Thursday, January 18, 2018

Ini Dia Drama & Film Legenda Masa Kecil



Wuahahahah… saya ngakak dulu kalau ditanya drama atau film yang sering ditonton masa kecil. Bagaimana tidak, ini drama merupakan pelopor telenovela pertama kali hadir di TVRI. Hahaha.. Bagaimana tidak, angkatan 70-an atau 80-an, kenallah telenovela ini. Saya pikir ini telenovela abadi.  Apalagi kalau bukan, “Little Missy”.  Kalau anak-anak sekarang sih nyebutnya Telenovela.

Nah, yang tahu drama ini jadi pengen ngaca kan ya… hahaha… jadi inget umur. Ini drama memang ngehits banget di zamannya. Waktu itu, TV masih hitam putih. Bahkan, karena belum nyambung listrik, nonton TV pake AKI. Jadi, dicolokin kabel ke AKI persis kayak orang ngecas batre HP. Hahaha…
Little Missy ini ceritanya buat turun naik emosi juga. Itu kalau saya cerita sekarang. Tapi dulu, pun berlaku hal yang sama. Fans drama ini kebanyakan emak-emak yang kalau sudah nonton, sambil nyerocos. Penonton lebih jago dari pemain filmnya sendiri. Hahahaha… ngakak-ngakak saya kalau pas lagi nonton terus dengerin emak-emak pada berhosip-hosip. Aiih… kalau itu drama tayang, ramelah rumah. 


Missy ini hebat aktingnya. Nah, dia juga jadi sutradara  dan produser berhasil di Brasil. Dunia pun memujinya karena kalau melakoni peran benar-benar total. Ini salah satu tokohnya. Mungkin ada yang pernah nonton ini dan tahu tokoh lainnya? Ya, tokoh lainnya itu seperti Rudolfo.  Sayangnya, Rudolfo ini sudah menghadap Sang Illahi sekitar 7 tahun silam. Selain  aktor, Rudolfo (Marcos Paulo) ini juga sebagai seorang sutradara. 

Ada juga Tuan Baron Araruna yang kumisnya melintang, hahaha… Lucu-lucu kalau mengingat drama yang satu ini. Pemeran Ibunya Little Missy, Nyonya Candida, ternyata masih aktif hingga sekarang main film. Meski sudah tua.  Ada banyak juga telenovela yang setelah Little Missy ini lahir. Seperti Marimar, Esmeralda, juga ada Maria Cinta yang Hilang. Ah, kalau diingat-ingat, ga berasa, sudah tua. Hihihi.

Oya, Little Missy ini mampu bertahan selama tiga tahun di lho di TVRI, mulai tahun 1988 hingga 1991. Ternyata, di negara asalnya Brasil, Little Missy rupanya sudah tayang dua tahun lebih awal dari di Indonesia.  Jadi, kalau mau diingat-ingat lagi, kisah Little Missy ini bercerita tentang  cinta Missy bersama anak tuan tanah yang kaya, yaitu Baron dan Candida dengan Rudolfo, ternyata anak hasil hubungan gelap ayahnya dengan salah seorang budaknya. 

Nah, selain Little Missy juga ada drama yang benar-benar melegenda banget, Rumah Masa Depan. Rumah Masa Depan ini hadir sekitar tahun 1985. Waktu itu saya masih piyik. Sekarang sih bangkotan.

Rumah Masa Depan ini dibintangi oleh Aminah Cendrakasih. Waktu itu peran beliau sebagai Ibu Sukri. Ada pula Septian Dwicahyo sebagai Bayu, Andi Ansi menjadi Gerhana, Dedi Oetomo sebagai Pak Sukri. Tokoh yang tak kalah legend banget waktu itu Mak Wok yang diperankan oleh Wolly Sutinah. Nah, ga seru kan kalau nonton drama ga ada biang-biang keroknya. 


Di Rumah Masa Depan ini, Mieke Wijaya yang berperan sebagai Ibu Suwito-lah biang keroknya. Hobinya ngegosipin keluarga Pak Sukri dan Kepala Desa Cibeureum Kabupaten Cianjur. Mieke Wijaya orang kaya di desa tersebut.  Tapi lagunya sombong banget. Di Rumah Masa Depan ini banyak petikan pelajaran yang bisa diambil.

Yang namanya gosip akan tetap beredar dalam kehidupan, nyata atau maya. Pintar-pintar menyiasati saja. Begitu pula orang kaya sombong. Tak sedikit pula orang kaya, baik hati, dan tidak sombong. 

Oiya, ada pula tokoh Sangaji yang berkacamata dan dikenal cerdas, meski tak mengenyam bangku sekolah. Ini menjadi inspirasi saya kala itu. Meski anak desa yang hanya jualan koran dan buku, tetapi pengetahuannya luar biasa karena rajin baca. Ada satu adegan yang membuat takjub ketika Sangaji ikut lomba cerdas cermat. Sangaji sebagai sosok yang tidak bersekolah, tetapi mampu memenangkan kejuaraan tersebut. Bawaannya kalem, tenang, dan sangat bersahaja.

Dari Rumah Masa Depan, kita beralih sejenak mengenang sosok gadis kecil Jepang hidup penuh liku-liku. Apalagi kalau bukan serial Oshin. Oshin ini juga sangat membekas hingga sekarang untuk saya, kenapa? 


Oshin, sosok gadis kecil yang mau bekerja apa saja, terpenting bisa menghidupi seluruh keluarganya. Dari kerja di salah satu penjual toko beras hingga mengasuh bayi. Salutnya lagi, Oshin baru akan makan, setelah keluarga tempat dia bekerja seluruhnya sudah makan. Itupun makan dari sisa keluarga Kayo dan seadanya. 

Kisah pilu yang berhasil menguras air mata ini juga terpampang dari adegan, ketika Oshin satu per satu dengan sabar mengambil butir-butir beras  satu per satu yang jatuh, kemudian dibawa pulang ke kampung untuk dimasak dan makan bersama keluarganya. 

Akan tetapi, Oshin tetaplah Oshin kala itu,seorang gadis kecil penuh keriangan menjalani kehidupan. Saat beranjak dewasa, Oshin pun menikah dengan seorang lelaki bernama Ryuzo. Dari sinilah, Oshin dan Ryuzo membuka usaha, yaitu toko klontong, hingga akhirnya toko itu berkembang pesat dan maju.

Saya juga baru tahu sekarang ini, ternyata kisah Oshin ini satu kisah nyata seorang pedagang besar (retail) di Jepang. Ada pelajaran berharga yang bisa dicontoh, menumbuhkan sikap pantang menyerah akan berdampak positif dan nyata dalam kehidupan seseorang. 

Kita tinggalkan sejenak Oshin yang bisa buat nangis bombay yaa… Lanjut ke salah satu drama besutan  Depdikbud dan Deppen (hahaha… Deppen masih ada di zaman saya, hihihi). Ya, ada yang masih ingat tidak tentang drama seri ACI, Aku Cinta Indonesia. Hehehe… ini singkatan dari nama Amir, Cici, dan Ito. 

Nah, ketiga toko ini punya karakter sendiri-sendiri dan tentunya menjadi ciri khas di zamannya. Ketiga orang ini menjadi contoh teladan untuk teman-teman di sekolah SMP-nya kala itu. Ternyata, SMP-nya itu berlokasi di SMP Negeri 3 Depok. 

Ada satu tokoh  yang sering membuat mereka bersitegang. Tokoh antagonis yang diciptkan sang sutradara itu bernama Wati. Sosok Wati ini selain culas juga judesnya ga ketulungan, dan sangat tidak disukai teman-teman sekolahnya.

Dari serial drama ACI ini ada lho pelajaran yang bisa diambil, terutama nilai-nilai kepribadian dari seseorang (anak dan remaja). Ada nilai kerja keras, semangat bekerjasama, tanggung jawab, toleransi, saling membantu, tentunya juga nilai sportif dan bersaing sehat. 

Nah, nilai-nilai seperti itu sekarang acapkali ditinggalkan karena demi kepentingan pribadi. Oleh karenanya, nonton drama atau film juga tak asal nonton. Tetapi, bagaimana ada pesan yang bisa diambil dan dijalankan untuk kehidupan.

Hmm… apalagi ya kira-kira drama atau film yang ngehitz di zaman saya lagi? Oya, ada film, “Hoom pimpah alaihum gambreng…. Unyil kucing!” Ini mah film sepanjang zaman saya pikir. Sampai sekarang pun masih diputar dengan beragam versi. Si Unyil sosok yang baik hati, memberikan nilai-nilai kebijaksanaan dalam pergaulan.


Tokoh-tokoh di film Si Unyil juga beragam, ada Pak Ogah, yang kalau dimintai tolong, selalu bilang, “Cepek dulu doong.” Ada pula Usro, dengan kepala plontos licinnya, Mei Lan, Bu Bariah, Pak Raden, Ucrit, dan masih banyak lagi. Film abadi nih Unyil. Tidak membosankan, anak-anak saya juga suka lihatnya.

Ada yang masih ingat drama serial Losmen? Hahaha… saya paling hapal dengan tokoh yang bernama Bu Broto. Hahahah...Ada juga tokoh Mba Pur, diperankan  oleh Ida Leman, Mang Udel, juga da Dewi Yull berperan sebagai Jeng Sri. 

Hahaha… Losmen sebagai bentuk  drama yang memang asli Indonesia punya dan tayang di TVRI pada 1980-an. Bercerita tentang Pak Broto yang sudah pensiun dan buka usaha penginapan (Losmen) di Yogya untuk mengisi hari tuanya. Seru ceritanya. Mau lihat drama ini lagi ah, kangen ke Jaman old. Hahaha… nah ga tau ya kalo generasi sekarang. Bolehlah berbagi, jangan-jangan saya juga nonton drama dan film generasi saat ini. Hihihi. 

Tetapi, sekarang-sekarang ini saya tidak pernah lagi nonton televisi. Kebanyakan nonton streaming Youtube. Jadi, ga begitu paham drama-drama sekarang yang beredar di jagat pertelevisian. 

Tambahin yaa kalau kita seumuran... hahaha... :)



Wednesday, January 17, 2018

Kenali dan Cegah Pelecehan Anak, Orang Tua Waspadalah!



 
Ketakutan, membuat mental anak terganggu [Foto: Dok https://newsmedia.tasnimnews.com]
Indonesia, menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia, berdasarkan data, menemukan  218 kasus kekerasan seksual anak di 2015. Semenatara, 2016 KPAI mencatat ada 120 kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak dan pada 2017 ada 116 kasus. 

Pelecehan anak lebih dari sekadar memar atau patah tulang.Sementara itu, pelecehan fisik sebagai salah satu bentuk pelecehan anak yang punya tanda-tanda paling mudah terlihat. Jenis pelecehan lainnya seperti pelecehan emosional atau pengabaian anak-anak, juga meninggalkan luka dalam dan lama. Beberapa tanda pelecehan anak tidak bisa dibedakan satu sama lain.

Bagaimanapun, dengan mempelajari jenis pelecehan secara umum, kita dapat membuat perubahan besar dalam kehidupan seorang anak. Semakin dini seorang anak yang dilecehkan mendapat pertolongan, maka semakin besar peluang untuk terhindar dan pulih dari pelecehan itu. Pelajari tanda-tanda dan gejala pelecehan anak-anak. Mari kita bantu mereka keluar dari masalah ini.

Faktor Risiko Pengabaian dan Pelecehan Anak
Pelecehan dan pengabaian terjadi di berbagai kalangan keluarga. Bahkan di dalam keluarga yang terkesan bahagia, anak-anak masih berisiko tinggi dalam situasi tertentu. Ini risiko yang memperbesar peluang pengabaian dan pelecehan pada anak.

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)
Menyaksikan KDRT menjadi hal yang sangat mengerikan dan mengganggu mental anak-anak. Bahkan, jika seorang ibu berbuat yang terbaik untuk melindungi anak-anaknya dan menjaganya dari pelecehan secara fisik, situasinya masih sangat mengerikan. Jika Anda berada dalam hubungan yang penuh dengan kekerasan, keluar dari situasi tersebut menjadi jalan terbaik untuk melindungi anak-anak.

Penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol
Hidup bersama dengan orang yang kecanduan alkohol sangat sulit untuk anak-anak. Anak-anak dengan mudah dapat dilecehkan dan diabaikan. Orang tua yang suka mabuk tidak mampu menjaga anak-anak mereka.

Gangguan mental yang belum pulih
Orang tua yang menderita depresi, gangguan ansietas (cepat panik), atau gangguan mental lainnya, kesulitan merawat diri sendiri, apalagi anak-anaknya. Orang tua yang sakit mental atau mengalami trauma biasanya menjaga jarak terhadap anak-anaknya, atau cepat marah tanpa alasan jelas.

Stres dan kemiskinan
Membesarkan anak perlu biaya besar. Kondisi keuangan yang minim dapat menimbulkan stres pada orang tua. Hal itu akan berdampak pada hubungan mereka dengan anak-anaknya.

Tanda & Gejala Pelecehan Anak
Meskipun tanda-tanda ini tak selalu menunjukkan anak-anak dilecehkan, tetapi tanda-tanda ini dapat membantu orang dewasa mengenalinya. Kemungkinan pelecehan dapat diselidiki jika anak-anak menunjukkan beberapa gejala atau salah satu gejala di bawah ini.

1.  Pelecehan Seksual
Pelececahan seksual menjadi pelecehan yang tersembunyi dan rumit. Penting untuk diketahui, bahwa pelelcehan seksual tidak selalu melibatkan kontak tubuh. Exposing (memaparkan) anak ke situasi atau organ seksual, meski tidak ada sentuhan. Pelecehan seksual biasanya dilakukan oleh orang-orang yang dikenal sang anak-kebanyakan kerabat dekat. Anehnya, berlawanan dengan keyakinan kita selama ini, yang menganggap pelecehan seksual hanya terjadi pada anak perempuan, ternyata pelecehan seksual juga terjadi pada anak laki-laki.
 
Orang tua harus mendampingi anak [Foto: Dok https://pbs.twimg.com]
Sesungguhnya, kasus pelecehan seksual pada anak laki-laki banyak yang tidak dilaporkan karena malu. Selain kerusakan fisik yang disebabkan pelecehan seksual, komponen emosional  juga kuat. Anak-anak yang dilecehkan secara seksual merasa malu dan bersalah. Mereka mungkin ikut merasa bertanggung jawab terhadap terjadinya pelecehan tersebut. Kondisi itu dapat memicu kebencian terhadap diri sendiri dan problem seksual ketika mereka tumbuh dewasa.

2.  Pelecehan Fisik
Pelecehan secara fisik meliputi melukai atau membahayakan anak secara fisik. Misal, dengan menerapkan hukuman secara fisik (memukul anak dengan ikat pinggang) kepada anak yang tidak sesuai dengan kondisi fisik atau usia sang anak. Banyak orang tua dan pengasuh anak mempertahankan tindakan mereka sebagai bentuk penerapan kedisiplinan. Tetap, ada perbedaan besara antara penggunaan hukuman secara fisik dengan disiplin dan pelecehan fisik. Tujuan membauat anak-anak disiplin untuk mengajarkan mereka mana yang benar dan salah. Bukan membuat mereka hidup dalam kekhawatiran. Tanda-tanda pelecehan fisik sebagai berikut.
·        Luka memar atau luka yang terjadi berulang tetapi tidak bisa dijelaskan.
·        Menolak menjelaskan luka yang terjadi.
·        Memakai pakaian yang tidak lazim, misal memakai pakaian serba tertutup atau lengan panjang, bahkan di hari panas.
·        Kepala botak, baik sebagian atau seluruh.
·        Takut menjalani pemeriksaan medis.
·        Kecenderungan mencederai diri sendiri.
·        Sering bersikap agresi (menyerang terhadap teman-temannya).
·        Khawatir terkena kontak fisik-menarik diri jika disentuh.
·        Mengakui bahwa mereka dihukum, tetapi hukuman berlebihan (seperti seorang anak dipukul setiap malam agar mau belajar).
·        Merasa khawatir tersangka pelaku pelecehan dihubungii=.

3.   Pelecehan emosional
“Tongkat dan batu mungkin bisa mematahkan tulangku, tapi tidak akan pernah melukai hatiku.” Pepatah lama itu bertolak belakang dengan pelecehan emosional terhadap anak yang dapat merusak kesehatan mental atau perkembangan sosialnya, meninggalkan luka psikologis jangka panjang. Berikut  ini contoh pelecehan anak secara emosional:
·        Tindakan meremehkan, mempermalukan, dan menghina anak secara kontinu.
·        Memanggil dengan julukan yang tak disukai dan membuat perbandingan negatif dengan yang lain.
·        Mengatakan kepada anak bahwa ia “Tidak baik”, “tidak bermanfaat”, “buruk”, atau “salah”.
·        Sering berteriak, mengancam, atau menghardik.

Sementara, tanda –tanda anak yang mengalami pelecehan emosional seperti:
·        Kelambatan perkembangan emosional, mental, dan fisik.
·        Gangguan bicara secara mendadak.
·        Merasa rendah diri  berkesinambungan (saya bego, buruk, tak berharga, dan sebagainya).
·        Bereaksi berlebihan terhadap kesalahan.
·        Sangat mengkhawatirkan setiap situasi baru.
·        Berespons tidak sesuai terhadap segala perlakuan (saya memang   berhak menerimanya).
·        Perilaku neurotis (sering menggerakkan anggota tubuhnya, memilin rambut, mencederai diri sendiri).
·        Bertindak agresif atau sebaliknya.

4.   Pengabaiaan anak atau menyia-nyiakan anak
Pengabaian anak merupakan jenis pelecehan anak yang paling umum. Hal itu akan menyebabkan kegagalan dalam menyediakan kebutuhan dasar anak, seperti makanan, pakaian, sarana kesehatan, atau pengawasan yagn cukup. Pengabaian anak tidak mudah untuk ditandai.

Terkadang, orang tua secara mental maupun fisik jadi tidak mempu merawat seorang anak, seperti mengalami liuka serius, depresi yang belum disembuhkan antau ansietas. Lain waktu, penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan mungkin secara serius mengganggu kemampuan untuk mempertahankan keamanan seorang anak. Tanda-tanda anak yang diabaikan atau disia-siakan, seperti berikut.
·        Kelaparan
·        Kebersihan tak terjaga
·        Kelelahan
·        Baju kekecilan atau robek
·        Masalah medis
·        Tidak ada hubungan sosial
·        Rakus
·        Cenderung bersikap merusak

Biasanya, seorang anak menjadi subjek dari kombinasi beragam jenis pelecehan berbeda. Mungkin juga seorang anak tidak menunjukkan gejala seperti yang sudah disebutkan dan menyembunyikan apa yang terjadi.

Anak Dilindungi Keluarga, Negara, dan Masyarakat
Landasan hukum UUD Negara Republik Indonesia Pasal 28 Ayat 2: “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.”
 
Bekali anak dengan pengetahuan untuk menghindar [Foto: Dok https://www.radarhukum.com]
UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 1 ayat 2, “Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.”

Seluruh orang tua tentu seiya sekata dengan pendapat  Bertrand  Russel berikut, “ Pada anak-anak terletak masa depan kita semua,” karena kita berada di perjalanan panjang kehidupan sebelum maut menjemput.

Anak-anak kita itu dilindungi keluarga, negara, dan masyarakat lho ya. Jadi, jangan pernah menjadikan anak-anak kita sebagai objek kesalahan dan pelampiasan marah orang tua. Cara berpikir orang tua yang menganggap anak adalah milik ortunya, jadi ortu seenak-enaknya memperlakukan, itu salah!

Mungkin, orang tua masih membuat penafsiran bahwa anak itu sebagai benda atau barang sehingga orang tua merasa bebas berlakuku apapun karena merasa itu hak miliknya. NO!

Mengacu pada Wiliam Stern ada syarat hukuman paedagogis terhadap seorang anak, yaitu:
·        Tiap-tiap hukuman semestinya dapat dipertanggungjawabkan: hukuman tak boleh dilakukan sewenang-wenang.
·        Hukuman itu sedapat-dapatnya bersifat memperbaiki: hukuman harus memiliki nilai pendidikan.
·        Hukuman tak boleh mengancam apalagi balas dendam (hilangkan terlebih dahulu kemarahan).
·        Hukuman dilakukan dalam keadaan tidak emosi/marah.
·        Hukuman harus adil.
·        Sebaiknya hukuman disertai kasih sayang.
·        Ada efek jera bagi anak didik.

Salah seorang perempuan aktivis Eglantyne Jebb lantas mengembangkan butir-butir tentang hak anak pada 1923 yang diadopsi menjadi Save the Children Fund International Union. Isinya antara lain:
1.   Anak harus dilindungi di luar dari segala pertimbangan ras, kebangsaan, dan kepercayaan.
2.   Anak harus dipelihara dengan tetap menghargai keutuhan keluarga.
3.   Anak harus disediakan sarana yang diperlukan untuk perkembangan secara normal, baik material, moral, dan spiritual.
4.   Anak yang lapar harus diberi makan, anak yang sakit harus dirawat, anak cacat mental atau cacat tubuh harus dididik, anak yatim piatu dan anak terlantar diurus/diberi pemahaman.
5.   Anaklah yang pertama-tama mendapat bantuan atau pertolongan pada saat terjadi kesengsaraan.
6.   Anak harus menikmati dan sepenuhnya mendapat manfaat dari program kesejahteraan dan jaminan sosial, mendapat pelatihan agar pada saat diperlukan nanti dapat dipergunakan untuk mencari nafkah, serta harus mendapat perlindungan dari segala bentuk eksploitasi.
7.   Anak harus diasuh dan dididik dengan suatu pemahaman bahwa bakatnya dibutuhkan untuk pengabdian kepada sesama umat.
Beragam tuntutan yang meminta agar ada perhatian khusus pada anak, membuahkan hasil dengan memasukkan hak-hak anak dalam Piagam Deklarasi  Universal Hak Asasi Manusia pada 10 Desember 1948.

31 Hak Anak dalam Konvensi Hak Anak
Hak anak ini telah dirumuskan dan disahkan oleh pemerintah kita dan penerapannya diakui dunia internasional. Berikut 31 Hak Anak ini:
1.   Hak untuk kelangsungan hidup dan berkembang.
2.   Hak untuk mendapatkan nama.
3.   Hak untuk mendapatkan kewarganegaraan.
4.   Hak untuk mendapatkan identitas.
5.   Hak untuk mendapatkan standar hidup yang layak.
6.   Hak untuk mendapatkan standar kesehatan yang paling tinggi.
7.   Hak untuk mendapatkan perlindungan khusus dalam konflik bersenjata.
8.   Hak  untuk mendapatkan perlindungan khusus jika mengalami konflik hukum.
9.   Hak untuk mendapatkan perlindungan khusus jika mengalami eksploitasi sebagai pekerja anak.
10.               Hak untuk mendapatkan perlindungan khusus jika mengalami eksploitasi penyalahgunaan obat-obatan.
11.               Hak untuk mendapatkan perlindungan hukum jika mengalami eksploitasi seksual dan penyalahgunaan seksual.
12.               Hak untuk mendapatkan perlindungan khusus dari penculikan, penjualan, dan perdagangan anak-anak.
13.               Hak untuk mendapatkan perlindungan khusus jika mengalamai eksploitasi sebagai anggota kelompok minoritas atau masyarakat adat.
14.               Hak untuk hidup dengan orang tua.
15.               Hak untuk tetap berhubungan dengan orang tua bila dipisahkan dengan salah satu orang tua.
16.               Hak untuk mendapatkan pelatihan keterampilan.
17.               Hak untuk berekreasi.
18.               Ha untuk bermain.
19.               Hak untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan seni dan budaya.
20.               Hak untuk mendapatkan perlindungan khusus dalam situasi genting.
21.               Hak untuk mendapatkan perlindungan khusus sebagai pengungsi.
22.               Hak untuk bebas beragama.
23.               Hak untuk  bebas berserikat.
24.               Hak untuk bebas berkumpul secara damai.
25.               Hak untuk mendapatkan informasi dari berbagai sumber.
26.               Hak untuk mendapatkan  perlindungan pribadi.
27.               Hak untuk mendapatkan perlindungan dari siksaan.
28.               Hak untuk mendapatkan perlindungan dari perlakuan kejam, hukuman, dan perlakuan tidak manusiawi.
29.               Hak untuk mendapatkan perlindungan dari penagkapan yang sewenang-wenang.
30.               Hak untuk mendapatkan perlindungan dari perampasan kebebasan.
31.               Hak  untuk mendapatkan pendidikan dasar secara cuma-Cuma.

Dunia yang semakin bergerak cepat dan maju, menuntu kita para orang tua berlaku waspada terhadap anak dari bahaya-bahaya yang mengancam keselamatan jiwa raganya.
 
Anak perempuan sering mengalami kekerasn [Foto: Dok http://images6.fanpop.com]
Sebagai orang tua, sudah semestinya tidak mengabaikan anak dari keluarga. Pentingnya pendidikan dan penanaman nilai-nilai agama sejak dini untuk menangkal hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan penanaman agama sejak dini, mental spiritual mereka jadi terbentuk. Sebagai orang tua juga mesti terbuka dalam bicara kepada anak. Jangan pernah menutup-nutupi sesuatu. Biarkan mereka tahu dan mengambil yang baik membuang yang buruk. Orang tua juga mesti memberikan pengajaran kewaspadaan kepada anak-anak. Bagaimana mereka belajar untuk tidak akrab kepada orang yang tidak dikenal. Nah, sebagai orang tua, kesabaran ekstralah yang perlu diperbanyak. Semoga.