Rabu, 22 November 2017

MAN 3 Malang, Acuan Sekolah Madrasah Unggulan di Indonesia




Bicara sekolah, terutama sekolah yang berlandaskan agama, menjadi  nilai tersendiri di mata orang tua. Model sekolah seperti madrasah, kini makin diminati, mengapa? Tidak saja karena dibekali ilmu-ilmu umum, tetapi terpenting ilmu agama sebagai dasar dan pegangan untuk mencetak generasi Islami yang kuat dan mandiri. 
 
Madrasah Terpadu Malang dalam IIEE 2017 [Foto: Dok Pri]
Landasan agama menjadi pegangan ketika mereka menuntut ilmu. Madrasah salah satunya, sebagai sekolah yang mampu menciptakan keseimbangan hidup, dunia dan akhirat. Nah, salah satu sekolah yang terintegrasi dalam satu kesatuan sistem pendidikan adalah sekolah madrasah terpadu kota Malang.

Madrasah terpadu kota Malang terdiri dari Madrasah Ibtidaiyah (setingkat sekolah dasar), Madrasah Tingkat Tsanawiyah (setingkat SMP), dan Madrasah Aliyah (setingkat SMA). 

Terbentuknya Madrasah terpadu ini, menurut Mashudi, salah seorang guru di MTsN 1 kota Malang, dulunya berasal dari Pendidikan Guru Agama (PGA) negeri Malang. PGA tersebut meliputi PGA  4 tahun, PGAP 4 tahun, dan PGAA 6 tahun. 


Suasana IIEE 2017 di ICE BSD,Tangerang Banten [Foto: Dok Pri]

Sementara, MIN mulanya sebagai sekolah latihan dari PGA. Namun, sekitar tahun 1977 PGA dihapuskan, PGA 4 tahun berubah menjadi MIN, PGAP 4 tahun menjadi MTs, dan PGAA 6 tahun sebagai  MAN.

“Alhamdulillah, kami berjuang tahap demi tahap, MIN dimajukan terlebih dahulu. Saat MIN sudah maju bertaraf internasional, lalu merambah ke MTs dan MAN. Dulu, kawasan Jalan Bandung itu menyedihkan dan kumuh. Namun sekarang, kawasan Jalan Bandung makin dikenal dengan kawasan Madrasah Terpadu,” tuturnya.

Madrasah terpadu kota Malang banyak dijadikan contoh oleh madrasah lain di Indonesia. Di sekolah ini, hal utama yang menjadi perhatian selain fokus pada proses belajar, juga menekankan pentingnya nilai-nilai kebersihan dan keindahan. Peningkatan keahlian sumber daya manusia, terutama guru pun tak luput dari perhatian.

Menurut Mashudi, dulu sebelum ada aturan seorang guru boleh mengajar bidang studi lain, masih diperkenankan. Tetapi kini, tidak. Tata administrasi di sekolah ini juga terus diperbaiki dengan mengikuti arahan dan petunjuk dari pusat.  
 
Apa yang terbayang di benak Anda saat mendengar nama Madrasah Aliyah? Ya, Madrasah Aliyah sebagai sekolah Menengah sederajat dengan  SMA berlandaskan Agama Islam. Madrasah yang berlokasi di jalan Bandung 7 Malang ini sudah ditetapkan menjadi salah satu dari beberapa MAN unggulan di Indonesia.


Beberapa stand yang ikut serta IIEE 2017 di ICE BSD, Tangerag Banten [Foto: Dok Pri]
Di kompleks Jalan Bandung 7 Malang ini berdiri tiga Madrasah. Selanjutnya, oleh Departemen Agama RI ditetapkan sebagai Madrasah Terpadu terdiri atas MIN Malang 1, MTsN Malang 1, dan MAN 3 Malang. Madrasah Terpadu Malang secara terus menerus berpacu meningkatkan kualitas layanan dan pelaksanaan pendidikan, sehingga sekarang sudah menjadi salah satu sekolah paling favorit di kota Malang.

Hal itu terbukti dari ragam prestasi yang diraih serta sangat membanggakan. Contonya, juara I Lomba Lingkungan Sekolah Sehat (UKS) tingkat Nasional. Karena itulah MAN 3 Malang menjadi sekolah favorit se-Malang Raya bahkan se-Indonesia. 

Di sekolah unggulan  ini banyak fasilitas pendukung siswa saat belajar. Program-program studi yang dimiliki pun sangat berguna, baik untuk masyarakat maupun lingkungan dan menjadi acuan pula ketika memilih  program studi di perguruan tinggi. 

Sebagai sarana refreshing, menambah kemampuan, serta bakat  siswa-siswinya, MAN 3 Malang punya kegiatan ekstrakurikuler yang cukup banyak sesuai keinginan siswa. 

Selain itu, untuk mendukung kegiatan  belajar mengajar siswa, sekolah ini juga punya beragam fasilitas, antara lain Ruang Multimedia; dilengkapi LCD, AC, meja rapat, tempat duduk bertingkat, sehingga dapat dioperasikan sebagai tempat rapat, diskusi,  juga nonton layaknya bioskop.

Ada laboratorium bahasa: dilengkapi  LCD dan AC. Sementara itu, laboratorium Bahasa Visual dengan komputer, tempat berbilik, LCD, dan ruangan ber-AC juga dihadirkan untuk mendukung pembelajaran bahasa Inggris, Indonesia, Jepang, Arab, Mandarin, dan Jerman.

Lab komputer, lab sains, kebunTOGA, Green House, Asrama, Sanggar Pramuka sebagai ekstrakurikuler terbesar di MAN 3 Malang, hingga Studio gamelan dengan fasilitas Karawitan yang super lengkap. Pusat Sumber Belajar Bersama juga punya fasilitas penginapan sama seperti hotel mini plus restoran, aula untuk diskusi, baik dari pelajar maupun umum.

Bicara prestasi, jangan ditanya. MAN 3 Malang punya segudang prestasi.  Dari juara  1 Lomba Lingkungan Sehat (LLSS) tingkat Provisi Jawa Timur, hingga  juara 1 Lomba Karya Ilmiah tingkat nasional pun disabet. 

Tak heran, jika MAN 3 Malang jadi incaran dan unggul di semua bidang. Sekolah ini pun punya program unggulan dan reguler. Program unggulan seperti Program akselerasi (Percepatan) yang ditawarkan kepada siswa cerdas dan bertalenta hanya dalam waktu 2 tahun. Program Madrasah Aliyah Berstandar Internasional (MABI) berbasis kurikulum dari Timur Tengah pun menjadi incaran siswa/i. Untuk bisa masuk ke dalam program tersebut, calon siswa/i harus ikut beberapa tes untuk memperoleh siswa/i yang benar-benar berkualitas.

Di MAN 3 Malang ini memberikan empat jurusan yang masuk dalam program reguler. Program ini akan ditempuh siswa/i di kelas XI, yang dapat dipilih IPA, IPS, Keagamaan, dan Bahasa. Sebagai sekolah yang juga mengikuti perkembangan teknologi informasi, di sekolah ini juga diberikan Hotspot untuk memudahkan siswa mencari sumber bacaan maupun referensi tugas. Agama Islam sebagai landasan pembelajaran menjadi pegangan kuat di sekolah ini. 

Madrasah Aliyah 3 Malang, acuan sekolah unggulan di Indonesia [Foto: Dok Pri]
Kehadiran MAN 3 Kota Malang di IIEE 2107 ini semakin menambah deret panjang sekolah madrasah berkualitas di Indonesia.  

Selasa, 21 November 2017

Pondok Pesantren Hadapi Tantangan Global



International Seminar on Pesantren Studies yang berlangsung hari ini diwarnai beragam pandangan. Pesantren menjadi salah satu saksi sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Lembaga ini telah eksis selama ratusan tahun di Nusantara. Kenyataan ini setidaknya mampu menjawab opini  orang tentang pesantren.  Usia yang sudah sangat tua menjadi  bukti tak terbantahkan peran vitalnya yang tidak bisa dinomorduakan. Seperti mencerdaskan anak bangsa hingga menjadi kekuatan yang melekatkan keragaman suku bangsa dalam negara kesatuan republik Indonesia.

Prof. Dr. H. Anwar Abbas, MM. M.Ag (batik lengan panjang), Gus Rizal (batik lengan pendek), dan Prof. Dr. Abdul A'la (paling kanan) dalam International Seminar On Pesantren Studies [Foto: Dok Pri]
“Pesantren menjadi tumpuan dan harapan. Wajib hukumnya menyuntikkan virus entrepreneurship dan intrapreneurship agar siapapun yang telah selesai menempuh pendidikan dapat menciptakan lapangan pekerjaan. Indonesia akan menjadi penguasa dunia,” ucap Prof. Dr. H. Anwar Abbas, MM, M.Ag.

Dalam kesempatan yang sama, Gus Rizal mengatakan, pondok pesantren harus mengimbangi perkembangan  zaman dengan beragam pola pesantren yang ada. Pesantren menjadi salah satu institusi pendidikan yang memiliki skill (keahlian), pembelajaran, maupun pengetahuan. Kementerian Agama harus  benar-benar mengawasi perkembangannya. Pondok pesantren dibangun berdasarkan jasa seorang kyai, dari dulu hingga sekarang sudah semestinya pola pikir pondok pesantren tidak berubah.   

Pesantren kini menjelma sebagai kontrol tak terduga untuk sisi negatif modernitas dengan tetap mengarusutamakan pendidikan moral kepada setiap santri yang belajar di dalamnya. Di pesantren pula globalisasi hanya berpengaruh pada tataran sistem dan struktur, tidak sampai pada nilai dan kultur.

Dalam perkembangannya, pesantren memberikan kontribusi dan sumbangan terbesar untuk bangsa. Di masa penjajahan pun, pesantren memberikan sumbangsih menentang kolonial. Setelah merdeka, pesantren pun ikut serta menjaga persatuan  dan kesatuan bangsa. Sampai sekarang, kontribusi pesantren dalam mengisi dan ikut serta mewujudkan cita-cita bangsa yang  masih begitu terasa.

Sepak terjang pesantren tak hanya di dunia pendidikan. Pesantren pun punya peran besar dan aktif di sektor lain, seperti pemberdayaan ekonomi, politik, sosial, budaya, dan sebagainya.

“Mempertahankan nilai-nilai pesantren mesti dilakukan. Bagaimana mengonstekstualisasikan nilai Islam dengan nilai lokal. Pesantren sebagai hasil kreativitas para kyai orang Indonesia. Pesantren juga menjadi tempat pembelajaran yang tak pernah mati,” ucap Prof. Dr. Abdul A’la, Rektor UIN Sunan Ampel, Surabaya.

Pesantren terus  mewaspadai perkembangan dan perubahan zaman.  Jika tidak, pesantren akan tergilas. Masing-masing zaman memiliki masalah dan tantangan tersendiri. Tak heran, selain ketahanan pesantren yang kokoh, tidak sedikit pula pesantren yang tutup karena tidak mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Tantangan pesantren kini semakin beragam, tak lagi ekses modernitas dan globalisasi yang datang dari luar, juga pengaruh ideologi radikal dan konservatisme yang menggerogoti dari dalam. Tak lepas pula dari penetrasi teknologi informasi yang semakin liar. Banyak kalangan menyebut fenomena ini dengan disruption. Memang, fenomena ini tak hanya mewabah di dunia pendidikan, tetapi mewabah di semua sektor.

Pesantren perlu berinovasi dalam hal strategi pembelajaran agar anak-anak merasa senang belajar di pesantren, dan mereka juga tidak gagap terhadap perkembangan maupun perubahan zaman. Penguatan lembaga pesantren menjadi hal utama yang harus diperhatikan. Tanpa didukung kelembagaan yang kuat, tentu ketahanan pesantren akan terkikis.

Banyak hal yang mesti dikerjakan oleh pesantren yang menjadi capital,  tidak saja sebagai market. Untuk itu, pesantren terus berefleksi-inovasi untuk meng-upgrade sistem pembelajaran dan bertahan (survive) menghadapi perkembangan zaman.

“Nilai-nilai luhur kesederhanaan, pelestarian,  melek cyber physical system, membangun pesantren sebagai  pusat civilization  dari Indonesia untuk dunia harus tetap sesuai jati dirinya. Pesantren harus secara kritis mampu menyikapi setiap perkembangan agar tidak tergerus zaman. Jika pesantren hilang, Indonesia akan hilang,” tutup Prof. Dr. Abdul A’la.

Seminar yang diselenggarakan mulai tanggal 20--22 November 2017 di Indonesia Convention Exhibition, BSD City, Tangerang ini, menghadirkan pembicara yang sangat  kompeten di bidangnya dari luar negeri, seperti Dr. Muhammad Thayyib (Sudan), Dr. Salim Alwan (Mufti Darul Fatah, Australia),Dr. Syekh Sa’ad Al Ajuz (Global University, Libanon), dan Dr. Fahdi Alamuddin (Jam’iyyah Al-Masyari, Libanon).

Tak hanya itu, pembicara top dalam negeri pun turut hadir memeriahkan seperti K.H. Mustofa Bisri (Pimpinan Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang), K.H. Masdar Farid Mas'udi (Rais Suriah PB Nahdlatul Ulama), Prof. Dr. Nur Syam (Sekretaris Jenderal Kementerian Agama), Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin (Direktur Jenderal Pendidikan Islam), Prof. Dr. Abd. A'la (Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya), Dr. Noor Achmad (Rekor Universitas Wahid Hasyim, Semarang), Dr. Abdul Mukti (Sekretaris Pimpinan Pusan Muhammadiyah, Jakarta), Dr. Ahmad Zayadi (Kementerian Agama RI, Jakarta), serta Amich Alhumami, M.A., Ph.D. (Bappenas, Jakarta). 
Pembicara luar negeri turut serta menjadi pembicara dalam seminar ini [Foto: Dok Pri]
Selain agenda ini, di IIEE 2017 juga diisi dengan aktivitas  lainnya seperti Deklarasi Jakarta, Apresiasi Pendidikan Islam (API), Anugerah Guru Madrasah Berprestasi (Gupres), Kompetisi Robotik  Madrasah, serta Pentas Dongeng Islami PAI. Acara pembukaan hari ini, Selasa (21/11/2017), dibuka oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin yang dihadiri 4.000 peserta.






Senin, 20 November 2017

Menjelang Pameran Pendidikan Islam Internasional di Helat di Indonesia




Indonesia, negara multikultur dengan beberapa agama yang hidup saling berdampingan. Indonesia menjadi salah satu negara tujuan orang-orang dari penjuru dunia untuk belajar (studi), tinggal, juga bekerja. Di Indonesia juga, penduduknya dikenal ramah-ramah dan murah senyum. Hal ini tak lepas dari nilai-nilai toleransi yang ditanamkan dalam satu keluarga kepada  anggota keluarga mereka. 

International Islamic Education Expo 2017 ICE BSD [Foto: Dok Magnitude]
Tak heran, banyak orang-orang di luar Indonesia senang tinggal di negeri “gemah ripah loh jinawi” ini. Selain itu, mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Meski begitu, orang-orang di luar yang non Islam pun sangat menghargai dan saling dukung satu sama lain. Walaupun kepercayaan berbeda-beda, tetapi rakyat Indonesia bisa tetap bersatu, sesuai semboyan Bhinneka Tunggal Ika. 

Sejalan dengan keragaman kultur dan agama di tanah air, satu hari ke depan, bakal digelar helatan besar dengan nama Pameran Pendidikan Islam Internasional. Indonesia menjadi tuan rumah dari acara yang akan mengambil tempat di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang Selatan, Banten pada 21-24 November 2017. 

Pameran ini mengusung tema “Pendidikan Islam untuk Perdamaian Dunia”. Dalam pameran ini nanti, akan menghadirkan beragam lembaga pendidikan Islam, baik dari dalam maupun dari luar negeri. Mereka akan mengambil tempat di lebih dari 200 stand pameran.

Kalau dilihat-lihat,  pameran yang digelar oleh Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia ini menjadi pameran International Islamic Education Expo terbesar di Indonesia. Ini boleh dibilang menjadi referensi untuk siapapun yang ingin mencari studi Islam dari beragam sekolah, lembaga, maupun perguruan tinggi dengan berbagai program dan jurusan.

Nah, beragam acara pun akan hadir dalam satu kesatuan expo ini. Contohnya, Seminar Internasional Tahunan tentang Studi Islam (Annual International Conference on Islamic Studies, AICIS), Deklarasi Jakarta, Apresiasi Pendidikan Islam, Seminar Internasioanl mengenai Studi Pesantren, dan jangan sampai terlewatkan pula, ada kompetisi robotik Madrasah. 

Melalu pameran yang akan berlangsung empat hari ini, diharapkan bisa menyebarluaskan beragam informasi tentang khazanah Pendidikan Islam di Indonesia kepada pengunjung asing maupun sebaliknya. Kementerian Agama yang punya hajatan ini sebenarnya menjadi bagian rencana besar negara Indonesia sebagai pusat pendidikan Islam dunia. Jangka Pendek dari perhelatan ini membuat negara ini lebih dikenal masyarakat luas, baik nasional juga internasioan sebagai tujuan studi Islam yang menarik untuk siapa saja. 

Pameran ini bakal meriah, mengapa? Ya, di pameran ini akan menampilkan pentas seni pelajar dan mahasiswa dari beragam lembaga pendidikan Islam terkemuka tanah air. Diyakini, pameran ini mampu menjadi perhatian dunia bahwa Indonesia punya tawaran menarik dari sisi studi Islamnya.  Profesor Kamaruddin Amin, Direktur Jenderal Pendiikan Islam Kementerian Agama mengatakan, Indonesia adalah tujuan tepat untuk studi ilmu agama. Selain karena keislaman yang inklusif, Indonesia juga kaya lembaga pendidikan Islam bermutu.

 “Selama ini studi Islam banyak berkiblat ke Arab dan Barat, karena mereka telah terlebih dahulu mengembangkannya. Namun dari segi konsep dan mutu Indonesia berani dibandingkan,” katanya di Kantor Kemenag, Jakarta, Selasa (15/11/2017).

Di tanah air, saat ini ada sekitar 600 pendidikan tinggi Islam, 75 ribu madrasah tingkat menengah, dan 28 ribu pesantren. Dengan jumlah penduduk yang mayoritas Islam terbesar di dunia, mencapai 200 juta jiwa atau sekitar 87,2% dari total penduduk, Indonesia relatif  stabil dan minim soal terorisme. 

Indonesia pun berhasil mengembangkan keislaman moderat rahmatan lil alamin dan memang telah terbukti tahan guncangan meski dalam keberagaman etnis, budaya, dan agama, ucap lanjut Kamaruddin. “Di level dunia pun, Indonesia banyak menjadi objek studi keislaman inklusif, karena di negara ini beragam perbedaan dapat hidup berdampingan secara damai dan harmonis. Sangat berbeda dengan keislaman yang ada di Arab dan Afrika,” tambahnya. 

Dari potensi-potensi itu, Indonesia memang layak memperoleh pengakuan sebagai salah satu pusat peradaban Islam dunia. Keislaman Indonesia diperkuat oleh beragam organisasi kemasyarakatan. Mereka saling mendukung. Oleh karenya, dapat membentuk wajah Islam Nusantara yang moderat, ramah, tentunya aplikatif.
 
Malam ini, akan digelar diskusi tentang "Islamic Studies in Indonesia" [Foto: Dok Magnitude]

Sebagai warming up dari Pameran Internasional Pendidikan Islam ini, pada hari ini, Senin (20/11/2017) bakal digelar acara On Stage Discussion di Garuda Hall: International Seminar on Pesantren Studies. Pembicara di acara ini merupakan orang-orang yang sangat expert di bidangnya. Sebut saja Prof. Azyumardi Azra, MA., Ph.D (UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta), Prof. Amin Abdullah, MA., Ph.D (UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta), Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA., (PTIQ, Jakarta), KH. Husen Muhammad  (Fahmina Institute, Cirebon) dan Dr. Idrus Alhamid, M.Si (STAIN Al-Fatah Jayapura).

So, gaes, untuk nambah wawasan dan pengetahuan, silakan datang. Acara ini bebas masuk (Free) tanpa dipungut bayaran. Siapa lagi  yang akan mempelajari, meneruskan, dan memberikan ilmu-ilmu keislaman kepada orang-orang terdekat kita, kalau bukan kita? Jangan tunggu lama-lama!