Friday, October 14, 2016

Candi Kimpulan & Jero Wacik, Sejarah Panjang Indonesia

Candi Kimpulan, diketahui juga bernama Candi Pustakasala merupakan candi Hindu sekitar abad ke-9 hingga 10. Candi ini unik, ditemukan tepat di tengah-tengah bangunan perpustakaan Universitas Islam Indonesia (UII) yang berada di Jalan Kaliurang, Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta. Kedalaman candi saat ditemukan terkubur sekitar 2,7 meter di bawah tanah. Lantas, bagian-bagian candi ke gali dengan temuan candi berbentuk bujur sangkar, dinding batu andesit, patung Ganesha, dan Lingga-Yoni.
Candi Kimpulan, di tengah-tengah gedung perpustakaan UII
Foto: Dok. Pribadi
Letak tepatnya berada di dusun Kimpulan, Umbulmartani, Ngemplak, Yogyakarta. Ditemukan sekitar 11 Desember 2009. Berada bersebelahan dengan sungai Klanduan. Diperkirakan, candi Kimpulan bermasa kerajaan Mataram Kuno. Candi ini, ketika diperoleh berupa Arca Ganesha yang berada tak jauh dari Lingga Yoni, pada satu lempengan emas dan perak pada kotak peripih. Di dalam Yoninya terdapat tiga baris satu untaian tulisan huruf Jawa Kuno. Diketahui, tulisan tersebut sebagai mantera dalam agama Hindu yang digunakan sekitar abad ke-9 masehi.

Ditaksir, candi ini terkubur dari letusan Gunung Merapi terbawa melalui aliran sungai yang berada di sekitar Candi Kimpulan. Akan tetapi, meski terkena lahar dingin dan terpendam sangat lama, struktur bangunan candi sangat intaks. Candi Kimpulan dapat diketahui sebagai candi Hindu karena ditemukannya Arca Ganesha tanpa adanya Arca Agastya juga Arca Durga, keduanya sebagai bangunan yang tidak memiliki dinding bilik yang menempatkan arca-arca tersebut di lantai. Terlihat juga tanpa ada tangga masuk. Arca Nandi, dua buah Lapik dan satu buah kotak batu.   
Arca Ganesha
Foto: Dok. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta
Bicara nama candi Kimpulan, dalam berdasarkan etika dalam dunia arkeologi, pemberian nama itu sesuai dengan tempat ditemukannya candi. Karena tidak ditemukannya prasasti, maka otomatis nama yang diberikan adalah nama daerah tempat candi tersebut berada dan ditemukan, dalam hal ini Desa Kimpulan.

Menilik lebih jauh, candi ini cukup sederhana, akan tetapi dari sisi arsitektur sangatlah indah dengan teknik kekuatan bangunan yang sangat memadai. Bangunan candi Kimpulan memiliki satu candi induk yang unik dan satu candi perwara. Bangunan induk candi berbentuk balik dengan ukuran 6,21 m x 6,21 m x 2,15 m. Sementara itu permukaan bagian atasnya membentuk semacam pelataran. Di tengah pelataran tersebutlah terdapat bangunan Lingga dan Yoni. Di sekitar Lingga dan Yoni itu terdapat 12 umpak. 
Candi Kimpulan setelah di ekskavasi bersih
Foto: Dok. Pribadi
Umpak tersebut menjadi salah satu bukti bahwa bagian atap candi sebagai bangunan lunak berupa kayu atau bamboo. Otomatis, sangat sulit sekali jika mencari sisa-sia yang masih tertinggal. Jarang sekali ditemukan candi dalam kondisi utuh dengan banyak bukti bahwa candi itu berbahan kayu sebagai atap candi. Selama ini, atap candi maupun bangunannya terbuat dari batu dengan arsitektur yang khas.

Bicara candi Kimpulan, tak bisa lepas dari salah seorang mantan Menteri Pariwisata dan Kebudayaan era SBY, yaitu Bapak Ir. Jero Wacik, S.E. Setelah proses ekskavasi dengan bangga dan senangnya,  Jero Wacik datang ke UII untuk meresmikan keberadaan candi tersebut pada 17 Oktober 2011.
Kita patut bangga, melalui tangan dingin Jero Wacik, beberapa heritage negeri ini diakui dunia, salah satunya candi. Beliau mampu mengangkat nama Indonesia di kancah dunia dan Indonesia tak dipandang sebelah mata.
Jero Wacik saat mengunjungi dan meresmikan Candi Kimpulan
Foto: Dok. Pribadi dalam Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta
Di tangan beliau pula, pariwisata Indonesia naik pamor dan dikenal. Dengan kerja kerasnya yang pantang menyerah, dirinya mampu menaikkan kunjungan wisman hingga 84 Trilin per tahun (2008). Darinya pula MURI berani memberikan penghargaan dengan capaian kunjungan Turis Asing tertinggi dalam sejarah Indonesia.

Hal yang tak dapat dilupakan dalam sejarah Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata negeri ini adalah bagaimana beliau berusaha keras hingga karya budaya Indonesia mendapatkan pengakuan dari UNESCO dan bersertifikat internasional dengan diakuinya keris (2008), wayang (2008), batik (2009), angklung (2010), tari saman (2011), subak (2012), geopark (2012), dan STP Bandung dan Bali (2014) sebagai heritage Indonesia.

Jadi, hal-hal yang memberitakan miring tentang dirinya kemungkinan besar hanya orang-orang yang memang tak kenal lebih dalam tentang sepak terjang Jero Wacik sesungguhnya. Sebagai orang Bali yang taat dalam beragama, ditambah pula dirinya sebagai pemangku (pemimpin) umat Hindu tertinggi di Bali, untuk berbuat hal-hal aneh semacam korupsi, tentu bukan jalannya. Hal itu jauh bertentangan dengan nuraninya sebagai pemercik (pemangku) agama Hindu.

Oleh karenanya, setidaknya membelalakkan mata sejenak mengenal lebih jauh beliau tak salah. Kenallah maka Anda akan menyayanginya. Seperti pepatah katakana,”Tak kenal maka tak sayang”, tepat kiranya untuk membahasakan kepada orang-orang yang hanya kenal beliau dari “kulitnya” saja.
Semoga kasus hukum yang menjerat beliau, segera tuntas dan beliau kembali bebas seperti sedia kala. Negara hendaknya melihat apa yang sudah dilakukan beliau demi membela negara dengan loyalitas tinggi, hingga keluarga pun sempat terabaikan. Jika nurani sudah tak ada, politisasi hukum pun membabi buta. Semoga Pak Jero Wacik segera bebas tanpa batas. Dunia baru menanti bapak.
  


Thursday, October 13, 2016

Indosat Ooredoo, Membingkai Batik dalam The Beauty of Indonesian Batik


Batik menjadi salah satu kebanggaan adi busana negeri ini. Betapa tidak, dari yang mulanya hanya di pakai oleh segolongan orang tertentu, tetapi kini para pejabat negara pun mengenakannya. Batik menjadi salah satu heritage yang harus terus dipertahankan sampai kapan pun. Indonesia menjadi pusat mata dunia untuk menelaah dan mempelajari ragam budaya, salah satunya dari batik itu tadi.

Batik Motif Cirebon/Bunga. Koleksi Ibu Aang Kunaefi Tahun 1955
Foto: Dok. Pribadi
Keindahan dan keunikan kain batik merupakan salah satu identitas Indonesia yang dikenal di berbagai manca negara. Hal itu didasari dari keindahan tata warna dan motif, nilai-nilai filosofis dan sakral yang tergambar di dalam sehelai kain batik. Menurut kajian etimologi, Kata "batik" berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: "amba", yang bermakna "menulis" dan "titik" yang bermakna "titik".

Batik Koleksi Ibu Aang Kunaefi
Foto: Dok. Pribadi
Kata batik dapat juga diartikan sebagai kain atau busana yang dibuat dengan teknik tertentu, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan dan mengandung makna tertentu. Tetapi pada prinsipnya batik adalah bahan sandang yang dibuat dengan gambar atau motif batik yang dilakukan melalui proses pembuatan dengan menggunakan lilin batik yang menggunakan alat canting atau cap.

Di kancah nasional batik bukan lagi barang baru. Batik menjadi primadona untuk siapa saja yang memakainya. Batik negeri ini mulai diakui oleh lembaga dunia, UNESCO menjadi warisan budaya Indonesia terhitung sejak 2 Oktober 2009. Hal itu tidak lepas dari salah satu peran tangan dingin mantan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata di era SBY, Ir. Jero Wacik, S.E. Jero Waciklah yang membawa dan mengenalkan batik Indonesia kepada mata dunia.

Batik koleksi Ibu Aang Kunaefi motif Indramayu
Foto: Dok. Pribadi
Setiap perhelatan, baik nasional maupun internasional beliau selalu mengenakan warisan tak benda itu kepada para tetamu dari negara-negara sahabat. Darinya pula, mata dunia mulai melirik “lukisan-lukisan” tangan itu. Begitu pula untuk cinderamata antar-kementerian. Beliau selalu memberikan tanda mata berupa batik.

Sejalan dengan hal itu, Indosat Ooredoo, sebagai salah satu provider telekomunikasi ternama di negeri ini memberikan perannya dalam mendukung warisan budaya tak benda itu kepada kolektor, pecinta, dan desainer fesyen berfokus batik, untuk mengenalkan batik kepada seluruh bangsa. Ya, sebagai warisan turun temurun dari nenek moyang bangsa ini, batik tidak saja sebagai busana, tetapi masuk ke dalam ranah yang lebih jauh lagi seabgai simbol identitas bangsa.

Tepat pada 12 Oktober 2016, Indosat Ooredoo menggelar perhelatan megah bertajuk The Beauty of Indonesian Batik. Acara yang dihelat ini sebagai tindak lanjut dari peringatan Hari Batik yang jatuh pada 2 Oktober 2016 lalu. Dalam gelaran tersebut dihadirkan koleksi batik-batik dari pejabat tinggi negara, yaitu koleksi batik Ibu Aang Kunaefi dan koleksi Batik Ibu Ginandjar Kartasasmita. Hal yang tak  dapat dipisahkan juga dari perhelatan itu adalah hadirnya koleksi batik dari guratan tangan desainer batik ternama, Sjully Darsono.

Dalam kesempatan itu pula, Merak Ngibing (The Dancing Peacock) hadir mewarnai pagelaran batik. Merak Ngibing, menjadi salah satu motif batik khas dari priangan. Batik Priangan banyak terinspirasi dari flora dan fauna. Motif merak ngibing punya karakteristik dinamis, cantik, indah dan sedikit genit  dengan warna-warna cerah merona seperti merah jambu, biru, kuning, dan sebagainya melalui perpaduan warna harmonis.
Merak Ngibing (The Dancing Peacock) salah satu motif batik warisan bumi Priangan
Foto: Dok. Pribadi
Merak ngibing menjadi salah satu motif paling indah di tataran batik priangan. Motif batik itu menggambarkan sepasang burung merak saling berhadap-hadapan dengan ekor yang terkembang seperti sedang menari. Nilai kecantikan dan eksotisme burung merak yang menjadi inspirasi motif tersebut. Keindahanya dicoba dituangkan di atas selembar kain batik (baca = mori).
Ada nilai filosofis yang terkandung dalam motif batik merak ngibing (batik priangan) tersebut. Hal itu menggambarkan atau melambangkan keindahan bumi priangan hijau beragam flora serta fauna. Sementara itu, ngibing menjadi simbol adat dan budaya masyarakat priangan yang damai, rukun, serta gembira.  Jadi, motif merak ngibing menggambarkan adat budaya priangan baik alamnya maupun masyarakatnya.
Motif batik Merak Ngibing yang diperagakan oleh Komunitas Batikology
Foto: Dok. Pribadi
Motif batik merak ngibing bukan tidak ada artinya. Hal itu sebagai bentuk representasi dan simbol keindahan bumi Priangan. Itulah sebenarnya yang ingin disampaikan pembatik yang membuatnya. Tujuannya supaya manusia menjaga keindahan, kecantikan, apapun namanya yang dimiliki Priangan juga menjaga keseimbangan antara sang pencipta yang maha tinggi, alam, dan manusia yang diciptakan.
President Director & CEO Indosat Ooredoo, Alexander Rusli mengatakan, “Untuk menunjukkan identitas bangsa Indonesia melalui eksistensi batik di kancah global tidak boleh berhenti sampai di ketetapan UNESCO saja. Kita harus membantu pemerintah untuk terus memperkenalkan batik kebanggaan Indonesia hingga ke seluruh pelosok dunia”.
President Direktur & CEO Indosat Ooredoo, Alexander Rusli
dalam sambutannya di The Beauty of Indonesia Batik. Foto: Dok. Pribadi
Dalam perhelatan The Beauty of Indonesian Batik, Indosat Ooredoo  juga menampilkan karya batik rancangan Sjully Darsono. Rancangannya pun juga akan ditampilkan di acara jamuan diplomatic Kedutaan Besar RI di Praha, Republik Ceko pada akhir Oktober mendatang. Hal yang sangat menarik, fashion show karya Sjully Darsono itu tak hanya dibawakan oleh peragawati-peragawati cantik profesional dari Komunitas Batikology, jajaran manajeman Indosat Ooredoo pun mengambil peran.

Alexander Rusli berharap, dunia harus tahu batik yang tak hanya sebagai busana yang dipakai artis-artis Hollywood saja nantinya, tetapi menjadi simbol identitas kebanggaan bangsa Indonesia.
Inilah salah satu cara Indosat Ooredoo menunjukkan dukungan penuhnya untuk pelestarian batik negeri ini. Dukungan tersebut dimulai Indosat Ooredoo sejak dibuatnya portal www.batikology.org , yaitu portal yang memberikan info-info penting sepuar batik. The Beauty of Indonesia Batik seri ke-3 yang dilangsungkan di Gedung Indosat Ooredoo  kali ini mengangkat keindahan batik dari bumi tatar Sunda-Priangan.


Hadirnya batik-batik negeri ini di kancah dunia akan menambah deret panjang heritage Indonesia lainnya yang membelalakkan mata dunia.  

Sunday, September 18, 2016

Membatik Cantik, Sepenggal Cerita dari Kota Tua


Bang Ahmad memberi contoh cara memegang canting dan menggores ke kain
Foto: Dok. Pribadi
Indonesia boleh bangga punya banyak ragam budaya, suku, bahasa, juga seni tradisional yang sudah mendunia. Kerajinan yang satu ini tak hanya menjadi magnet di negeri sendiri, tetapi telah melanglang buana melintas benua.
Gaya rambut Bang Ahmad menjadi ciri khasnya
Foto: Dok. Pribadi
Dari kejauhan terlihat sosok pria berperawakan tinggi sedang, berbaju kemeja merah dengan selendang batik terikat di leher, menggunakan bawahan berkain batik pula. Tak kalah menariknya adalah rambutnya seperti sengaja diberi warna keemasan. Mungkin menurut saya sebagai daya tarik atau ciri ketika orang akan menjumpai dirinya.

Saya dan Ibu-Ibu Cantik belajar batik
Foto: Dok. Pribadi
Ya, hari ini, Minggu (18/09/2016) saya diundang langsung oleh Muhammad Sartono, biasa disapa dan dikenal dengan panggilan Bang Ahmad untuk sekadar makan siang di salah satu Kafe di bilangan Kota Tua, Batavia Market tepatnya. Bang Ahmad merupakan Duta Budaya DKI Jakarta yang sudah dilakoni sejak tahun 2000. Dirinya sangat mencintai seni, sejarah, dan juga budaya Indonesia sejak di bangku SMA, tepatnya di SMA 28 Jakarta pada 1982. Dirinya pun aktif dalam beragam kegiatan Budaya di DKI Jakarta. Menjadi relawan Museum Tekstil sejak tahun 2011.

Batavia Market Cafe, Kota Tua,
 tempat kami belajar batik
Foto: Dok. Pribadi
Sejak tahun 2014, Abang Ahmad beroleh sertifikat atau lisensi resmi dari Dinas Pariwisata dan Kebudayan DKI Jakarta untuk Kepemanduan sebagai Senior Guide. Tak heran, dirinya banyak didapuk untuk menghela acara-acara yang berbau kebudayaan, tekstil, juga batik. Dirinya sering membawa tamu-tamu dari luar negeri berkeliling daerah di Indonesia yang ingin mengenal ragam budaya Indonesia, baik tekstil maupun batik.
Tak hanya Ibu, sang anak pun tertarik membatik
Foto: Dok. Pribadi
Selain sebagai pemandu senior, Bang Ahmad berkegiatan membuka workshop membatik. Workshop membatik ditekuniya sejak tahun 2012. Kegiatan tersebut didukung dan difasilitasi penuh oleh Museum Bank Mandiri danLWG DMO Kota Tua melalui bendera Sahabat Budaya Indonesia yang didirikannya pada 5 Oktober 2010.
Batik cantik Ibu Lintang
Foto: Dok. Pribadi
Bicara batik, dirinya sangat fasih menjelaskan. Mulai dari cara-cara membatik yang baik dan benar, hingga jenis-jenis batik dari berbagai daerah. Pada kesempatan itu, saya datang tak sekadar sebagai tamu undangan saja. Akan tetapi, saya diperkenankan ikut membatik bersama  ibu-ibu over sixty lintas komunitas dalam keriangan dan penuh kehangatan. Sempat terekam dalam ingatan saya saat bertanya kepada seorang Ibu Koordinator, Ibu Dannie, bahwa ibu-ibu tersebut kumpulan dari beragam komunitas salah satunya Lintang (Lintas Angkatan LPK Tarakanita).
Mereka tetap bersemangat membatik, usai bukan penghalang
Foto: Dok. Pribadi
Di sini, para Oma-oma diajarkan cara membatik oleh Bang Ahmad. “Ibu-Ibu sekalian, untuk membatik diperlukan malam, canting, dan kain. Nah, malam yang dimasukkan ke dalam canting dari wajan harus benar-benar diperhatikan dan hangat. Canting sebelum digoreskan ke kain, di tes garis terlebih dahulu di atas kertas agar malam keluar”, begitulah ucapan Bang Ahmad yang sangat antusias kepada ibu-ibu yang ingin belajar batik.
Ketekunan, ketelitian, dan kesabaran
hal itu yang diperlukan dalam membatik
Foto: Dok. Pribadi
Selanjutnya Bang  Ahmad mempraktikan cara menggoreskan canting yang berisi malam ke kain yang sudah dibentuk pola. Satu per satu ibu-ibu dan saya mulai mengikuti petunjuk Bang Ahmad. Awalnya, semua menemui kesulitan untuk menggoreskan canting ke atas kain yang sudah digambar. Ada beberapa yang tremor saat menggoreskan di atas kain. Tetapi, tak sedikit pula yang berhasil.
Bahkan, ada pula malam dalam canting yang mbleber (Jawa = kececeran) di atas kain yang sudah digores. Akan tetapi, Bang Ahmad dengan sigap memberikan semangat. “Jika malam dalam canting kececeran, ibu-ibu tak perlu khawatir. Buat titik-titik atau pola yang sama dengan tumpahan malam tadi”, jelas Bang Ahmad memberi semangat.

Peralatan membatik
Malam (berwarna cokelat kehitaman) dan canting
untuk menggoreskan malam di atas kain
Foto: Dok. Pribadi
Semangat para ibu-ibu tak dapat dibendung. Meski over sixty, tetapi indra penglihatan mereka masih tajam dan sangat fokus. Rata-rata menghasilkan karya batik yang sangat indah dari hasil kriya tangan sendiri.

Ya, tentunya siapa orang Indonesia yang tak kenal batik? Tak perlu dijawab pun orang pasti bilang, tahu! Indonesia mematenkan batik menjadi hak milik negeri ini sudah diakui dunia sejak tahun 2009 oleh UNESCO. Saat itu, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dipegang oleh Bapak Jero Wacik. Di bawah kepemimpinan dan perjuangan Jero Waciklah kebudayaan Indonesia mendapat tempat dan diakui oleh dunia. Batik Indonesia sempat diklaim oleh negara tetangga yang “mengaku” sebagai warisan leluhurnya.

Asal Kata Batik
Tahukah kita dari mana asal kata batik itu muncul? Batik bermula dari bahasa Jawa, yaitu amba yang berarti menulis dan titik, berupa titik-titik. Selanjutnya terjadi pengucapan kata, seperti ambatitik-ambatik-mbatik-batik. Tepat sekali, semula batik dibuat secara konvensional melalui tulisan tangan. Dikenallah dengan nama batik tulis.

Nah, yang ibu-ibu kerjakan pada workshop Bang Ahmad adalah batik tulis. Batik tulis, sebagaimana Bang Ahmad jelaskan, untuk menyelesaikan kain yang panjangnya dua meter, perlu waktu satu bulan. Wajar saja jika harga sehelai batik tulis dapat mencapai ratusan ribu bahkan jutaan rupiah. Karena proses yang lama dan hasilnya sangat menakjubkan.

Di zaman kerajaan dulu batik memang sudah dikenal, terutama di zaman kerajaan Majapahit. Anda dapat mengetahui jejak peninggalan batik tersebut di sekitar Mojokerto dan Tulungagung. Di zaman kerajaan Majapahit, Mojokerto diketahui sebagai ibu kota kerajaan. Sementara Tulungagung, dahulunya bernama Bonorowo (sekitaran daerah tersebut di kelilingi oleh rawa) dipimpin oleh Adipati Kalang.
Diceritakan dalam kisah kerajaan, dia tak mau tunduk terhadap Majapahit hingga tewas dibunuh. Mulai dari situ, perajin batik dari Majapahit mengenalkan seni batik di Bonorowo yang sekarang bernama Tulungagung.

Sebagai warisan budaya Indonesia yang sudah diakui di dunia internasional, batik dapat dipakai dalam beragam kesempatan, baik formal maupun nonformal. Lihat saja sekarang, di kantor-kantor, baik pemerintah maupun swasta menetapkan di akhir pekan (Jumat) meminta pekerjanya memakai batik. Bisa saja hari Jumat ditetapkan sebagai hari batik di seluruh kantor-kantor di Indonesia.

Tak hanya di kantoran, batik pun merambah dunia fesyen kita. Banyak perancang busana ternama tanah air  memadupadankan rancangannya dengan bahan dasar batik. Kreativitas tingkat tinggi itu perlu mendapat apresiasi. Proses pembuatan batik pun tak dapat dianggap remeh.

Cara Membuat Batik
Batik terbuat dari kapas yang dipintal menjadi benang-kain disebut kain mori. Zaman pun semakin berkembang, tak hanya kain mori saja, tetapi merambah ke bahan lain seperti sutera, poliester, rayon, dan bahan sintetis lainnya.
Hasil coretan batik yang saya buat
Foto: Dok. Pribadi
Motif-motif batik dibuat dari cairan lilin memakai alat yang biasa disebut canting. Canting digunakan untuk membuat motif halus, sedangkan alat lain semisal kuas dipakai untuk motif ukuran besar, sehingga cairan lilin masuk dan bertahan lama di dalam kain.

Selanjutnya, kain yang sudah ditulisi atau dilukis dengan lilin tersebut di celup ke dalam warna sesuai keinginan. Tentunya diawali dengan warna-warna muda. Lantas, pencelupan yang lain digunakan untuk warna-warna yang lebih tua atau mendekati gelap. Ada beberapa kali proses perwarnaan. Kain yang sudah dibatik lalu dicelup ke dalam bahan kimia atau direbus untuk menanggalkan lilin yang masih melekat.

Trendi Batik
Sekarang, batik dapat dikolaborasi dengan beragam bahan. Mulai dari celana bahan, jeans, rok, juga laggging. Lihat saja tren mode beberapa bulan ke belakang. Desainer fesyen berlomba menciptakan kreativitas tingkat tinggi untuk menghadirkan cita rasa batik dalam nuansa balutan.
Batik-batik karya peserta workshop batik Bang Ahmad
Foto: Dok Pribadi
Proses penciptaan dari olahan tangan-tangan terampil itu muncul beragam mode padupadan baju. Selain itu, dari tangan-tangan cekatan itu pula muncul beragam hasil karya seni bernilai tinggi lainnya.

Jenis Batik
Ada begitu bayak jenis batik yang dikenal di masyarakat kita. Akan tetapi dari teknik pembuatannya dapat terbagi menjadi:

Batik Tulis
Di batik jenis ini, tekstur dan corak batik dihias memakai tangan. Batik tersebut dibuat perlu waktu 2 hingga 3 bulan lebih.

Batik Cap
Kain dihias berupa tekstur dan corak yang dibentuk menggunakan cap (cap biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan tak selama batik tulis, hanya butuh waktu 2 hingga 3 hari saja.

Batik Lukis
Proses pembuatan batik ini langsung melukis di kain putih.

Mencuci Batik
Batik tak boleh dicuci sembarangan. Jika batik salah cuci, itu akan menyebabkan warna batik menjadi pudar. Batik-batik yang bagus biasanya dicuci menggunakan buah lerak yang dapat diperoleh di pasar tradisional.

Sabun bubuk dalam bentuk botol juga dapat di peroleh di toko-toko batik. Hindari menjemur batik langsung di bawah sinar matahari. Akan tetapi jemur di tempat sejuk sembari diangin-anginkan.
Workshop membatik bersama Bang Ahmad dan Ibu-Ibu lintas komunitas tak terasa sudah berakhir. Banyak hasil-hasil karya batik Ibu-Ibu tersebut yang menakjubkan. Batik, juga ternyata mampu menguji kesabaran, ketekunan, dan ketelitian seseorang.
Peserta foto bersama sesaat sebelum workshop batik Bang Ahmad berakhir
Foto: Dok. Pribadi

Semoga, salah satu warisan terbesar bangsa ini tak hanya sebatas warisan. Tetapi, tetap terus dipertahankan hingga generasi mendatang. 

Sunday, August 28, 2016

Wignyo Rahadi, Membingkai Jacquard dalam Motif

Workshop Tenun Wignyo Rahadi, Cikole Sukabumi
 Foto: Dok. Pribadi
Kalau dalam makanan ada istilah Haute Cuisine, tak kalah dengan itu, dalam busana atau kain pun juga ada, yaitu Haute Couture. Haute Couture sebagai istilah kebalikan dari ready to wear. Jadi, Haute Couture sebagai satu istilah high dress makingKata tersebut sering dipakai  dalam menjelaskan bagian custom made yang memang secara spesifik dibuat oleh seorang desainer yang diberikan untuk klien yang meminta secara khusus. Kain atau baju haute couture yang dibuat oleh seorang desainer dibuat berdasarkan permintaan atau pesanan sesuai ukuran klien yang memesannya.
Proses pewarnaan benang. Foto: Dok. Pribadi

Seiring dengan perkembangan busana dan kain di negeri  ini, pada satu kesempatan dalam rangkaian acara ASEAN Traditional Textile Weaving Togetherness yang sudah berlangsung pada 24-25 Agustus 2016 lalu, salah satu agenda yang telah dirancang adalah berkunjung ke pusat tenun yang berada di Cikole, Sukabumi. Tenun Gaya namanya. Ya, pemilik tenun tak lain Wignyo Rahadi.

Saya, Mba Astri Damayanti (Founder Kriya Indonesia yang banyak melakukan riset ke berbagai wilayah Indonesia demi untuk melestarikan dan membuat buku mengenai beragam kerajinan Indonesia), Mba Diah Woro, Mba Nisa, Mba Fika (masing-masing mereka memang  penyuka tenun dan kain), serta Mba Lita (pecinta tenun dan juga petualang tenun yang sudah berpetualang ke daerah-daerah demi tenun, salah satunya NTT), berkesempatan menikmati indahnya kain tenun milik Mas Wignyo. Sungguh menakjubkan saat melihat keindahan kain-kain tenun di pusat tenun Mas Wignyo miliki itu

Menggulung benang, butuh kesabaran. Foto: Dok.Pribadi

Tetapi saya tak hanya berlima teman, kami bersama rombongan dari delegasi ASEAN yang terdiri dari Ubon Ratchathani University Thailand, Academy of Malay Studies University of Malaysia, University of Arts and Culture, Peranakan Museum Singapore, Research from South Borneo Museum, dan Perwakilan Baduy Luar yang memiliki ketertarikan pada tenun di negeri ini. Selain dari delegasi ASEAN, ikut serta pula dalam kunjungan tersebut pengelola Museum Tekstil (Mis Ari) dan Sahabat Budaya/Kain Indonesia.
Banyak orang yang dulu kuliah mengambil jurusan apa, dan bekerja di bidang tidak sejalan dengan yang dinginkan. Wignyo Rahadi sebagai salah satu contoh dari sekian banyak orang tersebut. Sebenarnyalah, pada masanya, Wignyo sangat tertarik dalam dunia seni. Akan tetapi, dia sering berbeda pendapat dengan orang tuanya. Demi untuk memuaskan keinginan mereka, Wignyo memutuskan untuk menyenangkan keduanya dan mengambil kuliah di jurusan  ekonomi.
 
Proses penggulungan benang dalam gelondong. Foto: Dok. Pribadi
Begitu ironisnya kehidupan, saat dirinya bekerja menjabat  jabatan rangkap, sebagai seorang manajer keuangan sekaligus sebagai  pemasaran di perusahaan Salim Group. Tahun 1995, Salim Group membuka lini anak perusahaan bidang pembuatan benang sutra bernama PT Indo Jado Sutra Pratama yang berada di Sukabumi.

Hal baru itu memberi tantangan tersendiri untuk dirinya. Justru hal itu menarik kembali minatnya untuk mengetahui seluk-beluk benang sutra. Dari yang mulanya sebagai audit keuangan, dirinya harus menghadapi perkebunan murbei, ternak ulat sutera, juga industri pengolahan benang sutra itu sendiri.

Benang siap ditenun. Foto: Dok. Pribadi

Friday, August 19, 2016

Achmad Soebardjo, Peran Ide dalam Perjuangan Kemerdekaan

Rumah Achmad Soebardjo
Jalan Cikini Raya No. 82 Jakarta Pusat
Foto: Dok. Pribadi
Ketika kaki saya menapak ke salah satu rumah di Jalan Cikini Raya No. 82 pada Jumat, 19 Agustus 2016, tampak terlihat beberapa tenda berwarna putih dan keramaian mulai terjadi. Rumah, berdasarkan penglihatan  dan tanya saya ke beberapa orang yang berada di sana sebagai rumah tua peninggalan Belanda.
Kamar yang dipakai oleh Achmad Soebardjo
Foto: Dok. Pribadi
Benar saja,  dilihat dari  plafon  yang tinggi dan bentuk bangunan ala kolonial, dengan semen yang masih kokoh hingga sekarang. Hanya di beberapa bagian di “dempul” ulang sehingga terlihat bersih dengan nuansa warna   putih.
Foto keluarga Achmad Soebardjo
Foto: Dok. Pribadi
Ya, rumah yang saya sambangi pagi itu adalah rumah mantan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia untuk pertama kalinya  pada saat republik ini terbentuk, Achmad Soebardjo. Achmad Soebardjo, atau biasa disapa Soebardjo memiliki arti cemerlang atau bercahaya.
Itulah arti kata dari nama yang diberikan oleh Raden Mas Said, Bupati Blora ketika salah satu tokoh nasional negeri ini lahir. 

Salah satu sisi kamar dan foto Achmad Soebardjo
Foto: Dok. Pribadi
Apa yang dikatakan Raden Mas Said itu menjadi kenyataan. Achmad Soebardjo, sebagai wartawan, salah satu tokoh proklamasi, menteri luar negeri, juga pernah menjabat sebagai duta besar. Semua jabatan itu dia jalani dengan kecemerlangan dan sukses.

Achmad Soebardjo, sesuai dengan arti namanya, Cemerlang
Foto: Dok. Pribadi
Sebagai napak tilas lahirnya Kementerian Luar Negeri  negara ini, Menteri Luar Negeri Retno L.P. Marsudi sengaja mengambil tempat perhelatan di rumah tersebut. Perhelatan itu mengundang kerabat Achmad Soebardjo (anak-anak), mantan-mantan menteri luar negeri yang pernah menjabat di negeri ini. Hal ini dilakukan untuk mengingat kembali perjuangan Achmad Soebardjo dalam merealisasikan lahirnya kementerian luar negeri atas perintah Presiden Soekarno kala itu.
Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi dalam sambutannya
pada Napak Tilas Kemlu di kediaman Achamd Soebardjo (alm)
Foto: Dok. Pribadi
Achmad Soebardjo diminta langsung oleh Presiden Soekarno sebagai menteri luar negeri. Soebardjo bingung, mengapa? Karena, dia tidak punya tempat untuk ngantor, sementara urusan luar negeri negara ini terus berjalan dan meminta dirinya untuk bergerak cepat.
Soebardjo terlahir dari pasangan Teuku Muhammad Yusuf yang masih berdarah bangsawan Aceh,Pidie-Wardinah, keturuan Jawa-Bugis. Kakek dari ayah merupakan Ulee Balang dan ulama di daerah Lueng Putu, sementara Teuku Yusuf sebagai pegawai pemerintah menduduki posisi Mantris di daerah Teluk Jambe, Karawang. Ibu Seobardjo adalah anak Camat di daerah Telukagung, Cirebon.
Ruang baca Achmad Soebardjo
Foto: Dok. Pribadi
Teuku Abdul Manaf merupakan pemberian nama awal oleh ayahnya untuk Soebardjo. Sementara itu, ibunya memberi nama Achmad Soebardjo. Sedangkan Djojoadisoerjo ditambahkan sendiri setelah dewasa ketika dirinya ditahan di penjara Ponorogo karena peristiwa 3 Juli 1946.
Mantan Menteri Luar Negeri era SBY, Marty Natalegawa
 hadir dalam Napak Tilas Kemlu di kediamanAchmad Soebardjo (alm)
Foto: Dok. Pribadi
Menempuh  pendidikan di Hogere Burger School, Jakarta (saat ini setara dengan Sekolah Menengah Atas) pada tahun 1917. Lantas melanjutkan pendidikan di Universitas Leiden, Belanda dan memperoleh ijazah Meester in de Rechten (saat ini setara dengan Sarjana Hukum) di bidang undang-undang pada tahun 1933.
Salah seorang anak Achmad Soebardjo
menyampaikan sambutannya
Foto: Dok. Pribadi
Ahmad Soebardjo kembali ke Hindia Belanda dan terus memegang idealism  yang bersikap tidak ingin bekerja sama dengan pemerintah kolonial, sehingga ia menolak bekerja untuk kepentingan Belanda. Beliau kemudian bekerja sebagai pembantu di Kantor Hukum yang berada di Semarang.

Setelah di Semarang, beliau pindah kerja ke Surabaya sebagai ahli hukum junior di salah satu usaha hukum yang dipimpin oleh salah satu tokoh pergerakan nasional lainnya, yaitu Mr. Iskaq Tjokrohadisuryo. Ketika berada di Surabaya, kondisi pergerakan nasional di Hindia Belanda sedang mengalami tekanan berat akibat kebijakan represif  Gubernur Jenderal Mr. P.C. de Jonghe.

 Akibat kebijakan tersebut, setiap mahasiswa yang baru pulang dari Belanda langsung diawasi oleh Pemerintah, sehingga menyulitkan mereka dalam menyampaikan aspirasi dan melakukan konsolidasi memperkuat pergerakan. Hal itu  juga terjadi pada diri Achmad Soebardjo, sehingga dirinya hanya fokus pada pekerjaan sebagai pengacara, dan memperdalam pengetahuaan  di bidang organisasi politik dan politik internasional, serta terus melanjutkan aktivitas jurnalistiknya.

Menjadi politikus, pejuang, dan intelektual, dirinya sering bermain-main dengan ide. Ide itu dapat membuat segala sesuatu jadi berubah, dapat membuat sejarah baru maupun mengubah karakter manusia. Pada suatu kesempatan dirinya menyampaikan pidato di Gedung Kebangkitan Nasional Jakarta tahun 1974. Lantas, dari pidato itu dibuatlah buku berjudul Peranan Ide-Ide dalam Gerakan Kemerdekaan Indonesia”. Menurutnya, ide itu penting untuk memperjuangkan kemerdekaan negara ini.

Pada halaman 6 buku tersebut beliau menuliskan kalimat, “Saya berpendapat bahwa ide-ide merupakan unsur terpenting dalam perkembangan dan kemajuan sejarah dunia, termasuk sejarah kemerdekaan Indonesia. Tapi bukan sembarangan ide dapat menggerakkan manusia untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi negara dan masyarakat. Hanya ide-ide yang mengandung kebenaran dan keadilan dapat menyentuh jiwa manusia yang dapat merasakannya”.

Negara ini pun hadir berasal dari ide sebagai dasar juga penyangga. Kepercayaan dirinya mengenai ide menjadikannya yakin bahwa, memahami sejarah tidak cukup tanpa mengerti dan menghayati ide dan nilai yang mengelilinya. Ide, untuk dirinya sebagai dopping untuk terus membebaskan negeri ini dari kolonial.

Semasa menjadi mahasiswa, Achmad Soebardjo aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan bergabung di organisasi kepemudaan seperti Jong Java dan Perkumpulan Mahasiswa Indonesia di Belanda. Ia merupakan anggota delegasi Indonesia pada Kongres Anti Imperialis di Belgia dan Jerman. Sekembalinya ke Indonesia, aktif menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Setelah Indonesia merdeka pada  17 Agustus 1945, Achmad Soebardjo diangkat menjadi Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Presidensial periode 19 Agustus 1945 -14 November 1945 dan kembali menjabat Menteri Luar Negeri pada Kabinet Sukiman-Suwirjo periode 1951-1952. Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Republik Federal Swiss periode 1957-1961.

Dalam bidang pendidikan, dirinya memperoleh gelar Profesor di bidang sejarah Konstitusi dan Diplomasi Indonesia dari Fakultas Sastra, Univeritas Indonesia.
Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo meninggal dunia pada 15 Desember 1978 di usia 82 tahun di Rumah Sakit Pertamina, Kebayoran Baru, akibat komplikasi. Dirinya dimakamkan di rumah peristirahatannya di Cipayung, Bogor. Pemerintah menganugerahi almarhum sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2009 melalui Keppres No. 58/TK/2009. [Diolah dari berbagai sumber]

Nur Astri Damayanti, Menggairahkan Kriya Indonesia Melalui Cardigan

Museum Tekstil Indonesia. Foto: Dok. Pribadi
Indonesia, negeri yang kaya dengan beragam budaya, suku bangsa, juga kuliner. Sepertinya, tidak hanya itu. Apabila kita melirik ke arah Utara Jawa, tepatnya Jepara, banyak bertebaran ukiran dengan berbagai motif. Ya, ukiran Jepara namanya. Ukiran tersebut sudah terkenal hingga mancanegara. Tak hanya ukiran Jepara. Bali pun memiliki ukiran yang khas pula.
Sisi belakang Musem Tekstil. Foto: Dok. Pribadi
Apalagi dengan busana, banyak perancang-perancang busana Indonesia bergema hingga mendunia. Merancang dan menjahit baju merupakan salah satu kriya atau pekerjaan (kerajinan) tangan. Hari ini, tepatnya Kamis, 18 Agustus 2016, saya diundang langsung oleh Founder Kriya Indonesia, Nur Astri Damayanti untuk mengikuti workshop menjahit cardigan untuk pemula.
Peserta Workshop menjahit cardigan untuk pemula di Museum Tekstil
Foto: Dok. Pribadi
Sembari tertawa terkekeh-kekeh, saya jejingkrakkan. Kenapa? Karena setelah sekitar 22 tahun tidak memegang mesin jahit, akhirnya saya kembali memegang dan akan menggunakan kembali. Nah, yang menariknya lagi adalah ini kali pertama saya menjahit bahan cardigan.  Saya sempat browsing model-model cardigan di internet. Banyak model yang sangat cantik bila dipadupadan dengan baju yang ingin kita kenakan.

Founder Kriya Indonesia, Nur Astri Damayanti
memberikan sambutannya dalam Workshop
Menjahit Cardigan untuk Pemula
Foto: Dok. Pribadi
Sebelum workshop berlanjut, Founder Kriya Indonesia memberikan sambutannya. Astri Damayanti mengatakan, “Workshop ini workshop yang simpel dan mudah, yaitu menjahit cardigan untuk pemula. Jika kita ingin menjahit yang benar-benar menjahit, itu butuh waktu lama.” Astri  juga menyampaikan mengenai mesin yang akan digunakan untuk menjahit cardigan tersebut, yaitu mesin jahit dengan merek Brother.
Prof. Dr. Hj. Sylviana Murni, Deputi Gubernur
Bidang Pariwisata dan Kebudayaan
Menyampaikan sambutan
Foto: Dok. Pribadi
Kemudian dilanjutkan dengan kata sambutan dari Deputi Gubernur Bidang Pariwisata dan Kebudayaan, Prof. Dr. Hj. Sylviana Murni, Beliau sangat mengapresiasi acara Workshop ini. Dengan  acara ini, roda perekonomian terus bergerak dan museum tekstil, yang menjadi tempat penyelenggaraan workshop akan semakin ramai dengan aktivitas yang ada.
Mesin Jahit BROTHER
Foto: Dok. Pribadi
Bicara mesin jahit Brother, menurut pihak Brother ada tiga tipe mesin jahit tersebut, yaitu 1) tipe pedal. Tipe pedal ini boleh dibilang tipe manual. Penjahit menggunakan kaki untuk menjalankan mesin. 2) Tipe electrical. Tipe ini, mesin dihubungkan dengan arus listrik dan kaki menginjak pedal sehingga mesin dapat dijalankan. 3) Tipe computerize. Tipe ini, mesin diatur secara otomatis melalui perintah-perintah komputer, biasa untuk mesin border skala besar.
Mesin Jahit BROTHER tipe GS 2700
Foto: Dok. Pribadi
Mesin jahit Brother memiliki beberapa tipe. Pada kesempatan ini, peserta workshop diperkenalkan dengan mesin jahit Brother Tipe GS 2700. Nah, kenapa tipe ini? Tipe ini adalah mesin jahit dengan predikat best seller di kelasnya. Mesin jahit ini memiliki 27 jenis jahitan, dapat membuat hanya satu langkah membuat lubang kancing, terdapat lampu LED di dalam mesin yang dapat membantu penjahit saat mengerjakan jahitan di malam hari.  
27 Jenis jahitan dari mesin jahit BROTHER tipe GS 2700
Foto: Dok. Pribadi
Hal yang mengasyikan menggunakan mesin jenis ini adalah mampu menjahit secara lurus, zig zag, dan satin. Ada juga tombol yang dapat diatur untuk mengetahui panjang dan lebar jahitan. Maksimal lebar jahitan sekitar 5 mm dengan panjang jahitan hingga 4 mm. Sekoci dapat diatur secara mudah dan cepat. Sementara itu, rangka mesin dibuat dari bahan metal. Watt listrik tidak besar, hanya 51 Watt dengan dimensi mesin 450 (P) x 200 (L) x 380 (T). Menurut saya canggih dan mengasyikan.
Selang beberapa waktu, pengajar Adi Busana Indonesia, Ibu Hj. Tati Murtati, S.Pd., M.Pd,  bersama Mba Astri Damayanti mulai menginstruksikan untuk mengambil cardigan yang sudah diberikan kepada peserta. Mereka berdua mulai memberitahukan bagaimana melipat cardigan untuk dibuat model  dalam bahasa saya, “sayap batman”.
Bersama Pengajar Adi Busana Indonesia, Hj. Tati Murtati, S.Pd., M.Pd.
Foto: Dok. Pribadi
Peserta diberikan pola untuk dibentuk di cardigan yang sudah diberikan. Semua semangat saat membentuk pola. Menusukkan jarum pentul ke dalam pola dan mengukur jarak ukur jahit dengan memberi tanda menggunakan pulpen. Setelah itu menggunting bahan, lantas me-rader bahan dengan menggunakan kertas karbon. Tak terlihat stress di wajah. Semua peserta sangat terhibur. Menggunting pola perlu kehati-hatian agar bahan tidak mubazir dan bagian lain tidak tergunting sia-sia.
Mebentuk pola
Foto: Dok. Pribadi
Setelah pola cardigan dibentuk, begitu pula dengan bentuk  pita, satu per satu bahan dijahit. Tentunya dijahit dengan menggunakan mesin jahit Brother. Suara mesin ini menurut saya cukup halus dan tidak berisik. Untuk pengoperasiannya bagi pemula, menurut saya sangat mudah. Tidak perlu waktu berjam-jam untuk menaklukakn mesin jahit Brother tipe GS 2700 ini. Asal diperhatikan dengan saksama semua bisa.

Memotong pola. Foto: Dok. Pribadi
Sementara itu, untuk menjahit cardigan menurut saya, hanya butuh 3T: Teliti, Telaten, dan Tekun. Dengan tiga “T” itu tadi, kita akan mendapatkan hasil maksimal. Dilihat dari sisi jahitan terlihat rapi, teratur, dan cantik.  Pada saat dikenakan pas di badan. Pita aksesori yang diikatkan di bagian depan dada pun terlihat cantik dan indah.
Menjahit pola
Foto: Dok. Pribadi
Tak perlu waktu lama untuk menjahit cardigan tersebut. Tangan-tangan terampil denga suara mesin jahit yang saling bersahutan meriuh-rendahkan Museum Tekstil Indonesia di Jalan K.S. Tubun I Tanah Abang tersebut.

Peserta Workshop menjahit pola. Foto: Dok. Pribadi
Ya, menjahit bukan monopoli pekerjaan wanita, pria juga bisa. Menjahit sebenarnya sudah dilakukan oleh pria sejak dahulu. Sekarang pun masih tetap berlanjut. Tampil gaya pun tak hanya milik wanita, pria juga bisa melakukannya.

Cardigan, banyak orang menyebutnya dengan nama sweater. Jaket militer berlengan panjang dari rajutan wol dengan trim buu atau braid, serta berpenutup depan memakai kancing atau zip. Jaket itu sering dipakai perwira tentara Inggris selama perang Crimena dan namanya diambil dari Earl of Cardigan VII. Pada abad ke-20, modelnya tanpa kerah dan diadaptasikan untuk pakaian olahraga santai.

Cardigan menjadi pakaian populer untuk wanita juga pria yang ingin tampil trendi dalam balutan baik rajut maupun polos. Pabrik pakaian rajut memproduksinya dengan beragam variasi model menggunakan bahan wol atau wol campuran, dilengkapi dengan kancing berlengan panjang.
Channel ikut memomulerkan cardigan selama tahun 1920 dan 1930-an dengan busana two piece yang terdiri atas jaket cardigan, sweater, dan rok. Pada 1950-an, selama beberapa waktu muncul mode pemakaian cardigan secara terbalik, yaitu letak kancing bukaan tidak di depan, melainkan di belakang.

Kini, cardigan mengalami perkembangan sangat pesat. Beragam model hadir mengikuti perkembangan zaman dengan kualitas sangat baik. Pria, khususnya dapat menunjukkan pesonanya melalui cardigan.  Ada banyak model yang hadir di tengah-tengah kencangnya busana luar. Model kancing depan tiga, model kerah huruf “V”, kancing depan rajutan, juga kancing yang ada di bagian belakang.

Untuk pria yang bekerja dan ingin tampil lebih fresh, boleh mencobanya. Sesekali tak salah kalau ke kantor mengenakan sesuatu lain dari yang lain. Selain menyenangkan diri  sendiri, bisa jadi orang-orang di sekitar ikut “tertular” hal-hal baik dari diri kita.
Hasil jahitan cardigan denga menggunakan
mesin jahit BROTHER tipe GS2700
Foto: Dok. Pribadi
Waktu menjahit cardigan tak terasa. Cardigan yang saya jahit selesai sudah meski belum 100 % sempurna.  Mungkin selanjutnya, dengan mesin jahit Brother GS 2700, dukungan Founder Kriya Indonesia-Mba Astri Damayanti, pengajar Adi Busana Ibu Hj. Tati Murtati, S.Pd., M.Pd., dan Museum Tekstil Indonesia, dapat menghasilkan lagi cardigan-cardigan lain yang lebih berwarna.

Astri Damayanti dan Puspa Swara memberikan pencerahan baru dalam dunia jahit-menjahit untuk pemula. Jika selama ini di benak kita membayangkan menjahit itu sulit dan perlu waktu lama, tetapi  kenyataannya tidak. Terima kasih Founder Kriya Indonesia, Pengajar Adi Busana, Museum Tekstil, dan Mesin Jahit terkenal ini, Brother!  
Menjahit  untuk Pemula
bersama Puspa Swara, Brother, Kartini Blue Bird, dan Museum Tekstil
Foto: Dok. Astri Damayanti