Saturday, July 22, 2017

Dari Bolu Pandan, Keripik Singkong, Hingga Es Mambo

"Kreatif Itu Diciptakan"

Yah, mungkin sebagian anak-anak seusia saya dulu (zaman SMP) lebih baik main sama teman-teman seusianya. Bahkan ada yang lebih ekstrem lagi, main game di rumah seharian sampai bapak atau ibunya ngomel-ngomel. Bahkan, ada juga yang minta ini itu  ke Mba’ yang ada di rumah dengan nunjuk pakai kaki (sangat tidak sopan, jangan ditiru!).

Teman-teman saya semasa SMP itu rerata berpunya semua. Apa-apa yang diminta, orang tuanya langsung menyediakan.  Bahkan, dari mainan murah hingga mahal pun berjejer di rumah. Dulu ya, yang namanya video game, itu buat saya jadi barang yang sangat mahal dan langka. Tapi, tidak untuk teman-teman saya.

Kehidupan keluarga saya itu terbilang cukup, dan itu sangat saya syukuri. Bapak yang notabenenya pegawai negeri sipil, tiap bulan masih bisa biayai anak-anaknya sekolah. Ibu, sebagai panglima keuangan, siap-siap mengeja duit gajian untuk dibagi-bagi sesuai pos dan kebutuhan.

Biasanya, ibu mengikat duit per pos itu dengan karet gelang warna-warni. Bahkan ada gelas khusus untuk wadah recehan kembalian dari belanjaan. Kalau dibilang susah waktu itu, tidak juga. Semua yang diberi oleh Allah SWT, saya syukuri. Dengan bersyukur  itulah rezeki akan dipermudah.

Tapi ya, yang namanya bapak hanya pegawai negeri. Habis bulan habis gaji, mau tidak mau, panglima keuangan harus mengatur strategi baru. Strategi baru, bagaimana mendapatkan uang lebih untuk anak-anaknya kalau ada kebutuhan mendadak. Ya, ibu mau tidak mau mutar otak buat cari tambahan.

Ibu saya orang yang pandai mengolah bahan makanan. Mulanya, hanya iseng, tapi lama kelamaan jadi ketagihan. Mungkin nih ya, panglima keuangan keluarga kami ini pintar membaca peluang. Ibu dan saya coba-coba buat kue bolu. Waktu itu pas mau natalan. Cobain dulu tuh kue ke tetangga yang nonmuslim. Yeaaah…  mereka suka daan… rezeki datang.

Yah, itu rezeki datang seminggu sebelum hari natal untuk ibu dan saya. Saya dipercaya oleh panglima keuangan untuk membantu beliau di urusan dapur. Pesanan pertama itu adalah lima loyang kue bolu pandan. Ahaa… saya perhatikan  cara kerja ibu. Mulai dari menumbuk daun pandan hingga menghasilkan  sari pandan.


Bolu pandan ini yang buat saya tambah kreatif
Foto: Dok. https://www.harianmu.com
Akhirnya, setelah saya paham, ibu mulai kasih kepercayaan. Saya dipercaya untuk membantu ibu buat kue bolu sesuai takaran yang diberikan. Di sinilah semua bermula. Saya berpikir, “Enak juga nih buat kue, terus dijual”. Mikir aja saya sepanjang bantuin ibu, sampai-sampai kocokan telur jadi hampir tumpah dari wadah.

Bolu pandan pertama sudah siap masuk oven. Selang 45 menit ke depan, jadi. Waktu itu, buat kuenya satu per satu karena alat-alat yang ibu punyai belum lengkap. Otak saya juga jadi ikut muter. Dari buat kue kedua, saya mulai ngobrol ke ibu. “Bu, kalau saya jualan kue di sekolah, sepertinya laku deh”. Ibu saya jawab, “Nah, iya, boleh juga itu. Coba nanti  habis natalan ibu buat dan kamu bawa ke sekolah”.

Ternyata ibu tak sekadar berucap. Ibu bangun subuh, nyiapin seluruh bahan hingga kue matang. Selang pukul sepuluh pagi, siap-siap dipotong dan dibungkus, pukul 12.30 saya bawa ke sekolah. Kebetulan, waktu SMP saya masuk sore. Jadi, banyak waktu yang dapat saya gunakan juga untuk bantu ibu.

Besok-besoknya, sayalah yang buat kue itu. Mulai dari siapin bahan, manggang, hingga matang, dan bungkus satu per satu untuk dibawa ke sekolah. Alhamdulillah, itu kue laku dan habis. Uangnya? Uangnya bisa buat beli buku.

Mulanya hanya kue bolu, lama-kelamaan saya coba buat variasi makanan lain, apa itu? Keripik singkong pedas. Kue bolu tetap dibuat, tapi ditambah lagi keripik singkong. Bawanya sebagai uji coba hanya 10 bungkus, eeh ludes. Besok-besoknya tambah 10 lagi, ludes lagi. Kue bolu hanya buat seloyang yang bisa dipotong 20. Keripik singkong pedas makin nambah banyak dan habis setiap bawa.

Es mambo kenangan kreatif yang terkadang masih saya buat di rumah
Foto: Dok. http://1.bp.blogspot.com/-eLSYy3y4gQ0/
Kue bolu dan keripik pedas sudah ok di jual di sekolah. Hmm… sambil sekolah sambil  dagang yes. Otak ini terus aja muter, “Apalagi yang bisa dijual ya?”. Ahay… nemu juga akhirnya. Ya, es mambo (es lilin). Jadi, saya mikirnya kalau teman-teman saya beli keripik singkong pedas, tentunya mereka akan cari minum atau setidaknya minum manis dan dingin hilang deh pedasnya.

Dibawalah  itu es mambo dalam termos es yang muat sekitar 30 batang. Mikirnya sih ga usah banyak-banyak dulu dibawa, sebagai pancingan jualan. Keripik dibawa kadang-kadang lebih banyak dari es mambonya sendiri. Bawa berapa bungkus  ke sekolah pun, habis terjual! Alhamdulillah aja sih ya. Duitnya sedikit-sedikit dimasukin Tabanas (waktu itu namanya Tabanas, dan lagi gencar-gencarnya promosi… hahahah).

Saya juga ga tahu tuh, kepikiran untuk jualan di sekolah. waktu istirahatlah waktu yang saya gunakan seoptimal mungkin untuk jualan. Alhamdulillah, teman-teman sekolah jarang ada yang berhutang. Kalaupun berhutang, karena duit ongkos pulang lagi cekak aja. Tetapi, besoknya mereka langsung bayar.

Eitss ternyata, cerita teman-teman ke saya, keripik singkong pedas yang saya jual jadi idola. Yaa… waktu itu mana sempat saya mikirin nama brand untuk jualan. Dulu kan ga ada yang namanya branding ala-ala sekarang. Dulu mah promosi dari mulut ke mulut aja dagangan udah lancar jaya. Kalau sekarang? Gileee beneeerrr… meski ngundang blogger untuk naikin brand. Lhaaa…mana tahu juga dulu yang namanya blogger… hahaha. Apalagi trending topic, terus viral! Hahaahaha.


Keripik singkong pedas
Foto: Dok. http://muncheedaily.com/
Intinya sih, saya senang banget bisa habis terus kalau bawa dagangan ke sekolah. Sementara itu, untuk pelajaran sekolah, terganggu? Alhamdulillah, semua lancar jaya. Tidak ada pelajaran yang terganggu sama sekali. Kan, jualannya pas waktu istirahat dan bel pulang bunyi. Itu pun kalau masih ada sisa dagangan yang ga habis terjual saat jam istirahat.

Jadi, kue bolu, keripik singkong pedas, dan es mambo (es lilin) itu, punya andil besar dalam hidup saya sekarang ini. Kalau ada yang mau pesan menu makanan lainnya, silakan lho yaa… hahahah (promosi tetep!).

Hal-hal seperti ini belum tentu akan terulang lagi ke anak-anak atau cucu saya nanti. Tapi, semangat untuk berdagang itu tetap menyala. Karena, berdagang itulah yang dianjurkan oleh Rasulullah. Jadilah pedagang yang baik dan benar, tentunya pedagang kreatif!



Friday, July 21, 2017

Perjalanan Liku-Liku Itu Bernama...


Menarik memang bagaimana melihat keberhasilan orang-orang yang mampu menaklukan masalah yang dihadapi. Sementara, sebagian orang terhantam masalah bahkan hambatan besar tetapi tak pernah tembus untuk diselesaikan. Orang-orang yang mampu menaklukan hambatan mereka melihat tantangan itu untuk dipeluk, diberi kemesraan, bahkan kecupan kasih sayang. Ujung-ujungnya berakhir dengan kebahagiaan.


Belantara Hutan Sumatera-Provinsi Jambi
Foto: Dok. https://www.bfn.de
Rasa percaya diri dari seseorang dalam menghadapi kesulitan, setidaknya didorong oleh kemampuan untuk melepaskan hal-hal negatif yang menahan.  Belajar dari Martin Seligman, di University of Pennsylvania yang memelajari fenomena “tantangan menjadi keberhasilan” bahwa sebenarnya ada secuil keberanian yang ingin diberikan tatkala tantangan itu menghadang. Kesuksesan seseorang dari satu tantangan hidup didorong oleh satu perbedaan penting.

Apakah kita yakin bahwa kegagalan kita diberikan karena defisit pribadi  yang ada di luar kendali diri kita? Atau kegagalan adalah kesalahan kita yang bisa diperbaiki dengan susah payah. Sebenarnya, kesuksesan tidak satu-satunya ditentukan oleh pola pikir kita. Artinya apa, sebagaimana yang Seligman temukan, bahwa depresi yang orang-orang alami membawa dampak terhadap kegagalan seseorang. Mestinya, sesuatu yang menantang dalam hidup itu dilakukan dengan penuh optimis.

Untuk saya, kegagalan itu tantangan yang saya perlakukan sebagai pengalaman belajar dan percaya bahwa orang-orang yang pernah mengalami tantangan terbesar dalam hidupnya, berupa kegagalan, jika mereka tak depresi akan dapat melakukan sesuatu hal yang jauh lebih baik di masa depan. Hal-hal yang paling menantang untuk dilakukan dan sukses, itu perlu kecerdasan emosional. Tak mengandalkan emosi semata, bahkan kegilaan membabi buta tanpa memperhitungkan segala sesuatunya.

Mempertahankan pola pikir sukses tidaklah mudah. Terkadang orang lain menilai dari usia seseorang. Ketika itu saya belum genap 23 tahun lulus kuliah. Banyak proyek yang saya ikuti bersama beberapa dosen yang saya kenal, baik di lingkungan kampus sendiri, maupun di luar lingkungan kampus saya.

Satu ketika, salah seorang dosen Taksonomi Tumbuhan Vaskular saya, masih ingat saya namanya, Drs. Amril Djalil, menawari saya untuk ikut proyek di Kementerian Kesehatan, khususnya untuk tumbuhan obat di hutan Sumatera. Tanpa ba-bi-bu, saya terima tawaran itu. Lumayan  banget ditawari proyek pada 1998 itu.

Jalanan logging seperti ini yang saya lalui untuk menembus hutan Sumatera
Foto: Dok. https://www.orangutan.org.au
Padahal, di tahun itu saya sedang gencar-gencarnya untuk sidang skripsi. Tetapi, demi proyek yang entah kapan lagi saya bisa mencacah hutan belantara Sumatera, saya ikuti. Pundi-pundi kantong saya “menggunung” hanya dalam hitungan hari. Lumayan, saya bisa beli peralatan gunung (hiking) yang saya idam-idamkan,  sepatu gunung, dan lainnya. Selain itu, yang pada waktu itu teman-teman gencar pakai celana dan baju lapangan, saya pun berhasil mendapatkannya.

Apalagi, uang saku yang… wiiih bisa buat hidup satu tahun saya selama ngekos. Rezeki anak saleh, hahahaha (setelah Alhamdulillah). Nah, sebelumnya juga saya tak membayangkan bisa masuk istana negara ketemu Presiden B.J. Habibie, salaman dan foto bersama. Indah banget dunia rasanya (syukur Alhamdulillah lagi).

Bertemu, juga ngobrol dan salaman langsung dengan Menteri Kesehatan saat itu, Bapak Farid Anfasa Moeloek, Menteri BKKBN (namanya saat itu, Bpk.Haryono Suyono), dan Menteri Kesejahteraan Rakyat (Akbar Tandjung). Bincang sana-sini, akhirnya dilepaslah Tim Ekspedisi Biota Medika yang terdiri dari UI, IPB, LIPI Bogor, dan Balai Tanaman Obat dan Konservasi Provinsi. Jawa Timur oleh Presiden B.J. Habibie.

Tim di bagi jadi dua bagian, ada yang menyisir wilayak Provinsi Riau untuk menggali potensi tanaman obat bersama Suku Talang Mamak dan Melayu Tradisional. Dan Tim yang meneliti tanaman obat di Provinsi Jambi bersama Suku Anak Dalam. Pucuk dicinta ulam tiba namanya. Saya dapat di tanah kelahiran saya kembali. Ini menjadi The first experience masuk hutan Sumatera, khususnya Jambi yang seumur-umur tinggal di Jambi, baru kali itu saya jamahi. Lebih kurang 15 hari saya bersama tim melacak keberadaan  tanaman obat.

Menyusuri lembah dan bukit, mengikuti perjalanan arus sungai yang lumayan deras. Haus di tengah jalan, minum langsung dari aliran sungai. Rasa airnya manis. Mencoba makan buah-buahan hutan. Indikatornya adalah burung dan monyet. Kalau burung dan monyet makan buah atau umbi-umbian hutan tidak mati, artinya itu buah dan umbi tidak mengandung racun. Banyak buah-buahan hutan yang berjatuhan sehabis dimakan burung dan monyet, seperti rambutan hutan, duku, juga beberap buah-buahan lainnya.

Aliran sungai seperti inilah yang menghilangkan dahaga saya di jalan
Foto: Dok. http://4.bp.blogspot.com/
Sempat mata saya tertuju oleh salah satu pohon dengan buah yang merah merona agak besar seperti buah pepaya. Saya mau beranjak ke tempat tumbuhnya pohon itu. Tetapi, sang penguasa hutan (Temenggung Tarib) nama salah satu Temenggung Suku Anak Dalam mencegah saya. “Jangan pergi ke pohon itu, Pak Jun, itu berbahaya”, cegah beliau.

Saya masih terheran-heran saja mendengar cegahan beliau. “Berbahaya apanya”, pikir saya. Tidak ada hewan yang membahayakan, tidak pula bersarang Tawon Gong yang bergerombol kalau mengantup lumayan bisa bikin kepala atau badan benjol-benjol alias bengkak, ujung-ujung deman. Setelah selidik punya selidik, itu pohon yang mau saya dekati ternyata pohon Rengas. Kalau tahu bahaya pohon rengas, hadeeeh… bergidik. Alhamdulillah masih terselamatkan.

Di sudung (pondok) dari plastik hitam inilah mereka tinggal
Foto: Dok. https://www.riauheadline.com
Perjalanan saya dan tim masih terus berlanjut, hingga berhenti pada satu tempat yang sejuk di tengah hutan.  Di depan sudung (bahasa Suku Anak Dalam = tenda) yang terbuat dari plastik hitam lebar itu, membentang sungai yang airnya jernih dan dingin. Ikan-ikan pun tampak jelas. Nama daerahnya Pasir Putih. Di tempat ini, beberapa Suku Anak Dalam terlihat hanya mengenakan cawat terbuat dari kain yang dililit dengan cara mereka, agar kemaluannya tak terlihat. Itu untuk yang laki-laki. Sementara itu, untuk yang perempuan dan belum menikah, mereka menggunakan kain panjang hingga menutup batas bagian dada mereka. Berbeda halnya dengan perempuan yang sudah menikah. Mereka menggunakan kain hanya sebatas pinggang.

Di sini saya belajar banyak budaya, bahasa, dan adat istiadat mereka. Saya dan tim berhenti sekitar dua malam untuk meriset tanaman obat yang dipakai penduduk SAD (Suku Anak Dalam). Ini nyata dan saya alami sendiri apa yang saya ceritakan. Mungkin, selama perjalanan panas dan dingin menerpa tubuh, tubuh bagian belakang (punggung) saya perih, gatal, panas, dan terkelupas. Kulit punggung seperti melepuh.

Karena tak tahan dengan panas, perih, dan gatal  yang menghinggap di tubuh saya itu, saya ceritakan ke salah satu Temenggung, Bapak Temenggung Tarib namanya. Selain sebagai Temenggung, beliau juga sebagai “tabibnya” SAD. Saya bilang ke beliau bahwa punggung saya perih, panas, dan gatal-gatal, kulitnya terkelupas.  

Saya diminta duduk membelakangi beliau dan diminta menyingkapkan baju saya hingga batas leher. Entah rapal/mantera apa yang dibaca, beliau usapkan telapak tangan kanannya ke punggung saya. Sebelumnya, Temenggung mengambil  dua lembar daun yang dalam bahasa setempat disebut benang setolu.

Benang setolu ini bentuknya sebagai tumbuhan merambat yang mirip daun sirih tetapi lebih kecil. Di bagian punggung daun ada bulu-bulu halus dan terasa dingin jika diusapkan ke bagian tubuh. Nah, daun benang setolu itu Temenggung usap-usapkan di seluruh punggung saya dengan gerakan dari atas ke bawah.

Lima belas menit ke depan, baju saya pakai kembali. Saya pun melanjutkan perjalanan untuk mencari tanaman obat bersama tim lagi. Entah kenapa, selama perjalanan yang biasanya gatal, perih, dan panas, tak terasa sama sekali. Saya buktikan sendiri penghilang rasa sakit itu bernama tumbuhan obat benang setolu.

Hmm… selama mengikuti perjalanan ekspedisi biota medika 1998 itu, terus terang, tiga hari perut saya masih belum bisa beradaptasi dengan “dulur-dulur” dan “sanak” kita tersebut. Tiga hari makanan yang dimakan keluar lagi. Ya, seumur-umur baru kali itu melihat dan bergaul langsung dengan “Sanak’, sapaan akrab dan sopan untuk mereka.

Pantas saja ya kenapa teman-teman satu tim membawa berslot-slot rokok dan permen. Ahaaa… saya tahu akhirnya. Ya,  SAD paling suka yang namanya rokok dan “kukulum” (kukulum  = permen untuk bahasa sehari-hari kita). Rokok, sebagai pengusir serangga, ngengat, dan sebagainya. Sementara, kukulum itu sebagai “camilan” mereka.

Melihat kehidupan mereka rasanya trenyuh. Mereka benar-benar arif dan bijaksana mengelola hutan. Mengambil seperlunya dengan menjaga tumbuhan dan hewan yang mereka ambil agar tidak punah. Menebang pohon pun mereka pilih-pilih mana yang benar-benar bisa ditebang. Menelisik kehidupan mereka rata-rata berkebun dengan berpindah-pindah. (Ini bisa jadi bahasan menarik yang Insya Allah akan saya tuliskan panjang dalam blog saya).

Perjalanan ekspedisi itu berakhir tepat di hari ke-15. Semua sampel tumbuhan dalam bentuk herbarium sudah saya keringkan tinggal proses identifikasi begitu sampai di Jakarta. Beberapa tumbuhan yang saya kenal langsung saya beri label dan nama lokal tumbuhan setempat, serta nama latin. Perjalanan ini memberi arti yang sangat besar dalam kehidupan saya.

Saya pikir, ini adalah tantangan besar yang dapat saya taklukan dan berhasil. Berhasilnya seperti apa? Ya, hingga sekarang, hal ini masih lekat dalam ingatan saya. Meski sudah lewat 19 tahun silam, bayangan mereka masih ada dalam ingatan saya. Dari situ, saya dipinang masuk ke salah satu lembaga swadaya masyarakat di Kabupaten Sarolangun Bangko. Meski tak lama, hanya enam bulan, tetapi pengalaman itu tak dapat diuapkan begitu saja.

Masih banyak yang belum saya ceritakan, Insya Allah akan segera saya kumpulkan kembali cerita yang terserak ini menjadi satu cerita yang bisa saya bagikan ke anak-anak dan cucu saya kelak, aamiin.


Di usia yang masih muda itu, saya mampu melewati tantangan dan bukan untuk berkompetisi. Tetapi bagaimana saya menjalin korporasi (kerjasama) dengan sesama. Membina hubungan baik dengan orang lain. Umur hanyalah angka. Orang-orang sukses tidak menjadikan usia mereka sebagai indikator keberhasilan.Satu hal juga bahwa mengikuti kata hati dan membiarkan semangat dalam tubuh tumbuh. Dari perjalanan itu pula lahirlaha tulisan berupa buku tentang Tanaman Obat Hutan Sumatera Suku Anak Dalam, Talang Mamak, dan Melayu Tradisional. Tapi sayang, foto-foto perjalanan ini semuanya tertinggal di rumah saya di Jambi. Entah masih ada atau tidak. Semoga saat pulang nanti saya menemukannya kembali.  

Thursday, July 20, 2017

Blogger (Tidak) Menulis?


"Menulis itu bekerja untuk keabadian" (Pramoedya Ananta Tur)

"Menulis itu bekerja untuk keabadaian", ucap Pramoedya Ananta Tur
Foto: Dok. https://twowritingteachers.files.wordpress.com/ 
Hampir sebagian orang jarang atau tidak pernah mempertimbangkan kompleksitas dan kesulitan proses dari lahirnya satu tulisan. Memang, sebenarnya hal itu relatif terjadi karena menulis perlu keterampilan yang lebih mendasar dari hal lainnya.

Proses menulis paling awal misalnya, harus menggabungkan proses fisik dan kognitif yang kompleks untuk menggabungkan huruf dengan baik, tepat, dan lancar. Menulis itu proses melatih seluruh indera, terutama indera penglihatan, pendengaran, juga pencecap (mulut). Karena menulis tidak hanya menulis yang dapat dibaca, logis, dan teroganisir, tetapi juga  punya aturan tata bahasa dan sintaksis. Kombinasi persyaratan itulah yang membuat penulisan menjadi paling rumit dan sulit.

Kalau ditelisik sebenarnya apa pengertian menulis? Dalam bahasa Indonesia ada istilah yang dipakai, yaitu menulis atau mengarang (komposisi). Konsep menulis ini mengacu pada writing atau composing secara bergantian. Keduanya diwujudkan secara bersama-sama dalam aktivitas menulis secara nyata. Jadi, sebenarnya kalau boleh dibilang writing as creative design: composing is the central activity of writing, the familiar process of producing text on a page or screen.

Keterampilan menulis juga dapat kita sebut sebagai keterampilan menyusun kata-kata menjadi kalimat-kalimat yang benar secara gramatikal dan menghubungkan kalimat-kalimat  itu ke dalam urutan yang sesuai dan logis.

Menulis juga sebagai proses menyusun (generating) dan menyunting (editing) teks dalam berbagai bagian. Dalam hal ini mengambil tiga bentuk, yaitu 1) batasan struktur, 2) batasan isi, 3) batasan tujuan.

Struktur dibatasi dengan aturan susunan kalimat yang baik, paragraf yang baik, dan bentuk teks yang baik pula. Isi berasal dari gagasan yang harus disampaikan atau dituangkan dan bagaimana gagasan tersebut saling berhubungan. Sementara itu, tujuan ditentukan oleh tujuan penulisan serta model atau bentuk tulisan yang akan ditawarkan ke khalayak (pembaca).

Seseorang yang ingin terjun ke dunia penulisan perlu keterampilan pendukung dan memenuhi komponen dalam menulis, seperti kosa kata, menguasai sintaksis, dan mengenal struktur kalimat. Sebagai seorang Blogger, harus  tahu hal ini.

Keterampilan dasar dalam menulis perlu blogger kuasai. Penggunaaan tata bahasa contohnya, blogger mesti punya kemampuan kalimat yang benar dan wajar. Dari sisi mekanik ada kemampuan menggunakan aturan yang benar dalam bahasa tulis seperti tanda baca dan ejaan. Perlakuan isi, blogger mampu berpikir secara kreatif dan mengembangkan pemikiran, serta menghindari informasi yang tidak relevan. Stilistika, bagaimanapun juga, menjadi blogger perlu tahu stilistika, kemampuan menggunakan kalimat dengan baik, serta penggunaan bahasa yang efektif.

Stilistika ini salah satu cabang linguistik yang mempelajari bahasa seperti dialek, aksen, laras, dan lain-lain. Ilmu ini juga mencoba menerangkan alasan pemilihan ragam bahasa yang digunakan oleh individu (misal blogger) atau kelompok sosial tertentu, produksi penerimaan makna, analisis wacana, serta kritik sastra. Memberi penilaian, kemampuan untuk menulis dalam suatu acara atau cara yang tepat untuk tujuan tertentu dengan mempertimbangkan khalayak pembaca tertentu pula, juga kemampuan untuk memilih dan menata informasi yang relevan.

Sebagai blogger jangan asal menulis, menulis hanya karena ada bayaran, jangan pernah berpikir seperti itu. Tidak akan menulis kalau tidak dibayar. Mind set  yang seperti itu harus dienyahkan. Apa artinya kalau mencap diri sebagai blogger, tetapi blognya kosong melompong, tidak ada tulisan yang nangkring?

Jangan pula asal menulis. Perlulah blogger mengetahui tahapan proses menulis itu sendiri. Ada enam bagian yang perlu kita ketahui untuk tahapan proses menulis, yaitu 1) drafting, 2) structuring, 3) reviewing, 4) focusing, 5) generating idea, dan 6) evaluating (nanti akan saya buat dalam tulisan terpisah).

Nah, meski blogger hadir dalam satu acara, tetapi tak mendapat bayaran, minimal ada bagian positif yang dapat diambil. Apa itu? Menjalin relasi atau kerjasama dengan pihak penyelenggara, menambah pertemanan juga tali silaturahmi ujung-ujungnya rezeki tak terduga. Dengan begitu, akses informasi jadi semakin tak terbatas. Banyak akses yang terbuka luas dari sekadar datang ke acara lantas dibayar dan selesai hanya di situ. Kalau tak dibayar, berita tak dituliskan. Ada rasa menghargai dari pengundang bukan saja sekadar menggugurkan kewajiban.

Tidak juga blogger hadir di satu acara hanya jadi goodiebag dan quiz hunter. Motivasi semacam itu sih bisa saja dilakukan, tetapi terpenting lawan ego diri untuk melingkari mind set bahwa saya datang ke acara mau nulis atau tidak yang penting dapat tentengan, syukur menang kuis. Alamak!!

Nah, kalaupun blogger hadir di acara dan dibayar, lantas mau menuliskan, juga punya karateristik, kriteria, dan ada penilaian dari tulisan yang dibuat. Hendaknya, blogger buat tulisan yang baik secara jelas dan lugas, tulisan yang dibuat sebagai satu kesatuan yang utuh, singkat & padat tetapi tepat sasaran, memenuhi kaidah kebahasaan, dan komunikatif. Blogger itu penyampai dengan caranya asal tidak  berlebihan (lebay = slank/gaul).

Blogger yang datang ke acara sudah sepantasnya menuliskan acara tersebut. Sekali lagi, dibayar atau tidak. Itu bentuk apresiasi blogger kepada pengundang. Karena, acara tidak satu hari itu saja, akan tetapi akan terus berlanjut. Keberlanjutan itu yang seharusnya dijaga dan dipelihara oleh seorang blogger. Tidak berhenti hanya satu hari itu saja.

Blogger itu juga sebagai penulis yang baik dan efektif, artinya apa? Ya, penulis yang dapat mengomunikasikan pada khalayak pembacanya apa yang disampaikan secara tepat, jelas, menyenangkan, dan tanpa pemborosan kata. Hal ini sejalan dengan tujuan bahasa tulis itu sendiri, yaitu jujur tidak memalsukan gagasan atau ide; jelas tidak membingungkan khalayak pembaca; singkat tidak memboroskan waktu pembaca; dan keragaman menggunakan panjang pendek kalimat yang beragam.

Ada komunikasi efektif pula antara menulis dan penulis (blogger). Blogger tahu apa yang harus dikatakan, jika dia benar-benar tahu inti masalah yang ditulisnya. Tahu cara memberi struktur terhadap gagasannya; dan tahu cara mengekspresikan diri dengan baik dan serasi.

Selain datang ke acara dan tentu yang diharapkan menuliskan apa yang sudah seorang blogger datangi. Saya pribadi akan menilai kualitas tulisan yang dibuat. Ada beberapa hal yang menjadi indikator saya terhadap kualitas tulisan yang dibuat seorang blogger, yaitu relevansi dan kesempurnaan isi, organisasi, ada kohesi, kecukupan kosa kata untuk tujuan menulis, tata bahasa, tanda baca, ejaan, dan kesesuaian bahasa dengan konteks dan fungsi tulisan.  

So, mengapa menulis itu penting untuk seorang blogger baik dibayar maupun tidak? Menulis itu banyak digunakan dalam semua bidang kehidupan manusia. Melalui menulis, seseorang mampu menjadi pembaca yang baik. Keterampilan kerja apapun, akan berkaitan dengan menulis dan menjadi keterampilan kerja yang penting. Seseorang (blogger) yang mampu menulis secara baik dan benar, artinya dia telah memilik dasar utama terhadap satu pekerjaan, pembelajaran, dan kecerdasan seseorang (blogger) bekerja.

Ketika seorang blogger dihadapkan pada satu kesempatan, dan dia diperkenankan untuk menulis, artinya dia telah melengkapi kemampuann berpikir dan komunikasi. Otomatis, orang akan tahu dari tulisan seseorang (blogger) di situlah pengungkapan  seorang blogger sebagai manusia. Seorang blogger yang menuliskan apa yang dia lihat dan dengar akan membuat satu pemikiran dan pembelajaran semakin terlihat dan permanen.

Dari menulislah seorang blogger mampu memupuk kemampuan untuk menjelaskan dan menyempurnakan gagasan kepada orang lain dan termasuk dirinya sendiri. Tak dapat dipungkiri, dengan menulis, seorang blogger telah menyimpan ide dan ingatan. Bagaimana seorang blogger yang tidak menulis apa yang dia jalani sebagai hobi atau profesi sekalipun, tentunya hal itu tidak memungkinkan dia memahami kehidupannya. Satu hal yang menjadi pamungkas seorang blogger yang menulis aktivitas adalah dia telah menghibur orang lain dengan tulisannya.


Selamat menulis untuk para blogger baik dibayar maupun tidak. 

Wednesday, July 19, 2017

Barang Wajib Itu Bernama…


Kalau sudah ngomongin isi tas, dari sejak kuliah dulu ada julukan yang diberikan teman-teman, “Kantong Dora Emon”. Isi tas itu selalu penuh dan berwarna. Dijamin, yang lihat itu tas ngomongnya begini, “Jun, ga berat bawa tas kayak udah pindahan rumah?” Ya, saya jawab cuma nyengir kuda, terus ngakak-ngakak.

Ini sebagian isi tas yang wajib saya bawa
Foto: Dok. Pribadi
Tapi ya, kalau saya perhatikan  tas saya itu, memang benar apa yang dilihat dan dibilang teman-teman. Sampai-sampai ada yang nyeletuk, “Bawa toilet sama kasur juga ga Jun?” Hahahahaha…  ya, saya mah tetap aja nyengir kuda dan ngakak-ngakak.

Saya juga tidak tahu, kenapa kebiasaan ini muncul. Ini mungkin namanya kebiasaan yang dibiasakan, lama-lama jadi terbiasa. Lha ada saja yang kurang kalau ada sesuatu yang belum masuk ke dalam tas, meski itu sepotong kue atau segelas air dalam kemasan.

Kalau ngomongin yang wajib ada di dalam tas dan harus saya bawa ada beberapa item sih ya. Saya kan ke mana-mana pakai roda dua, otomatis surat izin mengemudi mesti saya bawa dong ya. SIM yang dibawa juga janga SIM sudah mati alias expired, hahahah. Tentunya SIM yang masih berlaku. Ya kali-kali di jalan nemu polisi yang  baik hati mau berbagi rezeki. Bukan bai hati dan mau berbagi rezeki, tapi namanya kena tilang. Amit –amit!

Selain itu, kalau punya motor tak bawa STNK ya sama aja saya bunuh diri. Syukur-syukur kalau di jalan “melaju” terus. Sempat nasib lagi nahas? Hahaha hihihi deh. Masa mesti disidang jadi pesakitan nungguin STNK keluar. Sudah seperti nungguin “Ijab Kabul” deg deg seeerrr...

STNK ini super penting. Dulu, masih zaman-zaman pacaran sama mantan pacar yang sekarang jadi istri saya mau pulang ke kampung, sempat titip motor di rumahnya plus STNK. Nah, begitu saya pulang ke Jakarta lagi, saya ambil tuh motor. Entah kenapa, saya lenggang dan santai aja bawa motor seolah ga ada beban.

Selang sebulan kemudian, pas masuk ke pusat perbelanjaan, pusing kepala saya. Kenapa? Kan parkir pusat perbelanjaan harus memperlihatkan STNK begitu keluar. Cari sana-sini ga ketemu juga.  Mau ga mau muter otak buat caranya saya bisa keluar dari itu parkir. Sementara, di belakang saya sudah banyak yang antri. Saya bilang aja sama petugasnya, “Dompet saya yang isinya STNK baru aja hilang mas, tapi benar ini motor saya.” Saya kasih aja struk parkir.

Hahaha… petugasnya juga mungkin kasihan ya lihat wajah yang  udah lusuh, lemes, dan kayak nahan buang angin tapi ga mau keluar, alhasil loloslah saya dari tempat parkir itu.
Semingguan lebih saya bongkar isi lemari kos-kosan. Saya pikir, “Apa keselip di antara tumpukan buku ya, atau di mana gitu.” Akhirnya, cepat-cepat minta surat keterangan kehilangan  ke kepolisian. Selang tiga hari saya jadilah STNK baru. Ya, saya buat STNK baru.

Eeeh… tiga hari berikutnya, mantan pacar saya ngabari. “Eh, STNK motor kamu ketinggalan di rumah tuh. Ada di atas kulkas”. Garuk-garuk kepala yang sebenernya ga gatel deh saya. Bengong kayak kebo bego aja deh saya. “Iya, ya, itu STNK kan saya sendiri yang naruh di atas kulkas di rumahnya”, pikir saya.
Du du du… lumayan juga udah keluar duit ratusan ribu buat STNK baru, ternyata STNK lamanya setia menunggu.

Terus, wajib lagi yang kudu dibawa itu kartu Jamsostek. Dulu namanya Jamsostek ya, sekarang udah berubah jadi BPJS. Soalnya, kalo lagi trouble sama masalah kesehatan, buat jaga-jaga aja. Lumayan kan berobat dan dapet obat gratis pake BPJS. Hitung-hitung hemat. Berdoanya jangan sakit.

Dompet itu wajib ya… tapi bukan dompet yang isinya tagihan or kertas bon-bon habis belanja di gerai si A. Minimal di dalam dompet ada uang cash. Hal ini untuk menghindari sewaktu-waktu di jalan ban motor bocor dan bensin juga tiris. Wah, kalau barang yang satu ini ketinggalan, udah giling kuming. Terkadang, sekadar untuk memastikan, saya harus cek bener-bener isi tas semuanya. Lagi-lagi, ini sebagai bentuk antisipasi agar di jalan tak repot diri sendiri atau merepotkan orang.

Selain uang cash, ATM juga penting buat jaga-jaga kalau sewaktu-waktu perlu narik duit. Etapi, ga mungkin juga kan ya saya nambal ban bayar pakai ATM pas di tengah-tengah jalan dan sepi tanpa ada gerai ATM gitu. Hahaha. Jadi uang cash dan ATM itu setali tiga uang alias sama-sama perlu dibawa.

Nah, ini juga paling penting dibawa, Kartu Tanda Penduduk. Ga nyangka kan, pas kena tilang di jalan ternyata itu polisi minta identitas pengemudi selain SIM. Gila aja, udah SIM mati, STNK mati, KTP ga ada. Aaahh… kiamat rasanya.

Camilan atau makanan sejenisnya itu sudah jadi trade mark isi tas saya. Entah itu kacang, pisang goreng, kue, atau makanan lainnya sekalipun. Iya, saya lakukan sebagai “side dish” isi tas. Kalau sewaktu-waktu saya lapar di jalan ga perlu mampir  ke warung makan. Bukan pelit atau penghematan lho ya. Tapi bentuk antisipasi darurat perut.

Botol air minum jadi teman setia isi dalam tas. Kondisi cuaca Jakarta yang tak menentu, kadang buat galau (gelisah antara lanjut atau udahan) untuk meneruskan perjalanan. Kalau panas buat haus, mau ga mau mesti nyiapin minum, kan?! Kalau dingin metabolisme juga meningkat, tetap aja pengen minum.

Ini sudah jadi trade mark isi dalam tas saya yang dibilang wajib, wajibnya hanya untuk saya, ga tahu kalau orang lain ya. Beberapa potong baju ganti, termasuk pakaian dalam, dan tentunya deodorant. Saya ga betah yang namanya berkeringat. Jadi, begitu sampai di satu tempat, cari toilet, pakai deodorant, ganti pakaian dalam. Terus kalau ada yang ngomong, “Repot banget hidup elu”, bodo’ amat ya, hidup-hidup gue. saya juga perlu wangi dong, apalagi kalau ketemu klien dan orang-orang yang sedianya sangat saya hargai. Pria sangat perlu juga jaga penampilan, biar ga terkesan jorok dan dekil.

Kamera DSLR dan HP, dua barang ini mesti saya bawa. Kalau-kalau di jalan ada yang indah untuk di jepret. HP itu wajib banget. Biasanya sebelum makan dijepret dulu entah pake HP atau Kamera DSLR. Terus lanjut diposting. Komunikasi pun biar lancar dengan pasangan HP mesti taruh dikantong. Dan saya memang tak suka membuat nada dering di HP, selalu vibrate silent.


Nah, itu sebagian barang-barang yang wajib saya bawa selama bepergian dan mesti ada di tas. Kantong Dora Emon mau beraksi lagi…   

Tuesday, July 18, 2017

Traveling: Katalis Sempurna Kebahagiaan


Bepergian atau traveling itu buat saya menyenangkan, meskipun capek. Tetapi, kalau mau traveling atau trip ke satu tempat, saya tak sembarang pergi. Saya akan cari yang unik, rekomendasi orang-orang yang sudah pernah pergi ke tempat itu, atau ada aktivitas apa di bulan yang sudah saya tentukan untuk pergi ke tempat itu. Karena zaman semakin canggih, beragam informasi tentunya mudah saya dapatkan. Saya bisa berselancar ria dengan device untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyak tentang keunikan daerah tersebut.  Ya, sekali usap dengan jari, semua informasi plus gambar daerah tujuan traveling saya terlihat jelas.


Danau Beratan, Pura Ulun Danu, Bedugul-Bali
Foto: Dok. Pribadi
Saya termasuk orang yang mesti mempersiapkan segala sesuatunya jika hendak bepergian. Untuk apa? Itu sebagai bentuk antisipasi diri agar tidak repot di jalan atau malah merepotkan orang yang jalan bersama saya. Saya bukan tipe yang suka bikin repot orang kalau traveling. Oleh karena itu, traveling saya benar-benar menjadi traveling  bebas hambatan dan lancar jaya. Karena segala sesuatunya sudah saya persiapkan jauh-jauh hari.

Selama melakukan traveling, saya mencatat  hal yang dirasa unik dan penting dalam buku catatan perjalanan maupun di dalam device yang saya bawa. Tak ketinggalan tentunya kamera. Karena, traveling tanpa kamera seperti burung  patah sayap, keplek-keplek atau sengklek kalau orang Jawa bilang, alias ada yang kurang. Meski ada kamera dari telepon pintar saya, tetap saja, kamera DSLR tidak akan pernah lupa. Saat perlu motret cepat, telepon pintar saya yang akan bermain. Tetapi, ketika saya berada di satu daerah yang memungkinkan untuk banyak mengambil angle maupun gambar-gambar wide angle,  kamera DSLR saya yang akan saya keluarkan.

Dalam banyak hal, traveling itu sangat bagus dan mengasyikan, tentunya dapat meningkatkan kesejahteraan mental, tak hanya jangka pendek tapi juga jangka panjang.  Entah itu traveling untuk berbisnis, traveling bersama keluarga dalam jangka lama, tentunya sedikit banyak kehidupan kita dilakukan di jalan.  Ya, traveling untuk saya pribadi akan membuat diri lebih bahagia, mampu membangkitkan rasa percaya diri, memberikan pengalaman dan kenangan baru, menjauhi diri sesaat dari rutinitas yang seakan tak pernah habis, dan tentunya juga,  memungkinkan saya bertemu orang-orang dari penjuru dunia.  

Saya senang ketika mendapatkan pengalaman dan wawasan baru, juga menantang batas-batas yang saya miliki. Traveling, bagi saya menjadi katalis sempurna untuk kebahagiaan, kenapa? Karena, hal ini memungkinkan saya mengalami keajaiban alam, budaya, dan beragam buatan manusia dan ciptaan Tuhan di seluruh dunia.  Pastinya, berada di negeri yang asing itu membuat saya harus keluar dari zona nyaman dan harus membangun kepercayaan diri yang kuat. Traveling juga sebagai sekolah terbaik yang saya peroleh. Belajar banyak tentang dunia di luar saya, terutama untuk diri sendiri.

Traveling itu membuat saya menjadi diri sendiri. Bagaimana tidak, ketika dihadapkan pada situasi yang tidak memungkinkan, mau tidak mau saya harus putar otak. Misalnya, ketika tak tahu arah jalan pulang yang notabenenya itu negeri asing dan baru pertama kali dikunjungi. Ya, alamat hotel tempat menginap, peta, uang, dan kemampuan bahasa harus saya keluarkan. “Malu bertanya, ga bisa pulang”. Ketika saya mampu mengatasi itu semua, di situlah kepercayaan diri timbul.

Traveling dengan rasa bahagia, mampu memberikan setrum  hebat kepada orang-orang di sekitar saya, terutama penduduk setempat. Ya, ketika senyum bahagia, sapaan ramah, orang-orang yang bertemu dengan saya mendapakan efek langsung. Ketika perjalanan saya menyusuri pedalaman hutan Sumatera, Bukit Tiga Puluh, Menjumpai Suku Anak Dalam, Suku Talang Mamak, maupun Melayu Tradisional, Orang-orang Lore, mereka sangat bahagia, ceria, dan ramah. Meski, mungkin sebagian dari mereka ada yang pernah mengalami hal-hal tak menyenangkan dalam hidupnya. Ketika senyuman dan sapaan akrab saya mendarat kepada mereka, hal-hal  tak menyenangkan yang pernah mereka alami itu, sirna.

Saat  saya ber-traveling-tentu akan jauh dari keluarga. Berada jauh dari orang-orang terdekat ketika saya biasa akrab, akan terasa ada yang berbeda. Di situlah, saya lebih bisa menghargai orang-orang terdekat saya, keluarga.

Traveling membuat saya banyak memperoleh teman baru.  Ternyata, pengalaman saya selama traveling memang berbeda saat di rumah. Ada banyak teman baru yang saya peroleh, dan jauh lebih mudah membuat teman baru di jalanan ketimbang di rumah.  Bertemu orang-orang baru yang bisa saya sapa secara ramah dan akrab, juga saya ajak ngobrol.  Traveling membuat peningkatan interaksi sosial yang saya miliki jauh lebih besar ketimbang berkumpul dengan orang-orang yang berpikiran picik.  Apalagi, ketika saya menjumpai dan bercakap-cakap dengan beragam orang dari kultur yang berbeda, hal itu sungguh sangat menarik untuk saya.  Otomatis, sedikit banyak saya dapat belajar juga dari mereka.

Traveling menjadi detoks saya dari media sosial.  Media sosial itu punya banyak impact untuk kita, asal bijak menggunakannya.  Bisa baik juga buruk.  Dengan traveling, sejenak saya membebaskan diri dari internet, gadget, maupun wifi. Tetapi, wi-fi memang sudah sangat umum, ada di mana-mana, karenanya akan sulit untuk di switch off.  Terkadang pun, ketika ponsel saya tersambung dengan wifi, di situlah saya secara tak sadar asyik sendiri dengan gadget, mau tidak mau sejenak memeriksa twitter, menelusuri lini masa facebook, terkadang periksa email masuk.  Lebih baik matikan segera.  Hal itu lebih membebaskan saya untuk traveling ke sana ke mari tanpa gangguan gadget.

Traveling membuat saya sangat menikmati waktu yang Tuhan beri. Ya, traveling itu memberikan saya ruang bernapas yang terkadang hilang dalam eksistensi sehari-hari yang biasa saya lakukan. Penting memanfaatkan kedamaian hidup dengan waktu yang Tuhan beri. Biarkan stress kita lepas. Kalau pun saya pergi dengan pasangan saya, di sinilah waktu yang tepat untuk menghabiskan waktu bersama-sama. Kita, jangan pernah takut untuk traveling dan meminta izin dari perusahaan tempat kita bekerja, karena jatah cuti itu sudah jadi milik Anda.

Ada nilai-nilai pendidikan yang saya peroleh selama melakukan traveling. Ketika saya singgah ke Bali, saya pelajari kulinari Bali juga bahasa baru. Traveling yang saya lakukan itu sebagai cara baru menghadirkan hal-hal baru untuk diri saya dalam menambah pengetahuan dan pendidikan. Dengan traveling dan belajar sesuatu yang baru, membuat otak kita lebih aktif juga meningkatkan kebahagiaan diri terutama saat mempelajari sesuatu hal yang kita anggap menyenangkan.

Vitamin A dan D sebagai boost untuk traveling saya. Ketika bermain di pantai, 20 menit berjemur di bawah sinar matahari sudah cukup untuk merasakan efek penuh vitamin D. Sinar matahari dan kehangatan itu membuat saya berada dalam lingkup kebahagiaan dan suasana hati jauh lebih baik. Efek ini terasa tatkala saya sudah mengakhiri traveling.  


Pantai Pandawa-Bali
Foto: Dok. Pribadi
Traveling itu membawa beragam cerita, baik aneh, lucu, terkadang serius. Dari traveling ini saya bisa cerita hal-hal tersebut dan tentunya membuat saya semakin menarik. Ketika kita menceritakan pengalaman traveling itu, orang-orang sedikit banyak akan mendekat dan ingin tahu. Membuat seseorang yang mendengar cerita kita tertawa, itu sebagai salah satu cara mudah untuk dapat langsung menumbuhkan harga diri. Jadi, jangan malu untuk berpegang pada kenangan traveling kita. Kamu sudah cukup traveling atau perlu traveling? Segera piknik!








Monday, July 17, 2017

Indulge Your Senses


Haute cuisine, sebagai cara penyajian makanan ala Perancis yang dapat dikatakan paling elegan sedunia. Cassis benar-benar menunjukkan keseriusannya dalam hal ini.

Cassis merupakan nama sebuah tempat bagi pencinta makanan Eropa, khususnya Perancis yang telah lama menjadi buah bibir di kalangan para elit. Berada di Jalan K. H. Mas Mansyur Kavling 24, Karet Jakarta Pusat.
Tempat initerbilang mewah dan elit. Setiap pengunjung yang datang akan betah dan merasa nyaman. Kursi-kursi dan meja disusun dalam jumlah yang bervariasi. Susunan kursi mulai dari berjumlah empat hingga enam belas besertasandaran bantal-bantal empuk. Desain interior ruangan begitu elegan dan mewah yang memikat mata melalui sentuhan tangan Yabu Pushellberg.


Kursi dan meja pun punya kelas
Foto: Dok. Pribadi
Cassis memberikan suasana sangat romantis layaknya fine dining di Paris. Saat kaki menjejak, pelayan menyambut hangat kedatangan saya. Suasana resto terlihat sempurna. Cassis menyulap dan menciptakan suasana yang sangat romantis untuk setiap pengunjung yang datang. Tata lampu dan dekorasi elegan itu menciptakan harmoni kedamaian.Karenanya, menunggu hidangan datang pun tidak terasa, tiba-tiba sudah tersaji di depan mata.


Kursi-Kursi yang mengagumkan
Foto: Dok. Pribadi
Mata bergeming memerhatikan keadaan keseluruhan ruangan. Ada satu bagian tempat duduk persis di depan jendela yang langsung berhadapan dengan jalan utama. Kita dapat “jajan” mata melihat keluar jendelajika memilih duduk di dekat bagian itu. Menurut pengamatan saya, ini merupakan restoran Perancis terbaik yang ada di ibukota. Tidak bermaksud melebih-lebihkan, pengaturan dan dekorasi terlihat canggihtetapi santai, modern, dan elegan. Layanannya pun efisien dan bijaksana.


Elegan di kelasnya
Foto: Dok. Pribadi
Resto ini selalu menggunakan bahan masakan segar setiap hari. Hidangan itu langsung diracik oleh Executive Chef kenamaan dari Perancis, yaitu Jerome Laurent. Dia lahir dan besar di Arles, Perancis dengan menyandang penghargaan ternama, One Michelin Star untuk restoran, Le Cilantro pada 2007. Dia juga salah satu anggota Maitre Cuisiner de France Association. Chef Jerome menyelesaikan pendidikan master  dalam bidang ilmu kuliner di Ecole Superieure de Cuisine Francaise Paris di Perancis.

Melalui racikan tangan Chef Jerome menjelma menu-menu mewah berkelas yang ringan di mulut. Green royal asparagus misalnya. Sebagai hidangan pembuka, makanan berbahan dasar asparagus ini sangat lembut di mulut. Siraman saus yang berasal dari jamur truffle ke dalamnya semakin menambah kelembutan cita rasa hidangan ini. “Menakjubkan,” seperti yang dikatakan Indri, Public Relation Manager Cassis.


Green Royal Asparagus as an appetizer
Foto: Dok. Pribadi
Restoran melalui layanan penuh dengan makanan lebih spesifik, khusus, dan berkelas, itulahCassis. Pelayan sangat terlatih dan menggunakan pakaian seragam. Chef yang sudah sangat profesional akan memberi sentuhan dan racikan masakan mahal tetapi layak untuk dinikmati. Restoran fine dining memiliki aturan tertentu yang harus diikuti oleh pengunjungnya. Konsep fine dining, belum akan mengeluarkan menu berikutnya apabila menu pertama yang dihidangkan belum habis. Hal itu untuk menjaga agar tamu tetap mendapatkan kehangatan makanan ketika disajikan.

Usai menikmati Green royal asparagus, sajian utama pun datang. Apa sajian utama Cassis yang dihidangkan untuk saya? Saya masih menerka-nerka. Ternyata, Seared black cod eggplant tart dengan saus snow peas. Pak Rudy,salah seorang senior di Cassis menyarankan kepada saya, untuk menikmati menu ini sebaiknya tidak dicoba satu per satu. Akan tetapi, ikan cod yang telah dipotong dipadu bersama sayuran. Rasanya? Terbayangkan kelezatan yang timbul dari perpaduan keduanya. Cita rasa ikan cod di lidah saya benar-benar empuk dan relatif ringan. Sayurannya lembut dan terasa kesegarannya. Sausnyacreamy, gurih, dan sangat enak. Di tangan Chef Jerome, menu ini menjadi juaranya.


Seared black cod eggplant tart with snow peas sauce
Foto: Dok. Pribadi
Tidak lama berselang saya dihadirkan hidangan penutup setelah tuntas dengan hidangan utama. Saya sempat memerhatikan secara detail hidangan itu. Apa yang saya pikirkan benar adanya, seperti salah satu buah yang dikaramel dan diberi es krim. Ya, dalam pelafalan yang membuat lidahsempat “berlipat” saya diberitahu oleh Chef Jeromenama hidangan penutup itu Caramelized apples mille feuilles.

Dalam tata sajiannya terdapat potongan buah apel yang dibuat persegi dengan aroma karamelapel manis. Oleh Chef Jerome, hidangan penutup ini dibuat empat lapisan yang terdiri atas dua komponen. Ada potongan kue mille feuille, genoise yang kaya dengan kayu manis serta rempah-rempah, elemen apel yang dipotong dadu kecil, karamel apel segar yang dimasak lembut tetapi tidah hancur dan tetap utuh.  Terdapat pula dua potong biskuit berbentuk persegi panjang di atas dan di bawahnya serta sabayon sebagai dasarnya. Rasanya, fantastis!


Caramelized apples mille feuilles
Foto: Dok. Pribadi
Cassis menawarkan masakan Perancis istimewa yang dapat menyenangkan selera Anda.  Dari hidangan pembuka yang menggoda, hingga hidangan penutup yang tidak tertahankan. Konsisten menyediakan kualitas makanan dengan cita rasa tertinggi.Setiap rupiah yang Anda keluarkan sangat sepadan dengan hidangan dan pelayanan terbaik yang diberikan resto ini.

Cassis
Jalan K. H. Mas Mansyur Kavling 24
Karet, Jakarta Pusat 10220
Telepon (021) 57941500