Monday, January 15, 2018

Liburan Terindah Itu Ada Di Sini



Salah satu kios tobuk di Senen [Foto: Dok http://4.bp.blogspot.com]

“Banyak jalan menuju Roma”, pepatah ini sering sekali saya dengar. Kalimat berarti yang mengisyaratkan, mau ke mana saja dan mau ngapain saja kalau memang diniatkan banyak caranya. Tak perlu banyak bicara tapi buktikan dengan tindakan nyata.

Pun di sekolah, cari informasi, pengetahuan, dan beragam keterampilan bisa datang dari mana saja. Asalkan punya kemauan untuk mencari. Ilmu dan pengetahuan itu memang mesti dicari dan dipelajari. Belajar bisa dari mana saja,termasuk saya. 

Masih lekat dalam ingatan saya, bapak setiap pulang kerja selalu bawa buku dan majalah. Saya juga selalu tanya, bapak dapat dari mana. Bapak bawakan buku dan majalah rata-rata  bekas dibaca orang alias buku dan majalah bekas dibeli bapak. Tapi terlihat masih baru dan jelas huruf-hurufnya. 

Bapak melakukan hal itu semata-mata agar anak-anaknya bertambah wawasan. Benar pula yang diucapkan bapak ketika memberikan buku dan majalah bekas itu kepada kami anak-anaknya, “Buku itu jendela dunia, gudangnya ilmu, perbanyaklah baca agar wawasan dan pengetahuan kalian bertambah,” begitu  ucap bapak. 

Anak-anak bukannya menolak, justru buku dan majalah bekas itu jadi rebutan. Kadang ya mesti ganti-gantian bacanya. Bergiliran selama satu minggu dikasih waktu untuk menyelesaikan satu buku dan satu majalah. Majalah justru lebih cepat dibaca oleh kami. Kalau buku dengan tebal sekitar 80 halaman atau 100, tetap dikasih jatah waktu satu minggu atau telat-telatnya baca 10 hari. 

Bapak itu bukan tanpa alasan beli majalah dan buku bekas, selain hemat dan irit duit (bukan pelit), bapak juga punya program sendiri ternyata. Anak-anaknya digiatkan sejak dini untuk rajin baca. Minimal, satu bulan bisa menyelesaikan 2-3 buku dengan tebal 80-100 halaman. Jadi, minimal dalam satu tahun anak-anaknya bisa melahap 36-40 buku. 

Nah, begitu pun saat saya hijrah ke Jakarta. Kalau saya mesti beli buku baru,  otomatis duit bulanan kekuras. Tapi, ya ga kehabisan akal juga. Dikit-dikit saya tabungin menjelang 2 bulan ke depan untuk beli buku.

Kalau pun tidak terbeli, masih bisa pinjam sama teman. Karena terbatasnya duit kiriman tapi perlu vitamin bacaan yang bisa segera dilahap, larilah saya ke proyek Senen (PS). Ternyata eh ternyata, di PS ini banyak banget buku yang sudah langka kalau kita pinter nyari-nyarinya.

Ya, PS menjadi salah satu tempat favorit saya cari buku dan majalah bekas selama tinggal di Jakarta. Kalau sudah di PS, bisa seharian penuh saya ngubek-ngubek. Pulang-pulang ke kost, tentengan banyak. Selain cari buku yang menunjang perkuliahan saya, juga cari majalah dan novel kesukaan saya dari penulis John Grisham dan Sidney Sheldon.
 
Obral buku dan majalah bekas dengan harga termurah [Foto: Dok http://cdn-2.tstatic.net/tribunnews/]
Di PS ini, asal pinter-pinter nawar, bisa dapat banyak buku. Selain tempatnya mudah dijangkau, duit bisa irit banget. Jadi, beli banyak buku, duit masih sisa. Di sekitar PS ini juga banyak tempat makan yang murah meriah. Jadi, jangan takut kelaparan juga sehabis belanja buku. Sampai sekarang pun saya masih suka ke PS ini, meski sudah mulai digusur perlahan-lahan, penjual buku masih tetap ada dan bertahan.

Secara tak sengaja, ketika saya kerja di kawasan Jakarta Selatan, tepatnya di sekitar Blok M, saat jam makan siang, iseng-iseng menyusuri lantai bawah salah satu pusat perbelanjaannya. Mata saya tertuju pada satu tempat yang banyak tumpukan buku dan majalah.

Mencoba mendekat, ternyata di tempat itu merupakan area untuk penjualan buku-buku dan majalah bekas. Sempat juga saya buat perbandingan harga, harga buku bekas di Blok M dan PS sedikit lebih mahal. Bisa jadi karena wilayah/kawasan. Sempat juga tanya-tanya ke pedagangnya, mereka sewa tempat sebulan sekitar 2,5—3 juta. “Oh, pantas harga bukunya sedikit lebih mahal di banding PS,” pikirnya saya. 

Tapi tetap, PS masih menjadi tempat favorit saya cari buku dan majalah bekas kalau di Jakarta. Nah, begitu saya pulang ke Bandung, tempat favorit saya cari buku bekas dan memang sudah terkenal, ya di Palasari. Palasari tak jauh dari rumah, sekitar 20 menit.

Buku-buku di Palasari pun tak kalah jauh dengan buku-buku yang ada di PS. Mau buku baru atau bekas, semua ada. Di Palasari juga luas hingga ke belakang dekat pasar Palasari sendiri. Teteeep… di Palasari banyak yang jual makanan, hahaha… apalagi di pojok jalan yang tak jauh dari pasar kembangnya, ada tempat makan lontong padang favorit saya.

Jadi, buku dan majalah bekas ini memberi ruang gerak saya untuk menambah bekal. Selain itu seiring sejalan dengan kecintaan saya mengulik kuliner. Nah, buku-buku tentang kuliner, masakan luar, dan masakan Indonesia banyak banget ragamnya. Di Palasari dan PS itulah jadi tempat favorit saya belanja buku dan majalah bekas.

Banyak hal yang bisa saya ambil dan pelajari dari tempat-tempat ini. Di PS, jarang pedagang buku dan majalah bekas yang  bisa sapa senyum ramah, salam atau apalah namanya. Pun tidak ada pelatihan yang mereka terima untuk menyambut tamu ( = pembeli). Gerakan mereka pun tak dibuat-buat untuk membuat saya merasa nyaman bersama buku dan majalah bekasnya.

Terkadang, antara satu pedagang dengan pedagang lainnya terlihat obrolan seru jika tak ada pembeli. Pun jika datang pembeli, tak ada kata “rebutan” untuk menawarkan buku. Ya, di PS bukan kios jajan di Simpang Lima Semarang, begitu masuk tawar menawar menu dan harga terjadi. Di PS dan Palasari penjual seakan tak peduli, apakah calon pembeli hanya sekadar berkunjung saja, bahkan tidak membeli tak jadi soal.

Terkadang pun saya hanya iseng main. Main ke PS dan Palasari saja sudah kenyang dan menyenangkan jiwa. Ya, siapapun bebas mengenyahkan waktunya di tempat ini, mau membaca, melihat-lihat, atau sekadar nongkrong. Begitu mudahnya saya diterima di tempat-tempat seperti PS dan Palasari. 
 
salah satu kios Tobuk Palasari, Bandung [Foto: Dok http://infobandung.co.id]

Benar adanya ternyata, liburan tak harus pergi ke Bali, Yogya, Papua, bahkan ke Singapura. Ketika saya menemukan kenyamanan rasa dan betah berlama-lama, di situlah saya merasakan liburan paling indah, di Kios Buku dan Majalah bekas PS dan Palasari. Inilah surga liburan saya di Bandung dan Jakarta.

26 comments:

Maya Siswadi said...

Ini mainanku jaman kuliah Jun. Hobii banget main ke sini. Banyak nemu buku2 berharga. Jadi kepikiran mau ajak anak2 ke sini ahhh

Jun Joe Winanto said...

Mba @Maya: yuuk mba...janjian ketemu di mana gitu kita. Saya mau cari buku juga nih yang lagi hits dan murmer di PS. Deket dari rumah juga.

Noer Ima Kaltsum said...

Buku meski mahal tp gak rugi membelinya

Jun Joe Winanto said...

Mba @NoerIrmaKaltsum: Iya,setuju... semoga beli buku mahal-mahal dibaca ya mba. Sayang aja klo sampe cuma jadi pajangan. Hehehe

Tanti Amelia said...

buku dan majalah bekas ini bekal ilmu

kalau belum kira baca, tetap saja namanya bukan "bekas" karena tak satu kalimat pun "bekas" kita baca yaaaa

Jun Joe Winanto said...

Mba @NengTanti: Ahaaaa... tepat banget. Ilmu ga ada bekasnya ya Mba. Ga ada ilmu diturunin terus dibilang, bekal ilmu. Hahah... Setuju banget.

Intan Rosmadewi said...

Bunda dengan Almarhum suami rajin ke Shopping tempat jualan buku dan majalah dan komik "bekas" murah dan bisa dibaca ; saat di Bdg dulu magh ada Cikapundung dan Palasari. Asyiiklah pokokna magh . . .

Munasyaroh Fadhilah said...

Bagi pecinta buku liburan ke perpustakaan, toko buku dan sebagainya tentunya menjadi sebuah wisata yang luar biasa.

Mpo Ratne said...

Ane juga suka ke pasar senen. Ayah pinter singkatan PS . Mpo kirain plaza senayan, pasar senen) versi mall buku

Sadewi said...

Aku sering banget nih mas beli buku disana dari masih sekolah karena harganya yang jauh lebih ekonomis dan kualitas nya tetap sama.

Nurul Rahmawati said...

Menyenangkan bgt ya hunting buku di sini

--bukanbocahbiasa(dot)com--

Akarui Cha said...

Aku penasaran banget sama yang di Blok M. Tapi sampe hari ini, belum kesampean juga mau ke sana.

Agung Han said...

Aku pernah ke blok M dan Pasar senen, harganya miring dan lengkap

Ivonie Zahra said...

Tahun 2010 saya pernah main ke pasar palasari dengan mbak Anazkia, lumayan dapat novel bagus dengan harga ramah di dompet dan seneng banget, pulangnya beli batagor di depan pasar. ah udah 8 thun berlalu :D

Jun Joe Winanto said...

Bunda @Intan: Waaah... romantis berburu berdua itu bun. Masih kan ya berburu buku dan majalah di Cikapundung dan Palasari?

Mba @Munasyaroh Fadhilah: Iya mba, lihat-lihat, siapa tahu ada yg unik dan bisa dibeli bawa pulang.

Mpok @Mpo Ratne: Hahahah.. Iyee PS bukan emol, tapi proyek senen or pasar Senen. Jadi, kan ya borong buku banyak buat disumbangin ke taman bacaan? Hahaha

Mba @Sadewi: Ooh sering beli di senen juga ya... bukunya boleh bekas mba, tapi ilmunya ga bekas itu. Hehehe

Mba @Ivonie: Naah kaan... palasari penuh kenangan yaa... ayoo main lagi. Beli buku lagi, Banyak kan buku murah di Palasari. Hehe

Mba @Akarui Cha: main deh mba ke Blok Square lantai dasar. Pas deket Food court, banyak juga kok lapak bukunya.

Mas @Agung Han: Sesekali ke Palasari Kang. Buanyak banget dan murmer juga.



Mba @NurulRahma: Iyaaa, surganya buku di Senen dan Palasari. Bisa seharian ngubek-ngubek ga berasa. Enjoy sih soalnya.





Silvia Putri said...

Sumpah, tempat beginian masih ada?
Kirain udah tutp semua apalagi yang di PS, setahu aku malah sisa-sianya ada di tamrin city dan blok M. Hahaha kurang gaul kayanya diriku

Liswanti said...

Dulu aku kuliah senengnya maen ke Palasari juga

Kania Safitri said...

Walaupun jaman sudah high tech tapi yang namanya buku-buku tetap diminati, dulu waktu aku sekolah seneng banget hunting buku sekarang tetep ko nyari buku untuk anak-anak jadi kalo ada yang murah-murah gini paling kalap deh jadinya.

Sie-thi Nurjanah said...

Wuah..saya pernah denger nama tempat Palasari ini
Sering di rekomendasiin klo mau cari buku2 murah

Selamet Hariadi said...

Wow... banyak buku, banyak bahan bacaan dan bisa banyak menggali pengetahuan!

Daruma said...

PS penuh kenangan dan salah satu pasar yg berjasa saat masa kuliah apalagi pas lagi skripsi..
Emang disini murah bgtttt....

andri mastiyanto said...

dari SMA daku sudah mulai mengkoleksi buku. walaupun belinya tidak tiap bulan. sekarang ada 2 lemari. ternyata berguna saat jadi blogger. perbendaharaan kata jadi banyak

Wardah Fajri said...

Ah sebulan 2 buku? Cara mendidik yg keren di keluarga. Jd pengen bikin target pribadi nih. Btw... Kalau pas ke Bandung anterin ke Palasari yak om

Wian said...

Stlh mas jun selesai membaca semua buku dan majalah tadi, diapain mas? Dijual lagi atau disimpan utk koleksi?

PutriKPM said...

Aku sudah lama nggak menjelajah pasar buku. Dulu, sebelum Pasar Senen terbakar, sering mampir ke lantai 5 buat berburu buku-buku antiknya. Duh jadi kangen :')

Didy said...

Ini surga buat yg Suka baca hehe. Kalau di Bandung, Palasari lah tempatnya. Ah jadi kangen ke tempat ini, terutama buat Cari novel berbahasa inggris.