Tuesday, May 1, 2018

Imunisasi Lengkap Bersama Melindungi Diri, Generasi Bangsa Sehat Keluarga Bahagia


 
Pekan Imunisasi Dunia 2018: Capai Imunisasi Lengkap Bersama Melindungi dan Terlindungi [Foto: Dok Pri]
Dulu, sebelum punya anak, saya dan istri sempat bersitegang soal imunisasi. Istri sudah warning ke saya kalau punya anak, tidak akan diimunisasi. Sementara saya, bersikukuh harus diimunisasi. Saya punya alasan sendiri kenapa anak mesti diimunisasi, istri punya argumentasi sendiri.

Setelah beberapa lama, lahirlah anak pertama. Entah kenapa, yang dulunya istri bertahan dengan argumentasinya tidak mau anak diimunisasi, setelah beberapa bulan anak pertama lahir, akrirnya luruh juga. Bahkan dia yang selalu mengecek jadwal kapan imunisasi anak kami selanjutnya.

Ya, semua memang mesti disepakati bersama, mau atau tidak anak diimunisasi. Atau cari tahu ada tidak ruginya jika anak tidak diberikan. Karena langsung bertanya pada dokter anak yang sudah jadi dokter keluarga, justru disarankan. Dari situlah istri dan saya benar-benar menaati keberlangsungan kesehatan anak agar terhindar dari penyakit karena tidak mendapatkan imunisasi.

Imunisasi ini justru mampu menyelamatkan nyawa  anak manusia untuk anak-anak Indonesia sehat. Hal ini menjadi salah satu intervensi kesehatan yang boleh dibilang berhasil dan memberi efek jangka panjang anak terhindar dari  penyakit. Selain itu, tentunya biaya yang dikeluarkan tidak banyak (baca hemat biaya).

Aset masa depan  [Foto: Dok http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/imunisasi/]
Kalau dilihat sejauh ini rasanya miris, ternyata masih ada anak-anak di dunia yang tidak mendapatkan perlindungan imunisasi. Ada sekitar 19 juta anak yang justru tidak diimunisasi secara lengkap. Bayangkan saja, ternyata 1 dari 10 anak-anak itu tidak mendapat vaksinasi apapun yang juga tidak terdeteksi oleh sistem kesehatan.

Oleh karenanya, pemerintah melalui imunisasi ini ingin meluaskan capaian Sustainable Development Goals (SDG). Perlu memang kita ketahui bahwa, vaksinasi tidak hanya mencegah penderitaan dan kematian yang terkait penyakit menular, seperti TB, diare, campak, pneumonia, polio, dan batuk rejan, tetapi juga membantu mendukung prioritas nasional seperti pendidikan dan pembangunan ekonomi.

Kalau dilihat juga bahwa nilai vaksin ini sangat unik. Uniknya itu pendorong ditetapkannya Global Vaccine Action Plan (GVAP) 2020. GVAP ini disahkan oleh 194 anggota negara ada World Health Assembly ke-60 pada 12/05/2012. Hal ini sebagai kerangka kerja mencegah jutaan kematian akibat penyakit yang bisa dicegah dengan vaksin pada 2020 dengan akses universal untuk imunisasi.

Apa sih tujuan GVAP ini? Menetapkan imunisasi rutin, mempercepat kontrol penyakit yang bisa dicegah dengan vaksin (pemberantasan polio sebagai tahap pertama), mengenalkan  vaksin baru, dan memacu penelitian dan pengembangan teknologi vaksin.

Target GVAP ini memang untuk mengeliminasi penyakit, termasuk rubella, campak, juga tetanus neonatus dan maternal meski masih telat dari jadwal. Pekan Imunisasi Dunia ini menitikberatkan pada tindakan kolektif yang diperlukan dalam menjamin setiap orang terlindungi  dari penyakit yang bisa dicegah dengan vaksin.

Semua orang perlu diberitahu dan diajak termasuk pemerintah, organisasi profesi. LSM, organisasi lain yang peduli imunisasi, warga, mitras swasta, juga media untuk meningkatkan  capaian imunisasi secara berkelanjutan.

Berhubungan dengan hal ini, pada Rabu (25/04/2018) Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengadakan seminar media tentang vaksin dalam tema “Capai Imunisasi Lengkap: Bersama Melindungi dan Terlindungi” yang dihadiri blogger dan awak media bertempat di IDAI Salemba.

Prof. Dr. Cissy B. Kartasasmita, Sp.A(K), M.Sc, PhD. Ketua Satgas Imunisasi IDAI [Foto: Dok fkumpalembang.ac.id]
Hadir di tengah-tengah seminar tersebut sebagai pembicara Prof. Dr. Cissy B.Kartasasmita, Sp.A (K), M.Sc, PhD. Selalu Ketua Satgas Imunisasi IDAI. Prof Cissy menyampaikan bahwa, banyak penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi di antaranya,  campak, polio, hepatitis B, pertusis, difteri, Hib, dan tetanus.

Jika anak-anak tidak mendapatkan imunisasi dan terkena penyakit, maka kecenderungannya akan menjadi penyakit kronis dan mematikan. Misal pada bayi dan anak-anak, 80-90% yang terinfeksi tahun pertama ke kehidupan cenderung menjadi kronik. Sementara, anak yang berumur kurang dari 6 tahun 30-50% cenderung menjadi kronik.

Untuk orang dewasa, apabila penyakit yang semestinya harus mendapatkan perlindungan atau diimunisasi tetapi  tidak, maka kurang dari 5% dewasa sehat, jika terkena infeksi akan menjadi kronik. 20%-30% dari hepatitis kronik cenderung menjadi sirosis atau kanker hati.  Semakin kecil umur terkena infeksi, semakin besar kecenderungan menjadi kronis.

Sementara itu, lebih lanjut Prof Cissy menyampaikan apabila terjadi pada masa transmisi neonatal, 70%-90% dari Ibu HbsAg dan HbeAg positif, 20% apabila ibu HbsAg positif. Dari sini bayi tertular saat dilahirkan (penularan secara vertikal) dan 90% menjadi menahun akibatnya terjadi sirosis hepatis berujung pada kanker hati.
Menkes dalam Pencanangan Nasional Introduksi Vaksin Polio Suntik Gianyar Bali [Foto: Dok. http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/search/imunisasi/]
Bagaimana dengan TB? Secara global pada tahun 2013 19%-43.5% penduduk dunia terinfeksi M. tuberculosis. Kasus TB baru lebih dari 9 juta per tahun. Insidens SEA 35%, Afrika 30%, Western Pacific 20%. Pada anak, kasus baru ada 5 ratus ribu per tahun dan 80 ribu meninggal dunia.

Berdasarkan data Riskedas 2013, prevalens TB tahun 2007 & 2013 tidak jauh berbeda (0,4%). Provinsi tertinggi yang tekena TB dialami oleh Jabar (0.7%); Papua (0.6%), DKI Jakarta (0.6%), Gorontalo (0.5%), Banten (0.4%), Papua Barat (0.4%).

Bagaimana dengan Difteri? Difteri merupakan penyakit yang sangat menular disebabkan oleh Corynebacterium  diptheriae. Sumber infeksi hanya manusia yang ditularkan melalui aspirasi pernapasan, yaitu penyakit pernapasan bagian atas. Angka kematian  tertinggi di usia muda dan lansia.

Pun dengan pertusis. Penyakit ini sangat menular. Secara etiologi berasal dari Bordetella pertussis. Hati-hati ketika kita mendekati pasien ini, dapat terjadi penularan ketika pasien sedang batuk-batuk. Insidensinya akan meningkat pada bayi usia muda (pra vaksinasi). Beban ppenyakit global ini sekitar 136.372 kasus versus estimasi 17,6 juta pada 2003 dan 152.535 kasus pada tahun 2007 dan penyakit-penyakit lainnya yang  memang perlu imunisasi.
Jumpa Pers Menkes tentang Vaksin Palsu Lobby Blok A Gedung Adhyatma Kemenkes [Foto: Dok http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/search/imunisasi/]
Banyak pula orang tua yang kadang tidak ingin anak-anaknya diimunisasi. Menurut Riskesdas 2013, alasan utama anak tidak diimunisasi karena takut panas, keluarga tidak mengizinkan, tempat imunisasi jauh, sibuk/repot, sering sakit, dan tidak tahu tempat imunisasi.

Sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan, demam setelah imunisasi merupakan reaksi normal yang akan hilang dalam waktu 2-3 hari. Kejadian ikutan paska imunisasi yang serius sangat jarang terjadi. 

Fakta Imunisasi
Imunisasi mencegah penyakit, kecacatan, dan kematian dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, termasuk TB, hepatitis B, difteri, pertusis (whooping cough, batuk rejan), tetanus, polio, campak, pneumonia, gondongan, diare akibat rotavirus, rubella, dan kanker serviks.

Diperkirakan imunisasi sekarang dapat mencegah 2 hingga 3 juta kematian setiap tahunnya. Tambahan 1.5 juta kematian dapat dicegah jika cakupan imunisasi global meningkat. Selama 2016, diperkirakan 116,5 juta (lebih kurang 85%) anak-anak di bawah usia 1 tahun di seluruh dunia menerima 3 dosis vaksin difteri-tetanus-pertusis (DTP3). Anak-anak tersebut terlindung dari penyakit menular  yang menyebabkan penyakit serius atau kecacatan akibatnya fatal.
Kementerian Kesehatan memprakarsai sebuah pertemuan yang dihadiri perwakilan dari Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Direksi PT. Biofarma, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), UNICEF, WHO, serta para Kepala Dinas Kesehatan dan pemimpin MUI di 34 Provinsi di seluruh Indonesia di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Kamis siang (23/8). [Foto dan Keterangan: Dok. http://sehatnegeriku.kemkes.go.id]
Sekitar 19.5 juta bayi di dunia tidak mendapatkan imunisasi dasar bahkan melewatkannya. 60% anak-anak itu tinggal di 10 negara seperti Angola, Brazil, Kongo, Ethiopia, India, Indonesia, Irak, Nigeria, Pakistan, dan Afrika Selatan.

Cakupan imunisasi global sudah stagnan di 86% tanpa ada perubahan signifikan selama beberapa tahun terakhir. Ada peningkatan penggunaan vaksin baru dan vaksin yang kurang dimanfaatkan.

Vaksin yang diberikan kepada anak-anak merupakan produk yang menghasilkan kekebalan terhadap penyakit dan dapat diberikan melalui suntikan, melalui kulit atau diberikan melalui mulut juga dengan penyemprotan.

Sementara, vaksinasi sebagai tindakan penyuntikan organisme yang mati atau dilemahkan selanjutnya akan menghasilkan kekebalan tubuh terhadap organisme tersebut.
 
Dr. dr. Hindra Irawan Satari, Sp.A(K), M.TropPaed [Foto: Dok Pri]
Menurut Dr. dr. Hindra Irawan Satari, Sp.A(K), M.TropPaed, bahwa imunisasi itu aman untuk anak-anak dan efektif. Karena proses produksi vaksin melalui riset panjang menggunakan standar good clinical practice serta berdasarkan etik yang ketat.

“Mesti telah dilisensi, vaksin tetap berada dalam pantauan pemerintah maupun badan independen yang berkompeten,” jelasnya.

Kita juga mesti hati-hati dan waspada terhadap berita hoax yang mengatasnamakan vaksin. Ada kelompok yang antivaksin yang seringkali melebih-lebihkan risiko imunisasi tanpa bukti ilmiah.

“Mereka menggambarkan bahwa vaksin itu tidak efektif padahal risiko tersebar muncul (wabah) apabila anak tidak divaksinasi,” terang Dokter Hindra.

“Di sisi lain, banyak keluarga yang ragu-ragu untuk mengimunisasi anaknya. Keragu-raguan itu muncul karena adanya isi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Adanya isu halal-haram vaksin yang diberikan. Bahkan ada yang berpikir bahwa kandungan zat yang ada di dalam vaksin berbahaya,” ucap Dr Piprim B. Yanuarso, Sp.A(K).

Dokter Piprim B. Yanuarso, Sp.A(K) [Foto: Dok mommiesdaily.com]
Padahal kenyataannya tidak demikian. Tidak dianjurkan ketika anak dalam kondisi kurang sehat untuk diimunisasi, seperti batuk, deman, atau pilek.   

Apakah vaksinasi itu haram?  Menurut Dr. H.M. Asrorun Ni’Am Sholeh, MA,  bahwa vaksin harus aman dan sesuai norma agama. Bahan imunisasi harus aman dan sesuai norma agama. Pasal 153 “pemerintah menjamin ketersediaan bahan imunisasi yang aman, bermutu, efektif, terjangkau, dan merata bagi masyarakat untuk upaya pengendalian penyakit menular melalui imunisasi. Pasal 2 UU kesehatan menegaskan salah satu asas pembangunan kesehatan harus memperhatikan dan menghormati agama yang dianut masyarakat.

Fatwa MUI No. 4 tahun 2016 poin No. 5 program imunisasi hukumnya wajib. Disebutkan dalam hal jika seseorang tidak diimunisasi akan menyebabkan kematian, penyakit berat, atau kecacatan permanen yang mengancam jiwa, berdasarkan pertimbangan ahli yang kompeten dan dipercaya, maka imunisasi hukumnya wajib.
 
Dr. H.M. Asrorun Ni'am Sholeh, MA. [Foto: Dok seruji.co.id]
“Imunisasi pada dasarnya dibolehkan (mubah) sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh (imunitas) dan mencegah terjadinya penyakit tertentu. Vaksin untuk imunisasi wajib menggunakan vaksin yang halal dan suci. Penggunaan vaksin imunisasi yang berbahan haram dan atau najis, hukumnya haram. Imunisasi dengan vaksin yang haram dan atau najis, tidak dibolehkan, kecuali digunakan pada kondisi al-dlarurat atau ah-hajat; belum ditemukan bahan vaksin yang halal dan suci; dan adanya keterangan tenaga medis yang kompeten dan dipercaya bahwa tidak ada vaksin yang halal,” pungkas Arorun Ni’am.

Tiga hari pasca diterbitkannya Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 33 tahun 2018, Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moeloek, didampingi Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, Anung Sugihantono, dan Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam, menghadiri pertemuan yang mengundang semua Kepala Dinas Kesehatan dan Pimpinan MUI dari 34 Provinsi seluruh Indonesia.
Pertemuan yang diselenggarakan pada Kamis pagi (23/8) di Gedung Adhyatma Kementerian Kesehatan ini dilakukan dalam rangka bertujuan untuk penyebarluasan informasi secara utuh kepada pemegang program kesehatan (khususnya terkait program imunisasi) di daerah serta masyarakat mengenai pentingnya mendapatkan imunisasi MR. [Foto & Keterangan: Dok. http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/search/imunisasi/

Jadi, jelas kan  sekarang bahwa imunisasi tidak bertentangan dengan agama selama bahan-bahan yang dikandungnya tidak berasal dari bahan yang diharamkan dalam syariat Islam. Pencegahan melalui imunisasi artinya mencegah generasi masa depan bangsa dari beragam penyakit.

Monday, April 30, 2018

Jelajah Gizi 2018 Kota Semarang: Kampoeng Kopi Banaran Surganya Pencinta Kopi


Jelajah Gizi  Semarang 2018: Kampoeng Kopi Banaran, menjadi salah satu surga pencinta kopi [Foto: Dok rasakopi.com]

Semua orang mungkin tahu tentang biji kopi yang dipanggang, tetapi apakah semua orang tahu tanaman kopi yang sebenarnya itu seperti  apa?

Untuk mendapatkan kopi yang berbuah lebat, pohon kopi perlu dipangkas. Hal itu untuk menghemat energi agar tidak menjalar ke daun dan cabang-cabang ranting.

Hal ini juga untuk membantu petani ketika memanen hasil. Nah, tanaman kopi dapat tumbuh dengan ketinggian mencapai sembilan meter. Pohon kopi tertutup oleh daun yang berwarna hijau menyejukkan.

Daunnya saling berhadapan berpasangan. Bijinya tumbuh di sepanjang cabang. Karena tumbuhnya dalam satu siklus yang berkelanjutan, tak jarang sering terlihat bunga, buah yang hijau, dan matang ada secara bersama dalam satu pohon.
 
Jelajah Gizi  Semarang 2018: Peserta Jelajah tiba di Kampoeng Kopi Banaran, Semarang [Foto: Dok Pri]
Untuk mendapatkan buah kopi matang setelah bunga pertama, perlu waktu satu tahun. Sementara, perlu waktu lima tahun untuk mendapatkan produksi buah secara maksimal. Tanaman kopi dapat hidup hingga 100 tahun. Usia produktif ada di angka tujuh dan 20 tahun.

Kalau dilakukan perawatan secara tepat, tentunya akan dapat meningkatkan hasil produksi selama bertahun-tahun. Akan tetapi, tergantung varietasnya pula. Setiap pohon kopi dapat menghasilkan 10 kg lebih buah per tahun. Nah, kopi memang ditanam secara komersial dan berasal dari satu daerah di dunia bernama Coffe Belt (Sabuk Kopi).

Pohon kopi akan tumbuh sangat baik di tanah yang subur bersuhu ringan (23-25o), hujan sering, dan matahari cukup hangat. Kopi berasal dari genus tumbuhan Coffea. Ada sekitar 500 marga dan 6 ribu jenis.

Kampoeng Kopi Banaran
Jelajah Gizi Semarang 2018 yang saya ikuti kali ini singgah di salah satu perkebunan kopi peninggalan zaman Belanda yang hingga saat ini terawat dengan baik, yaitu Kampoeng Kopi Banaran. Kampoeng Kopi Banaran sebagai salah satu tempat wisata agro yang dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara IX (Persero) dengan luas 400 hektar.
 
Jelajah Gizi Semarang 2018: Suasana pagi di Kampoeng Kopi Banaran, masih sepi. Ramai menjelang siang hari [Foto: Dok Pri]
Terletak di Areal Perkebunan Kopi Kebun Getas Afdeling Assinan di Jalan Raya Semarang-Solo Km 35. Berada di ketinggian 480---600 mdpl  bersuhu 23oC—27oC. Nah, perjalanan saya dan rekan-rekan Jelajah Gizi Semarang 2018  ke Kampoeng Kopi Banaran dimulai dari Semarang  sekitar 1 jam perjalanan menggunakan bus.

Tak lama berselang, mata saya dihadapkan pada kebun kopi yang hijau meraya. Mata kembali segar melihat hijaunya dedaunan. Setelah sempat mengambil beberapa foto di area depan, selanjutnya kami naik mobil wisata. Saya bersama rekan jelajah gizi Semarang lainnya diajak berkeliling dengan kendaraan wisata yang dipandu Pak Mardiono.
 
Jelajah Gizi  Semarang 2018: Buah kopi Robusta di Kampoeng Kopi Banaran [Foto: Dok Pri]


Jelajah Gizi Semarang 2018: Perkebunan Kopi di Kampoeng Kopi Banaran dengan luas 400 ha [Foto: Dok Pri]

“Luas perkebunan ini sekitar 400 hektar dari jenis kopi Robusta. Dipanen setahun sekali pada bulan Agustus. Lokasi pabriknya dari Banaran menuju ke arah Magelang. Kopi ini dikirim ke Italia dan Amerika,” tutur Pak Mardiono.

Pak Mardiono mengatakan bahwa  kebun kopi ini berada di ketinggian 50 mdpl. Udaranya pun cukup sejuk dan matahari yang menyinari hangat. Di beberapa titik terlihat plang papan nama yang berisi ulasan tentang kopi.

Dari ketinggian ini dapat terlihat hamparan danau Rawa Pening yang dikitari Gunung Telomoyo, Gadjah Mungkur, juga Merbabu. Kalau cuaca cerah, gunung-gunung tersebut dapat terlihat secara jelas.

Beruntunglah saya, mendapatkan cuaca cerah dengan sinar matahari cukup sehingga pemandangan indah dari atas kebun kopi tak terlewatkan begitu saja. Sempat mengabadikan momen indah ini dalam satu bingkai jepretan DSLR dan camera phone. 

Jelajah Gizi Semarang 2018: Pemandangan dari ketinggian 50 mdpl kebun kopi [Foto: Dok Pri]

Jelajah Gizi Semarang 2018: Pagi yang cerah di Kebun Kopi Kampoeng Kopi Banaran [Foto: Dok Pri]
Sembari melanjutkan perjalanan,  saya pun mengulik cerita dari pemandu wisata kami tersebut.
“Kopi-kopi ini dipanen oleh pekerja wanita. Kenapa wanita? Karena wanita lebih ulet dan telaten dalam memilih biji kopi yang sudah matang. Memang, tidak semua biji kopi matang merata dalam satu pohon. Bahkan terkadang ada yang masih berbunga,” jelas Pak Mardiono.  

Kebun kopi ini tidak sekadar kebun tetapi juga dibuat semacam “Kampoeng” untuk agro wisata dilengkapi dengan Café, yaitu Banaran Café.  Wisatawan yang datang dari berbagai pelosok Semarang dan luar Semarang. Bahkan, turis asing pun sering singgah di sini.

Banaran Café inilah yang akan terlihat ketika pertama kali kita masuk di Kampoeng Kopi Banaran. Ada beragam jenis racikan kopi sesuai keinginan konsumen. Seperti contohnya Robusta, Cappucino, Espresso, hingga Banana Coffee. Ternyata, kopi-kopi tersebut bisa disajikan baik dingin maupun panas lho. Tentunya juga ada minuman lain semacan teh dan cokelat.

Untuk dapat memasuki area ini ternyata tidaklah sulit. Agro Wisata Kampoeng Kopi Banaran dapat dikunjungi siapapun dengan membayar tiket masuk sebesar 5 ribu rupiah. Kalau ingin main dengan permainan yang disediakan, kita memang mesti membayar lagi sesuai tarif yang diberlakukan. 

Jelajah Gizi Semarang 2018: Betah berlama-lama di tengah kebun kopi [Foto: Dok Pri]


Jelajah Gizi Semarang 2018: Seduhan kopi Robusta dari Kampong Kopi Banaran [Foto: Dok https://rasakopi.com]
Permainannya pun bervariasi mulai dari outbond, ada juga flying fox, wood ball penalty, bahkan kolam renang pun disediakan. Buka mulai pukul tujuh pagi hingga sembilan malam.

Nah, mengulik sedikit tentang Kampoeng Kopi Banaran kenapa bisa hadir. Jadi, Kampoeng Kopi Banaran ini diilhami dari salah satu dusun yang berada di Kecamatan Jambu. Dusun Banaran sebagai salah satu dusun yang ada di Desa Gemawang, Kecamatan Jambu Kabupaten Semarang tempat berdirinya pabrik olahan kopi.

Kopi-kopi merah (biji kopi dari kulit berwarna merah (green bean)) diolah sedemikian rupa untuk diekspor keluar negeri. Sementara itu, Kampoeng Kopi-nya sendiri  sebagai area perkebunan kopi yang ada di Desa Assinan,Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang.

Di Kampoeng Kopi Banaran ini sebagai tempat dengan keunikan yang dimiliki. Kebun kopinya terawat menjadi kebun kopi terbaik di tanah air bahkan di Asia untuk jenis Robusta.


Jelajah Gizi Semarang 2018: Biji kopi kualitas terbaik dari Kebun kopi di Kampoeng Kopi Banaran dikirik ke Italia dan Amerika [Foto: Dok Pri]
Mengulik Sejarah Kopi
Tidak ada yang tahu persis bagaimana dan kapan kopi ditemukan, meskipun banyak cerita atau legenda tentang asal-usulnya.

Goat Coffee (Kopi Kambing) yang ditanam hampir di seluruh dunia dapat menjadi satu cerita tentang hutan kopi purba di dataran tinggi Ethiopia. Dalam legenda itu  mengatakan, penggembala kambing bernama Kaldi, pertama kali menemukan kegunaan dari biji yang sangat disukai tersebut.

Cerita terus bergulir bahwa Kaldi menemukan kopi. Kambing-kambingnya yang mengonsumsi kopi tersebut sangat energik sehingga betah melek di malam hari. Kaldi pun menceritakan penemuannya itu pada kepala biarawan setempat.

Kepala Biarawan-Abbas-- lalu mencoba penemuan Kaldi dan memberikannya kepada biarawan yang lainnya. Alhasil, penemuan kopi ini mulai menyebar di seantero biara dan para biarawan mulai betah untuk tidak tidur di malam hari sambil melantunkan doa-doa. 

Video Kampoeng Kopi Banaran  


Biji kopi mulai berpindah ke arah timur hingga Semenanjung Arab. Penanaman dan perdagangan kopi dimulai di Semenanjung Arab. Di abad ke-15, kopi mulai ditanam di distrik Yaman, dan pada abad ke-16 semakin dikenal di Persia, Suriah, hingga Turki.

Menikmati kopi tidak hanya di rumah tetapi juga banyak tersedia di kedai-kedai kopi umum yang biasa disebut Qahveh Khaneh (untuk di Turki salah satunya). Popularitas kedai kopi mulai naik dan terkenal hingga orang-orang senang berkunjung dan melakukan kegiatan sosial di kedai kopi.

Tidak hanya sekadar minum kopi ketika mereka datang ke kedai kopi, tetapi mereka juga mendengarkan musik, nonton pertunjukkan, bermain catur, dan mengikuti pemberitaan televisi. Kedai Kopi atau Rumah Kopi menjadi pusat penting pertukaran informasi yang disebut School of the Wise

Video Kampoeng Kopi Banaran, tempat kopi Robusta dunia dihasilkan, Indonesia!

Nah, begitu pula di Indonesia, kopi bukan barang baru. Karena sejak zaman nenek moyang kopi di Indonesia telah melegenda. Pun di Indonesia banyak jenisnya dengan racikan beragam dan enak.

Jadi, sembari Jelajah Gizi di Kota Semarang 2018 ini, saya juga banyak beroleh insight baru mengenai Kampoeng Kopi Banaran itu sendiri. Bersyukurlah saya bisa menjadi bagian dari Jelajah Gizi Kota Semarang 2018 dari Nutricia Sarihusada (Nutrisi Bangsa).

Menurut Prof. Ir. Ahmad Sulaeman, Pakar Gizi dan Keamanan Pangan Institut Pertanian Bogor, bahwa kopi menjadi salah satu minuman terenak di Indonesia dengan ragam varietasnya. Dan di sela-sela tanaman kopi juga kita dapat mengambil tanaman bermanfaat untuk pangan lokal sehari-hari. 

 
Jelajah Gizi Semarang 2018: Prof. Ir. Ahmad Sulaeman, MS, PhD. Pakar Gizi dan Keamanan Pangan Institut Pertanian Bogor banyak memberikan wawasan mengenai pangan lokal berkelanjutan, termasuk kopi salah satunya di Jelajah Gizi Semarang 2018 ini [Foto: Dok Pri]
Kampoeng Kopi Banaran tak sekadar “Kampoeng”. Tetapi, banyak menyimpan pengetahuan dan kesejarahan panjang tentang kopi di Jawa. Di dalamnya pun terdapat penginapan kalau kita ingin stay beberapa lama dengan fasilitas yang cukup lengkap.

Kopi dan Kesehatan
Para peneliti seluruh dunia terus menghubungkan kopi dengan sifat sehat yang signifikan. Kopi punya profil botani alami kompleks, setidaknya 1.000 senyawa alami ada dalam bijinya, termasuk kafein, dan 300 lainnya yang ada dalam proses roasting.

Jelajah Gizi Semarang 2018: Plang-plang yang menunjukkan bahwa kopi sangat bermanfaat dalam kehidupan dan diperlukan oleh tubuh sepanjang lintasan di Kebun Kopi Kampoeng Kopi Banaran [Foto: Dok Pri]

Penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi kopi secara moderat (3-5 cangkir setiap hari) dapat memberikan efek positif terhadap tubuh, yaitu:
1.    Dapat mencegah penyakit hati
2.    Peningkatan fungsi kognitif pada orang dewasa atau yang lebih tua
3.    Meningkatkan daya tahan atletik
4.    Memori menjadi lebih tajam
5.    Mengurangi risiko diabetes tipe 2, juga
6.    Memperpanjang umur.

Semakin banyak bukti ilmiah mengenai kopi sehingga mendapatkan reputasi baik dan direkomendasikan. Pedoman Diet AS pun membuat rekomendasi yang belum pernah ada sebelumnya untuk kopi sebagai bagian dari gaya hidup sehat. 

Jelajah Gizi Semarang 2018: Efektivitas kopi untuk menghilangkan bau sudah terbukti [Foto: Dok Pri]
Informasi Rinci Komposisi Kandungan Nutrisi/Gizi Pada Kopi berdasarkan sumber informasi gizi berbagai publikasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia serta sumber lainnya. Dalam 100 gram kopi dari bagian yang dapat larut dan dikonsumsi terdapat jumlah kandungan energi kopi sebesar 352 kkal; protein 17,4 gr; lemak 1,3 gr; karbohidrat kopi 69 gr; kalsium kopi 296 gr; fosfor kopi 368 gr; zat besi kopi 4 mg; vitamin A kopi 0 IU; vitamin B1 kopi 0 mg; dan vitamin C kopi 0 mg.

Kampoeng Kopi Banaran
Jl. Raya Semarang – Solo KM 35 Bawen, Kabupaten Semarang - Jawa Tengah, Indonesia
Untuk kemudahan mengakses informasi tentang Kampoeng Kopi Banaran dapat menghubungi nomor dan email seperti berikut.

Phone:
Office: 0298-3429053
Email:
Office: kakoba@ptpn09.com
Event: eventkakoba@yahoo.co.id
Banaran 9 Resort: banaran9resort@yahoo.co.id

Website:
www.kampoengkopibanaran.co.id
www.wisataagroindonesia.com

Social Media:
FB: Kampoeng Kopi Banaran
Twitter: @kampkopibanaran
IG: kampoeng_kopi_banaran
Youtube Channel: kampoeng kopi banaran

    
"Kopi - minuman favorit dari dunia yang beradab." - Thomas Jefferson

Nah, setelah menjelajah gizi selama tiga hari dua malam di kota Semarang, beginilah penerapan pangan berkelanjutan yang ada di Kota Semarang. Ada beragam kekayaan kuliner Semarang yang bernilai gizi tinggi yang baik untuk balita, anak-anak, ibu hamil juga ibu menyusui.

Kondisi kesehatan dan kecukupan gizi masyarakat Kota Semarang, khususnya balita, anak-anak, ibu hamil dan ibu menyusui memang relatif lebih baik dibandingkan dengan daerah lainnya.

Dari Jelajah Gizi Semarang 2018 ini pula dapat dilihat bahwa kentalnya pengaruh budaya dan lokasi terhadap makanan khas atau tradisional Semarang semakin memperkaya kuliner di kota ini. Budaya menjadi hal penting di Semarang karena terlibat langsung dalam keragaman kulinernya.

Dapat pula kita lihat bahwa beberapa sistem produksi pertanian dan pangan telah mengaplikasikan sistem pangan berkelanjutan seperti pada Kampoeng Kopi Banaran juga produksi Ikan Bandeng Presto. Jadi, Kota Semarang menjadi kota yang sudah menerapkan Pangan Berkelanjutan sesuai tema yang diangkat di Jelajah Gizi Semarang 2018 tahun ini. Sukses  Nutricia Sarihusada untuk Jelajah Gizi berikutnya.