Jumat, 27 Mei 2016

Tiroid, Kecil Bentuknya Besar Perannya


Dokter Lily Sulistiyowati dalam paparannya Pekan KesadaranTiroid Internasional
Foto: Dok. Pribadi
Mungkin, selama ini kita tidak peduli dengan benda yang letaknya di bagian depan leher di bawah jakun, atau di bagian tengah pas di bawah leher. Bentuknya memang relative kecil, akan tetapi kelenjar tersebut memproduksi hormone-hormon yang sangat dapat mempengaruhi sel-sel yang ada, jaringan,s serta organ-organ dalam tubuh.

Jangan pernah menyepelekan hal-hal kecil seputar tiroid yang kita miliki. Tiroid ini sangant menolong tubuh dalam pemakaian energi agar tetap berasa hangat. Terpenting lagi, memuat otak, jantung, otot, serta organ-organ lainnya bekerja sesuai dengan perintah.

Tiroid pada Anak
Tiroid pada anak-anak memiliki peran  sangat penting dalam perkembangan otak, juga dalam tumbuh kembang mereka. Apabila anak-anak bermasalah dengan tiroid, dapat terjadi beberapa permasalahan, antara lain kretin.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kretin merupakan penyakit yang dapat menyebabkan seseorang mengalami keterbelakangan mental. Dengan kata lain, kelainan hormonal yang terjadi pada anak-anak. Hal tersebut karena gangguan hormon tiroid itu tadi. Akibat dari kurangnya hormon tiroid iniu, seseorang  akan mengalai keterlambatan baik perkembangan fisik maupun mentalnya. Kretinisme ini dapat di derita sejak anak-anak dilahirkan atau di masa kanak-kanak.

“Penderita kretinisme memiliki ciri khusus, seperti tubuh pendek dengan ukuran tidak normal, lidah besar, lebar, dan menjulur, pangkal hidung datar, tekstur rambut kasar dan kering, kulit kusam, otot-otot lembek. Anak-anak yang mengidap kretin dapat mengalami gangguan pencernaan, pendengaran, dan kelambanan bicara.  Apabila kelainan terjadi di bawah usia dua tahun, anak-anak akan mengalami keterbelakangan mental.  Jika datangnya kretin setelah dua tahun, anak akan mengalami keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan fisik. Anak kretin, apabila rontgen tulang, tulangnya memiliki berciri khas, umur tulang lebih muda dari umur yang seharusnya”, jelas Dr. dr. Suryati Kumorowulan, M.Biotech dalam paparannya pada Seminar Publik Waspada Gangguan Tiroid, Kemenkes RI (24/05/2016) bertempat di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat.
Doktor dokter Suryati Kumorowulan, M.Biotech paparannya tentang
Tiroid dan beberapa studi kasus serta riset di Indonesia
Foto: Dok. Pribadi
Anak-anak yang mengidap penyakit ini, diberikan terapi hormon tiroid setiap hari secara kontinu. Jika kelainan ada sebelum usia dua tahun, pengobatan justru tidak akan memperbaiki keterbelakangan mental yang dimunculkan.

Prevalensi Gangguang Tiroid
Gangguan tiroid tidak mengenal jenis kelamin maupun batasan usia. Sebanyak 17 juta penduduk Indonesia mengidap gangguan tiroid. Hal ini menjadi fokus Kementerian Kesehatan RI dalam penanganannya agar gangguan tiroid masyarakat Indonesia tidak membludak/meningkat.

Bayangkan saja, hampir setiap bayi yang baru lahir di Indonesia, setiap tahunnya terakumulasi. Menurut dokter Aman Pulungan (2015), di seluruh dunia prevalensi  hipotiroid congenital 1:3000. Dengan prevalensi 300—900 di daerah endemik tinggi. Apabila angka kelahiran berjumlah 5 juta bayi per tahun dengan kejadian 1:3000 kelahiran, maka ada lebih dari sekitar 1.600-1.700 bayi dengan hipotiroid kongenital per tahun yang terkena akumulasi setiap tahunnya.

Dokter Aman Tanjung menyampaikan tentang prevalensi gangguan tiroid
Foto: Dok. Pribadi
Sementara  itu anak-anak di seluruh dunia prevalensi hipertiroid yang  berusia kurang dari 15 tahun 8:1 juta dan yang berusia kurang dari empat tahun 1:1 juta.  Kita lihat usia produktif atau dewasa ternyata, wanita lebih rentan mengalami gangguan tiroid. Berdasarkan data Endocrinol Metab (Groot et al Clin, 2012) dan British Thyroid Association (2006), wanita sepuluh kali lebih rentan mengalami gangguan hipotiroid ketimbang laki-laki. Tujuh persen wanita yang baru saja melahirkan biasanya mengalami gangguan tiroid di tahun pertama mereka.

Bagaimana dengan manula atau usia lanjut?
Clinical thyrodoly (2015) menyebutkan bahwa lebih dari 50% populasi penduduk dan sebagian besar sudah berusia lanjut nodul-nodul tiroid dapat menghinggapi. Dari data ATA menyebutkan, kemungkinan orang dengan usia di atas 70 tahun, 43%nya terkena nodul dibanding usia muda sekitar 20-29 tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa, kemungkinan kinerja kerja hormone tiroid mulai berkurang karena asupa makanan yang juga berkurang.

Hipertiroid dengan simboli kupu-kupu merah muda
Foto: Dok. Pribadi
Semakin tua seseorang, kemungkinan makan dalam  porsi besar tidak lagi menjadi tujuan. Jika dibandingkan dengan orang-orang dengan usia 20—30 tahun, mereka masih dapat makan dalam jumlah besar.

Hipotiroid dengan simbol kupu-kupu berewarna biru
Foto: Dok. Pribadi
Gangguan Tiroid
Ada beberapa gangguan atau kelainan yang diakibatkan tiroid, yaitu hipertiroid dan hipotiroid.
Hipertiroid memiliki cirri-ciri seperti badan kurus, gelisah dan terlalu aktif, mudah tersinggung dan gampang marah, sering lapar dan makan banyak tetapi tetap kehilangan berat badan.

Sementara, hipotiroid dengan ciri-ciri bergerak dan tumbuh tidak secepat teman-temannya, sering mengalami kelelahan dan terkadang bergerak lamban, kulitnya dingin dan detak jantungnya lebih lambat.

Jika seseorang terlalu aktif, kelenjar tiroid yang dimilikinya akan menghasilkan lebih banyak hormon tiroid. Hal seperti ini disebut dengan hipertiroidisme. Kalau kelenjar tiroidnya tidak begitu aktif, otomatis kelenjarnya tidak menghasilkan kecukupan hormon tiroid yang diperlukan untuk menjaga metabolisme tubuh. Hal ini dapat kita sebut sebagai Hipotiroidisme. Untuk pengecekan selanjutnya dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah pasien.

Struma atau gondok akibat pembesaran kelenjar tiroid. Sedangkan nodul yang muncul karena kelainan tiroid yang masih jinak atau ganas. Akan tetapi tidak ada gejala sama sekali. Bagaimana seseorang yang terkena kanker tiroid? Kebanyakan, kanker tiroid merespons pengobatan yang diberikan, meski ada beberapa bagian kecil yang bersifat agresif. Peradangan pada kelenjar tiroid atau dikenal dengan istilah Tiroiditis.

Tiroid harus ditangani secara serius, mengapa? Karena tiroid menyangkut kualitas hidup sehar-hari seseorang dan berpengaruh kepada sisi psikologis mereka. Untuk kelompok-kelompok tertentu, tentunya, gangguan tiroid ini akan memiliki pengaruh, contohhnya bayi baru lahir, mereka dapat mengalami retardasi mental.

Bagaimana dengan anak-anak? Anak-anak, ketika hormon tiroid mereka terganggu, itu akan berakibat pada tumbuh  kembang dan berpengaruh pada perilaku mereka. Ketika dewasa dan ternyata mengalami gangguan tiroid risiko gangguan kesehatan serius akan menghinggapi mereka, antara lain kardiovaskular, osteoporosis, dan infertilitas. Sementara, jika wanita hamil mengalami gangguan tiroid akan mengalami risiko keguguran, bayi lahir prematur, pertumbuhan janin dan anak terganggu.

Nah, untuk itu semua, dari sekarang waspada terhadap gangguan tiroid. Kenali gangguan dan gejala-gejalanya sejak dini. Lakukan penyebaran informasi ke semua lapisan masyarakat. Skrining hipotiroid kongenital sangat penting dilakukan seperti yang disarankan Dokter Lukas. Skrining tersebut sangat penting untuk menyelamatkan generasi. Saat bayi telah dilahirkan, 48 jam kemudian segera lakukan skrining. Jika merasa ada gangguan tiroid, jangan sungkan untuk segera berkonsultasi ke dokter. Melalui pemeriksaan darah akan mudah didiagnosis, apakah seseorang terkena gangguan tiroid atau tidak.

Para pemateri foto bersama
Foto: Dok. Pribadi
Bahaya tiroid jika sudah menyerang seseorang akan berlangsung seumur hidup, tetapi bukan berarti tidak ada obat untuk itu. Pengobatan yang baik sejak dini dan minum obat secara rutin akan mempercepat proses penyembuhan. Jangan takut, pengobatan tiroid tidak mahal, selain itu juga sangat efektif.

Satu hal lagi yang perlu dicatat, seperti yang sering sekali Dokter Lily Sulistiyowati dengungkan, untuk melakukan perilaku hidup CERDIK.


#ThyroidAwarness #KemenkesRI

0 komentar: