Tuesday, January 16, 2018

5 Hal Ini Penting Ditanamkan untuk Anak


Biarkan dia bebas bermain [Foto: Dok Pri]
Tak ada salahnya ketika orang tua memberikan pengajaran pada anak balitanya atau anak prasekolahnya tentang banyak hal. Terpenting, hal-hal tersebut masih dalam batas koridor usianya. Kesalahpahaman yang timbul dari cara berpikir orang tua, bahwa “Belum saatnya anak diberi pengetahuan bla bla bla.” Tidak seperti itu untuk saya.

Nilai-nilai pemahaman itulah yang seharusnya diberikan ke anak-anak kita. Nilai-nilai tersebut mesti dikembangkan, apalagi di golden age-nya. Hal itu tak lain agar nilai-nilai kebaikan itu tetap dikenang dan dilaksanakan hingga dewasa menjelang.

Untuk saya sebagai orang tua, nilai-nilai ini begitu penting ditanamkan. Inilah nilai-nilai yang selalu saya berikan untuk kedua anak saya tersebut.

Pertama: Kejujuran
Orang tua perlu membantu menemukan bagaimana cara anak-anak saya menemukan jalan kebenaran. Cara-cara yang baik agar mereka bertindak benar adalah nilai kejujuran. Cara terbaik mendorong kejujuran anak ya menjadi orang yang jujur, terutama bapak dan ibunya ketika berkata kepada anak-anaknya.
 
Jujur bermain [Foto: Dok Pri]
Anak-anak kita itu mengambil contoh dari kedua orang tuanya. Oleh karena itu, sangat penting bagi saya untuk menghindari tipu-tipu atau muslihat, meski terlihat tidak berbahaya sekalipun. Contohnya, “Jangan kasih tahu ibu, kalau bapak baru dapat hadiah.”

Biarkan saja anak-anak mendengar orang tuanya secara jujur, bahkan perkataan jujur dari orang-orang tua lainnya. Anak saya yang sulung, ketika saya akan keluar acara selalu bertanya, “Bapak pulang pukul berapa?” Saya akan jawab sesuai dengan jadwal yang sudah diberitahukan. Selanjutnya saya akan bilang, “Semoga, bapak bisa pulang lebih cepat ya.”

Secara otomatis anak saya akan bilang, “Baik pak, bapak hati-hati yaa.” Di sinilah kejujuran perkataan itu sangat diperlukan. Hasilnya, kita akan lihat sendiri reaksi mereka. 

Cara lain untuk tetap agar anak-anak saya selalu jujur adalah, saya tidak akan bereaksi berlebihan jika anak saya berbohong kepada orang tuanya. Sebagai gantinya, saya dan istri akan membantu dia menemukan cara bagaimana mengatakan yang sesungguhnya.

Ketika saya turun ke dapur dan melihat anak sulung saya menumpahkan sabun cuci piring, saya tahu yang terjadi sebenarnya. Dia berusaha untuk mencuci beberapa gelas dan piring kotor yang ada di sink. Ketika mengambil sabun cair cuci piring dalam wadah terbuka, tersenggol tangannya dan tumpah. Saya hanya minta penjelasan saja, bagaimana kok bisa tumpah.

Saya tidak akan marah, saya biarkan dia bercerita apa yang terjadi sesungguhnya. Setelahnya saya luruskan. Memang, bersikap jujur itu tidak selalu mudah dan nyaman. Saya dan mungkin orang tua lainnya selalu merasa lebih baik jika mengatakan yang sebenarnya.

Kedua: Keadilan
Meminta agar anak-anak mengakui kesalahan. Kalau dalam acara keluarga, apalagi yang bawa anak, ada saja tingkah pola anak-anak tersebut. Liburan beberapa waktu lalu saya dan anak saya pulang menjenguk kakeknya. Sepupu yang lainnya pun datang. Salah satu sepupunya anak saya senang berlari-lari. Oleh karenanya anak saya juga ikut-ikutan berlari.

Tiba-tiba, sepupunya memukul anak saya dan menangis. Saya melihat kejadian tersebut dan meminta sepupunya untuk meminta maaf. Dengan bahasa yang lemah lembut, sepupunya pun nurut. Nah, reaksi inilah yang mempengaruhi psikologis anak. Ketika mereka ribut, jangan pernah membentak salah satunya.

Hal ini saya lakukan agar anak saya dan sepupunya bisa mengungkapkan perasaan masing-masing untuk tidak ribut dan akur kembali. Untuk membantu anak-anak menginternalisasi rasa keadilan sejati, saya perlu medorong mereka untuk bertindak memperbaiki kesalahan.

Misalnya, saya mungkin akan bilang ke Arya agar tidak memukul Cheo, atau Arya datang ke Cheo dengan membawa beberapa potong makanan sebagai isyarat permintaan maafnya.

Mengatakan “Saya minta maaf” cukup mudah untuk seorang anak dan hal ini membuat mereka bisa lolos tanpa harus  memaksa mereka untuk berpikir keras. Punya anak yang bisa menebus kesalahan secara proaktif itu jauh lebih kuat dan baik.

Kalau kita sadar bahwa anak-anak kita telah bertindak jelek terhadap orang, kita perlu membantu mereka untuk berpikir bagaimana cara memberi kompensasi. Mungkin sepupunya bisa memberikan sepotong makanannya untuk sepupunya yang dipukul.

Bisa juga menarik mobil-mobilan bersama-sama. Dengan mendorong anak kita seperti ini, orang tua telah memperlakukan secara adil sepupu dan anak kita sendiri. Kita juga telah membantunya bernegosiasi hubungan yang kelihatannya cukup sulit. 

Tumbuhkan rasa keadilan untuk keduanya [Foto: Dok Pri]

Ketiga: Penentuan (Determinasi)
Mendorong mereka untuk mengambil dan melakukan tantangan. Ketika anak saya naik ke atas lemari dan mengambil beberapa bingkai foto, kemudian dia turun dan memperlihatkan kepada saya, bahwa di bingkai itu merupakan fotonya, saya tersenyum dan memujinya.

Kemudian, dia menyusun mainan legonya dan membentuk semacam hewan secara cepat, saya berikan dukungan dan pujian seperlunya. Ya. Penentuan ini menjadi  semacam nilai yang bisa mendorong mereka untuk melakukan tantangan secara baik, jujur, dan bertanggung jawab.
Di usianya yang masih sangat muda inilah dorongan itu diperlukan untuk menumbuhkan kemampuan motoriknya. Saya juga menghindari memberi pujian yang berlebihan. Memberikan umpan balik yang jujur kepadanya dengan cara  lemah lembut dan mendukung, itu yang saya terapkan.

Cara lain yang ampuh untuk saya, membantu anak mengembangkan tekadnya adalah mendorong mereka melakukan hal-hal yang tidak mudah dilakukan dan memujinya karena ada inisiatif. Kalau anak saya pemalu, saya akan ajak dan mendorong dia untuk mendekati anak-anak di tempat bermain. Dalam kegugupan dan ketakutannya itu, dorongan kita diperlukan untuk menumbuhkan tekad dia agar dapat berbaur dengan teman-teman sebayanya.
 
Biarkan dia menentukan [Foto: Dok Pri]
Nah, saya juga akan memberikan  ucapan selamat kepada anak saya yang sudah melakukan hal sulit atas kerja kerasnya. Saya akan bilang, “Bagus, hebat, meski bapak tahu itu sulit untuk Abang.” Dukungan pengakuan dari kita akan menjadi tekad mereka untuk terus mau mencoba, hal tersulit sekalipun.

Keempat: Pertimbangan
Ajarkan mereka untuk memahami perasaan orang lain. Mungkin hal ini pernah dialami orang tua manapun ketika mengajak anaknya berbelanja. Kalau diajak berbelanja, Si Sulung selalu minta mainan. Kalau tidak diberi dia akan merengek-rengek.
 
Ajarkan bagaimana membuat pertimbangan [Foto: Dok Pri]
Akan tetapi, saya katakan padanya bahwa Abang perlu tahu bagaimana cara belanja yang baik dan benar. Mainan di rumah masih banyak, tidak perlu beli mainan lagi. Mainan di rumah masih bagus dan bisa dimainkan. Penjelasan yang tidak membuat dia dan saya kesal.

Ketika diajak berbelanja kembali, dia sudah tidak meminta mainan lagi. Memang perlu latihan. Seiring waktu kalimat-kalimat saya itu tadi mampu membuat dia tersenyum dan merasa lebih baik.

Kelima: Cinta
Jadilah dermawan dengan kasih sayang kita (orang tua). Orang tua cenderung berpikir bahwa anak-anak itu secara alami mencintai dan sangat murah hati dengan kasih sayang yang mereka punya. Memang benar, akan tetapi kadang cinta dan kasih sayang mereka penuh dengan sentimen makanya mereka perlu belajar peran timbal balik.
 
Biarkan kasih sayang itu mengalir [Foto: Dok Pri]
Mungkin, karena saking sibuknya setiap hari, orang tua lupa dan tidak pernah mengucapkan, “Bapak-Ibu cinta dan sayang sama Cheo dan Beryl.” Nah, hal-hal ini yang paling tidak didengar oleh anak-anak kita.
Saya dan istri membiarkan anak-anak menunjukkan cinta dan kasih sayang kepada orang tuanya dengan caranya. Untuk menumbuhkan hal ini, saya akan memeluk istri dan menciumnya ketika anak-anak berada di sekitar orang tuanya.

Saya akan bicara kepada mereka bahwa Bapak dan Ibu begitu mencintai dan menghargai kakek, nenek, om, tante, dan sepupu mereka. Jangan pernah membiarkan satu hari berlalu tanpa mengungkapkan rasa sayang kita kepada anak sendiri.

Tunjukkan cinta kita dengan cara-cara yang tak terduga. Bisa saja saya membuat makanan dengan model hewan dalam kotak sarapannya. Saya akan memperlihatkan cermin ke wajahnya saat anak saya menggaruk giginya. Saya juga akan memeluk dia tanpa perlu memberi alasan. Jangan biarkan pagi yang membuat panik dirinya dan rutinitas sore yang membuat hiruk pikuk justru membuyarkan  kasih sayang kita.

Secara praktis, saya jamin, semakin saya mengatakan, “Bapak dan Ibu mencintai kalian,” semakin banyak pula anak-anak saya mengatakan kepada kami orang tuanya, “Abang sama adek juga sayang dan cinta sama bapak dan ibu,” kembali. 

Semakin banyak pelukan dan ciuman yang saya berikan, semakin banyak pula rumah saya dipenuhi cinta dan kasih sayang. Ketika anak-anak merasa bebas mengungkapkan cinta dan sayang mereka kepada orang tuanya, kita menanam nilai-nilai yang terbesar di dalam hidupnya.

2 comments:

Nurul Rahmawati said...

Betul banget ini Bang. Memang challenging sekali mendidik anak zaman now
--bukanbocahbiasa(dot)com--

Jun Joe Winanto said...

Mba @NurulRahma: Ya mendidiknya dan jadi orang tua ngeri-ngeri sedap. Tanggung jawab dunia akhirat ya. Mestilah baik-baik cara-caranya. Semoga dimudahkan semuanya oleh Allah SWT ini. Aamiin.