Rabu, 25 Januari 2017

STABILO-DOODLE On Bogor Railway Station

STABILO merupakan pembuat stationary asal Jerman untuk kebutuhan menulis, mewarnai,  juga kosmetik. Menjadi produsen terbesar di dunia untuk spidol, pulpen, pena, juga Stabilo Boss. Alat-alat tulis ini kebanyakan digunakan untuk kebutuhan kantor, sekolah, juga kuliah.

STABILO  men-doodle di Stasiun Bogor
Foto: Dok. Pribadi
Meski telah memiliki nama, tetapi STABILO tak ingin berhenti mendengungkan dan menghasilkan bentuk-bentuk lain dari beragam alat tulis yang sudah ada. Mereka terus melakukan terobosan agar lebih dikenal lagi masyarakat luas.

Sebagaimana kita ketahui, STABILO didirikan sebagai perusahaan Grossberger & Kurz Bleistiftfabrik atau perusahaan pensil di Nuremberg pada 1855 bersama produsen pensil lain seperti Staedtler dan Faber-Castell, karena daerah tersebut dilingkupi oleh grafit dan tanah liat tambang.

Marker, salah satu produk STABILO
Foto: Dok. Pribadi
Kemudian diakuisisi oleh keluarga Schwanhäusser pada 1865. Mengambil bagian pertama dari nama keluarga, perusahaan ini berganti nama menjadi Schwan Bleistift Fabrik dan mulai menggunakan logo angsa sebagai salah satu merek dagang yang paling pertama. Pada 1909 Dermatograf Kosmestik pena telah diciptakan, yang terutama digunakan oleh ahli bedah untuk menandai kulit. Selama beberapa waktu, Schwan memiliki tiga merek; pensil premium Stabilo untuk pengguna yang paling menuntut kekuatan pensil, pensil Othello untuk pasar missal, dan Swano pensil bebas bahan beracun untuk anak-anak.

Contoh Pensil produk STABILO
Foto: Dok. Pribadi
Mulanya, nama perusahaan ini adalah Schwan Bleistift Fabrik lantas berganti nama menjadi Schwan-Stabilo pada 1976 untuk menghormati keluarga Schwanhäußer. Pada 1992, Schwan-Stabilo dibagi menjadi dua perusahaan terpisah, yaitu Schwan-Stabilo Kosmetik dan Schwan-Stabilo (alat tulis).

Kantor pusat perusahaan ini berada di Heroldsberg, Jerman dan memiliki tiga anak perusahaan produksi: 1) Weissenburg di Bayern, Jerman tempat stabilo diproduksi, didirikan pada 1986; 2) Johor Bahru, Malaysia tempat bolpoin diproduksi, didirikan pada  1976 sebagai Swan Malaysia; 3) Český Krumlov, Republik Ceko, tempat pensil berbasis kayu diproduksi, didirikan pada 1992.

Untuk meluaskan informasi kepada masyarakat, STABILO menggandeng Doodler cantik asal Tangerang, Tanti Amelia. Tanti Amelia, mempelajari doodle secara mendalam sejak tahun 2011. Selama ini dirinya, memang fokus mengerjakan ilustrasi (sketsa) gambar biasa. Dia membuat ilustrasi pertama kali ketika berada di Palembang. Saat itu Budenya (Jawa-red) minta dibuatkan desain baju, padahal usianya kala itu masih sangat belia, 11 tahun.

Tanti Amelia--Neng Doodle sedang doodling dengan STABILO
Foto: Dok. Pribadi
Lantas, pada 1994, dirinya mulai menekuni dunia gambar menggambar secara serius ketika di Nestle, saat sang boss pindah ke negara Swiss, dia membuat gambar Pabrik Permen. Kenapa Tanti Amelia boleh dibilang tergila-gila dengan gambar? Sepenggal kalimat terucap langsung dari bibirnya, “Aku, sejak mulai bisa bicara permintaanku pertama kali adalah spidol. Aku suka banget sama spidol”.

Tak dapat dipungkiri bahwa bakat yang terus menerus digali, lama kelamaan memunculkan sesuatu yang spektakuler. Melihat cara Neng—biasa Tanti Amelia disapa—menorehkan  setiap goresan alat tulis STABILO, goresan-goresan itu seolah bernyawa dan memiliki kekuatan. Doodle yang dibuatnya pun terasa hidup. Ini kali ya yang memang disebut BAKAT!
Mba Neng Doodle bersama para blogger pserta doodle
Foto: Dok. Pribadi
Untuk yang belum tahu mungkin, doodle merupakan gambar yang cukup simpel, akan tetapi punya makna yang mewakili bentuk-bentuk yang tak begitu nyata. Hal itu dapat kita lihat di lukisan abstrak dinding gua, coretan di buku catatan sekolah, atau di tembok-tembok rumah tepi jalan karena ulah iseng anak-anak yang tak punya niat masuk kelas alias bolos.

Alexander Puskhin memenuhi buku catatannya dengan banyak coretan sketsa tangan dan kaki teman-temannya. Pushkin membuat doodle dalam berbagai kesempatan. Beberapa doodle-nya pun dibuat film animasi oleh Andrei Khrzhanovsky dan Yuriy Norshteyn pada 1987 dengan judul My Favorit Time.

Pemenang Nobel  (sastra, 1913) penyair Rabindranath Tagore membuat sejumlah besar coretan di naskahnya. Penyair dan juga seorang dokter, John Keats mencoret-coret di pinggiran catatan medisnya; Sastrawan lain seperti Samuel Beckett dan Sylvia Plath juga membuat doodle. Matematikawan, Stanislaw Ulam mengembangkan Ulam spiral untuk visualisasi bilangan prima dan mencoret-coret catatannya saat menghadiri presentasi  membosankan di sebuah konferensi matematika. Banyak Presiden Amerika (termasuk Thomas Jefferson, Ronald Reagan dan Bill Clinton) pun membuat coretan-coretan selama pertemuan berlangsung. Di buku catatan Leonardo da Vinci pun ditemukan beberapa doodle dan gambar.
Salah satu doodling peserta
Foto: Dok. Pribadi
Doodling kali ini mengambil tempat di Stasiun Bogor dengan tema yang disesuaikan pula dengan tempatnya. Pada kesempatan itu, hadir Kepala DAOPS I Stasiun Bogor, Bapak John Berto beserta staf, Founder Kriya Indonesia Astri Damayanti beserta Tim, Komunitas Tau Dari Blogger, M. Sobari; perwakilan dari STABILO sebagai sponsor utama, Pak Rey dan Mba Irene, dan peserta doodle yang kebanyakan para blogger.

Pak Rey berkaos Oranye perwakilan dari STABILO
Foto: Dok. Pribadi
Sebelum para peserta membuat doodle, mereka diajak berkeliling stasiun Bogor oleh Kepala DAOPS 1 Stasiun Bogor. Mereka melihat ruang VIP stasiun bogor yang berada di  lantai atas. Setelahnya, mereka kembali ke ruang VIP bawah untuk memulai doodling.

Kepala DAOPS 1 Stasiun Bogor (memegang Mik) Bapak John Berto
Foto: Dok. Pribadi
Tanti Amelia mengawali pembuatan doodle dengan menorehkan garis sesuka hati pada kertas di satu white board. Sementara, para peserta (blogger) mengikuti dan membuat coretan sesuai keinginan mereka pula. Masing-masing peserta berkreasi menciptakan doodle sebagus yang mereka inginkan.  

Torehan garis Neng Doodle seolah bernyawa
Foto: Dok. Pribadi
Ada banyak torehan-torehan bermakna doodle yang dibuat peserta. Mba Neng pun kembali menunjukkan kebolehannya. Sembari peserta membuat doodle, dia membacakan setiap bentuk goresan peserta tersebut. “Doodle itu juga dapat menunjukkan watak seseorang lho”, ucap Mba Neng.

Neng Doodle saat diabadikan
Video: Dok. Pribadi
Ada doodle yang menunjukkan bahwa seseorang itu tegas, lembut, juga diantaranya. Mba Neng tak sekadar men-doodle, tetapi dia juga mempelajari watak dan karakter goresan tersebut. Dengan adanya hal ini, semoga Doodle dan Mba Neng Doodle terus berkarya dan menghidupkan doodle di negeri ini.


Tim KRIYA INDONESIA bersama STABILO
Foto: Dok. Pribadi


2 komentar:

mariasoraya.com mengatakan...

pertamax kakak !

deg2an ihhh waktu mak neng tanti mulai bacain karakter doodle beberapa peserta, ajaib dari sebuah garis bisa terbaca karakter seseorang

Elma Putri mengatakan...

acaranya seru yah :)