Selasa, 08 Agustus 2017

Philips Lighting: Terus Terang Kampung Hemat Energi Terang Terus Bersama Philips



 Membayangkan kehidupan orang-orang di zaman dahulu tanpa lampu, gelap! Tetapi, mereka bisa bertahan. Tentunya, ada banyak cara yang mereka lakukan untuk memenuhi penerangan di malam hari. Seperti, membuat perapian dari gesekan batu di atas ranting kering. Juga membuat bor kayu kering dengan batu untuk mendapatkan  api.

Rami Hajjar, Country Leader Philips Lighting Indonesia, mengajak masyarakat untuk membantu mengakhiri ‘kemiskinan cahaya’ dalam sambutannya di acara Konferensi Pers Peluncuran Program Kampung Terang Hemat Energi 2017-2018. [Dok. Philips]
Kesederhanaan orang-orang zaman dahulu menginspirasi banyak orang untuk mencari bentuk dan model penerangan. Kehidupan  orang-orang zaman dulu yang tanpa  lampu, ternyata masih dirasakan oleh beberapa masyarakat Indonesia, khususnya mereka yang tinggal di daerah pedalaman. 

Betapa tidak, sulitnya akses transportasi seakan membuat mereka jauh dari jangkauan. Tetapi, itu bukan alasan untuk mereka tidak mendapatkan penerangan. Seribu satu cara bisa ditempuh agar saudara-saudara kita bebas dari gelap. Kegelapan  terkadang membuat saudara-saudara kita kesulitan melakukan aktivitas di malam hari. 

Rami Hajjar, Country Leader Philips Lighting Indonesia dan Tomohiro Hamakawa, Chief Strategy Officer Kopernik menunjukkan lampu jalan LED berbasis tenaga surya: Philips Solar LED Road Light yang akan dipasang di sejumlah desa terpilih pada program CSR Kampung Terang Hemat Energi 2017-2018 Philips Lighting Indonesia.  Dengan lampu jalan yang memadai, penduduk tak perlu merasa khawatir lagi ketika melintas di malam hari, mobilitas masyarakat desa pun tak terbatas hanya pada siang hari saja [Dok. Philips]

Hal itu juga berdampak pada  belajar anak-anak saudara kita di malam hari. Mereka mencari akal dengan caranya. Ada yang menggunakan lampu dari botol-botol bekas yang diberi tutup dan tengahnya dilubangi (lampu sentir = red). Lampu model seperti itu justru dapat menimbulkan pencemaran, karena jelaga yang dihasilkan menebalkan kotoran hidung. 

Bahkan, ada juga saudara-saudara kita yang masih menggunakan obor untuk sekadar jalan antar kampung atau main ke tetangga. Itu cerita-cerita dulu sekadar flashback beberapa puluh tahun belakangan sebelum lampu masuk ke desa-desa.

Country Leader Philips Lighting Indonesia Rami Hajjar (tengah) didampingi Country Marketing Manager Philips Lighting Indonesia Lim Sau Hong (kiri) dan Chief Strategy Officer Kopernik Tomohiro Hamakawa (kanan) berbincang sesaat sebelum prosesi penekanan tombol yang menandai peluncuran program CSR Kampung Terang Hemat Energi 2017-2018 Philips Lighting Indonesia.[Dok. Philips]
Jika kita melihat data pada 2016, sekitar 12 ribu desa memang belum dialiri listrik. Itulah tadi, desa-desa itu hanya memakai lampu teplok, obor, bahkan juga lilin. Semua itu memang kadang merusak lingkungan hingga membahayakan. Bahaya dari sisi kesehatan, keselamatan, juga lingkungan yang mereka tinggali.

Berkaca dari itu, dalam upaya untuk terus mendukung aktivitas warga desa terutama malam hari, Philips dengan bangga  dan konsisten bersama programnya  untuk memberikan penerangan di desa-desa. Melalui program dengan judul “Kampung Terang Hemat Energi”, sekitar 25 desa akan memperoleh penerangan untuk Sumatera, Bali Timur, Kalimantan Tengah, serta Maluku. 

Ada sekitar 2.889 titik lampu baru yang akan dipasang, meliputi penerangan rumah dan fasum seperti puskesmas, sekolah, serta jalan umum. Hal ini jauh lebih besar dari yang pernah dilakukan Philips di Sulsel.

Seperti disampaikan Rami Hajjar, Country Philips Lighting Indonesia, “Kami senang dapat menolong lebih banyak masyarakat dengan menjembatani kesenjangan pencahayaan antara kota dan wilayah pedesaan melalui program “Kampung Terang Hemat Energi”. 

Nah, nantinya untuk desa-desa yang terpilih itu melalui “Kampung Terang Hemat Energi”, akan diberikan paket pencahayaan LED tenaga surya Philips yang inovatif, terdiri atas:
1.    Solar Indoor Lighting System Lengkap dengan panel surya
2.    Philips LifeLight yang 10x lebih terang dari lampu minyak tanah
3.    Solar LED Road Light untuk menerangi jalan-jalan desa malam hari. 

Tahun 2017 ini, program itu diawali dengan menjangkau enam desa yang ada di Sumatera Utara. Philips mendedikasikan dirinya untuk kepentingan khalayak ramai di bidang pencahayaan. Ya, selama lebih dari 125 tahun Philips mengutamakan pelanggannya sebagai pusat inovasi.

Selain itu Philips juga ikut serta dalam meningkatkan kehidupan masyarakat, di kota maupun desa. Hadirnya Philips di tengah-tengah masyarakat Indonesia memberikan kesediaan pencahayaan  dengan memanfaatkan tenaga surya. Indonesia yang berlatar tropis, memberikan keuntungan tersendiri dengan tenaga surya tersebut. Daya yang dihasilkan dari LED tenaga matahari Philips itu punya konsumsi rendah dan sangat mudah dipasang. 

Lebih lanjut ditambahkan oleh Rami, bahwa pencahayaan yang mereka usung menggunakan tenaga matahari yang disimpang di siang hari. Bila malam menjelang, sistem tersebut secara efisien mengeluarkan  tenaga listrik untuk menyimpan bohlam LED daya rendah. Hal ini sangat untuk digunakan di dalam juga luar rumah. Bukti nyata Philips itu tadi melalui Program “Kampung Terang Hemat Energi”. 

Ternyata, Philips bareng-bareng dengan LSM Kopernik yang konsen di teknologi memberdayakan penduduk desa terpencil sejak 2015, sudah menghasilkan 300 titik lampu baru untuk 11.800 penduduk Sulsel. Ya, di tahun itu juga, secara umum Philips bersuara untuk mengakhiri miskin cahaya dalam Tahun Cahaya International PBB  (UN’s International Year of Light – IYOL)

Ya, siapa lagi yang peduli dengan keberadaan cahaya yang ada di dunia ini, terutama untuk penduduk Indonesia yang jauh dari jangkauan cahaya, kalau bukan kita! Dukungan kita untuk program “Kampung Terang Hemat Energi” akan sangat berarti tak hanya untuk Philips, tetapi untuk kita semua.

Terus Terang Philips Terang Terus.

0 komentar: