Thursday, November 23, 2017

Kompetisi Robotik Madrasah 2017 Memberi Warna di IIEE




Robot? Wah, ini bisa jadi banyak ragam, model, dan peruntukan. Robot yang selama ini didengung-dengungkan bisa menggantikan kerja manusia, pada dasarnya itulah kenyataannya. Tak bisa dihindari, perkembangan teknologi membuat segala sesuatunya menjadi mudah. Bahkan, kerjaan manusia tersulit apapun bisa dituntaskan dengan robot.   
 
Kompetisi Robotik Madrasah hari ini di IIEE ICE BSD [Foto: Dok Pri]

Nah, kali ini, robot-robot ini hadir di tengah-tengah kita sebagai  salah satu rangkaian kegiatan International Islamic Education Expo (IIEE) atau Expo Internasional Pendidikan Islam yang digelar 21-24 November 2017 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD Tangerang Selatan Banten adalah Kompetisi Robotik Madrasah 2017. Kompetisi Robotik Madrasah merupakan kegiatan unggulan tahunan Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI.
 
Peserta Kompetisi Robotik Madrasah di IIEE 2017 ICE BSD [Foto: Dok Pri]
Tahun ini adalah tahun yang ketiga. Kompetisi Robotik Madrasah pertama kali diselenggarakan di tahun 2015 di Cilandak Town Square Jakarta Selatan dan tahun 2016 di Mall of Indonesia Jakarta Utara. Sedangkan tahun ini, Kompetisi Robotik Madrasah 2017 diselenggarakan di Indonesia Convention and Exhibition (ICE) Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan, Banten, pada 23 November 2017.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Kamaruddin Amin mengatakan bahwa Kompetisi Robotik Madrasah ini merupakan bagian tak terpisakan dari Ekspo Pendidikan Islam yang bertujuan mempromosikan bahwa pendidikan Islam di Indonesia, termasuk pendidikan  dasar madrasah, tidak anti pada teknologi. 

“Siswa-siswi madrasah  yang memiliki bakat dan minat di bidang robotik dan bahkan sudah banyak siswa-siswi madrasah ada yang juara robotik di tingkat internasional menunjukkan bahwa pendidikan Islam di Indonesia memiliki kualitas dunia,” ujar Kamaruddin Amin.

Kamaruddin Amin berharap Kompetisi Robotik Madrasah ini mampu menghasilkan siswa-siswi madrasah yang memiliki kemampuan di bidang robotik berkelas internasional. 

Prototipe Kompetisi Robotik Madrasah di IIEE 2017 ICE BSD [Foto: Dok Pri]
Pendaftaran Kompetisi Robotik Madrasah 2017 ini telah dibuka sejak tanggal 8-13 November 2017 melalui website madrasah.kemenag.go.id/robotik.  Dalam jangka waktu hampir seminggu telah ada 152 tim yang mendaftar. Karena terbatasnya kuota, terpaksa harus panitia menyeleksi pendaftar yang masuk berdasarkan persyaratan-persyaratan yang dilampirkan dan juga berdasarkan pendaftar yang paling awal. Dari 152 tim yang daftar terseleksilah 83 tim (MI, MTs dan MA). Setiap tim terdiri dari dua siswa. Sehingga total peserta adalah 166.  Dengan rincian sebagai berikut:

1. Madrasah Ibtidaiyah (MI), 18 Tim Kategori Rancang Bangun Mekanika (Discovery Robot)
2. Madrasah Tsanawiyah (MTs) 17 tim Kategori Robot Ekspendisi
3. Madrasah Tsanawiyah (MTs) 13 tim Kategori Rancang Bangun Mekanika (Discovery Robot)
4. Madrasah Aliyah 17 (MTs) tim Kategori Self-Driving Car
5. Madrasah Aliyah 18 (MTs) tim Kategori Rancang Bangun Mekanika (Discovery Robot)
 
Saat-saat menegangkan kompetisi Robotik [Foto: Dok Pri]
Tahun ini, Kompetisi Robotik Madrasah 2017 menambah dua kategori, yang sebelumnya tidak ada. Satu kategori untuk tingkat MTs dan Tingkat MA, yakni kategori Rancang Bangun Mekanika (Discovery Robot). Untuk kategori Rancang Bangun Mekanika (Discovery Robot) ada 13 tim untuk jenjang MTs dan 18 tim untuk jenjang MA. 

Kompetisi Robotik Madrasah yang bakalan digelar di Foyer Hall 2 ICE BSD ini diikuti oleh 166 siswa-siswi madrasah atau 83 tim dari sejumlah provinsi di Indonesia (Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat,  Gorontalo, Bali, Bengkulu, Kepulauan Riau dan Riau).

Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Dr. Ahmad Umar, MA. mengatakan bahwa Kompetisi Robotik Madrasah akan meningkatkan daya saing  dan mengangkat marwah madrasah. 

166 peserta ini akan dibagi ke dalam 5 kategori:
1.   Tingkat Madrasah Ibtidaiyah dengan satu kategori, yakni Kategori Rancang Bangun Mekanika (Discovery Robot).  Dalam kategori ini siswa menciptakan dari hasil kreasinya sendiri sebuah rancangan model teknologi yang berguna untuk meringankan kehidupan manusia. Peserta merakit robotnya sendiri dari sekolah hingga dapat bergerak secara otomatis. Kemudian mempresentasikan di depan dewan juri di lokasi lomba.
2.   Tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) dengan Kategori ke-1: Mobile Robot Ekspedisi.Siswa akan membuat program kendali untuk mengendalikan Mobile Robot. Mobile Robot akan bergerak dari titik start menuju titik finish. Peserta harus mempertimbangkan halangan, rintangan, kondisi jalan dan waktu tempuh. Peserta harus mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya.
3.   Tingkat Madrasah Tsanawiyah dengan Kategori ke-2 Rancang Bangun Mekanika (Discovery Robot).Siswa menciptakan dari hasil kreasinya sendiri sebuah rancangan model teknologi yang berguna untuk meringankan kehidupan manusia. Peserta merakit robotnya sendiri dari sekolah hingga dapat bergerak secara otomatis. Kemudian mempresentasikan di depan dewan juri di lokasi lomba.
4.   Tingkat Madrasah Aliyah (MA) dengan Kategori ke-1: Mobil Mandiri (Self-Driving Car). Peserta mendapatkan tugas untuk memprogram sebuah mobil yang dapat berjalan sendiri di jalan raya (arena lomba). dengan mempertimbangkan hambatan dan rintangan, jalanan berbelok dan berliku selama dalam perjalanan hingga sampai pada tujuan akhir. Selama dalam perjalanan mobil akan mendapatkan poin jika berhasil melewati rintangan yang dihadapi. Arena lomba di lantai yang dilapisi kertas karton warna putih seluas 3x5 M. Kertas karton akan didesain menggunakan solatip warna hitam menyerupai jalan raya. 
5.   Tingkat Madrasah Aliyah (MA) dengan kategori ke-2: Kit Rancang Bangun Mekanika (Discovery Robot). Siswa menciptakan dari hasil kreasinya sendiri sebuah rancangan model teknologi yang berguna untuk meringankan kehidupan manusia. Peserta merakit robotnya sendiri dari sekolah hingga dapat bergerak secara otomatis. Kemudian mempresentasikan di depan dewan juri di lokasi lomba.

Ajang Kompetisi Robotik Madrasah  akan menampilkan dan mengadu kemampuan robot ciptaan siswa madrasah. Dan total hadiah yang diperebutkan sebesar 250 juta. Dengan rincian sebagaimana berikut:

TINGKAT MI
Kategori : Kit Rancang Bangun Mekanika (Discovery robot)
• Juara I terdiri dari: Tropi dan uang pembinaan Rp. 22 juta
• Juara II terdiri dari: Tropi dan uang pembinaan Rp. 18 juta
• Juara III terdiri dari: Tropi dan uang pembinaan Rp. 14 juta 

TINGKAT MTs
Kategori 1: Mobile Robot Ekspedisi
• Juara I terdiri dari: Tropi dan uang pembinaan Rp. 18 juta 
• Juara II terdiri dari: Tropi dan uang pembinaan Rp. 14 juta 
• Juara III terdiri dari: Tropi dan uang pembinaan Rp. 12 juta

Kategori 2:  Kit Rancang Bangun Mekanika (Discovery robot)
• Juara I terdiri dari: Tropi dan uang pembinaan Rp. 22 juta 
• Juara II terdiri dari: Tropi dan uang pembinaan Rp. 18 juta
• Juara III terdiri dari: Tropi dan uang pembinaan Rp. 14 juta 

TINGKAT MA
Kategori 1: Mobil Mandiri (Self Driving Car)    
• Juara I terdiri dari: Tropi, uang pembinaan Rp. 18 juta 
• Juara II terdiri dari: Tropi dan uang pembinaan Rp. 14 juta 
• Juara III terdiri dari: Tropi dan uang pembinaan Rp. 12 juta

Kategori 2: Rancang Bangun Mekanika (Discovery robot)
• Juara I terdiri dari: Tropi, uang pembinaan Rp. 22 juta 
• Juara II terdiri dari: Tropi dan uang pembinaan Rp. 18 juta 
• Juara III terdiri dari: Tropi dan uang pembinaan Rp. 14 juta

Nah, salah satu robot yang menarik perhatian saya adalah Robogreen. RoboGreen ini sebagai salah satu robot yang dirancang untuk membantu kerja manusia dalam hal menyiram membereskan pekarangan rumah dan taman.
 
RoboGreen MTs Jakarta Pusat [Foto: Dok Pri]
Ada tiga fungsi utama dari RoboGreen yang dibuat oleh MTs Jakarta Pusat ini, yaitu untuk memotong rumput, menyiram tanaman, dan juga memindahkan pot. 

Beberapa peserta Kompetisi Robotik Madrasah [Foto: Dok Pri]
Cara kerja RoboGreen diprogram melalui telepon pintar sesuai dengan yang digunakan. Kalau ingin menggerakkan robot dan memindahkan pot menyiram tanaman, maka telepon pintar yang digunakan telepon pintar 1. Untuk memotorng rumput dan menyiram tanaman, telepon pintar 2 yang dipakai. Jadi, dua telepon pintar digunakan untuk mengoperasikan RoboGreen.


Siap-siap berkompetisi, peserta dan pendamping peserta Robotic [Foto: Dok Pri]
Nah, untuk kalian yang ingin tahu keseruannya, langsung saja ke TKP, di ICE BSD Conveyor Hall 2. Selamat berkompetisi ya, adik-adik semua. Semoga, robot-robot yang kalian hasilkan, dapat berguna untuk ilmu pengetahuan, teknologi, dan kehidupan orang banyak. Semangat!!!

Wednesday, November 22, 2017

MAN 3 Malang, Acuan Sekolah Madrasah Unggulan di Indonesia




Bicara sekolah, terutama sekolah yang berlandaskan agama, menjadi  nilai tersendiri di mata orang tua. Model sekolah seperti madrasah, kini makin diminati, mengapa? Tidak saja karena dibekali ilmu-ilmu umum, tetapi terpenting ilmu agama sebagai dasar dan pegangan untuk mencetak generasi Islami yang kuat dan mandiri. 
 
Madrasah Terpadu Malang dalam IIEE 2017 [Foto: Dok Pri]
Landasan agama menjadi pegangan ketika mereka menuntut ilmu. Madrasah salah satunya, sebagai sekolah yang mampu menciptakan keseimbangan hidup, dunia dan akhirat. Nah, salah satu sekolah yang terintegrasi dalam satu kesatuan sistem pendidikan adalah sekolah madrasah terpadu kota Malang.

Madrasah terpadu kota Malang terdiri dari Madrasah Ibtidaiyah (setingkat sekolah dasar), Madrasah Tingkat Tsanawiyah (setingkat SMP), dan Madrasah Aliyah (setingkat SMA). 

Terbentuknya Madrasah terpadu ini, menurut Mashudi, salah seorang guru di MTsN 1 kota Malang, dulunya berasal dari Pendidikan Guru Agama (PGA) negeri Malang. PGA tersebut meliputi PGA  4 tahun, PGAP 4 tahun, dan PGAA 6 tahun. 


Suasana IIEE 2017 di ICE BSD,Tangerang Banten [Foto: Dok Pri]

Sementara, MIN mulanya sebagai sekolah latihan dari PGA. Namun, sekitar tahun 1977 PGA dihapuskan, PGA 4 tahun berubah menjadi MIN, PGAP 4 tahun menjadi MTs, dan PGAA 6 tahun sebagai  MAN.

“Alhamdulillah, kami berjuang tahap demi tahap, MIN dimajukan terlebih dahulu. Saat MIN sudah maju bertaraf internasional, lalu merambah ke MTs dan MAN. Dulu, kawasan Jalan Bandung itu menyedihkan dan kumuh. Namun sekarang, kawasan Jalan Bandung makin dikenal dengan kawasan Madrasah Terpadu,” tuturnya.

Madrasah terpadu kota Malang banyak dijadikan contoh oleh madrasah lain di Indonesia. Di sekolah ini, hal utama yang menjadi perhatian selain fokus pada proses belajar, juga menekankan pentingnya nilai-nilai kebersihan dan keindahan. Peningkatan keahlian sumber daya manusia, terutama guru pun tak luput dari perhatian.

Menurut Mashudi, dulu sebelum ada aturan seorang guru boleh mengajar bidang studi lain, masih diperkenankan. Tetapi kini, tidak. Tata administrasi di sekolah ini juga terus diperbaiki dengan mengikuti arahan dan petunjuk dari pusat.  
 
Apa yang terbayang di benak Anda saat mendengar nama Madrasah Aliyah? Ya, Madrasah Aliyah sebagai sekolah Menengah sederajat dengan  SMA berlandaskan Agama Islam. Madrasah yang berlokasi di jalan Bandung 7 Malang ini sudah ditetapkan menjadi salah satu dari beberapa MAN unggulan di Indonesia.


Beberapa stand yang ikut serta IIEE 2017 di ICE BSD, Tangerag Banten [Foto: Dok Pri]
Di kompleks Jalan Bandung 7 Malang ini berdiri tiga Madrasah. Selanjutnya, oleh Departemen Agama RI ditetapkan sebagai Madrasah Terpadu terdiri atas MIN Malang 1, MTsN Malang 1, dan MAN 3 Malang. Madrasah Terpadu Malang secara terus menerus berpacu meningkatkan kualitas layanan dan pelaksanaan pendidikan, sehingga sekarang sudah menjadi salah satu sekolah paling favorit di kota Malang.

Hal itu terbukti dari ragam prestasi yang diraih serta sangat membanggakan. Contonya, juara I Lomba Lingkungan Sekolah Sehat (UKS) tingkat Nasional. Karena itulah MAN 3 Malang menjadi sekolah favorit se-Malang Raya bahkan se-Indonesia. 

Di sekolah unggulan  ini banyak fasilitas pendukung siswa saat belajar. Program-program studi yang dimiliki pun sangat berguna, baik untuk masyarakat maupun lingkungan dan menjadi acuan pula ketika memilih  program studi di perguruan tinggi. 

Sebagai sarana refreshing, menambah kemampuan, serta bakat  siswa-siswinya, MAN 3 Malang punya kegiatan ekstrakurikuler yang cukup banyak sesuai keinginan siswa. 

Selain itu, untuk mendukung kegiatan  belajar mengajar siswa, sekolah ini juga punya beragam fasilitas, antara lain Ruang Multimedia; dilengkapi LCD, AC, meja rapat, tempat duduk bertingkat, sehingga dapat dioperasikan sebagai tempat rapat, diskusi,  juga nonton layaknya bioskop.

Ada laboratorium bahasa: dilengkapi  LCD dan AC. Sementara itu, laboratorium Bahasa Visual dengan komputer, tempat berbilik, LCD, dan ruangan ber-AC juga dihadirkan untuk mendukung pembelajaran bahasa Inggris, Indonesia, Jepang, Arab, Mandarin, dan Jerman.

Lab komputer, lab sains, kebunTOGA, Green House, Asrama, Sanggar Pramuka sebagai ekstrakurikuler terbesar di MAN 3 Malang, hingga Studio gamelan dengan fasilitas Karawitan yang super lengkap. Pusat Sumber Belajar Bersama juga punya fasilitas penginapan sama seperti hotel mini plus restoran, aula untuk diskusi, baik dari pelajar maupun umum.

Bicara prestasi, jangan ditanya. MAN 3 Malang punya segudang prestasi.  Dari juara  1 Lomba Lingkungan Sehat (LLSS) tingkat Provisi Jawa Timur, hingga  juara 1 Lomba Karya Ilmiah tingkat nasional pun disabet. 

Tak heran, jika MAN 3 Malang jadi incaran dan unggul di semua bidang. Sekolah ini pun punya program unggulan dan reguler. Program unggulan seperti Program akselerasi (Percepatan) yang ditawarkan kepada siswa cerdas dan bertalenta hanya dalam waktu 2 tahun. Program Madrasah Aliyah Berstandar Internasional (MABI) berbasis kurikulum dari Timur Tengah pun menjadi incaran siswa/i. Untuk bisa masuk ke dalam program tersebut, calon siswa/i harus ikut beberapa tes untuk memperoleh siswa/i yang benar-benar berkualitas.

Di MAN 3 Malang ini memberikan empat jurusan yang masuk dalam program reguler. Program ini akan ditempuh siswa/i di kelas XI, yang dapat dipilih IPA, IPS, Keagamaan, dan Bahasa. Sebagai sekolah yang juga mengikuti perkembangan teknologi informasi, di sekolah ini juga diberikan Hotspot untuk memudahkan siswa mencari sumber bacaan maupun referensi tugas. Agama Islam sebagai landasan pembelajaran menjadi pegangan kuat di sekolah ini. 

Madrasah Aliyah 3 Malang, acuan sekolah unggulan di Indonesia [Foto: Dok Pri]
Kehadiran MAN 3 Kota Malang di IIEE 2107 ini semakin menambah deret panjang sekolah madrasah berkualitas di Indonesia.  

Tuesday, November 21, 2017

Pondok Pesantren Hadapi Tantangan Global



International Seminar on Pesantren Studies yang berlangsung hari ini diwarnai beragam pandangan. Pesantren menjadi salah satu saksi sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Lembaga ini telah eksis selama ratusan tahun di Nusantara. Kenyataan ini setidaknya mampu menjawab opini  orang tentang pesantren.  Usia yang sudah sangat tua menjadi  bukti tak terbantahkan peran vitalnya yang tidak bisa dinomorduakan. Seperti mencerdaskan anak bangsa hingga menjadi kekuatan yang melekatkan keragaman suku bangsa dalam negara kesatuan republik Indonesia.

Prof. Dr. H. Anwar Abbas, MM. M.Ag (batik lengan panjang), Gus Rizal (batik lengan pendek), dan Prof. Dr. Abdul A'la (paling kanan) dalam International Seminar On Pesantren Studies [Foto: Dok Pri]
“Pesantren menjadi tumpuan dan harapan. Wajib hukumnya menyuntikkan virus entrepreneurship dan intrapreneurship agar siapapun yang telah selesai menempuh pendidikan dapat menciptakan lapangan pekerjaan. Indonesia akan menjadi penguasa dunia,” ucap Prof. Dr. H. Anwar Abbas, MM, M.Ag.

Dalam kesempatan yang sama, Gus Rizal mengatakan, pondok pesantren harus mengimbangi perkembangan  zaman dengan beragam pola pesantren yang ada. Pesantren menjadi salah satu institusi pendidikan yang memiliki skill (keahlian), pembelajaran, maupun pengetahuan. Kementerian Agama harus  benar-benar mengawasi perkembangannya. Pondok pesantren dibangun berdasarkan jasa seorang kyai, dari dulu hingga sekarang sudah semestinya pola pikir pondok pesantren tidak berubah.   

Pesantren kini menjelma sebagai kontrol tak terduga untuk sisi negatif modernitas dengan tetap mengarusutamakan pendidikan moral kepada setiap santri yang belajar di dalamnya. Di pesantren pula globalisasi hanya berpengaruh pada tataran sistem dan struktur, tidak sampai pada nilai dan kultur.

Dalam perkembangannya, pesantren memberikan kontribusi dan sumbangan terbesar untuk bangsa. Di masa penjajahan pun, pesantren memberikan sumbangsih menentang kolonial. Setelah merdeka, pesantren pun ikut serta menjaga persatuan  dan kesatuan bangsa. Sampai sekarang, kontribusi pesantren dalam mengisi dan ikut serta mewujudkan cita-cita bangsa yang  masih begitu terasa.

Sepak terjang pesantren tak hanya di dunia pendidikan. Pesantren pun punya peran besar dan aktif di sektor lain, seperti pemberdayaan ekonomi, politik, sosial, budaya, dan sebagainya.

“Mempertahankan nilai-nilai pesantren mesti dilakukan. Bagaimana mengonstekstualisasikan nilai Islam dengan nilai lokal. Pesantren sebagai hasil kreativitas para kyai orang Indonesia. Pesantren juga menjadi tempat pembelajaran yang tak pernah mati,” ucap Prof. Dr. Abdul A’la, Rektor UIN Sunan Ampel, Surabaya.

Pesantren terus  mewaspadai perkembangan dan perubahan zaman.  Jika tidak, pesantren akan tergilas. Masing-masing zaman memiliki masalah dan tantangan tersendiri. Tak heran, selain ketahanan pesantren yang kokoh, tidak sedikit pula pesantren yang tutup karena tidak mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Tantangan pesantren kini semakin beragam, tak lagi ekses modernitas dan globalisasi yang datang dari luar, juga pengaruh ideologi radikal dan konservatisme yang menggerogoti dari dalam. Tak lepas pula dari penetrasi teknologi informasi yang semakin liar. Banyak kalangan menyebut fenomena ini dengan disruption. Memang, fenomena ini tak hanya mewabah di dunia pendidikan, tetapi mewabah di semua sektor.

Pesantren perlu berinovasi dalam hal strategi pembelajaran agar anak-anak merasa senang belajar di pesantren, dan mereka juga tidak gagap terhadap perkembangan maupun perubahan zaman. Penguatan lembaga pesantren menjadi hal utama yang harus diperhatikan. Tanpa didukung kelembagaan yang kuat, tentu ketahanan pesantren akan terkikis.

Banyak hal yang mesti dikerjakan oleh pesantren yang menjadi capital,  tidak saja sebagai market. Untuk itu, pesantren terus berefleksi-inovasi untuk meng-upgrade sistem pembelajaran dan bertahan (survive) menghadapi perkembangan zaman.

“Nilai-nilai luhur kesederhanaan, pelestarian,  melek cyber physical system, membangun pesantren sebagai  pusat civilization  dari Indonesia untuk dunia harus tetap sesuai jati dirinya. Pesantren harus secara kritis mampu menyikapi setiap perkembangan agar tidak tergerus zaman. Jika pesantren hilang, Indonesia akan hilang,” tutup Prof. Dr. Abdul A’la.

Seminar yang diselenggarakan mulai tanggal 20--22 November 2017 di Indonesia Convention Exhibition, BSD City, Tangerang ini, menghadirkan pembicara yang sangat  kompeten di bidangnya dari luar negeri, seperti Dr. Muhammad Thayyib (Sudan), Dr. Salim Alwan (Mufti Darul Fatah, Australia),Dr. Syekh Sa’ad Al Ajuz (Global University, Libanon), dan Dr. Fahdi Alamuddin (Jam’iyyah Al-Masyari, Libanon).

Tak hanya itu, pembicara top dalam negeri pun turut hadir memeriahkan seperti K.H. Mustofa Bisri (Pimpinan Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang), K.H. Masdar Farid Mas'udi (Rais Suriah PB Nahdlatul Ulama), Prof. Dr. Nur Syam (Sekretaris Jenderal Kementerian Agama), Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin (Direktur Jenderal Pendidikan Islam), Prof. Dr. Abd. A'la (Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya), Dr. Noor Achmad (Rekor Universitas Wahid Hasyim, Semarang), Dr. Abdul Mukti (Sekretaris Pimpinan Pusan Muhammadiyah, Jakarta), Dr. Ahmad Zayadi (Kementerian Agama RI, Jakarta), serta Amich Alhumami, M.A., Ph.D. (Bappenas, Jakarta). 
Pembicara luar negeri turut serta menjadi pembicara dalam seminar ini [Foto: Dok Pri]
Selain agenda ini, di IIEE 2017 juga diisi dengan aktivitas  lainnya seperti Deklarasi Jakarta, Apresiasi Pendidikan Islam (API), Anugerah Guru Madrasah Berprestasi (Gupres), Kompetisi Robotik  Madrasah, serta Pentas Dongeng Islami PAI. Acara pembukaan hari ini, Selasa (21/11/2017), dibuka oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin yang dihadiri 4.000 peserta.