Kamis, 27 April 2017

Dari Masak, Asbak Tanah Liat, hingga Peta Bubur Kertas

Zaman sekolah dulu namanya ada salah satu mata pelajaran PKK saat di SD, terus  di SMP namanya Keterampilan Jasa. Cerita-cerita zaman SD ini banyak banget yang sampai sekarang masih saya ingat. Waktu itu dibentuk lima kelompok, masing-masing beranggotakan 7 orang. Nah, yang guru PKK minta waktu itu buat masakan rumahan. Padahal masih SD lho ya. Ya, tingkatan kelasnya sudah kelas enam sih, jadi sudah bisa berpikirlah  sedikit banyak.

Gulai nangka
Foto: Dok. http://www.tnp.sg/
Ribet banget ya pas zaman SD itu kalau buat kelompok dan dijadiin satu kelompok. Apalagi kalau teman sebelah ga ngomong-ngomong sama kita. Ditambah lagi teman yang satu kelompok tak bertegur sapa. Kacau kan ya. Tapi beda sama kelompok saya. Justru di kelompok ini anak-anaknya pada bawel, termasuk saya (ha ha ha… ngaku).

Jadi, saat guru PKK minta kasih tugas  buat masakan rumah untuk dinilai, pada kebingungan lah kelompok saya. Kelompok saya itu kebagian sayur gulai nangka sama ikan kembung sambal. Ha hah ha… jujur deh ya, pada zaman SD harga-harga masih pada murah banget. Nangka tidak beli, melainkan ambil di kebun teman, kelapa pun begitu tinggal metik. Nah, cabe, dan teman-temannya tinggal kolekan dari rumah masing-masing.
Ha ha ha… masih lucu aja ngebayanginnya hingga sekarang. Betapa tidak, masih SD disuruh masak. 

Ya, dulu ga pake blender, semua serba diulek. Yang tak biasa ngulek, panas-panas deh tangan. Teman yang ngulek cabe berkali-kali basuh tangan pakai air. Namun, saya ingat ucapan ibu saya, “Kalau nanti kamu ngulek cabe, ga usah takut panas tangannya, olesin minyak goreng yang dikasih garam, diemin sebentar, nanti juga hilang panasnya”.

Nah, itu saya praktikkan dan memang benar, tangan saya tak berasa panas. Sama ketika teman saya ngupas bawang merah, matanya perih dan seperti orang nangis yang ga ketulungan. Tetap saja, ketika basuh muka, perihnya bawang merah maish nempel di matanya. Tak terbayangkan kan perihnya bawang merah. Hahaha… makanya ada cerita bawang merah dan bawang putih. Ternyata, memang ya bawang merah itu kejaaam…!

Ahaa… ibu saya juga kasih tips untuk menghindari perih saat mengupas bawang merah. Jadi, ketika mengupas bawang merah biar tidak perih, letakkan garam di samping kita saat mengupas. Sesekali lihat ke garam jika habis mengupas. Daaaan… kejadian bener, mata saya tak perih tuh. Saya ga tahu, logika dan berpikir  ilmiahnya seperti apa.

Mana sempetlah yah mikir ilmiahnya kala itu. Terpenting, ulekan bumbu dapur kelar dan mata, tangan, bebas dari dera siksa bawang merah dan ulekan cabe. Goreng ikan juga masalah. Maklumlah ya anak-anak SD, pokoknya main lempar aja tuh ikan ke dalam wajan. Minyak belum panas ikan sudah dimasukkan, alhasil itu ikan garing ga, bonyok iya.

Sambal ikan kembung
Foto: Dok. http://kulinesia.web.id/
Terpenting, “siksaan” guru kelar hari itu untuk disajikan  pas jam makan siang pelajaran PKK. Denger pelajarannya juga ngakak-ngakak sendiri. PKK? Halah! Itu kepanjangannya Pendidikan Kesejahteraan Keluarga. Baru tahu kan kepanjangannnya PKK waktu zaman saya sekolah itu sekarang? Hahah… Pelajaran tua banget menurut saya.

Kelarlah masak pada hari itu. Ga tau dari soal rasa. Terpenting ada rasa asin, santap saja. Masakan ala-ala anak SD zaman dulu ya apa aja dimasukin. Nangka dipotong pun kadang ga ada seni-seninya motong sayuran. Suka-suka. Ada yang besar, ada yang kecil, bentuk ga beraturan. Eeh… guru-guru yang icip-icip ternyata pada nambah. Hahaha…

Masak udah selesai, selang dua minggu kemudian guru PKK-nya minta murid-murid untuk buat apa saja yang berbau tanah liat. Secara saya tinggal di kampung, ya cari tanah liat ga begitu sulit. Yang sulit ketika tanah liat banyak  campuran pasirnya. Pas ngolahnya tangan berasa perih.

Kalau ini saya suka buat yang simpel tapi dipakai banyak orang. Ya kepikiran asbak rokok. Padahal sebelumnya mau buat vas bunga, lah kok jadi asbak. Asbak rokok dulu kan ada yang terbuat dari kaleng, bentuknya segitiga dan dibuat beragam warna. Ada merah, biru, kuning, juga ungu.

Sudah saja, dianggap asbak dari kaleng aluminium itu cetakan, maunya yang simpel dan mudah, tanah liat yang sudah diolah tadi dimasukkan ke dalam asbak rokok itu. Tunggu sampai kering, baru dikeluarkan. Tapiiiii… apa yang terjadi? Hahahaha… asbak rokok dari tanah litany tidak mau lepas alias lengket. Sudah ngolah capek-capek, untuk dapetin tanah liatnya memang tidak sulit, tapi gali ke dalam lapisan tanah yang lumayan dalam sekitar dua meter itu butuh tenaga. Nyangkul lagi!

Asbak tanah liat
Foto: Dok. https://lh4.googleusercontent.com
Muter otak juga akhirnya untuk bagaimana mengeluarkan itu asbak biar tidak pecah. Masa iya, asbak cetakannya digunting?! Kan ga lucu, mana itu asbak boleh minjem sama tetangga. Alhasil, siram air. Agak silly juga sih pikiran saya saat itu. Sudah ga mau mikir terserah saja apa yang terjadi saat disiram air. Yaaaah… itu tanah liat retak-retak karena kering dan berasa panas, tiba-tiba disiram air.

Ya sudah, berantakin saja sekalian alias gagal total. Yah, akhirnya minta Koran bekas sama tetangga. Kertas Koran yang sudah tidak dipakai direndam semalaman, sebelumnya dirobek-robek dulu. Terus dikasih sedikit garam biar cepat hancur. Nah, jadi deh bubur kertas. Diperas airnya, lantas dimasak sama kanji.

Peta timbul bubur kertas
Foto: Dok. https://lh4.googleusercontent.com
Saya buat peta Sumatera yang sudah digambar di atas tripleks. Bubur kertas yang sudah dimasak tadi ditempelin ke tripleks sesuai bentuk peta yang digambar. Kemudian dijemur, setelah kering dicat. Catnya bisa pakai cat air atau cat minyak untuk menyesuaikan gambar peta tersebut.

Yaaa… jadi deh hasil kerja kreatif muter otak sehari.

#ODOP 5


3 komentar:

Alfan Renata mengatakan...

Ikan kembung baladonya bikin gagal fokus nih

Rahab G mengatakan...

bubur kertas pernah juga saat SD...dibuat patung :D

Agatha Mey mengatakan...

PKK.... ya ampun pelajaran yang kayanya gak ada ya sekarang ini