Sabtu, 29 April 2017

Nyebelin Tapi Masih Bisa Bersaudara

Pastinya teman-teman pernah mengidam-idamkan pergi jalan keluar negeri. Ya, mungkin ga perlu jauh-jauh ke Eropa atau Amerika gitu. Cukup di sekitaran Asia saja. Saya, memang tak pernah membayangkan apalagi keinginan untuk pergi keluar negeri. Itu waktu SMP. Tetapi, ketika SMA, saya mulai berpikir begini, “Wah, enak nih kalo bisa jalan keluar negeri. Mungkin dan pastinya berbeda dengan di negeri sendiri. Tentunya banyak banget mungkin ya perbedaan”, terucap dalam hati.


Meski pernah ribut tapi Indonesia-Malaysia masih bisa jadi saudara
Foto: Dok. http://www.ukabc.org.uk/
Melihat berita-berita di televisi mengenai negara tetangga kala itu cukup menggiurkan untuk dikunjungi. Berkhayal untuk bisa tinggal beberapa di negara tetangga idaman akhirnya melekat dalam diri saya. Apalagi kalau ada flyer atau booklet yang tak sengaja di temukan di tengah jalan, wah senangnya bukan kepalang.

Kadang-kadang, saya pergi ke perpustakaan daerah untuk sekadar cari literatur tentang negara tetangga yang akan saya kunjungi kelak. Ya, cita-cita boleh digantungkan setinggi langit, kalau tanpa usaha sama saja bohong. Dari sejak SMA itu, segala hal yang berbau negara tetangga saya telusuri.

Mulai dari bahasa yang dipakai, budayanya seperti apa, jenis makanan, apakah ada banyak masjid bertebaran di sekitar tempat atau daerah nanti yang akan saya kunjungi. Mana-mana bagian sudut kota yang bisa dijadikan cerita. Apakah latar belakang sosial budaya terutama orang-orangnya ramah atau justru perlu trik khusus. Benar-benar saya baca satu per satu.

Informasi-informasi itu saya kumpulkan dalam satu catatan. Tetapi, tak jarang juga saya pinjam buku tentang pariwisata atau buku mengenai negara-negara tetangga Indonesia tersebut. Entah kenapa, ketika saya baca, saat zamannya Soekarno memerintah, ada istilah “Ganyang Malaysia”.

Ternyata eh ternyata, Ganyang Malaysia yang dicetuskan oleh Presiden Soekarno itu sebagai bentuk perlawanan atau menentang Malaysia tentang perbatasan. Banyak orang-orang Indonesia yang ingin kembali mengganyang Malaysia seperti tahun 1960-saat itu. Justru kalau mau berperang, ya berperang saja pemerintah Indonesia siap. Bagaimana  konfrontasi itu sebenarnya terjadi.

Orang yang memomulerkan istilah konfrontasi saat Soekarno menjadi Presiden adalah Menteri Luar Negeri, Soebandrio sekitar 20 Januari 1963. Adanya sikap bermusuhan itu tadi diperkuat juga oleh Presiden Soekarno melalui perintah Dwi Komando (Dwikora) pada 3 Mei 1963. Isinya, selain perintah untuk memperkuat ketahanan revolusi Indonesia, seluruh rakyat diminta membantu perjuangan rakyat Malaya, Singapura, Sarawak, dan Sabah untuk menghancurkan Malaysia. Indonesia menganggap pembentukan Federasi Malaysia yang didalangi Inggris sebagai upaya nekolim (neokolonialisme dan imperialisme) membentuk sebuah negara boneka.

Nah, istilah ”Ganyang Malaysia” dicetuskan Soekarno. Presiden Soekarno sangat gusar ketika dalam demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur pada 17 Desember 1963 demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Soekarno, dan membawa lambang negara Garuda Pancasila ke hadapan PM Malaysia waktu itu, Tunku Abdul Rahman, dan memaksanya menginjak lambang Garuda tersebut.

Ternyata, Bapak Presiden marah besar dan sangat mengutuk perbuatan Tunku tersebut. Soekarno mau balas dendam dengan melancarkan gerakan “Ganyang Malaysia” ke negara Federasi Malaysia yang sudah keterlaluan menghina Indonesia dan Presiden.
Akhirnya, Bapak Presiden kita itu pidato di depan rakyatnya. Nah, kira-kira begini 
pidatonya:


Presiden Soekarno, pidatonya tak pernah buat ngantuk dan berapi-api
Foto: Dok. https://cdns.klimg.com
”Kalau kita lapar itu biasa. Kalau kita malu, itu juga biasa. Namun, kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar! Kerahkan pasukan ke Kalimantan, hajar cecunguk Malayan itu! Pukul dan sikat, jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak Malaysian keparat itu.”

”Doakan aku, aku akan berangkat ke medan juang sebagai patriot bangsa, sebagai martir bangsa, dan sebagai peluru bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.”
”Serukan, serukan ke seluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini. Kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.”
”Yoo... ayooo... kita ganyang. Ganyang Malaysia! Ganyang Malaysia! Bulatkan tekad. Semangat kita baja. Peluru kita banyak. Nyawa kita banyak. Bila perlu satoe- satoe!”

Wuiiiih, saya jadi bergidik baca pidato Bung Karno ini. Bergidik karena semangat juang beliau yang benar-benar bela negara ini. Jadinya, pidato yang dia sebarkan melalui radio saat itu (radio pada masa Soekarno) merupakan alat komunikasi dan informasi yang sangat penting, sampai ke pelosok negeri.

Banyak sukarelawan yang mendaftarkan diri untuk ikut mengganyang Malaysia. Di Asia Tenggara, persenjataan Indonesia menjadi terkuat karena Uni Soviet memberikan bantuan. Tak ada ketakutan Indonesia untuk menggempur Malaysia pada waktu itu. Tetapi, meski demikian semua perselisihan dapat diselesaikan. Mungkin, mungkin nih ya, sampai sekarang masih ada rasa dongkol juga sih sama Malaysia.

Namun, bagaimanapun, Malaysia menurut saya sebagai tempat yang asyik untuk ditandangi. Bukan apa-apa, selain bahasanya yang tak jauh beda dengan Indonesia, di negara ini juga banyak muslimnya. Terpenting, kalau ke negara ini tak khawatir untuk tidak mendapatkan makanan halal.

Hal yang terpenting  lagi adalah Malaysia dan Indonesia masih sama-sama satu rumpun, Melanesia. Dari sisi makanan pun tak jauh beda, hanya beda penyebutannya saja. Dan, Malaysia ini juga tempat pertama kali negara yang saya tinggal dan kunjungi. Ya, saya masih bisa toleran dengan Malaysia dan masih saya anggap dan masih bisa menjadi negara saudara Indonesia.

#ODOP7




0 komentar: