Sabtu, 07 Oktober 2017

Craft As Art Mengakar pada Meet The Makers 12



Tak dapat dipungkiri, Indonesia menjadi salah satu Negara paling kaya budaya di dunia. Kekayaan budaya tanah air ini tak bisa dipandang sebelah mata oleh negara lain. Saking kayanya, sempat-sempat ada negara yang mengklaim budaya tanah air. Mulai dari lagu, alat musik, juga kuliner.

MTM 12: Mba Novi (pegang mik) Cinta Bumi; Ibu Nia (kerudung ungu), Mas Bregas MTM [Foto: DokPri]
Memang, bukan tugas generasi sebelumnya saja yang menjaga budaya negeri ini, tetapi peran generasi muda sebagai generasi penerus sekaligus penyelamat bangsa punya arti penting. Emban tugas perlahan-lahan beralih ke generasi millenials biasa kita sebut. 

Mungkin sedikit dari mereka entah tahu, mengerti, atau tidak kalau ditanya kain Savu dari mana asalnya. Lantas, ada apa saja cerita di dalam kain Savu tersebut? Atau juga ditanya nama salah satu daerah di Yogyakarta yang terkenal dengan kerajinan tanah liat atau gerabahnya.

Pengenalan budaya sejak dini sangat penting untuk generasi penerus cita-cita tanah air. Hal itu agar mereka tak lupa akan sejarah dan tempat asal usul mereka. Akar budaya perlulah mereka kenal dan tahu agar mereka tak gagu ditanya para guru.

Budaya, sebagai bentuk perilaku sosial dan norma yang ada dalam masyarakat. Budaya juga dianggap sebagai konsep sentral dalam antropologi, meliputi interval fenomena yang dipancarkan melalui pembelajaran sosial di masyarakat.

Aspek seperti perilaku, praktik sosial seperti budaya, bentuk ekspresif seperti seni, musik, tari, ritual, agama, dan teknologi (penggunaan alat, memasak, tempat berlindung, dan pakaian) dapat dibilang sebagai budaya universal. Hal itu ditemukan di semua lapisan masyarakat . Konsep budaya material mencakup ekspresi budaya, seperti teknologi, arsitektur, dan seni. Sementara itu, aspek material budaya seperti prinsip organisasi sosial.

Kriya (kerajinan) pun masuk dalam budaya tanah air. Di dalam kriya ini pun penuh dengan simbolisasi dan filosofi sarat makna. Oleh karenanya, kalau kita perhatikan, setiap goresan cat atau pewarna di dalam satu hiasan, mengandung makna yang tak bisa dipisahkan dari baik itu leluhur atau yang berkaitan dengan saji. 

Ya, cerita-cerita di balik kriya terdapat cerita yang sudah berurat berakar dari zaman dahulu. Ada pesan-pesan yang mesti disampaikan untuk generasi penerus mereka agar akar budaya asal tak mati jika di bawa keluar.

Seperti sedikit saya singgung tentang kain Savu tadi. Kain Savu sebagai kain tenun menjadi barang wajib setiap orang yang akan menikah untuk menggunakan kain itu di wilayah Nusa Tenggara Timur. Hal itu dimaksudkan agar tidak terjadi pernikahan dengan saudara dari pihak ibu.

Savu juga tak jauh beda dengan batik yang berada di Jawa. Di Yogya dan Solo masa dulu, tak semua motif bisa dipakai orang. Karena motif-motif tertentu menjadi pembeda seseorang, apakah bangsawan atau rakyat biasa. Hal itu dapat dilihat dari motif yang dipakai raja. Kini, Sultan HB IX telah membebaskan motif-motif tersebut dipakai orang banyak. Motif batik juga tak lepas dari upacara dan kehidupan orang-orang Jawa.

LAWE dengan kain luriknya [Foto: DokPri]
Menjadi satu keniscayaan bahwa benar adanya, masyarakat sebagian sudah tidak tahu lagi tentang wastra tanah air. Terutama anak-anak muda sekarang. Gadget lebih mereka kuasai. Kain yang kalau mereka lihat mungkin hanya bergumam dalam hati, “Aah, kenapa juga kain kok dibela-belain?”

Bisa jadi juga, mereka hanya melihat kain saat upacara adat digelar atau saat ada acara perkawinan. Sangat disayangkan memang, Indonesia belum sepenuhnya membuat dokumentasi kain-kain nusantara. 

Batu Ike, alat pemukul kain kulit kayu [Foto: DokPri]

Booth Cinta Bumi [Foto: DokPri]

Tas dari kain kulit kayu produk Cinta Bumi [Foto: DokPri]
Sejalan dengan itu, perhelatan Meet The Makers 12 “Craft As Art” kali ini mengusung tema MENGAKAR. Di sini, dipertunjukkan kerajinan yang tersebar di tanah air yang masing-masing benar-benar mengakar pada nilai seni, sejarah, kebudayaan, dan fungsi yang tinggi. 

Kita juga perlu ketahui, mengakar di sini dimaknai sebagai merasuknya pengetahuan, keterampilan, dan berkelanjutan untuk generasi muda yang memiliki jiwa sebagai penerus seni, sejarah, dan kebudayaan Indonesia. Di tangan-tangan generasi mudalah tongkat estafet seni ini akan diserahkan kelak. 


Peserta Diskusi MTM 12 [Foto: Dok.MTM Salma Indria Rahman]
Besyukur, saya masih bisa ikut menyaksikan kembali untuk yang kedua kalinya di Meet The Makers ini. Sementara Meet The Makers telah melakukan helatan untuk yang ke-12 kalinya saat ini. Helatan Meet The Makers 12 kali ini bertempat di Nusa Gastronomy. Tepatnya di Jalan Kemang Raya 81. Berlangsung mulai 5-7 Oktober 2017 yang diikuti 14 artisan, yaitu Pekunden Pottery (Jakarta), Gerai Nusantara AMAN (Jakarta), Kanawida (Tangerang), Batik Rifaiyah (Batang), Brahma Tirta Sari (Yogyakarta), Marenggo Natural Dyes (Yogyakarta), Wiru (Yogyakarta), LAWE (Yogyakarta), Omah Batik Sekar Turi (Sleman), Borneo Chic (Kalimantan), Cinta Bumi (Bali-Sulawesi), Tafean Pah (NTT), Tenun Molo Bife (NTT) dan Savu (NTT).

Hasil karya mereka punya nilai seni masing-masing dan tak bisa disamakan. Begitu pun cerita di baliknya. Ada proses panjang yang mereka lalui untuk sampai pada tahap seperti sekarang ini. Ketekunan, kesabaran, dan keterampilan khusus menjadikan mereka terampil di bidangnya. Kearifan penggunaan bahan mereka junjung tinggi.  Tak hanya mencipta, tetapi bahan-bahan ramah lingkungan dan berkelanjutan yang dapat memberikan nilai ekonomi tersendiri juga kepada khalayak. 

Di tengah-tengah MTM ini pun hadir Red Lotus. RL menjadi komunitas aktif tempat berkumpul artisan, pengrajin, & desainer yang didedikasikan untuk menciptakan kerajinan sebagai benda seni handmade dalam paduan estetika dan fungsi. RL sangat mendukung kegiatan MTM ini juga mendorong dan menampilkan kerajinan seni yang menghubungkan langsung ke publik. RL inilah yang menjadi penggerak untuk MTM. 

Seperti yang sebelumnya saya lihat, MTM selalu menghadirkan pengrajin dan seniman yang menjaga tradisi kearifan lokal beragam karya, seperti kain tenun, tas anyaman, batik, syal, selendang, dan beragam interior. Ya, pameran ini tak sebatas pameran, tetapi sebagai pemahaman secara utuh dan mendalam untuk kerajinan seni nusantara dalam menumbuhkan kecintaan terhadap produk lokal. Keberlanjutan MTM berkat kerja keras dan kerja sama individu juga organisasi, seperti Brahma Tirta Sari, Pekunden Keramik, dan Borneo Chic.


Bapak Ellias Yesaya (Berpakaian khas) Bamboo Music Maker (Foto: DokMTM Salma Indria Rahman]
Oya, ketika saya berkunjung ke sana, saya melihat beragam alat musik dari bambu yang dibuat secara cerdas oleh Pak Ellias Yesaya. Pak Ellias Yesaya sebagai music maker berasal dari Krayan, Kalimantan Utara. Beliau juga mengajarkan kepada orang-orang bagaimana membuat alat musik dari bamboo sebagai instrument Dayak Lundayeh.

Nah, alat musik bambu itu pun bisa dikolaborasi dengan alat musik lainnya. Ketika kunjungan itu pula, saya menyaksikan musik bambu, dan suling yang dikolaborasi dengan gitar. 

Para peserta mencoba alat musik bambu [Foto: DokPri]

Pak Ellias dengan Musik Bambunya [Foto: DokPri]
Mengalun nada dari buluh perindu Pak Ellias Yesaya. Aah sungguh syahdu. Sukses untuk Meet The Makers, sukses untuk seluruh artisan. Nah, untuk yang  ingin berkunjung, masih ada kesempatan lho teman-teman hingga hari ini. Siapa lagi yang mencintai budaya tanah air ini kalau bukan kita.


1 komentar:

Valka mengatakan...

Senang deh dateng ke pameran MTM. Dapat pengalaman dan wawasan baru banget! Semoga kriya nusantara terus lestari ya :)