Thursday, January 18, 2018

Ini Dia Drama & Film Legenda Masa Kecil



Wuahahahah… saya ngakak dulu kalau ditanya drama atau film yang sering ditonton masa kecil. Bagaimana tidak, ini drama merupakan pelopor telenovela pertama kali hadir di TVRI. Hahaha.. Bagaimana tidak, angkatan 70-an atau 80-an, kenallah telenovela ini. Saya pikir ini telenovela abadi.  Apalagi kalau bukan, “Little Missy”.  Kalau anak-anak sekarang sih nyebutnya Telenovela.

Nah, yang tahu drama ini jadi pengen ngaca kan ya… hahaha… jadi inget umur. Ini drama memang ngehits banget di zamannya. Waktu itu, TV masih hitam putih. Bahkan, karena belum nyambung listrik, nonton TV pake AKI. Jadi, dicolokin kabel ke AKI persis kayak orang ngecas batre HP. Hahaha…
Little Missy ini ceritanya buat turun naik emosi juga. Itu kalau saya cerita sekarang. Tapi dulu, pun berlaku hal yang sama. Fans drama ini kebanyakan emak-emak yang kalau sudah nonton, sambil nyerocos. Penonton lebih jago dari pemain filmnya sendiri. Hahahaha… ngakak-ngakak saya kalau pas lagi nonton terus dengerin emak-emak pada berhosip-hosip. Aiih… kalau itu drama tayang, ramelah rumah. 


Missy ini hebat aktingnya. Nah, dia juga jadi sutradara  dan produser berhasil di Brasil. Dunia pun memujinya karena kalau melakoni peran benar-benar total. Ini salah satu tokohnya. Mungkin ada yang pernah nonton ini dan tahu tokoh lainnya? Ya, tokoh lainnya itu seperti Rudolfo.  Sayangnya, Rudolfo ini sudah menghadap Sang Illahi sekitar 7 tahun silam. Selain  aktor, Rudolfo (Marcos Paulo) ini juga sebagai seorang sutradara. 

Ada juga Tuan Baron Araruna yang kumisnya melintang, hahaha… Lucu-lucu kalau mengingat drama yang satu ini. Pemeran Ibunya Little Missy, Nyonya Candida, ternyata masih aktif hingga sekarang main film. Meski sudah tua.  Ada banyak juga telenovela yang setelah Little Missy ini lahir. Seperti Marimar, Esmeralda, juga ada Maria Cinta yang Hilang. Ah, kalau diingat-ingat, ga berasa, sudah tua. Hihihi.

Oya, Little Missy ini mampu bertahan selama tiga tahun di lho di TVRI, mulai tahun 1988 hingga 1991. Ternyata, di negara asalnya Brasil, Little Missy rupanya sudah tayang dua tahun lebih awal dari di Indonesia.  Jadi, kalau mau diingat-ingat lagi, kisah Little Missy ini bercerita tentang  cinta Missy bersama anak tuan tanah yang kaya, yaitu Baron dan Candida dengan Rudolfo, ternyata anak hasil hubungan gelap ayahnya dengan salah seorang budaknya. 

Nah, selain Little Missy juga ada drama yang benar-benar melegenda banget, Rumah Masa Depan. Rumah Masa Depan ini hadir sekitar tahun 1985. Waktu itu saya masih piyik. Sekarang sih bangkotan.

Rumah Masa Depan ini dibintangi oleh Aminah Cendrakasih. Waktu itu peran beliau sebagai Ibu Sukri. Ada pula Septian Dwicahyo sebagai Bayu, Andi Ansi menjadi Gerhana, Dedi Oetomo sebagai Pak Sukri. Tokoh yang tak kalah legend banget waktu itu Mak Wok yang diperankan oleh Wolly Sutinah. Nah, ga seru kan kalau nonton drama ga ada biang-biang keroknya. 


Di Rumah Masa Depan ini, Mieke Wijaya yang berperan sebagai Ibu Suwito-lah biang keroknya. Hobinya ngegosipin keluarga Pak Sukri dan Kepala Desa Cibeureum Kabupaten Cianjur. Mieke Wijaya orang kaya di desa tersebut.  Tapi lagunya sombong banget. Di Rumah Masa Depan ini banyak petikan pelajaran yang bisa diambil.

Yang namanya gosip akan tetap beredar dalam kehidupan, nyata atau maya. Pintar-pintar menyiasati saja. Begitu pula orang kaya sombong. Tak sedikit pula orang kaya, baik hati, dan tidak sombong. 

Oiya, ada pula tokoh Sangaji yang berkacamata dan dikenal cerdas, meski tak mengenyam bangku sekolah. Ini menjadi inspirasi saya kala itu. Meski anak desa yang hanya jualan koran dan buku, tetapi pengetahuannya luar biasa karena rajin baca. Ada satu adegan yang membuat takjub ketika Sangaji ikut lomba cerdas cermat. Sangaji sebagai sosok yang tidak bersekolah, tetapi mampu memenangkan kejuaraan tersebut. Bawaannya kalem, tenang, dan sangat bersahaja.

Dari Rumah Masa Depan, kita beralih sejenak mengenang sosok gadis kecil Jepang hidup penuh liku-liku. Apalagi kalau bukan serial Oshin. Oshin ini juga sangat membekas hingga sekarang untuk saya, kenapa? 


Oshin, sosok gadis kecil yang mau bekerja apa saja, terpenting bisa menghidupi seluruh keluarganya. Dari kerja di salah satu penjual toko beras hingga mengasuh bayi. Salutnya lagi, Oshin baru akan makan, setelah keluarga tempat dia bekerja seluruhnya sudah makan. Itupun makan dari sisa keluarga Kayo dan seadanya. 

Kisah pilu yang berhasil menguras air mata ini juga terpampang dari adegan, ketika Oshin satu per satu dengan sabar mengambil butir-butir beras  satu per satu yang jatuh, kemudian dibawa pulang ke kampung untuk dimasak dan makan bersama keluarganya. 

Akan tetapi, Oshin tetaplah Oshin kala itu,seorang gadis kecil penuh keriangan menjalani kehidupan. Saat beranjak dewasa, Oshin pun menikah dengan seorang lelaki bernama Ryuzo. Dari sinilah, Oshin dan Ryuzo membuka usaha, yaitu toko klontong, hingga akhirnya toko itu berkembang pesat dan maju.

Saya juga baru tahu sekarang ini, ternyata kisah Oshin ini satu kisah nyata seorang pedagang besar (retail) di Jepang. Ada pelajaran berharga yang bisa dicontoh, menumbuhkan sikap pantang menyerah akan berdampak positif dan nyata dalam kehidupan seseorang. 

Kita tinggalkan sejenak Oshin yang bisa buat nangis bombay yaa… Lanjut ke salah satu drama besutan  Depdikbud dan Deppen (hahaha… Deppen masih ada di zaman saya, hihihi). Ya, ada yang masih ingat tidak tentang drama seri ACI, Aku Cinta Indonesia. Hehehe… ini singkatan dari nama Amir, Cici, dan Ito. 

Nah, ketiga toko ini punya karakter sendiri-sendiri dan tentunya menjadi ciri khas di zamannya. Ketiga orang ini menjadi contoh teladan untuk teman-teman di sekolah SMP-nya kala itu. Ternyata, SMP-nya itu berlokasi di SMP Negeri 3 Depok. 

Ada satu tokoh  yang sering membuat mereka bersitegang. Tokoh antagonis yang diciptkan sang sutradara itu bernama Wati. Sosok Wati ini selain culas juga judesnya ga ketulungan, dan sangat tidak disukai teman-teman sekolahnya.

Dari serial drama ACI ini ada lho pelajaran yang bisa diambil, terutama nilai-nilai kepribadian dari seseorang (anak dan remaja). Ada nilai kerja keras, semangat bekerjasama, tanggung jawab, toleransi, saling membantu, tentunya juga nilai sportif dan bersaing sehat. 

Nah, nilai-nilai seperti itu sekarang acapkali ditinggalkan karena demi kepentingan pribadi. Oleh karenanya, nonton drama atau film juga tak asal nonton. Tetapi, bagaimana ada pesan yang bisa diambil dan dijalankan untuk kehidupan.

Hmm… apalagi ya kira-kira drama atau film yang ngehitz di zaman saya lagi? Oya, ada film, “Hoom pimpah alaihum gambreng…. Unyil kucing!” Ini mah film sepanjang zaman saya pikir. Sampai sekarang pun masih diputar dengan beragam versi. Si Unyil sosok yang baik hati, memberikan nilai-nilai kebijaksanaan dalam pergaulan.


Tokoh-tokoh di film Si Unyil juga beragam, ada Pak Ogah, yang kalau dimintai tolong, selalu bilang, “Cepek dulu doong.” Ada pula Usro, dengan kepala plontos licinnya, Mei Lan, Bu Bariah, Pak Raden, Ucrit, dan masih banyak lagi. Film abadi nih Unyil. Tidak membosankan, anak-anak saya juga suka lihatnya.

Ada yang masih ingat drama serial Losmen? Hahaha… saya paling hapal dengan tokoh yang bernama Bu Broto. Hahahah...Ada juga tokoh Mba Pur, diperankan  oleh Ida Leman, Mang Udel, juga da Dewi Yull berperan sebagai Jeng Sri. 

Hahaha… Losmen sebagai bentuk  drama yang memang asli Indonesia punya dan tayang di TVRI pada 1980-an. Bercerita tentang Pak Broto yang sudah pensiun dan buka usaha penginapan (Losmen) di Yogya untuk mengisi hari tuanya. Seru ceritanya. Mau lihat drama ini lagi ah, kangen ke Jaman old. Hahaha… nah ga tau ya kalo generasi sekarang. Bolehlah berbagi, jangan-jangan saya juga nonton drama dan film generasi saat ini. Hihihi. 

Tetapi, sekarang-sekarang ini saya tidak pernah lagi nonton televisi. Kebanyakan nonton streaming Youtube. Jadi, ga begitu paham drama-drama sekarang yang beredar di jagat pertelevisian. 

Tambahin yaa kalau kita seumuran... hahaha... :)



9 comments:

Ade Delina Putri said...

Aih yang saya tau cuma Unyil aja haha. Yang lain mungkin pas saya belum lahir kali yaa :))

Jun Joe Winanto said...

Mba @Ade Delina: Kalo Unyil mah sampe sekarang masih ada ya, hanya beda-beda versi aja. Yang original dikeluarin sama PPFN (Pusat Produksi Film Negara) itu. Mba mah kalo yang lain-lainnya belum dikonsep Mbaaa... hahahah masih jalan-jalan entah ke mana calon mak bapak yaa.

Hanif Bonbon said...

Walaupun film jadul itu gambarnya gk sebagus yg sekarang, tapi kalo soal alur cerita lebih seru.

Jun Joe Winanto said...

Mas @Hanif: Bener mas... seru banget ngikuti alur ceritanya. Banyak pesan yang cocok dan pas untuk kehidupan sehari-hari, dan itu terjadi.

Mpo Ratne said...

Unyil masih bisa di tonton trans 7. Mpo kadang nonton tapi sekarang lebih pengetahuan kaya visit perusahan besar atau ukm

miss dapur said...

Ayah jun, mau tahu miss suka apa?. Cepe dulu (kaya pak ogah).
Kabur (upin ipin)

Jun Joe Winanto said...

Mpo @Ratne: Hehehe iya...

Miss @Dapur: Hahahah... ini mah bukan miss dapur... miss ogaaah.

Fanny f nila said...

Sbnrnya semua drama di atas aku tau, tapi krn wkt itu msh kecil, jd ga begitu ngikutin hahahaha.. Tp inget semua dramanya krn mama penonton nomor 1 :D. Skr malah jd pgn nonton deh.. Kayaknya seru2 :D

cendekia channel1 said...

Tuan baron araruna ..haha sudah lama awak tak dengar nama itu baang..ohiya sangaji itu diperankan siapa ya bang? Septiankah?