Monday, January 15, 2018

Satu Bungkus Penuh Arti

 
Keripik pisang ini sebagai camilan istimewa untuk bapak [Foto: Dok https://i0.wp.com/ramesia.com]
For me, it’s memories not stuff. It’s people not money. It’s presence not striving. It's remembering what I have to give is small but valuable. And so I must choose to spend it well.



Kalau mendengar kalimat-kalimat yang diucapkan Bapak dan almarhumah ibu saya, ya sebagai anak, hingga seperti sekarang ini, peran tak terbayarkan dari keduanyalah yang menglingkupi. Banyak petuah yang memang benar adanya. Tapi, terkadang, kalimat bertuah dari mereka berdua seolah dianggap angin lalu. Pas terjadi sesuatu baru tersadar. Yah, anak-anaknya beragam pola dan tingkah. 

Boleh saya bilang, beban kedua orang tua kita itu sudah sangat banyak. Memang,  namanya tanggung jawab keduanya tak bisa dilepaskan begitu saja. Tanggung jawab mereka tak main-main, dunia dan akhirat. Bagaimana keduanya memperlakukan anak-anaknya, akan menjadi catatan besar di Padang Mahsyar. Tak bisa dielakkan.

Beberapa tahun lalu, saat merantau menginjakkan kaki di tanah Jawa ini, yang paling bercucur air mata itu ibu saya. Rasanya berat beliau melepas kepergian anaknya. Bagaimana tidak, sejak dari dalam kandungan, lahir, hingga usia-usia “bandel” sama orang tua terus. Ikatan emosional ibu dengan anak-anaknya begitu lekat.

Tetapi, saya merantau untuk satu hal. Mengejar cita-cita (bukan Cita Citata… ) yang bisa mengubah kehidupan, minimal untuk diri sendiri kalau belum bisa untuk keluarga. Dari Kampung ke Kota bekalnya cuma wejangan orang tua (ya, ada sih bekal lainnya). Duh, itu ibu air matanya berlinang terus kalau saya ingat-ingat.

Kalau Bapak ya tenang-tenang saja. Tetapi kalau saya perhatikan secara saksama, memang beda banget cara Bapak dan Ibu memperlakukan anak-anaknya. Akan tetapi, tujuannya sama, kasih sayang mereka tumpahkan untuk anak-anak tercinta dan tersayangnya, kok. Ibu itu kalau saya telpon dari yang tadinya cerah ceria, perlahan-lahan merendahkan suara, eeh tiba-tiba ngembes (Jawa = nangis) begitu  nanya soal makan saya.

Naah kan, saya yang jadi anak ya berusaha menenangkan saja. Tidak pula ikut-ikutan  ngembes. Ibu itu pula yang kalau lagi makan, pas ingat saya di perantauan, malah ga jadi makan. Lhaa… saya justru yang khawatir. Jangan sampai ibu jatuh sakit gara-gara mikirin cara makan saya di perantauan.

Hal-hal seperti ini tidak bisa ibu lepaskan, hingga saya selesai menempuh pendidikan. Beda dengan bapak. Bapak itu, kalau saya telepon, ngobrol panjang lebar. Saya terkadang jadi pembicara yang baik dan sebaliknya bapak. Bertukar pikiran melalui obrolan panjang di telepon. Bapak memberi dukungan untuk saya menyelesaikan kuliah dengan baik dan benar, ga harus cum laude. 

Ya, janji saya yang sudah saya tancapkan dalam-dalam  di lubuk hati paling dalam. “Saya mesti kelar kuliah sebelum bapak pensiun, gaji bapak biar bisa dipakai lagi buat sekolah adik-adik saya.” Saat saya kuliah, adik-adik saya dua orang juga masih sekolah, masing-masing kita perlu biaya yang tak sedikit.

Selama kuliah saya mesti putar otak, bagaimana caranya biar beban bapak tak terlalu berat. Uang kiriman juga tak mesti menunggu tiap bulan datang. Saya pikirkan hal ini, ketika masuk semester dua. Mestinya ya, saya senang-senang kuliah, dapat bea siswa ayah bunda, tapiii… tidak! Saya tidak bisa seperti itu. Justru bagaimana cara saya meringankan beban orang tua. Kuliah tak bergantung lagi biaya kiriman bapak. Harapan-harapan yang terus menggelayut dan jadi kenyataan. Semester-semestar empat ke atas, saya sudah jarang-jarang minta duit ke ortu. 

Sembari kuliah, ngajar di beberapa tempat plus ikut proyek. Alhamdulillah, kost bisa bayar sendiri, uang makn pun demikian. Ah iya, sempat ngajuin beasiswa pula. Alhamdulillah, dapet juga beasiswanya. Permintaan kepada Sang Khalik yang tak muluk-muluk dijawab satu per satu. Beli baju pun tak minta duit lagi dari ortu. 

Satu kesempatan yang tak dilewatkan itu, ketika menerima tawaran untuk menyunting salah satu buku pelajaran di salah satu penerbit. Dan uang yang diterima dari kerjaan editor itu, hmm… bisa buat biaya skripsi. Uang dari ikut kerja proyek dosen apalagi, bisa ngirim ke ortu dan menerbangkan mereka ke Jakarta.  

Alhasil, setelah selesai proses belajar saya di Depok, saya diterima kerja di salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat di Kabupaten Sarolangun Bangko- Jambi, pada 1999. Dari Jambi ke Bangko itu ditempuh dalam waktu 5 jam perjalanan darat. Lumayan, jalannya berkelok dan sisi kiri kanan masih penuh dengan lebatnya hutan. Namanya, Sumatera ya. Karena saya lahir dan besar di Sumatera (Jambi), jadi sudah tak asing kalau melihat babi hutan melintas, ular kelindes, monyet nongkrong di jalan, juga tupai-tupai liar berkeliaran. Berhenti sejenak menikmati indahnya Kantung Semar di perjalanan.  

Di Bangko ini terkenal dan menjadi sentra pembuatan keripik pisang. Pisangnya besar dan panjang. Keripiknya juga lembut dan gurih. Variannya juga banyak, antara lain ada keripik pisang susu cokelat, original, juga keju. Teman setia teh pagi saya biasanya keripik pisang susu cokelat dan original. Entah kenapa, keripik pisang ini menjadi magnet yang paling kuat untuk terus saya coba dan ada di meja kerja.

Selama tinggal di Bangko, camilan satu ini tak pernah lepas sebagai penganan favorit saya. Ini bukan berarti tidak ada camilan lain yang diproduksi. Tetap, keripik pisang ini jadi jawara di lidah saya, kala itu.

Dari sejak merantau di Jakarta, kalau pulang ke rumah ortu di Jambi, ada saja yang saya bawa. Orang tua sih tak pernah minta saya bawa ini itu. Beliau justru berucap, “Kamu pulang dengan sehat dan selamat, bapak & ibu sudah sangat bersyukur alhamdulillah.” Begitunya orang tua saya kepada anak-anaknya. 

Di situlah saya melihat keikhlasan dan pengorbanan mereka yang tak pamrih. Anaknya pulang bukan main girang. Tak terbersit pula mereka mau minta ini itu pada saya. Malah sempat saya kasih uang hasil kerja waktu itu ditolak secara halus, “Simpan saja, suatu saat nanti kamu perlu, bapak & ibu masih ada.” Waduh!!! Saya sempat menduga-duga juga, kenapa bapak sama ibu malah menolak halus gini ya dikasih uang, apa memang benar-benar masih ada  atau hanya berpura-pura ada. 

Ya, jadinya mikir juga. Bapak sama ibu ga mau dikasih uang dari hasil kerja saya sendiri dan itu penuh perjuangan.Tiba-tiba saya jadi ingat. Bapak itu kalau pulang kerja, biasanya istirahat sebentar, lantas makan siang. Makan siangnya bapak pukul 4 sore, kebayang kan makan malamnya pukul berapa? Pukul 10 malam. Tetapi badannya tidak melar atau mengidap penyakit tertentu. Jauh dari kata gemuk dan sakit.
 
Nah, bapak itu  suka kletikan (Jawa = camillan). Favoritnya itu keripik pisang asin. Pada satu kesempatan, saya memang tak membeli banyak untuk persediaan camilan kerja saya, di laci meja kerja saya masih tersimpan satu bungkus utuh. Saya bawa pulang ke rumah, iseng-iseng sih. Saya berangkat dari Bangko pulang ke Jambi puku 4 sore, sampai di rumah tepat pukul 9 malam. 

Bapak lagi ngopi, ya cuma kopi saya lihat. Teringat saya bawa satu bungkus keripik pisang, tanpa ba-bi-bu, saya taruh di atas mejanya ketika bapak sedang ke belakang. Masuklah saya ke kamar, kamar saya dan ruang tempat bapak ngopi itu tak terlalu jauh, tapi saya masih bisa ngintip beliau dari  dalam kamar dengan jelas.

Beliau perhatikan lama banget itu keripik pisang. Saya juga tidak tahu dalam benaknya, apa yang terlintas. Beliau masih saja memperhatikan keripik pisang itu hampir 30 menit lamanya. Saya melihat jelas dari balik kamar raut wajahnya yang bengong. Tetiba, saya keluar, saya perhatikan mata bapak itu berair. Ada tanya yang ingin saya ucapkan tapi tertahan. Saya paham. Satu bungkus keripik pisang itu membuat mata beliau berair dan merasakan pengorbanan saya. Mungkin “demi…”.

Terima kasih bapak, sudah memberi begitu banyak ruang kepada saya untuk terus berbakti tanpa henti. Keripik pisang itu akan tetap renyah dan gurih untuk terus bapak nikmati. 

Di usia senja bapak, beliau terbaring lemah. Bahunya dulu memang kekar, kuat, dan kokoh, kini pasrah dalam ketakberdayaan. Semoga bapak tabah dan ikhlas menjalani hidup hingga ajal menjemput. Sehat pak! 

3 comments:

Dewi Nuryanti said...

Apapun yg diberikan oleh seorang anak pada orangtuanya pasti akan sangat membahagiakan utk orang tuanya. Sehat selalu ya utk Bapaknya

Jun Joe Winanto said...

@Dewi: Yaa... bukan main bahagia kan ya, meski ortu ga minta. Tapi anaknya penuh kesadaran memberi. Bukan karena balas jasa. Ga akan habis-habis kalo mau dibales juga apa yang sudah ortu kasih ke kita. Terima kasih doanya Wi.

Tanti Amelia said...

Subhanallah semoga bapak diberi kesehatan