Sunday, July 16, 2017

Blogging: Membingkai Hobi Jadi Profesi


Apakah blog Anda mencatat seluruh aktivitas yang Anda lakukan? Memberikan ragam cerita tentang isu yang terjadi? Mungkin pula mengungkap produk fashion terbaru yang Anda bagikan untuk dunia atau lingkungan sekitar? Ya, blogging dapat menjadi salah satu hobi, membangun citra diri (branding), atau Anda ingin meletakkan seluruh resume Anda sehingga memperoleh pekerjaan sesuai dengan yang Anda harapkan.

Sesaat sebelum acara Blogging: Hobi dan Profesi dibuka oleh MC
Foto: Dok. Pribadi
Hari ini, Minggu (16/07/2017), saya berkesempatan mengikuti workshop mengenai blogging yang tak puas saya gali. Bertempat di Gedung Republika Jalan Warung Buncit, Jakarta Selatan. Kegiatan ini sebagai kolaborasi antara RepZoneID dengan Indonesian Social Blogpreneur yang didirikan oleh Ani Berta. Ani Berta yang pada kesempatan itu juga hadir sebagai pemateri.

Tetapi, sebelum acara dimulai, MC dari RepZoneID, Rei Saputro membuka acara, memperkenalkan siapa RepZoneID dan yang menggawanginya, berikut pemateri yang akan memberikan materi di hadapan sekitar 60 orang peserta. Selain itu, untuk melemaskan syaraf-syaraf otak terlebih dahulu, Rei melakukan ice breaking berupa permainan. Permainan yang dilakukan cukup unik dan lucu yang dilakukan secara berpasangan. Salah seorang meletakkan ujung jarinya di telapak tangan pasangannya, dan pasangan lainnya meletakkan ujung jarinya di telapak tangan pasangannya. Jadi, bersilangan.  Game itu diberi nama “Zena-Zeni”. Semua peserta dibuat terkekeh kekeh karena game itu tadi.

Selang beberapa menit kemudian setelah game (ice breaking) usai, MC kembali memperkenalkan Ketua Pelaksana acara Blogging RepZoneID x ISB, yaitu Mas Said. Mas Said membeberkan mengenai RepZoneID kepada peserta sebagai perkenalan awal. Berdasarkan penuturannya, “RepZoneID itu merupakan bentukan dari kelas sosial media Republika pada bulan November 2016. Republika membuat satu kegiatan dengan membentuk kelas sosmed yang dilakukan lebih kurang enam bulan. Dari kelas sosmed itu, mereka belajar tentang twitter, facebook, instagram, re-arrange promosi, iklan di facebook, dan sebagainya”. Ditambahkannya pula siapapun dapat bergabung menjadi anggota RepZoneID dengan menghubungi Mba Rahmi atau Mba Nadin.

Ani Berta, sebagai pembicara di Blogging: Hobi dan Profesi
Foto: Dok. Nely
Nah, akhirnya tiba pada sesi yang memang sudah saya tunggu, yaitu blogging. Dalam paparannya Ani Berta sampaikan, apa sebenarnya pengertian dari blog itu sendiri. Saya mendengarkan penuturan yang disampaikannya dan juga buat perbandingan dari sumber-sumber lain, hingga akhirnya memperoleh satu kesimpulan.  Blog atau bisa disingkat dengan web blog sebagai bentuk aplikasi web. Isinya berupa tulisan yang di-posting seseorang pada satu halaman web yang dimilikinya. Tulisan itu dimuat dalam susunan yang terbaru terlebih dahulu, biasanya yang lama sudah jauh ke bawah. Akan tetapi, tidak semua susunan blog seperti itu. Ada pula yang sebaliknya.

Blog ini sebelumnya sudah populer di Amerika pada 1994 yang dikenalkan oleh Justin Hall. Sementara, di Indonesia, baru mulai populer sekitar tahun 2004. Berdasarkan pengalaman Ani Berta, dirinya sempat menyampaikan bahwa, dia mulai ngeblog tahun 2008 di platform blogdetik. Waktu itu, dirinya menulis setelah selesai dari pekerjaan utamanya. Di blog yang ditulis pada 2008 itu, mulanya hanya berisi curhatan saja. Dia menuliskan tentang cerita kehidupan, tentang anaknya, tips di kantor seperti menghadapi customer juga tips saat menerima telepon dari customer. Untuk Anda yang mau tahu tentang curhatannya itu dapat membuka tulisannya di www.anny.blogdetik.com .

Ani—biasa disapa Teh Ani—juga menyampaikan bahwa, untuk membuat blog itu tidak harus kaku-kaku atau resmi. “Dalam buat blog tidak harus kaku atau resmi. Isinya seolah-olah kita sedang berinteraksi dengan pembaca. Akan tetapi, bahasa gaul atau alay dapat saja dipakai asal tidak berlebihan. Itu karena dapat merusak kata kunci di google dan tak sesuai KBBI”, ucapnya.

Sebenarnya, apa tujuan kita membuat blog? Ada beragam tujuan tentunya dari setiap orang ketika menjatuhkan pilihan membuat blog. Saya sendiri, membuat blog memang untuk have fun. Ada wadah yang bisa menampung tulisan saya dan tak terbuang percuma. Saya tidak pernah juga menyangka, dari tulisan-tulisan itu ternyata banyak ditaksir orang luar dan beberapa diterjemahkan dalam bahas asing (Inggris) sebagai insert e-magz yang mereka punyai.

Peserta Blogging: Hobi dan Profesi
Foto: Dok. RepZone
Sementara itu, tak jauh berbeda apa yang disampaikan Ani, bahwa tujuan membuat blog itu tak lain, menciptakan sejarah sendiri, menambah wawasan, juga mengembangkan hobi menulis. Nah, mengembangkan hobi menulis inilah yang sesungguhnya saya inginkan dari blog yang saya buat. Selain itu, bisa menjadi tempat curhat, sebagai bahan penulisan buku, memberitakan kepada media juga dunia tentang hal-hal yang kita peroleh, sebagai sumber penghasilan. Artinya, ketika blog kita di-maintain dengan baik bukan tak mustahil tawaran job datang silih berganti. Tempat promosi. Ya, Blog menjadi tempat promosi terbesar yang saya punya. Saya tak perlu keluar uang hanya untuk promosikan bahan-bahan atau jenis makanan tertentu ke publik. Dengan saya letakkan di blog dan share link blog, otomatis orang sedikit banyak akan tahu. Bisa juga sebagai tempat untuk kampanye politik. Ya, usahakan saja kampanye politik yang antimainstream.

Di sela-sela paparannya, Ani juga sempat bercerita.  Dia punya banyak teman yang masih muda, tetapi tak banyak yang punya blog. Mereka rata-rata bermain di sosmed. Ani memberikan saran untuk menuangkan tulisan ke dalam blog. Karena tulisan itu terekam di google search. Dia menyebutkan salah satu nama, Rosinta Gabriela. Rosinta diarahkan oleh Ani Berta untuk buat blog. Akhirnya, Rosinta pun membuat blog. Dari blog tersebut, Rosinta banyak ditawari job.

“Blog punya poin plus dan kekinian. Teks di dalam blog itu bagaimanapun sangat penting. Teks itu mencerminkan kemampuan pemilik blog utk  merepresentasikan kepribadian”, ucap lanjut Ani.

Saat menulis blog, setelah ditulis lantas dipublikasi, bukan sekadar publikasi atau share saja. Akan tetapi, Blogger itu harus rajin membaca, rajin ngobrol sama orang, rajin survei, rajin googling, dan buat perbandingan bacaan atau wacana. Pada 2012, Ani pernah datang ke Jakarta Fair dan melihat Booth-nya MRT. Di booth itu banyak yang ingin dia ditanyakan. Dia menulis di blog pun tak sekadar memuji, tapi kritik dan saran juga penting untuk tulisan di dalam blog. Dari kritik dan saran tentang MRT yang dia tuliskan di blognya itu, sekarang MRT dibangun. Artinya, dirinya sudah memiliki  progress dari tulisan tersebut. Ani pun diundang dan dimasukkan ke dalam jurnalis MRT Jakarta. Ini merupakan pencapaian yang luar biasa.

Ani Berta punya hobi menulis sejak kelas empat SD dan menyukai pelajaran  mengarang. Dari itu, dia mulai menmbuhkan passion  di tulis menulis. Dia juga menyampaikan bahwa kita boleh saja curhat. Tetapi curhat itu harus dikelola, tak sekadar curhat. Bukan juga curhatan yang sangat private. Diolah untuk dikonsumsi publik. Cerita dikembangkan dan diberi solusi. Itu justru dapat  menjadi inspirasi dab curhatnya pun bisa bermanfaat untuk orang lain.

Selama ngeblog, dan dari ngeblog Ani Berta pun pernah menulis buku. Ada dua buku yang sudah dia buat dan diterbitkan. Artinya apa? Dari blog, tulisan-tulisan kita bisa diarsipkan dan dibuat berdasarkan kanal-kanal atau label. Seperti kanal Traveling, Beauty, Kesehatan, dan sebagainya. Blog yang kita punya juga sebagai media untuk pemberitaan. Media yang dapat meng-engage media lain dan tahu. Ani juga pernah menuliskan mengenai pajak seleb buzzer. Dia menuliskan pendapatnya di blog. Dan salah satu media tertarik dengan tulisan itu. Oleh karenanya, media tersebut mengambil dan mencantumkan hasil pendapat Ani dalam terbitannya.

Promosi berkelanjutan pun dapat dilakukan secara bebas di Blog. Selain gratis, kita juga tak perlu bayar iklan mahal-mahal. Kampanye Politik pun bisa dilakukan, terpenting tidak menimbulkan perdebatan berarti.


Aktivitas Blog
Apa sih sebenarnya yang dapat kita lakukan setelah punya blog? Apakah blognya didiamkan saja hingga dipenuhi “sarang labah-labah?” Atau dibiarkan hingga debu tebal menempel? Tentunya Anda tak ingin kan blog Anda kosong tanpa penghuni. Nah, aktivitas yang bisa kita lakukan itu banyak kalau mau digali lebih jauh. Misalnya, menulis artikel, opini, reportase, fiksi, juga nonfiksi. Kita juga dapat melakukan blogwalking ke blog orang lain: Blogwalking ini berupa  “jalan-jalan ke blog-blog orang lain (dan memang disarankan), setelah Anda berkunjung tinggalkan komentar di kolom komentar blog orang tersebut.  Apa manfaatnya? Blogwalking atau BW ini sebagai booster (keyword) link kita yang ditinggal di blog teman. Nah, kalau kita sudah meninggalkan komentar, sebaiknya blog yang diberi komentar melakukan hal serupa ke blog yang memberi komentar itu tadi.  Di sinilah Brand juga akan melihat dari komentar dalam blog seseorang. Brand akan senang jika dalam blog itu ada banyak komentar. Artinya, blog itu ada interaksi (rame) dan hidup.

Mencari referensi untuk menulis pun dapat dilakukan melalui blog. Referensi sebaiknya baca dari buku, buku yang benar-benar sesuai standar. Dapat juga dengan wawancara narasumber. Misal, Anda ingin me-review gadget atau parenting, wawancara narasumber yang berkompeten di bidangnya itu sangat penting. Atau setidaknya Anda dapat meminta nomor kontak narasumber dan bisa janjian atau kirim email. Dengan wawancara narsum, semua data dapat lebih akurat.  Kalau Anda tak kuat dalam tulisan, tetapi punya kelebihan lain, misal membuat video, lakukan juga hal itu. Orang dikarunia beragam talenta, kelebihan dan kekurangan. Penguasaan teks yang kurang dapat disiasati dengan membuat  video, juga musik, atau animasi. Kalau tiba waktunya, Anda dapat melakukan Optimasi SEO. SEO memang perlu waktu khusus untuk dipelajari.


Platform Blog
Anda tak perlu bingung atau pusing mencari platform blog. Kini banyak bertebaran platfoprm blog gratisan juga berbayar. Blogspot, wordpress, blogetik, thumbler,  itu termasuk blog-blog gratisan yang dapat Anda pakai. Jika Anda ingin punya domain sendiri, otomatis Anda harus menyiapkan sejumlah uang untuk membayar domain tersebut, alias domain berbayar dalam sebuah platform.

Nah, kalau mau punya blog, tentunya untuk menulis mesti punya keterampilan juga dong ya. Ya bisa mengoperasikan komputer itu yang wajib, punya email yang aktif dan sering dipakai, perlu pula prepare dengan foto, tulisan, juga video yang nantinya akan di-unggah ke blog Anda sebagai penambah konten. Terpenting lagi, harus terhubung dengan internet dan mesti lancar.

Selanjunya, untuk Anda yang mau membuat blog harus membuat email terlebih dahulu di google. Anda dapat membukanya melalui browser yang tersedia, baik dari Mozilla, Internet Explorer, Chrome, atau Opera. Kemudian masukkan link: http://gmail.com dan  arahkan kursor mouse ke menu new. Selanjutnya isi bio data yang tersedia. Setelah selesai, klik tombol next step, selanjutnya klik continue to gmail. Email beres!



Pemred Republika Irfan Junaidi dalam sambutannya
Foto: Dok. RepZone
Di saat sebelum memasuki materi kedua, Pemred Republikan Irfan Junaidi hadir di tengah-tengah peserta. “Sejak tahun lalu, Republika sudah memberikan tempat untuk orang-orang yang ingin bergabung di dunia medsos. Media massa dan medsos itu tumbuh bersama. RepZone ini menjadi salah satu bagian dari Republika. Republika memberikan support atas hadir dan berjalannya RepZone. Dengan kehadiran RepZone ini pula diharapkan, komunitas yang ada mampu menjaga konten-konten yang berkualitas dan positif”, urainya.

Ani Berta masih menyambung paparannya di sesi kedua berupa Memulai dan Menggali Peluang dari Menulis Blog. Nah, seperti paparan pertamanya, tujuan dari menulis blog itu antara lain ditambahkannya dalam sesi kedua, yaitu Merekam dan berbagi informasi.  Banyak informasi dan opportunity (peluang) sebenarnya dari kita membuat blog. Seperti penceritaan kisahnya pada 2012 ikut banyak lomba blog.

“Ikut lomba itu tidak semata-mata untuk menang, tapi nambah jam terbang. Blog bisa dioptimasikan. Kita bisa membantu mahasiswa untuk membuat tesis bahkan juga untuk bantu branding diri sendiri. Blog dapat dijadikan tempat untuk mengekspresikan saat kondisi tubuh atau jiwa sedang tidak “on”. Akan tetapi, kalimat-kalimatnya diolah.
Selain itu sebagai Refreshing healing (penyembuhan). Ketika Anda resah dan menuliskan keresahan itu di dalam blog, itu bisa jadi healing atau penyembuhan tersendiri. Contohnya, ada salah seorang blogger yang semasa hidupnya menderita cancer. Tetapi dengan semangat juang tinggi, blogger tersebut tetap menulis, meski dilakukannya secara berbaring. Blogger tersebut banyak memperoleh kunjungan beberapa orang dari beberapa negara. Kenapa? Karena tulisan di blognya mampu mengikat siapa saja yang membaca, meski waktu berkata lain dan blogger tersebut meninggal dunia karena sakit yang dideritanya.Tulisan-tulisannya sangat menginspirasi pembaca. Dari blog juga banyak membuka peluang.  

Bagaimana dengan material artikel blog? Kesulitankah Anda ketika mencari material penulisan untuk mengisi blog Anda? Sebenarnya, kalau mau mengulik bahan artikel itu banyak banget. Coba lihat lingkungan sekitar Anda, itu bisa jadi bahan tulisan. Atau ketika Anda bepergian dan menemui sesuatu di sana, itu juga bisa jadi bahan tulisan di blog Anda. Nah, tak perlu jauh-jauh, pengalaman pribadi Anda ikut Blogging: Hobi dan Profesi pun bisa Anda jadikan bahan tulisan, termasuk juga penelitian ilmiah.

Jadi, apapun yang Anda lakukan, semua bisa dibuat sebagai material artikel untuk mengisi blog Anda. So, jangan pernah bilang, “Buntu nih ga ada materi lagi yang bisa dituliskan”. Kita adalah orang-orang yang berada di tempat kreatif. Jadi, berpikir “sedikit” kreatif untuk mengisi konten blog itu keharusan. Terus, setelah punya blog, blognya diisi dengan materi, apa mau didiamkan saja lagi? Tentunya tidak, kan ya?

Nah, ada hal-hal penting yang harus Anda lakukan tatkala blog Anda sudah jalan. Menurut Ani Berta, update rutin dengan membuat jadwal posting minimal seminggu sekali. Kemudian, dari hasil tulisan di blog itu tadi, di share di medsos yang dimiliki seperti G+, facebook, twitter, juga IG. Jangan lupa juga, investasi untuk gambar atau foto, video, maupun desainnya. Kalau punya waktu dan sepertinya sih  memang harus ya, hadiri workshop, talkshow atau event yang relate dengan blog yang dimiliki.

Blogger itu mesti banyak membaca lho ya. Blogger itu sama dengan penulis. Banyak ternyata ditemukan penulis yang tak suka membaca, terkadang malah terjebak dalam opininya sendiri. Terlihat berbeda memang, ketika blogger atau seorang penulis itu rajin  membaca, tentunya akan memiliki sudut pandang luas dan tidak akan pernah kehilangan kata-kata. Selain itu, perlu juga networking (kerjasama). Jadi, meski Anda sibuk memegang gadget, tetap yang namanya networking itu dinomorsatukan. Di sinilah pentingnya bertukar kartu nama. Karena, kita tidak tahu, kartu nama itu dapat menjadi pembuka pintu rezeki atau pembuka jalan kita untuk beroleh rezeki lebih.  

Menulis itu membuat perubahan lho. Bagaimana tidak, salah satunya yang mampu memengaruhi dan membuat perubahan itu adalah Anne Frank juga Kartini. Dari tulisan-tulisan mereka mampu menggerakkan mata dunia untuk berani berubah. Anne Frank ini seorang diaris kelahiran Jerman, merupakan korban Holocaust Yahudi yang paling banyak dibicarakan. Dia mendapatkan ketenaran secara anumerta setelah terbitnya The Diary of a Young Girl (awalnya Het Achterhuis; Inggris: The Secret Annex). Anne mendokumentasikan hidupnya yang bersembunyi dari tahun 1942—1944. Selama pendudukan Jerman di Belanda pada Perang Dunia II. Ini adalah salah satu buku yang paling banyak dikenal di dunia dan telah menjadi dasar untuk beberapa drama dan film. Dari drama kehidupan Anne Frank itu, dia mampu membuka seluruh mata dunia dan sebagai sumber inspirasi banyak orang, begitu pula Kartini.

Dari Ngeblog, bisa masuk ke dalam lini mana saja, seperti menjadi copy writer, content writer, juga book writer. Dari niat dan kemauan kuat ada jalan. Jangan pernah idealism Anda terbeli dengan hal-hal yang dapat merusak reputasi Anda. Kalau Anda sudah memiliki dan memilih satu relung (niche) perdalam relung itu, gali, dan perbanyak.  

Memulai dari yang Anda sukai itu jauh lebih baik ketimbang Anda memaksakan kehendak tetapi hasilnya buruk. Kalau Anda hobi nonton film, bisa saja Anda review filmnya, begitu pula kalau suka baca buku, atau suka makan. Anda bisa memulai dari yang paling Anda gandrungi. Blog Anda pun bisa dijadikan tempat menulis cerita pendek yang ingin Anda buat, esai, prosa, puisi dan bisa juga mengolah buku diary untuk dimasukkan ke dalam blog sebagai sumber tulisan. Minat apa yang ingin Anda inginkan? Semua bisa Anda peroleh. Jadi jurnalis warga, mengisi kolom berita, menulis blog, juga mengulas bidang-bidang lainnya selain pendidikan.

Akan tetapi, dari itu semua, Anda harus bisa memaparkan tulisan yang memberikan ekspresi bahwa itu  adalah Anda. Anda, apa yang Anda tulis. Tampilkan percaya diri. Jangan pernah minder dengan apa yang Anda buat. Yang Anda buat atau tulis itu adalah yang terbaik Anda berikan. Setelah menulis, jangan lupa untuk diedit. Kalau saya selama menjadi dan memegang editorial punya prinsip, ketika menulis matikan “tombol” editor Anda. Dan ketika Anda mulai menyunting atau mengedit, hidupkan kedua “tombol” editor dan penulis tersebut. Jadi, jangan pernah menunggu lama untuk Anda memulai satu tulisan, meski itu tidak penuh. Menjadi diri sendiri dalam menulis itu penting!

Perlu diingat, blog itu hampir semuanya mengatakan dapat menjadi lahan pekerjaan Anda. Menurut Technorati, diperkirakan hingga 39% blogger melakukan pekerjaan menulis di blog demi uang. Hubspot melaporkan bahwa perusahaan semakin banyak menggunakan blogger untuk memasarkan perusahaan mereka melalui blog dan media sosial. Memberikan  banyak peluang untuk para blogger, pekerja lepas, atau karyawan paruh waktu untuk melakukan pekerjaan sambilan atau sebagai pekerjaan utama mereka ngeblog.

Nah, dari uraian di atas, ada lima hal penting menurut pendapat saya bahwa dengan blogging dapat mengubah hobi menjadi satu profesi atau pekerjaan.

1. Kenali Blog Anda
Coba inventaris blog Anda. Apa ceruk (niche) yang paling Anda sukai?
Apa jenis strategi yang telah Anda gunakan agar blog Anda dilirik? Bagaimana Anda merencanakan dan mengatur konten? Membuat catatan keberhasilan Anda sendiri sebagai blogger akan membantu Anda mengidentifikasi apa yang dapat Anda bawa sebagai satu strategi ke  perusahaan dan bagaimana Anda  menyusun resume Anda. Demikian pula, mencatat tempat Anda bisa tumbuh akan dapat menunjukkan untuk Anda tempat atau fokus terbaik Anda meningkatkan kemampuan blogging.

2. Curi perhatian
Seperti yang Anda tahu, blogging bukan hanya tentang menulis. Blogging juga tentang mengajak orang lain membaca tulisan Anda. Berdiri di deretan atas sebuah blog perlu usaha agar dapat dilirik perusahaan. Jadi, fokus untuk mengatur blog pribadi Anda. Membuat jaringan dengan blogger lain, berpartisipasi dalam jejaring sosial, dan menghadiri acara (event, talkshow, atau acara blogger lainnya). Bahkan, jika blog Anda ada di mini-niche sekalipun, kalau Anda melakukan maintain dengan benar, bisa jadi kisah menarik saat Anda diwawancara oleh satu brand untuk Anda dapat diterima bekerja di perusahaan.

3. Menulis
Selain menulis (secara teratur) untuk blog Anda, membangun kredibilitas ke luar melalui kontribusi pada blog dan publikasi lainnya juga diperlukan. Hal ini tidak hanya akan meningkatkan kemampuan menulis Anda, tetapi membuat nama Anda ada di blogosphere dan membantu Anda mendapatkan ribuan pertemanan baru. Banyak-banyaklah berkontribusi dengan blog lain. Mulailah dengan apa yang Anda tahu. Jika Anda menulis tentang makanan, lihat apakah Anda bisa membawa blogger makanan lainnya ke dalam blog Anda tersebut. Lalu coba buat resep yang simpel dan mudah di blog Anda tersebut untuk anak dan keluarga Anda saja minimal.

4. Diversifikasi Keterampilan Anda
Blog terbaik lebih dari sekedar kata-kata indah. Termasuk pulalah di dalamnya visual berkualitas tinggi, tata letak yang menarik, konten kreatif, dan fitur interaktif. Jadi, pikirkan keterampilan lain yang bisa Anda bawa ke atas meja selain tulisan. Seperti kemampuan fotografi, desain, atau hal-hal teknis lainnya. Kalau Anda belum punya, coba pilih satu, gunakan blog Anda untuk mengembangkannya. Anda juga bisa menggunakan foto hasil jepretan Anda sendiri tanpa harus memakai foto dari hasil browsing.

5. Terapkan
Setelah Anda meng-upgrade blog yang Anda miliki, termasuk resume diri, saatnya proses menemukan posisi blogging perusahaan. Hal ini tidak jauh berbeda seperti mencari atau menemukan pekerjaan baru. Pertama, ingat untuk memeriksa komunikasi blog Anda keluar, model pemasaran blog yang Anda inginkan atau Anda buat, dan kata kunci terkait. (Banyak pekerjaan blogging diposkan di situs khusus atau berbasis tulisan, jadi mulailah dengan ProBlogger, Media Bistro, dan Karya Tulis Lepas lainnya).
Selanjutnya, pertimbangkan posisi blogging paruh waktu. Tidak semua perusahaan punya uang untuk memakai blogger penuh waktu. Rata-rata, perusahaan akan menggunakan jasa blogger secara part timer. Akhirnya, pastikan blog Anda sesuai kriteria yang diinginkan perusahaan. Tunjukkan kepada perusahaan untuk surat lamaran yang Anda buat  mengenai kreativitas, semangat, dan kecakapan menulis Anda. Setelah itu, bisa jadi perusahaan itu “calon majikan” Anda.

So, tunggu apalagi... gaaaasss guys!





Tips Hindari Energi Negatif


Berurusan dengan negativitas bisa jadi downer. Saya pernah punya teman kerja yang energi negatifnya akan menyirami saya setiap hari. Dalam percakapan, dia selalu mengeluh tanpa henti mengenai semua hal, seperti tugas kerja, keluarga, teman, kesehatan, dan hal lain yang semestinya tidak dia pikirkan secara berat dan terasa “diberat-beratkan”. Dia juga begitu sinis melihat orang lain.  Sering meragukan niat teman-teman saya yang lain dan menilai teman-teman saya tersebut secara kasar. Ngobrol dengannya tidak  menjadi pengalaman yang menyenangkan sedikit banyak. 

Energi negatif perlu dibuang dari lingkungan, karena punya pengaruh besar untuk diri seseorang
Foto. Dok. http://4.bp.blogspot.com/
Pertama kali saya, dia, dan beberapa teman mengadakan rapat, saya merasa benar-benar lelah. Meskipun kami berbicara hanya 30 menit, saya hampir tidak punya energi yang tersisa setelah percakapan itu. Rasanya seseorang benar-benar telah menyedot energi kehidupan saya, dan butuh beberapa jam agar efeknya hilang. Hal yang sama juga terjadi untuk waktu berikutnya. Dengan cepat saya sadar, bahwa saya perlu menyusun rencana tindakan untuk mengatasi energi negatif semacam itu. Bagaimanapun, dia tidak akan menjadi satu-satunya orang negatif yang akan saya hadapi dalam hidup saya.

Secara bertahap saya membuat beberapa strategi untuk menangani orang-orang dan lingkungan negatif secara efektif. Mereka (baca orang dan lingkungan negatif) telah bekerja dengan penuh keajaiban dalam hidup saya sendiri, dan kini saatnya saya menggunakannya untuk menghalau orang-orang yang dipengaruhi lingkungan negatif termasuk diri orang itu sendiri.

1.    Buat batasan
Orang-orang negatif dan berada di lingkungan negatif yang berkubang dalam masalah mereka serta  gagal fokus terhadap solusi sulit dihadapi. Orang-orang seperti itu ingin ada orang lain yang sama untuk bergabung sehingga mereka bisa merasa sama dan jauh lebihterutama untuk  diri mereka sendiri. Mungkin saya merasa tertekan mendengarkan keluhan hanya karena saya tidak ingin dianggap tidak berperasaan atau kasar. Tetapi, ada garis tipis antara memberi pinjaman yang saya sendiri ikhlas memberikan dan tersedot ke dalam drama emosional negatif mereka.

Kita dapat menghindari drama itu dengan menetapkan batasan dan menjauhkan diri bila diperlukan. Anggap saja begini: jika orang negatif merokok dengan para perokok, maukah kita duduk di samping mereka sepanjang hari sambil menghirup asap rokok bekas mereka? Tentu tidak, kan! Pastinya, saya dan kalian akan menarik diri. Mending pergi jauh dari mereka dan memberi diri saya ruang bernapas.

Kalau dalam waktu dekat, kita tidak dapat menghindari diri, cara lain untuk menentukan batasan adalah langsung meminta orang yang negatif itu bagaimana mereka memperbaiki masalah yang mereka keluhkan. Seringkali mereka mengalihkan pembicaraan dengan arah yang lebih harmonis, setidaknya untuk sementara waktu.

2.    Tanggapi dengan penuh perhatian-jangan hanya bereaksi
Reaksi adalah ledakan emosi yang panas dan tidak terpikirkan. Hal itu biasanya didorong oleh ego kita (sebagai manusia, kita cenderung bereaksi saat kita dihilangkan dari pikiran logis). Mungkin akan berlangsung sepersekian detik sebelum intuisi kita berontak dan menawarkan beberapa perspektif. Mungkin akan segera mengarah ke salah satu titik bahwa kita bertindak atasnya. Bila kita  merasa marah atau bingung setelah berhadapan dengan orang negatif, itu pertanda reaksi kiys, tidak ditanggapi dengan penuh perhatian. Menanggapi dengan penuh perhatian akan membuat kita merasa menangani hal-hal dengan integritas dan ketenangan.
Intinya: ketika kita bertemu seseorang dengan sikap negatif, jangan menanggapi dengan memberi hinaan lagi ke mereka. Kita perlu menjaga martabat dan jangan menurunkan harga diri kita ke level mereka.

3.    Tantangan Optimisme
Orang-orang yang paling optimis bertatap muka dengan orang-orang negatif secara teratur. Perbedaan antara keduanya, bagaimana orang optimis menangani hal negatif. Hal ini tidak dibangun ke dalam DNA agar mereka menjadi tenang. Sebenarnya, ada beberapa teknik dan tips yang bisa dimanfaatkan orang untuk menghindari energi negatif.

Memang, ini bukan ilmu roket, tapi butuh kerja dan ketahanan. Terkadang tidak hanya satu tips atau teknik akan bekerja dengan sendirinya--sebenarnya tergantung pada seberapa negatif situasinya berjalan seiring dengan bagaimana seseorang harus menghindari energi negatif. Seiring kita menyalurkan strategi ini untuk tetap berpikiran terbuka dan mengerti bahwa memperbaiki lingkungan dengan energi negatif itu bukan perkara mudah. Semuanya butuh waktu dan sepertinya jadi cobaan dan kesalahan. Jadi saat kita membaca informasi bermanfaat ini, buka dan pikirkan kompilasi tips berikut dapat membantu kita menghindari energi negatif yang muncul.

4.    Hindari Drama
Lakukan yang terbaik untuk menghindari drama dengan segala cara. Dari waktu ke waktu, akan ada situasi yang muncul yang benar-benar keluar dari diri kita, namun sangat penting bahwa kita tetap berada di luar pertemuan yang dirancang dramatis. Bagaimana kita bisa melakukan ini, mungkin ada pertanyaan yang muncul? Hindari bergaul dengan orang yang suka bergosip atau mengalami masalah. Jangan berbicara tentang orang lain di belakang mereka dan lakukan yang terbaik untuk tidak melakukan penilaian terhadap orang lain--serahkan semua pada Tuhan. Jujurlah, tidak peduli apa dampaknya. Ingatlah bahwa kejujuran adalah kebijakan terbaik. Lakukan yang terbaik untuk menghindari situasi kompromi.

5.    Periksa Berkah yang Menghampiri Kita
Ketika energi negatif muncul di hadapan kita, sulit untuk mengenali berkah yang mewujudkan kehidupan kita setiap hari. Rumah dengan air mengalir dan panas bisa diabaikan. Makanan di atas meja bisa disalahartikan sebagai hak istimewa. Berkah lain seperti kehadiran orang yang dicintai dan fasilitas lainnya sering dianggap biasa. Setiap hari ketika kita bangun, ceklah keajaiban apa yang telah terjadi. Biarkan dunia di sekitar kita tahu bahwa kita bersyukur atas segalanya. Mengucapkan rasa terima kasih bisa sesederhana mengatakan kepada orang yang kita cintai, bahwa kita menghargai apa yang mereka lakukan untuk kita setiap hari. Bisa juga menawarkan makanan tambahan. Jika kita memiliki pengetahuan tentang apa itu berkah yang kita miliki, ketika energi negatif masuk ke dalam kehidupan sehari-hari, akan lebih mudah diperangi kenegatifan dan menikmati berkah kita.

Jika kita bisa menghilangkan drama dari hidup, kita akan menemukan bahwa segala sesuatu ada pada tempatnya. Sekarang ini bukan untuk mengatakan bahwa masalah tidak akan muncul kalau tidak ada kesempatan, tetapi menghindari drama 90% menjadi pilihan cerdas.

6.    Menyatu dengan Alam
Rumah memberikan banyak ketenangan yang tidak dapat ditemukan di tempat lain. Pohon, langit, air, binatang dan udara menawarkan begitu banyak hal untuk dipikirkan, juga tubuh dan jiwa. Tidak ada tempat lain yang bisa kita temukan sumber daya yang ada melimpah ruah selain di bumi. Tidak ada tempat lain yang bisa kita temukan makhluk Tuhan berkeliaran bebas seenaknnya. Tidak ada tempat lain untuk kita menemukan bunga dan perairan yang tidak tersentuh. Lingkungan bumi memberikan keindahan yang tiada tara.

Menyatu dengan alam dengan melakukan keseimbangan secara teratur. Jika kita mengidentifikasi hubungan dengan alam dan keindahannya, kita akan menemukan garis kedamaian. Jika kita terkena tantangan dan energi negatif, masuklah ke alam dan rasakan kesendirian yang disajikannya. Kita akan menemukan sebuah penghargaan baru untuk hal-hal kecil dalam kehidupan dan seringkali situasi yang kita rasa paling untuk dihindari, tiba-tiba tampak tidak sangat menantang.

7.    Berikan Penegasan
Membaca afirmasi positif setiap hari akan menempatkan kita dalam pola pikir yang benar. Saat kita mengetahui kata-kata yang hebat ini, kita akan menemukan bahwa perisai mulai terbentuk dan akan membantu kita menahan energi negatif yang mendekati kita setiap hari. Anggap afirmasi sebagai baju besi harian kita - tidak hanya akan membantu membimbing kita menjauh dari energi negatif, tapi juga mencegah luka menakut-nakuti keberadaan kita.

Jika kita belum memiliki kutipan atau tulisan suci – carilah. Setiap kali menghadapi situasi yang menantang, berpalinglah ke afirmasi itu dan biarkan mereka menjadi anugrah keselamatan kita. Bagikan afirmasi Anda dengan orang-orang di sekitar Anda.Biarkan kata-kata menghibur menjadi milik mereka juga.

8.    Sabar
Percaya atau tidak, kesabaran yang benar-benar adalah kebajikan. Sering kali, ketika energi negatif muncul, orang bereaksi secara agresif bahkan tanpa menyadarinya. Penting untuk melatih pikiran dan tubuh kita bersabar dan tetap tenang saat situasi kompromi muncul. Temukan garis dasar internal kita dan tentukan bagaimana reaksi kita sebelum energi negatif muncul dengan sendirinya

9.    Sosialisasi
Ketika kita tinggal di lingkungan yang hanya itu-itu saja, dengan tingkat energi negatif tinggi, otomatis, secara  tidak langsung kita akan terpapar. Kalau kita terus menerus tinggal di lingkungan seperti itu, pastinya peningkatan energi negatif di dalam tubuh dan pikiran kita tidak akan dapat dihindari. Kita seperti terkucil dari lingkungan lainnya. Oleh karena itu, penting untuk kita bersosialisasi. Nongkrong bersama teman dan keluarga itu penting. Dengan begitu, akan membuat kita lebih aktif dan membawa dalam suka cita.  Kita bisa juga bicara di telepon dengan teman lama atau mengunjungi kerabat yang tidak bisa Anda lihat secara terus menerus. Kita akan menemukan bahwa dicintai dan dihormati akan membantu membangun harga diri dan memberi kita kepercayaan diri yang dibutuhkan untuk mengatasi kesulitan dan masalah yang muncul setiap hari.

10.  Bangun Harga Diri Anda
Jika kita yakin dan punya rasa harga diri yang baik, kita akan merasa lebih mudah untuk melawan energi negatif saat hadiah itu muncul. Jika energi negatif menjadi penyusup ke dalam kehidupan kita sehari-hari, kata-kata dan tindakan bisa menimbulkan luka yang menyebabkan timbulnya masalah lain. Akan tetapi, jika kita membangun kepercayaan dan harga diri kita, hal itu akan menjadi perisai untuk menghalau kesulitan yang ditimbulkan dalam kehidupan kita. Intinya, kita akan bisa mengatasi apa saja. Ingat bahwa kita harus selalu berinvestasi pada diri sendiri.

11.  Atasi rintangan

Meskipun hanya ada beberapa petunjuk yang dirasa bermanfaat, jangan berpikir bahwa hanya ini satu-satunya cara menghindari energi negatif. Hidup ini penuh rintangan dan akan membawa kombinasi dari tips untuk membantu kita mengatasi kesulitan dan rintangan yang harus dihadapi. Jangan pernah mengakui kekalahan. Berdirilah teguh bahwa kita dapat menahan segala sesuatu yang datang sesuai keinginan selama kita kuat dan mau berusaha keras.

Saturday, July 15, 2017

Resolusi Tak Jadi Angan-Angan Basi


Sudah tentu, dalam hidup itu ada permintaan atau tuntutan yang bisa saja terpenuhi, diusahakan untuk diperoleh, atau bahkan tidak terpenuhi sama sekali. Tidak terpenuhinya permintaan atau tuntutan hidup bukan berarti tidak ada kemampuan untuk memperolehnya. Mungkin saja, Sang Khalik menundanya karena ada permintaan terbaik dari kita untuk diwujudkan ke depannya.

Every people love to write their resolutions
Foto: Dok. http://1.bp.blogspot.com/
Biasanya awal tahun, banyak orang membuat keputusan untuk mencari awal yang baru. Tahun baru adalah waktu yang tepat untuk berkomitmen beresolusi mengubah hidup, seperti menjadi lebih sehat, menemukan karier baru, lebih memperhatikan hubungan dekat  dengan pasangan, teman, kerabat, tetangga, dan sebagainya. Namun, membuat resolusi itu harus  berpegang teguh pada hal untuk ditindaklanjuti dan kuat dengan komitmen, bukan asal membuat resolusi.

Memang, kita sebagai manusia mesti banyak-banyak meminta. Banyak meminta dalam bahasa saya adalah berdoa juga berusaha. Berdoa menurut keyakinan kita. Kalau saya sebagai muslim, tentunya tak hanya dalam salat saya berdoa. Di manapun tempat, saya tetap akan berdoa. Permintaan banyak menurut saya tak masalah. Kita tidak tahu, dari sekian banyak permintaan itu, mana nantinya yang Allah SWT akan kabulkan.

Nah, permintaan atau tuntutan dalam diri itu tadi yang biasa disebut resolusi. Jika mengacu pada KBBI, resolusi/re·so·lu·si/ /résolusi/ n: berupa putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal.

Perlulah kita, saya secara pribadi menancapkan keinginan atau permintaan yang sekiranya bisa saya capai. Setidaknya dalam waktu enam bulan atau setahun ke depan. Tak salah, saya memberikan catatan  dalam kehidupan agar hal-hal yang saya inginkan as a personal bisa diperoleh  dan terwujud. Alhamdulillah, enam bulan pertama, resolusi yang saya tanamkan hampir semuanya terpenuhi.

Kini enam bulan ke depan, kembali saya menancapkan keinginan dan permintaan kepada Sang Khalik sebanyak-banyaknya. Entah mana nanti yang Allah SWT izinkan untuk DIA kabulkan, itu merupakan pemberian terbaik yang diberikanNYA.

Untuk saya pribadi, resolusi itu tak sekadar angan-angan yang nantinya akan jadi basi. Tetapi, bagaimana resolusi yang sudah dituliskan itu benar-benar bisa dicapai secara normal dan wajar dengan cara-cara baik dan benar. Tentunya, hal  itu saya kembalikan kepada kemampuan saya, baik tenaga, pikiran, juga yang paling penting adalah finansial. Jika resolusi yang dituliskan memang ingin bepergian entah ke mana. Hal-hal itu yang mesti saya persiapkan. Mesti sejalan antara keinginan dengan kemampuan diri. Jangan menerapkan nafsu yang besar tetapi tenaga letoi.

Kalau kita sudah membuat resolusi, jangan pernah pula menyatakan ketidaksetujuan atas resolusi tersebut. Bermain-main dengan ide yang luar biasa sah-sah saja. Akan tetapi,sedapat mungkin diminimalisir. Karena, resolusi yang kita tancapkan itu, setidaknya setengah bagiannya akan kita lakukan. Artinya apa? Kalau saya pribadi, resolusi itu seperti janji. Jadi, mana janji yang bisa ditepati terlebih dahulu, itu yang akan saya lakukan. Buatlah janji yang benar-benar meringankan pikiran dan keuangan saat kita membuat resolusi.

Janji (= resolusi) jangan pernah dijadikan kambing hitam apabila tidak berhasil dilakukan. Juga, jangan pernah memperlakukan resolusi sebagai komitmen mutlak. Kalau saya, justru akan mencoba hal yang baru apabila resolusi yang dituliskan ada yang tak dapat dilakukan. Saya akan memberi sedikit ruang “goyah” dalam diri untuk memudahkan perubahan sedikit demi sedikit. Mungkin, saya akan bisa melakukan apapun untuk memastikan pikiran saya pada hal-hal yang sifatnya sementara bisa dicapai.

Resolusi tidak menjadikan saya sebagai seorang penentang. Artinya, resolusi itu sebagai cambuk untuk diwujudkan denga berusaha semaksimal mungkin, juga tidak menjadikan seseorang menjadi egois.

Manusia itu sebagai makhluk yang kompleks alias rumit, termasuk saya. Melalui resolusi lama yang tak tercapai, itu dapat dijadikan cermin untuk membuat gebrakan baru dengan hasil ajaib dan terkagum-kagum. Tetapi, mungkin tidak realistis ketika kita atau saya mengharapkan transformasi dramatis yang terjadi secara instant atau mengharapkan keajaiban dari catatan resolusi. Ini menjadi semacam penyangkalan untuk saya pribadi bahwa ternyata benar, saya dan kita itu makhluk yang kompleks dengan beragam aspek.
Catatan resolusi itu dapat membuka diri seseorang, bagian mana dari kita yang benar-benar menantang untuk dibuat perubahan? Terpenting juga adalah kita perlu memikirkan situasi yang dapat memicu orang untuk memberikan dan mengemukakan aspek-aspek diri kita yang tidak kita sombongkan, ketimbang kita menganggap bahwa solusi sebagai satu ukuran yang akan dapat menciptakan perubahan. Misalnya saja, resolusi saya akan mengurangi makan yang berlebih agar berat badan idealg. Oleh karenanya, saya akan makan jenis makanan yang benar dan tentunya jangan gagal berolahraga. Nah, resolusi diet ini saya yakin, ditakdirkan. Hanya saya yang mengenal diri saya cukup baik untuk menghadapi sebenar-benarnya kebenaran resolusi yang akan  saya lakukan.

Menancapkan diri untuk tidak realistis. Menjadi tidak realistis akan membatasi pilihan saya. Hal itu justru akan membuat diri ini berada di zona yang tidak pernah akan berhasil. Kita tidak akan pernah bisa berubah tatkala kita terus memikirkan kesalahan yang akan terjadi. Hal ini justru akan menyakiti diri kita sendiri. Untuk mengatasi hal itu, saya akan pergi dari zona nyaman.  

Membuat mimpi itu tidak salah kok. Kita itu ditakdirkan mempunyai kemampuan ajaib untuk mencapai seluruh keinginan yang kita inginkan secara maksimal. Bermimpilah, masih sangat dibolehkan dan tidak ada undang-undang yang melarang kita bermimpi. Silakan meneruskan mimpi kita dan mempertimbangkan seluruh kemungkinan yang dapat membuat mimpi-mimpi itu jadi kenyataan, tentunya membuat kita senang. Mimpi itu sebagai satu proses resolusi yang solid untuk diterapkan hingga terbentuk. Pada akhirnya, kita akan diberdayakan oleh proses resolusi itu tadi.

“Mencuri sumber daya”. Cari atau tanya orang-orang di sekitar kita yang sudah mencapai tujuan yang sama. Mencari tahu apa yang membuat mereka berhasil mencapai resolusinya. Mencoba solusi mereka sebagai satu ukuran itu tidak salah. Di sini, saya akan banyak menambahkan atau membuat modifikasi pribadi sehingga gaya, warnah, dan kebiasaan itu benar-benar menjadi saya. Mengikuti jejak orang lain itu menjadi cara luar biasa untuk meningkatkan bakat dan gagasan dalam diri sendiri. Mengetahui apa yang orang lain tahu menjadi investasi dalam diri saya. Belum pernah ada begitu banyak orang yang punya banyak kesempatan untuk belajar dari orang-orang yang terampil, inspiratif, cerdas, menarik, dan inovatif di era digital dan internet sekarang.

Berusahalah dengan cara-cara yang tak mengeluarkan banyak tenaga untuk mewujudkan resolusi hidup kita. Saya pribadi, akan lebih berhati-hati agar resolusi yang saya buat tidak berubah menjadi satu penegasan yang samar. Artinya, hanya duduk-duduk seharian sendirian dan membayangkan tanpa usaha bahwa nanti juga akan datang masanya, tidak seperti itu! Seharusnya, bangun di pagi hari, pergi ke satu tempat yang akan memberikan saya banyak peluang untuk mewujudkan resolusi yang sudah dituliskan.

Memang benar adanya, orang sangat senang menuliskan resolusi mereka karena ada sensasi yang dirasakan. Itu baru menulis lho ya yang seakan-akan mereka sudah menuju ke tempat yang akan dikunjungi atau memperolehnya. Tetapi, kenyataannya belum melakukan apa-apa. Hal inilah yang membuat resolusi seseorang sering gagal diterapkan. Oleh karenanya, jika Anda menuliskan butir resolusi yang sama berulang-ulang di setiap tahun nyatanya belum berhasil diwujudkan, tandanya ada yang salah dalam diri dan perlu diperbaiki.

Cermin yang paling besar dan mudah dilihat itu diri sendiri. Jadi, sebelum kita membuat resolusi ada baiknya berkaca pada diri sendiri. Nah, hal yang sering keluar adalah  “apa yang diinginkan” dan bukan “apa yang dibutuhkan”. Keinginan itu tidak esensial  hanya menyenangkan saja, sementara kebutuhan memang sangat esensial untuk kita miliki. Itulah, selain berkaca pada diri sendiri, pelu juga berkaca pada orang lain sebagai sumber pengetahuan dan referensi.

Tips berikut ini, kemungkina besar bisa mewujudkan meraih resolusi yang kita idam-idamkan.
1.    Fokus pada hal yang ingin diubah dalam kehidupan. Cukup tuliskan  tiga hingga lima hal penting saja. Hendaknya, poin itu berhubungan dalam meraihnya. Lantas tuliskan alasannya dari resolusi itu dan buat secara jelas tujuannya hingga kuat untuk menggapainya. Misalnya, tujuan saya saat ini ingin mengembangkan blog agar mudah dideteksi oleh google dengan blog serta kata kunci spesifik tidak ikut-ikutan orang.
2.    Membuat formula resolusi berupa pernyataan khusus dan harus realistis pula. Kadang-kadang kan kita hanya menulis, misalnya “mau diet dan sehat”. Mending dan lebih baik ditulis saja, “olahraga tiga kali dalam seminggu” lantas tempelkan daftar resolusi di wall yang mudah dilihat dan dijangkau. Fungsinya untuk apa? Itu sebagai tanda pengingat kita.
3.    Bolehlah berbagi cerita mengenai resolusi kita ke orang-orang  yang benar-benar kita anggap bisa dipercaya dan teman dekat. Mereka itu bisa jadi pengingat hidup kita juga support terhadap hal-hal yang kita lakukan kalau tiba-tiba semangat kita lagi kendur dan goyah.
4.    Menikmati proses resolusi itu jauh lebih menyenangkan, hasil akan mengikuti. Jadi, jangan fokus pada hasilnya saja. Saya tetap menyatakan dan menuliskan bahwa resolusi itu sebagai satu perjalanan panjang yang akan berhenti pada satu titik. Titik pemberhentian itulah yang namanya menikmati hasil. Kalau belum mendapatkan hasilnya, setidak-tidaknya kita sudah melakukan proses perubahan dalam hidup secara lebih positif.
5.    Melakukan cek resolusi secara periodik, misal di tiga bulan pertama dan tiga bulan kedua. Hal itu sangat membantu kita untuk menggiring rencana agar tak lari dari yang direncanakan.  Rencana tak selamanya sesuai dengan yang diinginkan. Kadang melenceng dari yang direncanakan, so, perlu cara baru atau cara lain untuk merealisasikannya. Nah, perlu namanya antisipasi, jikalau rencana yang dibuat itu ada indikasi gagal, bisa dicari jalan lain.

Resolusi itu ibarat anak tangga.
Foto: Dok. http://1.bp.blogspot.com/-KfzeztPn0qU/

Jadi, bolehlah menuliskan resolusi kita sebanyak yang dimaui, tetapi antisipasi gagal perlu. Sudah berapa banyak resolusi yang kalian tuliskan dan terwujud? 

Friday, July 14, 2017

Tunjangan Hari Ra (Bu) Ya...

Puasa sebulan penuh sudah dijalani untuk yang melakukannya. Setelahnya, tentu menanti bulan kemenangan datang. Apalagi kalau bukan Hari Raya Idul Fitri. Untuk teman-teman yang bekerja, tentunya ada yang dinanti setelah sebelas bulan kerja dengan beragam dinamikanya. 

Tunjangan Hari Ra (Bu) Ya... Nasibmu kini
Foto: Dok. http://static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/
Untuk perusahaan dengan kategori bagus, sedang, dan cukup, tentunya telah mempersiapkan "Amunisi" untuk menjelang bulan Syawal kepada pekerja-pekerjanya. Apalagi kalau bukan THR (Tunjangan Hari Raya).

Mengingat kenangan-kenangan yang sudah lama berlalu, ada sejumput  rindu cerita dengan THR ini. Dulu banget, waktu masih sendirian, gaji lumayan terima tiap bulan. Sudah jadi kebiasaan buat saya, saya pisahkan antara gaji dengan bonus-bonus yang diperoleh termasuk THR ini. 

Gaji, khusus saya masukkan ke dalam tabungan gaji. Sementara itu, untuk bonus-bonus plus THR saya bagi lagi dalam beberapa bagian. Sebenarnya, saya suka  belanja barang, terutama perlengkapan "tempur" untuk bekerja, pastinya baju dan celana. Nah, setengah bagian dari THR sudah saya cadangkan untuk itu. Setengahnya lagi masih saya bagi lagi untuk orang tua dan beberapa keponakan.

Hal paling nikmat itu ketika amplop-amplop yang berisi lembaran uang baru saya berikan ke keponakan. Meski besar nilainya tak seberapa, tetapi ada rasa syukur terlihat dari wajah-wajah ponakan saat amplop dari tangan saya meluncur dan digenggam erat oleh tangan-tangan mereka. Saya tanya, "Va, uangnya THR-nya untuk apa?" Ponakan saya jawab, "Ini uang THR dikumpulin, buat tambahan biaya ujian sekolah dan beli buku". Deg!!!

Saya tak heran dengan para keponakan. Ya, memang mereka menyisihkan uang-uang hasil dari THR itu untuk keperluan sekolah. Ada dalam pikiran mereka bahwa mereka tak ingin pula minta-minta lagi uang ke orang tua saat ada keperluan mendadak. Kalau saya pikir, klasik sih ya jawabannya. Akan tetapi, itu jawaban paling jujur yang keluar dari mulut mereka.

Beda ponakan saya beda pula orang tua saya. Saya paling sering kasih uang THR itu ke Ibu. Nah, tahu sendiri ya yang namanya ibu dengan tagline andalannya, "Kalau harus mengeluarkan sedikit bisa dapat banyak, mengapa harus mengeluarkan banyak untuk dapat  banyak". Eiitss, tetapi memang, rerata ibu-ibu seperti itu. Ya, beberapa waktu lalu saat ibu masih hidup, dari THR yang saya berikan, beliau ngajak saya ke pasar beli ini itu untuk persiapan lebaran. Duh rasanya gimana gitu, ada rasa senang yang tak bisa diungkapkan saya bisa kasih uang dari hasil keringat keikhlasan ke ibu yang sudah bersusah payah melewati suka duka membesarkan saya. Saya sempat juga mbrebes mili (Jawa = air mata tertahan di pelupuk mata yang gak jadi keluar = menggenang), tatkala ibu belanjakan itu uang. Dia penuhi semua kebutuhan keluarga dengan caranya mengeja keuangan. Meski sedikit-sedikit tetapi dicukupkan. Ibu hebat!! Perjuangan tangguhnya saya acungi jempol. 

Bukan berarti bapak yang kala itu belum pensiun tak memberikan THR-nya juga. THR dari bapak, ibu simpan untuk keperluan lainnya. Nah, THR-THR itu ibu olah sedemikian rupa, agar bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin. Bahkan, saya pernah cari tahu juga, THR itu, sebagian ibu simpan pula, hahaha... memang ya, tak heran saya kalau namanya ibu itu mesti pintar urusan keuangan, demi mencukupi semuanya. 

Ya, dari uang THR itu ibu bisa nabung juga, ibu bisa beli bahan makanan, bahkan masih sisa untuk bulan berikutnya. Kalau dibilang lumayan terima uang THR, lumayan juga. Tapi satu hal yang jarang ibu lakukan dari uang THR itu, ibu itu jarang beli baju dari uang THR. Alasannya ada saja, selalu bilang, "Baju yang tahun lalu masih bagus dan masih bisa dipakai". Ya, ibu tak mengutamakan penampilan, tetapi bagaimana uang-uang itu bisa bertahan dan untuk hal-hal bermanfaat lainnya. Ibu saya adalah ibu paling cantik yang saya punya, hehehe... mau pakai baju lama atau baru pun tetap cantik, hahaha...

Ya, beberapa tahun belakangan, ketika sempat bekerja di salah satu perusahaan yang kalau saya lihat, sebenarnya itu perusahaan sanggup kok untuk bayar THR karyawannya yang jumlah karyawannya tak sampai ratusan orang. Saya tahu itu. Kalau dibilang miris, sungguh miris keadaan pada waktu itu. Kejadiannya sekitar tahun 2013 hingga 2015. Tiga kali lebaran saya dan teman-teman lainnya tak pernah mendapat THR. Alasannya pemilik ada saja. Entah perusahaan yang lagi seretlah, entah penjualan yang belum ada, ini dan itu.

Intinya, pemilik ogah mengeluarkan sepeser pun untuk kasih THR karyawan yang merayakan. Tiga tahun tak terima THR tetap saya masih coba untuk bertahan bekerja. Menjelang masuk tahun keempat, mungkin karena kondisi yang sudah tidak kondusif, dan keadaan semakin memburuk, tak ada iktikad baik dari pemilik untuk mencoba memberikan hak pekerja, saya lepaskan saja pekerjaan itu. 

Jadi sayang ya, karena ketaktransparanan pemilik dengan beragam alasan yang dirasa tak masuk akal, hubungan antara karyawan jadi memburuk. Ya, daripada saya membuat dosa yang tidak-tidak dan terus bertambah-tambah karena pembicaraan, lebih baik hengkang. Sangat disayangkan. Saya bilang bahwa di empat tahun belakangan itu, THR buat saya bukan sesuatu lagi.  Gegara THR, jadi tak menjamin hubungan baik antara pemilik dan pekerjanya. Lepaskan!

Ya, sekiranya tak mampu memberikan THR untuk pekerjanya, mungkin lebih baik tak usah mendirikan atau buat perusahaan. Karena, bagaimanapun juga THR itu menjadi hak dari setiap pekerja yang dipekerjakan. Perhitungannya pun jelas dan masuk dalam UU Ketenagakerjaan. Serem juga saya membayangkan kalau buat perusahaan tapi tak kuat keuangan. 

Tentunya, saya tak ingin kejadian itu berulang. THR itu hanya sekelebat saja wujudnya, tetapi memang tetap dinanti. Dinanti oleh siapa? Dinanti oleh mereka yang kerja di kantoran. Sekarang, saya tak harus menanti THR. Bebas dari THR dan bebas untuk memberikan atau tidak THR itu. Ya, tunjangan hari raya itu buat saya tak hanya uang. Saya dan keluarga sehat itu menjadi tunjangan hari raya yang paling  buat bahagia. Uang bisa dicari, dari kesehatan tubuhlah mulanya. Aahh THR... Riwayatmu kini. 


   

 


Thursday, July 13, 2017

Anugrah Lebaran Punya Sasa

Lebaran sudah lama usai. Tapi, sebelum lebaran berlalu, banyak rencana yang dituliskan, ingin  pergi ke mana dengan siapa menginap di mana. Cerita lebaran pun banyak bermunculan, baik dari diri sendiri, istri, suami, anak, ponakan, atau saudara, dan tetangga.

Raisya Ningtyas
Saat Best of The Best Student Competition di Bali
Foto: Dok. Sasa
Untuk saya sendiri, sebelum lebaran 2017 ini, banyak hal sebagai pelajaran yang bisa dipetik. Dipetik sebagai pembelajaran terbaik dalam hidup. Dipetik menjadi hikmah kehidupan yang perlu dibagi-bagi kepada orang lain, tentunya berbagai kebaikan dengan memetik pelajaran.


Meraih dua piala sekaligus nasional dan internasional
di Kejuaraan SEMPOA, Bali 2017
Foto: Dok. Sasa
Kejadian menyenangkan maupun yang tidak datang silih berganti. Itu yang menjadi petikan pelajaran berharga untuk menghargai kehidupan. Layaknya manusia, tercipta dari air yang keluar melalui lubang kencing, mengenyahkan sikap dan sifat angkuh dan teman-temannya sudah sepantasnya.

Penyerahan piala dan piagan juara
Foto: Dok. Sasa
Memang ya, sebenarnya di dalam diri manusia itu, kalau kita mau kembali lagi berpikir, bahwa kita diciptakan dari “tanah” yang maksudnya segala sesuatu yang tumbuh di atasnya di makan. Kemudian, Allah SWT ciptakan kita dari sari pati makanan yang tumbuh di atas tanah itu. Jika mau mengkaji lebih dalam, tanah, posisinya di bawah, kita sebagai manusia sudah seharusnya merunduk dan rendah hati, bukan tinggi hati dengan segala yang dimiliki. Nyatanya, semua yang kita miliki tak akan dibawa mati.

Saat mengikuti kejuaraan SEMPOA Internasional di Singapura, 2015
Foto: Dok. Sasa
Bertitik tolak dari sini, semakin hari semakin sadar (terutama untuk saya pribadi) bahwa, tak perlu bersombong ria. Mengingatkan kembali untuk diri saya, bahwa Allah sangat membenci orang yang sombong. Sangat dibenci Allah SWT pula orang miskin yang sombong.

Piala kemenangan kejuaraan nasional di Bali
Foto: Dok. Sasa
Hal-hal seperti inilah yang saya tanamkan pada beberapa keponakan saya untuk tidak memandang orang sebelah mata dan semena-mena. Semua manusia yang diciptakan Allah SWT itu sama. Sama-sama berasal dari air yang tak ada harganya. Di hadapan Tuhan, semua tidak ada perbedaan. Akhirnya mereka merenung dan belajar banyak. Salah satu keponakan saya memang mencerna lebih cepat. Kemungkinan karena pola asuh dan faktor makanan. Dia menjadi salah satu inspiring kehidupan teman-teman dan orang di sekelilingnya.

Wajah bahagia tatkala memenangkan kejuaraan
Foto: Dok. Sasa
Saya panggil dia Sasa. Nama panjangnya Raisa Ningtyas. Usianya baru sebelas tahun lebih beberapa bulan. Perawakannya tinggi dan berkulit bersih. Di usia empat tahun, dia sudah bisa membaca dan menulis. Bahkan, ketika saya pulang ke rumah dan coba untuk meng-imla (dikte) dengan kalimat panjang, dia sangat cepat menulis. Cerita punya cerita, ibunya pernah memasukkannya ke salah satu sekolah untuk kenal huruf dan baca lebih dini, namanya Sekolah Fonem.


Pemberian Piala dan piagan pemenang oleh pemilik SEMPOA Jambi Bapak Andi
Foto: Dok. Sasa
Dia dengan senang hati tanpa paksaan mau. Memang anaknya juga tidak bosan untuk memulai dan cepat menangkap. Hanya dalam waktu 1,5 bulan sudah mengenal huruf, membaca, dan menulis secara cepat. Kemampuan itu terus di asah sesampai di rumah. Benar kata pepatah, “Pisau yang tumpul sekalipun, jika terus diasah lama kelamaan akan tajam”. Begitu pula manusia, “Lancar kaji karena diulang”.

Wisuda SEMPOA
Foto: Dok. Sasa
Di usia 5 tahun, ibunya coba memasukkannya ke Sekolah Dasar. Pada mulanya tidak ada sekolah yang mau terima anak di usia segitu, apalagi notabenenya sekolah negeri. Tetapi, pada akhirnya ada salah satu sekolah yang mau menerima dia dengan persyaratan, siap untuk di tes. Tes baca dan menulis.

Siaplah ponakan saya itu dengan yang dipersyaratkan. Berhasil! Masuklah SD di kelas satu. Sasa tanpa melalui Taman Kanak-Kanak. Di SD, pun entah dari mana datangnya, soal hitung menghitung pun terbilang “jago”. Dia bisa menyelesaikan soal-soal hitungan matematika yang untuk anak kelas satu SD mungkin masih sangat rumit, tapi bagi dia boleh dibilang mudah.


Piala-piala kemenangan di tingkat daerah, provinsi dan antar-negara
Foto: Dok. Sasa
Untuk meningkatkan kemampuan hitung menghitung, ibunya memasukkan Sasa ke salah satu Lembaga Kursus SEMPOA (Sistem Edukasi Mengoptimalkam Potensi Otak Anak) di Jambi. Memang dasar otak anaknya moncer, ya baru belajar satu bulan saja sudah sangat cepat berhitung.


Mulailah kepercayaan dirinya ditumbuhkan. Dari tempat Sasa kursus Sempoa, dia mulai ikut lomba SEMPOA antar kelab kursus. Dari paling dasar dia ikuti kejuaraan itu. Alhasil, menyabet juara. Saya lupa, juara berapa pastinya. Saat itu levelnya memang masih foundation. Akan tetapi, anaknya memang penuh semangat dan pantang menyerah. Ketika saya pulang ke Jambi, saya sempat menguji kemampuan berhitung cepat dengan metode SEMPOA itu. Tercengang dan kagum saya dibuatnya. Dalam hitungan detik dia langsung menjawab. Jawaban yang dia berikan pun tepat dan benar. Saya saja masih ngecek dengan kalkulator.

Biji-biji SEMPOA
Foto: Dok. Sasa
Setiap kejuaraan pun dia ikuti, semata-mata itu untuk menguji mentalitas dan kemampuannya dalam berhitung, baik menggunakan biji SEMPOA, maupun jari jemarinya, dan angka-angka yang dibayangkannya. Hari demi hari pun kemajuannya semakin pesat. Kejuaraan-kejuaraan tingkat daerah dan antar provinsi pun diikuti. Hasilnya, memang membanggakan, baik di tempat kelab kursusnya maupun diri dan orang tuanya.

Perkembangan pesat caranya menghitung pun sangat terasa. Hingga kejuaraan internasional SEMPOA di Singapura dari beberapa negara pun diikuti. Lagi-lagi dengan hasil juara. Meski begitu, kesehariannya layaknya anak biasa-biasa saja. Memang, jarang main di luar rumah. Hari-harinya diisi dengan beragam kursus, mulai dari SEMPOA, bahasa Inggris, juga musik. Kursus musik yang diambilnya pun tak main-main, pilihannya jatuh pada Gitar Klasik. Waduuh… saya sendiri saja ngebayangin gitar klasik sudah mumet sendiri. Lha ini, anak sebelas tahun dengan segudang talenta, bisa!

Nah, baru-baru ini, dalam kejuaraan nasional dan internasioan SEMPOA di Bali pun kembali diikutinya. Perhelatan tahunan SEMPOA ini menjadi salah satu ajang bergengsi dari masing-masing provinsi/negara yang mewakili tempat kelab atau kursus mereka untuk menujukkan pada dunia bahwa “Merekalah yang terbaik”. Ya, tak tanggung-tanggung, Sasa mengikuti dua kejuaraan sekaligus nasional dan internasional. Nasional, dia mengambil level intermediate, sementara untuk internasionalnya dia masuk ke dalam kategori dewasa karena berdasarkan kelompok umur 11-17 tahun.

Menunggu hasil kejuaraan merupakan pekerjaan yang membuat jantung ikut berolahraga (sport jantung). Betapa tidak, saya sempat bertanya ke Sasa, “Bagaimana soal yang diberikan di tingkat nasiona, Sa?” Dia jawab, “Susah, Om, dan Sasa sedikit dapat mengerjakan soalnya”.  Tetapi, saya meyakinkan dia bahwa dia bakal mendapatkan kembali piala juara itu. Ketika saya tanya untuk soal internasional dia justru bilang, bisa dikerjakan semua. Dan lagi-lagi saya hanya meyakinkan bahwa dua piala bakal dibawa pulang.

Agh benar dugaan saya, untuk kejuaraan SEMPOA di Bali baru-baru ini (8 Juli 2017), tingkat na sionalnya, Sasa mendapatkan 1st runner up, sementara untuk internasionalnya Sasa memperoleh 3rd runner up. Yah, artinya dia mampu mengalahkan diri sendiri, kepercayaan dirinya tumbuh semakin besar, dan mampu mengatasi setiap kesulitan. Lebaran dan setelah lebaran memang punya Sasa. Juara tak salah orang!  

Sasa, teruslah bermain  sambil belajar. Perjalananmu masih panjang. Bahagiamu bahagia kita semua. Sasa, bahagiakanlah orang-orang di sekitar dengan caramu. Tentunya, cara yang baik dan benar. Selamat juga, lulus di Sekolah Menengah Pertama favorit yang diidam-idamkan, SMP Negeri 7 Jambi. Semangat!!