Sunday, January 21, 2018

Sampai Kapan Mau Ngeblog? Ngeblog Itu Bekerja untuk Keabadian


 
Sampai kapan mau ngeblog? [Foto: Dok https://prod-marketing-greenhouse.global.ssl.fastly.net]
Mau sampai kapan ngeblog?  Ajee gileee… anti mainstream ini kalau saya jawabnya, “Sebelum bendera kuning berkibar”, mungkin yang lainnya akan bilang, selagi platform ngeblog masih gratis, bisa juga sebelum sangkakala ditiup Israfil. Kalau raga belum membujur kaku, teruslah ngeblog. Kalau Pramudya Ananta Tur bilang, “Menulis itu bekerja untuk keabadian,” begitu pulalah halnya ngeblog. Ngeblog buat saya  itu bekerja untuk keabadian.

Kan, di blog juga kita menulis. Menulis apa yang dilihat dan menulis apa yang didengar. Tak melulu menulis review dan job-job undangan (meski ini "kadang" jadi tuntutan, yekan!?, hihihi).

Seperti kebanyakan, blogging bukan secangkir teh bagi setiap orang. Tetapi, kalau orang tahu omset di blogsfer, justru akan mengejutkan para blogger yang melempar tulisan setiap hari. Mungkin, kita akan secara sarkastik berpikir, “Iya ya!” Saya ingin menjadi salah satu yang berhenti ngeblog.”

Akan tetapi, ketahuilah, kita juga bisa melakukan sesuatu lain dari pada yang lain serta jauh lebih menyenangkan untuk diri secara pribadi. Mungkin ya, ini jadi seperti ajakan untuk bertindak eksodus massal dari blogging. Jujur saja, blogger masih akan terus dicari. Dicari oleh siapapun itu untuk kepentingan yang saling menguntungkan kedua belah pihak.
Memang, blogging itu tak semua orang melakukan. Juga tidak semua orang perlu blog. Adakalanya kita harus berhenti ngeblog dan istirahat dari blogging.

Berhenti blogging itu sama saja seperti kapan kita tidak berkomunikasi. Hal ini yang membuat saya berpikir. Perlu memang, artikel  atau bahan bacaan “Bagaimana Kita Tahu Kapan Berhenti Ngeblog?” Hal ini untuk memahami, bahwa blogging tidak untuk semua orang dan kita juga tak perlu masuk blog kalau kita tidak menginginkannya.

Perlu disesuaikan juga, ada kalanya ngeblog dan ada saatnya berhenti ngeblog. Apalagi kalau ngeblog mengganggu sisa hidup kalian. Ada saatnya juga kita tidak harus berhenti ngeblog. 
Ngeblog ini hanya perlu sedikit meluangkan waktu untuk menghadapi kehidupan kita. Kalau saya pribadi punya tip untuk “Bagaimana Mengetahui Kapan Tidak Ngeblog” lagi.

Saya akan berhenti ngeblog kalau tidak punya tujuan. Jujur saja, kita tak usah ngeblog kalau tidak mau, as simple as that. Dan jika kita tahu apa yagn harus diisi dalam blog. Kalau blog kita tak punya tujuan, menghentikan blogging jauh lebih baik.

Bisa juga, tujuan blog kita tidak harus spesifik tapi memang itu diperlukan. Tujuan blog kita, itulah yang menjadikan alasan kita ngeblog, definisi/pengertian blog kita, dan mengapa pembaca kita mesti kembali membaca blog yang kita miliki.
 
Ngebloglah selagi belum ada UU anti ngeblog [Foto: Dokhttps://cdn.igeeksblog.com]
Kalau kita ngeblog mengenai aktivitas dan urusan kehidupan sehari-hari, itulah tujuan blog kita. Dan masih banyak lagi. Kalau kita ngeblog karena memenuhi beberapa kebutuhan rohani yang cukup dalam untuk mengekspresikan diri dan kita bahagia, dan perasaan itu bertahan lebih dari tiga bulan, berarti kita punya tujuan blogging, maka teruskan saja blogging kita.

Blogging yang tidak jelas, blog kosong, hanya karena ada hubungan dan dipaksa bukan keinginan, atau karena orang lain melakukan jadi ikut-ikutan, hal itu tidak berguna dan buang-buang waktu saja, lebih baik blogging kita hentikan.

Bisa jadi juga berhentinya kita karena tidak punya waktu. Kalau waktu kita terbatas dan tidak pernah bertemu waktu yang tepat, jangan kita paksakan. Kita tidak perlu buat postingan setiap hari. Tak perlu juga memposting sepuluh kali dalam sehari.

Waktu ngeblog, itu kita sendiri yang menentukan. Kendalikan waktu kita dan jika merasa krisis waktu, lebih baik berhenti ngeblog. Katakan saja, “Tidak” kalau memang sudah berkomitmen untuk  berhenti.

Ngeblog juga bukan untuk semua orang dan ketika kita sudah mengalami banyak hal atau berbenturan sama hal lain, menghentikan blogging tak salah. Pesan saya, jangan ngeblog kalau kita tidak bisa mengikuti sisa hidup yang akan kita jalani. 

Sudah saya tuliskan bahwa ngeblog tak harus setiap hari. Ada ribuan berita dan juga artikel yang mungkin ini kita tulis di blog, tetapi terkadang kita hanya mampu menulis satu artikel, itu pun sudah keteteran. Kita bisa katakan “stop” karena sudah kehabisan waktu dan energi untuk berpikir.

Tidak semua hal harus kita bicarakan. Jadi, dengan memilih topik yang benar-benar penting untuk saya dan pembaca blog saya, makanya saya ngeblog secara bijak dan punya tujuan. Saya tidak berusaha atau ngoyo mendapatkan setiap  gram informasi dari setiap artikel yang dipublikasikan di blog saya. Bagi saya, kualitas di atas kuantitas!

Jangan pernah mengatakan bahwa kita kehabisan hal-hal orisinil untuk dituliskan. Jika kita mendapati diri kita memblokir orang lain dan tidak menulis sesuatu yang orisinil, lebih baik berhenti ngeblog. Penting bagi kita menyuarakan suara sendiri dan mengatakan apa yang ingin kita katakan.

Bisa saja kita mengutip  atau menggunakan kata-kata orang lain untuk melihat point of view (sudut pandang) ketika memberi komentar, tapi usahakan tidak menggaungkan apa yang sedang orang lain bicarakan. Biarkan blog kita menjadi kita dan suara kita. Kalau dirasa ada percampuran dan menggaungkan yang tidak-tidak, berhenti ngeblog.

Blogging itu mode untuk orang-orang yang ngeblog, mau itu alasan jangka pendek atau sama-samar sekalipun. Ngeblog perlu waktu, energi, komitmen, disiplin, keterampilan organisasi, kemampuan berkomunikasi, dan kemampuan riset serta menulis.

Karena kita mengerti cara kerja ngeblog maka kita menikmati blogging. Memang, sekali lagi, ini bukan untuk semua orang. kalau kita tidak punya  kepribadian dan rasa memelihara blog, maka jangan ngeblog. Lebih baik melakukan sesuatu yang lain dan lebih bermanfaat.

Jangan pernah menulis di blog saat lagi emosi. Saat seseorang menyerang jiwa dan pikiran kita, kecenderungan orang akan menyerang balik. Berhenti sejenak dari aktivitas menulis dan nyinyir di media sosial. Karena itu akan jadi bumerang untuk diri kita. Jangan menulis apapun di blog dan medsos kita. 

Pummel keyboard saja, tapi jangan lakukan dan posting di blog. Simpan saja reaksi yang terjadi dalam diri. Jauhkan memikirkan hal-hal yang tidak penting dan merusak pikiran kita. Intinya, jangan ngeblog kalau emosi jiwa tidak tertata.  Menghindari kata-kata kasar dalam blog ketika emosi itu jauh lebih baik.

Keberlangsungan kita ngeblog itu ada di diri kita sendiri. Perlu kita ketahui bahwa, ada beberapa tahapan dalam hidup kita ketia blogging bukan jadi pilihan yang baik. Begitu kita memulai satu blog, apakah kita harus mempertahankan selamanya? Ada sih yang melakukannya, tetapi kebanyakan orang tidak.

Blog kita itu semacam titik acuan dalam hidup ketika kita bisa berbagi pendapat dan pengetahuan dalam kehidupan kita. Terkadang, kehidupan  akan diprioritaskan di blog kita, lain waktu blog kita yang akan diprioritaskan dalam hidup. Kita mesti menemukan keseimbangan di antara keduanya. Tetapi, kalau tidak bisa lebih baik berhenti ngeblog. Kita tidak harus  terbawa arus atau ikut-ikut arus. Perlu juga kita tahu bahwa tidak semua blog bertahan selamanya. Blog berevolusi dari waktu ke waktu.

Ketika keputusan berhenti blogging sudah kita ambil, semakin kita sering mempublikasin untuk berhenti, semakin sulit untuk kembali kalau kita kembali memilih.

Jangan ngeblog karena teman juga ngeblog. Hanya karena teman atau orang lain ngeblog , terus kita ikut-ikutan ngeblog. Tumbuhkan passion, itu yang penting. Kalau ingin melakukannya, lakukan karena kita ingin melakukannya. Lakukan karena memang kita punya sesuatu untuk dibilang bahwa kita suka menulis.

Jangan mengintimidasi, memaksakan, apalagi mengkooptasi ke blog kita mengenai topik tertentu. Kitalah yang memilih blog kita. Kita tak perlu ngeblog mengenai satu hal karena orang lain (tidak ikut-ikutan latah). Kita tidak perlu ngeblog karena merasa ditantang atau tertantang. Jangan biarkan komentator atau blogger lain menekan dan memaksa kita untuk menuruti kemauannya agar kita menulis maunya dia.

Saya yakin, ada banyak blogger yang dapat memompa semangat ngeblog dan memberikan hal-hal positif. Ada banyak trafik berlalu-lalang di blog mereka, sebut saja Teh Ani Berta, Mba Wardah Fajri, Mas Satto, Mba Tanti Amelia, Buncha Elisa Koraag, Kang Arul, Bang Udin, Mas Dede Ariyanto, Kang Ali Muakhir, Mba Ety Budiharjo, Teh Liswanti Pertiwi, Petualang Cantik Mba Lita Chan Lai, Mas Dwi Wahyudi, dan masih banyak lainnya.

Kalau kita tidak ingin main game, jangan lakukan, semua itu pilihan kita.Tidak pula ngeblog tentang hal-hal yang kita tidak bisa memberi bukti. Kita bisa tanya ke beragam sumber dan banyak acuan. Jangan pernah kita tidak mengetahuinya kecuali kita bisa memberikan bukti apa yang kita tuliskan di dalam blog. Kalau salah pun kita bersedia meminta maaf.

Blog menjadi sumber berita, tetapi tidak semua blog jadi sumber berita yang bisa dipercaya. Tidak semua sumber pula bisa diandalkan. Mengecek sumber itu bagi saya sangat penting. Periksa sumber yang kita pakai sebelum membuat klaim, apakah klaim yang kita buat di blog itu benar atau salah berdasarkan sumber itu tadi.

Tidak menyebarkan rumor dan jangan berbohog. Veriikasi kapanpun kita bisa dan tidak bisa. Memberitahu pembaca kita tentang keraguan atau jangan berbagi informasi sama sekali.

Saya akan berhenti ngeblog kalau tidak ada pengembalian investasi. Begini, ngeblog itu sama seperti kita berinvestasi. Saya akan skip ketika blogging yang saya lakukan tidak ada sama sekali yang diperoleh (bukan materialistis). Menghentikan blogging ketika investasi kita dalam blogging tidak kembali. Jika tidak merasa baik, apalagi kita sudah menghabiskan waktu dan energi dari hal-hal yang “lebih baik” dan lebih penting, mending berhenti ngomong (blogging).

Kalau blogging kita menghabiskan lebih banyak waktu dan energi dibanding penghasilan, menghentikan blogging tak ada salahnya. Kita bisa menemukan cara lain menghasilkan uang.

Tidak pula ngeblog membahayakan keselamatan kita. Jangan mengambil karya orang lain. Jangan pula biarkan orang lain menuri hasil karya kita. Jangan melakukan spam dan komentar spam. Tidak memberikan sesuatu di blog yang dapat mengancam keberlangsungan diri berekspresi dan ujung-ujungnya bui.

Berhati-hatilah saat kita melakukan blogging, apalagi ketika kita membuat tulisan melawan atasan atau rekan kita lainnya. Blogging bisa berbahaya, karena kata bisa dijadikan senjata. Jaga dan pertahankan privasi kita, jaga juga kata-kata kita.

Bosan melakukan blogging, berhenti ngeblog. Kalau kita bosan dengan ngeblog, atau bosan dengan apa yang sedang kita mainkan atau tulisan blog kita membuat kita juga bosan, otomatis akan membuat pembaca kita juga bosan. Menghentikan blogging lebih baik dan menemukan hal  lain yang mesti dilakukan, jauh lebih baik.

Ngeblog itu passion [Foto: Dok https://novanews19.files.wordpress.com]
Perlu kita ingat, blogging itu untuk semua orang, tetapi tidak semua orang harus ngeblog. Sampai kapan mau ngeblog? Sampai bosan! Itu saya.

Mau terus ngeblog, ini tip saya.

1.        Teruslah dan cintailah menulis
Menulis itu bekerja untuk keabadian (PAT). Memberitakan kebenaran bukan kebohongan. Menuangkan kreativitas tanpa batas. Banyak blogger sukses akan memberitahu kita, satu-satunya orang yang layak ditulis itu diri kita sendiri. Mulailah dengan menulis diri sendiri.

2.  Interaksi
Blogging itu identik dengan interaksi. Kalau mau bicara dengan orang, berinteraksilah. Blogger sukses itu sering berinteraksi dengan pembacanya. Kalau kita tidak ingin bicara kepada orang lain, tulisah sebuah buku.

3. Sediakan waktu
Blogging itu apa yang saya bilang praktik mengintensifkan waktu. Banyak jam yang harus  kita kasih di balik tuts-tuts komputer untuk memastikan kesuksesan yang akan kita raih. Kalau mau jadi ahlinya, kita mesti melepaskan pantat kita dan melakukan banyak hal (tidak duduk diam maksudnya).

4. Menggali ide
Blog sukses itu membuat banyak hal menarik dengan mengenalkan topik baru bagi pembaca agar pembaca juga bisa berkomentar. Benar adanya, kalau tidak ada topik baru, blog akan sepi. Kita ini hidup di dunia dengan stimulus yang sangat tinggi. Konten yang baru dan menarik itu penting.

5. Amankan Basis Pustaka Kita
Membaca itu kunci untuk memonetisasi blog kita agar sukses. Memang, perlu waktu, tetapi kalau kita aktif dalam jangka satu tahun terlihat siapa pembaca blog kita.

6. Blogger Mesti Berkulit Tebal
Hubungannya apa antara kulit dengan blog? Blogger dapat menghadapi segala hal penyalahgunaan. Anonimitas memberikan orang topeng dan kita memberi bola untuk dilemparkan, baik lemparan penghinaan maupun kebaikan tanpa melihat dampak fisik dan sosial orang tersebut.
Seorang blogger mesti punya kulit keras seperti badak, tidak tipis seperti Donald Trumph. Kalau kita tidak tahan panas bekerj dengan banyak kompor, lebih baik kita keluar dari dapur.

7. Tidak Bosanan
Blogger bosanan? Alamat gagal terus menghampiri. Bosan itu seperti orang kena flu, ketika kita buka mulut, hal itu langsung menginfeksi semua orang di sekitar kita. Buang bosan, timbulkan semangat dan keras kemauan.

8. Hilangkan Obsesi Statistik
Ya, kalau kita ngeblog mikirin statistik pengunjung saja, down ngeblog bisa saja terjadi. Saya ngeblog let it flow saja. Saya tidak pernah memikirkan berapa Domain Authority (DA), berapa Page Authority (PA), berapa jumlah page views (PV) saya. Biarkan  mengalir dengan sendirinya. Terpenting saya berusaha menyajikan konten-konten yang bermanfaat. Intinya, jangan lupa berbagi tulisan kita di channel media sosial yang kita punya, sudah itu saja untuk saya. DA, PA, PV, itu bisa kita maintain sembari jalan. Saya mah ngeblog ya ngeblog aja.  

9. Blogging Tidak Juga Karena Uang
Dapat uang dari ngeblog, saya anggap itu bonus bukan hal utama. Kalau kita berpikir  bahwa “Saya ngeblog agar menghasilkan uang”, itu sah-sah saja. Tetapi, apa yang kita hasilkan dari tulisan blog, semata-mata semuanya karena uang. Tulisan blog tidak orisinal. Banyak review produk dan event. Sadar atau tidak sadar sih. Ngeblog karena uang, bagi saya itu pengecualian.

10. Fokus
Kehilangan fokus, artinya kita membiarkan  pembaca blog kita pergi. Kalau blog kita tentang masakan, fokuslah kepada itu.

11. Blogging Mempercantik Tulisan Kita
Blogging itu bijaksana. Kita punya kekuatan untuk mengomunikasikan pikiran dan gagasan kita kepada pembaca. Tulisan yang bagus di blog perlu waktu. Teruslah menulis hingga kita menemukan ritme dan pola penulisan yang  kita mau.  


12. Ukur Tenaga
Setiap blogger pernah mengalami kelelahan dan ujung-ujungnya jatuh sakit. Nah, sakit yang diderita terkadang butuh biaya lebih dari yang diperoleh. Mengukur tenaga dan kemampuan finansial juga sangat penting untuk seorang blogger. Tak perlu ngoyo setiap event disambangi. Jadi terkesan memaksakan diri, selow saja. Setelah diberi waktu “istirahat sejenak” kita bisa kembali lagi untuk memulai dan mulai berhitung.

13. Gencar Memasarkan
Hal ini berlaku untuk sebagian blogger. Ada beberapa blogger yang punya tujuan blognya sebagai alat promosi bisnis. Sah-sah saja. Pemasaran itu gampang-gampang susah juga keterampilan yang memang sulit dipelajari. Boleh jadi, gencar pemasaran perlu dilakukan untuk blog kita agar orang tahu. Rezeki itu bisa datang dari mana saja, bukan?

14. Cari Niche Blog yang Jarang
Kalau kita buat blog yang sudah banyak host/pemainnya, bisa jadi peluang kita kecil dan tipis. Buat blog yang jarang orang punya dan khusus.

15. Buat Visual Tulisan
Visual tulisan di blog itu bisa menarik pembaca seperti kunang-kunang di malam hari. Foto yang eye catching di blog kita, bisa jadi dikunjungi para pebisnis (siapa tahu, kan). Perlu pula membuat infografis.

Jadi, blogging yang sukses itu punya banyak komponen dan bisa sangat sulit kalau kita mau memenuhi seluruhnya. Perlahan-lahan tapi pasti.

Saturday, January 20, 2018

8 Cara Mencintai Lingkungan Tempat Kita Tinggal


Hijau itu menyejukkan [Foto: Dok https://www.safetykart.com/]
Yes, dunia ini tempat tinggal seluruh makhluk. Tempat hamparan rezeki paling berlimpah, bumi. Kalau dilihat-lihat, baca berita, atau beberapa grup share, beberapa wilayah di belahan ujung dunia terjadi kekeringan. Kesulitan sumber pangan, bahkan  antri makan di tengah terik panas.

Kekhawatiran saya pun semakin terjawab tatkala banyak hutan-hutan dibalak. Semata-mata untuk memenuhi isi perut. Tetapi, pembalakan liar yang terjadi dan tak bertanggung jawab yang dapat menghancurkan ekosistem hewan dan tumbuhan.

Keprihatinan saya terhadap lingkungan sebenarnya sudah sejak kecil. Saat usia delapan atau sembilan tahun, melihat plastik di tanah yang tak hancur dalam jangka waktu lama. Bakteri tak mampu mendegradasi (menghancurkan). Begitu pula dengan styrofoam. Selain tak terdegradasi, juga berbahaya untuk masa depan bumi.

Penghentian penggunaan styrofoam pun sudah mulai digalakkan, salah satunya pemerintah Provinsi Jawa Barat. Pemerintah setempat telah melarang penggunaan bahan tersebut sebagai wadah atau tempat makanan. Karena  dapat memicu timbulnya kanker.

Saya pribadi masih bergairah untuk  terus menjaga dan merawat lingkungan tempat tingga saya. Juga untuk kenikmatan generasi penerus dunia. Merawat lingkungan dapat menjadi hal yang sangat mudah dilakukan, hanya perlu sedikit perhatian tetapi dapat meng-kover kehidupan orang banyak.

Ya, ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk melestarikan dan melindungi lingkungan agar bumi kita tetap lestari. Mengurangi konsumsi sumber daya, menggunakan kembali produk dan bahan, juga mendaur ulang apa yang tidak dapata digunakan kembali penting untuk keberlangsungan kehidupan lingkungan.

Nah, yang paling penting mesti kita lakukan untuk lingkungan kita itu adalah “jatuh cinta”. Jatuh cinta pada apa? Baik itu makanan lokal, bahan organik, vegetarian/vegan, dan sebagainya. 

Bumi memberikan kecukupan untuk memenuhi kebutuhan manusai. Tapi manusia jangan serakah [Foto: Dok http://successyeti.com]

Ada konsensus di antara mayoritas ilmuwan dunia, pemerhati lingkungan, pemerintah, perusahaan besar, dan banyak lainnya bahwa perubahan iklim dalam bentuk pemanasan global sebagai masalah lingkungan yang paling penting yang dihadapi kehidupan di Bumi. Membawa tas reusable, mengganti bola lampu hemat energi, menghemat air, dan mengemudi lebih sedikit adalah hal yang sangat bagus untuk dilakukan. Saya pribadi berusaha melakukan semua yang saya bisa untuk menjalani kehidupan yang berkelanjutan.


Berikut  beberapa tip kehidupan pribadi saya untuk menyayangi lingkungan sehingga kalian juga bisa membantu menyelamatkan planet bumi dan lingkungan.

 1. Daur ulang (recycle)
Ini  salah satu kebiasaan termudah yang bisa kalian lakukan. Contohnya penggunaan kantung belanja berkali-kali dan awet. Saya menyimpan tempat sampah tambahan di dapur  untuk bahan daur ulang agar lebih mudah.

 
2. Berhenti menggunakan bahan kertas
Meminimalisir penggunaan barang-barang sekali pakai, seperti panties, handuk kertas, piring, dan serbet kertas. Itu hanya akan membuat penuh tempat sampah kalian ssaja. Pilih barang-barang yang dapat dipakai lagi, seperti piring keramik atau gelas keramik yang bisa dicuci berulang.

 3. Jangan Nyampah (buang sampah sembarangan)
Entah sengaja atau tidak, terkadang tangan-tangan kita melempar sampah dari jendela, baik dari dalam jendela mobil maupun dari dalam jendela rumah. Pada akhirnya, sampah-sampah tersebut berlabuh di selokan. Lantas mengalir ke sungai, mencemari perairan, dan ujung-ujungnya got mampat, sungai meluap.

4. Manfaatkan limbah hewan peliharaan
Mungkin terlihat agak berbahaya, ekskresi hewan peliharaan sedikit banyak bisa juga mencemari lingkungan dan menyebabkan kontaminasi pada arus sungai atau tubuh. Tetapi, jika tahu caranya, limbah hewan besar manfaatnya untuk  pupuk alami tanaman. Contohnya kotoran ayam, kambing, sapi, atau kerbau.

Rumah di Jambi memelihara ayam dan bebek. Biasanya dengan menggunakan masker dan sepatu boat, kotoran ayam dan bebek saya gali dengan cangkul dan dimasukkan ke dalam lubang yang sudah diberi sisa tumbuhan dan sisa sayuran. Lantas diberi garam dan ditutup. Jadilah kompos. Ini bisa dimanfaatkan untuk pupuk kebun singkong di rumah.

5. Kurangi penggunaan minyak
Mengurangi penggunaan minyak goreng dalam masakan. Nah, kalau masakan berminyak masih bersisa, jangan pernah membuangnya ke dalam wastafel. Minyak atau “gemuk” yang dibuang akan membeku dan membuat saluran air tersumbat.

Akibatnya sistem pembuangan akan meluap. Solusinya, biarkan minyak menjadi dingin, lalu masukkan ke dalam wadah pembuangan di tong sampah kalian.

6. Berjalan atau bersepeda, bukan menyetir
Saya sudah mulai mengurangi penggunaan sepeda motor untuk bepergian. Justru milih berjalan kaki. Hal ini juga sebagai upaya melindungi lapisan ozon dari kebocoran akibat gas buang. Juga sebagai satu gerakan untuk menggunakan transportasi bersih di lingkungan.
 

7. Memakai pembersih yang ramah lingkungan
Produk pembersih yang ramah lingkungan, selain membantu melindungi diri kita, juga menjaga kesehatan keluarga.

8. Tidak menggunakan pestisida
Beberapa serangga mungkin baik untuk tumbuhan, lebah contohnya. Nah, penggunaan pestisida mesti  dengan petunjuk dan sangat hati-hati. Karena, pestisida dan pupuk juga mengandung bahan kimia berbahaya untuk kesehatan, juga kehidupan tanaman dan hewan. Mesti bijak menggunakan kalau perlu hindari.
Ya, saatnya kita Go Green [Foto: Dok https://plantsnotpills.ca]

Jika hal ini bermanfaat untuk kalian, silakan bagikan untuk teman-teman kita yang lainnya.

Kerja Sambilan Saat Sekolah: Sambil Menyelam Minum Air




Makanan itu tidak akan pernah mati [Foto: Dok https://chaptermedia.azureedge.net]
Sekolah, untuk sebagian anak-anak yang masuk kategori kaya, tak perlu mikir harus begini begitu. Tinggal duduk manis, kadang diantar sopir, sampai ke sekolah. Sarapan sudah disiapkan oleh ibunya. Baju seragam pun licin rapi tergantung tinggal pakai.Belum lagi uang jajannya. Bisa jadi, sehari ada yang diberi lebih dari 50 ribu.

Masa-masa sekolah saya tidak seperti itu. Bapak itu orang yang ‘galak”. Keenam anaknya mesti bangun subuh-subuh. Ayam belum berkokok kami sudah bangun duluan. Pukul empat subuh saat udara masih dingin mencekat tulang belulang sudah harus siap-siap ke sumur.  

Kami harus berbagi tugas. Ada yang mesti angkat air dari sumur masukin ke bak mandi. Nimba  terlebih dahulu menuhi bak mandi, air bak cuci piring, dan air untuk cuci baju. Aktivitas ini setiap hari kami lakukan sebelum berangkat sekolah. Kami harus berpacu sebelum fajar datang.

Ibu sesempatnya buat sarapan untuk anak-anaknya sekolah dan bapak berangkat kerja. Ada yang dibuat ibu dimakan, ga ada sarapan kami cukup minum teh manis dan bapak ngopi, hingga pulang sekolah menjelang, alhamdulillah perut masih bisa bersitahan lapar.

Pagi yang dingin masih menyambut kami beres-beres untuk berangkat sekolah setelah semua kerjaan rumah selesai. Bekal ke sekolah sangat sangat sederhana. Satu botol air putih ditaruh dalam botol  bekas sirup berlogo abjad tiga huruf yang sangat melegenda. Begini setiap hari kami lakukan.

Pulang sekolah pun tak langsung makan. Di rumah, seluruh pekerjaan dibagi-bagi. Di rumah memang tidak ada ART. Ya, pekerjaan rumah tangga ibu pegang sendiri. Terkadang selesai, beberapa terbengkalai. Berpacu dengan waktu sudah biasa ibu lakukan.

Akan tetapi, karena kami sudah biasa melakukan sendiri, jadi biasa-biasa saja. Sembari berbagi “nikmat” kerjaan bersama keluarga.  Karena masing-masing sudah punya tugas, kalau tugas satu belum selesai, tetap saling bantu.

Sembari menikmati tugas rumah dari ortu, di sela-sela itu  ibu juga buat dagangan. Ya, sore menjelang malam, saya jualan pastel isi kacang tanah, pisang goreng, pempek, dan beberapa kue-kue basah lainnya. Meski disambi jualan, belajar tetap saya lakukan.

Terkadang bergantian jaga warung  di belakang rumah dengan Mba saya. Jualan makanan ini jadi kerja sambilan yang mengasyikkan. Belajar dagang sembari dapat uang. Warung akan tutup sehabisnya dagangan. Bisa pukul 9 malam, kadang juga pukul 11 malam.

Selesai beres-beres, bisa pukul satu malam. Tetapi, alhamdulillah, karena sudah terbiasa, jadi bangun pagi pun tak bakal terlambat. Hampir tujuh tahun saya melakukan hal ini.

Saat di SMP, karena sekolah masuk siang, pagi-pagi saya keliling jualan kue dalam tampah lebar. Macam-macam juga kue yang dibuat. Mulai dari roti kukus (bakpao kalau di Jakarta sebutnya), kue mangkok, bakwan (bala-bala), pisang goreng, ketan serundeng, plus kue bolu.

Kalau jualan saat di SMP ini, pagi-pagi bangun (biasanya pukul satu malam). Ibu dan saya sudah meracik bahan. Selesai sekitar  pukul 4.30 untuk beberapa jenis makanan tersebut. Pukul lima subuh selesai salat, saya mulai keliling. Keliling di sekitar kompleks ga jauh dari rumah dan beberapa perkantoran.

Pulang ke rumah sekitar pukul delapan pagi. Pokoknya sih sehabisnya saja. Kadang pukul tujuh dagangan saya sudah habis, kadang juga pukul sembilan. Kalau masih ada sisanya dibawa pulang. Biasanya, habis pulang jualan, istirahat beberapa jam menjelang sekolah. Satu hingga dua jam cukuplah untuk saya belajar.

Sembari belajar, ibu saya sudah menyiapkan pula dagangan yang akan saya jual ke sekolah. Dagangan yang dijual di sekolah lebih kepada makanan ringan yang kriuk-kriuk, seperti  keripik singkong pedas juga ada es lilin.

Pekerjaan sambilan ini tidak mengganggu jadwal saya sekolah sama sekali. Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Tatkala ujian tiba, mungkin istirahat sekitar satu minggu. Selesai ujian, jualan lagi. Jadi, waktu tetap produktif dan tidak sia-sia.

Kalau di SMA, fokus saya memang sekolah dan bantu di rumah saja. Kerja sambilan stop sama sekali. Tetapi, ibu masih terima pesanan kue dan catering.

Ketika kuliah, saya juga tak ingin membebani orang tua saya. Jadi, begitu masuk semester tiga ke semester empat, saya mulai cari-cari kerja part time. Bersyukurnya, diterima kerja jadi taster salah satu makanan cepat saji yang sudah sangat terkenal--sekitar dua tahun--di area Jakarta, Depok, dan Tangerang (BSD).

Jadi, kerjaan saya keliling-keliling di tiga area itu untuk mengetes dan mencicipi kentang yang enak seperti apa, bentuk potongannya rapi atau tidak, penggaramannya merata atau acak-acakan, daging ayam yang enak itu seperti apa. Apakah ketika dibelah dua, ayamnya mengeluarkan juice atau kering, hingga susunan dalaman burger itu seperti apa yang enak dan benar.

Jadi taster itu saya dibayar untuk icip-icip makanan dan dikasih transport. Nah, saya tidak menyebutkan kalau saya bekerjanya jadi seperti “mata-mata” di setiap resto yang tersebar. Tetap saja berpura-pura sebagai konsumen yang belanja dan makan di tempat itu. Seluruh area resto saya perhatikan hingga kebersihan toilet plus pelayanan waiter/waitress-nya.

Saya mesti membuat laporan yang sudah dipersiapkan sekitar 5-10 halaman yang berisi aktivitas yang terjadi di resto tersebut. Ya, pura-pura jadi mahasiswa yang lagi ngerjain tugas saja kalau ke resto itu. Jadi, Store atau duty managernya juga tidak curiga. Bisa saja saya bawa pulang, tapi lebih baik saya selesaikan di tempat saya mencoba.

Lumayan, itung-itung dari kerjaan sambilan itu, uang makan saya tiap bulan lebih hemat dan gizi terjaga. Hahaha… anak kost banget. Nah, setelahnya, saya juga menjadi freelance editor di salah satu penerbit buku di bilangan Pondok Kelapa. Pas banget dengan jurusan yang saya ambil saat itu. Saya menyunting  bidang studi Biologi untuk kelas 1,2, dan 3 SMP. Sangat-sangat lumayan uang hasil kerja sambilan itu.

Saya bisa bayar kost tiap bulan, sesekali makan enak, juga bisa traktir teman-teman saya.

Terpenting, saya tidak menyusahkan orang dan bisa menghidupi diri sendiri. Apalagi sebagai anak perantauan yang harus pintar mutar otak biar tetap bisa melangsungkan kehidupan di Jakarta yang keras ini.

Selama kuliah juga pernah jadi guru privat mengajar anak SMA dengan bidang studi yang sama. Tapi tak berlangsung lama. Kemudian juga mengajar bapak-bapak yang akan meneruskan kuliah S1 (program ekstensi) di ITB yang akan meneruskan ke bidang teknik kelistrikan. Saya diminta untuk mengajar fisika dan matematika.
 
Editor, edit yang kotor-kotor [Foto: Dok https://theaimn.com]
Ya, bersyukur saja untuk rezeki yang sudah Allah SWT turunkan kepada saya hingga hari ini. Seberapa pun rezeki yang diturunkan, tetap berdoa semoga berkah. Dan tak lupa, di dalam rezeki saya ada rezeki orang lain. Jadi, tetap berbagi meski satu rupiah.