecokelatan. Itu melihat sifat fisik tanah sesaat usai terakota (pembakaran). Warna yang ada dibuat justru dari pengasapan atau reduksi.

Batik Marenggo-Empat Puluh Kali Pencelupan

Jangan salah, batik Indonesia tak sekadar nama. Melalui tangan terampil Nuri Ningsih Hidayati, Pohon Marenggo naik kelas. Pohon Marenggo menginspirasi Nuri menjadi salah satu bahan pewarna alami untuk batik yang diproduksinya. Jebolan STSI Yogyakarta Jurusan Batik  (Tekstil) ini, meyakini bahwa alam memberikan sesuatu yang lebih, tinggal bagaimana cara kita memanfaatkan dengan bijak tanpa berlebihan.

Batik Marenggo dengan pewarna alami. Meski terlihat kuno tapi tetap dicari
Foto: Dok. Pribadi
Nuri sebagai salah satu generasi pembuat batik sekaligus desainer batik dari Jogotirto Berbah, Sleman Yogyakarta. Dia begitu detail mengolah warna-warna cantik untuk brand  Batik Marenggo  miliknya.

“Saya belajar batik dari salah satu buku batik yang sudah tua dan kuno. Buku itu adanya di perpustakaan kampus. Begitu juga untuk pewarnaan. Buku-bukunya pun sudah tua dan mulai robek. Untuk warna-warna batik Marenggo ini, saya mengambil dari warna alam, seperti daun Marenggo, kulit Manggis, kulit Rambutan,” tuturnya pada saya saat bertemu di Meet The Maker 11 Alun Alun Grand Indonesia.

Tak dapat disangkal, batik dengan pewarnaan alam ini selintas ketika saya berkunjung ke Alun Alun tempat Nuri menggelar produknya, terkesan jadul. Berbeda dengan warna sintetis yang kelihatan lebih kinclong dan mentereng. Warna-warna batiknya di dominasi warna cokelat, biru pudar, cokelat bata menuju kemerahan. Tetapi, kombinasinya cantik, nuansa hitam dan putih yang ada pada motif dan latar. Di kulik lebih jauh, ternyata pewarnaan itu menggunakan kulit kayu Mahoni, kayu Tinggi, kayu Jambal, dan bahan alami lainnya.

Ketika saya coba untuk membaui, memang sangat berbeda dengan warna sintetis. Bau dari warna sintetis begitu keras menyengat bercampur bau kain. Akan tetapi, bau pewarna alami dari Marenggo ini sungguh lembut menuju wangi. Hal lainnya, meski kainnya kain Mori, tetapi hasilnya sungguh luar biasa. Lembut di tangan dan terasa halus saat disentuh.

Generasi muda bertalenta ini terus berusaha mengembangkan batik-batiknya hingga ke pelosok daerah. Produksi batiknya pun di pajang di Alun Alun Grand Indonesia dalam helatan Meet The Maker 11. Dia memberi nama Marenggo, karena pohon tersebut banyak tumbuh di daerahnya. Ditambah lagi, bule-bule yang datang ke daerahnya itu suka sekali dengan warna kuning pohon Marenggo. Penggunaan nama Marenggo itu baru diberikannya sekitar tahun 2015 lalu.

Ketekunan dan kesabaran Nuri dalam menemukan bahan pewarna alami perlu proses. Tidak serta merta hadir begitu saja. Kesabaran dan ketekunan itu sebagai hal yang memang tidak dapat dipisahkan dari proses pembelajaran. Bayangkan saja, menurutnya untuk mendapatkan motif batik dengan beragam kombinasi, contohnya cokelat tua, cokelat muda, dan hitam, itu perlu empat puluh kali pencelupan melalui bahan warna alami dan fiksasi. Dapat kita bayangkan bukan, betapa sulit dan butuh perjuangan hanya untuk mendapatkan motif-motif warna tertentu.

Jangan heran kalau harga satu lembar kain batik ini dapat dibanderol mencapai harga  2,5 juta rupiah. Bukan soal nilai atau harganya, tetapi kita menghargai bagaimana proses pengetahuan dan proses belajar yang tidak sebentar, melakukan eksperimen berkali-kali, sehingga dihasilkan warna yang diinginkan itu tidaklah gampang.

Ulangan demi ulangan warna dilakukan dalam waktu yang cukup lama. Pencelupan warna pun tidak sebentar. Motif-motif sebagai kerangka atau klowongan  yang lebih besar biasanya relatif bertahan lebih lama dan utuh hingga batik dapat diselesaikan.

Pun begitu juga dengan malam (lilin batik). Malam yang bagus pastinya akan melindungi konsistensi motif hingga pewarnaan batik selesai. Memang, banyak faktor yang membuat batik dengan warna alam lembar demi lembarnya berbeda dari batik warna sintetis. Meski sama-sama diwarnai dengan kulit Manggis atau kulit Rambutan, asal tumbuhan, umur, dan jenisnya yang berbeda akan membuat warna batik alam yang dihasilkan pun berbeda dan sulit untuk sama antara satu dengan yang lain.
Empat puluh kali pencelupan menghasilkan warna yang diinginkan
Foto: Dok. Pribadi
Kini Nuri masih terus berjibaku mendesain dan membuat batik. Dengan Tagline Natural Dye’s Batik yang dibuatnya itu semakin mengokohkan dirinya untuk bersaing di pasar nasional bahkan internasional melalui batik dengan warna dasar alam.

Lurik Lawe “PAGARI”  Meet The Makers 11

Siapa yang tak kenal kain lurik Yogyakarta ini? Ya, Lurik.  Di bawah bendera “LAWE” Lurik naik kelas. Bukan kelas abal-abal dalam wastra Indonesia, tetapi naik kelas internasional. LAWE social enterprise yang berdiri pada 2004 atas kecintaan Fitria Werdiningsih untuk kain tradisional.

Lurik LAWE dalam kreativitas Fitria
Foto: Dok. Pribadi
Fitria menyadari, bahwa tantangan kain tradisional daerah itu rata-rata hampir sama. Ada keterbatasan ketika akan memasarkan produk yang mereka punyai. Selain itu, seolah tidak sanggup untuk berkompetisi dengan kain-kain modern yang jumlahnya bejibun dari hasil industri tekstil. Produk yang dihasilkan pun terbatas pada lembaran kain.  

Meet The Makers 11, menjadi ajang untuk Fitria dan teman-temannya unjuk gigi. Bahwa kain tradisional mampu bersaing. Alun Alun Grand Indonesia memberi tempat untuk dirinya memperlihatkan hasil-hasil olahan lurik khas Yogyakarta ini. Ada dompet, tas, gantungan kunci, bahkan boneka-boneka hewan yang cantik pun mampu dikreasikan dari kain lurik LAWE.

Kain Tenun Lurik
Foto: Dok. Pribadi
Asal kata Lurik adalah Lorek atau Rik, dalam bahasa Jawa memiliki arti garis. Garis-garis lurus itu seperti pagar yang menjadi ciri kain tersebut. Itu pun memiliki makna sebagai satu nilai kesederhanaan hidup. Bergulirnya waktu, lurik Fitria menjadi lambang sosial “kawulo alit” atau pribumi masa lalu. Lurik ini sebagai perwakilan identitas orang biasa atau orang yang sederhana dalam kehidupannya. Lurik tak lepas dari sejarah bangsa Indonesia. Ada bukti yang mencatat mengenai lurik, yaitu di prasasti tinggalan kerajaan Mataram pada 851—882 Masehi, juga beragam wujud penggunaan lurik di arca-arca dan relief candi yang berada dan tersebar di Jawa. Lurik tak sekadar barang dagangan. Ada nilai seni dan sejarah terwujud di dalamnya. Nilai itu  adalah kesederhanaan, kesabaran, dan keluhuran.

Hewan-hewan lucu dari kain Tenun Lurik, kreativitas Fitria dkk
Foto: Dok. Pribadi
Melalui tangan Fitria lurik tetap ada. Dari Pak Agus Tomaha, Effan, Novita, Sonya, dan Irma kain kulit kayu mendunia. Melalui Nuri, Marenggo tak melongo’. Dari Meet The Makers 11 mereka semua ada. Kita tunggu penerus-penerusnya.


Friday, August 19, 2016

Achmad Soebardjo, Peran Ide dalam Perjuangan Kemerdekaan

Rumah Achmad Soebardjo
Jalan Cikini Raya No. 82 Jakarta Pusat
Foto: Dok. Pribadi
Ketika kaki saya menapak ke salah satu rumah di Jalan Cikini Raya No. 82 pada Jumat, 19 Agustus 2016, tampak terlihat beberapa tenda berwarna putih dan keramaian mulai terjadi. Rumah, berdasarkan penglihatan  dan tanya saya ke beberapa orang yang berada di sana sebagai rumah tua peninggalan Belanda.
Kamar yang dipakai oleh Achmad Soebardjo
Foto: Dok. Pribadi
Benar saja,  dilihat dari  plafon  yang tinggi dan bentuk bangunan ala kolonial, dengan semen yang masih kokoh hingga sekarang. Hanya di beberapa bagian di “dempul” ulang sehingga terlihat bersih dengan nuansa warna   putih.
Foto keluarga Achmad Soebardjo
Foto: Dok. Pribadi
Ya, rumah yang saya sambangi pagi itu adalah rumah mantan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia untuk pertama kalinya  pada saat republik ini terbentuk, Achmad Soebardjo. Achmad Soebardjo, atau biasa disapa Soebardjo memiliki arti cemerlang atau bercahaya.
Itulah arti kata dari nama yang diberikan oleh Raden Mas Said, Bupati Blora ketika salah satu tokoh nasional negeri ini lahir. 

Salah satu sisi kamar dan foto Achmad Soebardjo
Foto: Dok. Pribadi
Apa yang dikatakan Raden Mas Said itu menjadi kenyataan. Achmad Soebardjo, sebagai wartawan, salah satu tokoh proklamasi, menteri luar negeri, juga pernah menjabat sebagai duta besar. Semua jabatan itu dia jalani dengan kecemerlangan dan sukses.

Achmad Soebardjo, sesuai dengan arti namanya, Cemerlang
Foto: Dok. Pribadi
Sebagai napak tilas lahirnya Kementerian Luar Negeri  negara ini, Menteri Luar Negeri Retno L.P. Marsudi sengaja mengambil tempat perhelatan di rumah tersebut. Perhelatan itu mengundang kerabat Achmad Soebardjo (anak-anak), mantan-mantan menteri luar negeri yang pernah menjabat di negeri ini. Hal ini dilakukan untuk mengingat kembali perjuangan Achmad Soebardjo dalam merealisasikan lahirnya kementerian luar negeri atas perintah Presiden Soekarno kala itu.
Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi dalam sambutannya
pada Napak Tilas Kemlu di kediaman Achamd Soebardjo (alm)
Foto: Dok. Pribadi
Achmad Soebardjo diminta langsung oleh Presiden Soekarno sebagai menteri luar negeri. Soebardjo bingung, mengapa? Karena, dia tidak punya tempat untuk ngantor, sementara urusan luar negeri negara ini terus berjalan dan meminta dirinya untuk bergerak cepat.
Soebardjo terlahir dari pasangan Teuku Muhammad Yusuf yang masih berdarah bangsawan Aceh,Pidie-Wardinah, keturuan Jawa-Bugis. Kakek dari ayah merupakan Ulee Balang dan ulama di daerah Lueng Putu, sementara Teuku Yusuf sebagai pegawai pemerintah menduduki posisi Mantris di daerah Teluk Jambe, Karawang. Ibu Seobardjo adalah anak Camat di daerah Telukagung, Cirebon.
Ruang baca Achmad Soebardjo
Foto: Dok. Pribadi
Teuku Abdul Manaf merupakan pemberian nama awal oleh ayahnya untuk Soebardjo. Sementara itu, ibunya memberi nama Achmad Soebardjo. Sedangkan Djojoadisoerjo ditambahkan sendiri setelah dewasa ketika dirinya ditahan di penjara Ponorogo karena peristiwa 3 Juli 1946.
Mantan Menteri Luar Negeri era SBY, Marty Natalegawa
 hadir dalam Napak Tilas Kemlu di kediamanAchmad Soebardjo (alm)
Foto: Dok. Pribadi
Menempuh  pendidikan di Hogere Burger School, Jakarta (saat ini setara dengan Sekolah Menengah Atas) pada tahun 1917. Lantas melanjutkan pendidikan di Universitas Leiden, Belanda dan memperoleh ijazah Meester in de Rechten (saat ini setara dengan Sarjana Hukum) di bidang undang-undang pada tahun 1933.
Salah seorang anak Achmad Soebardjo
menyampaikan sambutannya
Foto: Dok. Pribadi
Ahmad Soebardjo kembali ke Hindia Belanda dan terus memegang idealism  yang bersikap tidak ingin bekerja sama dengan pemerintah kolonial, sehingga ia menolak bekerja untuk kepentingan Belanda. Beliau kemudian bekerja sebagai pembantu di Kantor Hukum yang berada di Semarang.

Setelah di Semarang, beliau pindah kerja ke Surabaya sebagai ahli hukum junior di salah satu usaha hukum yang dipimpin oleh salah satu tokoh pergerakan nasional lainnya, yaitu Mr. Iskaq Tjokrohadisuryo. Ketika berada di Surabaya, kondisi pergerakan nasional di Hindia Belanda sedang mengalami tekanan berat akibat kebijakan represif  Gubernur Jenderal Mr. P.C. de Jonghe.

 Akibat kebijakan tersebut, setiap mahasiswa yang baru pulang dari Belanda langsung diawasi oleh Pemerintah, sehingga menyulitkan mereka dalam menyampaikan aspirasi dan melakukan konsolidasi memperkuat pergerakan. Hal itu  juga terjadi pada diri Achmad Soebardjo, sehingga dirinya hanya fokus pada pekerjaan sebagai pengacara, dan memperdalam pengetahuaan  di bidang organisasi politik dan politik internasional, serta terus melanjutkan aktivitas jurnalistiknya.

Menjadi politikus, pejuang, dan intelektual, dirinya sering bermain-main dengan ide. Ide itu dapat membuat segala sesuatu jadi berubah, dapat membuat sejarah baru maupun mengubah karakter manusia. Pada suatu kesempatan dirinya menyampaikan pidato di Gedung Kebangkitan Nasional Jakarta tahun 1974. Lantas, dari pidato itu dibuatlah buku berjudul Peranan Ide-Ide dalam Gerakan Kemerdekaan Indonesia”. Menurutnya, ide itu penting untuk memperjuangkan kemerdekaan negara ini.

Pada halaman 6 buku tersebut beliau menuliskan kalimat, “Saya berpendapat bahwa ide-ide merupakan unsur terpenting dalam perkembangan dan kemajuan sejarah dunia, termasuk sejarah kemerdekaan Indonesia. Tapi bukan sembarangan ide dapat menggerakkan manusia untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi negara dan masyarakat. Hanya ide-ide yang mengandung kebenaran dan keadilan dapat menyentuh jiwa manusia yang dapat merasakannya”.

Negara ini pun hadir berasal dari ide sebagai dasar juga penyangga. Kepercayaan dirinya mengenai ide menjadikannya yakin bahwa, memahami sejarah tidak cukup tanpa mengerti dan menghayati ide dan nilai yang mengelilinya. Ide, untuk dirinya sebagai dopping untuk terus membebaskan negeri ini dari kolonial.

Semasa menjadi mahasiswa, Achmad Soebardjo aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan bergabung di organisasi kepemudaan seperti Jong Java dan Perkumpulan Mahasiswa Indonesia di Belanda. Ia merupakan anggota delegasi Indonesia pada Kongres Anti Imperialis di Belgia dan Jerman. Sekembalinya ke Indonesia, aktif menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Setelah Indonesia merdeka pada  17 Agustus 1945, Achmad Soebardjo diangkat menjadi Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Presidensial periode 19 Agustus 1945 -14 November 1945 dan kembali menjabat Menteri Luar Negeri pada Kabinet Sukiman-Suwirjo periode 1951-1952. Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Republik Federal Swiss periode 1957-1961.

Dalam bidang pendidikan, dirinya memperoleh gelar Profesor di bidang sejarah Konstitusi dan Diplomasi Indonesia dari Fakultas Sastra, Univeritas Indonesia.
Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo meninggal dunia pada 15 Desember 1978 di usia 82 tahun di Rumah Sakit Pertamina, Kebayoran Baru, akibat komplikasi. Dirinya dimakamkan di rumah peristirahatannya di Cipayung, Bogor. Pemerintah menganugerahi almarhum sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2009 melalui Keppres No. 58/TK/2009. [Diolah dari berbagai sumber]

Monday, August 15, 2016

ASEAN, MELESAT SEMAKIN DI DEPAN

Rasanya tak berlebihan untuk mengatakan “ASEAN, MELESAT SEMAKIN DI DEPAN”. Banyak capaian yang diperoleh dari negara-negara yang tergabung dalam ASEAN (Association of  Southeast Asian Nation) atau Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (Perbara). Organisasi yang dideklarasikan pada tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok, Thailand dihadiri oleh lima negara, yaitu Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Indonesia.

Penandatanganan Deklarasi Bangkok
Dihadiri 5 Menteri Luar Negeri ASEAN
Foto: Dok, Arsip Nasional RI
Deklarasi Bangkok ditandatangani oleh perwakilan lima negara pemrakarsa pendiri ASEAN, yaitu Adam Malik (Menteri Luar Negeri Indonesia); Tun Abdul Razak (Wakil Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri Malaysia); Narciso Ramos (Menteri Luar Negeri Filiphina); S. Rajaratman (Menteri Luar Negeri Singapura); dan Thanat Khoman (Menteri Luar Negeri Thailand). Isi  Deklarasi Bangkok, yaitu:

1.       Mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan perkembangan kebudayaan di kawasan Asia Tenggara.
2.       Meningkatkan perdamaian dan stabilitas regional.
3.       Meningkatkan kerjasama dan saling membantu untuk kepentingan bersama dalam bidang ekonomi, sosial, teknik, ilmu pengetahuan, dan administrasi.
4.       Memelihara kerjasama yang erat di tengah - tengah organisasi regional dan internasional yang ada.
5.       Meningkatkan kerjasama untuk memajukan pendidikan, latihan, dan penelitian di kawasan Asia Tenggara.

Menteri-Menteri Luar Negeri Negara ASEAN
Narciso Ramos (Filipina); Adam Malik (Indonesia); Thanat Khoman (Thailand)
Tun Abdul Razak (Malaysia); & S. Rajaratman (Singapura) berfoto bersama
di Bangkok pada 8 Agustus 1967
Foto: Dok. Arsip Nasional RI
Sebagai satu organisasi geo-politik dan ekonomi di kawasan Asia Tenggara, memiliki tujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan pengembangan kebudayaan negara-negara anggota, memajukan perdamaian dan stabilitas di level regional,juga meningkatkan kesempatan untuk membicarakan perbedaan di antara anggotanya secara damai, aman, dan tenteram.

Bendera ASEAN melambangkan ASEAN yang stabil, penuh perdamaian, bersatu, dan dinamis. Adapun lambang ASEAN berada di tengah bendera ASEAN. Sementara itu, warna bendera dan lambangnya biru, merah, putih, dan kuning; masing-masing mewakili warna dasar setiap bendera negara anggota ASEAN. Warna biru perdamaian dan stabilitas; merah semangat dan kedinamisan; putih kesucian; dan kuning  kemakmuran. Ikatan rumpun padi sebagai harapan para tokoh pendiri ASEAN agar organisasi  itu secara bersama-sama terikat dalam persahabatan dan kesetiakawanan sosial, sedangkan lingkaran melambangkan kesatuan ASEAN.

Jika melihat luas wilayah ASEAN ini semua orang akan berdecak kagum. Wilayah dengan luas sekitar 4,46 juta kilometer persegi itu hampir sama dengan luas daratan di Bumi sekitar 3%-nya. Sementara, luas laut yang dimiliki tiga kali lipat dari luas daratan. Ada satu hal yang selama ini orang sering menyebut, apabila ASEAN itu sebagai entitas tunggal, maka ASEAN akan menduduki ekonomi terbesar ke-9 setelah negara-negara adidaya, sepeti Italiam Jerman, Jepang, Amerika Serikat, Cina, Perancis, Inggris, dan Brasil. Hal ini menjadi satu cita-cita negara-negara ASEAN untuk  mewujudkan secara nyata.

Pada 8 Agustus 2016 lalu, ASEAN genap berusia 49 tahun. Ya, ini bukan usia muda lagi untuk sebuah organisasi. Sudah cukup berpengalaman dalam berbagai kesempatan, baik regional maupun mendunia. Berkaca dari hari jadi ASEAN tersebut, mengapa  organisasi ini hingga sekarang masih bertahan dan tetap dipertahankan?

Ada beberapa hal yang membuat ASEAN masih bertahan hingga saat ini, yaitu prinsip. Prinsip-prinsip utama yang dipegang oleh para bangsa-bangsa anggota ASEAN inilah yang membuat organisasi tersebut menjadi satu organisasi yang cukup disegani. Apa saja prinsip-prinsip utama ASEAN tersebut?

1.       Menghormati kemerdekaan, kedaulatan, kesamaan, integritas wilayah nasional, dan identitas nasional setiap negara. Hal ini sebagai rasa atau bentuk penghormatan mendalam kepada setiap masing-masing negara anggota ASEAN. Secara nyata, jarang terdengar keributan yang terjadi di antara anggota negara ASEAN itu sendiri.

2.       Hak untuk setiap negara memimpin kehadiran nasional, bebas dari campur tangan, subversif atau koersi pihak luar. Negara-negara anggota diberi kepercayaan oleh negara lain dalam kancah internasional untuk ikut di berbagai event dunia. Hak-hak negara anggota ASEAN menjadi satu kepercayaan lebih kepada negara di luar anggota ASEAN.

3.       Tidak mencampuri urusan dalam negeri sesama negara anggota. Tidak pernah terdengar neegara-negara anggota ASEAN masuk ke dalam negara anggota ASEAN lainnya untuk “mengacak-acak” negara lainnya tersebut. Ini menjadi satu pegangan asas penghormatan kepada negara anggota ASEAN bahwa mencampuri urusan dalam negeri anggota lainnya sebagai tindakan yang mengganggu. Hal itu dapat dianggap sebuah pengacauan negara.

4.       Penyelesaian perbedaan atau perdebatan dengan damai. Contoh kasus nyata saat Malaysia dan Indonesia  bersengketa untuk  Pulau Sepadan dan Ambalat. Hal itu dapat dibicarakan baik-baik tanpa harus angkat senjata atau pun terjadi perang di antara negara anggota. Penyelesaian perbedaan atau perdebatan wilayah, tak perlu dengan kekerasan jika ada jalan perdamaian. Membangun prinsip-prinsip tersebut harus melalui kesadaran dari masing-masing anggota negara ASEAN.

5.       Menolak penggunaan kekuatan yang mematikan. Sejalan dengan poin empat, bahwa segala sesuatu selagi masih dapat dibicarakan secara damai mengapa harus berperang.

6.       Kerja sama efektif antara anggota. Efektivitas dari  satu kerjama anggota negara ASEAN menjadi pegangan untuk negara-negara anggota lainnya. Betapa tidak, kerjasama yang efektif akan mendatangkan manfaat  yang efektif pula. Disadari atau tidak oleh negara-negara anggota ASEAN lainnya, bahwa efektivitas kerjasasama anggota telah banyak melahirkan kerjasama-kerjasama yang sangat bermanfaat.
Presiden Joko Widodo menghadiri pertemuan
kepala negara pada KTT ASEAN ke-25 di Nay Pyi Taw Myanmar
11-13 November 2014
Foto: Dok. Kemlu RI
ASEAN, dalam hal terbaru  telah melahirkan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Hal ini sebagai jembatan efektivitas dalam melihat pasar bebas. Siapapun boleh bersaing dan masuk ke arena. Untuk itu, masing-masing negara anggota telah mempersiapkan “peluru” dan “senjata” untuk membuat strategi jitu agar masing-masing negara dapat maju ke depan. Maju bersama-sama untuk melesat bersama-sama.

Konektivitas ASEAN berperan penting dalam pembentukan Masyarakat ASEAN, yang mencakup konektivitas infrastruktur, institusi dan  rakyat. Konektivitas ASEAN diharapkan berkontribusi terhadap ASEAN sebagai kawasan yang berdayasaing dan berdayatahan, dengan mendekatkan pergerakan orang, barang, jasa, dan modal.

Keterhubungan negara-negara ASEAN menjadi hal penting
untuk mewujudkan Masyarakat ASEAN
Foto: Aswaddy Hamid, Peserta Lomba Fotografi WArna-Warna ASEAN, 2014


Saling topang menopang di antara negara anggota ASEAN, itulah yang akan menjadi salah satu kunci keberhasilan ASEAN untuk menduduki ekonomi dunia. Pasar bebas,  telah meningkatkan ekonomi dari masing-masing negara. Mau tidak mau, sumber daya manusia dan infrastruktur negara-negara anggota ASEAN ditingkatkan untuk menghadapi dan mengantisipasi ekonomi di tingkat regional dan dunia.
Perhelatan Ulang Tahun ASEAN ke-49, Museum Keramik & Seni Rupa
Kota Tua, Jakarta
Foto: Dok. Andini Harsono. 
Seiring dengan itu, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, menghelat perayaaan ulang tahun ASEAN ke-49 dengan menghadirkan perwakilan negara-negera ASEAN. Mengambil tempat di kawasan Kota Tua. Hal  ini untuk mengingatkan kembali histori perjalanan panjang salah satu negara anggota ASEAN, Indonesia. Ada pula pameran foto yang dilangsungkan di Museum Seni Rupa dan Keramik, yang berlangsung dari tanggal 6--13 Agustus 2016.

ASEAN terus melaju mengejar yang belum tercapai. Apakah Anda akan tetap tinggal diam?