Thursday, May 3, 2018

Kampoeng Tempo Doeloe La Piazza Kelapa Gading: Hadirkan Ragam Soto & Sajian Tempo Doeloe Penggugah Selera

Kampoeng Tempo Doeloe La Piazza Kelapa Gading: Stand KTD [Foto: Dok  Pri]

Menilik ragam kuliner Nusantara sepertinya tak akan ada habis-habisnya. Ada saja menu-menu baru bermunculan. Entah itu menu kelas resto maupun menu kelas bintang lima.

Patut diapresiasi bahwa, keberadaan menu-menu kuliner Nusantara telah menjadi pembicaraan panjang tak hanya di dalam negeri, tetapi merambah hingga mancanegara.

Tak ayal memang, negeri ini kaya dengan bahan pangan lokal berkelanjutan. Bahan-bahan tersebut mampu memberikan cita rasa berbeda di lidah penikmat kulinaria.

Berkenaan dengan kulinaria ini, setelah sebelumnya sukses menyelenggarakan Kompetisi Mie Nusantara tahun 2017 lalu, dengan diberikannya kesempatan pada pemenang untuk membuka usaha di Summarecon Mal Kelapa Gading, juga  sebagai dukungan JFFF bagi UKM dalam mengembangkan usahanya, di 2018 ini, Kampoeng Tempo Doeloe  mengangkat  Soto Nusantara yang sekaligus mendukung program Bekraf untuk mempromosikan Soto “A Spoonful of Indonesia Warmth” ke dunia.

Food Festival 5 April--6 Mei 2018
Food Festival mewakili industri kuliner, menghadirkan ragam makanan dan minuman khas nusantara, sekaligus aktivitas pertukaran antarbudaya mancanegara Kampoeng Tempo Doeloe serta Wine  & Cheese Expo. Tahun ini kembali lagi masih dengan konsep #RunForRun namun dengan nama baru, yaitu JFFF RUN yang semakin spesial dengan Grand Prize mengikuti Budapest Marathon.
 
Kampoeng Tempo Doeloe La Piazza Kelapa Gading: T & C KTD [Foto: Dok Pri]

Food Festival dibuka dengan Kampoeng Tempo Doeloe (KTD) mulai 5 April hingga 6 Mei 2018 di La Piazza, yaitu area yang mewadahi lebih kurang 1.000 booth kuliner, 60%-nya peserta UKM. KTD telah menjadi favorit masyarakat karena sajian kuliner khas Nusantaranya yang sangat beragam, mencapai lebih kurang 200 menu.

Tema dekorasinya “Tropical Garden”, selaras dengan lokasi yang menjadi latar belakang JFFF, di antaranya Taman Wisata Alam Mangrove, Taman Suropati, dan Taman Langsat. Tujuannya untuk mengenalkan area hijau yang ada di Jakarta agar dikenal masyarakat.

KTD menghadirkan beberapa menu khas Betawai seperti Kerak Telor,Nasi Uduk, dan Rujak Juhi. Tahun ini, KTD mengangkat Soto Nusantara yang sekaligus mendukung program Bekraf untuk mempromosikan Soto “A Spoonful of Indonesian Warmth” ke dunia. Ada 10 jenis soto yang dapat kita cicipi di KTD 2018, yaitu Coto Makassar H. Daeng Tayang; Pallubasa Onta Makassar; Soto Betawi H. Mamat; Soto Kadipiro Yogyakarta; Soto Kesawan Medan; Soto Madura  Bpk. Ngatidjo; Soto Padang H. St. Mangkuto; Soto Jakarta Pak H. Yus; Soto Trisakti Solo; dan Tauto Bumbu Pekalongan.

Pedagang soto yang mendapat penjualan tertinggi akan mendapat peluang usaha di MKG. KTD juga mengadakan Kompetisi Desain Booth Soto yang berhadiah uang tunai senilai Rp30 juta.

Ayam Jontor Bakar Lele Jebret
Nah, sebelum saya bahas apa saja soto yang saya cobain di KTD ini, saya mau bercerita tentang menu lain yang juga sempat saya cobain. Ayam Jontor Bakar Lele Jebret. Nah, ayamnya bisa ayam pejantan juga ayam pedaging.


Kampoeng Tempo Doeloe La Piazza Kelapa Gading: Ayam Jontor Bakar  Lele Jebret [Foto: Dok Pri]

Diracik dengan bumbu khas yang pedasnya bikin nampol. Untuk  yang suka pedas, hidangan ini menjadi surga tersendiri. Betapa tidak, makan makanan ini serasa di-tampol  berkali-kali  karena saking pedasnya.

Memang, pedas itu penambah selera makan. Jadi, sangat cocok Ayam Jontor Bakar ini menjadi pendamping makan malam di Kampoeng Tempo Doeloe. Berani coba? Rasakan sensasi hebat dari cabenya yang aduhai bikin bibir makin jontor.

Tahu Gejrot Rujak Beubeuk
Nyoba-nyoba Tahu Gejrot dan Rujak Beubeuk khas Cirebon. Ini termasuk sajian unik. Tahu khusus yang digoreng lantas diberi bumbu berupa gula jawa yang ditambah asam atau cuka, geprekan  bawan  merah, bawang putih, dan juga cabe rawit.


Kampoeng Tempo Doeloe La Piazza Kelapa Gading: Tahu Gejrot [Foto: Dok Pri]

Lantas diberi potongan tahu. Potongan tahu itu tadi di-gejrot  atau ditekan-tekan dengan menggunakan anak cobek bersama bumbu. Nah, sensasi rasa manis, asam, dan pedas, dan tentunya segar keluar dari percampuran bumbu tersebut.



Kampoeng Tempo Doeloe La Piazza Kelapa Gading: Bumbu Tahu Gejrot [Foto: Dok Pri]

Sajian Tahu Gejrot ini pantas buat pendamping camilan. Saya jadi ingat masa-masa kecil dulu, kalau makan tahu goreng  dicocol kecap dan cabe rawit ulek. Rasa yang keluar sangat beda dan khas.

Nah, karena Kampoeng Tempo Doeloe sekarang lagi ngenalin soto hingga tingkat dunia sebagai makanan khas Indonesia, saya coba beberapa soto yang dihadirkan di sini. Mau tahu soto apa saja yang saya coba? Ini dia...

Soto Padang H. St. Mangkuto
Ini merupakan Soto Padang H.St. Mangkuto menjadi salah satu Soto Padang yang ada di Jakarta umumnya dan Kampoeng Tempo Doeloe khususnya yang memang enak. Rasa yang hadir sangat otentik. Sudah ada sejak 30 tahun silam.
 
Kampoeng Tempo Doeloe La Piazza Kelapa Gading: Soto Padang H. St. Mangkuto [Foto: Dok Pri]
Isiannya berupa bihun, daging sapi yang yang dibuat kering mirip dendeng, dan perkedel kentang. Memang, paling enak jika ditambah dengan kerupuk paru atau telur asin. Yang khas dari  Soto Padang H. St. Mangkuto ini adalah kerupuk merah yang memang melegenda sebagai pelengkapnya.

Soto Padang H. St. Mangkuto ini menjadi soto  yang sangat legendaris. Memang, di tempat asalnya hanya menjual soto tidak ada menu-menu lain yang dijual.

Kelebihannya terasa dari kuahnya yang leat dan gurih dengan bumbu-bumbu racik yang khas. Daging sotonya terasa lembut dan enak. Sambalnya pun tidak terlalu pedas. Ini yang mampu membangkitkan selera makan saya ketika berkunjung ke KTD.

Soto Padang H. St. Mangkuto ada di daerah Pasar Baru, tepatnya di Jalan Pintur Air Raya No. 26 Pasar Baru, Jakarta. Telepon (021) 3857357, dan Kelapa Gading, Jalan Boulevard Raya BI J-4 No. 6 Kelapa Gading, Jakarta Utara, Telepon (021) 4524920.. Untuk harganya sendiri tidak sampai menguras kantong. Ada rasa ada harga.

Tauto Bumbu Pekalongan
Nah, ini perpaduan rasa yang unik. Ada rasa manis, asin, dan segar. Tauto sebagai kolaborasi masakan antara soto dengan kuah tauco yang menjadi ciri khas menu dari Pekalongan.

Dagingnya dapat berasal dari daging kerbau atau sapi dipadu dengan kelezatan sambal goreng tauco. Otomatis, ini akan mengingatkan Anda yang di perantauan khususnya orang-orang dari Pekalongan, rindu kampung halaman tatkala suapan tauto masuk ke dalam mulut Anda.


Kampoeng Tempo Doeloe La Piazza Kelapa Gading: Tauto Bumbu Pekalongan [Foto: Dok Pri]

Takk heran kalau kuliner yang merupakan perpaduan antara  budaya Tionghoa dan India ini menyatu dan jadi incaran banyak orang.  Tauto sendiri asalnya dari Caudo, yaitu soto yang memang ciri khas Tiongkok dan Tauco, bumbu yang berasal dari  India.
Biasanya, kita sering mendengar, orang-orang yang berasal dari luar Pekalongan menyebutnya dengan Soto Pekalongan.

Khasnya Tauto Bumbu Pekalongan ini menggunakan Soun, kemudian ditambah bumbu sambal goreng tauco dari bahan dasar kedelai  dan daging kerbau bukan daging sapi.  

Soto Betawi H. Mamat
Soto ini memang sangat khas Betawi. Isiannya dapat dipilih sendiri, mulai dari murni daging, campuran tetelan, atau kikil daging, juga babat. Semua daging pilihannya tidak akan pernah mengecewakan.

Daging, tetelan, kikil, dan babatnya direbus lama sehingga rasanya empuk tetapi tidak hancur. Sementara itu, kuahnya cukup kental dengan rasa gurih. Kenikmatan sejati itu berasal dari kuah tersebut yang ditaburi irisan daun bawang, bawang goreng, tak ketinggalan emping.
 
Kampoeng Tempo Doeloe La Piazza Kelapa Gading: Soto Betawi H. Mamat, rasanya khas [Foto: Dok Pri]
Kuah dengan rempah-rempah asli Indonesia menjadi bahan utama di soto ini. Aromanya wangi dengan  perpaduan  warna yang kontras antara kuah bersantan atau bisa juga menggunakan kuah yang berasal dari susu.

Tak bisa disangkal memang, soto ini menjadi kebanggaan warga asli Jakarta dengan cita rasa yang tetap melekat di lidah.

Coto Makassar atau Coto Mangkasara
Coto Makassar menjadi salah satu hidangan soto favorit di Kampoeng Tempo Doeloe. Sajian ini berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan dengan varian isi berupa daging sapi yang dimasak bersama kaldu sapi  .

Coto biasanya disajikan dalam mangkuk. Di dalamnya berisi beragam daging dan disiram kuah berwarna hitam. Hitamnya berasal paduan bumbu asli Nusantara dan tradisional seperti serai, lengkuas, bawang putih, bawang merah, kacang tanah, jintan, ketumbar, juga pala.

Hal yang memang tidak ada di Coto Makassar ini adalah, tidak ada campuran telur atau sayuran semisal irisan kol atau tauge. Selain itu, sajian yang uniknya juga adalah pemberian daun bawang dan bawang goreng yang terpisah. Sebenarnya tidak langsung dijadikan satu dalam hidangan.
 
Kampoeng Tempo Doeloe La Piazza Kelapa Gading: Coto Makassar/Coto Mangkasara [Foto: Dok Pri]
Fungsi bawang yang diberikan tak lain untuk mencegah tekanan darah. Karena Coto Makassar lebih banyak berisi daging dibanding sayuran. Satu hal lagi yang perlu kita perhatikan ketika makan Coto Makassar adalah saat makan ketupatnya tidak bisa sembarangan.

Karena Coto Makassar ini penuh dengan kuah, jadi cara makannya ketupat dibelah dua kemudian disendok dan dimasukkan ke dalam mulut. Selanjutnya, baru kita mengunyah ketupat diikuti dengan memasukkan kuah coto dan daging yang belakangan disantap.

Nah, kan cara makannya saja sudah unik ya. Jadi, kalau yang bukan  orang Makassar, biasanya memasukkan ketupat (buras)-nya langsung ke dalam mangkuk coto.

Soto Trisakti
Jika diperhatikan  secara saksama, Soto Trisakti  ini hampir mirip dengan Soto Bandung, karena kuahnya yang bening. Mungkin saja dari isiannya yang berbeda. Soto Trisakti Solo sebagai soto khas Solo yang sudah berdiri sejak tahun 1962 dan telah melewati beberapa generasi. Meskipun begitu, cita rasanya tidak berubah.
 
Kampoeng Tempo Doeloe La Piazza Kelapa Gading: Soto Trisakti Solo tampak depan [Foto: Dok Pri]
Isinya berupa toge, bawang goreng, daging sapi, tomat, daun seledri, juga nasi. Nah, penyajiannnya ada beberapa cara. Pertama, nasi bisa langsung dicampur dengan soto atau dibuat terpisah.

Ditambah dengan kecap manis, jeruk nipis potong, dan sambal tentu menambah selera makan  semakin memuncak. Kalau dilihat lebih dekat lagi, ketika kita berjalan sebelum menyandarkan badan ke tempat duduk, kita bisa melihat uap yang keluar  dan memberikan aroma sedap membangkitkan selera makan. Aromanya sungguh wangi.


Kampoeng Tempo Doeloe La Piazza Kelapa Gading: [Atas] Tampak atas; [Bawah] Tampak samping [Foto: Dok Pri]

Bagaimana? Tinggal dua hari lagi lho Kampoeng Tempo Doeloe  di La Piazza, Kelapa  Gading, Jakarta Utara ini ada. Akan berakhir pada 6 Mei 2018. Sudah pada datang dan nyobain menu-menunya belum? Nyesel lho kalau nanti kelewatan. Ayooo buruan!!!

Tuesday, May 1, 2018

Imunisasi Lengkap Bersama Melindungi Diri, Generasi Bangsa Sehat Keluarga Bahagia


 
Pekan Imunisasi Dunia 2018: Capai Imunisasi Lengkap Bersama Melindungi dan Terlindungi [Foto: Dok Pri]
Dulu, sebelum punya anak, saya dan istri sempat bersitegang soal imunisasi. Istri sudah warning ke saya kalau punya anak, tidak akan diimunisasi. Sementara saya, bersikukuh harus diimunisasi. Saya punya alasan sendiri kenapa anak mesti diimunisasi, istri punya argumentasi sendiri.

Setelah beberapa lama, lahirlah anak pertama. Entah kenapa, yang dulunya istri bertahan dengan argumentasinya tidak mau anak diimunisasi, setelah beberapa bulan anak pertama lahir, akrirnya luruh juga. Bahkan dia yang selalu mengecek jadwal kapan imunisasi anak kami selanjutnya.

Ya, semua memang mesti disepakati bersama, mau atau tidak anak diimunisasi. Atau cari tahu ada tidak ruginya jika anak tidak diberikan. Karena langsung bertanya pada dokter anak yang sudah jadi dokter keluarga, justru disarankan. Dari situlah istri dan saya benar-benar menaati keberlangsungan kesehatan anak agar terhindar dari penyakit karena tidak mendapatkan imunisasi.

Imunisasi ini justru mampu menyelamatkan nyawa  anak manusia untuk anak-anak Indonesia sehat. Hal ini menjadi salah satu intervensi kesehatan yang boleh dibilang berhasil dan memberi efek jangka panjang anak terhindar dari  penyakit. Selain itu, tentunya biaya yang dikeluarkan tidak banyak (baca hemat biaya).

Aset masa depan  [Foto: Dok http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/imunisasi/]
Kalau dilihat sejauh ini rasanya miris, ternyata masih ada anak-anak di dunia yang tidak mendapatkan perlindungan imunisasi. Ada sekitar 19 juta anak yang justru tidak diimunisasi secara lengkap. Bayangkan saja, ternyata 1 dari 10 anak-anak itu tidak mendapat vaksinasi apapun yang juga tidak terdeteksi oleh sistem kesehatan.

Oleh karenanya, pemerintah melalui imunisasi ini ingin meluaskan capaian Sustainable Development Goals (SDG). Perlu memang kita ketahui bahwa, vaksinasi tidak hanya mencegah penderitaan dan kematian yang terkait penyakit menular, seperti TB, diare, campak, pneumonia, polio, dan batuk rejan, tetapi juga membantu mendukung prioritas nasional seperti pendidikan dan pembangunan ekonomi.

Kalau dilihat juga bahwa nilai vaksin ini sangat unik. Uniknya itu pendorong ditetapkannya Global Vaccine Action Plan (GVAP) 2020. GVAP ini disahkan oleh 194 anggota negara ada World Health Assembly ke-60 pada 12/05/2012. Hal ini sebagai kerangka kerja mencegah jutaan kematian akibat penyakit yang bisa dicegah dengan vaksin pada 2020 dengan akses universal untuk imunisasi.

Apa sih tujuan GVAP ini? Menetapkan imunisasi rutin, mempercepat kontrol penyakit yang bisa dicegah dengan vaksin (pemberantasan polio sebagai tahap pertama), mengenalkan  vaksin baru, dan memacu penelitian dan pengembangan teknologi vaksin.

Target GVAP ini memang untuk mengeliminasi penyakit, termasuk rubella, campak, juga tetanus neonatus dan maternal meski masih telat dari jadwal. Pekan Imunisasi Dunia ini menitikberatkan pada tindakan kolektif yang diperlukan dalam menjamin setiap orang terlindungi  dari penyakit yang bisa dicegah dengan vaksin.

Semua orang perlu diberitahu dan diajak termasuk pemerintah, organisasi profesi. LSM, organisasi lain yang peduli imunisasi, warga, mitras swasta, juga media untuk meningkatkan  capaian imunisasi secara berkelanjutan.

Berhubungan dengan hal ini, pada Rabu (25/04/2018) Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengadakan seminar media tentang vaksin dalam tema “Capai Imunisasi Lengkap: Bersama Melindungi dan Terlindungi” yang dihadiri blogger dan awak media bertempat di IDAI Salemba.

Prof. Dr. Cissy B. Kartasasmita, Sp.A(K), M.Sc, PhD. Ketua Satgas Imunisasi IDAI [Foto: Dok fkumpalembang.ac.id]
Hadir di tengah-tengah seminar tersebut sebagai pembicara Prof. Dr. Cissy B.Kartasasmita, Sp.A (K), M.Sc, PhD. Selalu Ketua Satgas Imunisasi IDAI. Prof Cissy menyampaikan bahwa, banyak penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi di antaranya,  campak, polio, hepatitis B, pertusis, difteri, Hib, dan tetanus.

Jika anak-anak tidak mendapatkan imunisasi dan terkena penyakit, maka kecenderungannya akan menjadi penyakit kronis dan mematikan. Misal pada bayi dan anak-anak, 80-90% yang terinfeksi tahun pertama ke kehidupan cenderung menjadi kronik. Sementara, anak yang berumur kurang dari 6 tahun 30-50% cenderung menjadi kronik.

Untuk orang dewasa, apabila penyakit yang semestinya harus mendapatkan perlindungan atau diimunisasi tetapi  tidak, maka kurang dari 5% dewasa sehat, jika terkena infeksi akan menjadi kronik. 20%-30% dari hepatitis kronik cenderung menjadi sirosis atau kanker hati.  Semakin kecil umur terkena infeksi, semakin besar kecenderungan menjadi kronis.

Sementara itu, lebih lanjut Prof Cissy menyampaikan apabila terjadi pada masa transmisi neonatal, 70%-90% dari Ibu HbsAg dan HbeAg positif, 20% apabila ibu HbsAg positif. Dari sini bayi tertular saat dilahirkan (penularan secara vertikal) dan 90% menjadi menahun akibatnya terjadi sirosis hepatis berujung pada kanker hati.
Menkes dalam Pencanangan Nasional Introduksi Vaksin Polio Suntik Gianyar Bali [Foto: Dok. http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/search/imunisasi/]
Bagaimana dengan TB? Secara global pada tahun 2013 19%-43.5% penduduk dunia terinfeksi M. tuberculosis. Kasus TB baru lebih dari 9 juta per tahun. Insidens SEA 35%, Afrika 30%, Western Pacific 20%. Pada anak, kasus baru ada 5 ratus ribu per tahun dan 80 ribu meninggal dunia.

Berdasarkan data Riskedas 2013, prevalens TB tahun 2007 & 2013 tidak jauh berbeda (0,4%). Provinsi tertinggi yang tekena TB dialami oleh Jabar (0.7%); Papua (0.6%), DKI Jakarta (0.6%), Gorontalo (0.5%), Banten (0.4%), Papua Barat (0.4%).

Bagaimana dengan Difteri? Difteri merupakan penyakit yang sangat menular disebabkan oleh Corynebacterium  diptheriae. Sumber infeksi hanya manusia yang ditularkan melalui aspirasi pernapasan, yaitu penyakit pernapasan bagian atas. Angka kematian  tertinggi di usia muda dan lansia.

Pun dengan pertusis. Penyakit ini sangat menular. Secara etiologi berasal dari Bordetella pertussis. Hati-hati ketika kita mendekati pasien ini, dapat terjadi penularan ketika pasien sedang batuk-batuk. Insidensinya akan meningkat pada bayi usia muda (pra vaksinasi). Beban ppenyakit global ini sekitar 136.372 kasus versus estimasi 17,6 juta pada 2003 dan 152.535 kasus pada tahun 2007 dan penyakit-penyakit lainnya yang  memang perlu imunisasi.
Jumpa Pers Menkes tentang Vaksin Palsu Lobby Blok A Gedung Adhyatma Kemenkes [Foto: Dok http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/search/imunisasi/]
Banyak pula orang tua yang kadang tidak ingin anak-anaknya diimunisasi. Menurut Riskesdas 2013, alasan utama anak tidak diimunisasi karena takut panas, keluarga tidak mengizinkan, tempat imunisasi jauh, sibuk/repot, sering sakit, dan tidak tahu tempat imunisasi.

Sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan, demam setelah imunisasi merupakan reaksi normal yang akan hilang dalam waktu 2-3 hari. Kejadian ikutan paska imunisasi yang serius sangat jarang terjadi. 

Fakta Imunisasi
Imunisasi mencegah penyakit, kecacatan, dan kematian dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, termasuk TB, hepatitis B, difteri, pertusis (whooping cough, batuk rejan), tetanus, polio, campak, pneumonia, gondongan, diare akibat rotavirus, rubella, dan kanker serviks.

Diperkirakan imunisasi sekarang dapat mencegah 2 hingga 3 juta kematian setiap tahunnya. Tambahan 1.5 juta kematian dapat dicegah jika cakupan imunisasi global meningkat. Selama 2016, diperkirakan 116,5 juta (lebih kurang 85%) anak-anak di bawah usia 1 tahun di seluruh dunia menerima 3 dosis vaksin difteri-tetanus-pertusis (DTP3). Anak-anak tersebut terlindung dari penyakit menular  yang menyebabkan penyakit serius atau kecacatan akibatnya fatal.
Kementerian Kesehatan memprakarsai sebuah pertemuan yang dihadiri perwakilan dari Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Direksi PT. Biofarma, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), UNICEF, WHO, serta para Kepala Dinas Kesehatan dan pemimpin MUI di 34 Provinsi di seluruh Indonesia di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Kamis siang (23/8). [Foto dan Keterangan: Dok. http://sehatnegeriku.kemkes.go.id]
Sekitar 19.5 juta bayi di dunia tidak mendapatkan imunisasi dasar bahkan melewatkannya. 60% anak-anak itu tinggal di 10 negara seperti Angola, Brazil, Kongo, Ethiopia, India, Indonesia, Irak, Nigeria, Pakistan, dan Afrika Selatan.

Cakupan imunisasi global sudah stagnan di 86% tanpa ada perubahan signifikan selama beberapa tahun terakhir. Ada peningkatan penggunaan vaksin baru dan vaksin yang kurang dimanfaatkan.

Vaksin yang diberikan kepada anak-anak merupakan produk yang menghasilkan kekebalan terhadap penyakit dan dapat diberikan melalui suntikan, melalui kulit atau diberikan melalui mulut juga dengan penyemprotan.

Sementara, vaksinasi sebagai tindakan penyuntikan organisme yang mati atau dilemahkan selanjutnya akan menghasilkan kekebalan tubuh terhadap organisme tersebut.
 
Dr. dr. Hindra Irawan Satari, Sp.A(K), M.TropPaed [Foto: Dok Pri]
Menurut Dr. dr. Hindra Irawan Satari, Sp.A(K), M.TropPaed, bahwa imunisasi itu aman untuk anak-anak dan efektif. Karena proses produksi vaksin melalui riset panjang menggunakan standar good clinical practice serta berdasarkan etik yang ketat.

“Mesti telah dilisensi, vaksin tetap berada dalam pantauan pemerintah maupun badan independen yang berkompeten,” jelasnya.

Kita juga mesti hati-hati dan waspada terhadap berita hoax yang mengatasnamakan vaksin. Ada kelompok yang antivaksin yang seringkali melebih-lebihkan risiko imunisasi tanpa bukti ilmiah.

“Mereka menggambarkan bahwa vaksin itu tidak efektif padahal risiko tersebar muncul (wabah) apabila anak tidak divaksinasi,” terang Dokter Hindra.

“Di sisi lain, banyak keluarga yang ragu-ragu untuk mengimunisasi anaknya. Keragu-raguan itu muncul karena adanya isi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Adanya isu halal-haram vaksin yang diberikan. Bahkan ada yang berpikir bahwa kandungan zat yang ada di dalam vaksin berbahaya,” ucap Dr Piprim B. Yanuarso, Sp.A(K).

Dokter Piprim B. Yanuarso, Sp.A(K) [Foto: Dok mommiesdaily.com]
Padahal kenyataannya tidak demikian. Tidak dianjurkan ketika anak dalam kondisi kurang sehat untuk diimunisasi, seperti batuk, deman, atau pilek.   

Apakah vaksinasi itu haram?  Menurut Dr. H.M. Asrorun Ni’Am Sholeh, MA,  bahwa vaksin harus aman dan sesuai norma agama. Bahan imunisasi harus aman dan sesuai norma agama. Pasal 153 “pemerintah menjamin ketersediaan bahan imunisasi yang aman, bermutu, efektif, terjangkau, dan merata bagi masyarakat untuk upaya pengendalian penyakit menular melalui imunisasi. Pasal 2 UU kesehatan menegaskan salah satu asas pembangunan kesehatan harus memperhatikan dan menghormati agama yang dianut masyarakat.

Fatwa MUI No. 4 tahun 2016 poin No. 5 program imunisasi hukumnya wajib. Disebutkan dalam hal jika seseorang tidak diimunisasi akan menyebabkan kematian, penyakit berat, atau kecacatan permanen yang mengancam jiwa, berdasarkan pertimbangan ahli yang kompeten dan dipercaya, maka imunisasi hukumnya wajib.
 
Dr. H.M. Asrorun Ni'am Sholeh, MA. [Foto: Dok seruji.co.id]
“Imunisasi pada dasarnya dibolehkan (mubah) sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh (imunitas) dan mencegah terjadinya penyakit tertentu. Vaksin untuk imunisasi wajib menggunakan vaksin yang halal dan suci. Penggunaan vaksin imunisasi yang berbahan haram dan atau najis, hukumnya haram. Imunisasi dengan vaksin yang haram dan atau najis, tidak dibolehkan, kecuali digunakan pada kondisi al-dlarurat atau ah-hajat; belum ditemukan bahan vaksin yang halal dan suci; dan adanya keterangan tenaga medis yang kompeten dan dipercaya bahwa tidak ada vaksin yang halal,” pungkas Arorun Ni’am.

Tiga hari pasca diterbitkannya Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 33 tahun 2018, Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moeloek, didampingi Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, Anung Sugihantono, dan Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam, menghadiri pertemuan yang mengundang semua Kepala Dinas Kesehatan dan Pimpinan MUI dari 34 Provinsi seluruh Indonesia.
Pertemuan yang diselenggarakan pada Kamis pagi (23/8) di Gedung Adhyatma Kementerian Kesehatan ini dilakukan dalam rangka bertujuan untuk penyebarluasan informasi secara utuh kepada pemegang program kesehatan (khususnya terkait program imunisasi) di daerah serta masyarakat mengenai pentingnya mendapatkan imunisasi MR. [Foto & Keterangan: Dok. http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/search/imunisasi/

Jadi, jelas kan  sekarang bahwa imunisasi tidak bertentangan dengan agama selama bahan-bahan yang dikandungnya tidak berasal dari bahan yang diharamkan dalam syariat Islam. Pencegahan melalui imunisasi artinya mencegah generasi masa depan bangsa dari beragam penyakit.