Rabu, 06 Januari 2016

Petani dan Burung Emprit

Kangen pengen mosting cerita-cerita anak yang pernah dibuat di blog tercintah ini. Rasa-rasanya sudah lamaaaa bangeet ga nyentuh-nyentuh ini laman. Keasyikan ngurusin "halaman tetangga". . Alhamdulillah, Ada banyak hasilnya. Bisa ke sana ke sini dengan legaaaaaaaaaa. Oiya... ini mula minggu pertama di Januari 2016. Semoga banyak berkah rezeki yang melimpah menyinggahi diriku di tahun ini. Semakin merunduk dengan ilmu dan pengetahuan yang diperoleh untuk bekal di akhirat nanti. Semoga semua semakin berjaya, berjaya untuk menggapai maghfirahNYA, tentunya. Anyway... cukup dulu preambule-nya, saatnya mosting cerita-cerita itu.


Di sebuah desa yang bernama Kuwu hidup seoran petani yang sudah renta. Meskipun sudah tua renta, tetapi tenaganya masih kuat. Dia memiliki sawah yang cukup luas. Sawah itu sering disinggahi burung-burung emprit dan memakan padi-padi yang mulai menguning. Hal itu sering kali terjadi jika akan panen.


Suatu hari, petani tua itu memikirkan, kira-kira apa yang akan dia lakukan terhadap burung-burung emprit itu agar tidak memakan padi yang mulai menguning. Akhirnya, dia menemukan cara yang cukup cerdas. Petani tua itu akan menggunakan selendang kain yang diisi batu-batu kerikil.


“Jika  aku meletakkan batu-batu kerikil itu dalam selendang kain lalu aku putar-putar dan lontarkan, burung-burung emprit itu tentunya akan terluka dan pergi. Aku hanya akan berpura-pura menghalau atau menyerang mereka agar pergi”, pikir petani tua yang sebenarnya sangat baik hati.


Semua jenis burung melihat petani tua renta itu memutar-mutar selendang kainnya. Burung-burung emprit itu pun satu per satu pergi. Akan tetapi, suatu hari seekor burung emprit berkata, “Aku  telah memerhatikan petani itu, dan dia tidak membawa batu kerikil dalam selendang kainnya. Dia hanya berpura-pura menyerang kita. Sebaiknya kita tidak usah gubris apa yang akan dilakukan  petani  renta itu”.


Saat burung-burung emprit itu tidak juga pergi, petani renta itu sangat sadar bahwa usaha pendekatannya yang sebenarnya tidak membahayakan itu tidak mendapatkan hasil. dia berpikir lagi, “Jika aku tidak mengambil langkah-langkah  serius sekarang ini, burung-burung emprit itu akan menghabiskan padi-padiku yang telah menguning. Hasil kerja kerasku selama ini akan sia-sia”.


Lantas, petani tua renta itu mengisi selendang kainnya dengan batu-batu kerikil dan benar-benar menyerang burung-burung emprit yang sedang memakan padi di sawahnya. Begitu burung-burung emprit itu menyadari petani tidak sedang menyerang dengan selendang kain  kosong, mereka beterbangan kocar-kacir dan tidak pernah kembali lagi.

Akhirnya, usaha petani renta untuk menghalau burung-burung emprit itu tidak sia-sia. Kini, dia pun dapat menikmati jerih payah yang selama ini telah dia lakukan. 




0 komentar: