Sunday, October 1, 2017

Pertolongan Pertama Pada Heart Attack dan Heart Arrest




Sehat, lima huruf ini memang mesti dijaga oleh siapapun. Benar memang apa yang dikatakan orang, sayangi tubuh kita, karena tubuh mau dipakai lama. Bukan tubuh saja tentunya yang mesti disayang. Akan tetapi, seluruh anggota tubuh, baik luar maupun dalam.
 
Presdir Philips (pegang mik) Bpk. Suryo Suwignjo [Foto: DokPhilips]
Pentingnya general check up setiap enam bulan sekali sangat diperlukan. Jangan sampai, penyakit hinggap setelah terjadi gejala. Gejala yang sudah timbul sama saja artinya kita terlambat mengetahui kondisi tubuh. Oleh karenanya, di saat-saat kita sehatlah perlu mengontrol diri ke dokter.

Mengontrol diri ke dokter tidak pada saat tubuh sedang di derita sakit. Tetapi, alangkah baiknya rutin dilakukan. Sebagai bentuk antisipasi keadaan sejak dini agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan. Kini, banyak beredar penyakit yang tidak menular justru mematikan. Artinya, penyakit tidak menular pun dapat menjadi pembunuh berdarah dingin.

PTM menjadi penyebab kematian utama juga di tanah air. Dari itu, sebelum semua terlambat, segera lakukan check up ke dokter. Ya, check up ini sebagai sarana kita untuk mengetahui atau bahan evaluasi apakah ada gangguan dalam tubuh atau kesehatan kita secara kronis di diri seseorang. 

Check up diperlukan untuk mengetahui kondisi. Karena banyak penyakit yang pada mulanya timbul tanpa tidak ada gejala. Nah, perlu kita ketahui penyakit-penyakit kronis yang timbul tidak bergejala pada mula sakit, yaitu peningkatan kadar lemak darah: kolesterol tinggi, trigliserida tinggi, kadar kolesterol jahat (LDL), kadar kolesterol baik (HDL) yang rendah.

Ada juga peningkatan kadar asam urat, kadar gula darah tinggi, perlemakan hati dan hepatitis kronis, serta anemia. Kenapa hal itu bisa terjadi? Ya, semua kembali pada pola makan kita, terutama orang Indonesia. 

Contohnya saja makan bakso. Sebenarnya, bakso itu bukan makanan selingan. Akan tetapi, oleh orang kita bakso dijadikan makanan selingan. Setelah makanan selingan itu, ditambah lagi makan makanan berat. Nah, dari sinilah mulanya pemicu ragam penyakit timbul. 

Selain itu, konsumsi serat orang Indonesia rendah. Ada 2005 berdasarkan riset dari RSM, kita dapat melihat asupan serat berdasarkan kebutuhan.
Kebutuhan serat orang kita itu idealnya 25 mg/hari. Tetapi, hal itu tidak sampai. Rata-rata di bawah 25 mg/hari. Hal ini sebagai salah satu pemicu penyakit tidak menular timbul.

Apalagi kalau sudah berhubungan dengan kolesterol. Kalau kadar kolesterol dalam darah kita tinggi, maka kolesterol akan menumpuk pada pembuluh darah, baik pembuluh darah jantung, otak, juga ditimbun di hati, ditimbun di kandung empedu sehingga menjadi batu kandung empedu. Risiko tinggi orang-orang seperti ini  adalah penyakit jantung dan utamanya juga terkena stroke.

Nah, bicara penyakit jantung, bukan berarti penyakit ini tidak bisa ditolong. Sangat bisa ditolong. Jadi, siapapun bisa menyelamatkan nyawa orang yang terkena penyakit jantung. 

Pengetahuan dasar dan pelatihan resusitasi jantung paru (CPR) yang tepatlah yang dapat menjadikan siapa saja bisa membantu keselamatan korban henti jantung  mendadak (heart arrest) dan membantu meningkatkan hidup korban.
Pada Kamis (14/07/2017) saya mengikuti pelatihan CPR dan AED bersama Philips Indonesia di Ballroom Jakarta Theatre satu hari penuh. Sebelumnya, diawali diskusi yang santai tetapi benar-benar menggugah saya  untuk tahu lebih jauh mengenai CPR ini. 

dr. Jetty R.H. Sedyawan, Sp.JP (K), FIHA, FACC [Foto: DokPhilips]
Hadir di kesempatan itu salah satu dokter ahli jantung senior, dr.Jetyy R.H. Sedyawan, Sp.JP (K), FIHA, FACC. Beliau merupakan Sekjen PERKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia), dr. Erizon Safari, MKK, sebagai Kepala Unit Ambulans Gawat Darurat (AGD) dari Dinas Kesehatan Prov. DKI Jakarta, dan Presdir Philips Indonesia, Bapak Suryo Suwignyo.


dr. Erizon Safari, MKK [Foto: DokPhilips]
Ya, melihat data dari Kemenkes pada 2014 bahwa diperkirakan ada 10 ribu orang per tahun atau 30 orang per hari kena henti jantung mendadak. Data yang sama juga memperlihatkan bahwa frekuensi SCA meningkat seiring peningkatan penyakit jantung koroner (PJK) dan stroke. Sekitar 23 juta kematian pada 2030. Data PERKI di 2016 menemukan angka henti jantung mendadak berkisar 300  hingga 350 ribu kejadian setiap tahun. Nah, hal ini dapat ditolong dengan melakukan pertolongan pertama dengan CPR.

Menurut dokter Jetty, ada masa emas (golden period) seseorang yang terkena henti jantung mendadak. Kalau orang yang terkena Heart Arrest ditolong pada masa-masa tersebut, kemungkinan besar korban bisa terselamatkan dan tidak terjadi kerusakan pada otak. Akan tetapi, jika lewat dari masa tiga menit, justru akan semakin besar risiko seseorang mengalami kerusakan otak dan tidak dapat diselamatkan. 

Jadi, memang perlu penanganan cepat untuk korban henti jantung mendadak ini. Apalagi, jika hal itu terjadi di tempat umum dan kita sebagai first responder (orang yang perta menemukan korban dan menolongnya karena punya pengetahuna tentang CPR) menjadi satu kunci dalam menyelamatkan lebih banyak nyawa. “Hal inilah yang perlu disadari oleh masyarakat, bahwa semua orang bisa menyelamatkan nyawa,” ucap dokter Jetty.

Kemampuan kita mengenali kasus emergensi menjadi langkah pertama yang diperlukan dalam menentukan tindakan yang tepat. Kita lebih sadar terhadap situasi darurat berdasar indikator tertentu seperti suara yang tidak biasa, melalui penciuman, penglihatan, penampilan, dan tingkah laku. 

Memang, akan terjadi kesulitan saat kita harus mengenali perubahan tingkah laku atau perubahan penampilan yang tidak biasa. Nah, apalagi saat kita harus memberikan bantuan napas buatan untuk orang yang tidak kita kenal. Banyak alasannya, entah takut terjadi penularan penyakit.

Ada pelindung mulut, seperti pelindung wajah, dan masker resusitasi yang akan membatasi mulut dan hidung kita dari korban yang sakit atau terluka.
Tidak sia-sia saya mengikuti pelatihan CPR yang diadakan oleh Philips ini. CPR ini memiliki cara-cara yang siapapun dapat melakukannya. Sebelum melakukan praktik, saya, rekan-rekan blogger, dan media diberikan slide penjelasan. Hal itu membantu memberikan gambaran kepada kami agar jelas dan tahu cara juga teknik CPR.
 
Trainer Medic One memberi penjelasan kepada peserta CPR [Foto: DokPhilips]
Nah, CPR ini memberikan penekanan pada dada sebanyak 30 tekanan dengan kecepatan 100-120 kali/menit dengan kedalaman pada dewasa 5-6 cm. Sementara itu, anak-anak sekitar 5 cm, dan bayi 4 cm. selanjutnya memberikan bantuan napas sebanyak dua kali dengan napas normal. 

Dua kali pemberian napas itu untuk melihat dan meningkatkan hasil yang lebih baik. Dengan kompresi dada hal itu dapat melancarkan aliran darah. Dari penelitian diperoleh, bahwa penderita henti jantung dapat bertahan hidup meningkat pada saat first aider memberikan kompresi dada dibanding tidak memberikan kompresi dada.

Dengan kecepatan minimal 100-120 kali/menit untuk mempertahankan darah di dalam tubuh dan menjaga kualitas penekanan dada tetap baik. Kalau kita melakukan penekanan dada dengan kecepatan lebih dari 120 kali/menit  atau kurang dari 100 kali/menit maka sirkulasi darah di tubuh akan menurun dan penekanan dada jadi tidak efektif.

Beberapa peserta CPR sesaat sebelum pelatihan CPR/AED [Foto: DokPri]
Oleh karena itu, ada rumusan yang mesti dilakukan first aider ketika menolong korban henti jantung mendadak ini.

1.   Danger (Bahaya): Pastikan lingkungan di sekitar korban aman utamanya untuk kita dan orang-orang sekitar. Mesti ada pertanyaan:
·        Apakah lingkungan korban aman
·        Apa yang terjadi
·        Berapa jumlah korban
·        Apakah ada orang yang dapat memberikan pertolongan
Jangan sampai ada bahaya-bahaya lain yang justru dapat mengancam keselamatan jiwa kita sebagai penolong.

2.   Response (Cek Respon)
Hal ini dilakukan ketika penolong make sure bahwa kondisi  di sekitar korban aman. Ada penilaian tingkat kesadaran korban:
·        Alert: korban sadar dengan keberadaannya (respons tertinggi)
·        Verbal: korban masih merespons dengan panggilan suara
·        Pain: korban baru bisa merespons dengan pemberian rasa sakit (respon rendah)

·        Unrespon: Tidak ada respons sama sekali atau tidak sadar.
Oleh karena itu, kalau kita bertemu dengan kondisi korban, pertama kali yang dilakukan mesti menepuk bahu korban dan tanya kondisi korban. Ini untuk dewasa. Sedangkan untuk melihat bayi sadar atau tidak dengan menepuk telapak kaki atau gosok punggungnya.

Kalau kondisi kesadaran korban menurun, maka  minta segera bantuan  (aktivasi EMS, minta kotak P3K, dan AED). Cek napas korban dengan cara melihat pergerakan dada atau perut korban selama 5-10 detik. Kalau tidak bernapas segera RJP/CPR diawali dengan kompresi dada.

3.   Kompresi dada
Kalau seseorang berhenti denyut jantungnya, mesti segera diberikan RJP. RJP/CPR ini sebagai bentuk kombinasi tindakan kompresi dada dan bantuan napas. Saat jantung tidak berdetak, kompresi dada diperlukan untuk sirkulasi darah yang membawa oksigen. Biar kompresi efektif, korban mesti dalam kondisi telentang dan berada di permukaan yang rata dank eras.
Berikut langkah-langkah kompresi dada untuk orang dewasa.

a.   Berlutut di samping korban sejajar dengan area dada. Letakkan tumit tangan pada pertengahan dada (pertengahan bagian bawah tulang sternum). Dukung tangan yang dominan dengan tangan lainnya. Pastikan pundak berada di atas tumit tangan dengan kedua siku tegak lurus. Pakai beban tubuh untuk menekan dada jangan pakai otot lengan.

b.   Posisi tubuh sangat penting ketika kompresi dada. Penekanan pada titik tekan yang lurus (vertical) akan membantu kita mendapat kedalam yang tepat dan  mengurangi kelelahan saat RJP/CPR.
c.   Berikan 30 kali penekanan dada. Tekan yang kuat dan cepat dengan kecepatan minimal 100-120 kali/menit. Saat memberikan kompresi hitung dengan suara yang keras dimulai dari satu s.d. 30. Push hard, push fast selama melakukan kompresi dan jaga ritme kompresi pada setiap kompresi.

d.   Kedalaman kompresi 5 cm atau tidak lebih dari 6 cm untuk dewasa atau ½ tebal dada. Anak-anak dalamnya kompresi 5 cm. pergerakan naik turun dari dada dilakukan dengan pelan dan halus atau diayun pastikan dada kembali lagi mengembang sempurna sehingga efektivitas kompresi tetap terjaga.

4.   Airway (Jalan napas)
Kalau sudah beri penekanan 30 kali untuk dada, buka jalan napas dengan metode Head Tilt-Chin Lift atau Jaw Thrust. Caranya:
a.   Taruh satu tangan di dahi korban dan tengadahkan kepala korban
b.   Letakkan ujung jari di bawah dagu korban dan angkat dagu korban. Posisi ini akan mempertahankan jalan napas tetap terbuka.

5.   Breathing (Napas bantuan)
Berikan dua kali bantuan napas secara normal. Setiap tiupan dilakukan selama satu detik dan terlihat dada terangkat.
a.   Tekan dahi korban ke belakang dan dorong dagu ke atas untuk membuka jalan napas.
b.   Tutup hidup dengan ibu jari dan telunjuk dan mulut korban dengan mulut penolong serapat mungkin.
c.   Tiup sekitar satu detik untuk membuat dada terangkat. Lalu diikuti dengan tiupan berikutnya. 

Lanjutkan siklus 30 kali kompresi dada dan dua kali bantuan napas buatan selama dua menit atau lima siklus. Setiap dua menit lakukan pengecekan napas lagi. Satu siklus ini ada 30 kali penekanan dada dan dan dua kali bantuan napas. Dalam 24 detik dan meminimalkan interupsi saat melakukan penekanan dada.

Nah, pada saat bagaimana CPR dihentikan? CPR akan dihentikan ketika pasien memberi respon atau bernapas, biasanya respons dengan batuk. Penolong sudah tak sanggup menolong. Kalau bantuan medis atau tim ahli tiba dan melakukan tindakan lanjutan, dan jika sudah ada keputusan dari dokter yang akan  bertanggung jawab.

Nah, dari sini juga kita bisa menolong untuk dua orang penolong. Yang menolong pertama bisa melakukan kompresi dan penolong kedua melakukan napas buatan. Setiap dua atau lima menit, penolong pertama dan penolong kedua bertukar posisi untuk menghindari kelelahan saat CPR. 

Dalam menolong korban, kita juga dapat menggunakan alat yang bernama AED (Automated External Defibrillators). Ini merupakan alat yang diproduksi oleh Philips. Tentunya, menjadi perusahaan teknologi kesehatan Philips punya peran penting di tanah air untuk menaikkan kualitas kesehatan masyarakat kita. Philips telah melakukan pelatihan CPR untuk karyawannya juga. 

Sebelumya, “Saya ikut pelatihan CPR. Di sini diajarkan teknik dasar CPR yang mereplikasi pernapasan vital dan fungsi jantung. Di Philips, kami mendukung banyak orang untuk bisa menjadi penolong. Dari sini, kami berharap peserta bisa menginspirasi orang lain untuk menjadi first responder,” ucap Suryo Suwignjo, Presdir Philips Indonesia.

Nah, alat AED ini mesti ada di kantor-kantor atau instansi. Melalui pelatihan yang tepat dan punya latar belakang pendidikan di bidang kedokteran atau yang pernah mendalami pelatihan CPR, dapat memberikan kesempatan hidup untuk orang lain  dalam menghentikan jantung dadakan. 

Ternyata, hal serupa juga dilakukan Negara Singapura, Korea, dan kini di Indonesia. “Siapapun bisa menyelamatkan nyawa orang yang terkena henti jantung mendadak. Dengan pelatihan CPR/AED, tentunya dapat membuat angka hidup menjadi lebih baik. Mengetahui cara melakukan CPR dan menggunakan defibrillator dapat menyelamatkan nyawa,” pungkas Pak Suryo Suwignjo.