Selasa, 25 Juli 2017

Kematian Itu Pasti!


Sejak kecil, saya memang dekat sama Ibu dan Bapak. Ibu, kalau ada hal-hal yang sekiranya perlu dibicarakan, entah masalah kakak, adik, atau urusan dalam negeri, ceritanya selalu ke saya. Saya pun sebaliknya. Karena untuk saya, ibu jauh lebih bisa mengerti pola pikir saya.

Di pemakaman Ibu dan Mba
Foto: Dok. Pribadi
Ya, sekitar tahun1988, saat duduk di bangku SMP, ibu didiagnosis dokter mengidap penyakit diabet. Saya tahunya itu penyakit gula atau kencing manis. Memang, ibu punya tubuh subur dan suka yang namanya buat tepung digoreng dan minum teh manis hampir tiap pagi. Tapi itu dilakukan bukan tanpa sebab, karena ibu pernah terkena hepatitis, mau tidak mau diharuskan konsumsi gula. Tetapi justru sebaliknya.

Saya masih berpikir polos dengan tubuh ibu yang subur itu, saya pikir ibu sehat-sehat saja. Sehatnya saya lihat dari fisik, ibu termasuk rajin berolahraga, jalan pagi, dan melakukan hal-hal yang cukup mengeluarkan keringat. Saat periksa kondisi tubuh yang ibu bilang ke dokter sering lemas dan banyak minum, alhasil ibu diminta cek darah. Alhamdulillahnya, apa yang disampaikan dokter tak membuat ibu shock.

Hari-hari ibu jalani saja seperti biasa. Sakit dalam yang di deritanya pun tak dirasa. Semua terlihat normal-normal saja. Tetapi, memang ibu coba kurangi untuk konsumsi nasi (karbohidrat), tepung-tepungan, dan sejenisnya. Saran dokter pun dijalani ibu. Minum teh manis diperbolehkan kalau kondisi tubuh benar-benar lemas.

Hingga pada satu ketika, sekitar pukul 2 malam, ibu muntah tetapi mengeluarkan darah beberapa kali. Tak tahu  kenapa, ibu masih bisa bertahan dan kuat. Alhamdulillahnya, bapak sudah ada di rumah, padahal saat itu bapak baru pulang dari kontrol proyek. Bapak bilang ke ibu, “Ibu harus bapak bawa ke rumah sakit, ibu tahan dulu dan kuat ya”.  Anak-anaknya bangun semua  mendengar ibu mau dibawa ke rumah sakit.

Tanpa ba-bi-bu, dini hari itu juga bapak larikan ibu ke rumah sakit dengan mengendarai sepeda motor. Ibu dibonceng bapak di belakang. Pokoknya, bagaimanapun caranya, bapak bawa ibu tiba di rumah sakit. Setiba di rumah sakit, beberapa perawat segera memasang jarum infus ke tangan ibu.

Saya masih ingat sekali, ketika itu masa-masa saya ujian. Sempat  belajar dan tidur di bagian bawah ranjang ibu di rumah sakit. Pagi-pagi sekali pulang aplusan jaga sama Mba. Terkadang, tiap pagi saya antarkan bubur kacang hijau dan telur matang, juga baju-baju pengganti ibu.

Lebih kurang empat puluh hari, saya dan kakak-kakak berganti jaga. Terkadang bapak pulang sebelum kerja menyinggahi ibu, dan pulang dari kerja berganti pula berjaga.
Empat puluh hari pas ibu di rumah sakit. Di hari keempat puluh itu pula dokter menyatakan ibu sudah baik dan boleh dibawa pulang.

Sebelum pulang, dokter berpesan kepada ibu bahwa ada hal yang harus dilakukan ibu saya agar tak kekurangan insulin. Ya, antara kuat dan tak kuat ibu harus  menyuntikkan sendiri insulin ke tubuhnya. Tetapi, sebelumnya dokter dan suster mengajari cara menyuntik yang benar. Tiga kali sehari, ibu menyuntikkan insulin itu. Saya berpikir, ibu seperti orang ketergantungan obat. Tetapi, memang begitulah keadaannya. Itu berlansung sekitar delapan tahun. Di tahun kesembilan, ibu mulai mengonsumsi tablet diabet (glibenglamid). Glibenglamid dikonsumsi ibu 15 tahun. Jadi, ibu tak lepas dari obat itu sekitar 23 tahun.

Sempat saat periksa kondisi kadar gula dinyatakan  normal oleh dokter dan diabet ibu hilang. Ibu pun masih setia pula mengonsumsi jamu-jamuan. Segala macam obat  ibu coba. Semangat ibu untuk sembuh tinggi. Hingga suatu hari disarankan oleh temannya untuk minum cairan rebung bambu kuning. Ibu, karena memang ingin sembuh, ikut saran temannya tersebut. Alhasil, ibu keracunan dan dilarikan ke rumah sakit. Alhamdulillahnya tak lama berdiam di ruang yang menurut saya buat saya termenung itu.

Kembali pulang ke rumah. Singkat cerita, di lima tahun terakhir sakitnya, kondisi ibu sembuh-kambuh sembuh –kambuh. Sembuh dalam artian badannya terlihat segar dan makannya pun banyak. Ketika saya menikah, kondisi ibu kembali drop dan tak bisa menghadiri pernikahan. Selang istri saya hamil menginjak bulan ketiga pada 2011 di awal bulan awal Desember, ibu koma. Dua hari di rumah, akhirnya diputuskanlah untuk di bawa ke ICU.

Saya sempat pulang ke rumah sekitar hampir satu minggu. Sekitar lima hari empat malam di ICU, kondisi ibu sudah “tak karuan”. Denyut jantung mulai turun naik. Napas pun dibantu ventilator. Jarum di sekujur tubuh ibu. Saya tak tahu, entah kenapa saya pesan tiket pulang kembali ke Jakarta itu pada Sabtu di 10 Desember 2011 pukul 12.00 WIB. Sebelum ke bandara, saya masih sempat menjenguk ibu dan berkata, “Ibu, nanti kalau ada apa-apa, saya akan kembali menjenguk ibu”.

Mungkin Allah SWT memberi tanda. Ibu membukakan mata ada dua kali kerjapan, seolah-olah mengiyakan. Saya sempatkan pula mencium kening ibu. Lantas mengucapkan pamit untuk kedua kalinya dan ibu membukakan mata kembali tetapi dipicingkan.

Teman yang sempat menjenguk bersama saya saat itu justru bilang, “Jun, semoga pesawat kamu delay.  Benar, delay satu jam. Tepat pukul satu siang, pesawat yang  saya tumpangi berangkat juga. Sebelum berangkat, teman saya  sempat berkata lagi, “Jun, saya bukan mendahului Tuhan, melihat kondisi ibu, sepertinya tak berapa lama Jun”. Saya hanya menjawab, “Keluarga sudah mengikhlaskan”.

Tepat pukul empat lebih sepuluh menit, saya baru saja menginjakkan kaki di lantai dua rumah, istri menerima telepon dari Mba saya di Jambi. Saya melihat, istri  meneteskan air mata, sambil berkata, “Ibu, sudah pergi!”  padahal itu kaki saya masih belum masuk pintu dan baru sampai dari Jambi ke Jakarta.

Saya berusaha kuat  tetapi tetesan air mata jatuh tak bisa saya bendung. Hari itu juga saya kembali cari tiket pesawat, tidak ada penerbangan lagi, habis. Dan Alhamdulillahnya, saya dapat penerbangan pukul enam pagi.  

Di dalam pesawat pikiran saya berkecamuk campur aduk. Berusaha untuk menahan air mata agar tak berjatuhan. Sampai di rumah, banjir dengan orang-orang yang melayat. Ibu siap-siap untuk dimandikan. Alhamdulillah, saya masih bisa mandikan ibu, ikut menyalatkan, dan menguburkan.

Subhanallah
Banyak orang melayat dan menyalatkan ibu. Setelah dimakamkan tak jauh dari Mba saya nomor dua, di situlah saya, kakak-kakak, dan adik saya berurai air mata. Malam harinya iringan doa dan tahlil untuk alamarhumah ibu dilantunkan. Doa-doa itu mengingatkan saya untuk terus saya kirimkan kepadanya.

Saling berkunjung ke teman-teman ibu semasa hidupnya sangat sering saya dan kakak-kakak lakukan. Tali silaturahmi tersambung kembali dan di situlah memperlancar rezeki untuk semua.

Berkirim makanan kepada ana-anak yatim piatu seperti kebiasaan ibu, pun masih dilakukan. Membawakan tetangga-tetangga dan teman-teman ibu jika datang ke rumah, makanan, sebagai salah satu bentuk dari sekian banyak hal yang pernah ibu lakukan saat masih ada bersama kami. Ya, berkurban untuk ibu dan Mba yang juga sudah tiada, masih sering kami lakukan. Hal ini untuk meneruskan kebiasaan yang pernah ibu lakukan pula.  Setiap Kamis malam Jumat, lantunan ayat suci Al Quran dan Surat Yasin berkumandang di rumah.

Semoga apa yang keluarga saya lakukan ini, semata-mata hanya untuk rida Allah SWT kepada Ibu dan Mba saya yang sudah tiada, agar doa-doa yang kami panjatkan sampai untuknya. Diberikan kemudahan untuk urusannya, aamiin Ya Allah.


  

4 komentar:

dekCrayon mengatakan...

kok jadi melow mas bacanya. perjuangan ibu melawan sakitnya luar biasa.kehilangan ibu,kata teman2 membuat gairah hidup berhenti sesaat. semoga keluarga sehat terus agar bisa meneruskan kebiasaan2 baik beliau.

Jun Joe Winanto mengatakan...

Yap Mba @dekCrayon... saya yang lagi nulisnya juga bercucuran air mata Mba. Smeoga Ibu dan Mba saya dimudahkan untuk segalanya.

widyanti yuliandari mengatakan...

Semoga yang sudah berpulang, dilapangkan kuburnya.

Jun Joe Winanto mengatakan...

Aamiin Mba @WIDYANTI