Wednesday, April 25, 2018

Hari Malaria Sedunia 2018: Indonesia Menuju Eliminasi Malaria 2030


 
Malaria, penyakit  yang bisa disembuhkan [Foto: Dok http://www.manualdomundo.com.br]
Apa yang terbayang di benak Anda ketika mendengar kata Malaria? Takut? Bergidik? Atau biasa-biasa saja? Untuk orang-orang sudah pernah mengidap penyakitnya, tentunya akan bilang takut dan bergidik. Sementara, untuk mereka yang memang tidak   pernah  terjangkit  penyakit ini mungkin biasa-biasa saja. Akan tetapi, waspada dan memperhatikan lingkungan sekitar itu sangat penting.

Malaria menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dapat menyebabkan kematian terutama pada kelompok risiko tinggi yaitu bayi, anak balita, juga ibu hamil. Selain itu, malaria secara langsung menyebabkan anemia dan dapat menurunkan produktivitas kerja. Penyakit ini juga masih endemis di sebagian besar wilayah Indonesia.

Dalam rangka pengendalian penyakit malaria banyak hal yang sudah maupun sedang dilakukan baik dalam skala global maupun nasional. Malaria menjadi salah satu indikator dari target Pembangunan Milenium (MDGs), ditargetkan untuk menghentikan penyebaran dan mengurangi kejadian insiden malaria saat sekarang yang dilihat dari indikator menurunnya angka kesakitan dan angka kematian akibat malaria.

Global Malaria Programme (GMP) menyatakan bahwa malaria merupakan penyakit yang harus terus menerus dilakukan pengamatan, monitoring dan evaluasi, serta diperlukan formulasi kebijakan dan strategi yang tepat.

Di dalam GMP ditargetkan 80% penduduk terlindungi dan penderita mendapat pengobatan Arthemisinin based Combination Therapy (ACT). Melalui Roll Back Malaria Partnership ditekankan kembali dukungan tersebut. Karena pentingnya penanggulangan Malaria, maka beberapa partner internasional, salah satunya Global Fund, memberikan bantuan untuk pengendalian malaria. Dalam pengendalian malaria, yang ditargetkan penurunan angka kesakitannya dari 2 menjadi 1 per 1.000 penduduk.

Program eliminasi malaria di Indonesia tertuang dalam keputusan Menteri Kesehatan RI No 293/MENKES/SK/IV/2009. Pelaksanaan pengendalian malaria menuju eliminasi dilakukan secara bertahap dari satu pulau atau beberapa pulau sampai seluruh pulau terkover untuk terwujudnya masyarakat yang hidup sehat yang terbebas dari penularan malaria sampai tahun 2030.
 
dokter Elizabeth Jane Soepardi, MPH, DSc, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia [Foto: Dok http://nakita.grid.id]
Pada hari Selasa (24/04/2018) Kementerian Kesehatan RI mengadakan temu blogger dalam rangka hari Malaria Sedunia yang jatuh pada 25 April 2018. Bertempat di Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI, Kuningan, Jakarta Selatan.

Hadir pada kesempatan itu sekaligus pembicara, Ibu Dr. Elizabeth Jane Soepardi, MPH, Dsc, selaku Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan RI. 

“Seberapapun besar dana yang dikeluarkan pemerintah, kalau pemberantasan malaria tidak didukung oleh masyarakat, tentunya, penyakit malaria tidak akan pernah tuntas,” ucap  Dokter Jane saat pemaparannya di hadapan para blogger pada Selasa (24/04/2018).

Bagaimana Komitmen Pemerintah Terhadap Penyakit Malaria?
Sebenarnya, sejak presiden pertama negeri ini ada, hingga presiden sekarang, bahwa Soekarno sendiri telah memulai program pemberantasan malaria yang dilakukan di Yogyakarta dengan menyemprotkan DDT.

Di era SBY pada 2009, program eliminasi malaria mulai dicanangkan. Dan di era Jokowi pada 2014 bersama kepala negara di Asia Pasifik telah berkomitmen mencapai eliminasi malaria pada 9th East Asia Summit tahun 20130.

Ini artinya, pemerintah memang konsen untuk mengentaskan penyakit malaria yang menjadi momok penyakit menular hampir di seluruh  negara di dunia, terutama di Indonesia.

Apa Sih Malaria Itu?
Malaria berasal dari bahasa Italia, yang artinya mal (buruk) dan area (udara). Jadi, secara harfiah punya arti penyakit yang sering timbul di daerah dengan udara buruk akibat lingkungan buruk. Selain itu, dapat diartikan sebagai penyakit infeksi dengan gejala demam berkala yang disebabkan parasit Plasmodium (Protozoa) dan ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina.

Ada  banyak istilah untuk malaria, yaitu paludisme, demam intermitens, demam Roma, demam Chagres, demam rawa, demam tropik, demam pantai, dan ague. Dalam sejarah tahun 1938 pada Countess d’El Chincon, istri Viceroy dari Peru, telah disembuhkan dari malaria dengan kulit pohon kina, sehingga nama quinine digantikan dengan cinchona.

Penyebab Penyakit Malaria
Penyakit malaria disebabkan oleh Protozoa genus Plasmodium. Terdapat empat spesies yang menyerang manusia yaitu:
·         Plasmodium falciparum (Welch, 1897) menyebabkan malaria falciparum atau malaria tertiana maligna/malaria tropika/malaria pernisiosa.
  • Plasmodium vivax (Labbe, 1899) menyebabkan malaria vivax atau malaria tertiana benigna.
  • Plasmodium ovale (Stephens, 1922) menyebabkan malaria ovale atau malaria tertiana benigna ovale.
  • Plasmodium malariae (Grassi dan Feletti, 1890) menyebabkan malaria malariae atau malaria kuartana.
Selain empat spesies Plasmodium tersebut, manusia juga bisa terinfeksi oleh Plasmodium knowlesi yang merupakan plasmodium zoonosis dengan sumber infeksi kera.
Penyebab terbanyak di Indonesia dari Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax. Untuk Plasmodium falciparum menyebabkan komplikasi berbahaya, sehingga disebut juga malaria berat.

Apabila seseorang terkena gigitan nyamuk Anopheles, maka orang tersebut akan terjangkit penyakit malaria dan dapat menularkan ke orang yang tidak sakit. Oleh karenanya, orang-orang yang tidak terkena malaria, sebaiknya berhati-hati terhadap orang yang menderita penyakit malaria.

Intervensi malaria pada manusia menurut dokter Jane adalah dengan menghilangakn parasit pada manusia dengan menemukan kasus dan mengobati hingga tuntas. Selain itu mencegah gigitan nyamuk yang beredar di malam hari dengan memasang kelambu, reppelen, tanaman pengusir nyamuk, dan sebagainya. Atau dengan membunuh larva nyamuk, mengurangi populasi nyamuk melalui manajemen lingkungan penyemprotan menggunakan insektisida di dinding rumah.

Tanda-Tanda Gejala Malaria
Jangan anggap enteng ketika Anda atau anggota keluarga Anda menderita demam menggigil secara berkala sakit kepala. Wajah tampak pucat dan lemah karena kurang darah. Juga terjadi mual dan muntah, nafsu makan pun berkurang dan terkadang mengalami diare.

Gejala-gejala tersebut patut kita khawatirkan dengan segera melakukan pemeriksaan ke tenaga medis setempat. Sebelum terlambat, lebih baik mencegah. Karena banyak dampak atau akibat yang akan ditimbulkan jika penanganannya terlambat dilakukan.

Lama kelamaan daya tahan tubuh semakin menurun begitu pun semangat kerja. Kalau terjadi pada anak-anak pertumbuhan otaknya akan terganggu. Sementara untuk ibu hamil, akan mengalami keguguran hingga kematian. Pun kalau melahirkan bayi yang dilahirkan prematur dan berat bayi sangat rendah.

Malaria dapat menghilangkan kesadaran penderitanya bahkan hingga hilang ingatan. Napas bergerak cepat, pingsan, hingga koma. Ujung-ujungnya meninggal dunia. Antisipasi secara dini penyakit ini menjadi keniscayaan semua pihak. Keterlibatan warga tentunya sangat diharapkan. Pemerintah tidak juga lepas tangan.

Pemeriksaan laboratorium (mikroskopis) atau RDT (Rapid Diagnostic Test) diperlukan. Obat yang digunakan berupa ACT (Artemisinin Based Combination Theraphy) dengan jenis Dihidroartemisinin-Piperakuin ditambah primakuin.

Obat tersebut diminum setelah makan  hingga habis berdasarkan takaran atau dosis yang diberikan. Dengan jenis penyakit seperti Malaria Tropikana (Falsiparum) hanya tiga hari, Malaria Tertiana (Vivax) hingga 14 hari untuk mencegah terjadinya kambuh. Jjika obat habis dan belum sembuh, penderita harus segera datang ke layanan kesehatan setempat.

Bagaimana Pemeriksaan Malaria?
Untuk memeriksa seseorang terjangkit malaria atau tidak, mesti dilakukan  pemeriksaa. Pemeriksaan melalui sediaan darah. Dapat dilakukan dengan cara berikut.
1.    Menggunakan mikroskop
Hal ini untuk mendapati parasit malaria pada sediaan darah yang perlu waktu 1-2 jam.
2.    Menggunakan RDT
RDT berguna untuk mendeteksi antigen parasit malaria yang memerlukan waktu hanya 20-30 menit saja.

Nah, nyamuk malaria menggigit korban di malam hari, baik  ketika orang tersebut ada di dalam rumah maupun di luar rumah. Anopheles saat menggigit dengan posisi tubuh menungging.

Perlu ekstra hati-hati terhadap nyamuk malaria Nyamuk ini dapat kita temukan di genangan air seperti rawa-rawa, laguna, muara sungai, tambak, saluran irigasi, persawahan, bahkan mata air.

Mencegah lebih baik dari mengobati, ini menjadi hal yang paling tepat untuk tidak saja malaria. Akan tetapi, mencegah penyakit malaria tidak serta merta hadir begitu  saja. tidak juga peran penuh pemerintah. Masyarakat mesti turut serta ambil  bagian, terutama membersihkan lingkungan agar tidak menjadi sarang nyamuk dengan menggerakan masyarakat lainnya melalui pembersihan lingkungan, mengeringkan air tergenang, juga membersihkan lumut pada mata air dan danau.

Mengurangi pembiakan nyamuk dengan menebar bibit ikan  pemakan jentik (ikan kepala timah, nila merah, gapi-gapi, mujair dan sebagainya) ke kolam, lagun, dan air tergenang. Juga bisa menebar larvasida atau racun jentik. Tak kalah penting menanam tanaman pengusir nyamuk.

Untuk menghindari dan mencegah nyamuk malaria agar tidak menggigit disarankan untuk tidur menggunakan kelambu, memakai obat anti nyamuk, memasang kawat kasa  pada lubang angin atau ventilasi rumah. Menggunakan obat anti nyamuk oles juga dapat dilakukan. Ketika keluar rumah di malam hari, hendaknya menggunakan baju dan celana panjang atau sarung.

Banyak tanaman atau tumbuhan pengusir nyamuk yang dapat dipakai. Seperti serai, zodia, rosmeri, lavender, tahi ayam atau marigold, juga kecombrang. Nah, bunga atau tanaman ini mampu meminimalisir nyamuk di sekitar rumah kita karena adanya kandungan minyak atsiri yang terdapat di dalamnya.

Dokter Jane berpesan untuk para travel blogger atau siapapun itu yang akan berwisata atau melakukan perjalanan ke daerah endemik malaria, untuk mencegah terjangkit malaria sebelum menghinggap, dengan cara minum obat doksisiklin  1 x 1 kapsul per hari. Mulai dua hari sebelum berangkat ke daerah malaria hingga empat minggu setelah keluar dari daerah.
Nah, traveler mesti mengetahui ABC pencegaha malaria, yaitu:

A: Awas dan perhatikan faktor yang menyebabkan risiko,cara penularan, cara pencegahan, masa inkubasi gejala dan tanda.

B: Biasakan menghindari gigitan nyamuk selama  di daerah endemik dengan menggunakan kelambu saat tidur, tidak keluar malam kalau tidak terpaksa. Kalau keluar malam karena terpaksa gunakan baju lengan panjang dan terang serta memakai lotion antinyamuk.

C: Cek darah segera ke tanaga kesehatan kalau ada gejala demam selama  di tempat singgah hingga satu bulan setelah kemabli dari daerah endemik dan ceritakan riwayat perjalanan kita ke tenaga medis bersangkutan.

Pemerintah kian gencar untuk mengeliminasi malaria dari Indonesia.Apa sih sebenarnya eliminasi yang dimaksud? Ya, eliminasi malaria sebagai upaya menghentikan penularan malaria setempat dalam satu wilayah geografi tertentu, dan bukan berarti tidak ada kasus malaria impor serta sudah tidak ada vektor di wilayah tersebut, sehingga tetap diperlukan kegiatan  kewaspadaan untuk mencegah penularan kembali.

Tantangan Eliminasi Malaria di Indonesia
Untuk mengeliminasi malaria di negeri ini tidak berarti mulus-mulus saja. Ada saja tantangan untuk mencapai eliminasi menuju tahun 2030 , yaitu:
  1.   Adanya perbedaan tingkat endemisitas malaria di Indonesia yang sangat bervariasi mulai dari yang tinggi tingkat endemisitas hingga tak adanya penularan malaria yang tersebar menurut kabupaten, kecamatan, dan desa bahkan sampai ke dusun dan satuan terkecil masyarakat di pedesaan/kelurahan.
  2. Tersedianya nyamuk penular malaria yang cukup banyak, baik yang dipengaruhi sesuai habitat Asia, Australia dan berada di antara kedua kawasan tersebut.
  3. Infrastuktur kesehatan yang masih belum merata di berbagai daerah terutama di daerah yang sangat terpencil di pedalaman maupun yang berada di kepulauan terpencil.
  4. Tingkat kemampuan daerah dalam pembiayaan kesehatan yang sangat berbeda menurut kemampuan sumberdaya alam di masing masing wilayah.
  5. Sumberdaya tenaga kesehatan yang tersedia dan keterampilannya dalam mengelola program dan kemampuan teknis untuk mengeliminasi malaria.
  6. Dukungan penelitian untuk menopang kegiatan eliminasi malaria yang masih lebih banyak berada di kawasan barat Indonesia.
  7. Dukungan peraturan perundang-undangan menuju eliminasi yang masih terbatas dalam mengarahakan masyarakat untuk berperilaku mendukung upaya eliminasi malaria di Indonesia.
  8. Perpindahan penduduk yang cukup tinggi antar-daerah dan antar-pulau yang mengakibatkan pengendalian malaria perlu lebih waspada tentang jalur perpindahan penduduk tersebut.
  9. Indonesia berbatasan dengan negara-negara yang mempunyai tingkat endemisitas malaria  tinggi, antara lain Timor Leste dan Papua New Guinea.

Tindak Lanjut Menuju Eliminasi Malaria di Indonesia:
Untuk menuju eliminasi tahun 2030 diperlukan peran serta semua wilayah Kabupaten dan Kota dengan penularan malaria dapat bergerak bersama sama menyelesaikan permasalahan malaria d iwilayahnya sesuai tahapan yang ada. Untuk itu diperlukan tindak lanjut sebagai berikut.
  1.  Pelatihan tenaga di Provinsi untuk melakukan pemetaan tahapan eliminasi di Kabupaten/Kota.
  2. Melakukan pemetaan Kabupaten/kota untuk mengetahui status dalam tahapan eliminasi.
  3. Komitmen daerah dalam pelaksanaan tahapan-tahapan pengendalian malaria di Kabupaten secara berkesinambungan.
  4. Komitmen yang menyangkut kebijakan daerah yang mendukung, perencanaan, alokasi penganggaran, dukungan legislasi dan pengawasan, dukungan swasta dan partisipasi masyarakat.
Ayo kita sukseskan Hari Malaria Sedunia  pada 25 April 2018. Ready to Beat Malaria: Bebas Malaria, Prestasi Bangsa. #AkhiriMalaria



Wednesday, April 18, 2018

Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ): Perlahan Tapi Pasti Mengurai Kemacetan, Pindah ke Angkutan Umum, Mengapa Tidak?!


 
Kemacetan Jakarta di jam-jam padat kendaraan [Foto: Dok www.quora.com]

Transportasi, telah menjadi bagian penting dari perkembangan satu kota, apalagi kota metropolitan Jakarta,  yang masyarakat menyebutnya dengan ‘Megapolitan’. Jakarta yang semakin maju dan berkembang, baik secara luas maupun kepadatan kota, membuat warga maupun pendatang di Jakarta perlu moda transportasi dan tempat tinggal layak huni untuk menghindari kemacetan.

Moda transportasi publik yang saat ini sedang giat dikerjakan dan dibangun pemerintah berupa moda transportasi angkutan umum Mass Rapid Transit (MRT) atau Transportasi Massal Cepat dan Light Rail Transit (LRT) atau Kereta Cepat Ringan.

Dua moda transportasi publik kontemporer ini menjadi penting sebagai bagian dari upaya pemerintah mengatasi kemacetan yang sudah menjadi aktivitas sehari-hari di ibukota. Diharapkan, dengan hadirnya MRT dan LRT, kemacetan dapat terurai dan jam-jam kerja menjadi semakin produktif ketimbang sekadar dihabiskan di jalan raya.

Untuk banyak pemerintah di dunia, transportasi menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan perkotaan. Masyarakat urban perlu fasilitas untuk beragam aktivitas, seperti akses cepat ke tempat kerja, ruang huni nyaman dan bebas macet, atau tempat tinggal (pemukiman) layak dan nyaman. Terpenting lagi urusan transportasi yang cepat, lancar, serta nyaman untuk tiba di tempat kerja.

Untuk pemerintah sendiri, khususnya DKI Jakarta, urusan transportasi publik jadi hal yang sangat mendesak segera diselesaikan, mengingat dampak yang dibawa serta menyangkut banyak aspek kehidupan warga. Transportasi yang jelek menyebabkan munculnya banyak keluhan untuk ibukota Jakarta ini. Hal ini dapat pula memberi efek negatif terhadap kehidupan warganya. 

Jakarta menjadi tempat untuk segala rupa urusan. Terlepas dari citra Jakarta yang macet dan semrawut, Jakarta tetap menjadi  kota impian bagi warga negeri ini. Jakarta seperti kantung madu yang dikerubuti jutaan semut, yang untuk itu mereka mesti saling menggigit dan menginjak.

Kedudukan Jakarta sebagai ibukota negara, pusat pemerintahan sejak zaman kolonial, bertambah-tambah urusan menjadi berkelindan dengan posisi Jakarta sebagai sentra ekonomi (bisnis) dunia. Sekitar 70% uang beredar di wilayah Jakarta, kegiatan budaya urban dan tradisional dari beragam komunitas yang mendekam di Jakarta dan sekitarnya.

Membongkar soal transportasi di negeri ini menjadi kajian dengan masalah yang begitu dinamis. Penduduk mesti tahu secara “njelimet” transportasi dengan sudut pandang bening, dan tidak menjerit, “Maceet!” Sulitnya birokrasi dan tetek bengek urusannya! Siapa tahu, publik juga bisa kritis, cerdas, dan memberi serta menciptakan satu solusi terkait hal transportasi.

Ketika kita bicara transportasi di negeri ini, menjadi satu masalah yang benar-benar begitu dinamis dan membuat pikiran “gatal bergerak”. Masalah ini begitu lekatnya di kehidupan kita sehari-hari juga merata tersebar. Artinya, saya, kita, dan siapapun akan merasa “merana”, “kecewa”, bahkan “sengsara”. Dari sinilah, BPTJ (Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek) punya peran besar dan aktif membuat data terhadap masalah, mencari solusi, dan mengikutsertakan masyarakat, khususnya generasi muda sekarang, juga para blogger untuk  bersama berpikir.
Rekan-rekan Blogger bersama BPTJ [Foto: Dok Pri]
Pada Senin (16/04/2018) BPTJ bersama Blogger bicara soal transportasi publik yang perlahan-lahan mulai ditinggalkan. Orang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi. Padahal, kalau dihitung-hitung, kendaraan pribadi justru memberikan kontribusi macet yang lumayan panjang. Bayangkan saja, satu kendaraan mobil tiap hari di Jakarta hanya digunakan oleh satu orang. Apakah ini tidak akan menambah deret panjang kemacetan?

Padahal pihak swasta sudah menyediakan transportasi publik yang bisa dipakai warga Jakarta untuk melaju ke kantornya masing-masing. Gengsi? Gerah? Bau? Keringatan? Ah, ini sih hanya alasan klise saja menurut saya. Kini, pun kalau mau dilihat, transportasi publik sudah nyaman.

Pengalaman pribadi saya menggunakan kereta ekonomi untuk mencapai tempat tujuan. Dari rumah ke stasiun saya menggunakan motor dan kendaraan saya itu “numpang” parkir di stasiun yang hanya bayar 5 ribu rupiah saja. Lantas saya sambung dengan kereta ekonomi. Kereta ekonomi sekarang sudah sangat jauh berbeda. Di dalam kereta bersih, wangi, dan ber-AC lagi.

Tidak ada yang namanya pedagang asongan, ayam, kambing, “bengkel” sepeda hadir di  dalamnya. Jauuuh sangat rapi dan tertib. Nah, mestinya masyarakat kita sudah pintar untuk memilih  menghindari macet di jalanan agar tak terlambat sampai tujuan. 
Kini pun banyak dibangun strata title mengusung konsep TOD yang dekat langsung dengan jalur transportasi publik. Memang membangun kesadaran berkendara dari diri sendiri minimal. Minimal, penggunaan transportasi publik dapat ‘sedikit’ memberi solusi macet yang sudah ampun-ampunan di ibukota ini.
Kepala Badan BPTJ, Bambang Prihartono [Foto: Dok www.kompas.com]
Di kesempatan itu pula, Kepala BPTJ, Bambang Prihartono menyampaikan, aturan ganjil genap yang diberlakukan di jalanan ibukota bukan untuk memilih atau memisahkan kendaraan yang melintas. Justru, pemerintah mencari solusi yang tepat. Sama halnya dengan kemacetan yang dialami di tol Jakarta-Cikampek.

Pemberlakuan ganjil genap ini tak pilih kasih. “Baik, truk, mobil pribadi, ataupun proyek-proyek yang sedang dibangun, semua menyebabkan macet”, ucap Bambang ketika bertemu dengan para Blogger (16/04).

Beberapa kebijakan BPTJ mengatasi kemacetan jalan Tol Jakarta-Cikampek dibuat dalam tiga aturan. Pertama, adanya pembatasan operasional angkutan yang dimulai pukul 6-9 pagi di beberapa ruas jalan (Cawang-Karawang Barat (dua arah)). Ini diterapkan di hari Senin-Jumat, kecuali libur nasional dan mobil angkutan BBM dan BBG.

Kedua, peraturan ganjil genap di tol Bekasi Timur & Bekasi Barat sebelum masuk tol menuju Jakarta. Diberlakukan mulai pukul 6-9 pagi WIB di hari Senin-Jumat, kecuali libur nasional. Ketiga, dengan aturan ini, diharapkan warga tidak banyak menggunakan angkutan pribadinya melintas tol. 
Hananto Prakoso-BPTJ [Foto: Dok Pri]
BPTJ membuat lajur yang dikhususkan untuk Angkutan Umum (LKAU) di sisi paling kiri jalan tol. Lajur itu diutamakan untuk angkutan umum bus. Prioritas KLAU Bekasi Timur  arah Jakarta danBus Transjabodetabek Premium pukul 6-9 pagi WIB di hari Senin-Jumat, kecuali di libur nasional.

Upaya-upaya BPTJ untuk mengurangi kemacetan mestinya didukung masyarakat pengguna moda transportasi pribadi beralih ke moda transportasi umum.
“Mindset birokratnya juga perlu diubah, bahwa yang merasakan macet berkepanjangan itu warganya”, ucap Bambang.

Sebenarnya, dari sejak dulu Kementerian Perhubungan sudah mengeluarkan kebijakan dan berupaya mengurai benang kusut macet ibukota, akan tetapi tranportasinya justru tidak ada perkembangan. Kehadiran BPTJ membawa perubahan baru mengantisipasi macet di beberapa ruas jalan ibukota.

Hal ini tak lain adalah masyarakat yang terus menerus diedukasi dan mengerti bahwa penggunaaan kendaraan pribadi bukan mustahil tidak berdampak di jalan raya. Tetapi menjadi penyumbang macet yang tidak terelakan. Kehadiran BPTJ menjadi salah satu solusi  yang tepat mengurai macet, warga memperoleh edukasi yang baik dan benar, dan warga pun mau beralih ke moda transportasi publik.

Edukasi memindahkan orang yang tadinya kukuh menggunakan kendaraan pribadi, lantas beralih ke transportasi publik  itu  bukan instant hadir. Edukasi yang memang perlu effort dan berkepanjangan. Mindset warga diubah perlahan-lahan, bagaimana mereka “ikhlas/rela/rida”, jalan kaki  pindah bus hingga sampai kantor.

Bayangkan saja, kalau kita menggunakan transportasi umum, itu negara sudah menghemat sekitar 145 triliun rupiah untuk operasional, bbm, dan tetek bengek lainnya. Dana sebesar itu bisa saja dialihfungsikan untuk memperbaiki dan memperlebar ruas jalan. Ya, bicara segampang membalikkan telapak tangan. Tetapi, BPTJ perlahan-lahan berhasil membuktikannya.
Toni Tauladan-BPTJ [Foto: Dok Pri]
Ucapan petinggi BPTJ ini benar dilakukan lho ternyata. Secara tak sengaja, ketika saya akan pulang dan keluar dari parkir, saya melihat Pak Toni Tauladan, menunggu angkutan umum. Nah, yang seperti ini menjadi contoh untuk pejabat/petinggi lainnya di BPTJ.  Pak Toni Tauladan pun bilang, Perpindahan itu perlu waktu. Setuju pak!

Karena pergerakan orang di Jabodetabek yang per harinya mencapai angka 48 juta, BPTJ pun saat ini sedang mempersiapkan RITJ. Sekitar 60%-nya akan didominasi oleh angkutan umum. Itu artinya, warga bisa mengakses kendaraan umum yang nyaman dilengkapi AC untuk sampai ke tempat tujuan tanpa susah-susah.

Sebenarnyalah, pemerintah dalam hal ini BPTJ sudah sangat berusaha mengatasi macet dengan segala bentuk perlakuan, kesadaran masyarakatlah yang diperlukan. Beralih ke moda transportasi umum itu jauh lebih baik dan menekan pengeluaran biaya. 

Satu hal juga yang tak bisa dipungkiri adalah perubahan tata ruang otomatis membuat fasilitas transportasi berubah. Moda transportasi umum sudah harus menjadi kelas premium yang dilengkapi Wi-Fi, Seatbelt, dan kendaraan berangkat dari pemukiman warga.  Jadi, ayuuk ramai-ramai kita naik angkutan umum.

Tuesday, April 17, 2018

2nd International Conference and Expo On Indonesian Sustainable Palm Oil 2018: Dari Isu Merusak Lingkungan, Uni Eropa yang Menjegal, hingga ISPO Sawit Indonesia Perlu Percepatan


2nd International Conference and Expo On Indonesian Sustainable Palm Oil [Foto: Dok Pri]

Industri minyak sawit merupakan industri strategis dalam perekonomian Indonesia, baik untuk sekarang maupun untuk masa depan. Dikatakan industri strategis karena kontribusi industi minyak sawit yang cukup besar, baik dalam ekspor nonmigas, kesempatan kerja, pembangunan daerah pedesaan, dan pengurangan kemiskinan.

Selain itu, industri minyak sawit ke depan juga akan menjadi bagian penting dari sistem kedaulatan energi Indonesia. Tidak banyak sektor ekonomi apalagi pada level komoditas yang dapat berkontribusi besar, inklusif, dan meluas seperti industri minyak kelapa sawit.

Di beberapa dekade terakhir ii, berbagai isu sosial, ekonomi, dan lingkungan dipakai oleh beberapa LSM anti sawit sebagai kampanye  negatif atau hitam terhadap industri sawit Indonesia. Jika hal ini didiamkan, selain menyesatkan banyak orang, juga dapat merugikan industri minyak sawit Indonesia itu sendiri.

Oleh karena itu, kita memerlukan edukasi publik untuk mengoreksi pandangan-pandangan yang telanjur keliru di masyarakat mengenai industri minyak sawit. Kampanye negatif tentang industri sawit sudah ada sejak lama. Sejak Indonesia mulai mengembangkan pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR) Kelapa Sawit di awal tahun 1980-an.

Kekhawatiran produsen minyak kedelai kalah bersaing dengan minyak sawit sebagai pemicu intensifnya kampanye negatif untuk minyak sawit.

Awalnya, tema kampanye hanya terbatas isu gizi atau kesehatan yang mempengaruhi konsumen, tetapi 15 tahun terakhir kampanye negatif telah melebar pada aspek ekonomi sosial, dan lingkungan khususnya yang terkait dengan perhatian masyarakat global.

Skenario baru dibuat untuk mengentikan pertumbuhan bahkan menghancurkan industri sawit itu sendiri. Strategi kampanye yang ditempuh juga makin terstruktur, sistematis, dan massif. Melibatkan LSM anti sawit trans-nasional dan lokal. Secara intensif menggunakan media massa baik nyata maupun maya.

Kampanye tidak lagi sekadar mempengaruhi opini publik global, tetapi juga menggunakan semua jalur mulai dari jalur konsumen, produsen, industri, dan kelembagaan pendukung, hingga jalur pemerintah.

Baca Juga:



Lembaga pemerintah pun mendapat pressure keras untuk mengeluuarkan kebijakan yang mengekang industri minyak sawit. Pandangan keliru yang terhadap industri minyak sawit dapat mengancam masa depan industri minyak sawit  nasional sebagai salah satu industri strategis dalam perekonomian Indonesia.

Ekonomi minyak sawit yang menjadi sumber pendapatan jutaan  penduduk, melibatkan  jutaan unit usaha keluarga, usaha kecil dan menengah setidaknya di 190 kabupaten dan penyumbang terbesar devisa negara nonmigas, merupakan taruhan dampak  kampanye hitam LSM anti sawit.
 
Peserta Konferensi ISPO 2018 [Foto: Dok Pri]
Sejalan dengan hal ini, pada tanggal 11-12 April 2018, dilaksanakan 2nd International Conference and Expo On Indonesian Sustainable Palm Oil 2018 yang di gagas oleh Media Perkebunan.

Kita ketahui, bahwa nilai ekspor minyak sawit Indonesia pada tahun 2017 mencapai titik  puncaknya. Hal ini tidak lain karena hubungan industrial yang sangat baik terjalin secara dinamis, harmonis, juga adil.
 
Beberapa perusahaan penerima penghargaan [Foto: Dok Yulia Rahmawati]
Sebagaimana yang disampaikan Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Dirjen PHI dan Jamsostek) Kemenaker Haiyani Rumondang, mewakili Menaker Hanif Dhakiri yang menjadi pembicara di  2nd International Conference and Expo on Indonesian Sustainable Palm Oil (ICE-ISPO) 2018 di Balai Kartini, pada Jumat (13/4/2018), di Jakarta.




Beberapa perusahaan peserta pameran Konferensi [Foto: Dok Pri & Yulia Rahmawati]

"Dalam rangka meningkatkan daya saing minyak sawit Indonesia di pasar dunia, Pemerintah telah menetapkan standar nasional minyak sawit yaitu Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO) dengan menetapkan beberapa prinsip dan kriteria," ucapnya.

Prinsip ke-4 ISPO tersebut, ucapnya,  mengatur mengenai tanggung jawab terhadap pekerja. Hal itu, meliputi keselamatan dan kesehatan kerja, kesejahteraan dan peningkatan kemampuan pekerja, serta larangan perusahaan perkebunan mempekerjakan anak di bawah umur, dan melakukan diskriminasi sesuai peraturan perundang-undangan.

"Selain itu prinsip ke-4 ISPO juga mengatur perusahaan perkebunan harus memfasilitasi terbentuknya Serikat Pekerja. Dalam rangka memperjuangkan hak-hak pekerja dan perusahaan perkebunan juga harus mendorong dan memfasilitasi pembentukan koperasi pekerja dan karyawan,"  terangnya.



Kultur Jaringan Kelapa Sawit [Foto: Dok Pri]

Budidaya kelapa sawit berkelanjutan menurut “cara” Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) hanya perlu percepatan  dan bukan penguatan. Oleh karenanya CPO yang dihasilkan dapat mencapai 100% bersertifikat ISPO.

Seperti yang disampaikan Sekretaris Jenderal  Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia (GAPPERINDO), Bapak Gamal Nasir dalam pembukaan International Conference and Expo – Indonesia Sustainable Palm Oil (ICE-ISPO), di Balai Kartini beberapa waktu lalu.

Pak Gamal mengatakan, bahwa yang diperlukan bukan Peraturan Presiden (Perpres) mengenai hal-hal teknis ISPO serta perubahan struktur organisasinya, tetapi yang diperlukan Instruksi Presiden (Inpres) untuk  Menteri Pertanian, Menteri Lingkungan Hidup, dan Kehutanan, Menteri Agraria dan Tata Ruang, juga Menteri Keuangan untuk mempercepat pelaksanaan ISPO.

Fakta tentang sawit [Foto: Dok Pri]

“Hal yang diperlukan itu bagaimana seluruh produk kelapa sawit dapat tersertifikasi ISPO melalui Inpres,” jelas Pak Gamal.

Di laih hal  Pak Gamal mengingatkan, sertifikat ISPO berbeda dengan sertifikat SVLK (Sistem Verifikasi Legalitas Kayu),  karena SVLK sebagai sertifikasi produk akhir. Pohonnya ditebang, kayunya diambil dan disertifikasi. Sementara itu, tempat pohon ditanam sudah tidak dipedulikan lagi.

Sertifikat ISPO itu setelah crude palm oil (CPO)-nya diambil, pohonnya harus dipelihara sesuai peraturan dan prinsip-prinsip dalam ISPO. Peran pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjetbun) menjaga dan mengawal bagaimana tata kelola perkebunan kelapa sawit bisa dilakukan.

“Oleh karena itu, kalau Komisi ISPO menjadi lembaga independen (tak memihak) di luar Ditjebun, Kementerian Pertanian, tidak tepat. Apalagi nantinya lembaga sertifikasi dikasih mandat penuh mengeluarkan sertifikat tanpa melalui sidang Komisi ISPO. Prinsip dan kriteria ISPO semuanya ada dalam UU. Bahkan, cara kerja dan metode lembaga independen juga harus mengacu pada UU,” urai Pak Gamal.

Hal yang sama juga disampaikan  Aziz Hidayat selaku Ketua Sekretariat ISPO. Bahwa tujuan ISPO itu telah melingkupi seluruh hal yang diinginkan oleh dunia internasional, yaitu, mendorong usaha perkebunan untuk mematuhi semua peratuaran pemerintah, meningkatkan kesadaran pengusaha kelapa sawit untuk memperbaiki lingkungan dan melaksanakan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan untuk meningkatkan daya saing.

“Sekarang yang perlu dilakukan upaya meningkatkan keberterimaan ISPO di dunia internasional karena apa yang mereka mau sama dengan tujuan kita,” jelas Azis.

Dengan adanya keberterimaan ISPO di dunia,  mau tidak mau Uni Eropa yang ingin menjegal  produk sawit Indonesia, melek mata. Sawit Indonesia telah memiliki standar ISPO yang tidak main-main dan dapat dipertanggungjwabkan. Uni Eropa seringkali menghembuskan angin-angin kontradiktif terhadap sawit Indonesia di dunia internasional. Ini yang mesti dihalau.
 
Pusat Penelitian Kelapa Sawit [Foto: Dok Pri]
Dikatakan mereka,  sawit merusak lingkungan dan adanya pelanggaran HAM, karena mempekerjakan anak di bawah umur di perkebunan. Isu-isu tak beralasan ini yang membuat sawit Indonesai dalam keadaan terancam. Jadi, pemerintah sudah saatnya bertindak tegas demi kepentingan negara dan bangsa dan meningkatkan daya saing sawit Indonesia di mata dunia. 


Derivat (produk turunan) Kelapa Sawit [Foto: Dok Pri]