Tuesday, February 14, 2017

Simpang Tiga Rumpun Bambu Di Omkara Kita Bertemu

Saya tak pernah bosan mengingat atau mengenang Yogya. Kota yang selalu penuh dikunjungi wisnus dan wisman setiap waktu. Jelas-jelas menambah pendapatan Daerah Istimewa Yogyakarta. Entah bagaimana, Yogya menjadi magnet tersendiri untuk saya balik lagi dan balik lagi. Kekuatan yang tak mungkin saya kalahkan begitu saja. Bentang alam Yogya memang memesona saya. Tak cukup satu dua hari untuk menjelajahnya.

Omkara Resort, atmosfer Bali di Yogyakarta
Foto: Dok. Pribadi
Kembali ke Yogya mengingatkan masa mencari-cari tempat menginap, sejenis homestay, hotel, atau resort. Dalam satu tatanan cerita yang cukup panjang, mengaitkan saya  pada atmosfer seperti di Bali yang seolah-olah pindah ke Yogyakarta. Tanpa mengurangi rasa nyaman, privatisasi yang benar-benar terjaga. Di tempat itu, saya merasakan kesejukan, kedamaian, dan ketenangan yang luar biasa. Mengenyahkan beban-beban penat yang sempat menghinggap kuat di benak.
Berlatar belakang Gunung Merbabu-Merapi, Omkara Resort hadir
Foto: Dok. Pribadi
Gemericik air memberi nuansa teduh dan menghanyutkan. Saya mengingat kembali jalinan-jalinan asmara yang sempat tersulam dengan nuansa tersebut. Semilir angin malam menembus kulit saya. Kembali mencoba bersitahan mengingat saat-saat yang pernah saya lewati bersama hembusan dan desau angin di pucuk kelapa. Yogyakarta menggugah kenangan indah dan manis yang tak dapat saya tepis.

Aliran sungai ini yang mampu menyejukan jiwa salah satunya
Foto: Dok. Pribadi
Omkara Resort Yogya, ya, nama yang singkat dan mudah diingat, terutama untuk saya. Nuansa Bali cukup terasa manakala kaki menginjak malam tiba di sana. Dingin menyergap membuat saya sigap melebarkan tarikan selimut. Omkara Resort dengan nuansa bening gemericik membuat saya enggan bangkit dari pembaringan. Tempat yang memberi sejuta bahagia untuk saya.
Bagian belakang Omkara Resort
Foto: Dok. Pribadi
Di Deluxe Room ini saya menempelkan punggung penat
Foto: Dok. Pribadi
Omkara Resort terdapat di Utara Yogyakarta, tepatnya di Dusun Ngepas Lor, Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Tempat ini menawarkan ketenangan yang luar biasa untuk si penyuka keheningan. 

Bathroom yang aduhai Omkara Resort
Foto: Dok. Pribadi
Berada di daerah Sleman yang dekat dengan gunung Merapi, Omkara menawarkan pengalaman pedesaan alamiah yang sangat mengindonesia. Dengan liukan keunikan yang sangat cocok untuk setiap orang, baik untuk pasangan, perseorangan, maupun untuk bertemu dengan keluarga besar. Quality time dalam keriangan bersama-sama keluarga, di sinilah tempatnya.
 
Quality time bersama Prof. Sakamoto (ahli daluang)
Foto: Dok. Pribadi
Dengan dikitari aliran sungai yang menawan, pekerja-pekerja pedesaan, persawahan yang luas membentang, menjadikan Omkara Resort salah satu destinasi penginapan, baik wisman maupun wisnus paling dicari di Yogyakarta. Jika Anda suka permainan di bentang sawah, olahraga air, dan menikmati suasana pemandangan sawah, di Omkara-lah tempat yang tepat.

Aliran sungai keteduhan
Foto: Dok. Pribadi
Omkara Resort memberikan kelebihan-kelebihan yang belum tentu ada di tempat lain di Yogyakarta. Menyinggahi Omkara, seperti meluruskan punggung yang penat seharian bekerja dan segudang aktivitas lainnya. Me time saya pun berlaku sangat di Omkara. Menyinggahi dan bermalam di Omkara, seperti menutup luka yang tak akan terkuak kembali sebagai tempat terbaik resort. Ketenangan, kenyamanan, sembari menikmati keriangan atmosfer Yogyakarta di tengah pedesaan yang damai.

Penyejuk Jiwa
Foto: Dok. Pribadi
Makanan-makanan dalam perpaduan yang cantik dan menawan. Makanan Jawa dan Barat yang disatupadukan, membuat lidah terus bergoyang, pelayanan yang begitu ramah dan sangat terbuka. Itu yang membuat saya betah bertahan lama di Omkara.

Resto Omkara Resort
Foto: Dok. Pribadi










Makanan-makanan perpaduan ini yang mampu menghangatkan jiwa
Foto: Dok. Pribadi



Kursi Resto yang menghangatkan
Foto: Dok. Pribadi

Omkara berada sekitar 17 kilometer Barat Laut Bandara Internasional Adi Sucipto. Memiliki luas sekitar 6.000 meter persegi dengan tutupan vegetasi yang sangat indah dengan hawa pegunungan yang sangat sejuk. Vila-vila penginapan tersebar di antara pepohonan yang rimbun, menghadap daerah-daerah terpencil dalam luasan panjang sawah dan aliran sungai.


Aliran sungai ini mampu menyejukan
Foto: Dok. Pribadi
Masih banyak daerah-daerah resort yang belum tersentuh mungkin belum tersentuh, bisa mengundang tamu datang untuk menjejakkan kaki dan berjalan-jalan menikmati indahnya Omkara, berlibur bersama, dan menikmati cuaca yang sejuk dengan vegetasi masih perawan, adalah sesuatu hal lain dari yang lain, dan belum tentu ditemukan di tempat lain.

Deluxe Room
Foto: Dok. Omkara Resort
Omkara menghadirkan enam deluxe room dan Private Villa. Untuk Deluxe Room ini rata-rata menghadap ke arah aliran sungai dengan pemandangan yang langsung menghadap ke kebun-kebun pertanian. Menyejukkan deh.  Di room-nya sendiri memiliki meja tulis yang cukup besar dengan laci dan terbuat dari kayu jati yang sudah sangat tua, dilengkapi dengan TV flat screen 32” dan DVD Player.

Private Villa
Foto: Dok. Omkara Resort
Sementara Deluxe Family Room  dapat memuat hingga lima orang, dengan pemandangan yang menghadap sisi sungai dan terdapat pula pohon-pohon di sisi sungai yang melintas. Dilengkapi dengan kolam renang privat yang hanya lima langkah dari tempat kita menginap. Di sekitarnya dilengkapi dengan pemandangan pohon-pohon di sisi sungai dan bambu besar. Kamar ini dilengkapi dengan meja tulis besar beserta laci yang terbuat juga dari kayu jati tua, berikut sofa jati di pojok kamar, TV layar datar 32 inci, dan DVD Player.

Kamar-kamar yang dilengkapi dengan meja kayu unik jati tua
Foto: Dok. Omkara Resort
Private Villa memberikan kelebihan lain yang tak ada di tempat-tempat sejenis. Upper Bedroom, menghadap ke utara dengan pemandangan yang lansung ke perkebunan, sawah, dan kolam renang dengan latar belakang gunung. Kamar ini memiliki meja tulis yang cukup antik dilengkapi TV layar datar 32 inci dan juga DVD Player.

Keteduhan itu sangat dirasakan di bagian sini
Foto: Dok. Pribadi
Lower Bedroom, menghadap langsung dalam riakan-riakan sungai dengan pohon-pohon rindang di sisi sungai dan perkebunan. Kamar dilengkapi dengan meja tulis jati tua dan TV layar datar.

Two Additional Bedroom, langsung menghadap ke timur dengan pemandangan menuju kolam renang dan kebun dilatari pemandangan sungai. Di kamar ini juga dilengkapi dengan meja kayu jati  dan meja tulis untuk TV layar datar 32 inci beserta DVD Player. Menakjubkan! Harga masih sangat bersahabat dan tak menguras kantong. Private Villa dengan 8 orang termasuk sarapan pagi hanya IDR 4.400.000 sementara Deluxe Room (2 orang) IDR 775.000 termasuk sarapan pagi, dan Deluxe Family Room (5 orang) juga sarapan pagi IDR 1.850.000

Meeting and Wedding Room Omkara Resort
Foto: Dok. Pribadi
Dalam renungan saya di ambang sore yang mulai berlalu,  terhembus bisikan kata-kata yang menenangkan. Hal ini yang membuat tamasya indah saya tak jadi bisu. Dalam satu arah yang saya tempuh, seluruh pandangan terlepaskan. Tempat janji bertemu, mungkin simpang tiga rumpun bambu Omkara, yang penuh ladang  dan sawah.

Time with team
Foto: Dok. Pribadi
Sayang, sore di Omkara yang tak sempat saya nantikan. Di simpang tiga titian Omkara, berjalan dengan debar-debar kasih sayang. Terkadang, kata mesra terlontar untuk sebuah pengharapan. Bukan tanpa sebab saya singgah di Omkara. Tujuh senja yang saya nantikan, akhirnya di Omkara saya datang.

Father and his step children
Foto: Dok. Pribadi
Terima kasih Omkara, sejatinya saya perlu kembali lagi, mungkin tak tujuh senja lagi untuk dinanti. Saya singgah tak sepeminuman teh.

Simpang tiga rumpun bambu di Omkara kita bertemu
Foto: Dok. Pribadi







Bisik Pesona Jogja Bulan pun Tersenyum Manja


Pulang ke kotamu ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu tiap sudut menyapaku bersahabat
Penuh selaksa makna…
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu
…….. suasana Jogja

Teras depan Pesona Jogja Homestay
Foto: Dok. Pesona Jogja

Prof. Sakamoto menikmati suasana depan Pesona Jogja
Foto> Dok. Pribadi
Penggalan bait lagu “Yogyakarta” oleh Katon Bagaskara yang sempat ngehits  di era 90-an ini mengingatkan saya kembali pada suasana Jogja beberapa waktu lalu. Jogja semakin lama semakin bertumbuh. Pedagang-pedagang yang menjajakan sajian khas berselera masih ada hingga kini. Akan tetapi, meski tumbuh, keberadaannya mulai tergeser dengan pasar-pasar modern yang juga tumbuh seiring bergulirnya zaman.

Ahhh, saya memang bukan ahli ekonomi daerah, khususnya Jogja. Tetapi, saya ikut merasakan saja nasib para pedagang-pedagang di sana. Hmm… saya hanya melihat mereka bisa enjoy apa yang mereka lakukan, berkah Jogja memang melimpah untuk rakyatnya. Kembali ke Jogja tak membuat saya jemu atau bosan. Masih banyak yang ingin saya korek lebih dalam tentang Jogja. Terutama tempat-tempat menginap eksotis dan murah homestay dengan rasa bintang lima.

Tatkala berkunjung ke Jogja untuk kesekian kalinya, memilih satu tempat untuk bermalam yang cukup tenang, nyaman, dan aman. Ya, Pesona Jogja Homestay namanya. Tempat ini persis di tengah-tengah kota Jogjakarta. Akan tetapi punya atmosfer yang menyenangkan, menyejukkan, dan meneduhkan. Pepohonan di sisi-sisi dan depan homestay yang ditanam, menambah suasana indah pemandangan.

Halaman depan Pesona Jogja yang ditumbuhi tanaman menambah sejuk
Foto: Dok. Pesona Jogja
Pesona Jogja Homestay merupakan tempat hunian baik untuk perorangan maupun keluarga yang ingin merasakan bagaimana tinggal di Jogja, selayaknya warga Jogja kebanyakan. Juga melihat dan merasakan langsung tradisi budaya Jogja yang kental dengan Jawanya. Pesona Jogja Homestay ini terdiri dari enam rumah dengan beberapa pilihan, ada yang berisi tiga kamar tidur dan juga empat kamar tidur. Fasilitasnya boleh dibilang modern.

Halaman atas Pesona Jogja Homestay
Foto: Dok. Prinadi
Enaknya Apa di Pesona Jogja?
Meski satu unit rumah terdiri dari beberapa kamar, saya bisa memilih kamar secara terpisah atau bahkan satu unit rumah sekalipun. Meski begitu, privasi tetap terjaga. Bagaimana tidak, Pesona Jogja mengutamakan kenyamanan baik secara personal maupun tim untuk siapa saja yang berkunjung dan menginap.

Kamar utama Pesona Jogja Homestay yang cozy
Foto: Dok. Pribadi
Tak perlu khawatir untuk Anda yang ingin ber-hang out ria dari Pesona. Daerah Celeban atau Kusuma Negara merupakan daerah yang aman, tenang, dan terjaga. Kita dapat menuju kawasan yang banyak digandrungi wisatawan, baik wisnus maupun wisman yaitu Malioboro yang aduhai. Pun mengunjungi  tempat-tempat wisata yang sudah menjadi trade marknya Jogja seperti Keraton, Taman Sari. Akses ke Bandara Adi Sucipto pun relatif dekat dan tak menghabiskan banyak waktu di jalan.
Kamar utama sisi lain Pesona Jogja Homestay
Foto: Dok. Pribadi
Mau naik kereta api menuju stasiun? Jangan khawatir. Pesona Jogja yang notabenenya berada di tengah kota, memberikan kemudahan akses ke mana-mana. Tak perlu waktu lama ke stasiun kereta, 15-20 menit tembus, begitu pula jika kita mau plesiran ke candi-candi sekitar Jogja, terutama Prambanan. Ditempuh sekitar 30-40 menit saja. Ini salah satunya yang membuat Pesona Jogja menjadi incaran para wisatawan.
Peta Pesona Jogja Homestay yang dekat ke mana-mana
Foto: Dok. Pesona Jogja
Lepas senja saat remang melingkar langit, tak terasa rindu saya pun mulai bangkit. Pesona Jogja mampu memberi ruang kesyahduan untuk saya secara pribadi. Janji-janji alam di malam itu, membilang kepada saya bahwa rembulan akan datang menyinari. Taman-taman di depan pelataran dengan beragam tetumbuhan menambah syahdu.

Ruang tengah Pesona Jogja Homestay
Foto: Dok. Pesoan Jogja
Memang benar adanya, cipta alam di Pesona Jogja ini membawa suka. Dan ada bulan yang menyembul di antara ranting-ranting pepohonan yang bersemayam cantik di situ. Tak heran kalau saya betah berlama-lama duduk di ruang tamu atau ruang tunggu paling depan homestay ini. Malam di Pesona Jogja membuat saya semakin larut dalam kesyahduan.

Sisi lain Pesona Jogja (ruang tengah)
Foto: Dok. Pribadi
Riak-riak air dari dalam kamar mandi, seolah memanggil saya untuk disentuh dan segera membasuh badan. Hmm… hot dan cold water secara hunian modern tersedia. Senangnya, di malam yang dingin dan mulai sunyi itu kalau badan dibasahi dengan air hangat yang meluncur dari shower Pesona Jogja. Ditata secara apik dan modern, buat saya betah berlama-lama di kamar mandi (eiiitss).  

Kamar mandi Pesona Jogja yang modern
Foto: Dok. Pribadi
Kehangatan dan keramahan para Pekerja Pesona Jogja membuat betah saya berlama-lama. Setulus hati mereka melayani tamu. Malam menjelang pun masih bersiap menyapa. Terima kasih mba-mba dan mas-mas Pesona Jogja Homestay. Berkah buat kalian semua.

Oya, manakala saya menaiki balkon, bisa melihat dari ketinggian sekitaran Pesona Jogja. Di belakang homestay ini sendiri seperti yang Mba Widhi sampaikan ada persawahan. Menarik memang jika ke Pesona Jogja dengan kehidupan yang masih asri model pedesaan tetapi di tengah kota Jogjakarta.

Rindu-rindu saya makin membara… bulan muncul lagi di antara pepohonan dan ranting yang tumbuh di Pesona Jogja. Rupanya ada bulan di Pesona Jogja. Sebenarnya, saya ingin membawa serta anak dan istri saya untuk bersama di Pesona Jogja ini, tapi karena “tugas negara”, untuk sementara ditunda saja. Cocok ini buat anak-anak betah tinggal di rumah. Sang pemilik, Irma Devita, mampu mengonsep ruang dan rumah menjadi tempat tinggal/hunian tamu yang cozy.
Tangga menuju kamar atas Pesona Jogja
Foto: Dok. Pribadi
Layaklah Pesona Jogja menghuni ruang hati saya untuk perjalanan selanjutnya. Murah tapi tak murahan, kelasnya rasa bintang lima, bukan bermaksud melebih-lebihkan, tetapi itu yang saya rasakan. Rasa dan kenikmatan yang mencecap di tubuh saya tak dapat saya bohongi untuk Pesona Jogja. Atmosfer kesejukan mengaliri setiap denyut nadi saya. Riakan-riakan manja air yang mengalir dari pancuran kamar mandi pun mampu membangkitkan selera rasa saya yang sempat menghilang beberapa jam. Gemericik air kolam di depan hunian pun mampu membangkitkan rasa saya dan tak ingin saya lepaskan agar tetap tinggal di Pesona Jogja.

Sisi lain dalam kamar Pesona Jogja
Baru kali ini hati saya tertambat erat pada hunian serasa hotel bintang lima di tengah kota Jogjakarta. Hal lain lagi yang buat saya semakin betah, ada dapur yang bisa saya gunakan untuk masak makanan yang saya suka. Ukuran dapur yang tak terlalu besar itu sudah cukup untuk membuat saya berjikrak-jingkrak membolak-balikan panci penggorengan.

Dapur Pesona Jogja
Foto: Dok. Pesona Jogja
Selesai masak, sajian pun bisa dihidangkan ke ruang makan atau ruang santai. Nah, di sinilah mengapa saya semakin enggan pergi cepat-cepat dari Pesona Jogja. Ruang santai/ruang makan ini yang membuat saya betah berlama-lama sembari nyemil makanan ringan yang disediakan. Ruang tengah pun tak luput dari pantauan saya. Ketika saya kedatangan tamu, bisa saya persilakan untuk duduk di ruang tersebut.


Ruang santai atau tempat makan Pesona Jogja
Foto: Dok. Pribadi
Korelasi yang sangat apik menurut saya. Teras depan, ruang tamu (tengah), tempat santai/tempat makan, dapur, ada kamar di bawah, naik tangga ada tiga kamar dengan sirkulasi udara yang bagus. Aggh… syahdu rinai hujan semakin menambah enggan untuk pulang. Esok hari, jikapun saya kembali lagi, saya akan datang menemuinya lagi (Pesona Jogja).

Saya ingin bercerita banyak di Pesona Jogja, betapa rindu hati saya akan suasana. Karena malam itu saya hanya sendiri. Televisi jadi teman yang menanti. Bisik-bisik di Pesona Jogja ada ada bulan yang sedang tersenyum manja. Pesona Jogja… besok aku akan kembali, rindu padamu semakin dalam.

Rumpun bambu, di sisi Pesona Jogja (eeh ada apa ga ya?) kalaupun ada, hmm ini pasti akan menambah indah suasana. Tapi, pucuk-pucuk pohon (lupa namanya) dengan desau angin yang meniupkannya, sudah cukup mewakili saya. Angin malam yang berbisik merdu ditambah pula melintas burung malam berlalu… haduuh… Pesona Jogja buat saya melangut jiwa.

Untuk kamu yang mau stay lama atau sebentar, mencicipi Pesona Jogja tak jadi halangan. Jemputan atau antaran siap melayani. Tak usah risau soal kendaraan. So, ga mau ketinggalan kan ?

#PesonaJogjaHomestay
#Homestayrasahotel
#Homestayeksklusif
#Homestaykelasbintanglima


Monday, February 13, 2017

Blogger & Crafter Jogja Berjumpa dalam Satu Wadah: Clutch Bag Daluang

Kriya Indonesia kali ini singgah di kota Jogjakarta. Ya, kota dengan segudang seniman dan banyak julukan ini menjadi salah satu tempat tujuan workshop jahit Kriya Indonesia dan Mesin Jahit BROTHER,”Clutch Bag Daluang”. Peserta berasal dari kalangan Blogger dan Crafter Jogja serta daerah sekitar Jogja. Antusias yang ingin mengikuti workshop ini tak tanggung-tanggung, melebihi dari target yang ditetapkan KI. Oleh karenanya, peserta  mau tidak mau harus diseleksi yang memang benar-benar tertarik.

Workshop Jahit Clutch Bag Daluang
untuk para Blogger dan Crafter Jogja
Foto: Dok. KI
Lima puluh peserta terpilih, yang dibagi menjadi 25 Blogger dan 25 Crafter dengan dua sesi. Sesi pertama dikhususkan untuk Blogger dan sesi kedua untuk para Crafter. 

Salah satu sisi Pesona Jogja tempat berlangsungnya workshop
Foto: Dok.Pribadi
Pelaksanaan workshop jahit clutch bag ini dilakukan pada 4 Pebruari 2017 bertempat di Pesona Jogja Homestay.

Blogger Jogja antusias mendengar penjelasan tentang kain kulit kayu
Foto: Dok. Pribadi
Antusias peserta terutama dari Blogger sangat terlihat tatkala Tim Kriya Indonesia mulai memperkenalkan apa itu daluang, pohon Saeh, dan salah satu yang memperkenalkannya adalah seorang yang memang ahli di bidangnya, konservator, dan juga pemerhati naskah-naskah kuno yang ditulis di atas kertas daluang. Beliau adalah Profesor Isamu Sakamoto.

Profesor Isamu Sakamoto ahli kertas (daluang) dari Jepang
Foto: Dok. Pribadi
Pada kesempatan itu pula, Founder Kriya Indonesia juga mengenalkan sedikit sejarah mengenai kain kulit kayu, yang di Jawa dikenal dengan nama daluang, dluwang, atau druwang ini. Sejarah mencatat, bahwa kain kulit kayu sudah ada sejak zaman megalitikum yang hingga kini masih berlangsung. Tempat berlangsung pembuatan kain kulit kayu yang masih ada hingga hari ini ada di Provinsi Sulawesi Tengah, tepatnya di Lembah Bada dan daerah-daerah sekitar Palu lainnya.

Astri Damayanti FKI dalam penjelasannya
Foto: Dok. Pribadi
“Kain kulit kayu ini menjadi sebuah tradisi panjang sejarah Indonesia yang sudah ada sejak zaman megalitikum. Hingga kini, pembuatannya masih berlangsung yang terdapat di Sulawesi Tengah, tepatnya di Lembah Bada”, ucap Founder Kriya Indonesia, Astri Damayanti.

Kain kulit kayu,  jarang memang terdengar dan dipakai dalam dunia pertekstilan di Indonesia. Dari sinilah Kriya Indonesia memperkenalkan lebih jauh kepada Blogger dan Crafter Jogja, bahwa kain kulit kayu ini bisa dijahit dengan rapi dan bagus. Dari sisi ekonomi, kain kulit kayu punya peluang yang sangat besar dan harga yang dapat bersaing di pasaran.
Hasil olahan kain kulit kayu: Kutu Baru Astri Damayanti
Foto: Dok. Pribadi 
Pada kesempatan itu pula, Profesor Sakamoto menyampaikan bahwa Indonesia menjadi satu-satunya negara di dunia yang masih memproduksi kain kulit kayu. Oleh karena itu, dari para blogger dan crafter inilah kain kulit kayu harus terus didengungkan dan  diinformasikan untuk dapat disebarluaskan ke publik. Tujuannya tak lain agar mereka peduli. Karena di beberapa daerah bahkan negara (luar negeri), pohon yang menghasilkan kain kulit kayu masih terus ditanam dan dikembangkan.

Pohon Saeh (Broussonetia papyrifera (L)) penghasil kain kulit kayu/kertas dalung
Foto: Dok. Pribadi
Sementara, representatif BROTHER Jogja, Mas Danny menyampaikan, bahwa pada hari ini (4/2/2017), dan hanya di kesempatan ini saja, harga mesin jahit BROTHER GS2700 dapat dibeli on the spot dengan potongan diskon yang lumayan besar. Harga mesin jahit BROTHER GS 2700 hanya dilepas dengan harga 2,4 juta saja per unit. Siapapun yang membeli pada hari itu diberikan pelatihan cara menggunakan mesin jahit BROTHER.

Mas Danny Representatif BROTHER Jogja
Foto: Dok. Pribadi 
Kehebohan Blogger mulai terlihat tatkala mulai mengenal bagian-bagian mesin. Di antara para blogger Jogja tersebut ada yang memang sudah familiar dengan mesin juga belum. Rata-rata hanya perlu pengenalan sebentar saja, selebihnya mereka pun mulai beradaptasi dengan cepat.

Antusias Blogger Jogja saat FKI mempraktikkan cara memasukkan benang ke mesin Jahit BROTHER
Foto: Dok. Pribadi 
Kesulitan dari mereka ketika memasukkan benang ke dalam jarum. Ini karena belum terbiasa saja. Lama kelamaan mereka terbiasa dan bisa. Karena masih pemula, rata-rata jahitan mereka memang masih ada yang miring kiri kanan.

Akan tetapi, sebelum menjahit secara serius, Astri Damayanti mengenalkan terlebih dahulu teknik menjahit lurus. Sebagai pemanasan untuk para blogger menjahit lebih lanjut nantinya. Tombol-tombol mesin jahit BROTHER pun mulai mereka perhatikan satu per satu dan dipraktikkan. Sebelumnya menjahit di atas kain kulit kayu, mereka mencoba terlebih dahulu di atas potongan kain. Namun, beberapa di antara para blogger itu pun ada yang langsung menjahit di atas kain kulit kayu. Dan hasil jahitan mereka pun rata-rata rapid dan bagus.   

Agar tidak saling berdesakan satu sama lain, blogger dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama untuk menjahit dan bagian kedua menggambar di kertas daluang (kain kulit kayu) sebelum mereka mengikuti workshop menjahit secara bergantian.

Untuk itu, Neng Tanti Doodle-lah yang memberikan cara-cara menorehkan goresan di atas kertas daluang tersebut. Hasil coretan para blogger Jogja ini bagus-bagus dan menarik. Doodle yang diperkenalkan oleh Neng Tanti Doodle ini merupakan teknik dasar menggambar. Doodle sendiri merupakan coretan bebas yang diekspresikan dalam berbagai media, salah satunya kain atau kertas.

Neng Tanti Doodle sedang memberikan penjelasan menarik garis Doodle
Foto: Dok. Pribadi
Secara bergantian para blogger yang telah selesai menjahit, mengikuti workshop doodle dan sebaliknya. Minat para blogger menggali ilmu dan keterampilan tak terhalang jarak. Ada blogger yang datang dari Solo, bahkan dari Surabaya. Inilah yang disebut kecintaan pada profesi. Jarak bukan halangan untuk mengejar dan mengetahui yang belum pernah mereka dapati.
Salah satu hasil Doodle peserta di Daluang yang dijahit dibuat Clutch Bag
Foto: Dok. Pribadi
Setelah sesi menjahit dan doodle bersama blogger selesai, selanjutnya photo session. Kebersamaan yang hanya beberapa jam itu mampu menyatukan mereka, bahkan mempertemukan mereka yang selama ini hanya kenal di dunia maya, kini bertatap muka di dunia nyata. Antusias mereka dengan acara ini.
Para Blogger Jogja foto bersama setelah workshop usai
Foto: Dok. Pribadi
Representatif BROTHER Jakarta, Maya Budi Santoso,  pada kesempatan itu pula menyampaikan ucapan terima kasih kepada para blogger yang telah bersedia hadir mengikuti workshop menjahit clutch bag kain kulit kayu.

“Terima kasih saya ucapkan kepada teman-teman blogger Jogja yang sudah bersedia hadir di workshop ini. Ini menjadi satu kesempatan lagi, BROTHER dan Blogger menjalin kerjasama. Kesempatan ini menjadi satu momentum kita, bahwa dari  rekan-rekan semualah BROTHER menjadi dikenal. Sukses untuk kita semua”, tutur Maya.

Untuk sesi berikutnya, adalah bagian dari Crafter Jogja. Crafter Jogja ini tak perlu waktu lama untuk menjahit. Rata-rata mereka bahkan pemilik toko kerajinan. Ya, dari namanya saja sudah tak asing, Crafter (perajin). Hasil-hasil yang mereka kerjakan pun lebih bagus. Memang, rerata mereka baru menggunakan mesin jahit BROTHER untuk menjahit di workshop tersebut.

Crafter Jogja mendengarkan penjelasan dari FKI Astri Damayanti & Prof. Sakamoto
Foto: Dok. Pribadi
Meskipun para crafter ini baru menggunakan mesin jahit BROTHER, karena memiliki dasar menjahit, jadi cepat beradaptasi. Ya, semangat Crafter dan Blogger Jogja ini menjadi trigger factor  untuk blogger dan crafter lain.

Akhir workshop untuk Crafter pun dilanjut dengan sesi foto bersama dengan BROTHER dan Kriya Indonesia. Di tangan-tangan terampil merekalah kain kulit kayu disebarluaskan untuk diketahui. Indonesia yang sangat kaya, jangan sampai kain kulit kayu merana tak punya nyawa.

Crafter Jogja foto bersama usai workshop
Foto: Dok. Pribadi
Sakamoto dan Kriya Indonesia pun sangat berharap banyak dari Blogger dan Crafter untuk menyebarluaskan informasi kain kulit kayu secara massal. Semoga!


Wednesday, January 25, 2017

STABILO-DOODLE On Bogor Railway Station

STABILO merupakan pembuat stationary asal Jerman untuk kebutuhan menulis, mewarnai,  juga kosmetik. Menjadi produsen terbesar di dunia untuk spidol, pulpen, pena, juga Stabilo Boss. Alat-alat tulis ini kebanyakan digunakan untuk kebutuhan kantor, sekolah, juga kuliah.

STABILO  men-doodle di Stasiun Bogor
Foto: Dok. Pribadi
Meski telah memiliki nama, tetapi STABILO tak ingin berhenti mendengungkan dan menghasilkan bentuk-bentuk lain dari beragam alat tulis yang sudah ada. Mereka terus melakukan terobosan agar lebih dikenal lagi masyarakat luas.

Sebagaimana kita ketahui, STABILO didirikan sebagai perusahaan Grossberger & Kurz Bleistiftfabrik atau perusahaan pensil di Nuremberg pada 1855 bersama produsen pensil lain seperti Staedtler dan Faber-Castell, karena daerah tersebut dilingkupi oleh grafit dan tanah liat tambang.

Marker, salah satu produk STABILO
Foto: Dok. Pribadi
Kemudian diakuisisi oleh keluarga Schwanhäusser pada 1865. Mengambil bagian pertama dari nama keluarga, perusahaan ini berganti nama menjadi Schwan Bleistift Fabrik dan mulai menggunakan logo angsa sebagai salah satu merek dagang yang paling pertama. Pada 1909 Dermatograf Kosmestik pena telah diciptakan, yang terutama digunakan oleh ahli bedah untuk menandai kulit. Selama beberapa waktu, Schwan memiliki tiga merek; pensil premium Stabilo untuk pengguna yang paling menuntut kekuatan pensil, pensil Othello untuk pasar missal, dan Swano pensil bebas bahan beracun untuk anak-anak.

Contoh Pensil produk STABILO
Foto: Dok. Pribadi
Mulanya, nama perusahaan ini adalah Schwan Bleistift Fabrik lantas berganti nama menjadi Schwan-Stabilo pada 1976 untuk menghormati keluarga Schwanhäußer. Pada 1992, Schwan-Stabilo dibagi menjadi dua perusahaan terpisah, yaitu Schwan-Stabilo Kosmetik dan Schwan-Stabilo (alat tulis).

Kantor pusat perusahaan ini berada di Heroldsberg, Jerman dan memiliki tiga anak perusahaan produksi: 1) Weissenburg di Bayern, Jerman tempat stabilo diproduksi, didirikan pada 1986; 2) Johor Bahru, Malaysia tempat bolpoin diproduksi, didirikan pada  1976 sebagai Swan Malaysia; 3) ÄŒeský Krumlov, Republik Ceko, tempat pensil berbasis kayu diproduksi, didirikan pada 1992.

Untuk meluaskan informasi kepada masyarakat, STABILO menggandeng Doodler cantik asal Tangerang, Tanti Amelia. Tanti Amelia, mempelajari doodle secara mendalam sejak tahun 2011. Selama ini dirinya, memang fokus mengerjakan ilustrasi (sketsa) gambar biasa. Dia membuat ilustrasi pertama kali ketika berada di Palembang. Saat itu Budenya (Jawa-red) minta dibuatkan desain baju, padahal usianya kala itu masih sangat belia, 11 tahun.

Tanti Amelia--Neng Doodle sedang doodling dengan STABILO
Foto: Dok. Pribadi
Lantas, pada 1994, dirinya mulai menekuni dunia gambar menggambar secara serius ketika di Nestle, saat sang boss pindah ke negara Swiss, dia membuat gambar Pabrik Permen. Kenapa Tanti Amelia boleh dibilang tergila-gila dengan gambar? Sepenggal kalimat terucap langsung dari bibirnya, “Aku, sejak mulai bisa bicara permintaanku pertama kali adalah spidol. Aku suka banget sama spidol”.

Tak dapat dipungkiri bahwa bakat yang terus menerus digali, lama kelamaan memunculkan sesuatu yang spektakuler. Melihat cara Neng—biasa Tanti Amelia disapa—menorehkan  setiap goresan alat tulis STABILO, goresan-goresan itu seolah bernyawa dan memiliki kekuatan. Doodle yang dibuatnya pun terasa hidup. Ini kali ya yang memang disebut BAKAT!
Mba Neng Doodle bersama para blogger pserta doodle
Foto: Dok. Pribadi
Untuk yang belum tahu mungkin, doodle merupakan gambar yang cukup simpel, akan tetapi punya makna yang mewakili bentuk-bentuk yang tak begitu nyata. Hal itu dapat kita lihat di lukisan abstrak dinding gua, coretan di buku catatan sekolah, atau di tembok-tembok rumah tepi jalan karena ulah iseng anak-anak yang tak punya niat masuk kelas alias bolos.

Alexander Puskhin memenuhi buku catatannya dengan banyak coretan sketsa tangan dan kaki teman-temannya. Pushkin membuat doodle dalam berbagai kesempatan. Beberapa doodle-nya pun dibuat film animasi oleh Andrei Khrzhanovsky dan Yuriy Norshteyn pada 1987 dengan judul My Favorit Time.

Pemenang Nobel  (sastra, 1913) penyair Rabindranath Tagore membuat sejumlah besar coretan di naskahnya. Penyair dan juga seorang dokter, John Keats mencoret-coret di pinggiran catatan medisnya; Sastrawan lain seperti Samuel Beckett dan Sylvia Plath juga membuat doodle. Matematikawan, Stanislaw Ulam mengembangkan Ulam spiral untuk visualisasi bilangan prima dan mencoret-coret catatannya saat menghadiri presentasi  membosankan di sebuah konferensi matematika. Banyak Presiden Amerika (termasuk Thomas Jefferson, Ronald Reagan dan Bill Clinton) pun membuat coretan-coretan selama pertemuan berlangsung. Di buku catatan Leonardo da Vinci pun ditemukan beberapa doodle dan gambar.
Salah satu doodling peserta
Foto: Dok. Pribadi
Doodling kali ini mengambil tempat di Stasiun Bogor dengan tema yang disesuaikan pula dengan tempatnya. Pada kesempatan itu, hadir Kepala DAOPS I Stasiun Bogor, Bapak John Berto beserta staf, Founder Kriya Indonesia Astri Damayanti beserta Tim, Komunitas Tau Dari Blogger, M. Sobari; perwakilan dari STABILO sebagai sponsor utama, Pak Rey dan Mba Irene, dan peserta doodle yang kebanyakan para blogger.

Pak Rey berkaos Oranye perwakilan dari STABILO
Foto: Dok. Pribadi
Sebelum para peserta membuat doodle, mereka diajak berkeliling stasiun Bogor oleh Kepala DAOPS 1 Stasiun Bogor. Mereka melihat ruang VIP stasiun bogor yang berada di  lantai atas. Setelahnya, mereka kembali ke ruang VIP bawah untuk memulai doodling.

Kepala DAOPS 1 Stasiun Bogor (memegang Mik) Bapak John Berto
Foto: Dok. Pribadi
Tanti Amelia mengawali pembuatan doodle dengan menorehkan garis sesuka hati pada kertas di satu white board. Sementara, para peserta (blogger) mengikuti dan membuat coretan sesuai keinginan mereka pula. Masing-masing peserta berkreasi menciptakan doodle sebagus yang mereka inginkan.  

Torehan garis Neng Doodle seolah bernyawa
Foto: Dok. Pribadi
Ada banyak torehan-torehan bermakna doodle yang dibuat peserta. Mba Neng pun kembali menunjukkan kebolehannya. Sembari peserta membuat doodle, dia membacakan setiap bentuk goresan peserta tersebut. “Doodle itu juga dapat menunjukkan watak seseorang lho”, ucap Mba Neng.

Neng Doodle saat diabadikan
Video: Dok. Pribadi
Ada doodle yang menunjukkan bahwa seseorang itu tegas, lembut, juga diantaranya. Mba Neng tak sekadar men-doodle, tetapi dia juga mempelajari watak dan karakter goresan tersebut. Dengan adanya hal ini, semoga Doodle dan Mba Neng Doodle terus berkarya dan menghidupkan doodle di negeri ini.


Tim KRIYA INDONESIA bersama STABILO
Foto: Dok. Pribadi