Tuesday, May 23, 2017

Ramadan Sehat & Praktis Bersama Philips: Masak Dengan Philips Hanya Sejarak Colokan Listrik

Ramadan menjelang, tentu perlu persiapan baik fisik maupun mental.
Puasa, sebagai salah satu cara untuk menahan atau mengendalikan diri dari segala hal dalam waktu tertentu. Perbuatan ini menjadi salah satu cara seseorang untuk membersihkan pencernaan, menurunkan berat badan, dan kebutuhan religi lainnya. Ibarat mesin, sudah saatnya seluruh organ tubuh perlu “istirahat” sejenak dari aktivitas “menggiling” sesuatu dari matahari terbit hingga menjelang terbenam. Oleh karenanya, kondisi tubuh perlu beradaptasi sebelum melakukan kegiatan puasa. Artinya, akan terjadi perubahan pola makan secara drastis selama puasa.

Makanan sehat itu tak harus mahal
Foto: Dok. Pribadi
Nah, bicara pola makan, bentuk-bentuk makanan yang mampu menyeimbangkan kondisi tubuh selama puasa, dan masak praktis tetapi bergizi selama Ramadan dengan peralatan-peralatan terbaru dari Philips, pada satu kesempatan, Senin (15/05/2017) saya menghadiri undangan Ramadan Bersama Philips di Ayana Mid Plaza, bilangan Sudirman, Jakarta Pusat.

Ramadan sehat dan praktis bersama Philips
Foto: Dok. Sally Fauzi
Untuk mengenal lebih jauh pola makan selama puasa hadir pembicara  Dr.(c) Rita Ramayulis, DCN. M.Kes selaku ahli gizi yang sudah sangat berpengalaman dalam dunia gizi untuk memberikan pencerahan mengenai asupan, jenis makanan, dan bagaimana tindakan yang perlu dilakukan selama kita berpuasa.

 
Ahli Gizi UI, Rita Ramayulis (kanan) dalam tanya dan jawab
Foto: Dok. Sally Fauzi
Seperti yang beliau sampaikan bahwa puasa itu sama seperti kita mendetoks diri, yaitu mengeluarkan racun-racun yang sudah lama bersarang di dalam tubuh dengan cara-cara tertentu, salah satunya  puasa. Kita tahu bahwa, “You’re what you eat” itu memang benar adanya. Kita adalah apa yang kita makan, artinya segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuh mencerminkan diri seseorang. Merunut pada kejadian seseorang yang menderita sakit tertentu, itu ditentukan oleh pola makan dan jenis makanan yang dikonsumsi sebelumnya. Ini pula berhubungan dengan “Your grandmother eat”. Bagaimana tidak, jenis-jenis penyakit menurun lainnya, seperti diabetes  itu ditentukan dari pola makan nenek kita dahulunya.

Makanan sehat dan praktis sajian Ramadan yang mudah
Foto: Dok. Pribadi
Pola makan yang baik tentunya akan mempengaruhi kondisi tubuh seseorang. Ketika berpuasa tentu pola makan kita berubah. Hal ini sejalan dengan tingkat metabolisme basal seseorang, yaitu tingkat dasar tempat tubuh Anda mengonsumsi kalori untuk fungsi metabolisme dasar seperti mempertahankan suhu internal, memperbaiki sel, memompa darah, kekuatan otot saat istirahat, dan sebagainya.  Dengan kata lain, BMR sebagai tingkat kondisi tubuh mengonsumsi kalori saat istirahat.

Kebutuhan kalori kita tentunya berbeda-beda sesuai BMR itu tadi. Wanita tidak akan sama dengan pria. Wanita, kebutuhan kalori hanya 25 kkal/kg BBN untuk usia 40-69 tahun koreksi 5%, 60-69 tahun koreksi 10% dan 70 tahun ke atas koreksi 20%. Laki-laki perlu 30 kkal/kg BBN, dan BBN untuk usia lebih dari 40 tahun & atau TB kurang dari 150 cm wanita, kurang dari 155 cm pria. Sedangkan penambahan untuk aktivitas fisik 10 hingga 50 % BMR.

Buah dan madu sangat penting untuk mengembalikan cairan tubuh
Foto: Dok. Pribadi
Oleh karenanya, makanan yang dikonsumsi harus mampu me-rehidrasi tubuh dengan cairan dan elektrolit, juga dapat menaikkan kadar glukosa darah menjadi stabil. Nah, berangkat dari sinilah, mengapa pada saat berbuka dianjurkan untuk mengonsumsi kurma. Kurma, salah satu buah yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW. Karena di dalam buah kurma mengandung glukosa, fruktosa, dan sukrosa. Ketiga gula ini sangat baik untuk mengembalikan kondisi lemah tubuh selama berpuasa.

Sementara itu, makan malam sebagai proses pemenuhan kebutuhan atas energi dan zat gizi yang memberikan rasa kenyang, juga memberikan kepuasan cita rasa. Dengan pola makan yang diatur sedemikian rupa, baik sayur, lauk-pauk, buah, dan makanan pokok, masing- masing dapat terpenuhi secara baik dan bijak. Utamanya lagi tidak berlebihan yang dapat memberikan dampak negatif terhadap kondisi tubuh.

Bagaimana makanan selingan tengah malam boleh dimakan? Kita bisa mengonsumsi makana selingan tengah malam setelah salat tarawih atau menjelang tidur. Hal itu diperlukan untuk melengkapi gizi yang belum terpenuhi selama puasa. Oleh karena itu, saat berbuka dan makan malam sebaiknya ada menu sayuran dan protein yang diperlukan untuk mengembalikan kesegaran tubuh.

Sahur itu perlu, karena diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi. Tentu dan sebaiknya memilih pula makanan sumber energi yang akan dicerna lebih lambat dan bertahap. Melengkapi protein rendah lemak atau sedang dan tinggi lemak tetapi tidak digoreng, lebih lama dicerna dan tidak membebani proses pencernaan. Sahur diperlukan juga untuk memenuhi kebutuhan cairan beserta elekrolit agar dapat bertahan lama. Usahakan konsumsi lemak rendah agar tidak membebani pencernaan selama puasa.

Perlu kita ketahui dan hindari untuk tidak berbuka dan sahur dengan  minuman dan makanan yang terlalu manis dan jenis gula hanya sukrosa. Sebisa mungkin hindari makanan yang digoreng dan tepung terigu. Suhu ruang itu lebih baik (tidak terlalu panas atau dingin) karena kondisi tubuh orang berpuasa berubah. Jauhkan pula sahur dengan total lemah tinggi. Jika Anda pengidap asam lambung, jangan coba-coba untuk makan makanan yang merangsang asam lambung seperti pedas, asam, terlalu manis, apalagi mengandung kafein. Jangan pernah pula Anda coba ketika berbuka makan dengan makanan yang mengandung gas seperti nangka, kol, duren, sayuran berserat tinggi, dan minuman berkarbonasi.

Makanan Ramadan memang menggiurkan dan menggairahkan. Banyak jenis olahannya yang menggoda selera. Kebanyakan cara masaknya pun dengan digoreng menggunakan minyak banyak.Jarang sekali makanan Ramadan dimasak tanpa minyak. Apalagi dulu, ibu saya hampir dipastikan selalu masak dengan menggunakan minyak banyak. Terkadang melihatnya jadi tak berselera karena genangan minyak masih ada di mana-mana di makanan itu.

Ya, karena dulu peralatan masak dan sistem memasak yang ibu punyai tak secanggih seperti sekarang. Masih tertanam dalam ingatan saya. Ketika menjelang akhir Ramadan, ibu mengajak saya ke pasar untuk mencari kocokan telur. Saya membayangkan, ibu membeli mixer yang sekali mengocok telur bisa sampai puluhan bahkan ratusan butir. Tetapi di luar perkiraan, dan bahkan saya tidak tahu. Ketika sampai di rumah ternyata ibu membeli kocokan telur yang terbuat dari kawat baja, dengan bentuk melintir agak bulat.

Namun, dengan telaten beliau mengocok telur, mentega, dan gula menggunakan kocokan itu. Tak terbayangkan rasa pegal tangan kala itu. Jika pegal melanda, saya gantian mengerjakannya. Pernah ibu berkata, “Kocok telurnya jangan berhenti, nanti turun dan tak mengembang”. Ya, ibu dengan sabar memberikan saya pengertian. Demi untuk menghadirkan kue lebaran yang dapat dinikmati banyak orang kepada tamu yang datang.

Ketika ingin menghancurkan buah pisang sebagai campuran, ibu pun menggunakan bagian bawah gelas. Pastinya lama dan tidak akan pernah hancur dan halus sempurna. Tetapi, tak pernah beliau meletihkan ucap dari dua katup bibirnya. Telaten dan penuh kesabaran mengajarkan saya untuk melakukan seperti yang beliau kerjakan. Pegal tangan pun tak bisa dihindari. Bayangkan saja, itu belum kue pesanan tetangga yang jumlahnya bisa mencapai ratusan toples.

Untuk memasak nasi pun demikian, ibu masih menggunakan periuk aluminium berupa dandang kukusan. Nasi yang dimasak setengah matang, kemudian dikukus. Terkadang ya buat nasi liwet sekalian. Di sini saya melihat perjuangan yang beliau lakukan untuk memenuhi kebutuhan dan menyenangkan anak-anaknya dengan caranya.

Kue-kue yang dikocok dengan “Mixer Tradisional” dan uang hasil kue yang dipesan hingga ratusan toples itu beliau kumpulkan. Entah sudah berapa banyak jumlahnya. Hingga satu ketika, kembali Ibu mengajak saya ke pasar. Tetiba, pertanyaan saya langsung menyergap, “Ibu mau beli kocokan telor kawat baja lagi?” Beliau hanya tersenyum tipis. Tetap saja saya mengikuti langkah ibu.

Sudah berapa banyak toko yang ibu datangi, tetapi belum  juga menemukan apa yang beliau inginkan. Hingga sore menjelang dan rasa capek ingin segera pulang menghadang, saya sudah tak sanggup jalan. Ibu masih memberikan semangat dan sayangnya untuk saya terus mampu berjalan hingga barang yang beliau ingin didapatkan.

Mata ibu tertuju di salah satu toko pojokan jalan Pasar Los Angso Dua Jambi itu dengan bagian toko yang terpisah dari ruko-ruko. Ibu menanyakan kepada pemilik toko Mixer merek Philips, dengan sigap Koko pemilik toko memberikannya. Oh, saya baru paham mengapa ibu “keukeuh” berkeliling mencari barang yang diidamkannya. Ya, Mixer Philips itu jatuh dalam genggaman ibu. Begitu pula dengan blender dan rice cooker Philips idamannya.

Saya bertanya pada ibu, “Kenapa Ibu pilih Philips?” Beliau menjawab singkat, “Bagus, Kuat, dan Tahan Lama”. Oh, benar adanya. Beliau tak lagi bersusah payah mengocok telur buat kue pesanan atau sekadar menghaluskan buah untuk buat jus. Tetapi, tak lama beliau menikmati mixer dan blender Philips hasil jerih payahnya itu.

Kini, beliau sudah tak mengocok telur, membuat jus, atau menanak nasi lagi. Beliau sudah beristirahat dengan tenang untuk selamanya.  Semua peralatan Philipsnya diwariskan ke saya.  Generasi penerusnya yang mengocok telur, membuat jus, dan menanak nasi meneruskan tradisi, termasuk pula membuat ragam kue pesanan.

Yongky Sentosa (kiri) Head of Personal Health Philips Indonesia
Foto. Dok: Sally Fauzi
Philips, http://philips.to/HomeLivingID semakin berkembang dan terus berinovasi. Seperti yang dikatakan Bapak Yongky Sentosa, Head of Personal Health Philips Indonesia, “Philips mengerti kebutuhan masyarakat saat ini. Masyarakat yang memiliki mobilitas tinggi dan waktu sangat terbatas, tetapi tetap ingin menjaga kesehatan, baik pribadi maupun keluarga. Peralatan dapur inovatif Philips memungkinkan ibu maupun anggota keluarga dapat menyiapkan makanan sehat dengan cara yang sangat mudah dan praktis, khususnya saat puasa. Ya, ketika setiap orang harus menjaga stamina agar tetap sehat”.

Di sela-sela acara saya mencoba inovasi alat terbaru dari Philips Airfrayer with Rapid Air technology. Philips Airfryer  HD9220/40 sebagai produk  untuk menggoreng tanpa minyak yang sangat laris terjual di pasaran. Tak hanya di Indonesia, di berbagi negara, nama besar Philips sudah tak diragukan lagi untuk meyakinkan konsumen bahwa Airfryer ini memang sangat  berkualitas dan bagus. Itu sudah saya buktikan sendiri.


Philips AirFryer HD9220/40 praktis untuk memasak sebagai persiapan Ramadan
Foto: Dok. Pribadi
Philips Airfryer HD9220/40 dilengkapi rapid air technology. Hal itu memungkinkan kita bisa melakukan penggorengan, memanggang, ataupun membakar makanan dengan praktis, cepat, dan sangat rendah lemak. Airfryer hanya mengeluarkan sedikit aroma kalau kita bandingkan dengan penggorengan biasa (konvensional). Kelebihan Airfyer sangat mudah dibersihkan, sistem operasinya hemat dan ekonomis, serta aman digunakan sehari-hari.

Desainnya unik untuk menghasilkan masakan yang lezat rendah lemak atau tanpa minyak. Mudah dan cepat saat kita memasak dalam jumlah besar dengan resep-resep favorit pilihan keluarga. Memiliki waktu kontrol yang dapat disesuaikan saat kita memasak dengan kekuatan yang besar dan menghasilkan masakan yang cepat.

Ini merupakan Air fryer yang sangat kompak, glossy, dan stylish. Memiliki bentuk yang meninggi dibanding melebar. Nah, kalau kita perhatikan penggorengan konvensional itu lebar. Bagian atas dari airfryer merupakan elemen pemanas dan juga kipas. Sementara, bagian bawahnya sebagai laci tempat kita memasak yang dapat didorong dan ditarik untuk melihat hasil masakan. Di bagian belakangnya sebagai storage untuk menyimpan gulungan kabelnya.

Pengatur suhunya sangat cepat dipelajari dan full timer. Dial di atasnya untuk mengatur suhu, dan  pengatur waktu ada di atas pegangan (handle).  Meski bentuk timer dan pengatur suhunya analog, tetapi tetap keren. Kalau waktu memasak sudah di titik nol, akan terdengar bunyi “ding”. Jadi, airfryer ini sangat mudah dibersihkan. Kalau bagian bawah keranjang ada sisa makanan, sedikit saja disikat, soalnya lebih sederhana dengan sedikit lemak yang tersisa.

Di kesempatan itu, saya mencoba membuat menu sehat ala Philips dengan  menggunakan Philips Air Fryer, yaitu bola-bola ayam sayur berbahan dasar ayam yang sudah dihaluskan, wortel cincang, daun bawang, bawang goreng, lada, garam, tepung terigu, telur, dan tepung roti. Ini  resep praktis dan sehat ala Philips.

Resep Bola-Bola Ayam Sayur
Bahan
150 gr dada ayam cincang
1 buah worterl potong dadu atau dicincang, rebus setengah matang
Garam secukupnya
Merica bubuk secukupnya
Daun bawang cincang secukupnya
100 gram tepung terigu
1 butir telur ayam
150 gram tepung roti.

Cara membuat
1.    Taruh ayam dalam wadah, masukkan wortel, daun bawang, garam, dan merica secukupnya, aduk rata.
2.    Buat adonan menjadi bola-bola ukuran sedang.
3.    Masukkan bola-bola ayam sayuran ke dalam tepung terigu kering.
4.    Lumuri dengan telur  yang sudah dikocok.
5.    Balut bola-bola ayam dengan tepung roti.
6.    Goreng bola-bola ayam memakai PHILIPS AIRFRYER selama 15 menit suhu 200oC. Lakukan 2 kali pembalikan bola-bola saat memasak hingga matang merata.
7.    Bola-bola siap disajikan.

Bola-Bola Ayam Sayur yang dimasak dengan Philips Airfryer HD9220/40
Foto: Dok. Pribadi
Tak perlu waktu lama menggunakan PHILIPS AIRFRYER, 15 menit colok ke listrik,  masakan sehat, enak, dan praktis tersaji cepat di meja makan. Tidak ada bau menyengat sama sekali dari alat ini, dan hasil masakan, matang sempurna!  Saya berpikir, dengan resep yang sama, tetapi beberapa bahan diganti menggunakan jamur tiram atau jamur kancing cincang yang sudah di-blanch, brokoli cincang, seledri, dan buncis cincang, dapat saya masak sebagai hidangan praktis Ramadan saya dan keluarga nanti bersama Philips.   

Masak dengan peralatan Philips ini hanya sejarak colokan listrik Tinggal colok, beres semuanya.
Airfryer HD9220/40 (kiri) dan Blender More Than Blender Philips (kanan)
Foto: Dok. Pribadi
Untuk menghasilkan minuman yang sehat dan bergizi menjelang buka puasa itu perlu. Minuman sehat dan bergizi itu penting untuk mengembalikan kondisi cairan  tubuh yang hilang selama puasa. Minuman tersebut utamanya dari buah-buahan yang banyak mengandung air untuk dibuat jus. Nah, di kesempatan yang sama pula saya mencoba membuat resep praktis dan sehat berupa Energizer Juice dengan menggunakan Blender Philips HR2115/40.

Bahannya pun sangat mudah diperoleh dan simpel dibuatnya.
Bahan
2 potong melon; ½ buah mangga Manalagi; 1 buah perasan jeruk Pontianak; dan es batu 4 kotak.

Cara membuat
Campurkan seluruh bahan ke dalam blender Philips dan blender 30 detik, jus siap disajikan.

Energizer Juice yang dibuat dari Blender Philips HR2115/40
Foto: Dok. Pribadi
Bicara blender Philips tentu tentunya saya akan bilang bahwa blender Philips punya kualitas yang sangat baik untuk ibu dan keluarga saat mengolah bahan atau bumbu masakan yang siap dipakai. Oleh karena itu, ketika saya ingin memasak cukup menggunakan tak perlu bersusah payah mengulek bumbu.

Menjadi catatan: cuci bersih bahan yang diperlukan, kupas, dan potong-potong. Nah, saat saya ingin masak, cukup mengambil seperlunya saja. Ketika menyimpannya pun begitu mudah dan simpel, cukup diletakkan dalam kulkas untuk tetap segar dan awet. Blender Philips  HR2115/40 ini begitu banyak kelebihannya. Dari penampilannya saja sudah sangat ingin digunakan. Tampilannya elegan dan mewah, bisa menghiasi tempat saya masak (baca dapur) sehari-hari.

Nah, Blender Philips HR 2115/40 ini punya pisau sangat tajam di bagian bawah dan bergerigi. Ketika bahan-bahan makanan ingin saya blender, ada kemudahan yang saya peroleh, yaitu mengaduk dan menghancurkan bahan makanan begitu mudah, tinggal colok ke listrik, cepat, dan hasilnya halus puas sempurna. Kenapa saya suka dengan blender Philips ini, itu tidak lain pisaunya bisa dilepas dan dibersihkan, beda dengan blender-blender lainnya.

Wadah blendernya pun begitu ringan karena berbahan plastik. Mungkin saat kita mencuci tergesa-gesa dan tiba-tiba jatuh, tak perlu khawatir pecah. Itulah sebabnya, blender Philips untuk saya mampu memberikan rasa yang benar-benar nyaman dan aman. Pilihan kecepatannya pun lengkap (multiple speed). Ada lima kecepatan yang bisa disesuaikan dengan bahan yang ingin diblender. Ada tombol pulse untuk mematikan mesin, oleh karenanya, kenyamanan pemakaian dapat dioptimalkan.


Hasil dari AirFryer HD9220/40 berupa Bola-bola ayam sayur
Energizer Juice dari Blender Philips HR2115/40
Adanya tombol quick clean di Blender Philips ini juga memberikan kemudahan. Ya, ketika blender yang dipakai terdapat kotoran, dengan mudah tombol panel itu membantu membersihkan. Daya tampungnya  mencapai 2 Liter dengan tegangan yang masih sangat murah, 600 watt.

Adanya multi mill accessory, baik untuk grinding maupun chooping bahan-bahan keras dan lembut jadi sangat mudah dilakukan. Misalnya saja ketika kita mau menggiling kacang, blender-blender lain sulit sekali menghancurkan maupun menghaluskan kacang, tetapi dengan blender Philips HR 2115/40 ini semua lancar sempurna. Colok ke listrik, putar tombol, jalankan! Hasilnya? Halus sempurna!

Bukan Philips namanya kalau tak memberikan garansi. Bayangkan saja, garansi dua tahun Philips berikan untuk blender ini. Ketika spare part blender rusak atau saat blender akan diservis karena rusak, Philip memberikan gantinya. Jika ada kerusakan sebelum masa garansi habis,  Philips memberikan spare part gratis. Kalau lewat dari waktu garansi, tentunya menjadi tanggung jawab pemakai untuk memperbaikinya.  Hal ini benar-benar dapat memaksimalkan garansi blender Philips yang kita peroleh.

Hingga hari ini, keluarga saya tak bisa pindah ke lain blender, hanya blender Philips yang selalu nempel di hati. Ibu pun kini sudah tak menggiling menggunakan cobek lagi. Membuat jus buah tak harus menghancurkannya dengan bagian bawah gelas. Cobek itu kini pensiun setelah hampir 25 tahun menemani beliau di dapur.    





TIPS:  Do and Don’t Selama Puasa


Ketika saya mencoba Philips Juicer, hasilnya kental dan sempurna
Foto: Dok. Pribadi

Sari buah dari Philips Juicer ini sangat baik untuk pencernaan dan kesehatan
Foto: Dok. Pribadi
1.    Konsumsi karbohidrat kompleks: KH Kompleks lebih tahan lama dan membuat kadar gula darah dalam tubuh lebih stabil karena punya indeks glikemik yang rendah. KH Kompleks ada pada beras merah, ubi jalar, singkong, sagu, gandum, sereal, dan roti. Dapat dibuat pula makanan seperti bubur kacang hijau dengan gula aren atau gula jawa
2.    Konsumsi buah dan sayur: Buah & sayur punya serat tinggi dan kaya vitamin serta mineral yang  baik untuk tubuh. Makanan dengan serat tinggi penting selama puasa. Berguna untuk membersihkan makanan dalam saluran pencernaan.
3.    Minum delapan gelas air putih: Tubuh perlu air untuk metabolisme.
4.    Hindari makanan bersantan: Ini akan membuat kolesterol tubuh tinggi.
5.    Hindari daging bebek: Daging bebek punya kadar lemak tak jenuh tinggi. Dapat menyebabkan penyumbatan arteri. Konsumsi cukup 1-2 minggu sekali saja.
6.    Hindari konsumsi kulit ayam: Kolesterol di kulit ayam sangat tinggi, di atas 100 mg.
7.    Hindari seafood seperti udang: Udang punya kadar kolesterol tinggi, 195 mg. Tetap harus  waspada.
8.    Kurangi konsumsi telur rebus: Per ons telur rebus punya kadar kolesterol 200-250 mg khusus untuk kuning telurnya.
9.    Hindari jeroan: Jeroan punya kontribusi besar sebagai penyumbang penyakit asam urat dan kolesterol.

10.  Hindari konsumsi daging cumi: Cumi-cumi memang kecil bentuknya, tapi bahaya kolesterolnya tinggi. 

Sunday, May 21, 2017

PT Timah Karya Persada Properti: Usung Konsep Landed House Green Area “Familia Urban” di Kota Bekasi

Kota Bekasi, menjadi salah satu tujuan untuk orang-orang tinggal dan menetap atau memilih memiliki rumah. Kota Bekasi menjadi tempat penting pula untuk orang-orang mencari penghidupan dan mempersiapkan diri untuk masa depan yang jaraknya pun relatif dekat dengan Ibukota Jakarta.
Pada Kamis, (18/05/2017) saya berkesempatan hadir bersama Blogger Crony dengan PT Timah Properti untuk  Gathering Blogger dalam  memperkenalkan lebih jauh apa itu Familia Urban di Kota Bekasi.

Familia Urban, menjadi rumah tapak berkonsep hijau yang dikembangkan PT TIMAH PROPERTI
Foto: Dok. Pribadi
Mengapa demikian? Karena Bekasi persis berada di tengah-tengah dengan posisi yang sangat trategis untuk pergi ke mana-mana. Bekasi memberikan akses yang sangat mudah dan terjangkau untuk kita dapat menikmati beragam keperluan kehidupan, terutama kebutuhan pokok manusia, contohnya rumah.

Tipe 90/120 Rumah Tapak Familia Urban
Foto: Dok. Pribadi
Kota Bekasi memberikan pula kemudahan tempat tinggal untuk sesiapa yang ingin menetap dan memilikinya. Nah, di tangan PT Timah Karya Persada Properti (Timah Properti) kota Bekasi, tepatnya di Mustika Jaya dikembangkan hunian tapak (landed house) berkonsep hijau dengan ditumbuhi banyak pepohonan, area bermain anak-anak, juga tempat rekreasi bagi keluarga di kawasan hunian Familia Urban ini.

Mengapa dikatakan berkonsep hijau? Lebih jauh, Manager Realty timah Property Chrishandono Heswadhi mengatakan, kawasan yang bernama Familia Urban tersebut nantinya ditanami 1.000 pohon Trembesi untuk Bekasi. “Aktivitas penanaman pohon ini menjadi bukit komitmen PT Timah Properti yang tak hanya membangun bisnis, tetapi juga memikirkan bagaimana kawasan Bekasi untuk masa depan.

MC Kondang Yozh S. Aditya (Kiri_, Chrishandono Heswadhi (Tengah)  Manager Realty Familia Urban
Andris Sayoga (Kanan) Sales Manager Familia Urban
Foto: Dok. Pribadi
Dengan menanam 1.000 pohon untuk Bekasi itu PT Timah Properti dapat berkontribusi untuk pelestarian lingkungan di Bekasi, dan juga turut menjaga Indonesia sebagai paru-paru dunia”. Lebih lanjut dikatakan Chrishandono, mengapa dipilih Trembesi, karena akar-akar Trembesi ini sangat kuat untuk menampung resapan air dari berbagai arah. daun Hunian ini dibangun di atas areal seluas 176 hektar. Waw! Akan tetapi, tidak semuanya dibangun untuk perumahan.

Rumah idaman keluarga tercinta di Familia Urban Kota Bekasi
Foto: Dok. Pribadi
PT Timah Properti juga mengembangkan kegiatan bisnis seperti membangun perkantoran, mall, tempat rekreasi, juga hotel. Dengan total lahan 176 hektar itu ternyata 40 persennya justru akan menjadi ruang terbuka hijau. Sementara, 70 persennya adalah rumah tapak, sisanya untuk area komersial seperti ruko, mal, juga pasar tradisional. Menurut saya, ini merupakan konsep rumah dengan tatanan sangat modern dan juga terjangkau.

Konsep yang mengedepankan kebijakan lingkungan global tetapi tetap hijau. “Untuk tahap pertama ini dibangun sejak Mei 2017 yang rencananya akan mulai diserahterimakan pada November-Desember 2017”, ucap Pak Chrishandono. Kawasan yang dibangun dan dikembangkan ini ada beberapa cluster, antara lain Gayatri. Bayangkan saja, harga rumah ini sangat terjangkau, sekitar 385 juta.
Tipe 36-72 Rumah Tapak Familia Urban Kota Bekasi
Foto: Dok. Pribadi
Wah, dengan harga segitu, kita bisa punya rumah yang asri, hijau, ramah terhadap lingkungan, ruang terbuka hijau yang luas, keamanan 24 jam di setiap cluster dan diberi CCTV pula. Jadi, PT Timah Properti ini benar-benar merencanakan secara matang apa yang sudah didengungkan dan menjadi komitmen mereka kepada konsumen. Dengan harga 385 jutaan itu, kita sudah punya rumah berikut halaman dan juga tanaman yang ada sekaligus. Harga itu untuk cluster Gayatri. Bagaimana dengan cluster Ganesha? Type 40 dari Cluster Ganesha dihargai hanya 440 juta. Apalagi, Familia Urban dari PT Timah Properti ini memberikan kemudahan untuk konsumen.


Tipe 69-120 Rumah Tapak Familia Urban, Kota Bekasi
Foto: Dok. Pribadi
Apa sih kemudahan yang diberikannya? Ya, kita bisa menggunakan fasilitas KPR dengan cicilan yang masih sangat terjangkau. Untuk Cluster berikutnya adalah cluster Dharmawangsa. Nah, di cluster ini harganya juga terjangkau, hanya 678 jutaan, dengan type 60 dan 69. Rata-rata, rumahnya bisa dibayar tunai dan juga melalui program KPR selama 15 tahun.

Familia Urban juga sangat cocok untuk keluarga baru, keluarga yang baru punya anak yang memang perlu tempat bermain yang asri dan sejuk, bersosialisasi, juga berkembang dan mengenal satu sama lain, juga bebas lalu lalang kendaraan dengan keamanaan yang ketat. Saya sih memang merekomendasikan Familia Urban untuk tempat tinggal.


Tipe 60-90 Rumah Tapak Familia Urban Kota Bekasi
Foto: Dok. Pribadi
Daerahnya dibuat sejuk, akses ke jalan tol yang sangat dekat, dan untuk ke Jakarta juga tak repot-repot, karena banyak kendaraan. Pengalaman pribadi saya ketika cari rumah, saya akan melihat seluruh areal dan akses ke jalan raya. Selanjutnya, apakah keamanannya terjamin atau terjaga 1 x 24 jam, kendaraan untuk masuk ke areal perumahan, tempat bermain, dan terpenting lagi ruang terbuka hijau, karena ini penting sekali sebagai penyaring udara.

Nah, semua itu ada di Familia Urban. Satu hal lagi, di Familia Urban ini menyediakan bus stop. Artinya apa? Jadi, kalau kita mau keluar dari perumahan, kita bisa menunggu bus jemputan yang akan mengantarkan kita menuju ke akses jalan utaman. Waah, lengkap banget ini fasilitasnya. Rugi banget saya kalau tidak cepat-cepat ambil rumah di sini. Bisa-bisa kehabisan.


"Sampai akhir tahun ini Familia Urban targetkan sekitar 300-an unit yang akan terjual, nilainya sekitar Rp200-an miliar," kata Chrishandono.

Di sela-sela pengenalan Famili Urban, Blogger Crony mengadakan live competition. Alhamdulillah, saya masuk sebagai pemenang best live competition tersebut. Terima kasih Blogger Crony.

Live Competition Winner
Foto: Dok. Pribadi
Rumah buat saya sebagai tempat tumbuh, berkembang, berteduh, bersosialisasi, bermain, dan mencurahkan segala isi hati kepada keluarga tercinta. Rumah itu sebagai Surga buat keluarga. Berikan kenyamanan di dalamnya. Familia Urban menjawab  semuanya.

Blogger Gathering bersama PT TIMAH PROPERTI
Foto: Dok. BC-Kendilima-Timah Properti

Friday, May 19, 2017

Tepung Gasol: MPASI & Zero Waste Industry

Indonesia, sebenarnya sudah sangat lama melakukan riset dan diversifikasi sumber pangan alternatif. Tidak ada dampak yang signifikan ataupun berdampak buruk ketika mengganti makanan pokok penduduk Indonesia dengan bahan pangan alternatif lainnya seperti tepung-tepungan, baik tepung pisang, ketela rambat, talas, maupun umbi-umbian lainnya. Tetapi, memang sangat disayangkan, program “Alternatif pengganti bahan pangan utama” dibilang tidak berjalan baik, karena keengganan untuk memulai dan merasa lebih “terhormat” ketika makan nasi dibanding makan jewawut, arrowroot (Garut), ketela rambat, pisang, kacang-kacangan, sagu, maupun jagung. Oleh karenanya, sebagaimana orang Indonesia kebanyakan, kalau belum makan nasi, belumlah makan dan sampai hari ini beras masih menjadi primadona makanan pokok bangsa ini.

Gasol Factory di Kab. Cianjur, Jawa Barat
Foto: Dok. Pribadi
Apa yang saya paparkan di atas tentunya tak lepas dari peran serta masyarakat, terutama masyarakat lokal yang memiliki naluri (instinct) menggali potensi daerah dan mengembangkan lahan menjadi berdaya guna untuk orang banyak. Peduli pada makanan yang mengandung nilai gizi tinggi, mencukupi kebutuhan asupan sehari-hari, menghadirkan bayi-bayi sehat, kuat, dan jarang terkena penyakit, juga memberi edukasi kepada warga ibukota yang nyatanya memang “kurang pengetahuan” untuk terjun langsung menyaksikan sawah luas terbentang, bentuk nyata diversifikasi tanaman, pengelolaan kotoran ternak, pemanfaatan limbah hasil pertanian, juga menyentuh lebih jauh kehidupan pedesaan yang arif dan bijaksana dalam tataran norma adat dan kesopanan tinggi.


Rumah kaca yang menjadi satu kesatuan dengan factory
Foto: Dok. Pribadi
Hari itu, Selasa (16/05/2017), kembali mata saya dibukakan lebar-lebar. Apa pasal? Apa yang anak-anak saya konsumsi ketika mereka masuk bulan ke-7, ada di depan mata saya secara nyata. Ya, tepung Gasol. Saya dibawa ke Desa Gasol Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat oleh owner Gasol dan Komunitas ISB untuk melihat dan menyaksikan langsung Gasol Factory juga House of Paddy di desa tersebut.

Rumah kayu, singgah pertama dari idaman Pak Fleming
Foto: Dok. Pribadi
Menempuh perjalanan lebih  kurang tiga jam dari Jakarta, melewati jalan berliku dan sedikit berbatu. Saat memasuki Desa Gasol, terasa ada yang berbeda. Melihat bentangan hijau sawah melambai sejauh mata memandang. Pepohonan jambu, pisang, beberapa herba di kiri kanan jalan menambah indah suasana pemandangan. Sekitar pukul 11.30 kami tiba di Gasol Factory itu dengan disambut Ibu dari pemilik (Ibu Wawa), Bapak Rohman selaku Factory Manager, Pak Dadang (Factory Supervisor), juga Pak Irfan.

Pak Rohman, Manager Gasol (kiri), Mas Abraham Wong, Digital Marketing Gasol (Tengah), dan
Ibu Wawa selaku pengelola Gasol (Kanan). Foto: Dok. Pribadi
Bagaimana Gasol Dimulai?
Bapak Fleming Wong dan Ibu Ika Suryanawati, menjadi orang yang berjasa--(tak berlebihan rasanya saya sematkan kata “berjasa” untuk beliau)--untuk bayi-bayi  di Indonesia ini tumbuh sehat dan cerdas karena olahannya itu tadi. Ika Suryanawati yang kini sudah almarhumah, biasa disapa Ika, merupakan sarjana Agronomi  Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 1991 yang memang punya keinginan memiliki pertanian organik. Beliau terinspirasi dari konsep seorang Mikrobiologi berkebangsaan Jepang bernama Manasobu Fukuoka  dalam satu buku “Revolusi Sebatang Jerami”. Bahwa, manusia itu sebenarnya  tidaklah bisa melawan takdir alam. Manusia justru menjadi pelayan alam sehingga alam dapat berproduksi secara melimpah ruah.

Bapak Fleming Wong,Owner Tepung Gasol
Foto: Dok. Pribadi
Memang, kalau diperhatikan, kala itu pertanian organik belum ada sama sekali kata “populer” yang tertanam di negeri ini. Ibu Ika pun pernah kerja di beberapa perusahaan seperti batu bara juga garmen. Alhasil, keinginan kuatnya untuk membuat pertanian organik tidaklah pernah surut. Pada 2004, Ika bersama Pak Fleming Wong  yang notabenenya suaminya memutuskan untuk pulang kampung ke Cianjur.  Mereka ingin mewujudkan mimpi-mimpi yang pernah ditancapkan dalam benak paling tinggi.

Pemanfaatan lahan dengan tanaman sawi di area belakang Pabrik
Foto: Dok. Pribadi
Benar adanya, untuk mencari lahan pun Pak Fleming dan istrinya tak semudah membalik telapak tangan, minimal ada sumber air juga bebas polutan (bahan-bahan penyebab polusi). Dua tahun kemudian, Pak Fleming membeli lahan seluas 2.500 m2 di Desa Gasol yang memang tak jauh dari sekitar kaki Gunung Gede.  Impian Pak Fleming memiliki rumah kayu yang aduhai indahnya itu pun terwujud di sana. Ya, saya pun merasakan kesejukan, ketenangan, dan kedamaian berada di dalamnya. Jauh dari hiruk pikuk kuda besi ibukota pastinya.

Pemanfaatan lahan dengan tanaman selada di belakang pabrik
Foto: Dok.Pribadi
Tanah seluas itu beliau bangun untuk rumah dan beberapa gudang penyimpanan, sebagian lahan ditanami juga untuk persawahan. Akan tetapi, perlu proses pengolahan panjang untuk mengembalikan tanah yang ditanami padi itu agar berfungsi secara maksimal. Sekitar dua tahun tanah itu diolah untuk dapat mengembalikan unsur hara yang hilang. 

Untuk selanjutnya, ada hal-hal yang perlu diyakinkan kepada petani mengenai konsep pertanian organik yang akan dijalankan Pak Fleming dan Ibu Ika ini. Kalau sekarang zaman semakin maju dan orang-orang lebih memilih kepraktisan ketimbang bersusah-susah payah, beda halnya dengan Pak Fleming dan Ibu Ika. Mereka justru ingin mengembalikan alam dalam kondisi alamiah tanpa campur tangan pestisida.

Setiap hari mereka berdua berjibaku dengan tanaman padi. Beragam jenis padi dilihat dan dipelajari. Kekhawatiran mereka timbul akan beberapa jenis padi yang mungkin sudah mulai jarang ditemukan dan itu menjadi padi lokal unggulan Kabupaten Cianjur, bernama Pare Ageung. Padi jenis  ini mulai punah dan sulit ditemukan.  Ibu Ika (alm) memang pejuang sejati. Tak berhenti sampai di situ untuk berburu padi varietas langka ini. Beliau berburu hingga ke Warung  Kondang, juga Cibeber. Alhasil, satu-satunya jenis padi itu yang masih bertahan ada hanya di Desa Gasol.  Menurut orang-orang setempat, bahwa mereka hanya mau makan makanan lokal.

Salah satu jenis padi (Omyok) untuk tepung gasol
Foto: Dok. Pribadi
Padi Genja berumur pendek
Foto: Dok. Pribadi
Beberapa jenis padi yang ditanam di Desa Gasol antara lain, Peuteuy, Hawara Batu, Merah Wangi, Rogol Koneng, juga Omyok. Nah, ternyata bibit padi ini diperoleh dari hasil penemuan di lapangan oleh Ibu Ika. Yang namanya usaha perlu perjuangan dan kegigihan. Ada kalanya berhasil dan ada saatnya gagal. Sebelumnya, hasil  pertanian organik Pak Fleming dan Ibu Ika sempat turun drastis, padi lokal yang ditanam umur panennya sangat panjang, juga penelitian yang dilakukan hingga ke daerah-daerah menyedot banyak uang.

Sawah yang ditanami beberapa jenis padi di perkebunan Gasol
Foto: Dok. Pribadi


Makanan Pendamping ASI (MPASI)
Banyak  manfaat dari ikut milis ataupun sekadar melihat-lihat beberapa milis. Ternyata, istri Pak Fleming—Ibu Ika sekitar tahun 2005—mengikuti beberapa milis. Milis itulah yang menjadi penunjuk sekaligus pembuka jalan Pak Fleming dan istrinya. Tak dinyana, ternyata banyak sekali di negeri ini yang memerlukan tepung berbahan dasar beras. Pak Fleming beserta istrinya mencoba meracik Tepung Gasol dari beras-beras organik yang ditanam di areal perkebunannya, berupa Hawara Batu, Cingkrik, Peuteuy, juga Merah Wangi. 

Varian tepung Gasol
Foto: Dok. Pribadi
Dulunya, beras-beras itu diolah hanya sekitar tak lebih dari 20 kilogram, pengolahannya pun masih manual tanpa mesin. Beras yang ditumbuk menggunakan lumpang (lesung), pengeringannya pun melalui proses pengeringan manual pula, disangrai atau digoreng tanpa minyak. Apa yang terjadi? Hasil olahan tepung gasol mereka banyak yang suka.


Varian berikutnya tepung Gasol
Foto: Dok. Pribadi
Seiring bergulirnya waktu, tepung gasol Pak Fleming makin banyak dicari, terutama untuk makanan pendamping ASI. Hal ini memang bagus untuk menambah massa tubuh bayi. Sedikit berbagi pengalaman untuk tepung gasol. Saat anak-anak saya menginjak bulan ke-7, istri saya bingung mau cari makanan pendamping ASI seperti apa. Banyak MPASI yang beredar, tetapi setelah dilihat-lihat ada yang menggunakan gula.


Jenis lain Tepung Gasol
Foto: Dok. Pribadi
Lantas saya coba browsing internet, dan menemukan situs http://gasolorganik.com/  ini. Dari sini, saya telusuri di mana tepung gasol yang terdekat dengan daerah saya,ternyata ada. Saya coba beli dua varian kala itu, tepung gasol kacang hijau dan beras merah. Saya coba  buat dari tepung beras merah terlebih dahulu dengan campuran beberapa macam sayuran. Satu sendok pertama langsung lahap, sendok kedua juga habis, ketiga, keempat, dan seterusnya. Alhasil anak saya suka. Setelah habis tepung gasol beras merah, saya coba tepung gasol kacang hijau. Sama cara memasaknya, saya campurkan beberapa jenis sayuran dan daging ayam.

Disuapan pertama langsung ditelan, kedua pun habis, ketiga, keempat, dan seterusnya, lahap. Alhasil, anak-anak saya memang suka dengan tepung gasol. Badan mereka pun keras dan padat. Ditambah lagi jarang terkena sakit. Kecerdasan mereka pun terus bertambah, tulang-tulang mereka kuat. Saat berkonsultasi ke dokter anak keluarga, dokter pun bilang, tepung gasol direkomendasikan dan baik untuk pertumbuhan bayi  kami.

Saya pun mencoba masak bentuk lain dari tepung gasol ini. Ya, kecintaan saya dengan dunia kulinari, membuat sesuatu yang lain dari tepung gasol. Saya racik menjadi beberapa jenis makanan ringan untuk anak-anak saya, berupa cookies dan pudding tepung gasol. Untuk buat cookies dari tepung gasol apa saja bisa. Biasanya saya buat cookies dari tepung kacang hijau yang dicampur sedikit mentega, telur, dan brown sugar, serta kismis. Hasilnya, anak-anak saya menyukai cookies gasol kacang hijau.

Begitu pula dengan pudding dan chiffon cake. Saya buatkan pudding dari tepung gasol beras merah dengan tambahan gula palm, telur, agar-agar, dan  susu cair. Pun mereka  menyukai  dan lahap menghabiskannya. Chiffon cake yang saya buat dari tepung gasol beras merah tak kalah seru. Hasilnya lembut dan mengenyangkan. Jadi, banyak  sekali manfaat tepung gasol yang keluarga saya dapatkan. Tak hanya sebagai MPASI tetapi juga mampu memenuhi gizi keluarga kami.

Saat kunjungan ke Pabrik Gasol di Desa Gasol, Kec, Cugenang
Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Foto: Dok. Kang Gaus
Nah, tepung gasol yang diolah Pak Fleming ini merupakan tepung berbahan pangan lokal dengan kandungan gizi yang cukup tinggi dan bagus. Contohnya, ubi, jagung, garut, beras merah, biji jali-jali, sorghum, pisang, juga kacang hijau. Itu semua dengan kreativitas Pak Fleming diubah menjadi varian-varian baru tepung gasol yang bergizi. Sekarang, sudah ada sekitar 13 macam Tepung Gasol yang dihasilkan oleh Factory Pak Fleming yang ada di Desa Gasol tersebut.  

Tepung Gasol, sebelum di packaging
Foto: Dok. Kang Gaus
Ya, perlahan-lahan tapi pasti, Pak Fleming dan istrinya membangun factory  secara lebih modern di sekitar Desa Gasol. Hebat! Semua dilengkapi dengan warehouse yang kebersihan dan kemanannya sangat terjaga. Kenapa? Ya, karena ini produk makanan sehat untuk tumbuh kembang anak. Mau tidak mau kualitas diutamakan. Begitu pula ketika saya melihat masuk ke dalam factory bahwa pembuatan dan produksi tepung gasol ini secara steril.


Pisang dalam proses pengeringan yang akan dibuat tepung Gasol
Foto: Dok. Kang Gaus
Mengapa tepung gasol menjadi pilihan saya untuk anak-anak sebagai makanan pendamping air susu ibu? Ya, dari hasil bincang-bincang saya dengan Pak Fleming dan Pak Rohman bahwa, benih yang ditanam sebagai benih dengan kualitas unggul tidak berasal dari Genetic Engineering (rekayasa genetika). Kita tidak tahu, zat-zat atau material apa yang terdapat dalam tumbuhan hasil rekayasa genetika itu ketika masuk ke dalam tubuh. 

Benih-benih itu ditanam dengan bahan-bahan organik yang ada di area pertanian Desa Gasol di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Saya akui, bahwa Kabupaten Cianjur salah satu kabupaten di Jawa Barat yang memiliki tanah subur, suhu udara yang sangat cocok untuk pertumbuhan berbagai jenis tanaman, serta mikroba maupun mikoriza yang terdapat dalam akar-akaran. Hal ini yang menjadi perhatian besar saya, area atau lokasi pabrik ada di tempat pertanian yang bebas polusi udara. Otomatis tidak memberi atau mengurangi ruang bagi bakteri dan jamur semisal Aspergillus niger, Saccharomyces, Escherichia coli, dan sejenisnya untuk berbiak.

Kita tahu, pewarna buatan jika tidak bijak penggunaanya dapat membahayakan tubuh. Berbeda dengan Tepung Gasol ini, semua tanpa bahan pewarna. Warna-warna yang dihasilkan murni warna alami dari material. Pun tanpa ada bahan pengawet sedikitpun yang masuk, juga perasa. Inilah yang namanya organik, benar-benar menciptakan rasa yang unik. Di tengah-tengah percakapan saya itu juga disampaikan Pak Fleming, bahwa Tepung Gasol yang dikomandoinya telah memiliki sertifikat HACCP. Apa itu HACCP? Ya HACPP (Hazard Analysis & Critical Control Point) sebagai satu cara atau metode operasi terstruktur yang dikenal dalam skala internasional untuk dapat membantu organisasi di bidang makanan dan minuman dalam mengidentifikasi risiko keamanan pangan, mencegah bahaya dalam keamanan pangan, dan menyampaikan kesesuaian hukum.

HACCP, dalam industri makanan memberi peran sangat penting sebagai indikator kebersihan produk dan sterilisasi produk dari bahaya kontaminasi. HACCP membantu mengurangi risiko terhadap kecelakaan pangan yang dapat terjadi. Sistem ini baik digunakan untuk skala domestik hingga internasional.

HACCP dengan mudah membantu setiap pengusaha pangan dan minuman untuk mengidentifikasi segala jenis risiko kontaminasi dalam proses produksi dan mekanisme kontrol yang  harus dilakukan.Tepung Gasol Pak Fleming telah memiliki ini. Oleh karenanya, tak ada rasa khawatir untuk mengonsumsi tepung gasol yang sudah jadi langganan lama anak-anak saya.

Industri dengan  Manajemen Nol Limbah
Sang Surya  semakin menapak tinggi. Panas kulit sengatannya makin terasa. Tak lama sebelum masuk ke factory, saya diajak untuk melihat proses pembuatan pupuk berbahan baku Azolla pinnata, sekam padi, dan tanaman hijau lainnya. Azolla, sejenis tanaman air semacan eceng gondok, biasa ditemui di sekitar aliran sungai, di sela-sela genangan air tanaman padi.

Proses pembuatan pupuk kompos dengan bahan Azolla pinnata
Foto: Dok. Pribadi
Azolla sejenis tumbuhan paku atau paku air yang memiliki ukuran 3-5 cm dan bersimbiosis dengan Cyanobacteria untuk memfiksasi N2. Nah, dari simbiosis ini menyebabkan Azolla memiliki  kualitas nutrisi yang sangat baik. Jadi, sudah sejak beradab-abad lamanya, di China maupun Vietnam memanfaatkan Azolla sebagai sumber Nitrogen untuk padi sawah. Tumbuhan ini tumbuh alami di Asia, Eropa, juga Amerika. Ada beberapa jenis yang biasa ditemukan, seperti Azolla caroliniana, Azolla filiculoides, Azolla mexicana, Azolla microphylla, Azolla nilotica, Azolla pinnata var. pinnata, Azolla pinnata var. imbricata, Azolla rubra.

Dari sinilah terbuka, kenapa pupuk organik Azolla yang dipakai untuk memupuk tanaman padi sawah sebagai bahan baku tepung gasol. Kalau membaca literatur tentang Azolla, penelitian internasional menyebutkan bahwa, Indonesia ikut terlibat menggunakan 15N  melalui Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA-Wina), menunjukkan bahwa Azolla yang bersimbiosis dengan Anabaena azollae dapat memfiksasi N2 udara dari 70%-90%. N2-Fiksasi yang sudah terakumulasi itu dapat dipakai sebagai sumber Nitrogen untuk padi sawah. Inilah kandungan unsur hara dalam Azolla Unsur Jumlah N 1.96-5.30 (%), P 0.16-1.59 (%), K 0.31-5.97 (%), Ca 0.45-1.70 (%),Mg 0.22-0.66 (%),S 0.22-0.73 (%), Si 0.16-3.35 (%),Na 0.16-1.31 (%),Cl 0.62-0.90 (%),Al 0.04-0.59 (%),Fe 0.04-0.59 (%),Mn 66 - 2944 (ppm), Co 0.264 (ppm),Zn 26 - 989 (ppm).

Umumnya, biomassa Azolla mencapai maksimum setelah 14 sampai 28 hari setelah inokulasi. Dari beberapa penelitian menyebutkan bahwa menginokulasi 200 gram Azolla segar per m2, setelah tiga minggu, Azolla akan menutupi seluruh permukaan lahan tempat Azolla ditumbuhkan.

Dalam kondisi seperti itu dapat dihasilkan 30--45 kg N/ha, itu artinya sama dengan dengan 100 Kg urea. Ditemukan juga, bahwa Azolla tumbuh  dan berkembang lebih baik saat penghujan tiba dibanding musim kemarau. Nah, ini dia beberapa manfaat Azolla:
1. Sumber N dapat mengganti pupuk urea sampai 100 kg
2. Pakan ternak/hijauan, pakan ikan, terutama ayam dan itik
3. Menekan pertumbuhan gulma
4. Tanaman hias
5. Kontrol terhadap perkembangan nyamuk

Apa yang dibincangkan Pak Rohman tentang Azolla, menjadi daya tarik tersendiri untuk saya. Selain Azolla, saya melihat pula areal ditanami tebu. Ya, Pak Rohman menuturkan, “Tebu-tebu itu memang sengaja ditanam. Pengennya untuk bisa produksi gula sendiri, tetapi terhenti sejenak. Jadi, gula yang diambil berupa gula cair saja”.

Menginjak kaki masuk ke dalam, saya diperlihatkan ada tiga ember berisi air. Ternyata, ember-ember tersebut berupa mol atau molase untuk proses pembusukan pembuatan pupuk organik. Molase itu diperoleh dari tebu berupa gula cair yang ditampung dari proses penyaringan. Masuk ke dalam lagi, saya diperlihatkan pada kandang ternah berupa kambing. Ada sekitar 30 ekor kambing yang dipelihara untuk diambil kotorannya. Kemudian diolah menjadi pupuk kompos (organik). Kotoran kambing itu dicampur bersama arang sekam padi, jerami padi, Azolla pinnata, dan tetumbuhan hijau lainnya. Sementara, air urin kambing dialiri ke sawah-sawah sebagai tambahan pupuk alami urea yang berasal dari air seni kambing itu tadi.


Bahan Mol (Molase) untuk pembuatan pupuk organik
Foto: Dok. Pribadi
Di sini saya  melihat, inilah yang dimaksud dari alam, untuk alam, dan kembali ke alam yang dilakukan oleh Pak Fleming. Ya, alam tidak untuk dilawan, tetapi bagaimana alam dirawat, dibiakkan agar terus produktif dan menghasilkan. Konsep-konsep seperti ini yang jarang sekali saya dapatkan ketika kita menyatakan melindungi alam tetapi tetap saja  merusaknya. Ada kearifan yang ditanamkan Pak Fleming kepada usaha yang dilakukannya.

Peternakan Kambing untuk proses pembuatan pupuk
Foto: Dok. Pribadi
Di saat-saat saya dibawa ke perkebunan, salah seorang pekerja menunjukkan cara-cara membuat arang merang padi. Arang itu yang nantinya dipakai untuk campuran pupuk organik. Ya, alat pembakar seperti tabung setinggi kurang lebih 1,5 meter yang di sekelilingnya dilubangi. Sementara di bawahnya diberi kayu bakar yang kemudian disulut hingga api menjalar ke atas. Untuk selanjutnya, merang padi ditebar mengelilingi tabung pembakaran.

Alat untuk pembakaran sekam padi
Foto: Dok. Pribadi
“Proses pembakaran merang padi ini perlu waktu relatif lama, tergantung tingkat kekeringan merang. Semakin kering, merang padi akan cepat terbakar dan menjadi arang. Waktu proses pun semakin cepat. Akan tetapi, jika merang masih basah, proses pembuatan arangnya pun semakin lama”, ucap Pak Rohman di sela-sela bincang saya siang itu.

Kemudian, saya dibawa ke areal persawahan yang ditanami padi.Ya, padi beras merah (genja). Genja yang dimaksud Pak Rohman adalah padi yang berumur pendek dan dapat dipanen setelah berumur  empat bulan. Di sekitarnya juga ditanami pohon jali-jali.

Nah, bicara jali-jali ini semakin membuat saya tertarik. Jadi teringat lagunya “Jali-Jali”. Ya, jali-jali sudah dilupakan orang. Mungkin, kalau ditanya, “Tahu tidak bentuk dan rupa buah jali-jali?” Saya yakin, ada yang tidak tahu sama sekali. Dulu, di tempat saya di Jambi, jali-jali ini dijadikan tasbih, aneka souvenir, dirangkai menjadi bentuk-bentuk kerajikan tangan yang sangat menarik. Memang, ada dua jenis jali-jali yang bernama latin Coix lacryma-jobi var.lacryma-jobi punya pseudokarpium sangat keras warna putih, oval, dan dibuat beragam aksesoris. Coix lacryma-jobi var. ma-yuen yang dapat dikonsumsi dan jadi bahan obat oleh orang-orang China. Dalam dunia perdagangan dikenal dengan nama Chinese pearl wheat (gandum mutiara China), meski kekerabatannya lebih dekat dengan jagung ketimbang gandum.

Di tangan terampil Pak Fleming, jali-jali diubah menjadi  tepung gasol jali-jali untuk produk olahan MPASI. Jali-jali mengandung gizi seperti prebiotik, beta-sitosterol yang bagus untuk mengendalikan kolesterol gula darah tubuh. Sementara itu, di China, jali-jali dipakai sebagai obat untuk kanker. Kita juga dapat membuat bubur jali-jali dengan  gula secukupnya untuk sarapan. Kalau jali-jali memang berasa tawar, saat dimasak dapat ditambah gula merah dan daun pandan agar lebih beraroma.

Hasil penelitian pun menunjukkan bahwa jali-jali yang dibuat bubur tidak menaikkan gula darh tubuh. Apalagi kalau ditambah yoghurt, justru memiliki manfaat yang banyak. Yoghurt menjaga keseimbangan mikroba. Meski sudah jarang beredar di pasar, tetapi di Desa Gasol dalam pabrik pengolahan tepung gasol milik Pak Fleming, jali-jali masih dihasilkan dan diproduksii.

Saya juga menjumpai sejumlah tanaman sorghum. Sorghum atau cantel (di Jawa), menjadi bahan pangan lokal nomor lima di dunia. Tetapi, tidak saja di Jawa, sorghum juga menyebar ke daerah timur Indonesia, tepatnya di Adonara Barat, Desa Pajinian yang dikelola oleh Ibu Maria Loretha sebagai sumber pangan lokal yang kini sudah merambah mancanegara. Sorghum dapat dibuat sebagai MPASI karena zat besi yang dikandungnya mampu menghindari bayi dari defisiensi besi, juga penambah darah, dan beberapa jenis tanaman yang dapat dibuat tepung lainnya.

Saya juga menyusuri galangan sawah untuk melihat padi-padi yang sudah berbuah dan mulai menua (masak). Di tegalan  padi itu juga ditanami tanaman kacang tanah dan kacang kedelai. Sistem tumpang sari atau juga tanaman sela untuk memanfaatkan lahan, juga memperbaiki unsur hara dilakukan oleh Pak Fleming. Jadi, tidak perlu mengandalkan perluasan lahan (ekstensifikasi lahan).

Bagaimana dengan pestisida? Di kebun Gasol ini tidak atau mengurangi sama sekali pemakaian pestisida olahan pabrik. Justru mereka memakai pestisida alami seperti mahoni dan suren. Kedua tanaman ini mampu mengusir hama belalang, dengan cara ditumbuk dan direndam air cucian beras lantas di fermentasi.

Kearifan lokal yang tetap terjaga, perlindungan pada ekosistem alam tak hilang dalam membentik ekosistem  alam seimbang. Pak Fleming memanfaatkan limbah kulit pisang, bonggol jagung, dan  sampah rumah tangga untuk dijadikan kompos. Alhasil, pupuk-pupuk yang ditebarkan di perkebunan miliknya adalah pupuk organik tanpa campuran bahan kimia pabrik.

Rumah kaca ini sebagai "alat" untuk proses pengeringan material tepung
Foto: Dok. Pribadi
Di pabriknya itu, Pak Fleming juga membuat rumah kaca untuk proses pengeringan material tepung. Hal itu dapat membuat penghematan energi yang jumlahnya dapat mencapai ribuan watt. Akan tetapi, jika kondisi  cuaca tidak memungkinkan, hujan yang terus menerus, heater menjadi alternatif lain untuk pengeringan. Di cuaca yang sangat panas, rumah kaca itu mampu menyerap panas tinggi (30 derajat Celcius).

Untuk mengembangkan usahanya ini, Pak Fleming tidak sendirian. Dia bermitra dengan dengan beberapa petani di Desa Gasol. Ada yang bersawah di tempat yang mereka punyai dengan menerapkan pola-pola organik yang diberikan oleh Pak Fleming. Petani-petani yang bekerja di lahan Pak Fleming bersimbiosis mutualisme dengan banyak mengambil keuntunngan tanpa merugikan satu sama lainnya.

Mereka, selain mendapat gaji, juga ada aturan bagi hasil untuk areal-areal tertentu. Pekerja yang menggarap lahan juga mendapat jaminan kesehatan secara free. Ada kalanya mereka berbagi cerita (curhat) mengenai kondisi di perkebunan, kendala yang dihadapi, dan hal-hal lainnya. Pak Fleming tak hanya  mempekerjakan kaum pria, ketika saya bertandang ke pabriknya itu, ada banyak wanita juga. Ya, sepertinya hal ini sebagai bentuk penyerapan tenaga kerja seiring dengan penerapan pola pertanian organik berkonsep kembali pada lingkungan sekitar dengan hal-hal positif.

Ya, tepung-tepung gasol ini membawa begitu banyak harapan tak hanya untuk Pak Fleming dan keluarga, tetapi untuk mereka yang ada di Gasol. Seperti banyaknya varian Gasol yang dihasilkan, meliputi Tepung gasol  merah wangi, Tepung gasol beras merah, Tepung gasol beras cokelat, Tepung gasol kacang hijau, Tepung gasol kacang kedelai, Tepung gasol kacang merah, Tepung gasol jagung, Tepung gasol ubi, Tepung gasol pisang, Tepung gasol arrowroot (Garut), Tepung gasol jali-jali, Tepung gasol labu kuning, dan Tepung gasol talas.

Para pengelola Pabrik Tepung Gasol
Pak Rohman (kaos belang), Pak Fleming Wong (kacamata berbaju hitam kuning) Owner
Mas Abraham Wong (Digital Marketing Gasol) kaos biru, Ibu  Wawa (baju bunga-bunga) sebagai Ibu pengelola
dan Kang Dadang (Baju Putih Hitam) sebagai Supervisor Pabrik. Foto: Dok. Pribadi
Tak terasa, surya sore perlahan-lahan pamit masuk ke peraduan. Saya kembali ke dalam ramah dan damainya rumah kayu yang diidamkan Pak Fleming. Ibu Wawa dan Teteh sudah menyediakan kembali sepiring combro dengan hangat teh sereh. Tak lama berselang foto bersama dilakukan sebagai satu bentuk pengingat bahwa suatu saat nanti saya akan kembali lagi. Ibu Wawa, sempat berkaca-kaca. Pak Rohman, Mas Abraham, Mas Irfan, Teh Hetty, dan Kang Dadang, mungkin akan ada sejuta cerita yang singgah selanjutnya untuk saya kembali menceritakan perjalanan penuh liku di Gasol, seperti liku-liku tegalan sawah yang membawa cerita indah untuk esok.   

Sejenak foto bersama menjadi bentuk peninggalan jejak
Foto: Dok. Pribadi