Wednesday, February 6, 2019

Wakaf, Beri Manfaat hingga Akhir Hayat


“Asuransi bukan melawan takdir, asuransi justru percaya takdir”
- Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, M.Sc. Guru Besar IPB & Ketua Umum Badan Zakat Nasional”.-

Jens Reisch President Director Prudential Indonesia.[Foto: Dok Pri]
Islam secara jelas mengatur aturan-aturan terkait ajaran yang diberikan untuk pengikutnya, berupa pilar filantropi Islam, yaitu Zakat, Infak, Sedakah, dan Wakaf.

Zakat, Infak, Sedakah, dan Wakaf sebagai filantropi Islam punya peran cukup besar, utamanya  dalam perkembangan Islam dan peradaban manusia secara global. M. Arnaut seorang Sejarawan menyatakan bahwa, Islam selama sejarahnya berlangsung dan begitu sulitnya dibicarakan tanpa wakaf.

Di zaman Rasulullah, zakat, infak, sedakah, dan wakaf juga para khalifah sesudahnya dikatakan bahwa, empat bagian ini menjadi sumber keuangan negara ketika itu. Tanpa keempat hal tersebut, negara justru bisa sulit keuangan.

Kalau kita kembali pada negara yang sudah modern, negara yang tidak  berdasarkan hukum Islam yaitu Indonesia, peran empat pilar ini tidak lagi sebagai sumber keuangan negara, namun menjadi sumber dana untuk gerakan warga sipil.

Wakaf, menjadi salah satu filantropi yang kini digalakkan. Dalam dua dasawarsa terakhir, begitu banyak lembaga-lembaga filantropi bermunculan. Mereka melihat, ada potensi yang belum dimaksimalkan dari empat filantropi Islam itu tadi. Manajemen risiko pengelolaan wakaf pun belum ada di Indonesia, ini pun perlu dibuat.

Kebutuhan masyarakat saat ini memang perlu diakomodir tanpa syarat, proses panjang, dan berliku. Banyaknya masyarakat yang ingin berwakaf tetapi mungkin masih banyak pula informasi yang belum mereka dapatkan. Sejalan dengan itu, literasi keuangan asuransi yang hanya diketahui 15% saja dari masyarakat Indonesia dan hanya 1.9% saja masyarakat Indonesia yang mengerti dan paham tentang literasi asuransi keuangan syariah.

Oleh karena itu, dengan hadirnya program wakaf yang dapat diasuransikan ini, menjadi satu terobosan baru dalam dunia asuransi keuangan berdasarkan syariah Islam. Masyarakat tak perlu lagi khawatir tempat bisa berwakaf sekaligus berasuransi di negeri ini.

Berkaitan dengan hal tersebut, pada Jumat (1/02/2019) saya berkesempatan hadir dalam satu acara peluncuran Program Wakaf dari PRUsyariah  PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia). Program ini memberikan tawaran pilihan untuk nasabah juga calon nasabah yang ingin menyalurkan harta bendanya atau ingin berwakaf.

Sesaat jelang peluncuran Program Wakaf dari PRUsyariah Prudential Indonesia [Foto: Dok Pri]


Program Wakaf PRUsyariah dari Prudential Indonesia ini sesuai Fatwa MUI No.106/DSN-MUI/X/2016 tentang Wakaf Manfaat Asuransi dan Manfaat Investasi pada Asuransi Jiwa Syariah, yang membolehkan masyarakat berwakaf dalam bentuk asuransi.

Nah, wakaf itu sendiri sebagai bentuk kedermawanan dalam Islam yang memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat sehingga menjanjikan pahala yang tidak terputus. Apa tidak ingin memperoleh pahala yang mengalir terus-menerus tanpa henti? Rasa-rasanya tentu sangat ingin ya. Apalagi, tentunya wakaf ini menjadi kekayaan terpendam umat Islam yang belum dikelola secara maksimal.

Jadi, kesempatan kita mengumpulkan pahala melalu wakaf ini sangat terbuka lebar. Tinggal kekuatan niat kita untuk menjalankan dan bagian harta benda mana yang ingin diwakafkan segera. Di kesempatan peluncuran Program Wakaf ini juga hadir Presiden Director Prudential Indonesia, Jens Reisch.

Dari ucapan beliau tercermin jelas bahwa, nasabah atau calon nasabah dari PRUsyariah Prudential punya kesempatan sangat besar mewakafkan harta yang dimiliki tanpa pengecualian. Apalagi didukung oleh produk-produk PRUsyariah lainnya.  

Selain itu, hadir pula Dr. Irfan Syauqi Beik, SP, MSc., EC, Pengamat Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor. Beliau mengatakan bahwa wakaf umumnya dipakai untuk membangun fasilitas umum seperti rumah ibadah, sekolah dan rumah sakit. Selama fasilitas tersebut dimanfaatkan, pahala wakaf tidak terputus. Kini, wakaf juga dapat berupa uang (cash waqf), seperti melalui manfaat asuransi dan manfaat investasi dari polis asuransi jiwa syariah.

Ditambahkannya lagi bahwa Pengelolaan dana wakaf secara profesional sangat penting untuk memastikan nilai harta wakaf tetap terjaga dan hasil usaha wakaf terus memberikan manfaat bagi masyarakat.” Oleh karena itu, Prudential Indonesia bermitra dengan tiga lembaga wakaf atau nazhir yang terpercaya, yaitu Dompet Dhuafa, iWakaf, dan Lembaga Wakaf Majelis Ulama ndonesia (LW-MUI). Nasabah dapat memilih nazhir di antara ketiga lembaga tersebut.
 
Narasumber dalam peluncuran Program Wakaf PRUsyariah Prudential Indonesia. Kiri: Nini Sumohandoyo, Government Relations and Community Investment Director Prudential Indonesia; Dr. Irfan Syauqi Beik, SP, MSc., EC, Pengamat Ekonomi Syariah Fak. Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor; & Afdhal Aliasar, S.T., M.M., Direktur Bidang Promosi dan Hubungan Eksternal Komite NAsional Keuangan Syariah (KNKS) [Foto: Dok. Pri] 
Sementara itu, Afdhal Aliasar, S.T., M.M., Direktur Bidang Promosi dan Hubungan Eksternal Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS), menyatakan hal yang sama. Dia mengatakan, menurut  Badan Wakaf Indonesia (BWI), masyarakat telah mewakafkan  tanah seluas 2.700 KM2 di lebih dari 366 ribu lokasi.

Sementara itu, ada sekitar 180 triliun wakaf tunai per tahun menjadi satuu potensi. KNKS sendiri menyambut baik Program Wakaf dari PRUsyariah karena program ini akan turut menggali potensi wakaf di Indonesia yang sedemikian besar. Manfaat dan keutamaan wakaf juga harus terus disosialisasikan sehingga masyarakat bisa menyalurkan dermanya lebih tepat guna.

Ya, harta yang kita wakafkan bertujuan menyedekahkan manfaat untuk kebajikan umat, siapapun itu, kepentingan agam atau kepada orang yang menerima wakaf pun telah ditentukan oleh pewakaf.

Di sini pun orang yang mewakafkan hartanya artinya mereka telah melepas kepemilikan atau kepunyaan atas harta yang bermanfaat dengan tidak mengurangi bendanya untuk diserahkan kepada perorangan, kelompok, atau lembaga untuk dimanfaatkan dengan tujuan tidak bertolak belakang dengan syariat.

Wakaf pun menjadi solusi untuk mengatasi beragam masalah sosial untuk kemaslahatan umat secara kontinu tanpa menghilangkan harta asal, baik dari sisi ekonomi, pendidikan, kesehata, tempat ibadah, sarana kegiatan dakwah, dan lainnya. Melalui wakaf nilai kekayaan yang kita miliki kekal adanya, sedangkan manfaat kebaikannya akan terus bertambah.

Dalam peluncuran Program Wakaf ini juga, Nini Sumohandoyo selaku Government Relations and Community Investment Director Prudential Indonesia, mengatakan program wakaf ini mendukung nasabah yang mencari solusi modern dan cerdas untuk menunaikan wakaf, sekaligus memastikan diri  dan keluarga mendapat proteksi dan perencanaan investasi yang tepat.

Menurutnya juga program wakaf ini fokus pada kemudahan nasabah menyalurkan wakaf asuransinya. Hal itu sejalan dengan slogan, “Selalu Berbagi, Selamanya Berarti,” yang mengajak untuk terus berderma semata-mata untuk manfaat abadi.

Dalam bincang dengan representatif Dompet Dhuafa [Foto: Dok Pri]

Bu Nini juga menyampaikan bahwa program ini menjadi bagian dari Prudential Indonesia berkomitmen turut serta mengatasi tantangan sosial ekonomi Indonesia sekarang.

Oya, untuk nasabah yang sudah punya polis asuransi unit link Prudential,
mereka dapat mewakafkan hingga 95% dari manfaat asuransi dengan membeli polis asuransi syariah baru. Sedangkan nasabah baru dapat mewakafkan hingga 45% dari manfaat asuransinya. Enak dan mudah banget.  

Jadi, jalanin bareng bersama asuransi syariah dari Prudential Indonesia itu menenteramkan kehidupan saya dan keluarga. Ingat, muslim yang mengeluarkan hartanya untuk wakaf tak saja beroleh pahala saat memberikan wakaf, tetapi akan terus mendapat aliran pahala selama benda yang diwakafkanny itu dimanfaatkan oleh orang banyak meskipun yang memberikan wakaf sudah meninggal dunia. Insya Allah.


“Kami sangat senang menghadirkan Program Wakaf dari PRUsyariah sebagai wujud dari komitmen Prudential yang baru yaitu, ‘WE DO GOOD’ atau ‘Kami Mewujudkan Kebajikan’. Program ini memberikan solusi terhadap kebutuhan nasabah dalam melaksanakan wakaf dan membantu mereka mewujudkan kebajikan secara berkelanjutan. Program ini melengkapi serangkaian produk dan layanan asuransi berbasis syariah yang komprehensif dari Prudential.” --Jens Reisch-- [Foto: Dok Pri]


Wednesday, January 30, 2019

Irma Devita Learning Center: Cara Mudah Belajar Hukum


 
IDLC [Foto: Dok WK]
Saya sempat mengernyitkan dahi dan melongo ketika mengikuti seminar dengan tema “Identifikasi Risiko dalam Penyaluran Kredit dan Pengikatan Jaminan” ini. Mengernyitkan dahi dan melongo saya sambil berpikir karena mendengar penjelasan dari pembicara yang memang pakar di bidangnya lebih dari 20 tahun sekaligus penulis yang banyak menulis buku hukum, Mba Irma Devita, SH., MKn bersama Glenna Martin, SH., MKn.

Sosok Irma Devita di dunia hukum sudah tidak asing, sepak terjang baik nasional maupun internasional mengantarkannya menjadi seorang yang diperhitungkan. Memiliki kantor yang bergerak sesuai gelar yang dimiliki—Notaris—bernama Kantor Notaris IDP di bilangan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Banyak klien  yang sudah ditanganinya. Jadi, memang sudah tak diragukan lagi kepiawaiannya mengolah tata cara hukum kepada klien.

Nah, sejalan dengan hal tersebut, kita tentunya banyak atau sedikit mengerti peran bank yang ada di Indonesia, yaitu menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat dengan tujuan mendukung pelaksanaan pembangunan nasional ke arah peningkatan kesejahteraan banyak orang. 
 
Irma Devita akrab dan humble kepada peserta [Foto: Dok Pri]
Ketika menjalankan fungsinya, maka bank melakukan usaha menghimpun dana masyarakat baik berupa giro, sertifikat deposito, tabungan, atau dalam bentuk lain yang dipersamakan dengan hal tersebut. Bank juga kasih kredit ke masyarakat dengan beragam jenis kredit.

Di sini kita mesti tahu, bahwa kredit yang diberikan bank tentunya ada risiko. Oleh karenanya, pelaksanaannya mesti melihat dan fokus pada asas perkreditan yang dirasa sehat, baik, dan benar.

Bagaimana agar risikonya berkurang? Untuk menguranginya, jaminan pemberian kredit dalam arti keyakinan atas kemampuan atau kesanggupan debitur membayar lunas kewajiban sesuai yang diperjanjikan sebagai faktor penting yang mesti diperhatikan bank.

Untuk itu, sebelum kredit meluncur, bank mesti menilai dulu kemampuan, perilaku, agunan, juga melihat prospek usaha debitur. Kalau unsur-unsur yang ada bisa meyakinkan debitur kepada kemampuannya makan jaminan cukup berupa jaminan pokok saja dan bank tak wajib mensyaratkan jaminan tambahan.Ngeri-ngeri sedap nulis ini, mesti privat langsung sama Mba Irma Devita biar tak salah, hehehe. 
 
Menelusuri beberap kata yang ada di seminar ini ada kata risiko. Kalau dilihat dari sisi hukum, risiko hukum itu sebagai risiko yang timbul karena ketidakmampuan menejemen perusahaan mengelola masalah yang bisa mendatangkan kerugian atau bangkrut. Nah, menurut beberapa sumber, risiko salah satunya bersumber pada operasional, ada juga perjanjian dengan pihak ketiga, ketidakpastian hukum, da kelalaian penerapan hukum, hambatan proses ligitasi penyelesaian klaim, juga soal yuridiksi antarnegara.

Hmm… pelik ya ternyata kalau ditelusuri. Risiko juga bisa terjadi di perjanjian, seperti kredit bank. Jadi, memang bank perlu mengantisipasi dan mendetail ketika seseorang atau lembaga berkeinginan meminjam sejumlah dana agar tidak terjadi kredit macet di kemudian hari. 
 
Irma Devita di sela-sela penjelasannya [Foto: Dok Pri]
Ngobrolin  pengikatan jaminan pun demikian. Dari beberapa sumber  buku dan pakar disebutkan bahwa pengikatan jaminan ini ditujukan kepada perjanjian kredit antara debitur dan kreditur. Debitur menyerahkan jaminan atas pemberian kredit dengan persyaratan yang sudah dipersyaratkan. Nah, krediturnya melakukan hak juga kewajiban sesuai hukum yang diterapkan. 

Nah, hal-hal seperti ini menurut saya kini bisa dipelajari secara mudah, cepat, dan tak butuh waktu lama. Ini jaga-jaga, kalau-kalau di antara Anda ke depan ada yang ingin meminjam sejumlah dana ke lembaga keuangan terkait seperti bank, minimal sudah ada pengetahun tentang risiko dan pengikatan jaminannya seperti apa.
Belajar hal-hal tersebut kini cukup mudah. Informasi bisa Anda dapatkan dengan mudah, belajar hukum kini dalam genggaman. Di mana Anda bisa belajar ini semua secara cepat dan tepat sasaran?

Ya, salah salah satu pusat pembelajaran ini saya dapatkan di Irma Devita Learning Center. Di tempat ini, Irma Devita ingin memberikan pemahaman agar orang-orang tetap dan perlu  melek hukum, tahu perkembangan hukum, dan belajar segala peraturan penting yang diperlukan.

Irma Devita Learning Center mengakomodir seluruh lapisan masyarakat yang ingin belajar lebih dalam seluk beluk hukum di negara ini. Hadirnya Irma Devita Learning Center atau biasa disingkat IDLC, bermula dari satu blog pada 2007. Dari blog itu ternyata telah menjangkau begitu luas pembaca yang ingin tahu hukum secara praktis. 
 
Irma Devita (tengah) dan Glenna Martin (kanan) dalam paparannya [Foto: Dok Pri]
Irma Devita Learning Center mempunyai tujuan sangat baik untuk kemajuan hukum dan orang melek hukum. Mulanya hanya sebagai blog, dengan ketekunan dan kegigihannya, kini menjadi portal hukum yang lebih besar dan menjangkau banyak audiens. Portal hukum baru yang ada di IDLC terdiri atas beberapa kanal yang saling berhubungan sehingga seluruh lapisan masyarakat dapat belajar mengenai hukum. 

Benar apa yang dibilang IDLC bahwa mempelajari hukum itu harus SEDERHANA, MUDAH, dan DINIKMATI. IDLC ini bertujuan menyediakan berita dan informasi hukum terkini dan mengedukasi masyarakat mengenai hukum dan bagaimana penerapannya dengan cara yang mudah dipahami. 

Dari mulanya bahwa  www.irmadevita.com ini telah membangun reputasi sebagai salah satu portal resmi yang terpercaya, terus di-update dengan berita komprehensif, juga lengkap di Indonesia. IDLC terus berkembang pesat dengan menyediakan layanan yang lebih komprehensif dalam tutorial hukum. Pelatihan dan Pusat Hukum (di bawah Irma Devita Learning Center) dan aplikasi mobile-nya. 

IDLC juga punya tim yang sangat berkompeten di bidangnya dan berkomitmen untuk memberikan kepada siapapun informasi hukum yang akurat dan layanan berkualitas tinggi kepada pembaca juga kliennya. 

IDLC memiliki visi: Orang-orang dari seluruh lapisan masyarakat memahami bagaimana bertindak berdasarkan dasar hukum yang tepat. Sementara itu, misinya sendiri adalah memberlakukan pengetahhun yang dapat diakses, dimengerti, sederhana, dan mudan tentang hukum praktis untuk semua orang.

Pun kehadiran IDLC dan aplikasinya ini memberikan nilai tersendiri untuk orang-orang. Nilai-nilai tersebut seperti berita mengenai hukum yang terus diperbarui. IDLC akan selalu menyediakan soal hukum terbaru yang terjadi dalam kehidupan seharii-hari terkait pengetahuan notaris dalam bentuk tulisan atau artikel. Juga forum tanya jawab dengan peraturan terbaru yang mendukung artikel.

IDLC menghadirkan pula pelatihan mengenai hukum praktis. Jadi, untuk siapapun yang ingin menambah wawasan dan terutama yang berkecimpung di bidang hukum, IDLC menjadi tempat tepat yang bisa dipilih sebagai sarana belajar hukum. Tak bisa dipungkiri, IDLC selalu membagi artikel-artikel hukum yang berlaku setiap hari, termasuk kiat-kiat atau cara. Hal ini relevan dengan kehidupan sehari-hari.
 
Aplikasi Irma Devita [Foto: Dok Pri]

Nah, apa saja yang ada di dalam aplikasi Irma Devita ini? Nah, untuk belajar hukum praktis dari aplikasi ini, Anda mesti download terlebih dahulu dari smartphone Anda, baik yang berbasis android maupun iOS. Masukkan alamat email dan password Anda. Selanjutnya, Anda bisa mengakses rubrik atau kanal-kanal yang diinginkan.

Nih ya saya kasih bocoran dikit deh, ada fitur Artikel. Jadi, kalau Anda butuh artikel tentang hukum, langsung klik aja fitur ini, semuanya akan tersedia. Ada juga kamus hukum. Keren, kan? Ke kampus ga perlu bawa kamus tebal-tebal, bikin berat isi tas. Juga ada video tutorial online. Makin penasaran, kaaan? Buruan deh download Aplikasi Irma Devita. Dengan aplikasi ini, pokoknya belajar hukum praktis jadi sangat mudah. 


Fitur-Fitur Aplikasi Irma Devita [Foto: Dok Pri]

Tuesday, January 29, 2019

Wakaf, Satu dari Empat Pilar Filantropi Islam


 
Bapak Ah. Azharuddin Lathif, M.Ag., M.H. Dosen UIN, Dewan Pengawas Syariah,  sekaligus pemateri Workshop Wakaf di Prudential Indonesia [Foto; Dok Pri]

Sekarang ini, dikira-kira ada sekitar 1.250 juta hingga 1,4 miliar umat muslim yang ada hampir di seluruh dunia. Dari jumlah itu, ada sekitar 18% berdiam dan hidup di negara-negara Arab, 20% ada di Afrika, 20% berdiam di Asia Tenggara, 30% berada di Asia Selatan yaitu Pakistan, India, juga Bangladesh.

Nah, bagaimana dengan Indonesia? Ya, populasi muslim terbesar di satu negara bisa kita jumpai di Indonesia. Sementara itu, populasi muslim juga bisa ditemukan dengan jumlah yang cukup signifikan ada di Republik Rakyak Cina, Amerika Serikat, Eropa, Asia Tengah, juga Rusia. 

Per tahunnya, diperkirakan pertumbuhan Muslim sendiri mencapai hampir 2,9% sedangkan pertumbuhan penduduk dunia hanya berada di angka 2,3% saja. Dari angka tersebut dapat dibilang bahwa Islam sebagai agama dengan pertumbuhan pemeluk yang masuk kategori  cepat di dunia.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa beberapa pertumbuhan tersebut dihubungkan dengan tingginya angka kelahiran yang ada di banyak negara Islam (6 dari 10 negara di dunia dengan angka kelahiran tertinggi di dunia merupakan mayoritas Muslim).

Akan tetapi, belum lama ini satu studi Demografi menyatakan bahwa angka kelahiran di negara Muslim menurun hingga ke level negara-negara Barat. Bicara Muslim begitu erat kaitannya dengan Islam. 

Islam menjadi salah satu agama yang mengimani keesaan Tuhan, yaitu Allah SWT. Lebih dari satu seperempat miliar warga dunia  menganut agama Islam sebagai agama terbesar di dunia kedua setelah agama Kristen.

Islam punya arti “keselamatan” atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Sementara, pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang punya arti “Sebagai yang tunduk kepada Tuhan” atau secara lengkap adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat untuk perempuan.

Islam mengajarkan bahwa Allah SWT membekali atau menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul sebagai utusan-Nya, serta meyakini secara sungguh-sungguh bahwa Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir yang diutus Allah SWT ke muka bumi.

Dalam ucapan syahadat dari setiap umat Islam sebagai janji bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad SAW sebagai utusannya. Di sinilah seorang Muslim diberikan pemahaman mengenai Islam beserta ajarannya perlahan-lahan.

Islam mengatur secara gamblang aturan-aturan terkait ajaran yang diberikan untuk pengikutnya, berupa pilar filantropi Islam, yaitu Zakat, Infak, Sedakah, dan Wakaf.

Zakat, Infak, Sedakah, dan Wakaf sebagai filantropi Islam punya peran cukup besar, utamanya  dalam perkembangan Islam dan peradaban manusia secara global. M. Arnaut seorang Sejarawan menyatakan bahwa, Islam selama sejarahnya berlangsung dan begitu sulitnya dibicarakan tanpa wakaf. 

Di zaman Rasulullah, zakat, infak, sedakah, dan wakaf juga para khalifah sesudahnya dikatakan bahwa, empat bagian ini menjadi sumber keuangan negara ketika itu. Tanpa keempat hal tersebut, negara justru bisa sulit keuangan. 

Ketika Khalifah Abu Bakar menindak pembangkang zakat, tindakan Abu Bakar semata-mata untuk menyelamatkan negara. Tentunya, pun tak bisa dinafikan  bahwa apa yang Abu Bakar lakukan sebagai cara agar integritas ajaran Islam tetap terjaga, dan zakat memang sangat diperlukan oleh negara tidak dapat dihindari. 

Kalau kita kembali pada negara yang sudah modern, kita bicaranya negara yang tidak  berdasarkan hukum Islam, masuklah Indonesia, peran empat pilar ini tidak lagi sebagai sumber keuangan negara, namun menjadi sumber dana untuk gerakan warga sipil.
 
Antusiasme Blogger peserta workshop wakaf Prudential Indonesia [Foto: Dok Pri]
Hari ini, Senin (28/1/2019), saya mengikuti workshop mengenai wakaf yang disampaikan oleh Bapak Ah. Azharuddin Lathif, M.Ag., M.H. Dosen Hukum Bisnis Syariah Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 

Di dua dasawarsa terakhir begitu banyak lembaga nonpemerintah baru pengelola dana filantropi Islam muncul di negara ini, baik skala besar maupun kecil. Keberadaan mereka sebagai pelengkap lembaga filantropi yang sebelumnya sudah ada, biasanya dalam bentuk ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah.

Menurut saya, hadirnya lembanga filantropi ini sebagai satu indikasi bahwa ada potensi filantropi yang belum dieksplor secara luas. Oleh karena itu, keberadaannya masih sangat luas. Potensi dana ini begitu luas dan besar jika dapat dikelola secara baik.

Dalam kaitannya dengan wakaf, Bapak Azharuddin memberikan pengertian, berdasarkan ulama Hanafiyah dan ulama Syafi’iyyah. Ulama Hanafiyah katakan bahwa wakaf itu menahan benda yang statusnya tetap milik si Wakif (orang yang mewakafkan) dan yang disedekahkan adalah manfaatnya saja.

Sedangkan Ulama Syafi’iyyah katakan bahwa wakaf menahan harta yang dapat diambil manfaatnya dengan tetap utuh barang, dan barang itu lepas dari penguasaan si wakif serta dimanfaatkan pada sesuatu yang diperbolehkan oleh agama.

Menyinggung keutamaannya, Pak Azhar sampaikan dapat dijumpai pada QS Ali Imran (3): 92; QS. Al Hajj (22): 77; QS Al Baqarah  (2): 267; dan Hadits Riwayat Muslim. Sementara rukun Wakaf sendiri  ada Maukuf’alaih (tujuan wakaf) dengan syarat: 1) dinyatakan secara tegas ketika akad, dan 2) untuk tujuan ibadah.
 
Blogger Workshop Wakaf Prudential Indonesia [Foto: Dok Pri]
Rukun yang lainnya Shighat (pernyataan wakif sebagai suatu kehendak untuk mewakafkan harta bendanya) dengan syarat 1) munjazah (seketika/selesai), 2) tidak disertai syarat batil, dan 3) tidak dibatasi waktu. Sementara, Malikiyah tidak sepakat dengan hal tersebut.
Dilihat dari macamnya, ada wakaf ahli dan wakaf khairi.

Apa Jenis Harta Benda Wakaf?
Dapat berupa hak atas tanah sesuai perpu yang belum atau sudah terdaftar juga bangunan atau bagian bangunan. Selain itu tanaman atau benda lain yang berhubungan dengan tanah ataupun rumah dan benda tidak bergerak.

Benda bergerak yang tidak habis saat dikonsumsi, seperti uang, logam mulia, surat berharga, kendaraan, HKI, hak sewa, dan benda bergerak lain sesuai ketentuan syariah dan perpu yang berlaku.
 
Wakaf di Luar Negeri [Foto: Dok Pri]
Melihat contoh nyata wakaf di luar negeri yang dikelola secara profesional seperti Zam-Zam Tower. Juga wakaf dari Ustman Bin Affan 15 abad yang lalu dengan dibangunnya hotel bintang 5 di Madinah, dari situ pendapatan per tahunnya pun sekitar 150 miliar. Ini baru dari pengelolaan wakaf, belum yang lainnya. Juga wakaf yang ada di Turki, dimulai pada abad 15 M dari Dinasti Ustmaniyyah pula.

Tiga lembaga Wakaf terbesar di Turki mengelola seluruh “aset” wakaf, yaitu Turkiye Diyanet Vakfi, Mahmud Hudayi akfi, dan Hakl Vakfi.

Pengelolaan Wakaf di Indonesia
Ada beberapa filantropi yang mengelola wakaf di Indonesia dan tidak diragukan lagi keberadaannya. Seperti Badan Wakaf Pesantren Gontor Ponorogo, Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung Semarang, Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar, Yayasan Badan Wakaf UII, Yayasan Dompet Dhuafa, dan Wakaf Pesantren lainnya di Indonesia.

Nah, bagaimana kalau kita berasuransi syariah juga berwakaf?
Perlu kita ketahui bersama bahwa kalau kita berasuransi syariah juga berwakaf, mesti tahu parameter yang menentukannya.

Parameternya meliputi: Memelihara harta, memelihara akal, memelihara keturunan, memelihara jiwa, memelihara agama. Dari sini, kita dapat melihat bahwa secara filosofi asuransi sesuai dengan syariah itu perlu penyesuaian dengan menghindarkan hal-hal yang dilaran oleh syariah, begitu pula secara operasional kalau asuransi tidak sesuai denga syariah, yaitu: Maisir, Gharar, Riba, Tadlis, Haram-Bahaya, Risywah, dan Dzulmun.

Kita, saya, dan Anda juga perlu tahu apa perbedaan Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional itu sendiri.

PRINSIP
KONVENSIONAL
SYARIAH
Dewan Pengurus Syariah
Tidak ada
Ada, berfungsi untuk mengawasi operasional perusahaan agar sesuai standar syariah
Akad
Akad Pertukaran (Mu’awadhah/tabadduli)
Akad tabarru’ (hibah) dan akadn tijarry (mudharabah, musyarakah, wakalah bil ujrah, mudharabah musytarakah dll)
Jaminan/Risiko
Transfer of Risk, Transer risiko dari tertanggung ke penanggung
Sharing of Risk, saling menanggung antar peserta asuransi
Investasi
Bebas melakukan investasi dalam batas peraturan perundang-undangan
Investasi selain harus sesuai UU juga harus sejalan dengan prinsip syariah
Kepemilikan dana
Dari premi peserta menjadi milik perusahaan
Dana “milik bersama” peserta, perusahaan haya memegang amanah mengelola dana
  
Nah, bagaimana wakaf asuransi syariah itu bermain? Misal kontribusi peserta A, ada dana investasi, ujrah dan tabarru’. Dana investasinya dapat diambil sebagai manfaat investasi. Manfaat investasinya adalah milik peserta dan boleh diwakafkan .
 
Perbedaan Asuransi Syariah dan Konvensional [Foto: Dok Pri]
Contoh lainnya, Kontribusi peserta B berupa dana investasi , ujrah, dan tabarru’. Kontribusi peserta B dapat manfaat asuransi. Nah, kalau peserta meninggal bukan lagi milik peserta dan pada dasarnya tidak boleh diwakafkan, kecuali pihak yang ditunjuk atau semua pihak calon penerima manfaat asuransi berjanji (wa’ad) untuk mewakafkan sebagian manfaat asuransi tersebut. Ketentuan lainnya ada di atur di fatwa no: 106/DSN-MUI/X/2016. Bisa dicek.

Masih penasaran dengan asuransi syariah dan wakaf? Tunggu tanggal mainnya.