Thursday, May 4, 2017

Bada Valley, Indonesian Hidden Treasure


Sulawesi Tengah menjadi salah satu tempat paling indah di Indonesia. Pegunungan, danau, dan lembah cantik menghiasi wilayah itu. Ini menjadi daya tarik wisata yang tak terkalahkan.  Palu, menjadi ibukota Sulawesi Tengah yang letaknya tepat berada di sisi Utara. Kota ini dikenal sangat jarang turun hujan, oleh karena itu daerahnya kering dan panas sehingga Palu dikenal sebagai kota terkering di Indonesia. Kalau teman-teman pernah ke Palu, akan merasakan panas yang sangat lekat di kulit saat berjalan di siang hari. Sementara di malam hari, udaranya terasa sejuk.

Suasana Lembah Bada, eksotis dan sangat menawan
Foto: Dok. Pribadi
Adalah Lembah Bada, Lembah yang berada di kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, masuk  ke dalam Taman Nasional Lore Lindu. Berada di sebelah Selatan kota Palu atau sebelah Barat Tentena. Dapat dicapai dengan kendaraan, baik mobil maupun motor dari Palu sekitar 8 jam perjalanan. 

Cerah di Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Perjalanan menuju ke Lembah Bada tergantung pada kondisi cuaca. Jika cuaca sedang tidak hujan, jalanan aman untuk dilalui. Apabila turun hujan, perlu berhati-hati karena beberapa jalan masih dalam bentuk tanah liat merah dan belum diaspal.

Danau Poso di pagi hari
Foto: Dok. Pribadi
Untuk menuju Bada, saya melewati  beberapa kota kecil, seperti Parigi Moutong, Tentena, dan terakhir ke tempat tujuan. Di kiri kanan jalan terdapat perkampungan dengan nuansa pedesaan yang sangat indah, subur, dan menakjubkan.

Lembah Bada  menjelang siang
Foto: Dok. Pribadi
Sebelum perjalanan panjang ke Lembah Bada, saya singgah dan bermalam terlebih dahulu di kota Tentena. Di Tentena, banyak pilihan penginapan untuk melepas penat setelah berjam-jam dalam perjalanan berada di mobil.

Kondisi jalan menuju Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Bersyukurnya, perjalanan ke Lembah Bada yang saya tempuh saat ini relatif aman dan lancar. Jalan-jalan mulai diaspal dan tak begitu banyak ditemui jalanan bertanah liat basah. 

Jalan terjal menuju Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Beberapa waktu lalu, perjalanan menuju ke lembah ini ditempuh dalam waktu panjang, mungkin bisa belasan jam bahkan satu hari penuh. Itu karena kondisi jalan yang tak bersahabat, ditambah lagi jika turun hujan, jalanan semakin buruk dan licin.

Situs Megalitik Palindo (Sepe)
Foto: Dok. Pribadi
Apa daya tarik terkuat di lembah ini sehingga banyak orang berbondong-bondong ingin mengunjunginya, baik orang-orang yang berasal dari dalam dan luar Palu, maupun yang berasal dari luar negeri. Ya, hal paling menarik di Lembah Bada ini adalah Patung Palindo (Palindo Statue). Ketika dahulu belajar sejarah, saya hanya bisa membaca  dari buku tentang budaya megalitikum yang sangat terkenal ini.

Sepe terbesar lebih besar dan tinggi dari tubuh saya
Foto: Dok. Pribadi
Tanpa dinyana, saya menginjakkan kaki di tempat Patung Palindo. Patung  yang berdiri miring di atas permukaan tanah Bada. Masyarakat sekitar sangat percaya terhadap patung tersebut, dulunya berdiri tegak, sebagai sumber kekuatan untuk suku Lore, yaitu suku asli yang mendiami Lembah Bada.

Patung Batu masih dalam kawasan Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Perjalanan menemui patung-patung peninggalan budaya megalitikum itu tak berhenti pada patung Palindo semata. Banyak patung-patung lain yang keberadaannya tersebar di sekitar Lembah Bada. Saya terperangah sekaligus terperanjat melihat keberadaan patung-patung peninggalan megalitikum itu. Betapa tidak, negeri ini penuh dengan peninggalan masa prasejarah yang sangat indah untuk ditelusuri.

Patung batu, saya, dan Prof. Isamu Sakamoto di Lembah Bada
Foto: Dok. Pribad
Sangat beruntunglah saya menjumpai patung-patung megalit yang ada di lembah Bada ini. Mengapa saya bilang beruntung? Karena patung-patung megalit yang saya lihat merupakan patung-patung langka yang ada di dunia. Wow Indonesia! Patung-patung ini hanya terdapat di Napu, Besoa, Bada, dan Amerika Latin yang berada di daerah Marquise Island.

Patung Batu Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Lembah Bada, punya magnet sangat kuat untuk orang-orang di luar Bada sendiri. Selain patung-patung prasejarah, ada satu tradisi yang sudah dilakukan sejak zaman dahulu kala hingga kini. Apa itu? Ya, tradisi pembuatan kain dari kulit kayu. 

Bersama Mama Beri, pembuat kain kulit kayu Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Salah seorang peneliti kain kulit kayu Prof. Isamu Sakamoto, yang berasal dari Surugadai University, Jepang mengatakan, “Tradisi pembuatan kain kulit kayu yang berada di  Lembah Bada muncul pada zaman Neolitikum, sekitar 3.600 tahun lalu yang berarti sebelum zaman megalitikum, pembuatan kain kulit kayu sudah ada dan berkembang pesat, terutama di Lembah Bada Indonesia”.
 
Pembuatan kain kulit kayu di Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Perkembangan di dunia, menurut Profesor Sakamoto, pembuatan kain kulit kayu yang sekarang ini hanya ada di Sulawesi Tengah saja. Hingga saat ini masih terus berproses dan dibuat. Apabila dilihat di lain tempat, ini sudah tidak ada. 
Kain kulit kayu berukuran 1 x 1 m yang dibuat Mama Beri
Foto: Dok. Pribadi
Bila diperhatikan secara saksama, masyarakat yang mengolah kain dari kulit kayu masih menggunakan batu dan batu itu hanya ada di Lembah Bada. Diperhatikan secara saksama pula, batu-batu yang digunakan untuk membuat kain, hanya ditemukan di situs-situ kuno yang terdapat di Lembah Bada (lokasi yang sama).

Alat pukul (baton beaten) kain kulit kayu yang ada di Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Hal yang membuat saya lebih tercengang lagi, ternyata batu-batu yang digunakan sebagai alat pembuat kain kulit kayu itu tadi, menurut para arkeolog dibuat sekitar 3.600 tahun silam. Waaw! Sementara, batu-batu itu hingga kini masih bertahan dan utuh. Luar biasa!

Profesor Isamu Sakamoto dan Mama Beri di Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Bukan apa-apa, hal ini benar-benar memukau dan membukakan mata saya. Sejarah yang sudah berlangsung 3.600 tahun berlalu tetapi, hingga sekarang masih terus berlangsung pembuatan kain kulit kayu tersebut.


Alat yang saya pegang adalah setrika untuk kain kulit kayu di Etnis Lore Iwanua Lengkeka
Foto: Dok. Pribadi
Menurut Profesor Harry Truman Simanjuntak, Arkeolog dan peneliti kulit kayu, di dunia persebaran kain kulit kayu cukup luas, selain di Asia, yang tertua terdapat di China Selatan, ada di Amerika dan beberapa negara. Ditemukan pula kain kulit kayu yang ada di Peru, Bolivia, Brasil, dan di wilayah Kepulauan Pasifik. 

Mama Asa, yang saya pegang  kain kulit kayu terakhir buatannya, saya beruntung mendapatkannya.
Usia Mama Asa ini sudah  lebih dari 90-an tahun
Foto: Dok. Pribadi
Kain  kulit kayu yang berada di Pasifik berkembang sangat baik dari zaman dahulu hingga kini, masih terus berlangsung di beberapa tempat. Hal ini tentu ada kaitan persebarannya dengan yang datang dari China Selatan, masuk ke Taiwan, turun ke Filipina, masuk ke Indonesia, dan sebagian ada yang bermigrasi ke wilayah Timur dan Pasifik.

Menginjakkan kaki di Etnis Lore Iwanua Lengkeka masih dalam kawasan Lembah Bada-Sulteng
Foto: Dok. Pribadi
Beberapa kain kulit kayu sudah punah, seperti di Toraja, pada tahun 1900-an, atau awal abad ke-20 masih ada peneliti Eropa yang melihat dan menyaksikan sendiri pembuatan kain kulit kayu, bahkan diterbitkan dalam sebuah buku. Setelah diteliti dan dilacak kembali beberapa tahun lalu, ternyata pembuatannya sudah tidak ada lagi.  Yang tertinggal hanya produknya saja yang ada di museum setempat, dan di beberapa butik-butik tertentu.

Daya tarik yang sangat kuat untuk saya teliti lebih lanjut, Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Kurator Museum Sulawesi Tengah, Drs Rim, M. Hum, mengatakan bahwa yang ada sekarang ini tinggal orang tua yang sudah lanjut usia yang masih membuat. Karenanya, perlu diberi pemahaman bahwa kulit kayu ini memiliki nilai ekonomi. 

Kak Sonya, Baju Hijau, salah satu  generasi muda penerus pembuat kain kulit kayu di Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Oleh karenanya diharapkan, anak-anak cucu mereka juga dapat membuat kain kulit kayu tersebut. Jangan pernah berpikir bahwa membuat kain kulit kayu hanya pekerjaan sia-sia atau buang-buang waktu. Hal  inilah yang perlu benar-benar dijadikan sebuah momentum untuk memacu mereka.

Peran pemerintah, seperti Deperindag, Koperasi, dapat mengajarkan kepada pengrajin ini agar lebih dinamis dalam berproduksi. Memang, tidak semua jenis pohon dapat diambil kulitnya untuk dibuat kain kulit kayu.

Rim mengatakan, di Bada ada sekitar 16 jenis pohon menurut penelitian yang dapat diambil kulitnya untuk pembuatan kain kulit kayu. Sementara, di daerah Kulawi hanya sekitar 6 jenis pohon saja. Memang, lebih banyak di daerah Lore-Bada.


Pohon Saeh (Brossounetia papyrifera) bahan dasar pembuatan kain kulit kayu
Foto: Dok. Pribadi
Jenis-jenis pohon yang dapat diambil kulitnya untuk dijadikan bahan pembuatan kain kulit kayu dan paling sering adalah pohon Ivo atau Bea, pohon Malo, dan beberapa jenis beringin. Kulit kayu dari jenis pohon inilah yang paling sering dipakai.

Beberapa penelitian mengatakan, semua pohon yang bergetah dapat dijadikan kain kulit kayu dan memiliki potensi ekonomi. Ya, pembuatan kain kulit kayu yang berada di Sulawesi Tengah ini merupakan satu budaya kearifan lokal masyarakat setempat yang ingin dan peduli mempertahankan tradisi agar tak mati.

Proses pembuatan kain kulit kayu memerlukan waktu relatif singkat. Jika dilakukan terus menerus hanya menghabiskan waktu sekitar satu minggu. Semua itu tergantung dari berapa meter atau berapa besar kain yang akan dihasilkan. Semakin lebar dan panjang kain, semakin lama waktu yang diperlukan. Kain-kain kulit kayu yang akan dijadikan baju pun perlu waktu lagi. Waktu yang diperlukan sekitar dua minggu hingga satu bulan. Semua itu tergantung pola dan jenis baju yang akan dibuat.

Proses pembuatan kain kulit kayu terbilang sulit. Tahapan-tahapan tertentu harus dilalui untuk menghasilkan kain yang bermutu dan bernilai ekonomi tinggi.  Tahapan-tahapannya sebagai berikut.

Pertama: pencarian bahan baku (material) yang memang banyak terdapat di lembah Bada. Pohon-pohon yang boleh diambil tak sembarang  pohon, adalah pohon dengan umur tertentu. Kearifan penduduk lokal dalam menggunakan bahan baku sangat dijaga. Warga mengambil secukupnya saja. Pohon-pohon yang sudah ditebang lantas dikuliti. Kulit kayu kemudian direbus agar menjadi lemas dan mudah untuk diproses.

Nantinya, kulit kayu yang tadinya berwarna cokelat, setelah boiling (perebusan) akan berubah warna  menjadi putih. Kain kulit kayu yang berwarna putih tadi, akan dibuat kain yang berwarna putih. Kulit kayu yang sudah direbus dan mulai lemas tersebut, lalu dipukul-pukul menggunakan kayu dan batu khusus. Lamanya pembuatan kain  kulit kayu dari kulit kayu yang sudah direbus tadi melalui pemukulan dapat berlangsung antara satu hingga dua minggu. Hal itu tergantung berapa panjang atau pendek kain yang akan dibuat.

Berdasarkan penuturan Antony, seniman pembuat kain kulit kayu, jenis kayu yang digunakan untuk memukul kulit kayu terbuat dari kayu bernama kayu Miras atau ruyung enau. Kayu Miras itu kayu yang relatif keras, berfungsi untuk menghancurkan serat kayu. Kayu Miras yang berbentuk garis lubang panjang difungsikan untuk  serat masuk ke dalam dan membuka helaian serat.

Guratan kayu Miras tersebut merupakan peninggalan nenek moyang. Untuk memperhalus kain kulit kayu mereka mencari cara sendiri atau mengembangkannya sendiri. Pemukulan kulit kayu dengan alat pukul kayu lebih kurang satu hari saja. Untuk hari kedua, mulai dilakukan pemukulan dengan menggunakan alat yang terbuat dari batu. Dalam masyarakat Bada yang membuat kain kulit kayu, untuk pemukul tersebut ada penamaan tersendiri. Untuk pemukulan pertama alatnya disebut Peboba. Hari kedua tetap menggunakan kayu Miras (Enau). Alat kedua yang dipakai untuk memukul adalah Pehelo’i, ketiga masih jenis Pehelo’i tapi terbuat dari batu (namanya batu ike) yang konturnya mulai agak halus.

Setrika kayu (seperti Alu) dan beberapa alat pemukul kain kulit kayu
Foto: Dok. Pribadi
Kain-kain kulit kayu yang dipukul-pukul lama kelamaan akan melebar dan alat-alatnya pun disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk menyambung antara satu kain kulit kayu dengan kain kulit kayu lainnya tidak menggunakan lem. Akan tetapi dengan menempelkan kain kulit kayu yang lainnya dan dipukul-pukul lagi hingga menempel dan menyatu melalui pukulan tadi.

Pekerjaan untuk membuat kain kulit kayu ini memang kebanyakan dilakukan kaum wanita. Mereka melakukannya ketika tidak ada pekerjaan lain atau saat-saat waktu senggang. Biasanya mereka melakukannya setelah pekerjaan utama, khususnya pekerjaan rumah usai. Kesabaran, ketekunan, juga kegembiraan sebagai kunci dari pembuatan kain kulit kayu tersebut.

Kulit kayu yang sudah dipukul-pukul selama beberapa hari tersebut yang tadinya tebal lama kelamaan menjadi tipis akan tetapi liat dan kuat menjadi kain. Tentunya, kandungan air yang terdapat dalam kain kulit kayu masih ada. Untuk menghilangkan kadar airnya, kain kulit kayu dijemur di terik sinar matahari hingga kering sempurna.
Hal yang sangat saya kagumi dalam proses pembuatan kain kulit kayu ini, tak ada satupun bahan-bahan kimia bercampur di dalamnya.

Proses pembuatannya dilakukan secara alami dan tradisional dengan memanfaakan sumber-sumber alam yang ada. Sama halnya dengan  pembuatan kain kulit kayu, untuk pewarnaannya pun demikian, masyarakat Lembah Bada menggunakan pewarna alami yang diturunkan secara turun temurun dari nenek moyang mereka kepada orang-orang yang melakukan pembuatan kain kulit kayu.

Bahan pewarna alami yang digunakan diambil dari pohon yang berada di Lembah Bada sendiri. Pohon tersebut terdapat di pinggir-pinggir jalan dan juga dataran tinggi Bada. Pohonnya bernama Bonoti. Sementara bahasa Manadonya Leilem. Jenis bunga justru tidak digunakan.

Daun Bonoti tadi lantas ditumbuk. Tempat tumbuknya (lumpang) terbuat dari batu. Mengapa batu? Dilihat dari kekerasan daunnya, daun Bonoti itu relatif keras, jadi batu justru mempercepat proses penghancuran, mempercepat penghalusan, dan mempercepat pengeluaran air. Sedangkan tumbukan yang berasal dari kayu justru membuat lama hancur daun Bonoti dan lama pula proses pengeluaran airnya.

Antonio (Pak Tony) merupakan seniman dari Lembah Bada yang berkonsentrasi terhadap pembuatan dan pewarnaan kain kulit kayu. Dia jugalah orang yang memberikan motif-motif pada kain kulit kayu Lembah Bada. Dia seakan mampu memberikan “nyawa” pada kain kulit kayu yang seolah hidup memiliki jiwa.
  
Kemampuan dirinya meracik beragam warna untuk pembuatan warna kain kulit kayu berbasis pada kearifan lokal. Pengetahuannya diperolah secara turun temurun.
Hal yang menjadi catatan penting saya, Pak Tony terkadang mengandalkan ingatannya untuk membuat warna-warna yang ada tanpa membuat catatan. Amazing!

Warna hitam yang dibuat olehnya berasal dari getah Damar (Agathis alba). Getah damar diperolehnya dari hutan di sekitar Lembah Bada.  Getah damar yang diambil pun merupakan getah damar yang sudah mengeras dan mengering.

Selanjutnya getah damar dibakar. Hasil pembakaran getah damar tadi, ditampung dalam belang-belanga yang terbuat dari tanah liat. Asap-asap (Jelaga) yang ditimbulkan dari getah damar tadi akan menempel di sekitar belanga. Pak Tony tak pernah berhenti untuk mencoba mencari pewarnaan baru. Melalui mencoba dan terus mencoba itulah akhirnya dia mendapatkan warna-warna indah alami yang membuat kain kulit kayu yang tadinya putih, kini penuh corak dan warna.
Baju dari kain kulit kayu untuk pria (Koleksi Bang Rim)
Foto: Dok. Pribadi 
Jelaga-jelaga getah damar yang dibakar tadi akan menempel di dalam tutup-tutup belanga. Selanjutnya, jelaga-jelaga damar tadi dikerik perlahan-lahan untuk diambil menjadi pewarna hitam. Diberi sedikit tetesan air sehingga mengeluarkan warna hitam.

Rok dari kain kulit kayu untuk perempuan (Koleksi Bang Rim)
Foto: Dok. Pribadi
Nah, dengan alasan  motif-motif yang dibentuk atau dibuat oleh Pak Tony adalah motif-motif kuno, oleh karenanya, motif tersebut tidak boleh dimodifikasi atau dibuat dalam bentuk lain. Beliau menganggap bahwa motif kuno tersebut sebagai sebuah tradisi masa lalu. Hal itu tak boleh diubah-ubah karena berkaitan dengan adat.

Baju untuk perempuan dari kain kulit kayu (Koleksi Bang Rim)
Foto: Dok. Pribadi
Ada salah satu baju yang dipakai  untuk perempuan dengan motif kerbau. Maksud dari motif tersebut adalah baju itu dipakai pada saat ada kelahiran, perkawinan, dan kematian dengan melakukan upacara kerbau dengan menggunakan baju tersebut. Mas kawin (mahar perempuan) pada saat pernikahan pun memakai kerbau. Penyambutan yang menggunakan ritual juga memakai kerbau. Begitu pula dengan pesta-pesta yang diadakan, harus menggunakan kerbau.

Baju untuk pria dengan motif yang sangat indah (Koleksi Bang Rim)
Foto: Dok. Pribadi
Jadi, di bagian bawah di atas pusar pada baju tersebut terdapat simbol tanduk kerbau. Tanduk kerbau merupakan adat Bada. Tanduk kerbau yang digambarkan di motif baju itu ada yang terdapat secara abstrak. Filsafat nenek moyang mereka diambil dari bulan dan bintang.

Siga atau penutup kepala untuk pria (Koleksi Bang Rim)
Foto: Dok. Pribadi
Filsafat bulan, jika menanam tanaman yang berbiji ditanam pada saat bulan purnama. Menurut Pak Tony, apabila ditanam pada saat bulan purnama, tumbuhan tersebut akan berbuah lebat. Jangan menanam pada saat bintang berkelip. Apabila menanam saat bintang berkelip maka serangan hamalah yang akan diperoleh.

Kain kulit kayu  berumur sekitar 100 tahun (Koleksi Bang Rim)
Foto: Dok. Pribadi
Nilai ekonomi kain kulit kayu tak semata pada pakaian yang digunakan ketika upacara adat berlangsung, akan tetapi menjadi satu hasil karya yang sangat inspiratif dapat digunakan oleh orang banyak.

Celana dari kain kulit kayu untuk pria (Koleksi Bang Rim)
Foto: Dok. Pribadi

Selempang untuk baju pria dari kain kulit kayu (Koleksi Bang Rim)
Foto: Dok. Pribadi
Kain kulit Kayu menjadi sebuah peradaban khas manusia karena memiliki fungsi yang sangat banyak. Pertama untuk fungsi yang sangat praktis, dapat digunakan untuk selimut maupun baju (untuk kebutuhan sehari-hari). 

Lukisan di atas kain kulit kayu
Foto: Dok. Pribadi
Kedua, kain kulit kayu juga berfungsi sebagai status sosial. Di suku-suku tertentu pada masyarakat seperti ketua adat, memiliki baju kebesaran yang terbuat dari kain kulit kayu. Artinya, hanya pemimpin atau orang-orang tertentu yang boleh mengenakan kain tersebut atau sebagai simbol dari strata sosial seseorang.

Fungsi sakral, hanya dipakai pada saat ada upacara-upacara adat tertentu dan orang-orang tertentu pula yang menggunakannya. Hanya orang-orang yang terlibat dalam pelaksanaan upacara adat itu saja yang dapat mengenakannya.

Untuk orang-orang yang memiliki ide-ide kreatif, kain kulit kayu mereka sulap menjadi barang-barang unik, seperti dompet, tas, juga sepatu casual lainnya. Di Sidoarjo Jawa Timur, kain kulit kayu diolah menjadi beberapa barang yang sangat unik dan menarik, seperti tas juga sepatu. Pengusaha lokal memperoleh kain kulit tersebut dari Bengkulu. Permasalahan pada kain kulit kayu adalah bagaimana mengantisipasi jamur atau serangga? Juga bahan yang mudah sobek.

Sebagaimana diketahui, Lembah Bada merupakan lembah yang berjarak relatif jauh dari ibukota Provinsi Sulawesi Tengah. Oleh karenanya, untuk membuka pasar atau memasarkan produk hasil olahan Lembah Bada menjadi terkendala. Sudah dipastikan, apabila di Sulawesi Tengah ini anak-anak mudanya tidak tertarik untuk mengolah atau mempertahankan tradisi kain kulit kayu, suatu saat nanti warisan budaya nenek moyang yang sudah dirintis secara panjang dan lama akan menghilang begitu saja.

Pak Antony sungguh beruntung, beliau menurunkan apa yang ada dalam dirinya kepada anak lelakinya yang bernama Sigit untuk terus mempertahankan dan mengembangkan usaha sang ayah dalam mempertahankan tradisi pembuatan kain kulit kayu di Sulawesi Tengah, khususnya lembah Bada.

Tak dapat dipungkiri, masyarakat kini tak tertarik dengan kain kulit kayu, mengapa? Karena negeri ini sudah dipenuhi dengan tumpukan kain-kain modern yang lebih menarik, baik dari sisi warna, motif, maupun ketahanannya. Upaya untuk mempertahankan ini tak semata-mata hanya dari penduduk lokal, tetapi bagaimana peran pemerintah untuk turut serta mempertahankannya agar tetap ada aktivitas pembuatan kain kulit kayu bahkan bisa terus berkembang.


Daluang yang ada di Jawa
Foto: Dok. Pribadi
Beberapa nama diberikan untuk kain kulit kayu. Di Lembah Bada, sangat dikenal dengan sebutan Fuya. Di Bali diberi nama Ulantaga atau walantaga. Ulantaga biasanya dipakai untuk acara ngaben atau rajah. Sementara itu, di Jawa dikenal dengan sebutan Daluang, Dluwang, Duluwang, atau Druwang. Bahasa Jawa Kuno menyebutkan duluwang memiliki arti kulit kayu, kopiah, pakaian rahib atau pertapa. Daluwang juga sama dengan dalancang.


Salah satu contoh  Wayang Beber, warisan tak benda yang sangat perlu dilestarikan
Foto: Dok. Pribadi
Di Jawa, daluwang banyak dimanfaatkan untuk penulisan manuskrip pada masa kerajaan zaman dulu dan juga wayang yang dikenal dengan wayang beber. Ketika beberapa waktu lalu, saya mengunjungi beberapa tempat yang dianggap menyimpan benda peninggalan sangat bersejarah ini, sebut saja Keraton Surakarta, Museum Radya Pustaka, dan Perpustakaan Puro Pakualaman.
 
Manuskrip asli dari Daluang
Foto: Dok. Pribadi
Manuskrip yang ditemukan di Radya Pustaka termasuk manuskrip terbagus yang masih utuh. Kertas daluang yang dipergunakan hingga kini tetap terpelihara. Beberapa ornamen yang ditorehkan di dalamnya pun cukup indah. Jadi, pada masanya, raja dan ratu kerajaan menuliskan cerita yang di atas kertas tersebut. Penampakan daluang memang sangat berbeda dari kertas kebanyakan. Dari proses pembuatannya pun berbeda pula.

Manuskrip dari Daluang
Foto: Dok. Pribadi
Kalau kertas biasa, kebanyakan dibuat dengan proses pembuburan (pulping) dan lembaran (forming). Umumnya, kertas biasa menggunakan senyawa kimia, sehingga hasil sisa bahan kimia masih tertinggal secara langsung. Hal itu yang membuat kertas biasa tidak dapat bertahan lama ketika terjadi reaksi kimia semacam oksidasi atau hidrolisi.

Sementara itu, daluang dibuat dengan cara menguliti kulit pohon Saeh, dicuci, lantas dikeringkan. Begitu kering, kulit direndam selama 24 jam. Selanjutnya dilakukan proses tempa (kempa). Proses kempa ini kulit saeh dipukul secara merata hingga didapatkan lebar kertas daluang yang diinginkan. Di Sulawesi, biasanya dilakukan perebusan kulit kayu, setelah itu dibungkus menggunakan daun pisang selam 7 hari hingga menghasilkan lendir.

Kemudian kulit  pohon saeh dipukul-pukul dengan beberapa macam alat hingga menghasilkan bentuk, ketebalan, serta lebar yang diinginkan. Di Jawa Barat, daluang dijemur di batang pisang. Batang pisang memiliki tekstur licin sehingga daluang yang dihasilkan lebih halus. Untuk selanjutnya daluang yang kering digosok dengan kerang untuk menghasilkan tekstur yang halus di permukaannya. Memang, dari pembuatannya, daluang punya kelebihan  dari kertas biasa. Daluang dibuat secara tradisional. Oleh karenanya, dapat bertahan lama hingga ratusan tahun dan tanpa bahan kimia buatan.

Jangan heran, bahwa daluang ditemukan pada naskah kuno Kakawin Ramayana di abad ke-9. Diceritakan bahwa daluang sebagai pakaian pandita. Di abad ke-18, daluang dipakai tidak saja untuk pakaian, tapi juga kertas suci, ketu-siga (penutup kepala). Sebelum Islam datang, daluang dipakai untuk bahan wayang beber (Mungkin nanti saya akan bercerita tentang Tradisi Wayang Beber ini). Wayang beber sebagai wayang tertua yang lebih dulu hadir dengan memanfaatkan lembaran atau gulungan daluang untuk mencatat kisah atau cerita pewayangan dalam bentuk bahasa gambar.

Nah, kalau daluang untuk tulis menulis di Indonesia, dimulai dari pesantren hingga dimanfaatkan untuk kebutuhan administrasi zaman belanda menjelang kemerdekaan RI. Mengenai tradisi menulis di Indonesia menggunakan daluang, kira-kira ada sekitar abad ke-14. Seperti terlihat di naskah UU Tanjung Tanah di Gunung Kerinci yang diteliti Dr. Uli Kozok, Hawaiian University sekitar 2003. Sementara, untuk naskah Sunda dapat dicari dari naskah Sunda Kuno dari abad ke-18 koleksi perpusnas. Next saya sambung lagi yaa... 

Banyak banget yang akan saya tuliskan next dan informasi penting lainnya untuk hal ini. Sayang jika dilewatkan begitu saja. Tunggu yaa cerita selanjutnya.

#ODOP12



Wednesday, May 3, 2017

Semua dalam Kenangan

Biru, biru, nuansa biru di hamparan lepas berpadu dalam guratan hijau. Menyisakan semburat cokelat dengan tetumbuhan bernama makro alga (seaweed) dan sejenisnya. Beragam biota bersemayam di ujung-ujung kanopi bunga dan terumbu karang. Warna biru dalam riakan gelombang memberi nuansa keteduhan.

Kritikus sastra pada masanya. Dari beliau saya banyak belajar
Foto: Dok. https://staff.blog.ui.ac.id
Tatkala kapal berlabuh di Muara Karang, segenap pasukan Biologi berderap menuju Kelotok. Kelotok yang biasanya dikomandoi Pak Tamam, masih mengiang di telinga, klotok… klotok..., saat mesin berbunyi dan dinamo memutar haluan. Beberapa buah kelotok memang sudah dipersiapkan untuk membawa pasukan menuju salah satu pulau di gugusan Kepulauan Seribu, Pulau Pari. Pulau yang menjadi sandaran utama pasukan untuk ‘menggosongkan kulit’, beriak-riak dalam deburan air asin yang maha luas a.k.a laut.

Laut sudah jadi bagian hidupnya sebagai salah serorang Dosen Taksonomi Avertebrata
Foto: Dok. SI
Dengan seperangkat peralatan laut yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Suara setengah berteriak itu masih mendengung hingga sekarang. “Persiapkan semuanya, kantong plastik, tali transek yang sudah diberi jarak 10 meter bertanda kain dengan tulisan spidol tahan air, rafia, bak pelampung, kuadran, mika, pensil, benang nilon, dan sebagainya. Jangan sampai ada yang tertinggal”, membahana suara BSO (Boen Sri Oemarjati) saat-saat masih berada di ruang laboratorium Biologi lantai tiga untuk satu tujuan… menuju laut!

Kacamata, Topi, dan Jaket lengan panjang itu jadi ciri khas beliau
Foto: Dok. SI
Bersama beberapa teman, perjalanan pagi menjelang siang itu dimulai dari salah satu stasiun kereta, Pondok Cina. Berkumpullah beberapa anggota “pasukan” menuju Stasiun Kota. Dari Stasiun Kota, ngoprek-ngoprek Mikrolet M atau Metromini berapa gitu… (M berapa, Metromini berapa, lupa bener!). Intinya, Mikrolet dan Metromini melabuhkan pasukan di Muara Karang.

Aroma ‘segar laut’ tercium sudah. Kapal-kapal yang melempar sauh terlihat dari kejauhan. Bersandar beragam jenis kapal dengan tiang-tiang layar beragam warna dan bendera. Beragam tulisan terpampang di dinding Kelotok dengan warni-warni pelangi. Hmm… penuh corak!

Saat praktikum lapangan di salah satu pulau di gugusan Pulau Seribu
Foto: Dok. SI
Mungkin benar juga, ketika kapal-kapal mulai mengarungi segara, warna-warna itu menyemburatkan tanda kehidupan di tengah laut yang jauh dari kehidupan daratan. Tanda-tanda yang memberikan nuansa indah dalam balutan gelombang dan berkendara buih-buih lautan.

Ombak-ombak yang menyembul tenggelam di tengah laut itu seolah-olah ingin bercakap-cakap dengan pasukan. Menyambut kedatangan pasukan penuh suka cita. “Mari kita bersenda gurau. Mari kita bercengkerama dengan lumba-lumba yang menguik-nguik di tengah segara, mengikuti lajunya Kelotok”.

Saya terkesima menatap keagunganNya. Selama ini, menatap laut hanya dari layar kaca, kini jejakkan kaki ini menyentuh sendiri. Karena BSO yang mengantarkan kaki ini menuju segara! BSO menyeringai tatkala gelombang laut menaik. Baju pelampung telah dikenakan. Mabuk laut mungkin sudah jadi makanan. Mungkin baru pertama kali menghirup udara laut. Mual, muntah, itu biasa.

Saat beliau mendampingi mahasiswa/i praktik lapangan
Foto: Dok. SI
Tak lekang dalam ingatan, permen karet bermerek Xy****l itu terus berkelahi di antara gigi geligi di atas Kelotok. Hempasan gelombang yang sesekali menerpa tak beliau hiraukan. Tamparan bayu laut ke wajah yang terlihat renta sering sekali menghinggapinya. Tatkala bayu laut itu menyinggahi raut wajahnya, kibasan tangan menghela rambut-rambut bercampur warna putih dan hitam (baca: uban) dia sandarkan di antara telinga beranting khas.

Sepasang alat bantu baca (baca: kacamata) menjadi sahabat setia yang dilepas saat cipratan air laut menerpa dan berembun. Jika tidak menggunakan flannel, beliau sesekali menggosok-gosokkannya di antara ujung baju.

Kemungkinan besar dari kita tidak akan pernah tahu bahwa ada kisah panjang di balik laut. Kisah yang sudah bertutur ribuan tahun lamanya yang terselip di ujung horizon. Ketika Bumi masih dalam bentuk janin, laut berada dalam masa-masa perjuangan membentuk diri sendiri. Laut yang dinikmati dan digerayangi berisikan gumpalan lava-lava  panas dan saling berbenturan dengan bebatuan.

Ketika langit menyembul dalam warna jingga, kemudian memudar warna dalam hamparan cakrawala, tidakkah kita tahu bagaimana dengan warna laut? Ia juga menjingga, membias cahaya dengan cemerlang yang berkereta pada buih. Ketika langit mengelabu mendung menghampiri, bagaimana dengan warna laut? Ia pun enggan bercerita dan ceria, sedu sedan oleh abu-abu menyapa segara.

Laut itu sungguh setia pada warna yang berpendar. Laut yang selalu ada dalam warna horizon yang tercipta untuk saling mengerti. Saat kita mengarungi laut, di situ pula kita sedang mengarungi cakrawala. Keduanya takkan pernah dapat berpisah. Warna yang tersembul dari laut, sebagai pancaran warna langit.

Laut adalah tantangan. Di sana, pasukan itu dituntut untuk selalu waspada. Pasang mata, pasang telinga, siapkan kaki katak, masker, dan snorkel. Ia bercerita tentang kepuasan yang sangat tinggi ketika pasukan itu “mengawini”. Ia sebagai misteri yang harus benar-benar dicari, seperti mencari uang dalam butiran tepung atau seperti membuka lembar demi lembar buku yang tertutup debu.

Di laut inilah saya menjadi tahu makna kehidupan sebenarnya
Foto: Dok. https://cdn.pixabay.com
Laut… tidak hanya itu!
Saat pasukan semakin dalam hingga masuk ke dalam gobah juga palung samudera. Laut… barisan terumbu karang yang indah, bernaung dan berenang kehidupan ikan-ikan dengan beragam spesies di dalamnya yang sungguh menakjubkan. Bercerita tentang ombak yang selalu dinamis meliak-liukkan tubuhnya. Laut… bercerita tentang kehidupan dan kematian.

Laut itu lebih rumit dari rumus Statistika yang paling rumit sekalipun. Laut itu bukan jelmaan mikroba-mikroba yang senantiasa terus berbiak. Laut, sebagai bentuk jaringan yang terus menerus berkembang.

Sudah lebih dari 21 tahun, saya tak sanggup menjumpai definisi laut. Seperti apa yang diminta dan dimau sang guru, Boen Sri Oemardjati. Dia pun kini sudah tidak lagi terburu-buru memahami dan mengerti tentang laut sepertu dahulu kala. Tanpa banyak kata, BSO akan jabarkan laut itu seperti apa. Dahulu dia merasakan, laut itu begitu terasa dekat dengannya.

BSO mengenal laut seperti dia mengenal dirinya. Setiap jejak kakinya melangkah, setiap jengkal kedalamannya, setiap warna yang terurai dari pantulan langit, semua itu sebagai sebuah bentuk keindahan yang tak sanggup dia katakan.

Jika saya ditanya apa itu laut, mungkin saya hanya terdiam merenungi! Saya, tentunya akan memikirkan hal ini bisa lebih lama, lebih jauh, dan lebih dalam. Mungkin juga bisa menerawang ke mana-mana. Saya juga tak dapat menceritakan kepada beliau seberapa besar diri saya mencintai laut dan menyayangi apa yang ada di dalamnya.

Apalagi yang harus saya deskripsikan apabila dirinya (BSO) itu sebentuk laut itu sendiri. Tetapi, saya menemui di balik bundar dua bola matanya ada banyak senyum terkembang. Tatapan matanya begitu semangat untuk menceritakan tentang laut. Akan tetapi, kedua belah bibirnya tak sanggup untuk berkata, seperti apa laut yang dia tahu dan kenal sepanjang hidupnya. Dia melihat dan berkata, “Sekarang kamu sudah memahami tentang laut”.


Kekayaan alam yang tak ternilai harganya itu menjadi bentuk keindahan dan sumber keragaman hayati, mutiara alam yang sangat menakjubkan. BSO begitu memesona dan melekat dengan kehidupan lautnya. Terima kasih ibu yang telah memberitahukan saya banyak hal. Ibu yang telah menjadi bagian dalam kehidupan kuliah saya. Selamat jalan Ibu, dirimu tetap dalam ingatan. 

#ODOP11

Tuesday, May 2, 2017

How to Build Self Development

Pengembangan diri meliputi kegiatan yang meningkatkan kesadaran dan identitas, mengembangkan bakat dan potensi, membangun modal manusia dan memfasilitasi kelayakan kerja, meningkatkan kualitas hidup dan berkontribusi terhadap realisasi mimpi dan aspirasi.

Musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri
Bagaimana kita mampu membangun pengembangan diri?
Foto: Dok. https://media.licdn.com/
Pengembangan diri berlangsung sepanjang hidup seseorang. Tidak terbatas pada swadaya, konsep tersebut melibatkan kegiatan formal dan informal untuk mengembangkan orang lain dalam peran seperti guru, pemandu, konselor, manajer, pelatih kehidupan, atau mentor. Ketika pengembangan diri terjadi dalam konteks institusi, ini mengacu pada metode, program, alat, teknik, dan sistem penilaian yang mendukung pembangunan manusia pada tingkat individu dalam organisasi.

Pengembangan diri juga bisa mencakup pengembangan orang lain. Hal ini mungkin terjadi melalui peran seperti guru atau mentor, baik melalui kompetensi diri (seperti keterampilan manajer tertentu dalam mengembangkan potensi karyawan) atau melalui layanan profesional (seperti memberikan pelatihan, penilaian atau pembinaan).

Selain memperbaiki diri dan mengembangkan orang lain, "pengembangan diri" memberi label pada bidang praktik dan penelitian. Sebagai bidang praktik, mencakup metode pengembangan diri, program pembelajaran, sistem penilaian, peralatan, dan teknik.
Sebagai bidang penelitian, topik pengembangan diri muncul di jurnal psikologi, penelitian pendidikan, jurnal manajemen serta buku, dan ekonomi pembangunan manusia.

Segala bentuk pembangunan - baik ekonomi, politik, biologi, organisasi atau diri - memerlukan kerangka kerja jika seseorang ingin mengetahui apakah suatu perubahan telah terjadi. Dalam kasus pengembangan diri, seseorang sering berfungsi sebagai hakim utama perbaikan atau regresi, namun validasi perbaikan objektif memerlukan penilaian dengan menggunakan kriteria standar.

Kerangka pengembangan diri dapat mencakup tujuan atau tolok ukur yang menentukan titik akhir, strategi atau rencana untuk mencapai tujuan, pengukuran, dan penilaian kemajuan, tingkat atau tahapan yang menentukan tonggak sepanjang jalan pengembangan, dan sistem umpan balik untuk memberikan informasi tentang perubahan.

Blogging menjadi salah satu bentuk pengembangan diri untuk saya secara personal. Seiring majunya teknologi dan akses internet, blogging menjadi semacam indikator seseorang eksis tanpa narsis. Blog menjadi sarana seseorang menorehkan pikiran, mengeluarkan segala macam bentuk perasaan, menumpahkan gejala-gejala sosial yang diperoleh selama perjalanan panjang.

Bagaimana blog mampu mempengaruhi pikiran seseorang yang membacanya. Menuntaskan dahaga “liar” dalam deretan panjang kalimat-kalimat bermakna yang akan terus digulirkan hingga mencapai titik kulminasi. Melatih bagaimana menjadi kreatif melalui tulisan dan menciptakan peluang baru dalam dunia media sosial. Pada akhirnya, akan bermuara pada sarana untuk mengembangkan bisnis dan networking.

Masuk dunia blogging baru sekitar 2012. Tak banyak yang saya ketahui, hanya sekadar menulis dan menumpahkan apa yang terjadi pada diri, lingkungan sekitar, dan fenomena sosial. Semua saya rangkai dalam satu frame bernama Blog. Tulisan-tulisan saya yang ada di Blog (blog personal), terkadang tak lebih dari hasil menghadiri event atau undangan acara tertentu.

Sejujurnya, blog saya tak saya fungsikan untuk mencari sesuap nasi atau segenggam berlian. Saya membiarkan dengan tetap dirawat dan dijaga. Tetap menyirami dan memupuk agar beroleh subur. Tak pernah terbersit untuk menjadikan blog saya sebagai pundi-pundi penghasilan. Semua saya lakukan dengan senang hati, tanpa paksaan, dan kenyamanan.

Akan tetapi, perkembangan dan kemajuan teknologi tak dapat dihindari. Mau tidak mau,  saya harus mengikuti dengan ketat. Mau dibawa ke mana sebenarnya blog yang dipunyai. Sudah saatnya, me-maintain blog secara lebih akurat, terstruktur, dan sesuai passion (yang paling diminati).

Perlu proses ketika saya memulai untuk serius menekuni dunia blogging. Namun, masih banyak hal-hal yang harus saya pelajari dan gali serta kembangkan. Itu semua agar blog yang saya punya ada ciri khas. Saya tak mau punya blog yang sudah banyak beredar dan sudah umum seperti orang kebanyakan.

Memang, sebenarnya punya berapa blog tak dilarang. Tetapi, konsistensi mengisi dan mengembangkannya perlu disiasati. Percuma banyak blog, tetapi blognya tak memiliki spesifikasi, semua dihajar masuk atau dicemplungin. Untuk saya, punya dua blog saja sudah sulit mengurusnya, apalagi punya hingga 5 atau 10 blog (??). Kecuali kalau memang blog-blog itu akan saya fungsikan untuk beroleh penghasilan. Satu atau dua blog, tetapi mampu saya olah secara konsisten, itu jauh lebih baik ketimbang saya punya sepuluh blog tetapi semua isi hanya etalase dan “jualan”.

Ada banyak hal yang perlu saya benahi dalam di dua blog yang saya miliki itu. Terutama dari dalam diri saya terlebih dahulu. Bagaimana saya bisa konsisten menulis dan mengisi blog sesuai dengan tema dan passion yang saya punya. Adakalanya, sebulan hanya terisi satu, bahkan tak pernah ditulisi. Saya mencoba bagaimana menerapkan konsistensi ngeblog.

Memilih konten-konten kreatif yang dapat membangun citra blog secara pribadi sangatlah penting. Tak perlu materi yang berat-berat, mencoba dari yang ringan dan ukur kemampuan. Selanjutnya, coba disiplin dengan waktu posting. Saya masih harus terus belajar, bagaimana menjaga waktu posting. Bila memungkinkan, buat draft di manapun berada. Bisa dengan apa saja, apalagi zaman sudah semakin maju. Ngedraft di ponsel jadi salah satu cara sebelum dipindah ke blog.

Oleh karena itu, kalau indera penglihatan kita terbuka, maka akan tahu apa saja yang ada di sekeliling, sehingga kita tahu ada yang men-support, ada yang menjadikan diri ini malu kalau tak memenuhi atau melewatkan sesuatu jika tak sesuai rencana. Ada yang membuat saya terpacu untuk melakukan lebih baik lagi.
   
Hal-hal demikian menjadi sumber acuan saya. Kalau ingin berhasil mencapai apa yang diinginkan, maka kita harus membuat segala sesuatunya menjadi jelas. Dengan kata lain, kalau teman-teman punya tujuan, tujuan itu harus jelas sehingga teman-teman tahu ke arah mana untuk mencapai tujuan itu. Apa saja yang harus teman-teman perbuat, dan siap menghadapi tantangan maupun rintangan yang menghadang.

Untuk saya pribadi, tujuan saya membuat blog dan melakukan blogging harus jelas. Hal itu menjadi salah satu elemen dalam membentuk VAG (Very Attractive Goals) dengan kata lain, tujuan yang paling penting dalam pengembangan diri. Beberapa elemen VAG ini dapat memacu saya, antara lain ada kejelasan tujuan ngeblog, benar-benar penting (significant); sesuai dengan sikon (relevansi); berdasarkan passion, menarik minat, dan atusias baik dari dalam diri maupun untuk orang-orang yang mengamati.

Saya tak perlu muluk-muluk wish list pengembangan diri dalam blogging. Apa yang bisa saya lakukan akan saya lakukan sesuai dengan passion saya. Dunia kulinari sudah jadi setengah dari nyawa saya, otomatis saya akan terus meningkatkan skill, knowledge, dan memperdalam hospitality sembari ngeblog. Kuliner itu tak akan pernah mati karena jadi kebutuhan hakiki. Time management posting mesti terus saya perbaiki agar posting tak lewat waktu. Beberapa yang harus saya catat untuk pengembangan diri dalam blogging:

1.    Belajar bahasa asing lainnya
2.    Rangkul perubahan dan gejalanya
3.    Lirik klout score
4.    Berikan presentasi yang baik
5.    Promosi diri secara baik dan benar sesuai passion
6.    Berdebat secara konstruktif
7.    Manajemen waktu
8.    Kejelasan bicara
9.    Berpakaian secara pantas
10. Makan makanan sehat
11. Olahraga secara benar
12. Pelajari salah satu instrument musik
13. Komunikasi lisan dan tertulis
14. Temukan kesenangan yang paling disenangi
15. Pelajari  kesalahan
16. Berpikir positif
17. Berhenti dari kebiasaan buruk
18. Meningkatkan kesadaran  diri
19. Banyak mendengarkan

Steve Job
Foto: Dok. Google Image
Semoga!
#ODOP10



Monday, May 1, 2017

Kapan Lagi Bertemu Mereka?

Bentuk ikatan interpersonal yang lebih kuat dari satu asosiasi. Banyak ilmu yang membahas tentang hal yang satu ini, mulai dari komunikasi, sosiologi, psikologi sosial, antropologi, maupun filsafat. Berbagai teori pertemanan sudah banyak dikemukakan, termasuk pula teori pertukaran  sosial, ekuitas, dialektika relasional, dan  gaya keterikatan.


Cerita teman itu tak akan pernah habis
Foto: Dok. http://souvenirsmadison.com
Nah, ada studi mengenai database “Kebahagiaan Dunia” yang menemukan bahwa orang-orang dengan pertemanan yang lebih dekat justru lebih bahagia. Memang, ada banyak bentuk pertemanan atau persahabatan, beberapa di antaranya mungkin berbeda dari satu tempat ke tempat lain, karakteristik pun hadir di banyak jenis ikatan pertemanan.

Seperti apa saja karakteristik itu? Contohnya seperti kasih sayang, simpati, empati, kejujuran, altruisme, saling pengertian. Menikmati kebersamaan dalam satu pekerjaan masing-masing, dan kemampuan menjadi diri sendiri, mengungkapkan perasaan kepada seseorang yang memang dipercaya, dan membuat kesalahan tanpa rasa takut terhadap penilaian  dari teman.  

Memang, tidak ada batasan praktis mengenai jenis orang yang dapat membentuk persahabatan atau pertemanan. Teman cenderung berbagi latar belakang, pekerjaan, atau minat yang sama dan memiliki demografi hampir sama atau serupa.

Dalam urutan perkembangan emosional seseorang, persahabatan terbentuk setelah ikatan orang tua dan sebelum ikatan pasangan. Di periode intervensi antara akhir masa kanak-kanak dan awal dewasa menuju penuh, teman seringkali menjadi satu hubungan yang penting dalam kehidupan emosional remaja, dan seringkali lebih hebat dari hubungan di kemudian hari. Tidak ada teman dalam hidup akan dapat merusak seseorang secara emosional.

Dari sisi pendekatan psikologi evolusioner terhadap perkembangan manusia, Dumbler telah menghasilkan sejumlah teori, teori tersebut diajukan oleh antropolog Inggris, Robin Dunbar. Dia berteori bahwa ada batas sekitar 150 orang dengan siapa manusia dapat menjaga hubungan sosial yang stabil.

Di dalam Ensiklopedia Diderot, ada konsep khusus awal tentang persabatan yang baik pada abad ke-18. Di dalam tulisannya itu berisi mengenai: Persahabatan tidak lain sebagai praktik menjaga perdagangan  yang layak dan menyenangkan dengan seseorang, apakah persahabatan atau pertemanan tidak lebih dari itu?

Pertemanan, disebutkan tidak terbatas pada istilah saja, melainkan  melewati batas yang sempit. Orang-orang yang membuat pengamatan tidak menganggap bahwa dua orang yang tidak berteman, atau tanpa teman, menjaga hubungan yang tidak ada dan tidak salah, justru hal itu akan memberi mereka kesenangan timbal balik.

Perdagangan yang mungkin dengan seorang pria atau wanita melibatkan pikiran atau hati. Nah, perdagangan itulah yang disebut kenalan, perdagangan  tempat hati mengambil minat karena kesenangan yang diperoleh dari pertemanan. Saya pribadi tidak melihat gagasan yang lebih akurat dan sangat sesuai untuk menjelaskan semua persahabatan itu dengan sendirinya dan termasuk propertinya.

Hingga sekarang, masih erat melekat dalam benak, sesiapa teman-teman saya saat masih bersama-sama dahulu. Mulai dari Sekolah Dasar hingga sama-sama menempuh pendidikan tinggi.

Ada Muhammad Saudi teman satu kelas dan satu bangku. Saat kelas enam SD, badannya  lumayan besar dan rambutnya berwarna kemerah-merahan. Anaknya jarang banget marah. Seringnya mancing ikan sepat di selokan. Terkadang, dia menghampiri main ke rumah saya. Kami jalan bersama-sama ke sungai, berenang, dan mancing ikan. Kalau ada anak-anak lain yang coba mengganggu saya, dia maju paling depan belain.

Sekolah Menengah Pertama mengingatkan saya pada teman-teman yang mulai ABG (kata bahasa anak-anak sekarang). Pola tingkah yang buat guru senang, marah, juga nahan emosi. Teman satu bangku saya ini selalu ceria, namanya Faturrahman. Saya kasih gelar ke Fatur--biasa saya panggil—Kirbi (Keriting biri-biri), hahaha… Soalnya, rambutnya mirip banget dengan bulu domba biri-biri. Ikal-ikal dan sulit disisir. Mungkin kalau lalat hinggap atau masuk ke rambutnya udah ga bisa keluar lagi, alias mati saking rapat dan kerasnya itu rambut.

Kami bersaing dalam beberapa mata pelajaran, terutama bahasa Inggris. Saya tidak pernah ikut kursu bahasa Inggris secara formal, tetapi dia ikut. Tetapi, meski begitu, kami saling berbagi pelajaran dan memberi tahu untuk yang tidak tahu. Fatur juga suka bantuin teman-teman yang kesulitan dalam pelajaran bahasa Inggris.

Masa-masa paling indah masa-masa di SMA, kata lagu Obbie Mesakh. Ya, kenapa coba? Di SMA, pernah satu kelas dihukum jemur bareng-bareng gegara loncat pagar. Maksudnya mau merayakan ulang tahun teman, itu pas guru yang ngajar di jam itu tidak ada. Inisiatif dari salah satu teman yang semuanya ikut saja.

Di SMA  satu teman sebangku saya, namanya Ahmad Fadli. Badannya kerempeng, wajahnya agak lonjong, dan perawakannya agak pendek, rambutnya juga keriting biri-biri. Saya dan dia, kalau sudah dapat soal Fisika, orang yang duluan selesai ngerjain. Kami, meski satu bangku persaingan belajar tetap jalan, tetapi bersaing sehat tentunya. Fadli agak  pendiam dan kalau sudah baca buku, tekunnya minta ampun. Diganggu orang pun dia cuekin, terus aja baca.

Menginjak masuk kuliah, nah, di sini kan duduknya sendiri-sendiri. Saya punya beberapa teman dekat yang baik dan selalu support. Apalagi saat krisis dompet datang melanda. Ditambah pula, fotokopian bahan saat duit ngepas di badan. Hahaha… bukan cowok matre lho ya…

Ya, Herfrika salah satunya. Saya biasa panggil Lika. Anaknya imut dan cantik mirip Yuni Shara. Baik banget sama saya. Kalau saya lagi bokek untuk fotokopi, dia dengan senang hati memberi dan ga pernah minta kembali. Kini, dia menikah dengan orang Yordania dan tinggal di sana. Sudah jarang-jarang pulang ke Indonesia.

Ada juga Puji Budi Setia Asih. Punya rambut pirang-pirang gimana gitu, pakai kaca mata yang relatif tebal. Kami sering bertukar catatan kuliah untuk saling melengkapi atau mengoreksi kalau-kalau ada yang terlewat. Anaknya cukup cerdas, selepas kuliah, dia sambung ke Belanda untuk ambil S2 dan ke Amerika untuk S3. Tuntas dalam waktu yang terbilang cepat. Kini, Puji menjadi salah satu peneliti Genetika di Lembaga Eijkman RSCM.
Mungkin satu saat nanti, saya dan mereka-mereka dapat dipertemukan kembali dengan wajah-wajah yang sudah berubah, rambut mulai dua warna, tenaga tak lagi sekuat dulu muda. Masing-masing menenteng “buntut” yang entah berapa jumlahnya. Semoga.


#ODOP9

Sunday, April 30, 2017

My Wish List Basket For a Year


Dulu, pernah ga ditanya-tanya sama orang sekitar atau guru sekolah, “Cita-cita kamu mau jadi apa?” Ada yang jawab jadi pilot, dokter, insinyur, teknisi, polisi, dan banyak lagi ya. Nah, begitu juga saya. Saat kecil, saya ditanya sama guru, cita-citanya mau jadi apa. Kala itu spontan saya jawab, mau jadi ahli pertanian. Hihihihi… tapi semuanya berubah seiring jalannya roda zaman.

Apa yang menjadi harapan di 2017 ini?
Foto: Dok. http://media.istockphoto.com/
Di SMP pun begitu, saya ditanya mau jadi apa. Saya jawab ahli bahasa. Dan, di SMA juga terjadi hal yang sama, pertanyaan yang sama, nanya cita-cita saya mau jadi apa. Saya jawab, jadi dokter. Dududuuuuu… Dokternya ga kesampaian, jadinya ahli Biologi sajalah.

Ada banyak daftar harapan yang satu per satu terwujud ada juga yang masih nyangkut. Di saat teman-teman saya masih kuliah, saya sudah bekerja dan menikmati gaji jadi orang gajian. Habis itu, saya juga ingin segera menikah, tapi siapa yang mau dinikahi? Wong saat bekerja, pergi pagi pulang petang, bagaimana mau ketemu pasangan?

Tetapi, Alhamdulillah, Allah SWT mungkin mempertemukan saya dengan gadis yang saya idam-idamkan setelah sekian tahun jojoba (jomblo-jomblo bahagia). Perjuangan juga dapetinnya. Mungkin karena niatnya baik dan benar, jadi dipermudah saja jalannya oleh Allah SWT. Akhirnya menikah.

Menikah ingin segera ada yang bisa ditimang-timang dan dibecandain, Alhamdulillah istri hanya kosong tiga bulan. Lahirlah anak pertama saya, lelaki masa depan keluarga. Tak dinyana, tiga tahun setelahnya lahir pula adiknya si abang, bayi perempuan mungil yang cantik dan gemesin. Lengkaplah sudah keluarga kecil saya.

Hari, bulan, tahun,terus berganti. Begitu pula roda kehidupan yang saya dan keluarga kecil jalani. Putaran roda-roda kehidupan terus berjalan. Terkadang di bawah, tetiba berada pada puncaknya. Tapi tak menyurutkan langkah untuk tetap terus maju menghadapi kehidupan yang lebih baik.

Dari tahun ke tahun, harapan-harapan baru muncul, meski harapan sebelumnya ada yang terwujud ada pula yang belum. Kalau belum terwujud, mungkin memang saatnya belum tepat. Percaya dan yakinlah, rezeki dari Allah SWT dengan berusaha sekuat tenaga berdasar cara-cara yang halal. Insya Allah, semua jadi berkah.

Sementara, harapan yang telah terwujud wajib disyukuri. Bisa jadi, dari harapan yang diwujudkan tadi, ada sebentuk ujian Allah. Ya, kita tidak tahu ujian dari Allah itu banyak  macam dan caranya, asal kita peka.

Tuliskan apa yang jadi keinginan
Foto: Dok. http://media.istockphoto.com/
Harapan-harapan yang sudah masuk ke dalam daftar panjang selama satu tahun ke depan untuk saya tidak muluk-muluk. Saya berpikir, apa yang saya harapkan, itu yang akan saya kerjakan. Bolehlah menggantungkan harapan setinggi langit, tapi perlu mengukur kemampuan diri. Sudah sampai atau belum, atau malah justru akan menyakitkan.

Untuk satu tahun ini (2017), ada keinginan untuk menyelesaikan paper-paper hasil riset beberapa waktu lalu yang belum sempat dibukukan. Berharap, ada satu dua buku lagi  yang bisa terbit dari hasil kunjungan dan riset tersebut.

Keinginan dari lubuk hati yang paling dalam untuk menyinggahi baitullah dalam keadaan sehat wal afiat tanpa kurang satu apapun bersama keluarga tercinta. Memberikan wisata rohani untuk keluarga tercinta. Mengenal lebih jauh para bapak anbiya yang telah memberikan setetes ilmu kehidupan dan masih tetap dipertahankan untuk dipelajari.

Meningkatkan dan memperbaiki amal dan ibadah, menuju hal-hal baik dan benar. Mengupayakan untuk salat tak pernah ditinggalkan bukan sekadar menggugurkan kewajiban dan tepat waktu. Lebih banyak mengingat kematian dibanding mengingat harta-harta yang terkumpul tetapi tak diperjuangakan untuk jalan Allah SWT.

Kebahagiaan keluarga yang diberikan kepala rumah tangga untuk anak-anak dan istri tercinta. Mendidik dengan pola asuh islami model ajaran Rasulullah sebagai teladan umat. Tak pelak memang, apapun yang dicita-citakan tetapi hanya diucapkan, percuma! Aksikan dengan gerakan bukan sekadar canangan di kertas tak bersuara.

Sebagai pengejawantahan dari hal-hal yang sudah saya perbuat, berusaha mencapai kehidupan yang lebih baik itu wajar. Akan tetapi, memberikan untuk kemaslahatan dan kebaikan umat itu jauh lebih baik. Wish list yang tak panjang lebar tetapi berharap akan ada jalan terbuka lebar, amin.

#ODOP8