Jumat, 22 Desember 2017

Lembah Bada, Pesona Rajutan Prasejarah yang Masih Bertahan hingga Kini

Menelusuri Pulau Besi tak cukup waktu sehari. Mutiara-mutiara indah masih banyak terpendam di dalamnya. Sayang, kenapa harus asing yang lebih peduli.
Sulawesi Tengah menjadi salah satu tempat paling indah di Indonesia. Pegunungan, danau, dan lembah cantik menghiasi wilayah itu. Ini menjadi daya tarik wisata yang tak terkalahkan.  Palu, menjadi ibukota Sulawesi Tengah yang letaknya tepat berada di sisi Utara. 

Kota ini dikenal sangat jarang turun hujan, oleh karena itu daerahnya kering dan panas sehingga Palu dikenal sebagai kota terkering di Indonesia. Kalau teman-teman pernah ke Palu, akan merasakan panas yang sangat lekat di kulit saat berjalan di siang hari. Sementara di malam hari, udaranya terasa sejuk.

Suasana Lembah Bada, eksotis dan sangat menawan
Foto: Dok. Pribadi
Adalah Lembah Bada, Lembah yang berada di kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, masuk ke dalam Taman Nasional Lore Lindu. Berada di sebelah Selatan kota Palu atau sebelah Barat Tentena. Dapat dicapai dengan kendaraan, baik mobil maupun motor dari Palu sekitar 8 jam perjalanan. 

Cerah di Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Perjalanan menuju ke Lembah Bada tergantung pada kondisi cuaca. Jika cuaca sedang tidak hujan, jalanan aman untuk dilalui. Apabila turun hujan, perlu berhati-hati karena beberapa jalan masih dalam bentuk tanah liat merah dan belum diaspal. 
Danau Poso di pagi hari
Foto: Dok. Pribadi
Untuk menuju Bada, saya melewati  beberapa kota kecil, seperti Parigi Moutong, Poso-Tentena, dan terakhir ke tempat tujuan. Di kiri kanan jalan terdapat perkampungan dengan nuansa pedesaan yang sangat indah, subur, dan menakjubkan.

Lembah Bada  menjelang siang
Foto: Dok. Pribadi
Sebelum perjalanan panjang ke Lembah Bada, saya singgah dan bermalam terlebih dahulu di kota Tentena. Di Tentena, banyak pilihan penginapan untuk melepas penat setelah berjam-jam perjalanan dengan mobil.

Kondisi jalan menuju Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Bersyukurnya, perjalanan ke Lembah Bada yang saya tempuh saat ini relatif aman dan lancar. Jalan-jalan mulai diaspal dan tak begitu banyak ditemui jalanan bertanah liat basah. 

Jalan terjal menuju Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Beberapa waktu lalu, perjalanan menuju ke lembah ini ditempuh dalam waktu panjang, mungkin bisa belasan jam bahkan satu hari penuh. Itu karena kondisi jalan yang tak bersahabat, ditambah lagi jika turun hujan, jalanan semakin buruk dan licin.

Situs Megalitik Palindo (Sepe)
Foto: Dok. Pribadi
Sebenarnya, apa daya tarik terkuat di lembah ini sehingga saya ingin mengunjunginya? Ya, hal paling menarik di Lembah Bada ini adalah Patung Palindo (Palindo Statue). Ketika dahulu belajar sejarah, saya hanya bisa membaca  dari buku tentang budaya megalitikum yang sangat terkenal ini.

Sepe terbesar lebih besar dan tinggi dari tubuh saya
Foto: Dok. Pribadi
Tanpa dinyana, saya menginjakkan kaki di tempat Patung Palindo. Patung  yang berdiri miring di atas permukaan tanah Bada. Masyarakat sekitar sangat percaya terhadap patung tersebut, dulunya berdiri tegak, sebagai sumber kekuatan untuk suku Lore, yaitu suku asli yang mendiami Lembah Bada.

Patung Batu masih dalam kawasan Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Perjalanan menemui patung-patung peninggalan budaya megalitikum itu tak berhenti pada patung Palindo semata. Banyak patung-patung lain yang keberadaannya tersebar di sekitar Lembah Bada. Saya terperangah sekaligus terperanjat melihat keberadaan patung-patung peninggalan megalitikum itu. Betapa tidak, negeri ini penuh dengan peninggalan masa prasejarah yang sangat indah untuk ditelusuri.

Patung batu, saya, dan Prof. Isamu Sakamoto di Lembah Bada
Foto: Dok. Pribad
Sangat beruntunglah saya menjumpai patung-patung megalit yang ada di lembah Bada ini. Mengapa saya bilang beruntung? Karena patung-patung megalit yang saya lihat merupakan patung-patung langka yang ada di dunia. Wow Indonesia! Patung-patung ini hanya terdapat di Napu, Besoa, Bada, dan Amerika Latin yang berada di daerah Marquise Island.

Patung Batu Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Lembah Bada, punya magnet sangat kuat untuk orang-orang di luar Bada sendiri. Selain patung-patung prasejarah, ada satu tradisi yang sudah dilakukan sejak zaman dahulu kala, tepatnya zaman Megalitikum hingga kini. Apa itu? Ya, tradisi pembuatan kain dari kulit kayu. 

Bersama Mama Beri, pembuat kain kulit kayu Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Salah seorang peneliti kain kulit kayu Prof. Isamu Sakamoto, yang berasal dari Surugadai & Kibi University, Jepang mengatakan, “Tradisi pembuatan kain kulit kayu yang berada di  Lembah Bada muncul pada zaman Neolitikum, sekitar 3.600 tahun lalu yang berarti sebelum zaman megalitikum, pembuatan kain kulit kayu sudah ada dan berkembang pesat, terutama di Lembah Bada, Sulawesi Tengah.”
 
Pembuatan kain kulit kayu di Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Perkembangan di dunia--menurut Profesor Sakamoto--pembuatan kain kulit kayu yang sekarang ini hanya ada di Sulawesi Tengah saja. Hingga saat ini masih terus berproses dan dibuat. Apabila dilihat di lain tempat, ini sudah tidak ada. 
Kain kulit kayu berukuran 1 x 1 m yang dibuat Mama Beri
Foto: Dok. Pribadi
Bila diperhatikan secara saksama, masyarakat yang mengolah kain dari kulit kayu masih menggunakan batu dan batu itu hanya ada di Lembah Bada. Diperhatikan secara saksama pula, batu-batu yang digunakan untuk membuat kain, hanya ditemukan di situs-situ kuno yang terdapat di Lembah Bada (lokasi yang sama).

Batu-batu tersebut memiliki alur. Alur pada batu untuk memanjangkan serat kulit kayu sehingga mudah dibentuk. Nah, nama batunya sendiri disebut sebagai batu Ike. Batu Ike sebagai alat pemukul beaten bark (kain kulit kayu) ini namanya sama dengan yang ada di Meksiko. 

Alat pukul (baton beaten) batu ike kain kulit kayu yang ada di Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Hal yang membuat saya lebih tercengang lagi, ternyata batu-batu yang digunakan sebagai alat pemukul kain kulit kayu itu tadi, menurut para arkeolog dibuat sekitar 3.600 tahun silam. Batu-batu itu hingga kini masih bertahan dan utuh. Waw banget!

Profesor Isamu Sakamoto mencoba memukul kain kulit kayu dan Mama Beri di Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Bukan apa-apa, hal ini benar-benar memukau dan membukakan mata saya. Sejarah yang sudah berlangsung 3.600 tahun berlalu, tetapi hingga sekarang masih terus berlangsung pembuatan kain kulit kayu tersebut.

Alat yang saya pegang adalah setrika untuk kain kulit kayu di Etnis Lore Iwanua, Desa Lengkeka
Foto: Dok. Pribadi
Menurut Profesor Harry Truman Simanjuntak, Arkeolog dan peneliti kulit kayu, di dunia persebaran kain kulit kayu cukup luas, selain di Asia, yang tertua terdapat di China Selatan, ada di Amerika dan beberapa negara. Ditemukan pula kain kulit kayu yang ada di Peru, Bolivia, Brasil, dan di wilayah Kepulauan Pasifik. 

Mama Asa, yang saya pegang  kain kulit kayu terakhir buatannya, saya beruntung mendapatkannya.
Usia Mama Asa ini sudah  lebih dari 90-an tahun
Foto: Dok. Pribadi
Kain  kulit kayu yang berada di Pasifik berkembang sangat baik dari zaman dahulu hingga kini, masih terus berlangsung di beberapa tempat. Hal ini tentu ada kaitan persebarannya dengan yang datang dari China Selatan, masuk ke Taiwan, turun ke Filipina, masuk ke Indonesia, dan sebagian ada yang bermigrasi ke wilayah Timur dan Pasifik, menurut Truman.

Menginjakkan kaki di Etnis Lore Iwanua Lengkeka masih dalam kawasan Lembah Bada-Sulteng
Foto: Dok. Pribadi
Beberapa kain kulit kayu sudah punah, seperti di Toraja, pada tahun 1900-an, atau awal abad ke-20 masih ada peneliti Eropa yang melihat dan menyaksikan sendiri pembuatan kain kulit kayu, bahkan diterbitkan dalam sebuah buku. Setelah diteliti dan dilacak kembali beberapa tahun lalu, ternyata pembuatannya sudah tidak ada lagi.  Yang tertinggal hanya produknya saja yang ada di museum setempat, dan di beberapa butik-butik tertentu.

Daya tarik yang sangat kuat untuk saya teliti lebih lanjut, Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Kurator Museum Sulawesi Tengah, Drs Rim, M. Hum, mengatakan bahwa yang ada sekarang ini tinggal orang tua yang sudah lanjut usia yang masih membuat. Karenanya, perlu diberi pemahaman bahwa kulit kayu di Lembah Bada ini memiliki nilai ekonomi tinggi. 

Kak Sonya, Baju Hijau, salah satu  generasi muda penerus pembuat kain kulit kayu di Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Oleh karenanya diharapkan, anak-anak cucu mereka juga dapat membuat kain kulit kayu tersebut. Jangan pernah berpikir bahwa membuat kain kulit kayu hanya pekerjaan sia-sia atau buang-buang waktu. Hal  inilah yang perlu benar-benar dijadikan sebuah momentum untuk memacu mereka. 
Peran pemerintah, seperti Deperindag, Koperasi, dapat mengajarkan kepada pengrajin ini agar lebih dinamis dalam berproduksi. Memang, tidak semua jenis pohon dapat diambil kulitnya untuk dibuat kain kulit kayu. 
Rim mengatakan, di Bada ada sekitar 16 jenis pohon menurut penelitian yang dapat diambil kulitnya untuk pembuatan kain kulit kayu. Sementara, di daerah Kulawi hanya sekitar 6 jenis pohon saja. Memang, lebih banyak di daerah Lore-Bada.

Pohon Bea (Brossounetia papyrifera) bahan dasar pembuatan kain kulit kayu
Foto: Dok. Pribadi
Jenis-jenis pohon yang dapat diambil kulitnya untuk dijadikan bahan pembuatan kain kulit kayu dan paling sering adalah pohon Ivo atau Bea, pohon Malo, dan beberapa jenis beringin. Kulit kayu dari jenis pohon inilah yang paling sering dipakai.
Beberapa penelitian mengatakan, semua pohon yang bergetah dapat dijadikan kain kulit kayu dan memiliki potensi ekonomi. Ya, pembuatan kain kulit kayu yang berada di Sulawesi Tengah ini merupakan satu budaya kearifan lokal masyarakat setempat yang ingin dan peduli mempertahankan tradisi agar tak mati. 
Proses pembuatan kain kulit kayu memerlukan waktu relatif lama. Jika dilakukan terus menerus  perlu waktu sekitar satu minggu hingga 15 hari. Semua itu tergantung dari berapa meter atau berapa besar kain yang diinginkan. Semakin lebar dan panjang kain, semakin lama waktu yang diperlukan. Kain-kain kulit kayu yang akan dijadikan baju pun perlu waktu lagi. Waktu yang diperlukan sekitar dua minggu hingga satu bulan. Semua itu tergantung pola dan jenis baju yang akan dibuat. 
Proses pembuatan kain kulit kayu terbilang sulit. Tahapan-tahapan tertentu harus dilalui untuk menghasilkan kain yang bermutu dan bernilai ekonomi tinggi.  Tahapan-tahapannya sebagai berikut.
Pertama: pencarian bahan baku (material) yang memang banyak terdapat di lembah Bada. Pohon-pohon yang boleh diambil tak sembarang  pohon, adalah pohon dengan umur tertentu. Kearifan penduduk lokal dalam menggunakan bahan baku sangat dijaga. Warga mengambil secukupnya saja. Pohon-pohon yang sudah ditebang lantas dikuliti. Kulit kayu kemudian direbus agar menjadi lemas dan mudah diproses.
Nantinya, kulit kayu yang tadinya berwarna cokelat, setelah boiling (perebusan) akan berubah warna  menjadi putih. Kulit kayu yang berwarna putih tadi, akan dibuat kain yang berwarna putih. Kulit kayu yang sudah direbus dan mulai lemas tersebut, lalu dipukul-pukul menggunakan kayu dan batu khusus. Lamanya pembuatan kain  kulit kayu dari kulit kayu yang sudah direbus tadi melalui pemukulan dapat berlangsung antara satu hingga dua minggu. Hal itu tergantung berapa panjang atau pendek kain yang akan dibuat.
Berdasarkan penuturan Antony, seniman pembuat kain kulit kayu, jenis kayu yang digunakan untuk memukul kulit kayu terbuat dari kayu bernama kayu Miras atau ruyung enau. Kayu Miras itu kayu yang relatif keras, berfungsi untuk menghancurkan serat kayu. Kayu Miras yang berbentuk garis lubang panjang difungsikan untuk  serat masuk ke dalam dan membuka helaian serat.

Guratan kayu Miras tersebut merupakan peninggalan nenek moyang. Untuk memperhalus kain kulit kayu mereka mencari cara sendiri atau mengembangkannya sendiri. Pemukulan kulit kayu dengan alat pukul kayu lebih kurang satu hari saja. Untuk hari kedua, mulai dilakukan pemukulan dengan menggunakan alat yang terbuat dari batu. Dalam masyarakat Bada yang membuat kain kulit kayu, untuk pemukul tersebut ada penamaan tersendiri.

Untuk pemukulan pertama alatnya disebut Peboba. Hari kedua tetap menggunakan kayu Miras (Enau). Alat kedua yang dipakai untuk memukul adalah Pehelo’i, ketiga masih jenis Pehelo’i tapi terbuat dari batu (namanya batu ike) yang konturnya mulai agak halus.

Setrika kayu (seperti Alu) dan beberapa alat pemukul kain kulit kayu
Foto: Dok. Pribadi
Kain-kain kulit kayu yang dipukul-pukul lama kelamaan akan melebar dan alat-alatnya pun disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk menyambung antara satu kain kulit kayu dengan kain kulit kayu lainnya tidak menggunakan lem. Akan tetapi dengan menempelkan kain kulit kayu yang lainnya dan dipukul-pukul lagi hingga menyatu melalui pukulan tadi. 
Pekerjaan untuk membuat kain kulit kayu ini memang kebanyakan dilakukan kaum wanita. Mereka melakukannya ketika tidak ada pekerjaan lain atau saat-saat senggang. Biasanya mereka melakukannya setelah pekerjaan utama, khususnya pekerjaan rumah usai. Kesabaran, ketekunan, juga kegembiraan sebagai kunci dari pembuatan kain kulit kayu ini. 
Kulit kayu yang sudah dipukul-pukul selama beberapa hari tersebut yang tadinya tebal lama kelamaan menjadi tipis akan tetapi liat dan kuat menjadi kain. Tentunya, kandungan air yang terdapat dalam kain kulit kayu masih ada. Untuk menghilangkan kadar airnya, kain kulit kayu dijemur di terik sinar matahari hingga kering sempurna. 
Hal yang sangat saya kagumi dalam proses pembuatan kain kulit kayu ini, tak ada satupun bahan-bahan kimia bercampur di dalamnya.
Proses pembuatannya dilakukan secara alami dan tradisional dengan memanfaakan sumber-sumber alam yang ada. Sama halnya dengan  pembuatan kain kulit kayu, untuk pewarnaannya pun demikian, masyarakat Lembah Bada menggunakan pewarna alami yang diturunkan secara turun temurun dari nenek moyang mereka kepada orang-orang yang melakukan pembuatan kain kulit kayu. 
Bahan pewarna alami yang digunakan diambil dari pohon yang berada di Lembah Bada sendiri. Pohon tersebut terdapat di pinggir-pinggir jalan dan juga dataran tinggi Bada. Pohonnya bernama Bonoti. Sementara bahasa Manadonya Leilem. Bunga justru tidak digunakan. 
Daun Bonoti tadi lantas ditumbuk. Tempat tumbuknya (lumpang) terbuat dari batu. Mengapa batu? Dilihat dari kekerasan daunnya, daun Bonoti itu relatif keras, jadi batu justru mempercepat proses penghancuran, mempercepat penghalusan, dan mempercepat pengeluaran air. Sedangkan tumbukan yang berasal dari kayu justru membuat lama hancur daun Bonoti dan lama pula proses pengeluaran airnya. 
Antonio--Pak Tony biasa disapa--merupakan seniman dari Lembah Bada yang berkonsentrasi terhadap pembuatan dan pewarnaan kain kulit kayu. Dia jugalah orang yang memberikan motif-motif pada kain kulit kayu Lembah Bada. Dia seakan mampu memberikan “nyawa” pada kain kulit kayu yang seolah memiliki jiwa.
  
Kemampuan dirinya meracik beragam warna untuk pembuatan warna kain kulit kayu berbasis pada kearifan lokal. Pengetahuannya diperolah secara turun temurun.
Hal yang menjadi catatan penting saya, Pak Tony terkadang mengandalkan ingatannya untuk membuat warna-warna yang ada tanpa membuat catatan. Amazing!
Warna hitam yang dibuat olehnya berasal dari getah Damar (Agathis alba). Getah damar diperolehnya dari hutan di sekitar Lembah Bada.  Getah damar yang diambil pun merupakan getah damar yang sudah mengeras dan mengering.
Selanjutnya getah damar dibakar. Hasil pembakaran getah damar tadi, ditampung dalam belang-belanga yang terbuat dari tanah liat. Asap-asap (Jelaga) yang ditimbulkan dari getah damar tadi akan menempel di sekitar belanga. Pak Tony tak pernah berhenti untuk mencoba mencari pewarnaan baru. Melalui mencoba dan terus mencoba itulah akhirnya dia mendapatkan warna-warna indah alami yang membuat kain kulit kayu yang tadinya putih, kini penuh corak dan warna. 
Baju dari kain kulit kayu untuk pria (Koleksi Bang Rim)
Foto: Dok. Pribadi 
Jelaga-jelaga getah damar yang dibakar tadi akan menempel di dalam tutup-tutup belanga. Selanjutnya, jelaga damar tadi dikerik perlahan-lahan untuk diambil menjadi pewarna hitam. Diberi sedikit tetesan air sehingga mengeluarkan warna hitam pekat.

Rok dari kain kulit kayu untuk perempuan (Koleksi Bang Rim)
Foto: Dok. Pribadi
Nah, dengan alasan  motif-motif yang dibentuk atau dibuat oleh Pak Tony adalah motif-motif kuno, oleh karenanya, motif tersebut tidak boleh dimodifikasi atau dibuat dalam bentuk lain. Beliau menganggap bahwa motif kuno tersebut sebagai sebuah tradisi masa lalu. Hal itu tak boleh diubah-ubah karena berkaitan dengan adat.
Baju untuk perempuan dari kain kulit kayu (Koleksi Bang Rim)
Foto: Dok. Pribadi
Ada salah satu baju yang dipakai  untuk perempuan dengan motif kerbau. Maksud dari motif tersebut adalah baju itu dipakai pada saat ada kelahiran, perkawinan, dan kematian dengan melakukan upacara kerbau dengan menggunakan baju tersebut. Mas kawin (mahar perempuan) pada saat pernikahan pun memakai kerbau. Penyambutan yang menggunakan ritual juga memakai kerbau. Begitu pula dengan pesta-pesta yang diadakan, harus menggunakan kerbau.
Baju untuk pria dengan motif yang sangat indah (Koleksi Bang Rim)
Foto: Dok. Pribadi
Jadi, di bagian bawah di atas pusar pada baju tersebut terdapat simbol tanduk kerbau. Tanduk kerbau merupakan adat Bada. Tanduk kerbau yang digambarkan di motif baju itu ada yang terdapat secara abstrak. Filsafat nenek moyang mereka diambil dari bulan dan bintang.

Siga atau penutup kepala untuk pria (Koleksi Bang Rim)
Foto: Dok. Pribadi
Filsafat bulan, jika menanam tanaman yang berbiji ditanam pada saat bulan purnama. Menurut Pak Tony, apabila ditanam pada saat bulan purnama, tumbuhan tersebut akan berbuah lebat. Jangan menanam pada saat bintang berkelip. Apabila menanam saat bintang berkelip maka serangan hamalah yang akan diperoleh.

Kain kulit kayu  berumur sekitar 100 tahun (Koleksi Bang Rim)
Foto: Dok. Pribadi
Nilai ekonomi kain kulit kayu tak semata pada pakaian yang digunakan ketika upacara adat berlangsung, akan tetapi menjadi satu hasil karya yang sangat inspiratif dapat digunakan oleh orang banyak.
Celana dari kain kulit kayu untuk pria (Koleksi Bang Rim)
Foto: Dok. Pribadi

Selempang untuk baju pria dari kain kulit kayu (Koleksi Bang Rim)
Foto: Dok. Pribadi
Kain kulit Kayu menjadi sebuah peradaban khas manusia karena memiliki fungsi yang sangat banyak. Pertama untuk fungsi yang sangat praktis, dapat digunakan untuk selimut maupun baju (untuk kebutuhan sehari-hari). 

Lukisan di atas kain kulit kayu
Foto: Dok. Pribadi
Kedua, kain kulit kayu juga berfungsi sebagai status sosial. Di suku-suku tertentu pada masyarakat seperti ketua adat, memiliki baju kebesaran yang terbuat dari kain kulit kayu. Artinya, hanya pemimpin atau orang-orang tertentu yang boleh mengenakan kain tersebut atau sebagai simbol dari strata sosial seseorang.
Fungsi sakral, hanya dipakai pada saat ada upacara-upacara adat tertentu dan orang-orang tertentu pula yang menggunakannya. Hanya orang-orang yang terlibat dalam pelaksanaan upacara adat itu saja yang dapat mengenakannya. 
Untuk orang-orang yang memiliki ide-ide kreatif, kain kulit kayu mereka sulap menjadi barang-barang unik, seperti dompet, tas, juga sepatu casual lainnya. Di Sidoarjo Jawa Timur, kain kulit kayu diolah menjadi beberapa barang yang sangat unik dan menarik, seperti tas juga sepatu. Pengusaha lokal memperoleh kain kulit tersebut dari Bengkulu. Permasalahan pada kain kulit kayu adalah bagaimana mengantisipasi jamur atau serangga? Juga bahan yang mudah sobek. 
Sebagaimana diketahui, Lembah Bada merupakan lembah yang berjarak relatif jauh dari ibukota Provinsi Sulawesi Tengah. Oleh karenanya, untuk membuka pasar atau memasarkan produk hasil olahan Lembah Bada menjadi terkendala. Sudah dipastikan, apabila di Sulawesi Tengah ini anak-anak mudanya tidak tertarik untuk mengolah atau mempertahankan tradisi kain kulit kayu, suatu saat nanti warisan budaya nenek moyang yang sudah dirintis secara panjang dan lama akan menghilang begitu saja.
Pak Antony sungguh beruntung, beliau menurunkan apa yang ada dalam dirinya kepada anak lelakinya yang bernama Sigit untuk terus mempertahankan dan mengembangkan usaha sang ayah dalam mempertahankan tradisi pembuatan kain kulit kayu di Sulawesi Tengah, khususnya lembah Bada.
Tak dapat dipungkiri, masyarakat tak tertarik dengan kain kulit kayu, mengapa? Karena negeri ini sudah dipenuhi dengan tumpukan kain-kain modern yang lebih menarik, baik dari sisi warna, motif, maupun ketahanannya. Upaya untuk mempertahankan ini tak semata-mata hanya dari penduduk lokal, tetapi bagaimana peran pemerintah untuk turut serta mempertahankannya agar tetap ada aktivitas pembuatan kain kulit kayu bahkan bisa terus berkembang.

Daluang yang ada di Jawa
Foto: Dok. Pribadi


KERTAS DALUANG, BERBAHAN DASAR KULIT KAYU

Beberapa nama diberikan untuk kain kulit kayu. Di Lembah Bada, sangat dikenal dengan sebutan Fuya. Di Bali diberi nama Ulantaga atau walantaga. Ulantaga biasanya dipakai untuk acara ngaben atau rajah. Sementara itu, di Jawa dikenal dengan sebutan Daluang, Dluwang, Duluwang, atau Druwang. Bahasa Jawa Kuno menyebutkan duluwang memiliki arti kulit kayu, kopiah, pakaian rahib atau pertapa. Daluwang juga sama dengan dalancang.

Salah satu contoh  Wayang Beber, warisan tak benda yang sangat perlu dilestarikan dari daluang (kulit kayu)
Foto: Dok. Pribadi
Di Jawa, daluwang banyak dimanfaatkan untuk penulisan manuskrip pada masa kerajaan zaman dulu dan juga wayang yang dikenal dengan nama wayang beber. Ketika beberapa waktu lalu, saya mengunjungi beberapa tempat yang dianggap menyimpan benda peninggalan sangat bersejarah ini, sebut saja Keraton Surakarta, Museum Radya Pustaka, dan Perpustakaan Puro Pakualaman.
 
Manuskrip asli dari Daluang
Foto: Dok. Pribadi
Manuskrip yang ditemukan di Radya Pustaka termasuk manuskrip terbagus yang masih utuh. Kertas daluang yang dipergunakan hingga kini tetap terpelihara. Beberapa ornamen yang ditorehkan di dalamnya pun cukup indah. Jadi, pada masanya, raja dan ratu kerajaan menuliskan cerita di atas kertas tersebut. Penampakan daluang memang sangat berbeda dari kertas kebanyakan. Dari proses pembuatannya pun berbeda pula.

Manuskrip dari Daluang
Foto: Dok. Pribadi
Kalau kertas biasa, kebanyakan dibuat dengan proses pembuburan (pulping) dan lembaran (forming). Umumnya, kertas biasa menggunakan senyawa kimia, sehingga hasil sisa bahan kimia masih tertinggal secara langsung. Hal itu yang membuat kertas biasa tidak dapat bertahan lama ketika terjadi reaksi kimia semacam oksidasi atau hidrolisis.
Sementara itu, daluang dibuat dengan cara menguliti kulit pohon Saeh, dicuci, lantas dikeringkan. Begitu kering, kulit direndam selama 24 jam. Selanjutnya dilakukan proses tempa (kempa). Proses kempa ini kulit saeh dipukul secara merata hingga didapatkan lebar kertas daluang yang diinginkan. Di Sulawesi, biasanya dilakukan perebusan kulit kayu, setelah itu dibungkus menggunakan daun pisang selam 7 hari hingga menghasilkan lendir.
Kemudian kulit  pohon saeh dipukul-pukul dengan beberapa macam alat hingga menghasilkan bentuk, ketebalan, serta lebar yang diinginkan. Di Jawa Barat, daluang dijemur di pohon pisang. Batang pisang memiliki tekstur licin sehingga daluang yang dihasilkan lebih halus. Untuk selanjutnya daluang yang kering digosok dengan kerang untuk menghasilkan tekstur yang halus di permukaannya. Memang, dari pembuatannya, daluang punya kelebihan  dari kertas biasa. Daluang dibuat secara tradisional. Oleh karenanya, dapat bertahan lama hingga ratusan tahun dan tanpa bahan kimia. 
Jangan heran, bahwa daluang ditemukan pada naskah kuno Kakawin Ramayana di abad ke-9. Diceritakan bahwa daluang sebagai pakaian pandita. Di abad ke-18, daluang dipakai tidak saja untuk pakaian, tapi juga kertas suci, ketu-siga (penutup kepala). Sebelum Islam datang, daluang dipakai untuk bahan wayang beber (Mungkin nanti saya akan bercerita tentang Tradisi Wayang Beber ini). Wayang beber sebagai wayang tertua yang lebih dulu hadir dengan memanfaatkan lembaran atau gulungan daluang untuk mencatat kisah atau cerita pewayangan dalam bentuk bahasa gambar. 
Nah, kalau daluang untuk tulis menulis di Indonesia, dimulai dari pesantren hingga dimanfaatkan untuk kebutuhan administrasi zaman belanda menjelang kemerdekaan RI. Mengenai tradisi menulis di Indonesia menggunakan daluang, kira-kira ada sekitar abad ke-14. Seperti terlihat di naskah UU Tanjung Tanah di Gunung Kerinci yang diteliti Dr. Uli Kozok, Hawaiian University sekitar 2003. Sementara, untuk naskah Sunda dapat dicari dari naskah Sunda Kuno dari abad ke-18 koleksi perpusnas.

38 komentar:

Ety Budiharjo mengatakan...

Ya...ampun aku ko baru tau sih ada situs yg terpendam di Palu. Harus dilestarikan lho ini. Miris banget yak Pemda dan pempus ga perhatian malah orang asing duluan. Semangat terus ya Jun untuk menemukan jejak sejarah sekaligus wisata sejarah semacam ini...

Jun Joe Winanto mengatakan...

Bergidik Mba pas ngulik ini Lembah. Masya Allah banget... Indah seindah indahnya dunia. Wisata Sejarah, neliti bahan, juga belajar Mba. Terima kasih Mba Ety, semoga semakin banyak yang peduli, ga Orang luar justru Orang Indonesia sendiri. Ada tempat terindah di negeri ini.

Tanti Amelia mengatakan...

Alhamdulillah ya mas bisa sampe lembah bada

Helena mengatakan...

Iri sama Mas Jun. Dari sekian situs megalitikum di Sulteng, aku belum pernah ke sini. Jaraknya jauh dari yang lain, Beda sendiri arahnya. Jadi kangen balik ke sana.

Dennise Sihombing mengatakan...

Selamat pagi...beruntung sekali Jun bisa kesana menikmati kekayaan alam Indonesia lengkap dengan kebudayaan penduduk setempat. Kapan ya aku bisa kesana? Btw penduduk aslinya pakai bahasa daerah / Indonesia Jun?

Monica Anggen mengatakan...

Beruntungnya dirimu bisa ngulik daerah keren ini, Jun. Tulisan ini juga lengkap nih, bisa ngasih gambaran jelas buat yang pengen ke sini juga. Thanks ya udah berbagi cerita ��

Maya Siswadi mengatakan...

Ya ampun Jun, daerah Indah dan penuh sejarah ini belum banyak di exposed. Sayang sekali ya jalanannya masih jelek seperti itu. Apa sudah diperbaiki?

Thanks for share ya, sangat menambah wawasan

adi pradana mengatakan...

Mantap jiwa, bisa poto2 bareng patung2 yang memiliki nilai sejarah.

Jun Joe Winanto mengatakan...

Mba Neng @Tanti: Semoga kita bisa ke sana bareng2 ya Mba. Insya Allah, rezeki mengikuti.

Mba @Helena: Iya Mba beda arah. Lembah Bada masih sangat jarang orang tahu. Justru peneliti luar negeri, seperti Prof Sakamoto (Jepang), Prof Truman (Indonesia), Rene (Belanda) yang tahu situs megalitikum di Indonesia yang... waw banget. Padahal Mba Helena kan pernah tinggal di Palu beberapa waktu lalu. Ya, perjalanannnya ke Lembah Bada relatif lama dan cukup beradrenalin Mba.

Kak @Dennise: Semoga kita bisa ke sana kak. Rezeki akan mengikuti niat baik. Penduduk lokal menggunakan bahasa setempat (daerah) terkadang dicampur bahasa Indonesia. Mereka pandai berbahasa Indonesia. Tetapi, untuk yang sudah lanjut usia memang sulit berbahasa Indonesia.

Mba @Maya: Iya, Lembah Bada sangat jarang terekspos dan memang tak pernah terekspos. Padahal, ini adalah surga dunia yang tersimpan indah di negeri raya khatulistiwa. Jalannya ada sebagian yang sudah beraspal dan belum. Tetapi, untuk jalan-jalan menuju Patung Sepe, memang belum beraspal sama sekali. Semua masih tanah, bahkan kadang ada tanah liat. Medannya kalau hari hujan, sulit mobiil untuk masuk. Jalannya jadi licin. Siapa tahu nanti, kita bisa eksplor bareng-bareng Mba Maya ga hanya di Lembah Bada, tapi di Lembah Napu juga Lembah Besoa. Aamiin.

Mas @Adi: Selama ini, Patung Sepe hanya saya lihat di buku sejarah. Alhamdulillah, di hari itu, saya bisa menemukan langsung dan foto dengan Patung Sepe terbesar zaman megalitikum yang benar-benar masih bertahan hingga kini. Begitu pula pembuatan kain kulit kayu yang sudah tidak ada di negara lain. Justru peninggalan Megalitikum di Indonesia masih bisa bertahan seiring gempuran zaman hingga hari ini. Semoga pembuatan kain kulit kayu terus berlangsung dan hidup. Aamiin.

Mba @Monica: Alhamdulillah. Saya menikmati setiap gerak langkah kaki ini mau ke mana. Niat yang baik dan menggali budaya, tetapi bukan untuk eksploitasi dalam arti negatif. Saya rindu ingin kembali lagi, karena satu minggu belum puas menelusuri Bada. Suatu saat nanti, kita akan bersama-sama ke Lembah Bada, Aamiin.

deddyhuang.com mengatakan...

petualangannya seru banget mas jun... interaksi dengan orang lokal setempat.

Jun Joe Winanto mengatakan...

Waduuh... merasa tersanjung nih, blog saya dikunjungi Masternya jalan-jalan Koh @Deddy. Ga puas ko, soalnya cuma sebentar di LB-nya. Coba tiga bulanan, wuahaahahaha... bisa keliling-keliling khatam di LB. Banyak belajar kearifan lokal dari mereka. Salut! Kapan ko, kita jalan-jalan bareng? Hehehe.Oya, terima kasih ya Ko, sudah berkenan singgah dan ninggalin jejak.

Satto Raji mengatakan...

Baru sekali ini memdengar tentang lembah Bada. Kekayaan tersembunyi Indonesia, sampai ada situs megalit segala eeuuii

D. Pusupa mengatakan...

Menarik nih petualangannya sampai ke situs megalitikum. Jadi pengin ke sana.

Agung Han mengatakan...

Artikelnya panjaa.. ng dan lengkap, smoga langkah ini diringankan amin

Lia Harahap mengatakan...

Ngeliat medan perjalanannya bener-bener sulit ya, Mas. Syukurlah kalau jalan sudah mulai di aspal.

Jun Joe Winanto mengatakan...

Mas @Satto: Semoga bisa ke Lembah Bada nih kita bareng-bareng. Kereeen banget deh pas di lihat dari ketinggian 1400 dpl.

Mba @DewiPuspa: Ayooo mbaaa kita jadi bolang... hahahah, siapa tahu ada yang bisa diberdayakan di Lembah Bada.

Mas @AgungHan: Walah... iya yak kepanjangan artikelnya. Aamiin aamiin aamiin, kita ga tahu ya kang mas, siapa tahu tahun ini saya dan teman-teman bisa menjejakkan kaki di Bada. Aiiiiiih surga yang tersembunyi.

Mba @Lia: Kalo sekarang ada bagian yang sudah diaspal Mba, jadi lebih enak. Itu jalan yang belum diaspal yang mau ke Situs Megalitnya.

Selamet Hariadi jalan-jalan mengatakan...

Tulisan yang menarik mas... jalan-jalan yang bermakna. Manuskripnya masih bisa dibaca ya...

Kurnia amelia mengatakan...

Ahhhh mas Jun keren banget ini tempatnya....jadi pengen Plesiran ��

Kania Safitri mengatakan...

Wah keren banget mas Jun bisa jalan-jalan kesana duh jadi pengen seru banget siiiiy.... how lucky you are!

Reh Atemalem mengatakan...

Aku terpesona betul liat bajunya, Mas.
Kebayang perjuangannya dapetin selembar baju kaya apaa..

Jun Joe Winanto mengatakan...

Mas @SelametHariadi: Terima kasih ya Mas, alhamdulillah bisa buat tambahan bacaan sejarah negeri ini. Ada surga tersembunyi yang jarang dikunjungi orang. Masih bisa dibaca mas manuskripnya dan kertas daluangnya juga bagus banget, ketebalannya 0,07 mm waktu saya dan Prof. Sakamoto teliti di Museum Radya Pustaka, Solo.

Mba @Amelia: Aamiin, siapa tahu kita bisa plesiran bareng ya mel. Melihat tempat-tempat yang indah dan berrsejarah. Lembah Bada ini benar-benar mengagumkan Mel. Semoga!

Mba @Kania: Thank you so much Mba. Hope, We get together journey oneday. Aamiin. Semoga dikabulkan nih doa-doanya.

Mba @RehAte: Bajunya lucu dan penuh makna dengan lukisan-lukisan itu. Yah, perjuangan dan pengorbanan buat dapetin satu lembar kain kulit kayu yang harganya sekarang.... ajegile.... Muahaal. Jalan bareng kita nyookk... Nabung dulu yak.

Liswanti mengatakan...

Aku baru tahu ini, bener bener bersejarang banget. Dan aku baru tahu setrika kayu itu seperti apa.

Jun Joe Winanto mengatakan...

Teh @Liswanti: Ya Teh, selama ini saya tahu situs megalit cuma baca dari buku, itupun hanya disebutkan provinsinya saja, daerahnya jarang tersiar. Tetapi, Alhamdulillah banget, saya bisa menginjakkan kaki di Pulau Besi ini dan langsung bertemu situs megalitikum yang selama ini baca aja dari buku. Banyak banget nilai historisnya Lembah Bada ini. Serasa ga pengen pulang.

andri mastiyanto mengatakan...

Wah travelling yang nggak cuma jalan-jalan nih bro jun. Ada yg bisa dibawa pulang, termasuk history nya

Nurul Dwi Larasati mengatakan...

Seru ya kalau berkunjung ke daerah yang banyak cerita sejarahnya.

Tapi kalau dicuci hancur ga tuh kain kulit kayunya?

sally fauzi mengatakan...

Seru yak Jun, tempat ini kaya surga tersembunyi yak....

Jun Joe Winanto mengatakan...

Bro @Andri: iya, jadi banyak dapet ceritanya. History negeri ini banyak banget yang belum terkuak. Pelan-pelan terkuak, tapi sayang yang menguak Orang luar.

Mba @Nurul:Seru banget mba, Apalagi ini situs megalitikum yang ga banyak orang tahu. Kalo dicuci saat ini Sebenarnya bisa, tapi dicuci kering gitu. Kalo direndam sama air memang hancur Mba. Jadi mana yang kotor, Nah bagian yang kotor itu saja yang dicuci.

Mba @Sally: iya mba, siapa tahu kita bisa ke Bada gratis Mba. Semoga rezeki menghampiri kita yak Mba, Aamiin.

idfi pancani mengatakan...

pernah ke Palu tapi cuma dari bandara ke venue (hotel) dan tempat makan doang. Jadi ga sempet kemana2. Beklah kelo bgitu, setelah baca artikel ini, confirm harus balik lagi ke Palu dan exploreeeee

Dede Ariyanto mengatakan...

Ah jadi pengen ke sini juga. 😱

Gita Siwi mengatakan...

akh seru banget ya perjalanan kayak gini. Zaman kecil hanya bisa baca dari buku sekarang langsung ke tempatnya.

Wian mengatakan...

Seru banget perjalanan ya mas.... ak blm
Pernah lo menginjakan kaki di daerah sana.

Wian mengatakan...

Seru bangeettt...aku malah blm pernah lo menginjakkan kaki di sana

Jun Joe Winanto mengatakan...

Mas @Dede: Ayoo mas... semoga kita bisa sama2 ke Bada dengan eksotisme Lembah dan patung-patung megalitikum yang aduhai. Kehidupan zaman megalitikum yang masih ada hingga sekarang dan tak mati seperti negara-negara lain, pembuatan kain kulit kayu.

Mba @Gita: Iya mba, dulu di SMA waktu belajar sejarah, hanya baca dari buku. Sekarang-sekarang, masya Allah banget, bisa langsung menginjakkan kaki di Bada tanpa direncanakan sebelumnya. Semua atas izin Allah SWT Mba Gita saya dapat ke Bada.

Mba @Wian: Alhamdulillah Mba, ini bisa ke Bada. Memang ya, kalau Allah SWT sudah bilang, "Kun Fayakun", masya Allah banget, semua bisa terjadi. Semoga, kita bisa jalan-jalan bareng ke Bada, tak sekadar jalan-jalan tetapi mengulik cerita di balik Lembah Bada.

Mas @Idfi: Ayoo ayoo... siapa tahu kita dapet gratis ngulik Bada bareng-bareng, aamiin.

Jun Joe Winanto mengatakan...

Bunda @Intan: Aamiin, didoain buat buku. Semoga terwujud buun.

Atisatya Arifin mengatakan...

Luar biasa perjalanan mas Jun, penuh dengan ilmu dan budaya. Sumpah aku ngiri banget. Tentu rasanya beda ya bisa melihat langsung dibandingkan hanya melihat dari foto saja. Aku salut dengan orang-orang yang peduli dengan kebudayaan Indonesia dan berusaha melestarikannya. Kadang malah kebanyakan justru orang asing yang lebih 'care' dibandingkan orang Indonesia-nya sendiri #selfnote

Jun Joe Winanto mengatakan...

Mba @Tya: Alhamdulillah Mba, semoga suatu saat kita bisa jalan-jalan bareng Mba. Iya mba, beda banget waktu lihat di foto di buku sejarah SMA dengan langsung menyentuh dan pergi ke tempatnya. Merinding disko saat mobil yang saya tumpangi berhenti pas di tengah-tengah jalan (puncaknya jalan menuju Bada)melihat Lembah Bada dari atas, subhanallah, benar-benar menakjubkan. Tak berhenti berucap syukur. Nah, iya, saya setuju, justru di negara kita ini orang asing malah duluan menemukan, sementara penduduk Indonesia sendiri tidak tahu. Saya malu waktu jalan bareng sama profesor itu. Karena, dia telah berkali-kali ke lembah bada, sementara saya baru kali itu menginjakkan kaki. Hal yang saya kaget juga dan berkata, "Ya Allah, ini tho namanya Taman Nasional Lore Lindu yang terkenal itu dan banyak banget hewan-hewan endemik Sulawesi yang dilindungi." Saya juga terperangah di Taman Nasional ini ada Lembah yang dihuni penduduk lokal yang memanfaatkan hutan secara arif dan bijaksana. Masya Allah banget deh Mba.

Food Travel Zone mengatakan...

Jalanan yang terjal, perjalanan panjang melelahkan itu terbayar dengan dengan pemandangan asri dan temuan2 yang luar biasa itu.
Situs2 seperti ini harus dijaga dan didata bener2 sama pemerintah jangan sampai dicolong orang luar.

Jun Joe Winanto mengatakan...

Teh @Ani aka @FoodTravelZone: Alhamdulillah teh, rasanya lepas penat itu benar-benar begitu melihat surga tersembunyi dengan hal-hal yang luar biasa. Ya, situs-situs ini sangat dijaga oleh petugas jagawana/dinas pariwisata dan kebudayaan setempat. Pemda sangat menjaga juga penduduk setempat, karena ini situs megalitikum terbesar di dunia yang masih bertahan dan hidup hingga kini. Indonesia memang kaya banget dan mesti ekstra ketat dijaga.