Wednesday, January 17, 2018

Kenali dan Cegah Pelecehan Anak, Orang Tua Waspadalah!



 
Ketakutan, membuat mental anak terganggu [Foto: Dok https://newsmedia.tasnimnews.com]
Indonesia, menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia, berdasarkan data, menemukan  218 kasus kekerasan seksual anak di 2015. Semenatara, 2016 KPAI mencatat ada 120 kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak dan pada 2017 ada 116 kasus. 

Pelecehan anak lebih dari sekadar memar atau patah tulang.Sementara itu, pelecehan fisik sebagai salah satu bentuk pelecehan anak yang punya tanda-tanda paling mudah terlihat. Jenis pelecehan lainnya seperti pelecehan emosional atau pengabaian anak-anak, juga meninggalkan luka dalam dan lama. Beberapa tanda pelecehan anak tidak bisa dibedakan satu sama lain.

Bagaimanapun, dengan mempelajari jenis pelecehan secara umum, kita dapat membuat perubahan besar dalam kehidupan seorang anak. Semakin dini seorang anak yang dilecehkan mendapat pertolongan, maka semakin besar peluang untuk terhindar dan pulih dari pelecehan itu. Pelajari tanda-tanda dan gejala pelecehan anak-anak. Mari kita bantu mereka keluar dari masalah ini.

Faktor Risiko Pengabaian dan Pelecehan Anak
Pelecehan dan pengabaian terjadi di berbagai kalangan keluarga. Bahkan di dalam keluarga yang terkesan bahagia, anak-anak masih berisiko tinggi dalam situasi tertentu. Ini risiko yang memperbesar peluang pengabaian dan pelecehan pada anak.

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)
Menyaksikan KDRT menjadi hal yang sangat mengerikan dan mengganggu mental anak-anak. Bahkan, jika seorang ibu berbuat yang terbaik untuk melindungi anak-anaknya dan menjaganya dari pelecehan secara fisik, situasinya masih sangat mengerikan. Jika Anda berada dalam hubungan yang penuh dengan kekerasan, keluar dari situasi tersebut menjadi jalan terbaik untuk melindungi anak-anak.

Penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol
Hidup bersama dengan orang yang kecanduan alkohol sangat sulit untuk anak-anak. Anak-anak dengan mudah dapat dilecehkan dan diabaikan. Orang tua yang suka mabuk tidak mampu menjaga anak-anak mereka.

Gangguan mental yang belum pulih
Orang tua yang menderita depresi, gangguan ansietas (cepat panik), atau gangguan mental lainnya, kesulitan merawat diri sendiri, apalagi anak-anaknya. Orang tua yang sakit mental atau mengalami trauma biasanya menjaga jarak terhadap anak-anaknya, atau cepat marah tanpa alasan jelas.

Stres dan kemiskinan
Membesarkan anak perlu biaya besar. Kondisi keuangan yang minim dapat menimbulkan stres pada orang tua. Hal itu akan berdampak pada hubungan mereka dengan anak-anaknya.

Tanda & Gejala Pelecehan Anak
Meskipun tanda-tanda ini tak selalu menunjukkan anak-anak dilecehkan, tetapi tanda-tanda ini dapat membantu orang dewasa mengenalinya. Kemungkinan pelecehan dapat diselidiki jika anak-anak menunjukkan beberapa gejala atau salah satu gejala di bawah ini.

1.  Pelecehan Seksual
Pelececahan seksual menjadi pelecehan yang tersembunyi dan rumit. Penting untuk diketahui, bahwa pelelcehan seksual tidak selalu melibatkan kontak tubuh. Exposing (memaparkan) anak ke situasi atau organ seksual, meski tidak ada sentuhan. Pelecehan seksual biasanya dilakukan oleh orang-orang yang dikenal sang anak-kebanyakan kerabat dekat. Anehnya, berlawanan dengan keyakinan kita selama ini, yang menganggap pelecehan seksual hanya terjadi pada anak perempuan, ternyata pelecehan seksual juga terjadi pada anak laki-laki.
 
Orang tua harus mendampingi anak [Foto: Dok https://pbs.twimg.com]
Sesungguhnya, kasus pelecehan seksual pada anak laki-laki banyak yang tidak dilaporkan karena malu. Selain kerusakan fisik yang disebabkan pelecehan seksual, komponen emosional  juga kuat. Anak-anak yang dilecehkan secara seksual merasa malu dan bersalah. Mereka mungkin ikut merasa bertanggung jawab terhadap terjadinya pelecehan tersebut. Kondisi itu dapat memicu kebencian terhadap diri sendiri dan problem seksual ketika mereka tumbuh dewasa.

2.  Pelecehan Fisik
Pelecehan secara fisik meliputi melukai atau membahayakan anak secara fisik. Misal, dengan menerapkan hukuman secara fisik (memukul anak dengan ikat pinggang) kepada anak yang tidak sesuai dengan kondisi fisik atau usia sang anak. Banyak orang tua dan pengasuh anak mempertahankan tindakan mereka sebagai bentuk penerapan kedisiplinan. Tetap, ada perbedaan besara antara penggunaan hukuman secara fisik dengan disiplin dan pelecehan fisik. Tujuan membauat anak-anak disiplin untuk mengajarkan mereka mana yang benar dan salah. Bukan membuat mereka hidup dalam kekhawatiran. Tanda-tanda pelecehan fisik sebagai berikut.
·        Luka memar atau luka yang terjadi berulang tetapi tidak bisa dijelaskan.
·        Menolak menjelaskan luka yang terjadi.
·        Memakai pakaian yang tidak lazim, misal memakai pakaian serba tertutup atau lengan panjang, bahkan di hari panas.
·        Kepala botak, baik sebagian atau seluruh.
·        Takut menjalani pemeriksaan medis.
·        Kecenderungan mencederai diri sendiri.
·        Sering bersikap agresi (menyerang terhadap teman-temannya).
·        Khawatir terkena kontak fisik-menarik diri jika disentuh.
·        Mengakui bahwa mereka dihukum, tetapi hukuman berlebihan (seperti seorang anak dipukul setiap malam agar mau belajar).
·        Merasa khawatir tersangka pelaku pelecehan dihubungii=.

3.   Pelecehan emosional
“Tongkat dan batu mungkin bisa mematahkan tulangku, tapi tidak akan pernah melukai hatiku.” Pepatah lama itu bertolak belakang dengan pelecehan emosional terhadap anak yang dapat merusak kesehatan mental atau perkembangan sosialnya, meninggalkan luka psikologis jangka panjang. Berikut  ini contoh pelecehan anak secara emosional:
·        Tindakan meremehkan, mempermalukan, dan menghina anak secara kontinu.
·        Memanggil dengan julukan yang tak disukai dan membuat perbandingan negatif dengan yang lain.
·        Mengatakan kepada anak bahwa ia “Tidak baik”, “tidak bermanfaat”, “buruk”, atau “salah”.
·        Sering berteriak, mengancam, atau menghardik.

Sementara, tanda –tanda anak yang mengalami pelecehan emosional seperti:
·        Kelambatan perkembangan emosional, mental, dan fisik.
·        Gangguan bicara secara mendadak.
·        Merasa rendah diri  berkesinambungan (saya bego, buruk, tak berharga, dan sebagainya).
·        Bereaksi berlebihan terhadap kesalahan.
·        Sangat mengkhawatirkan setiap situasi baru.
·        Berespons tidak sesuai terhadap segala perlakuan (saya memang   berhak menerimanya).
·        Perilaku neurotis (sering menggerakkan anggota tubuhnya, memilin rambut, mencederai diri sendiri).
·        Bertindak agresif atau sebaliknya.

4.   Pengabaiaan anak atau menyia-nyiakan anak
Pengabaian anak merupakan jenis pelecehan anak yang paling umum. Hal itu akan menyebabkan kegagalan dalam menyediakan kebutuhan dasar anak, seperti makanan, pakaian, sarana kesehatan, atau pengawasan yagn cukup. Pengabaian anak tidak mudah untuk ditandai.

Terkadang, orang tua secara mental maupun fisik jadi tidak mempu merawat seorang anak, seperti mengalami liuka serius, depresi yang belum disembuhkan antau ansietas. Lain waktu, penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan mungkin secara serius mengganggu kemampuan untuk mempertahankan keamanan seorang anak. Tanda-tanda anak yang diabaikan atau disia-siakan, seperti berikut.
·        Kelaparan
·        Kebersihan tak terjaga
·        Kelelahan
·        Baju kekecilan atau robek
·        Masalah medis
·        Tidak ada hubungan sosial
·        Rakus
·        Cenderung bersikap merusak

Biasanya, seorang anak menjadi subjek dari kombinasi beragam jenis pelecehan berbeda. Mungkin juga seorang anak tidak menunjukkan gejala seperti yang sudah disebutkan dan menyembunyikan apa yang terjadi.

Anak Dilindungi Keluarga, Negara, dan Masyarakat
Landasan hukum UUD Negara Republik Indonesia Pasal 28 Ayat 2: “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.”
 
Bekali anak dengan pengetahuan untuk menghindar [Foto: Dok https://www.radarhukum.com]
UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 1 ayat 2, “Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.”

Seluruh orang tua tentu seiya sekata dengan pendapat  Bertrand  Russel berikut, “ Pada anak-anak terletak masa depan kita semua,” karena kita berada di perjalanan panjang kehidupan sebelum maut menjemput.

Anak-anak kita itu dilindungi keluarga, negara, dan masyarakat lho ya. Jadi, jangan pernah menjadikan anak-anak kita sebagai objek kesalahan dan pelampiasan marah orang tua. Cara berpikir orang tua yang menganggap anak adalah milik ortunya, jadi ortu seenak-enaknya memperlakukan, itu salah!

Mungkin, orang tua masih membuat penafsiran bahwa anak itu sebagai benda atau barang sehingga orang tua merasa bebas berlakuku apapun karena merasa itu hak miliknya. NO!

Mengacu pada Wiliam Stern ada syarat hukuman paedagogis terhadap seorang anak, yaitu:
·        Tiap-tiap hukuman semestinya dapat dipertanggungjawabkan: hukuman tak boleh dilakukan sewenang-wenang.
·        Hukuman itu sedapat-dapatnya bersifat memperbaiki: hukuman harus memiliki nilai pendidikan.
·        Hukuman tak boleh mengancam apalagi balas dendam (hilangkan terlebih dahulu kemarahan).
·        Hukuman dilakukan dalam keadaan tidak emosi/marah.
·        Hukuman harus adil.
·        Sebaiknya hukuman disertai kasih sayang.
·        Ada efek jera bagi anak didik.

Salah seorang perempuan aktivis Eglantyne Jebb lantas mengembangkan butir-butir tentang hak anak pada 1923 yang diadopsi menjadi Save the Children Fund International Union. Isinya antara lain:
1.   Anak harus dilindungi di luar dari segala pertimbangan ras, kebangsaan, dan kepercayaan.
2.   Anak harus dipelihara dengan tetap menghargai keutuhan keluarga.
3.   Anak harus disediakan sarana yang diperlukan untuk perkembangan secara normal, baik material, moral, dan spiritual.
4.   Anak yang lapar harus diberi makan, anak yang sakit harus dirawat, anak cacat mental atau cacat tubuh harus dididik, anak yatim piatu dan anak terlantar diurus/diberi pemahaman.
5.   Anaklah yang pertama-tama mendapat bantuan atau pertolongan pada saat terjadi kesengsaraan.
6.   Anak harus menikmati dan sepenuhnya mendapat manfaat dari program kesejahteraan dan jaminan sosial, mendapat pelatihan agar pada saat diperlukan nanti dapat dipergunakan untuk mencari nafkah, serta harus mendapat perlindungan dari segala bentuk eksploitasi.
7.   Anak harus diasuh dan dididik dengan suatu pemahaman bahwa bakatnya dibutuhkan untuk pengabdian kepada sesama umat.
Beragam tuntutan yang meminta agar ada perhatian khusus pada anak, membuahkan hasil dengan memasukkan hak-hak anak dalam Piagam Deklarasi  Universal Hak Asasi Manusia pada 10 Desember 1948.

31 Hak Anak dalam Konvensi Hak Anak
Hak anak ini telah dirumuskan dan disahkan oleh pemerintah kita dan penerapannya diakui dunia internasional. Berikut 31 Hak Anak ini:
1.   Hak untuk kelangsungan hidup dan berkembang.
2.   Hak untuk mendapatkan nama.
3.   Hak untuk mendapatkan kewarganegaraan.
4.   Hak untuk mendapatkan identitas.
5.   Hak untuk mendapatkan standar hidup yang layak.
6.   Hak untuk mendapatkan standar kesehatan yang paling tinggi.
7.   Hak untuk mendapatkan perlindungan khusus dalam konflik bersenjata.
8.   Hak  untuk mendapatkan perlindungan khusus jika mengalami konflik hukum.
9.   Hak untuk mendapatkan perlindungan khusus jika mengalami eksploitasi sebagai pekerja anak.
10.               Hak untuk mendapatkan perlindungan khusus jika mengalami eksploitasi penyalahgunaan obat-obatan.
11.               Hak untuk mendapatkan perlindungan hukum jika mengalami eksploitasi seksual dan penyalahgunaan seksual.
12.               Hak untuk mendapatkan perlindungan khusus dari penculikan, penjualan, dan perdagangan anak-anak.
13.               Hak untuk mendapatkan perlindungan khusus jika mengalamai eksploitasi sebagai anggota kelompok minoritas atau masyarakat adat.
14.               Hak untuk hidup dengan orang tua.
15.               Hak untuk tetap berhubungan dengan orang tua bila dipisahkan dengan salah satu orang tua.
16.               Hak untuk mendapatkan pelatihan keterampilan.
17.               Hak untuk berekreasi.
18.               Ha untuk bermain.
19.               Hak untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan seni dan budaya.
20.               Hak untuk mendapatkan perlindungan khusus dalam situasi genting.
21.               Hak untuk mendapatkan perlindungan khusus sebagai pengungsi.
22.               Hak untuk bebas beragama.
23.               Hak untuk  bebas berserikat.
24.               Hak untuk bebas berkumpul secara damai.
25.               Hak untuk mendapatkan informasi dari berbagai sumber.
26.               Hak untuk mendapatkan  perlindungan pribadi.
27.               Hak untuk mendapatkan perlindungan dari siksaan.
28.               Hak untuk mendapatkan perlindungan dari perlakuan kejam, hukuman, dan perlakuan tidak manusiawi.
29.               Hak untuk mendapatkan perlindungan dari penagkapan yang sewenang-wenang.
30.               Hak untuk mendapatkan perlindungan dari perampasan kebebasan.
31.               Hak  untuk mendapatkan pendidikan dasar secara cuma-Cuma.

Dunia yang semakin bergerak cepat dan maju, menuntu kita para orang tua berlaku waspada terhadap anak dari bahaya-bahaya yang mengancam keselamatan jiwa raganya.
 
Anak perempuan sering mengalami kekerasn [Foto: Dok http://images6.fanpop.com]
Sebagai orang tua, sudah semestinya tidak mengabaikan anak dari keluarga. Pentingnya pendidikan dan penanaman nilai-nilai agama sejak dini untuk menangkal hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan penanaman agama sejak dini, mental spiritual mereka jadi terbentuk. Sebagai orang tua juga mesti terbuka dalam bicara kepada anak. Jangan pernah menutup-nutupi sesuatu. Biarkan mereka tahu dan mengambil yang baik membuang yang buruk. Orang tua juga mesti memberikan pengajaran kewaspadaan kepada anak-anak. Bagaimana mereka belajar untuk tidak akrab kepada orang yang tidak dikenal. Nah, sebagai orang tua, kesabaran ekstralah yang perlu diperbanyak. Semoga.


Tuesday, January 16, 2018

5 Hal Ini Penting Ditanamkan untuk Anak


Biarkan dia bebas bermain [Foto: Dok Pri]
Tak ada salahnya ketika orang tua memberikan pengajaran pada anak balitanya atau anak prasekolahnya tentang banyak hal. Terpenting, hal-hal tersebut masih dalam batas koridor usianya. Kesalahpahaman yang timbul dari cara berpikir orang tua, bahwa “Belum saatnya anak diberi pengetahuan bla bla bla.” Tidak seperti itu untuk saya.

Nilai-nilai pemahaman itulah yang seharusnya diberikan ke anak-anak kita. Nilai-nilai tersebut mesti dikembangkan, apalagi di golden age-nya. Hal itu tak lain agar nilai-nilai kebaikan itu tetap dikenang dan dilaksanakan hingga dewasa menjelang.

Untuk saya sebagai orang tua, nilai-nilai ini begitu penting ditanamkan. Inilah nilai-nilai yang selalu saya berikan untuk kedua anak saya tersebut.

Pertama: Kejujuran
Orang tua perlu membantu menemukan bagaimana cara anak-anak saya menemukan jalan kebenaran. Cara-cara yang baik agar mereka bertindak benar adalah nilai kejujuran. Cara terbaik mendorong kejujuran anak ya menjadi orang yang jujur, terutama bapak dan ibunya ketika berkata kepada anak-anaknya.
 
Jujur bermain [Foto: Dok Pri]
Anak-anak kita itu mengambil contoh dari kedua orang tuanya. Oleh karena itu, sangat penting bagi saya untuk menghindari tipu-tipu atau muslihat, meski terlihat tidak berbahaya sekalipun. Contohnya, “Jangan kasih tahu ibu, kalau bapak baru dapat hadiah.”

Biarkan saja anak-anak mendengar orang tuanya secara jujur, bahkan perkataan jujur dari orang-orang tua lainnya. Anak saya yang sulung, ketika saya akan keluar acara selalu bertanya, “Bapak pulang pukul berapa?” Saya akan jawab sesuai dengan jadwal yang sudah diberitahukan. Selanjutnya saya akan bilang, “Semoga, bapak bisa pulang lebih cepat ya.”

Secara otomatis anak saya akan bilang, “Baik pak, bapak hati-hati yaa.” Di sinilah kejujuran perkataan itu sangat diperlukan. Hasilnya, kita akan lihat sendiri reaksi mereka. 

Cara lain untuk tetap agar anak-anak saya selalu jujur adalah, saya tidak akan bereaksi berlebihan jika anak saya berbohong kepada orang tuanya. Sebagai gantinya, saya dan istri akan membantu dia menemukan cara bagaimana mengatakan yang sesungguhnya.

Ketika saya turun ke dapur dan melihat anak sulung saya menumpahkan sabun cuci piring, saya tahu yang terjadi sebenarnya. Dia berusaha untuk mencuci beberapa gelas dan piring kotor yang ada di sink. Ketika mengambil sabun cair cuci piring dalam wadah terbuka, tersenggol tangannya dan tumpah. Saya hanya minta penjelasan saja, bagaimana kok bisa tumpah.

Saya tidak akan marah, saya biarkan dia bercerita apa yang terjadi sesungguhnya. Setelahnya saya luruskan. Memang, bersikap jujur itu tidak selalu mudah dan nyaman. Saya dan mungkin orang tua lainnya selalu merasa lebih baik jika mengatakan yang sebenarnya.

Kedua: Keadilan
Meminta agar anak-anak mengakui kesalahan. Kalau dalam acara keluarga, apalagi yang bawa anak, ada saja tingkah pola anak-anak tersebut. Liburan beberapa waktu lalu saya dan anak saya pulang menjenguk kakeknya. Sepupu yang lainnya pun datang. Salah satu sepupunya anak saya senang berlari-lari. Oleh karenanya anak saya juga ikut-ikutan berlari.

Tiba-tiba, sepupunya memukul anak saya dan menangis. Saya melihat kejadian tersebut dan meminta sepupunya untuk meminta maaf. Dengan bahasa yang lemah lembut, sepupunya pun nurut. Nah, reaksi inilah yang mempengaruhi psikologis anak. Ketika mereka ribut, jangan pernah membentak salah satunya.

Hal ini saya lakukan agar anak saya dan sepupunya bisa mengungkapkan perasaan masing-masing untuk tidak ribut dan akur kembali. Untuk membantu anak-anak menginternalisasi rasa keadilan sejati, saya perlu medorong mereka untuk bertindak memperbaiki kesalahan.

Misalnya, saya mungkin akan bilang ke Arya agar tidak memukul Cheo, atau Arya datang ke Cheo dengan membawa beberapa potong makanan sebagai isyarat permintaan maafnya.

Mengatakan “Saya minta maaf” cukup mudah untuk seorang anak dan hal ini membuat mereka bisa lolos tanpa harus  memaksa mereka untuk berpikir keras. Punya anak yang bisa menebus kesalahan secara proaktif itu jauh lebih kuat dan baik.

Kalau kita sadar bahwa anak-anak kita telah bertindak jelek terhadap orang, kita perlu membantu mereka untuk berpikir bagaimana cara memberi kompensasi. Mungkin sepupunya bisa memberikan sepotong makanannya untuk sepupunya yang dipukul.

Bisa juga menarik mobil-mobilan bersama-sama. Dengan mendorong anak kita seperti ini, orang tua telah memperlakukan secara adil sepupu dan anak kita sendiri. Kita juga telah membantunya bernegosiasi hubungan yang kelihatannya cukup sulit. 

Tumbuhkan rasa keadilan untuk keduanya [Foto: Dok Pri]

Ketiga: Penentuan (Determinasi)
Mendorong mereka untuk mengambil dan melakukan tantangan. Ketika anak saya naik ke atas lemari dan mengambil beberapa bingkai foto, kemudian dia turun dan memperlihatkan kepada saya, bahwa di bingkai itu merupakan fotonya, saya tersenyum dan memujinya.

Kemudian, dia menyusun mainan legonya dan membentuk semacam hewan secara cepat, saya berikan dukungan dan pujian seperlunya. Ya. Penentuan ini menjadi  semacam nilai yang bisa mendorong mereka untuk melakukan tantangan secara baik, jujur, dan bertanggung jawab.
Di usianya yang masih sangat muda inilah dorongan itu diperlukan untuk menumbuhkan kemampuan motoriknya. Saya juga menghindari memberi pujian yang berlebihan. Memberikan umpan balik yang jujur kepadanya dengan cara  lemah lembut dan mendukung, itu yang saya terapkan.

Cara lain yang ampuh untuk saya, membantu anak mengembangkan tekadnya adalah mendorong mereka melakukan hal-hal yang tidak mudah dilakukan dan memujinya karena ada inisiatif. Kalau anak saya pemalu, saya akan ajak dan mendorong dia untuk mendekati anak-anak di tempat bermain. Dalam kegugupan dan ketakutannya itu, dorongan kita diperlukan untuk menumbuhkan tekad dia agar dapat berbaur dengan teman-teman sebayanya.
 
Biarkan dia menentukan [Foto: Dok Pri]
Nah, saya juga akan memberikan  ucapan selamat kepada anak saya yang sudah melakukan hal sulit atas kerja kerasnya. Saya akan bilang, “Bagus, hebat, meski bapak tahu itu sulit untuk Abang.” Dukungan pengakuan dari kita akan menjadi tekad mereka untuk terus mau mencoba, hal tersulit sekalipun.

Keempat: Pertimbangan
Ajarkan mereka untuk memahami perasaan orang lain. Mungkin hal ini pernah dialami orang tua manapun ketika mengajak anaknya berbelanja. Kalau diajak berbelanja, Si Sulung selalu minta mainan. Kalau tidak diberi dia akan merengek-rengek.
 
Ajarkan bagaimana membuat pertimbangan [Foto: Dok Pri]
Akan tetapi, saya katakan padanya bahwa Abang perlu tahu bagaimana cara belanja yang baik dan benar. Mainan di rumah masih banyak, tidak perlu beli mainan lagi. Mainan di rumah masih bagus dan bisa dimainkan. Penjelasan yang tidak membuat dia dan saya kesal.

Ketika diajak berbelanja kembali, dia sudah tidak meminta mainan lagi. Memang perlu latihan. Seiring waktu kalimat-kalimat saya itu tadi mampu membuat dia tersenyum dan merasa lebih baik.

Kelima: Cinta
Jadilah dermawan dengan kasih sayang kita (orang tua). Orang tua cenderung berpikir bahwa anak-anak itu secara alami mencintai dan sangat murah hati dengan kasih sayang yang mereka punya. Memang benar, akan tetapi kadang cinta dan kasih sayang mereka penuh dengan sentimen makanya mereka perlu belajar peran timbal balik.
 
Biarkan kasih sayang itu mengalir [Foto: Dok Pri]
Mungkin, karena saking sibuknya setiap hari, orang tua lupa dan tidak pernah mengucapkan, “Bapak-Ibu cinta dan sayang sama Cheo dan Beryl.” Nah, hal-hal ini yang paling tidak didengar oleh anak-anak kita.
Saya dan istri membiarkan anak-anak menunjukkan cinta dan kasih sayang kepada orang tuanya dengan caranya. Untuk menumbuhkan hal ini, saya akan memeluk istri dan menciumnya ketika anak-anak berada di sekitar orang tuanya.

Saya akan bicara kepada mereka bahwa Bapak dan Ibu begitu mencintai dan menghargai kakek, nenek, om, tante, dan sepupu mereka. Jangan pernah membiarkan satu hari berlalu tanpa mengungkapkan rasa sayang kita kepada anak sendiri.

Tunjukkan cinta kita dengan cara-cara yang tak terduga. Bisa saja saya membuat makanan dengan model hewan dalam kotak sarapannya. Saya akan memperlihatkan cermin ke wajahnya saat anak saya menggaruk giginya. Saya juga akan memeluk dia tanpa perlu memberi alasan. Jangan biarkan pagi yang membuat panik dirinya dan rutinitas sore yang membuat hiruk pikuk justru membuyarkan  kasih sayang kita.

Secara praktis, saya jamin, semakin saya mengatakan, “Bapak dan Ibu mencintai kalian,” semakin banyak pula anak-anak saya mengatakan kepada kami orang tuanya, “Abang sama adek juga sayang dan cinta sama bapak dan ibu,” kembali. 

Semakin banyak pelukan dan ciuman yang saya berikan, semakin banyak pula rumah saya dipenuhi cinta dan kasih sayang. Ketika anak-anak merasa bebas mengungkapkan cinta dan sayang mereka kepada orang tuanya, kita menanam nilai-nilai yang terbesar di dalam hidupnya.