Thursday, August 9, 2018

Tebar Hewan #KurbanDikitaAja Dompet Dhuafa Bersama Kurbanesia, Menjawab Panggilan & Tantangan Zaman




Tak terasam 12 hari lagi Idul Adha akan kita jelang. Kalau teman-teman berjalan atau berkendara di sekitar jalan atau tempat yang di kiri kanan ada lahan kosong, seperti contoh jalan dari arah Tanjung Barat menuju Lenteng Agung, banyak terdapat kandang sapi dan kambing. Di tempat-tempat seperti itu transaksi hewan kurban terjadi. Peternak sekaligus pedagang hewan menjajakan hewan untuk kurban. Pemandangan ini sudah jamak kita lihat memang saat-saat jelang Idul Adha tiba.  


Saya mau berbagi sedikit cerita tentang Idul Adha di beberapa tempat yang sempat saya tinggali. Sekitar beberapa tahun lalu, saya sempat tinggal di salah satu desa di Jawa Tengah. Ada hal yang mengganjal hati dan penglihatan saya tentang tata cara mereka berkurban. Saya melihat ada hal yang tidak tepat sasaran ketika mereka menyembelih dan membagi-bagikan  daging kurban tersebut. Mengapa?
 
Kambing peternak mitra Dompet Dhuafa di Desa Cirangkong, Subang [Foto: Dok Pri]
Daging kurban diberikan hampir di semua rumah tempat saya tinggal tanpa melihat mereka kaya atau miskin, muslim atau nonmuslim. Sementara, untuk yang menyembelih dan dibagi-bagikan ke masjid tempat biasa saya salat berjamaah, hanya sebagiannya saja.

Kalau saya membaca dan bertanya pada ahlinya, semestinya tidak seperti itu.  Daging hewan kurban dibagi untuk orang yang melakukan kurban hanya beberapa kilogram saja, diberikan kepada orang fakir miskin di sekitar tempat tinggal yang melakukan kurban. Jadi, penyebarannya pun merata tidak dimonopoli orang per orang saja.

Pernah juga saya melihat terjadi penumpukan tinggi daging kurban yang seharusnya sudah dapat didistribusikan di hari yang sama, namun malah menunggu. Alhasil, daging mulai membiru dan tercium bau tidak sedap. So, ada terbersit dalam hati dan pikiran saya, bagaimana sebenarnya panitia atau orang-orang yang melakukan kurban tersebut? Apakah mereka paham atau hanya sekadar “ikut-ikutan” saja?

Di sinilah saya sedikit miris dan kecewa, karena seharusnya daging-daging itu dapat tersebar merata, justru nanti akan terbuang sia-sia. Sementara, banyak di luar sana yang mungkin jarang atau tidak pernah makan daging  dalam satu tahun satu kali, dan bisa dihitung dengan jari. Jadinya, hal ini tidak sesuai dengan apa yang sudah diperintahkan Allah SWT. 

Kurbanesia Dompet Dhuafa hingga pelosok negeri. Lihat videonya berikut ini. [Sumber: Youtube]
 

Kita tahu, kan bahwa untuk membeli hewan kurban itu tidak seratus dua ratus ribu, tetapi jutaan rupiah uang yang harus dikeluarkan. Kalau terbuang sia-sia, justru mendekatkan diri pada mubazir. Rasulullah pun sangat tidak menganjurkan hal-hal berbau mubazir ini. Karena apa? Mendekatkan diri pada setan. Memubazirkan makanan sama halnya dengan perbuatan setan. Sedih? Sudah tentu, iya.

Di tempat saya tinggal tersebut ada seorang ibu yang saya panggil "ibu", bekerja untuk saya. Dia sempat berbagi cerita, kalau di kampungnya,  justru tidak pernah memotong hewan kurban sama sekali. Ada, itupun hanya satu kali. Untuk seterusnya, tidak pernah dilakukan lagi. Hal ini terkait dengan kondisi keuangan dan ekonomi masing-masing keluarga. Boleh dibilang miskin dengan pekerjaan utama sebagai pemecah batu dan pembuat arang.

Kalau saya bandingkan dengan yang ada di tempat saya tinggal di Sumatera, justru hal ini sangat bertolak belakang. Rata-rata di setiap kelurahan minimal memotong dua ekor sapi dan sepuluh kambing. Pun masing-masing rumah mendapat jatah daging kurban sebanyak dua hingga tiga kilogram daging.

Saya berpikir, “Kalau tahu  ada satu wilayah atau daerah yang memang sangat memerlukan daging, bahkan makan daging setahun sekali pun tidak pernah, lebih baik saya sarankan untuk memotong dan memberikan hewan kurban di tempat itu. Bisa saya tebarkan ke tempat ibu yang bekerja di rumah saya tinggal.”

Daerah atau wilayah, pemotongan, hingga pendistribusian daging kurban ini menjadi panggilan untuk saya, bahkan menjadi tantangan tersendiri. Bagaimana tidak, selama saya mengikuti pemotongan hewan kurban, ada saja yang tak kebagian bahkan luput dari jangkauan. Saya makin penasaran, tak mungkin tidak ada lembaga yang bisa mengakomodir hal ini.

Saya pun berpikir, kurban ini  telah menjadi satu misi yang mampu merekatkan kepedulian, kebaikan, bahkan manfaat untuk sesama menjadi orang-orang yang bisa lebih baik lagi dan luas jangkauannya.

Kurban juga menjadi waktu yang paling membuat bahagia saudara-saudara kita yang tidak atau jarang mengonsumsi daging. Hal ini menghadirkan kebahagiaan tersendiri. Apalagi untuk saudara-saudara kita yang hidup terpinggirkan (marginal living), bahkan tak tersentuh pembangunan.

Pun kurban menjadi satu tantangan tersendiri untuk saya. Mengapa? Ya, karena dengan berkurban menjadi satu pembuktian diri saya kepada Allah SWT untuk lebih pandai-pandai bersyukur atas nikmat yang telah diberikanNya.

Juga, kalau melihat perjuangan, pengorbanan, dan tantangan Nabi Ibrahim tatkala diminta Allah SWT untuk mengorbankan anaknya, Nabi Ismail. Di sini, Nabi Ibrahim dihadapkan pada pilihan sulit, antara anak dan menuruti perintah Allah sebagai bentuk tanda syukurnya.

Dompet Dhuafa bersama Kurbanesia menerapkan sistem Quality Control ternak sebelum dilepas untuk kurban. Simak videonya [Sumber: Youtube]
 

Mencontoh Nabi Ibrahim ini tadi, saya merasakan banyak hal mengenai hikmah dan keteladanannya, bahkan keimanannya. Pun ada satu pembelajaran yang sangat berharga bisa dipetik, Ikhtiar. Ikhtiar inilah yang secara tidak langsung Nabi Ibrahim berikan kepada orang-orang untuk meraih “hadiah’ terindah dari Allah SWT.

Pun hal ini sesuai pula dengan sabda Rasulullah SAW, ada ganjaran dari setiap helai bulu-bulu  juga darah yang tertumpah dari hewan yang dikurbankan. Subhanallah. Aah… saya jadi terharu sendiri membaca perjuangan Nabi Ibrahim, ibrah yang bisa saya petik untuk diri dan orang banyak di sekitar saya untuk terus berkurban. Dan semata-semata berharap rida Allah SWT kelak.

Untuk hal ini, saya  terus mencari, kira-kira dan tepatnya ke mana harus berkurban agar bisa dinikmati orang banyak. Alhasil, saya browsing dan mencari lembaga mana yang bisa menyalurkan daging kurban sekaligus melakukan penyembelihan secara terbuka, jujur, dan amanah. Bertemulah saya dengan Dompet Dhuafa.

Siapa Dompet Dhuafa
Dompet Dhuafa sebagai salah satu lembaga sosial nirlaba yang bergerak untuk bidang kemanusiaan dan sosial. Kehadirannya bermula dari banyaknya empati komunitas jurnalis yang berinteraksi dengan  masyarakat miskin (terpinggirkan) juga sering bertemu dengan orang-orang kaya. Digagaslah manajemen penggalangan kebersamaan dengan siapapun yang peduli kepada orang-orang dhuafa. Mau tahu tentang Dompet Dhuafa secara mendalam? Silakan klik situs ini https://www.dompetdhuafa.org/about

Ada banyak informasi penting tatkala saya bersua muka dengan rekan-rekan di Dompet Dhuafa. Terutama hal-hal berkaitan dengan program yang dibuat dan dilakukan berhubungan dengan aktivitas sosial kemanusiaan, termasuk program Tebar Hewan Kurban ini. Nah, apa pula ini program Tebar Hewan Kurban? Ya, Tebar Hewan Kurban (THK) ini sebagai salah satu program Dompet Dhuafa untuk ekonomi sosial yang fokus pada pengelolaan dan mendistribusikan hewan kurban ke daerah-daerah terpencil di penjuru nusantara. 

Profil Dompet Dhuafa. Simak videonya berikut ini. [Sumber: Youtube]
 

Jika melihat sejarah mengenai hadirnya program THK ini, sudah dimilai pada 1994 dan mendistribusikan hewan-hewan kurban ke pulau Jawa, Bali, Kalimantan, Sumatera, NTT, NTB, Sulawesi, juga Papua. Bahkan, tak sampai di situ saja, THK juga merayap hingga ke wilayah-wilayah konflik antarnegara dengan penduduk muslim yang memang minoritas, serta daerah terjadinya bencana di luar Indonesia. Komitmen yang diletakkan DD tidak main-main. Inilah menjadi kunci penyebaran hewan kurban agar merata dan dapat dinikmati orang banyak untuk daerah yang disalurkan, selain itu tepat sasaran untuk penerima.

Membentang kebaikan yang dilakukan Dompet Dhuafa menjadi semacam vitamin tersendiri untuk saya pribadi, bahkan orang-orang berduit (baca kaya) untuk terus berbuat baik dan berbagi. Membentang kebaikan yang dari kurban mengantarkan setiap orang pada kebahagiaan. Bahkan menjadi jiwa-jiwa paling bermakna.


Kandang Domba dan Kambing untuk proses pembibitan dan penggemukkan Desa Cirangkong, Subang [Foto: Dok Pri]

Lebih jauh lagi, tujuan utama dari THK ini sebagai ikhtiar untuk berbagi kebahagiaan daging kurban ke penjuru negeri juga sebagai program yang dapat membantu para peternak dan masyarakat tak punya (dhuafa) dalam mendapatkan kenaikan kesejahteraan. Hal ini agar mereka mampu mandiri, punya nilai, serta berdaya guna untuk masyarakat banyak.

Dompet Dhuafa membentuk dan melakukan satu program yang meng-encourage dan melibatkan para peternak yang didayakan oleh Dompet Dhuafa, juga sebagai mitra dari Tebar Hewan Kurban itu sendiri. Bagaimana DD melibatkan peternak di dalam programnya?

Proses yang dilakukan DD ketika mengambil peternak dengan cara memberikan bibit hewan, yaitu kambing dan domba juga sapi atau kerbau. Hal ini tidak semata-mata lewat begitu saja. Tetapi ada proses lain yang perlu dilakukan, yaitu ada pembinaan, pemeliharaan, dan tak kalah penting Quality Control yang dilakukan oleh ahli-ahli di bidangnya, dalam hal ini Dompet Dhuafa pun bekerjasama dengan Dinas Peternakan setempat.

Rekan-rekan Blogger dan Media pada #SocioTripKurbanesia2018 Dompet Dhuafa, Cirangkong [Foto: Dok Pri]

Nah, saya sangat beruntung dapat  mengikuti program Dompet Dhuafa untuk Tebar Hewan Kurban ini bersama rekan-rekan blogger dan media. Pada Selasa lalu (7/08/2018), untuk kedua kalinya saya berkesempatan ikut lagi ke salah satu Kebun Indonesia Berdaya yang dibina oleh Dompet Dhuafa. Bertempat di Desa Cirangkong, Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat.

Selain peternakan, Indonesia Berdaya Dompet Dhuafa juga melakukan pertanian [Foto: Dok Pri]
Tak hanya kebun, tetapi juga peternakan dengan lahan seluas 10 hektar itu ditanami beragam jenis tanaman penghasil buah, seperti Pepaya Kalina, Jeruk, Nenas Subang, Buah Naga, hingga Jambu Kristal.


Domba & Kambing siap Tebar Kurban di Desa Cirangkong, Subang [Foto: Dok Pri]

Sementara, peternakannya berupa kambing dan domba. Domba dan kambing-kambing inilah yang menjadi salah satu hewan kurban peternak yang dikelola Dompet Dhuafa bersama peternak.  DD membantu penyebaran hewan-hewan ini nanti yang akan dikurbankan ke berbagai wilayah di tanah air.

Wilayah-wilayah yang dimaksud seperti wilayah yang jarang tersentuh atau tak pernah merasakan daging kurban, wilayah konflik, dan minoritas muslim. Ketika saya melihat dan terjun langsung ke peternakannya ini, ada tiga kandang yang dibentuk memanjang. Isi keseluruhan kandang lebih kurang 240-an ekor domba. Masing-masing kandang terdiri atas 80 ekor domba dan kambing dari berbagai macam pemilik.

Nah, domba-domba yang masuk dalam kategori  pemeliharaan dan penggemukkan untuk kurban ini dari jenis domba ekor gemuk, domba ekor tipis, domba Garut, dan Domba Priangan (Parahyangan).

Salah satu Domba dari Mitra Peternak binaan Dompet Dhuafa di Desa Cirangkong, Subang [Foto: Dok Pri]

Ada tiga bagian kandang dengan perlakuan berbeda-beda.  Pertama, kandang bibit. Kandang ini terdiri atas bibit domba yang diisi enam ekor domba jantan kualitas bagus dan sekitar 70-an ekor domba betina  kualitas bagus pula.

Kandang kedua berupa kandang bibit pertama. Di kandang ini ada sekitar 80 ekor domba yang dimiliki warga berbeda-beda. Ada domba warga yang memang sudah bermitra dengan DD dan ada domba yang memang warganya berinvestasi untuk ini.
Sementara, kandang ketiga adalah kandang penggemukan. Di kandang ini ada sekitar 80 ekor domba pula yang dimiliki oleh para petani. Biasanya petani yang juga punya investasi di lahan perkebunan nenas dan juga melakukan mitra dengan DD.

Di tempat inilah domba dan kambing dibiakkan dalam binaan Dompet Dhuafa [Foto: Dok Pri]

Bagaimana domba-domba dan kambing di Kebun Indonesia Berdaya binaan DD ini dapat memenuhi standar kualitas hewan kurban?  Tentunya, DD memberikan pembekalan yang sangat dibutuhkan dan standardisasi pakan ternak kurban. Pakan untuk ternaknya sendiri dimodifikasi dengan tetap memenuh standar kualitas pakan ternak.

Pakannya terdiri atas campuran jerami padi, kulit nenas, bahkan dikatakan oleh Mas Agung Kharisma, diberi kecap makan. Selanjutnya, pakan ini difermentasi  lebih kurang tiga hari sehingga menghasilkan rasa manis yang diperuntukkan sebagai penambah energi (tenaga) untuk ternak itu sendiri. Pemberian pakan rumput sebisa mungkin dikurangi, karena rumput tinggi selulosa yang dapat mengikat lemak dan air. Sementara, hewan-hewan ini dalam proses  penggemukan.

Selanjutnya, domba-domba dan kambing yang digemukkan ini nanti akan disalurkan untuk hewan kurban atau dijual oleh DD. DD dalam hal ini menyediakan hewan kurban dengan kelas-kelas tersendiri. Siapapun bisa membeli dan berkurban melalui Dompet Dhuafa dan bahkan langsung disalurkan kepada yang memang berhak menerimanya.
Nah, ini standar hewan kurban yang diberikan oleh Dompet Dhuafa untuk siapapun yang ingin berkurban melalui Dompet Dhuafa. 


Kambing dan Domba bertanda merah ini masuk kategori Premium dengan  bobot 29-35 kg [Foto: Dok Pri]
Kambing dan Domba bertanda biru masuk ke kelas standar bobot 23-28 kg [Foto: Dok Pri]

1.    Kambing dengan kriteria standar bobot 23—28 kg per ekor Rp1.975K
2.    Kambing dengan kriteria premium bobot 29-35 kg per ekor Rp2.975K

Mengapa Dompet Dhuafa jadi pilihan tepat saya untuk berkurban? Adanya Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa ini memberikan kemudahan untuk siapapun yang ingin berkurban, berbagi ke  masyarakat kecil yang tak pernah mengecap nikmatnya sate atau gulai kambing ke penjuru tanah air.

Pertama, melalui Dompet Dhuafa, ada kemudahan layanan berkurban. Ada sistem online (daring) yang dibuat oleh DD justru mempermudah orang yang ingin berkurban. Apalagi eranya sudah sangat maju (era digital). Tak hanya itu, secara offline pun DD tetap membuka kanal melalui konter-konter atau gerai-gerai yang ada di pusat belanja.

Tak perlu repot kalau ingin berkurban dan konfirmasi kurban [Foto: Dok Pri]

Kita bisa pilih kanal untuk pembayaran hewa kurban, baik melalui kanal perbankan, QR Code, payment online, kerjasama e-commerce, bahkan juga jemput kurban dan 150 konter atau gerai THK  DD yang tersebar di Jabodetabek. Kalau tidak mau sulit, bisa langsung bayar juga ke kanal ini www.kurban.dompetdhuafa.org .

Untuk mengetahui lokasi konter Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa (THK-DD)
Klik link berikut  https://kurban.dompetdhuafa.org/konter/.  Semoga kehadiran konter ini dapat membuat mudah rekan-rekan untuk berkurban melalui Dompet Dhuafa.


Dompet Dhuafa bersama Kurbanesia dengan kriteri hewan kurbannya [Foto: Dok Pri]

Kedua, kurban memberikan edukasi untuk anak-anak kita.  Peternak yang dibina DD melalui pemberdayaan ekonominya dapat menikmati langsung daging kurban. Jadi kini, bukan mustahil lagi kalau daerah pelosok tidak bisa mendapatkan daging kurban.Insya Allah, melalui DD semua teratasi. Hal ini juga sebagai bentuk dari model bisnis sosial yang mengangkat ekonomi peternak lokal. Mungkin dulu masih dibawah garis kemiskinan, kini merangkak naik dan mandiri secara ekonomi, menjadi insan yang sukses dan berdaya. Kalau peternak ini berdaya, otomatis penyaluran hewan kurban semakin mudah .

Dompet Dhuafa juga menerapkan sistem jemput kurban [Foto: Dok Pri]

Ketiga, tebar hewan kurban Dompet Dhuafa ini dari kota hingga pelosok desa, wilayah konflik, bencana, minoritas muslim, bahkan hingga mancanegara. Jadi, pendistribusian hewan kurban dari DD ini tak terbatas dalam negeri, justru juga merambah luar negeri. Jadi, semua tersalurkan dengan aman dan baik.

Keempat, hewan-hewan yang dikurbankan memenuhi standar dan mutu kualitas sebagaimana hewan kurban. DD dengan para mitranya menerapkan empat hal yang jadi patokan, yaitu 1) bobot hidup. Domba atau kambing standar dengan bobot  23-28 kg; domba atau kambing premiun 29-35 kg, sedangakan sapi  di 250-300 kg;  2) kesehatan dan fisik. Hewan tidak cacat, lepas gigi khususnya kambing-sapi dan berkelamin jantan;  3) pelaksanaan pemotongan. Hal ini sesuai syar’i yang diberlakukan dalam Islam, ada dokumentasi, serta laporan hewan yang dipotong; dan 4) tepat sasaran. Distribusi yang merata untuk masyarakat kurang mampu atau warga miskin.

Kalau kita berkurban di Dompet Dhuafa, akan mendapatkan notif seperti ini [Foto: Dok Pri]

Kelima, adanya pengendalian dan pengontrolan  mutu hewan kurban THK oleh tim QC Dompet Dhuafa. DD merekrut orang yang berkompeten di bidangnya. QC ini punya tugas memantau, kontrol, juga mengecek kesehatan calon hewan kurban sebelum  hari ‘H’. Mengecek dan verifikasi lokasi pendistribusian siapa yang akan  menerimanya. Memantau penyiapan dan saat pemotongan hewan kurban. Terakhir, melakukan  dokumentasi, evaluasi, serta rekomendasi.

Kalau saya berkurban dan siapapun yang berkurban melalui THK ini ada jaminan kepastian, tersalurkannya hewan-hewan kurban  kepada orang yang berhak menerimanya (tepat sasaran) dan dijamin kita tidak kecewa seperti yang pernah saya alami. Orang  yang melakukan kurban pun secara tidak langsung telah membantu peternak yang sudah join sebagai mitra peternak DD.


Blogger dan Media sedang mendengarkan penjelasan dari representatif Dompet Dhuafa [Foto: Dok Pri]

Dompet Dhuafa pun sangat transparan  mengenai laporan penjualan dan orang-orang yang akan berkurban. Bukti-bukti laporan kurban dikirim melalui pesan singkat email. Hal ini dapat diketahui  rekam jejak yang sudah dilakukan DD sejak 2015 yang menggunakan DESI (Dompet Dhuafa Enterprise System). Melalui DESI ini, kalau kita mau berkurban, semua transaksinya hingga laporan dari orang-orang yang melaksanakannya (mitra)  di lapangan tercatat dengan baik dan lengkap.

Nah, semakin banyak orang-orang yang melakukan kurban di Dompet Dhuafa, otomatis semakin banyak pula manfaat yang bisa diambil oleh peternak yang sudah bermitra dengan THK Dompet Dhuafa ini. Di sinilah, kita dan siapapun menjawab panggilan zaman. 

Masih ragukah dengan apa yang sudah saya sampaikan untuk berkurban di THK Dompet Dhuafa Kurbanesia Menjawab Panggilan Zaman ini? Yuk, bersama-sama kita jawab panggilan zaman juga tantangan memberdayakan peternak lolak dan menebar berkah daging kurban di program THK yang sudah ada sejak 1994.  Ayo, terus kita tebar kebahagiaan lewat daging kurban di Idul Adha yang sebentar lagi akan menjelang dengan berkurba melalui Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa.

Mas Ahmad dalam penjelasannya tentang Kurbanesia [Foto: Dok Pri]

Perlu kita tahu juga bahwa, kesenangan Idul Adha tidak hanya milik bangsa Indonesia, tapi ada juga milik saudara kita sesama muslim di luar Indonesia. Juga mereka yang berada di wilayah konflik seperti Suriah dan Palestina. Mereka pun pantas merasakannya, tak ketinggalan pula minoritas muslim Rohingya. Muslim Rohingya mengungsi jauh dari Myanmar, juga ada yang masih menetap di Rakhine. Sementara keperluan dasar hidup mereka jauh dari kata layak.

Jadi, ngapain  kita tunda-tunda untuk berkurban. #KurbanDikitaAja #SocioTripKurbanesia2018 #MembentangKebaikan #MenjawabPanggilanZaman

Wednesday, August 8, 2018

Asian Games 2018, Buat Jakarta Jadi Lebih Baik


 
Jalanan Jakarta [Foto: Dok Kamadigital]
Wah, tinggal menghitung hari ternyata. Sebagai warga Jakarta, menyambut Asian Games yang bakal di helat di tempat saya tinggal sekarang ini terbersit rasa bangga sekaligus bahagia. Bangga karena  pesta olahraga bangsa-bangsa si kawasan Asia ini, digelar di kota Jakarta. Bahagia, pastinya banyak atlet-atlet berskala internasional bakal unjuk kebolehan untuk membanggakan dan membawa nama negara di kancah Asia khususnya.

Tak hanya di Jakarta Asian Games ini digelar. Tetapi juga mengambil tempat di salah satu provinsi di Sumatera, yaitu Sumatera selatan, Palembang.  Saya yang juga orang Sumatera, ikut senang juga karena, Sumatera, menjadi salah satu pulau di Indonesia yang mewakili tempat menjadi ajang dihelatnya pesta olahraga bergengsi ini.

Animo masyarakat Jakarta sendiri dalam menyambut Asian Games ini terasa sekali. Rumah-rumah dan jalan yang dilalui para atlet Asian Games berlaga, dihias rapi. Jalan-jalan diperbaiki, dan segala hal untuk menyambut tamu dari negara asing diperbagus.  Pancangan tiang-tiang dan bendera negara-negara peserta pun mulai ramai.

Warna-warni Asian Games tampak meriah.  Hal ini semeriah dan sejalan pula dengan datangnya Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-73 tahun.  Seolah tak kehabisan cara para warga ingin meluapkan  dan berbagi kegembiraan kepada perwakilan  negara-negara peserta Asian Games.  Sama halnya dengan pemerintah Republik Indonesia sendiri.
 
Jalanan Jakarta di Malam hari [Foto: Dok Kamadigital]
Hampir semua lini dibenahi agar Jakarta dan Palembang terlihat cantik juga menarik. Tak berhenti sampai di situ, pemerintah pun memperhatikan dan melakukan perbaikan terhadap fasilitas umum (Fasum) maupun fasilitas khusus (Fasus).  Wajah Jakarta dan Palembang khususnya disulap.  Jakarta, yang notabenenya identik dengan Indonesia bakal membawa pengalaman tersendiri  bagi peserta Asian Games.

Tentunya, tidak  hanya peserta Asian Games-nya saja yang bakal punya pengalaman tersendiri tentang Jakarta kini, tetapi juga warga yang tinggal di ibukota.  Pembangunan yang semakin dirasakan pun tak bisa dielakkan.  Asain Games ini memberi cara baru berpikir dari masalah-masalah besar yang ada dengan berpikir sederhana, masalah besar dapat diselesaikan.
 
Dayung, salah satu cabang olahraga di Asian Games 2018 [Foto: Dok Tim Komunikasi Kemenpora]
Salah satunya adalah arus lalu lintas di Jakarta. Memang, bukan hal mudah dan jadi pekerjaan ringan mengatur lalu lintas ibukota. Jakarta itu kompleks, satu sama lain saling bergantung dan tak dapat dipisahkan.  Beragam kebijakan yang ada mesti melibatkan banyak sektor  tak saja Kementerian Perhubungan yanga mengurus lalu lintas atau dengan kata lain sebagai penanggung jawab, tetapi ada instansi lain seperti Kementerian PU yang juga berperan penting dalam infrastruktur ibukota dan daerah, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) yang mesti fokus pada lingkungan. Hal yang tak bisa dipisahkan lainnya adalah tugas ‘berat” kepolisian RI.

Kalau kalian pernah berkunjung ke negara lain, mungkin akan buat satu perbandingan tentang lalu lintasnya. Tetapi memang, permasalahan lalu lintas di satu negara tidak bisa disamakan dengan negara lain. Jakarta punya cara sendiri untuk mengatasi dan membenahi lalu lintasnya. Apalagi dalam menghadapi Asian Games kali ini. Semua sarana transportasi benar-benar dimaksimalkan.
 
Jelang Asian Games 2018, jalan Jakarta malam hari [Foto: Dok Kamadigital]
Kalau kita mau melihat atau belajar banyak dari negara yang mirip dengan negara Indonesia ekonominya, yaitu Bogota dan Colombia,  TransJakarta yang beredar di Jakarta mencontoh dari mereka.  Metode yang diterapkan di Jakarta, sama dengan di dua negara tersebut.  Mengapa busway ada?  Jawabannya karena keterbatasan lahan, anggaran, bahkan tingginya volume kendaraan pribadi sehingga muncul ide busway hadir. Hal ini yang diadaptasi dan ditiru Jakarta sekitar 12 tahun lalu. Mulanya sih banyak kontra, akan tetapi kini mesti diakui bahwa Trans Jakarta menjadi moda transportasi yang paling diandalkan di Jakarta. Boleh  dibilang bebas macet, cepat, dan relatif aman.

Nah, sebenarnya tidak saat Asian Games ini saja perbaikan dan pembenahan transportasi di Jakarta dilakukan. Jauh-jauh sebelum dan tidak ada Asian Games pun pembenahan dilakukan.  Baik dengan menerbitkan regulasi juga diikuti evaluasi berkelanjutan. Badan Pengelola Transportasi Jakarta (BPTJ) yang menjadi lembaga setingkat Dirjen di Kemenhub konsisten membuat banyak program edukasi.
 
Loncat Indah, salah satu cabang olahraga di Asian Games 2018 [Foto: Dok Tim Komunikasi Kemenpora]
Pendekatannya melalui event nasional bahwa transportasi menjadi bagian penting. Asian Games 2018 ini menjadi satu helatan penting bagi BPTJ untuk membuat rekayasa lalu lintas Jakarta secara masif. 

Tak bisa dipungkiri, bahwa negara-negara yang mengadakan pesta sejenis pun melakukan rekayasa lalu lintas demi kelancaran acara. Contohnya saat Olimpiade Beijing 2012 lalu. Kita tahu kan, bahwa Beijing yang  notabenenya ibukota Cina sebagai raksasa baru perekonomian sering sekali mengalami masalah lalu lintas seperti negara berkembang, apalagi kalau bukan macet. Kalau di Jakarta, pengaturan lalu lintasnya masih ringan banget, hanya ganjil dan genap, sementara di Beijing sangat ekstrim. Ekstrimnya benar-benar melihat dan berdasaran nomor plat mobil.

Manajemen Rekayasa Lalu Lintas [Foto: Dok BPTJ Kemenhub RI]

Contohnya, angka satu dan dua hanya bisa melintas di hari Senin dan Rabu, tiga dan empat Kamis dan Jumat, dan seterusnya.  Aturan ini tidak main-main ternyata, dari Olimpiade itu diterapkan bahkan setelah pesta olahraga berakhir pun aturan tetap berlaku.

Nah, Jakarta sangat perlu lho rekayasa semacam ini ketika Asian Games 2018 berlangsung. Kenapa? Pertama, macet masih jadi momok di ibukota juga wilayah  sekitar. Jakarta pun lagi giat membangun di setiap sudut kota, otomatis ini berpengaruh pada lalu lintas. Kedua, standar internasional (OCA) Olympiade Council of Asia, memberi syarat untuk waktu tempuh atlet ke tempat lomba, hanya 30 menit dengan kondisi udara harus baik. Mesti ikuti baku mutu harian sesuai PP Nomor 41 Tahun 199 bahwa 65 mikrogram per meter kubik atau  baku mutu  menurut WHO, 25 mikrogram per meter kubik.

Jadi, sejak 2 Juli 2018 di Jakarta suda dilakukan uji coba rekayasa lalu lintas Jabodetabek. Untuk itu, BPTJ membuat tiga paket kebijakan transportasi agar Asian Games sukses dan lancar. Paket kebijakan itu  meliputi Manajemen Rekayasa Lalu Lintas (MRLL), Penyediaan Angkutan Umum, serta kebijakan Pembatasan Lalu Lintas Angkutan Barang (golongan III, IV, dan V). Selain untuk menjamin kelancaran penyelenggaraan Asian games.
 
Paket Kebijakan Transportasi Asian Games 2018 [Foto: Dok BPTJ Kemenhub RI]
"Asian Games menjadi momentum guna mengedukasi masyarakat untuk mau beralih dan memanfaatkan transportasi umum. Selain efektif mengurai kemacetan, peralihan ini juga memberi efek pada penurunan tingkat polusi udara," tegas Bambang Prihartono, Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ).

Dari hasil riset memberikan bahwa lebih dr Rp 100 triliun hilang setiap tahun akibat kemacetan di Jabodetabek. Di salah satu artikel disebutkan, satu mobil pribadi menghasilkan 250 kg emisi CO2 per penumpang per 1000 km, sementara bus hanya menghasilkan 50 kg emisi CO2 per penumpang per 1000 km. Artinya kalau kita naik kendaraan umum, secara tidak langsung sudah menjaga lingkungan.

Nah, untuk acara Asian Games nanti, kita (masyarakat) “dipaksa” naik  kendaraan umum. Hitung-hitung kita menikmati fasilitas sekalian “belajar menikmati” kendaraan umum di Jakarta. Apalagi bagi mereka yang sudah sangat lengket dengan kendaraan pribadi, mesti diwajibkan naik kendaraan umum.
 
Penyediaan Angkutan Umum [Foto: Dok BPTJ Kemenhub RI]
Tak perlu khawatir juga karena BPTJ kerja bareng dengan beragam operator kendaraan umum dengan menambah armada bus-bus di ibukota. Kebijakan itu dengan menambah armada bus TransJakarta ke venue berjumlah 76 unit dari kondisi exixting 294 unit, penyediaan 57 unut bus dari hotel/Mall ke venue, penyediaan 204 bus khusus untuk wilayah-wilayah yang kena dampak ganjil-genap, dan penyediaan 10 unit bus untuk keperluan nonpertandingan (wisata). Satu hal yang buat menarik bahwa bus-bus yang menuju ke venue gratis untuk masyarakat umum.

Ternyata, tidak itu saja, karena banyaknya jalan yang sudah diterapkan ganjil genap, BPTJ bekerjasama dengan Google Indonesia merilis update apps Google map yang bisa mendeteksi rute ganjil genap. Aplikasi itu dapat memberikan informasi rute mana saja yang bisa dilalui kalau memakai kendaraan pribadi. Pengguna juga akan memperoleh informasi waktu tempuh yang diperlukan kalau menggunakan jalur alternatif.

Untuk kalian yang tidak terbiasa dengan kendaraan umum, bisa banget menginstal aplikasi Moovit. Nah, melalui apps ini kita bisa lihat jadwal kereta dan bis bahkan angkot. Tentunya juga kita bisa ngecek waktu kedatangan, notifikasi tujuan dan rute detail di dalam maps, sehingga kita bisa secara mudah mendapati rute di Jakarta dengan cara efektif dan efisien. Untuk Asian Games sendiri, tidak tanggung-tanggung, bahkan sudah di-upgrad hingga ke lokasi dan rute masing-masing cabang olahraga. Keren kan!
 
BPTJ kerja bareng Google Indonesia untuk Rute [Foto: Dok BPTJ Kemenhub RI]
Meski Asian Games 2018 hanya tiga minggu lebih kurangnya, tentunya kita berharap bisa belajar juga memahami kondisi jalan ibukota untuk lebih baik lagi.  Memang, yang namanya perubahan itu perlu waktu, tidak serta merta jadi, perlu kontribusi semua pihak. Kita mesti ikut serta dan berpartisipasi agar semuanya jadi lebih baik.

Memang, kalau kalian berpikir naik kendaraan umum itu tidak senyaman naik kendaraan pribadi. Akan tetapi, naik bus banyak faedah sosial yang kita peroleh. Seperti macet berkurang, polusi rendah, hidup kita pun semakin berkualitas. Kalau dulu, mapannya seseorang disimbolkan dengan kendaraan pribadi (mobil) terutama. Kini, zaman terus berubah, “mapan” itu untuk mereka yang mau naik angkutan umum. Mau nyaman dan kalian juga bisa terus dukung Asian Games 2018? Ayo naik kendaraan umum untuk Jakarta jadi lebih baik lagi.

Ayoo naik bus, biar lancar, aman, dan sukses Asian Games 2018 [Foto: Dok BPTJ]