Minggu, 18 September 2016

Membatik Cantik, Sepenggal Cerita dari Kota Tua


Bang Ahmad memberi contoh cara memegang canting dan menggores ke kain
Foto: Dok. Pribadi
Indonesia boleh bangga punya banyak ragam budaya, suku, bahasa, juga seni tradisional yang sudah mendunia. Kerajinan yang satu ini tak hanya menjadi magnet di negeri sendiri, tetapi telah melanglang buana melintas benua.
Gaya rambut Bang Ahmad menjadi ciri khasnya
Foto: Dok. Pribadi
Dari kejauhan terlihat sosok pria berperawakan tinggi sedang, berbaju kemeja merah dengan selendang batik terikat di leher, menggunakan bawahan berkain batik pula. Tak kalah menariknya adalah rambutnya seperti sengaja diberi warna keemasan. Mungkin menurut saya sebagai daya tarik atau ciri ketika orang akan menjumpai dirinya.

Saya dan Ibu-Ibu Cantik belajar batik
Foto: Dok. Pribadi
Ya, hari ini, Minggu (18/09/2016) saya diundang langsung oleh Muhammad Sartono, biasa disapa dan dikenal dengan panggilan Bang Ahmad untuk sekadar makan siang di salah satu Kafe di bilangan Kota Tua, Batavia Market tepatnya. Bang Ahmad merupakan Duta Budaya DKI Jakarta yang sudah dilakoni sejak tahun 2000. Dirinya sangat mencintai seni, sejarah, dan juga budaya Indonesia sejak di bangku SMA, tepatnya di SMA 28 Jakarta pada 1982. Dirinya pun aktif dalam beragam kegiatan Budaya di DKI Jakarta. Menjadi relawan Museum Tekstil sejak tahun 2011.

Batavia Market Cafe, Kota Tua,
 tempat kami belajar batik
Foto: Dok. Pribadi
Sejak tahun 2014, Abang Ahmad beroleh sertifikat atau lisensi resmi dari Dinas Pariwisata dan Kebudayan DKI Jakarta untuk Kepemanduan sebagai Senior Guide. Tak heran, dirinya banyak didapuk untuk menghela acara-acara yang berbau kebudayaan, tekstil, juga batik. Dirinya sering membawa tamu-tamu dari luar negeri berkeliling daerah di Indonesia yang ingin mengenal ragam budaya Indonesia, baik tekstil maupun batik.
Tak hanya Ibu, sang anak pun tertarik membatik
Foto: Dok. Pribadi
Selain sebagai pemandu senior, Bang Ahmad berkegiatan membuka workshop membatik. Workshop membatik ditekuniya sejak tahun 2012. Kegiatan tersebut didukung dan difasilitasi penuh oleh Museum Bank Mandiri danLWG DMO Kota Tua melalui bendera Sahabat Budaya Indonesia yang didirikannya pada 5 Oktober 2010.
Batik cantik Ibu Lintang
Foto: Dok. Pribadi
Bicara batik, dirinya sangat fasih menjelaskan. Mulai dari cara-cara membatik yang baik dan benar, hingga jenis-jenis batik dari berbagai daerah. Pada kesempatan itu, saya datang tak sekadar sebagai tamu undangan saja. Akan tetapi, saya diperkenankan ikut membatik bersama  ibu-ibu over sixty lintas komunitas dalam keriangan dan penuh kehangatan. Sempat terekam dalam ingatan saya saat bertanya kepada seorang Ibu Koordinator, Ibu Dannie, bahwa ibu-ibu tersebut kumpulan dari beragam komunitas salah satunya Lintang (Lintas Angkatan LPK Tarakanita).
Mereka tetap bersemangat membatik, usai bukan penghalang
Foto: Dok. Pribadi
Di sini, para Oma-oma diajarkan cara membatik oleh Bang Ahmad. “Ibu-Ibu sekalian, untuk membatik diperlukan malam, canting, dan kain. Nah, malam yang dimasukkan ke dalam canting dari wajan harus benar-benar diperhatikan dan hangat. Canting sebelum digoreskan ke kain, di tes garis terlebih dahulu di atas kertas agar malam keluar”, begitulah ucapan Bang Ahmad yang sangat antusias kepada ibu-ibu yang ingin belajar batik.
Ketekunan, ketelitian, dan kesabaran
hal itu yang diperlukan dalam membatik
Foto: Dok. Pribadi
Selanjutnya Bang  Ahmad mempraktikan cara menggoreskan canting yang berisi malam ke kain yang sudah dibentuk pola. Satu per satu ibu-ibu dan saya mulai mengikuti petunjuk Bang Ahmad. Awalnya, semua menemui kesulitan untuk menggoreskan canting ke atas kain yang sudah digambar. Ada beberapa yang tremor saat menggoreskan di atas kain. Tetapi, tak sedikit pula yang berhasil.
Bahkan, ada pula malam dalam canting yang mbleber (Jawa = kececeran) di atas kain yang sudah digores. Akan tetapi, Bang Ahmad dengan sigap memberikan semangat. “Jika malam dalam canting kececeran, ibu-ibu tak perlu khawatir. Buat titik-titik atau pola yang sama dengan tumpahan malam tadi”, jelas Bang Ahmad memberi semangat.

Peralatan membatik
Malam (berwarna cokelat kehitaman) dan canting
untuk menggoreskan malam di atas kain
Foto: Dok. Pribadi
Semangat para ibu-ibu tak dapat dibendung. Meski over sixty, tetapi indra penglihatan mereka masih tajam dan sangat fokus. Rata-rata menghasilkan karya batik yang sangat indah dari hasil kriya tangan sendiri.

Ya, tentunya siapa orang Indonesia yang tak kenal batik? Tak perlu dijawab pun orang pasti bilang, tahu! Indonesia mematenkan batik menjadi hak milik negeri ini sudah diakui dunia sejak tahun 2009 oleh UNESCO. Saat itu, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dipegang oleh Bapak Jero Wacik. Di bawah kepemimpinan dan perjuangan Jero Waciklah kebudayaan Indonesia mendapat tempat dan diakui oleh dunia. Batik Indonesia sempat diklaim oleh negara tetangga yang “mengaku” sebagai warisan leluhurnya.

Asal Kata Batik
Tahukah kita dari mana asal kata batik itu muncul? Batik bermula dari bahasa Jawa, yaitu amba yang berarti menulis dan titik, berupa titik-titik. Selanjutnya terjadi pengucapan kata, seperti ambatitik-ambatik-mbatik-batik. Tepat sekali, semula batik dibuat secara konvensional melalui tulisan tangan. Dikenallah dengan nama batik tulis.

Nah, yang ibu-ibu kerjakan pada workshop Bang Ahmad adalah batik tulis. Batik tulis, sebagaimana Bang Ahmad jelaskan, untuk menyelesaikan kain yang panjangnya dua meter, perlu waktu satu bulan. Wajar saja jika harga sehelai batik tulis dapat mencapai ratusan ribu bahkan jutaan rupiah. Karena proses yang lama dan hasilnya sangat menakjubkan.

Di zaman kerajaan dulu batik memang sudah dikenal, terutama di zaman kerajaan Majapahit. Anda dapat mengetahui jejak peninggalan batik tersebut di sekitar Mojokerto dan Tulungagung. Di zaman kerajaan Majapahit, Mojokerto diketahui sebagai ibu kota kerajaan. Sementara Tulungagung, dahulunya bernama Bonorowo (sekitaran daerah tersebut di kelilingi oleh rawa) dipimpin oleh Adipati Kalang.
Diceritakan dalam kisah kerajaan, dia tak mau tunduk terhadap Majapahit hingga tewas dibunuh. Mulai dari situ, perajin batik dari Majapahit mengenalkan seni batik di Bonorowo yang sekarang bernama Tulungagung.

Sebagai warisan budaya Indonesia yang sudah diakui di dunia internasional, batik dapat dipakai dalam beragam kesempatan, baik formal maupun nonformal. Lihat saja sekarang, di kantor-kantor, baik pemerintah maupun swasta menetapkan di akhir pekan (Jumat) meminta pekerjanya memakai batik. Bisa saja hari Jumat ditetapkan sebagai hari batik di seluruh kantor-kantor di Indonesia.

Tak hanya di kantoran, batik pun merambah dunia fesyen kita. Banyak perancang busana ternama tanah air  memadupadankan rancangannya dengan bahan dasar batik. Kreativitas tingkat tinggi itu perlu mendapat apresiasi. Proses pembuatan batik pun tak dapat dianggap remeh.

Cara Membuat Batik
Batik terbuat dari kapas yang dipintal menjadi benang-kain disebut kain mori. Zaman pun semakin berkembang, tak hanya kain mori saja, tetapi merambah ke bahan lain seperti sutera, poliester, rayon, dan bahan sintetis lainnya.
Hasil coretan batik yang saya buat
Foto: Dok. Pribadi
Motif-motif batik dibuat dari cairan lilin memakai alat yang biasa disebut canting. Canting digunakan untuk membuat motif halus, sedangkan alat lain semisal kuas dipakai untuk motif ukuran besar, sehingga cairan lilin masuk dan bertahan lama di dalam kain.

Selanjutnya, kain yang sudah ditulisi atau dilukis dengan lilin tersebut di celup ke dalam warna sesuai keinginan. Tentunya diawali dengan warna-warna muda. Lantas, pencelupan yang lain digunakan untuk warna-warna yang lebih tua atau mendekati gelap. Ada beberapa kali proses perwarnaan. Kain yang sudah dibatik lalu dicelup ke dalam bahan kimia atau direbus untuk menanggalkan lilin yang masih melekat.

Trendi Batik
Sekarang, batik dapat dikolaborasi dengan beragam bahan. Mulai dari celana bahan, jeans, rok, juga laggging. Lihat saja tren mode beberapa bulan ke belakang. Desainer fesyen berlomba menciptakan kreativitas tingkat tinggi untuk menghadirkan cita rasa batik dalam nuansa balutan.
Batik-batik karya peserta workshop batik Bang Ahmad
Foto: Dok Pribadi
Proses penciptaan dari olahan tangan-tangan terampil itu muncul beragam mode padupadan baju. Selain itu, dari tangan-tangan cekatan itu pula muncul beragam hasil karya seni bernilai tinggi lainnya.

Jenis Batik
Ada begitu bayak jenis batik yang dikenal di masyarakat kita. Akan tetapi dari teknik pembuatannya dapat terbagi menjadi:

Batik Tulis
Di batik jenis ini, tekstur dan corak batik dihias memakai tangan. Batik tersebut dibuat perlu waktu 2 hingga 3 bulan lebih.

Batik Cap
Kain dihias berupa tekstur dan corak yang dibentuk menggunakan cap (cap biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan tak selama batik tulis, hanya butuh waktu 2 hingga 3 hari saja.

Batik Lukis
Proses pembuatan batik ini langsung melukis di kain putih.

Mencuci Batik
Batik tak boleh dicuci sembarangan. Jika batik salah cuci, itu akan menyebabkan warna batik menjadi pudar. Batik-batik yang bagus biasanya dicuci menggunakan buah lerak yang dapat diperoleh di pasar tradisional.

Sabun bubuk dalam bentuk botol juga dapat di peroleh di toko-toko batik. Hindari menjemur batik langsung di bawah sinar matahari. Akan tetapi jemur di tempat sejuk sembari diangin-anginkan.
Workshop membatik bersama Bang Ahmad dan Ibu-Ibu lintas komunitas tak terasa sudah berakhir. Banyak hasil-hasil karya batik Ibu-Ibu tersebut yang menakjubkan. Batik, juga ternyata mampu menguji kesabaran, ketekunan, dan ketelitian seseorang.
Peserta foto bersama sesaat sebelum workshop batik Bang Ahmad berakhir
Foto: Dok. Pribadi

Semoga, salah satu warisan terbesar bangsa ini tak hanya sebatas warisan. Tetapi, tetap terus dipertahankan hingga generasi mendatang. 

1 komentar:

Dwi Wahyudi mengatakan...

Secara perlahan adat budaya lama mulai ditinggalkan para generasi muda, semoga tidak demikian untuk batik cantik ini. Amin...