Wednesday, March 14, 2018

Ini Dia Hunian Nyaman Paling Dicari Saat Ini #AsyiknyaDibayarin



Prajawangsa City, investasi masa depan [Foto: Dok Pri]
 Hunian dan investasi  kini jadi hal penting dari perkembangan satu kota. Apalagi kota metropolitan, seperti Jakarta. Jakarta semakin maju dan berkembang, baik secara luas maupun kepadatan kota, membuat warga maupun pendatang di Jakarta perlu moda transportasi dan tempat tinggal layak huni untuk menghindari kemacetan.

Untuk banyak pemerintah di dunia, transportasi, hunian, dan investasi menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan perkotaan. Masyarakat urban perlu fasilitas untuk beragam aktivitas, seperti akses cepat ke tempat kerja, ruang huni nyaman dan bebas macet, atau tempat tinggal (pemukiman) layak dan nyaman. Terpenting lagi urusan transportasi yang cepat, lancar, serta nyaman untuk tiba di tempat kerja masing-masing.
Kemacetan di kota besar membuat orang memilih untuk tinggal di dekat sarana transportasi [Foto: Dok https://yourstory.com/]
Untuk pemerintah sendiri, khususnya DKI Jakarta, urusan transportasi publik jadi hal yang sangat mendesak untuk segera diselesaikan, mengingat dampak yang dibawa serta menyangkut banyak aspek kehidupan warganya. Transportasi yang jelek menyebabkan munculnya banyak keluhan untuk ibukota Jakarta ini. Hal ini dapat pula memberi efek negatif terhadap iklim investasi.   
Prajawangsa City Apartement menerapkan standar hijau [Foto: Dok Pri]
Saat ini, iklim investasi di kategori strata title menjadi incaran.  Salah salah satunya adalah Prajawangsa City Apartement sebagai proyek eksklusif dari PT Synthesis Development. Tentang Prajawangsa City ini, pada Sabtu (10/03/2018), bertempat di Main Atrium Mall @Bassura, Jalan Basuki Rahmat No. 1A, Jakarta Timur, saya dan beberapa rekan blogger berkesempatan untuk ikut bincang siang  tentang Aksesibiitas Transportasi & Investasi Properti sebagai Keunggulan Hunian.
Ahmad Gozali, Pakar Keuangan dan Investasi juga penulis buku [Foto: Dok Pri]
Hadir di tengah-tengah Bincang tersebut narasumber, Ahmad Gozali (Pakar Keuangan dan Investasi,)  Yoga Adiwinarto (Country Director ITDP, Institute for Transportation and Development Policy), dan Asnedi (Property Consultant Synthesis Development. Dipandu oleh MC kocak,Jhody.

Jhody, MC Bincang Sore di Mall of Bassura [Foto: Dok Pri]

Dalam keterangannya, Mas Yoga mengatakan, “ Angkutan massal mesti dekat dengan hunian. Selanjutnya, aksesnya juga memberi kemudahan untuk hunian.  Jika aksesnya sulit,  tentunya orang tidak akan mau menjangkau hunian.” 
Yoga Adiwinarto, Country Director ITDP [Foto: Dok Pri]
Sebagaimana kita kita  ketahui, banyak  orang-orang bilang bahwa di Jakarta ini trotoar tidak ada. Trotoar dibuat bagus, akses orang untuk  melaluinya berkurang.  Menurut Yoga, lebih dari 40% orang PNS di Jakarta mengalami obesitas. Jadi, kita memang masih kurang dalam hal jalan. Panjang jalan yang ada hanya 6.900 tapi untuk trotoarnya masih 510 m, kurang dari 10%-nya. Makanya, sedikit-sedikit orang lebih memilih naik kendaraan online atau taksi. Yoga sendiri sempat melakukan survei  dengan salah satu aplikasi, mulai dari berjalan kaki dan naik bus  untuk tahu panjang jalan.

Mestilah ya setiap pengembangan hunian mengacu pada hal ini, shifting the car-oriented to people-oriented city. Ini menjadi satu keharusan, agar calon penghuni di satu hunian dapat dengan mudah mencapai aksesibilitas transportasi. Adanya prioritas bagi pesepeda, pejalan kaki, dan akses angkutan umum. Dengan begitu, orang-orang yang akan tinggal di hunian tersebut merasa nyaman. Shared mobility yang cukup mudah dan membuat nyaman akan jadi pilihan. Begitu pula hunian yang dikembangkan dengan sistem TOD (Transit Oriented Development).

Menurut Yoga, prinsip  yang mesti dibentuk dalam pembangunan satu kota  yang menunjang equitable itu mesti ada keterhubungan (connect), compact (terpadu), densify (kepadatan), transit (lintasan/pengangkutan), mix (campuran), shift (pergantian), cycle (putaran), dan walk (jalan). Konsep TOD inilah yang dikembangkan Prajawangsa City untuk memenuhi keinginan penghuni agar nyaman.

Pun kalau saya pribadi, tentunya memilih hunian dengan tingkat kemudahan akses menjadi prioritas. Karena itu, hunian yang dekat dengan angkutan umum sudah tentu menjadi andalan dan sangat dicari. Prajawangsa City pun demikian halnya. Akses angkutan umum yang mudah inilah yang bakal dicari orang. Nah, seperti yang diutarakan Yoga, bahwa 52% (6,7 juta) warga Jakarta ternyata tinggal di area radius 1 Km dari stasiun Transjakarta.

Artinya,  orang-orang memang memilih hunian yang dekat dengan akses transportasi. Hal ini untuk menyingkat waktu perjalanan dan kenyamanan tentunya. Prajawangsa City memberikan hunian yang dekat dengan akses transportasi. Menciptakan hunian yang ramah untuk penghuninya (baca manusia). Ukuran blok yang dibuat tak terlalu besar dan sudah disesuaikan, memberikan ruang untuk  pejalan kaki secara kontinu, jalur sepeda dan tempat parkir sepeda, menerapkan hunian yang mixed use/mixed income, akses untuk masuk mobil ada tetapi terbatas, dan mengurangi lahan parkir.

Nah, melihat apa yang terjadi saat ini, trotoar di Jakarta hanya 7,8% dengan panjang 540 kilometer (untuk DKI Jakarta di 2015). Parahnya lagi, dengan keadaan seperti ini, setiap enam hari 1 orang pejalan kaki tewas di Jakarta sedangkan langkah per hari rata-rata jumlah  orang Indonesia hanya 3513. Sementara, panjang jalan di DKI Jakarta pada 2015, hanya 6956 kilometer, kandungan partikel polusi udara itu lebih dari 125 micron/meter kubik, dan penyandang obesitas lebih dari 40% adalah PNS di Jakarta. Miris!

Kita tahu bahwa generasi muda sekarang yang dikenal sebagai generasi milenial atau ‘Jaman Now’ punya  populasi paling besar dan sangat produktif. Mereka hadir di tengah-tengah dunia di atas tahun 1980-an hingga 1997 akrab dengan nama millenial sebagai generasi yang pernah  melewati milenium kedua sejak teori generasi ini dihembuskan untuk pertama kalinya oleh Karl Mannheim seorang sosiolog pada 1923.
Ahmad Gozali mengemukakan, generasi muda sekarang ini memang lebih terbuka tentang keuangan dibanding generasi sebelumnya. Akan tetapi, mereka tidak paham mengenai investasi. Dan dipastian, 83% mereka tak mampu membeli rumah. “Hanya 10% yang bisa menyisihkan penghasilannya untuk ditabung, belum diinvestasi,” ucapnya.
Ahmad Gozali, selain sebagai perencana keuangan yang dicari di Indonesia dengan jam terbang tinggi, berbicara tentang financial planning, keuangan keluarga, investasi, asuransi, dan keuangan syariah. Dia juga sebagai penulis buku ‘Habiskan Saja Gajimu”, “Magnet Rezeki,” lainnya.

Dalam paparannya, Gozali mengatakan bahwa generasi muda sekarang sebagai milenial berbeda dengan generasi old (generasi zaman dulu). Kalau generasi zaman dulu ada tiga hal yang dipikirkan, yaitu sandang, pangan, dan papan. Sementara, generasi milenial (generasi zaman now), pertama yang mereka cari adalah jaringan.
Setelah jaringan, berlanjut ke colokan. Ya, betapa mereka lebih mengutamakan gaya hidup dengan uang yan pas-pasan. Selanjutnya sandang, penampilan lebih dipentingkan. Pangan, nongkrong di kafe atau resto, lalu upload foto bareng makanan dan selfie atau wefie.

Sementara papan, ada di bagian akhir. Milenials tak begitu memikirkan kapan mereka punya rumah, kapan bisa berinvestasi. Mereka berpikir, bisa tinggal bersama orang tua, mungkin  juga kos, atau ngontrak. Berpikir untuk berinvestasi itu masih jauh.

Mengapa millenials tidak mampu mendapatkan rumah? Bayangkan saja, rata-rata kebanyakan mereka anak-anak SMA. Kalau pun bekerja, gaji yang diterima untuk bisa menyicil rumah di Jakarta dengan harga 300 juta, setidaknya Rp7,5 juta per bulan.

Ini dengan asumsi, gaji batas atas dikisaran angka Rp12,10 juta atau batas bawah Rp3,8 4 juta. Diprediksi, hanya 17% generasi millenials yang mampu membeli rumah di Jakarta seharaga 750 juta di tahun 2021, sisanya 83% mencari di luar Jakarta.

Nah, saran untuk siapapun perlu melakukan tiga hal ini. Pertama, punya aset likuid berupa tabungan, deposito, dan produk perbankan lainnya untuk menjaga cadangan likuiditas dan kebutuhan transaksional. Kedua, bisnis dan pasar modal. Modal bisnis sendiri atau bisnis orang lain melalui pasar modal dalam betuk investasi saham dan reksadana. Ketiga, aset tetap. Investasi dalam bentuk aset riil seperti properti dan emas.

Nah, kalau mau investasi di bidang properti, ada tiga hal pula yag mesti dipahami dengan nama 3C in Property Investment. Pertama, Cashflow, rata-rata nilai sewa 8%--11% dari harga properti. Kedua Capital Gain, rata-rata harga naik 7,71% properti kelas bawah jabodetabek Banten. Ketiga Collateral, nilai agunan properti 80% dari nilai pasar atau appraisal.

Bagaimana cara investasi  yang benar? Menurut Gozali, ada dua hal yang perlu diketahui, yaitu cara KANAN/benar kelola uang: invest RIGHT after you get your income. Dan cara KIRI (kere) kelola uang: Invest what LEFTfrom your income
Asnedi, Property Consultant, Synthesis Development [Foto: Dok Pri]
Nah, kini untuk berinvestasi millenials sangat dimudahkan dengan kehadiran Prajawangsa City. Asnedi sebagai Property Investment Advisor Synthesis Developmet, pakar ahli di bidang property  selama 15 tahun dan investor properti memberikan gambaran terhadap generasi millenials.

Untuk  berinvestasi mereka punya beberapa kendala, yaitu dari sisi pembayaran uang muka (down payment), rumah atau apartemen (dihadapkan pada pilihan), legalitas (bagaimana jika berinvestasi di properti/apartemen dengan kesahan dokumen), kebanyakan referensi jadi bingung sendiri, dan persyaratan bank yang tidak memenuhi.

Menurut Asnedi, bila generasi millenials berinvestasi sejak dini, justru mereka akan memetik keuntungan yang lebih besar. Millenials sebagai usia produktif punya banyak waktu untuk belajar dan mengembangkan investasinya.

Investasi yang mereka tanamkan sebagai penyelamat masa depan mereka. ketika sudah tidak produktif lagi untuk bekerja dan menghasilkan uang, investasi mumpuni menyelamatkan kondisi finansial seseorang.

Investasi yang mereka lakukan sebagai upaya untuk mewujudkan impian jangka panjang. Ingin punya mobil da rumah sendiri, atau menikah di venue yang diimpikan, semua akan terwujud ketika mereka punya investasi  di usia muda.

Investasi itu mendisiplinkan diri. Ketika mereka mulai berinvestasi  maka kebiasaan menghamburkan uang untuk sekadar memenuhi keinginan gaya hidup mewah dan beli barang  tak berguna, mulai terkikis.

Memiliki kebebasan finansial tentu jadi cita-cita semua orang. kebebasan finansial dapat didefinisikan sebagai fase tempat uang bekerja untuk kita atau passive income. Kehadiran Prajawangsa City dapat memberikan kemudahan millenials berinvestasi. 

Prajawangsa City Apartement Superblock mix use yang modern cocok untuk investasi generasi millenials [Foto: Dok Pri]
Prajawangsa City Apartement merupakan superblock mix use development modern yang dibangun di atas lahan seluas 7 ha dengan 50% area hjau untuk taman & jogging track. Berada di Cijantung yang dekat dengan kaum urban tinggal dan bekerja.

Didukung pula dengan lokasi yang dekat CBD TB Simatupang, hanya 15 ment.
Nah, Prajawangsa ini sebagai proyek apartemen eksklusif terbaru dari PT Synthesis Development yang terdiri atas 8 tower dengan jumalh 4.169 unit apartemen 26 lantai per tower. Shopping tower mall seluar 35000 sqm, gree & open space 3,5 ha, dan jogging track 1 km.

Tentunya Prajawangsa City Apartemen punya banyak kelebihan dengan harga kompetiti di Timur Jakarta (di bawah market place), pangsa meliputi ekspatriat juga lokal, fasilitas internal dan eksternal yang lengkap meliputi apartemen, mall, ruko, dan RS. St. Carolus; ada fasilitas pendidikan berupa Yayasan Sudirman, Slamet Riyadi Pangudi Luhur, dan lainnya; Fasilitas kesehatan: RS. Pasar Rebi, RS. Harapan Bunda, dan RS. Bina Waluya; Kawasan pabrk di Cijantung dan pusat perkantoran CBD TB Simatupang.

Terdapat shuttle bus ke Stasiun LRT Kampung Rambutan. Yang paling dicari lagi dekat dengan Bandara Halim Perdana Kusumah (11 Km 30 menit), ke TMII hanya 13 menit berjarak 5.6 Km; 8,8 Km ke Stasiun Tanjung Barat dengan waktu tempuh hanya 19 menit. 14 menit (6 Km) ke Terminal Kp. Rambutan, dan 20 menit (6,1 Km) ke terminal Busway Pinang Ranti.

Nah, dengan 5 juta rupiah, selama promosi hingga akhir Maret, bisa tinggal di Apartement Bassura Citu selama tiga tahun itu dibayarin lho sama Prajawangsa City. #AsyiknyaDibayarin kan hari gini. Tiga tahun tinggal di Bassura City bebas  servis lagi. 
Narasumber, Foto Bersama [Foto: Dok Pri]
Saya bilang sih ini worth it banget ya. 5 juta rupiah, bisa dapat apartemen, terus kontrakan kita dibayarin selama tiga tahun, aduh ini namanya kenikmatan hidup. Kalau saya tak perlu pikir panjang kali lebar, hari ini juga sudah saya booking hanya 5 juta. Kesempatan kan tidak datang dua kali yaa… makanya, begitu saya dapat kabar ini, langsung hari itu  juga book, ga pake lama lagi urusannya.

Akhirnya,  investasi dapat, tempat tinggal pun diperoleh dan ga mikir biaya ini itu lagi. Tiga tahun bisa kumpulin uang lagi buat yang lain-lain. Ayoo… kita jadi tetanggaan di Prajawangsa City Apartement sebelum kehabisan.


4 comments:

Tanti Amelia said...

aku tadinya ngga nyadar loh kalo aku ngandelin transport ke mana mana

padahal jalan kaki lebih sehat :(

shifting the car-oriented to people-oriented city. Ini menjadi satu keharusan, agar calon penghuni di satu hunian dapat dengan mudah mencapai aksesibilitas transportasi.

setuju banget ama point ini

OnoSemblang said...

Kalo tinggal di apartemen, twrus bisa menikmati transportasi publik yang aman nyaman itu impian saya tuh... Heheh

Utie adnu said...

Kuy,,, beli mas jun buat invest cocok banget krn tempatnya strategis akses nya mudah jd bisa kemana2

Dunia Faisol said...

Enaknya kalo punya hunian di apartemen, nunggu kumpulin duit dulu. Hihihi