Tuesday, January 16, 2018

5 Hal Ini Penting Ditanamkan untuk Anak


Biarkan dia bebas bermain [Foto: Dok Pri]
Tak ada salahnya ketika orang tua memberikan pengajaran pada anak balitanya atau anak prasekolahnya tentang banyak hal. Terpenting, hal-hal tersebut masih dalam batas koridor usianya. Kesalahpahaman yang timbul dari cara berpikir orang tua, bahwa “Belum saatnya anak diberi pengetahuan bla bla bla.” Tidak seperti itu untuk saya.

Nilai-nilai pemahaman itulah yang seharusnya diberikan ke anak-anak kita. Nilai-nilai tersebut mesti dikembangkan, apalagi di golden age-nya. Hal itu tak lain agar nilai-nilai kebaikan itu tetap dikenang dan dilaksanakan hingga dewasa menjelang.

Untuk saya sebagai orang tua, nilai-nilai ini begitu penting ditanamkan. Inilah nilai-nilai yang selalu saya berikan untuk kedua anak saya tersebut.

Pertama: Kejujuran
Orang tua perlu membantu menemukan bagaimana cara anak-anak saya menemukan jalan kebenaran. Cara-cara yang baik agar mereka bertindak benar adalah nilai kejujuran. Cara terbaik mendorong kejujuran anak ya menjadi orang yang jujur, terutama bapak dan ibunya ketika berkata kepada anak-anaknya.
 
Jujur bermain [Foto: Dok Pri]
Anak-anak kita itu mengambil contoh dari kedua orang tuanya. Oleh karena itu, sangat penting bagi saya untuk menghindari tipu-tipu atau muslihat, meski terlihat tidak berbahaya sekalipun. Contohnya, “Jangan kasih tahu ibu, kalau bapak baru dapat hadiah.”

Biarkan saja anak-anak mendengar orang tuanya secara jujur, bahkan perkataan jujur dari orang-orang tua lainnya. Anak saya yang sulung, ketika saya akan keluar acara selalu bertanya, “Bapak pulang pukul berapa?” Saya akan jawab sesuai dengan jadwal yang sudah diberitahukan. Selanjutnya saya akan bilang, “Semoga, bapak bisa pulang lebih cepat ya.”

Secara otomatis anak saya akan bilang, “Baik pak, bapak hati-hati yaa.” Di sinilah kejujuran perkataan itu sangat diperlukan. Hasilnya, kita akan lihat sendiri reaksi mereka. 

Cara lain untuk tetap agar anak-anak saya selalu jujur adalah, saya tidak akan bereaksi berlebihan jika anak saya berbohong kepada orang tuanya. Sebagai gantinya, saya dan istri akan membantu dia menemukan cara bagaimana mengatakan yang sesungguhnya.

Ketika saya turun ke dapur dan melihat anak sulung saya menumpahkan sabun cuci piring, saya tahu yang terjadi sebenarnya. Dia berusaha untuk mencuci beberapa gelas dan piring kotor yang ada di sink. Ketika mengambil sabun cair cuci piring dalam wadah terbuka, tersenggol tangannya dan tumpah. Saya hanya minta penjelasan saja, bagaimana kok bisa tumpah.

Saya tidak akan marah, saya biarkan dia bercerita apa yang terjadi sesungguhnya. Setelahnya saya luruskan. Memang, bersikap jujur itu tidak selalu mudah dan nyaman. Saya dan mungkin orang tua lainnya selalu merasa lebih baik jika mengatakan yang sebenarnya.

Kedua: Keadilan
Meminta agar anak-anak mengakui kesalahan. Kalau dalam acara keluarga, apalagi yang bawa anak, ada saja tingkah pola anak-anak tersebut. Liburan beberapa waktu lalu saya dan anak saya pulang menjenguk kakeknya. Sepupu yang lainnya pun datang. Salah satu sepupunya anak saya senang berlari-lari. Oleh karenanya anak saya juga ikut-ikutan berlari.

Tiba-tiba, sepupunya memukul anak saya dan menangis. Saya melihat kejadian tersebut dan meminta sepupunya untuk meminta maaf. Dengan bahasa yang lemah lembut, sepupunya pun nurut. Nah, reaksi inilah yang mempengaruhi psikologis anak. Ketika mereka ribut, jangan pernah membentak salah satunya.

Hal ini saya lakukan agar anak saya dan sepupunya bisa mengungkapkan perasaan masing-masing untuk tidak ribut dan akur kembali. Untuk membantu anak-anak menginternalisasi rasa keadilan sejati, saya perlu medorong mereka untuk bertindak memperbaiki kesalahan.

Misalnya, saya mungkin akan bilang ke Arya agar tidak memukul Cheo, atau Arya datang ke Cheo dengan membawa beberapa potong makanan sebagai isyarat permintaan maafnya.

Mengatakan “Saya minta maaf” cukup mudah untuk seorang anak dan hal ini membuat mereka bisa lolos tanpa harus  memaksa mereka untuk berpikir keras. Punya anak yang bisa menebus kesalahan secara proaktif itu jauh lebih kuat dan baik.

Kalau kita sadar bahwa anak-anak kita telah bertindak jelek terhadap orang, kita perlu membantu mereka untuk berpikir bagaimana cara memberi kompensasi. Mungkin sepupunya bisa memberikan sepotong makanannya untuk sepupunya yang dipukul.

Bisa juga menarik mobil-mobilan bersama-sama. Dengan mendorong anak kita seperti ini, orang tua telah memperlakukan secara adil sepupu dan anak kita sendiri. Kita juga telah membantunya bernegosiasi hubungan yang kelihatannya cukup sulit. 

Tumbuhkan rasa keadilan untuk keduanya [Foto: Dok Pri]

Ketiga: Penentuan (Determinasi)
Mendorong mereka untuk mengambil dan melakukan tantangan. Ketika anak saya naik ke atas lemari dan mengambil beberapa bingkai foto, kemudian dia turun dan memperlihatkan kepada saya, bahwa di bingkai itu merupakan fotonya, saya tersenyum dan memujinya.

Kemudian, dia menyusun mainan legonya dan membentuk semacam hewan secara cepat, saya berikan dukungan dan pujian seperlunya. Ya. Penentuan ini menjadi  semacam nilai yang bisa mendorong mereka untuk melakukan tantangan secara baik, jujur, dan bertanggung jawab.
Di usianya yang masih sangat muda inilah dorongan itu diperlukan untuk menumbuhkan kemampuan motoriknya. Saya juga menghindari memberi pujian yang berlebihan. Memberikan umpan balik yang jujur kepadanya dengan cara  lemah lembut dan mendukung, itu yang saya terapkan.

Cara lain yang ampuh untuk saya, membantu anak mengembangkan tekadnya adalah mendorong mereka melakukan hal-hal yang tidak mudah dilakukan dan memujinya karena ada inisiatif. Kalau anak saya pemalu, saya akan ajak dan mendorong dia untuk mendekati anak-anak di tempat bermain. Dalam kegugupan dan ketakutannya itu, dorongan kita diperlukan untuk menumbuhkan tekad dia agar dapat berbaur dengan teman-teman sebayanya.
 
Biarkan dia menentukan [Foto: Dok Pri]
Nah, saya juga akan memberikan  ucapan selamat kepada anak saya yang sudah melakukan hal sulit atas kerja kerasnya. Saya akan bilang, “Bagus, hebat, meski bapak tahu itu sulit untuk Abang.” Dukungan pengakuan dari kita akan menjadi tekad mereka untuk terus mau mencoba, hal tersulit sekalipun.

Keempat: Pertimbangan
Ajarkan mereka untuk memahami perasaan orang lain. Mungkin hal ini pernah dialami orang tua manapun ketika mengajak anaknya berbelanja. Kalau diajak berbelanja, Si Sulung selalu minta mainan. Kalau tidak diberi dia akan merengek-rengek.
 
Ajarkan bagaimana membuat pertimbangan [Foto: Dok Pri]
Akan tetapi, saya katakan padanya bahwa Abang perlu tahu bagaimana cara belanja yang baik dan benar. Mainan di rumah masih banyak, tidak perlu beli mainan lagi. Mainan di rumah masih bagus dan bisa dimainkan. Penjelasan yang tidak membuat dia dan saya kesal.

Ketika diajak berbelanja kembali, dia sudah tidak meminta mainan lagi. Memang perlu latihan. Seiring waktu kalimat-kalimat saya itu tadi mampu membuat dia tersenyum dan merasa lebih baik.

Kelima: Cinta
Jadilah dermawan dengan kasih sayang kita (orang tua). Orang tua cenderung berpikir bahwa anak-anak itu secara alami mencintai dan sangat murah hati dengan kasih sayang yang mereka punya. Memang benar, akan tetapi kadang cinta dan kasih sayang mereka penuh dengan sentimen makanya mereka perlu belajar peran timbal balik.
 
Biarkan kasih sayang itu mengalir [Foto: Dok Pri]
Mungkin, karena saking sibuknya setiap hari, orang tua lupa dan tidak pernah mengucapkan, “Bapak-Ibu cinta dan sayang sama Cheo dan Beryl.” Nah, hal-hal ini yang paling tidak didengar oleh anak-anak kita.
Saya dan istri membiarkan anak-anak menunjukkan cinta dan kasih sayang kepada orang tuanya dengan caranya. Untuk menumbuhkan hal ini, saya akan memeluk istri dan menciumnya ketika anak-anak berada di sekitar orang tuanya.

Saya akan bicara kepada mereka bahwa Bapak dan Ibu begitu mencintai dan menghargai kakek, nenek, om, tante, dan sepupu mereka. Jangan pernah membiarkan satu hari berlalu tanpa mengungkapkan rasa sayang kita kepada anak sendiri.

Tunjukkan cinta kita dengan cara-cara yang tak terduga. Bisa saja saya membuat makanan dengan model hewan dalam kotak sarapannya. Saya akan memperlihatkan cermin ke wajahnya saat anak saya menggaruk giginya. Saya juga akan memeluk dia tanpa perlu memberi alasan. Jangan biarkan pagi yang membuat panik dirinya dan rutinitas sore yang membuat hiruk pikuk justru membuyarkan  kasih sayang kita.

Secara praktis, saya jamin, semakin saya mengatakan, “Bapak dan Ibu mencintai kalian,” semakin banyak pula anak-anak saya mengatakan kepada kami orang tuanya, “Abang sama adek juga sayang dan cinta sama bapak dan ibu,” kembali. 

Semakin banyak pelukan dan ciuman yang saya berikan, semakin banyak pula rumah saya dipenuhi cinta dan kasih sayang. Ketika anak-anak merasa bebas mengungkapkan cinta dan sayang mereka kepada orang tuanya, kita menanam nilai-nilai yang terbesar di dalam hidupnya.

Monday, January 15, 2018

Liburan Terindah Itu Ada Di Sini



Salah satu kios tobuk di Senen [Foto: Dok http://4.bp.blogspot.com]

“Banyak jalan menuju Roma”, pepatah ini sering sekali saya dengar. Kalimat berarti yang mengisyaratkan, mau ke mana saja dan mau ngapain saja kalau memang diniatkan banyak caranya. Tak perlu banyak bicara tapi buktikan dengan tindakan nyata.

Pun di sekolah, cari informasi, pengetahuan, dan beragam keterampilan bisa datang dari mana saja. Asalkan punya kemauan untuk mencari. Ilmu dan pengetahuan itu memang mesti dicari dan dipelajari. Belajar bisa dari mana saja,termasuk saya. 

Masih lekat dalam ingatan saya, bapak setiap pulang kerja selalu bawa buku dan majalah. Saya juga selalu tanya, bapak dapat dari mana. Bapak bawakan buku dan majalah rata-rata  bekas dibaca orang alias buku dan majalah bekas dibeli bapak. Tapi terlihat masih baru dan jelas huruf-hurufnya. 

Bapak melakukan hal itu semata-mata agar anak-anaknya bertambah wawasan. Benar pula yang diucapkan bapak ketika memberikan buku dan majalah bekas itu kepada kami anak-anaknya, “Buku itu jendela dunia, gudangnya ilmu, perbanyaklah baca agar wawasan dan pengetahuan kalian bertambah,” begitu  ucap bapak. 

Anak-anak bukannya menolak, justru buku dan majalah bekas itu jadi rebutan. Kadang ya mesti ganti-gantian bacanya. Bergiliran selama satu minggu dikasih waktu untuk menyelesaikan satu buku dan satu majalah. Majalah justru lebih cepat dibaca oleh kami. Kalau buku dengan tebal sekitar 80 halaman atau 100, tetap dikasih jatah waktu satu minggu atau telat-telatnya baca 10 hari. 

Bapak itu bukan tanpa alasan beli majalah dan buku bekas, selain hemat dan irit duit (bukan pelit), bapak juga punya program sendiri ternyata. Anak-anaknya digiatkan sejak dini untuk rajin baca. Minimal, satu bulan bisa menyelesaikan 2-3 buku dengan tebal 80-100 halaman. Jadi, minimal dalam satu tahun anak-anaknya bisa melahap 36-40 buku. 

Nah, begitu pun saat saya hijrah ke Jakarta. Kalau saya mesti beli buku baru,  otomatis duit bulanan kekuras. Tapi, ya ga kehabisan akal juga. Dikit-dikit saya tabungin menjelang 2 bulan ke depan untuk beli buku.

Kalau pun tidak terbeli, masih bisa pinjam sama teman. Karena terbatasnya duit kiriman tapi perlu vitamin bacaan yang bisa segera dilahap, larilah saya ke proyek Senen (PS). Ternyata eh ternyata, di PS ini banyak banget buku yang sudah langka kalau kita pinter nyari-nyarinya.

Ya, PS menjadi salah satu tempat favorit saya cari buku dan majalah bekas selama tinggal di Jakarta. Kalau sudah di PS, bisa seharian penuh saya ngubek-ngubek. Pulang-pulang ke kost, tentengan banyak. Selain cari buku yang menunjang perkuliahan saya, juga cari majalah dan novel kesukaan saya dari penulis John Grisham dan Sidney Sheldon.
 
Obral buku dan majalah bekas dengan harga termurah [Foto: Dok http://cdn-2.tstatic.net/tribunnews/]
Di PS ini, asal pinter-pinter nawar, bisa dapat banyak buku. Selain tempatnya mudah dijangkau, duit bisa irit banget. Jadi, beli banyak buku, duit masih sisa. Di sekitar PS ini juga banyak tempat makan yang murah meriah. Jadi, jangan takut kelaparan juga sehabis belanja buku. Sampai sekarang pun saya masih suka ke PS ini, meski sudah mulai digusur perlahan-lahan, penjual buku masih tetap ada dan bertahan.

Secara tak sengaja, ketika saya kerja di kawasan Jakarta Selatan, tepatnya di sekitar Blok M, saat jam makan siang, iseng-iseng menyusuri lantai bawah salah satu pusat perbelanjaannya. Mata saya tertuju pada satu tempat yang banyak tumpukan buku dan majalah.

Mencoba mendekat, ternyata di tempat itu merupakan area untuk penjualan buku-buku dan majalah bekas. Sempat juga saya buat perbandingan harga, harga buku bekas di Blok M dan PS sedikit lebih mahal. Bisa jadi karena wilayah/kawasan. Sempat juga tanya-tanya ke pedagangnya, mereka sewa tempat sebulan sekitar 2,5—3 juta. “Oh, pantas harga bukunya sedikit lebih mahal di banding PS,” pikirnya saya. 

Tapi tetap, PS masih menjadi tempat favorit saya cari buku dan majalah bekas kalau di Jakarta. Nah, begitu saya pulang ke Bandung, tempat favorit saya cari buku bekas dan memang sudah terkenal, ya di Palasari. Palasari tak jauh dari rumah, sekitar 20 menit.

Buku-buku di Palasari pun tak kalah jauh dengan buku-buku yang ada di PS. Mau buku baru atau bekas, semua ada. Di Palasari juga luas hingga ke belakang dekat pasar Palasari sendiri. Teteeep… di Palasari banyak yang jual makanan, hahaha… apalagi di pojok jalan yang tak jauh dari pasar kembangnya, ada tempat makan lontong padang favorit saya.

Jadi, buku dan majalah bekas ini memberi ruang gerak saya untuk menambah bekal. Selain itu seiring sejalan dengan kecintaan saya mengulik kuliner. Nah, buku-buku tentang kuliner, masakan luar, dan masakan Indonesia banyak banget ragamnya. Di Palasari dan PS itulah jadi tempat favorit saya belanja buku dan majalah bekas.

Banyak hal yang bisa saya ambil dan pelajari dari tempat-tempat ini. Di PS, jarang pedagang buku dan majalah bekas yang  bisa sapa senyum ramah, salam atau apalah namanya. Pun tidak ada pelatihan yang mereka terima untuk menyambut tamu ( = pembeli). Gerakan mereka pun tak dibuat-buat untuk membuat saya merasa nyaman bersama buku dan majalah bekasnya.

Terkadang, antara satu pedagang dengan pedagang lainnya terlihat obrolan seru jika tak ada pembeli. Pun jika datang pembeli, tak ada kata “rebutan” untuk menawarkan buku. Ya, di PS bukan kios jajan di Simpang Lima Semarang, begitu masuk tawar menawar menu dan harga terjadi. Di PS dan Palasari penjual seakan tak peduli, apakah calon pembeli hanya sekadar berkunjung saja, bahkan tidak membeli tak jadi soal.

Terkadang pun saya hanya iseng main. Main ke PS dan Palasari saja sudah kenyang dan menyenangkan jiwa. Ya, siapapun bebas mengenyahkan waktunya di tempat ini, mau membaca, melihat-lihat, atau sekadar nongkrong. Begitu mudahnya saya diterima di tempat-tempat seperti PS dan Palasari. 
 
salah satu kios Tobuk Palasari, Bandung [Foto: Dok http://infobandung.co.id]

Benar adanya ternyata, liburan tak harus pergi ke Bali, Yogya, Papua, bahkan ke Singapura. Ketika saya menemukan kenyamanan rasa dan betah berlama-lama, di situlah saya merasakan liburan paling indah, di Kios Buku dan Majalah bekas PS dan Palasari. Inilah surga liburan saya di Bandung dan Jakarta.

Satu Bungkus Penuh Arti

 
Keripik pisang ini sebagai camilan istimewa untuk bapak [Foto: Dok https://i0.wp.com/ramesia.com]
For me, it’s memories not stuff. It’s people not money. It’s presence not striving. It's remembering what I have to give is small but valuable. And so I must choose to spend it well.



Kalau mendengar kalimat-kalimat yang diucapkan Bapak dan almarhumah ibu saya, ya sebagai anak, hingga seperti sekarang ini, peran tak terbayarkan dari keduanyalah yang menglingkupi. Banyak petuah yang memang benar adanya. Tapi, terkadang, kalimat bertuah dari mereka berdua seolah dianggap angin lalu. Pas terjadi sesuatu baru tersadar. Yah, anak-anaknya beragam pola dan tingkah. 

Boleh saya bilang, beban kedua orang tua kita itu sudah sangat banyak. Memang,  namanya tanggung jawab keduanya tak bisa dilepaskan begitu saja. Tanggung jawab mereka tak main-main, dunia dan akhirat. Bagaimana keduanya memperlakukan anak-anaknya, akan menjadi catatan besar di Padang Mahsyar. Tak bisa dielakkan.

Beberapa tahun lalu, saat merantau menginjakkan kaki di tanah Jawa ini, yang paling bercucur air mata itu ibu saya. Rasanya berat beliau melepas kepergian anaknya. Bagaimana tidak, sejak dari dalam kandungan, lahir, hingga usia-usia “bandel” sama orang tua terus. Ikatan emosional ibu dengan anak-anaknya begitu lekat.

Tetapi, saya merantau untuk satu hal. Mengejar cita-cita (bukan Cita Citata… ) yang bisa mengubah kehidupan, minimal untuk diri sendiri kalau belum bisa untuk keluarga. Dari Kampung ke Kota bekalnya cuma wejangan orang tua (ya, ada sih bekal lainnya). Duh, itu ibu air matanya berlinang terus kalau saya ingat-ingat.

Kalau Bapak ya tenang-tenang saja. Tetapi kalau saya perhatikan secara saksama, memang beda banget cara Bapak dan Ibu memperlakukan anak-anaknya. Akan tetapi, tujuannya sama, kasih sayang mereka tumpahkan untuk anak-anak tercinta dan tersayangnya, kok. Ibu itu kalau saya telpon dari yang tadinya cerah ceria, perlahan-lahan merendahkan suara, eeh tiba-tiba ngembes (Jawa = nangis) begitu  nanya soal makan saya.

Naah kan, saya yang jadi anak ya berusaha menenangkan saja. Tidak pula ikut-ikutan  ngembes. Ibu itu pula yang kalau lagi makan, pas ingat saya di perantauan, malah ga jadi makan. Lhaa… saya justru yang khawatir. Jangan sampai ibu jatuh sakit gara-gara mikirin cara makan saya di perantauan.

Hal-hal seperti ini tidak bisa ibu lepaskan, hingga saya selesai menempuh pendidikan. Beda dengan bapak. Bapak itu, kalau saya telepon, ngobrol panjang lebar. Saya terkadang jadi pembicara yang baik dan sebaliknya bapak. Bertukar pikiran melalui obrolan panjang di telepon. Bapak memberi dukungan untuk saya menyelesaikan kuliah dengan baik dan benar, ga harus cum laude. 

Ya, janji saya yang sudah saya tancapkan dalam-dalam  di lubuk hati paling dalam. “Saya mesti kelar kuliah sebelum bapak pensiun, gaji bapak biar bisa dipakai lagi buat sekolah adik-adik saya.” Saat saya kuliah, adik-adik saya dua orang juga masih sekolah, masing-masing kita perlu biaya yang tak sedikit.

Selama kuliah saya mesti putar otak, bagaimana caranya biar beban bapak tak terlalu berat. Uang kiriman juga tak mesti menunggu tiap bulan datang. Saya pikirkan hal ini, ketika masuk semester dua. Mestinya ya, saya senang-senang kuliah, dapat bea siswa ayah bunda, tapiii… tidak! Saya tidak bisa seperti itu. Justru bagaimana cara saya meringankan beban orang tua. Kuliah tak bergantung lagi biaya kiriman bapak. Harapan-harapan yang terus menggelayut dan jadi kenyataan. Semester-semestar empat ke atas, saya sudah jarang-jarang minta duit ke ortu. 

Sembari kuliah, ngajar di beberapa tempat plus ikut proyek. Alhamdulillah, kost bisa bayar sendiri, uang makn pun demikian. Ah iya, sempat ngajuin beasiswa pula. Alhamdulillah, dapet juga beasiswanya. Permintaan kepada Sang Khalik yang tak muluk-muluk dijawab satu per satu. Beli baju pun tak minta duit lagi dari ortu. 

Satu kesempatan yang tak dilewatkan itu, ketika menerima tawaran untuk menyunting salah satu buku pelajaran di salah satu penerbit. Dan uang yang diterima dari kerjaan editor itu, hmm… bisa buat biaya skripsi. Uang dari ikut kerja proyek dosen apalagi, bisa ngirim ke ortu dan menerbangkan mereka ke Jakarta.  

Alhasil, setelah selesai proses belajar saya di Depok, saya diterima kerja di salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat di Kabupaten Sarolangun Bangko- Jambi, pada 1999. Dari Jambi ke Bangko itu ditempuh dalam waktu 5 jam perjalanan darat. Lumayan, jalannya berkelok dan sisi kiri kanan masih penuh dengan lebatnya hutan. Namanya, Sumatera ya. Karena saya lahir dan besar di Sumatera (Jambi), jadi sudah tak asing kalau melihat babi hutan melintas, ular kelindes, monyet nongkrong di jalan, juga tupai-tupai liar berkeliaran. Berhenti sejenak menikmati indahnya Kantung Semar di perjalanan.  

Di Bangko ini terkenal dan menjadi sentra pembuatan keripik pisang. Pisangnya besar dan panjang. Keripiknya juga lembut dan gurih. Variannya juga banyak, antara lain ada keripik pisang susu cokelat, original, juga keju. Teman setia teh pagi saya biasanya keripik pisang susu cokelat dan original. Entah kenapa, keripik pisang ini menjadi magnet yang paling kuat untuk terus saya coba dan ada di meja kerja.

Selama tinggal di Bangko, camilan satu ini tak pernah lepas sebagai penganan favorit saya. Ini bukan berarti tidak ada camilan lain yang diproduksi. Tetap, keripik pisang ini jadi jawara di lidah saya, kala itu.

Dari sejak merantau di Jakarta, kalau pulang ke rumah ortu di Jambi, ada saja yang saya bawa. Orang tua sih tak pernah minta saya bawa ini itu. Beliau justru berucap, “Kamu pulang dengan sehat dan selamat, bapak & ibu sudah sangat bersyukur alhamdulillah.” Begitunya orang tua saya kepada anak-anaknya. 

Di situlah saya melihat keikhlasan dan pengorbanan mereka yang tak pamrih. Anaknya pulang bukan main girang. Tak terbersit pula mereka mau minta ini itu pada saya. Malah sempat saya kasih uang hasil kerja waktu itu ditolak secara halus, “Simpan saja, suatu saat nanti kamu perlu, bapak & ibu masih ada.” Waduh!!! Saya sempat menduga-duga juga, kenapa bapak sama ibu malah menolak halus gini ya dikasih uang, apa memang benar-benar masih ada  atau hanya berpura-pura ada. 

Ya, jadinya mikir juga. Bapak sama ibu ga mau dikasih uang dari hasil kerja saya sendiri dan itu penuh perjuangan.Tiba-tiba saya jadi ingat. Bapak itu kalau pulang kerja, biasanya istirahat sebentar, lantas makan siang. Makan siangnya bapak pukul 4 sore, kebayang kan makan malamnya pukul berapa? Pukul 10 malam. Tetapi badannya tidak melar atau mengidap penyakit tertentu. Jauh dari kata gemuk dan sakit.
 
Nah, bapak itu  suka kletikan (Jawa = camillan). Favoritnya itu keripik pisang asin. Pada satu kesempatan, saya memang tak membeli banyak untuk persediaan camilan kerja saya, di laci meja kerja saya masih tersimpan satu bungkus utuh. Saya bawa pulang ke rumah, iseng-iseng sih. Saya berangkat dari Bangko pulang ke Jambi puku 4 sore, sampai di rumah tepat pukul 9 malam. 

Bapak lagi ngopi, ya cuma kopi saya lihat. Teringat saya bawa satu bungkus keripik pisang, tanpa ba-bi-bu, saya taruh di atas mejanya ketika bapak sedang ke belakang. Masuklah saya ke kamar, kamar saya dan ruang tempat bapak ngopi itu tak terlalu jauh, tapi saya masih bisa ngintip beliau dari  dalam kamar dengan jelas.

Beliau perhatikan lama banget itu keripik pisang. Saya juga tidak tahu dalam benaknya, apa yang terlintas. Beliau masih saja memperhatikan keripik pisang itu hampir 30 menit lamanya. Saya melihat jelas dari balik kamar raut wajahnya yang bengong. Tetiba, saya keluar, saya perhatikan mata bapak itu berair. Ada tanya yang ingin saya ucapkan tapi tertahan. Saya paham. Satu bungkus keripik pisang itu membuat mata beliau berair dan merasakan pengorbanan saya. Mungkin “demi…”.

Terima kasih bapak, sudah memberi begitu banyak ruang kepada saya untuk terus berbakti tanpa henti. Keripik pisang itu akan tetap renyah dan gurih untuk terus bapak nikmati. 

Di usia senja bapak, beliau terbaring lemah. Bahunya dulu memang kekar, kuat, dan kokoh, kini pasrah dalam ketakberdayaan. Semoga bapak tabah dan ikhlas menjalani hidup hingga ajal menjemput. Sehat pak!