Thursday, August 9, 2018

Tebar Hewan #KurbanDikitaAja Dompet Dhuafa Bersama Kurbanesia, Menjawab Panggilan & Tantangan Zaman




Tak terasam 12 hari lagi Idul Adha akan kita jelang. Kalau teman-teman berjalan atau berkendara di sekitar jalan atau tempat yang di kiri kanan ada lahan kosong, seperti contoh jalan dari arah Tanjung Barat menuju Lenteng Agung, banyak terdapat kandang sapi dan kambing. Di tempat-tempat seperti itu transaksi hewan kurban terjadi. Peternak sekaligus pedagang hewan menjajakan hewan untuk kurban. Pemandangan ini sudah jamak kita lihat memang saat-saat jelang Idul Adha tiba.  


Saya mau berbagi sedikit cerita tentang Idul Adha di beberapa tempat yang sempat saya tinggali. Sekitar beberapa tahun lalu, saya sempat tinggal di salah satu desa di Jawa Tengah. Ada hal yang mengganjal hati dan penglihatan saya tentang tata cara mereka berkurban. Saya melihat ada hal yang tidak tepat sasaran ketika mereka menyembelih dan membagi-bagikan  daging kurban tersebut. Mengapa?
 
Kambing peternak mitra Dompet Dhuafa di Desa Cirangkong, Subang [Foto: Dok Pri]
Daging kurban diberikan hampir di semua rumah tempat saya tinggal tanpa melihat mereka kaya atau miskin, muslim atau nonmuslim. Sementara, untuk yang menyembelih dan dibagi-bagikan ke masjid tempat biasa saya salat berjamaah, hanya sebagiannya saja.

Kalau saya membaca dan bertanya pada ahlinya, semestinya tidak seperti itu.  Daging hewan kurban dibagi untuk orang yang melakukan kurban hanya beberapa kilogram saja, diberikan kepada orang fakir miskin di sekitar tempat tinggal yang melakukan kurban. Jadi, penyebarannya pun merata tidak dimonopoli orang per orang saja.

Pernah juga saya melihat terjadi penumpukan tinggi daging kurban yang seharusnya sudah dapat didistribusikan di hari yang sama, namun malah menunggu. Alhasil, daging mulai membiru dan tercium bau tidak sedap. So, ada terbersit dalam hati dan pikiran saya, bagaimana sebenarnya panitia atau orang-orang yang melakukan kurban tersebut? Apakah mereka paham atau hanya sekadar “ikut-ikutan” saja?

Di sinilah saya sedikit miris dan kecewa, karena seharusnya daging-daging itu dapat tersebar merata, justru nanti akan terbuang sia-sia. Sementara, banyak di luar sana yang mungkin jarang atau tidak pernah makan daging  dalam satu tahun satu kali, dan bisa dihitung dengan jari. Jadinya, hal ini tidak sesuai dengan apa yang sudah diperintahkan Allah SWT. 

Kurbanesia Dompet Dhuafa hingga pelosok negeri. Lihat videonya berikut ini. [Sumber: Youtube]
 

Kita tahu, kan bahwa untuk membeli hewan kurban itu tidak seratus dua ratus ribu, tetapi jutaan rupiah uang yang harus dikeluarkan. Kalau terbuang sia-sia, justru mendekatkan diri pada mubazir. Rasulullah pun sangat tidak menganjurkan hal-hal berbau mubazir ini. Karena apa? Mendekatkan diri pada setan. Memubazirkan makanan sama halnya dengan perbuatan setan. Sedih? Sudah tentu, iya.

Di tempat saya tinggal tersebut ada seorang ibu yang saya panggil "ibu", bekerja untuk saya. Dia sempat berbagi cerita, kalau di kampungnya,  justru tidak pernah memotong hewan kurban sama sekali. Ada, itupun hanya satu kali. Untuk seterusnya, tidak pernah dilakukan lagi. Hal ini terkait dengan kondisi keuangan dan ekonomi masing-masing keluarga. Boleh dibilang miskin dengan pekerjaan utama sebagai pemecah batu dan pembuat arang.

Kalau saya bandingkan dengan yang ada di tempat saya tinggal di Sumatera, justru hal ini sangat bertolak belakang. Rata-rata di setiap kelurahan minimal memotong dua ekor sapi dan sepuluh kambing. Pun masing-masing rumah mendapat jatah daging kurban sebanyak dua hingga tiga kilogram daging.

Saya berpikir, “Kalau tahu  ada satu wilayah atau daerah yang memang sangat memerlukan daging, bahkan makan daging setahun sekali pun tidak pernah, lebih baik saya sarankan untuk memotong dan memberikan hewan kurban di tempat itu. Bisa saya tebarkan ke tempat ibu yang bekerja di rumah saya tinggal.”

Daerah atau wilayah, pemotongan, hingga pendistribusian daging kurban ini menjadi panggilan untuk saya, bahkan menjadi tantangan tersendiri. Bagaimana tidak, selama saya mengikuti pemotongan hewan kurban, ada saja yang tak kebagian bahkan luput dari jangkauan. Saya makin penasaran, tak mungkin tidak ada lembaga yang bisa mengakomodir hal ini.

Saya pun berpikir, kurban ini  telah menjadi satu misi yang mampu merekatkan kepedulian, kebaikan, bahkan manfaat untuk sesama menjadi orang-orang yang bisa lebih baik lagi dan luas jangkauannya.

Kurban juga menjadi waktu yang paling membuat bahagia saudara-saudara kita yang tidak atau jarang mengonsumsi daging. Hal ini menghadirkan kebahagiaan tersendiri. Apalagi untuk saudara-saudara kita yang hidup terpinggirkan (marginal living), bahkan tak tersentuh pembangunan.

Pun kurban menjadi satu tantangan tersendiri untuk saya. Mengapa? Ya, karena dengan berkurban menjadi satu pembuktian diri saya kepada Allah SWT untuk lebih pandai-pandai bersyukur atas nikmat yang telah diberikanNya.

Juga, kalau melihat perjuangan, pengorbanan, dan tantangan Nabi Ibrahim tatkala diminta Allah SWT untuk mengorbankan anaknya, Nabi Ismail. Di sini, Nabi Ibrahim dihadapkan pada pilihan sulit, antara anak dan menuruti perintah Allah sebagai bentuk tanda syukurnya.

Dompet Dhuafa bersama Kurbanesia menerapkan sistem Quality Control ternak sebelum dilepas untuk kurban. Simak videonya [Sumber: Youtube]
 

Mencontoh Nabi Ibrahim ini tadi, saya merasakan banyak hal mengenai hikmah dan keteladanannya, bahkan keimanannya. Pun ada satu pembelajaran yang sangat berharga bisa dipetik, Ikhtiar. Ikhtiar inilah yang secara tidak langsung Nabi Ibrahim berikan kepada orang-orang untuk meraih “hadiah’ terindah dari Allah SWT.

Pun hal ini sesuai pula dengan sabda Rasulullah SAW, ada ganjaran dari setiap helai bulu-bulu  juga darah yang tertumpah dari hewan yang dikurbankan. Subhanallah. Aah… saya jadi terharu sendiri membaca perjuangan Nabi Ibrahim, ibrah yang bisa saya petik untuk diri dan orang banyak di sekitar saya untuk terus berkurban. Dan semata-semata berharap rida Allah SWT kelak.

Untuk hal ini, saya  terus mencari, kira-kira dan tepatnya ke mana harus berkurban agar bisa dinikmati orang banyak. Alhasil, saya browsing dan mencari lembaga mana yang bisa menyalurkan daging kurban sekaligus melakukan penyembelihan secara terbuka, jujur, dan amanah. Bertemulah saya dengan Dompet Dhuafa.

Siapa Dompet Dhuafa
Dompet Dhuafa sebagai salah satu lembaga sosial nirlaba yang bergerak untuk bidang kemanusiaan dan sosial. Kehadirannya bermula dari banyaknya empati komunitas jurnalis yang berinteraksi dengan  masyarakat miskin (terpinggirkan) juga sering bertemu dengan orang-orang kaya. Digagaslah manajemen penggalangan kebersamaan dengan siapapun yang peduli kepada orang-orang dhuafa. Mau tahu tentang Dompet Dhuafa secara mendalam? Silakan klik situs ini https://www.dompetdhuafa.org/about

Ada banyak informasi penting tatkala saya bersua muka dengan rekan-rekan di Dompet Dhuafa. Terutama hal-hal berkaitan dengan program yang dibuat dan dilakukan berhubungan dengan aktivitas sosial kemanusiaan, termasuk program Tebar Hewan Kurban ini. Nah, apa pula ini program Tebar Hewan Kurban? Ya, Tebar Hewan Kurban (THK) ini sebagai salah satu program Dompet Dhuafa untuk ekonomi sosial yang fokus pada pengelolaan dan mendistribusikan hewan kurban ke daerah-daerah terpencil di penjuru nusantara. 

Profil Dompet Dhuafa. Simak videonya berikut ini. [Sumber: Youtube]
 

Jika melihat sejarah mengenai hadirnya program THK ini, sudah dimilai pada 1994 dan mendistribusikan hewan-hewan kurban ke pulau Jawa, Bali, Kalimantan, Sumatera, NTT, NTB, Sulawesi, juga Papua. Bahkan, tak sampai di situ saja, THK juga merayap hingga ke wilayah-wilayah konflik antarnegara dengan penduduk muslim yang memang minoritas, serta daerah terjadinya bencana di luar Indonesia. Komitmen yang diletakkan DD tidak main-main. Inilah menjadi kunci penyebaran hewan kurban agar merata dan dapat dinikmati orang banyak untuk daerah yang disalurkan, selain itu tepat sasaran untuk penerima.

Membentang kebaikan yang dilakukan Dompet Dhuafa menjadi semacam vitamin tersendiri untuk saya pribadi, bahkan orang-orang berduit (baca kaya) untuk terus berbuat baik dan berbagi. Membentang kebaikan yang dari kurban mengantarkan setiap orang pada kebahagiaan. Bahkan menjadi jiwa-jiwa paling bermakna.


Kandang Domba dan Kambing untuk proses pembibitan dan penggemukkan Desa Cirangkong, Subang [Foto: Dok Pri]

Lebih jauh lagi, tujuan utama dari THK ini sebagai ikhtiar untuk berbagi kebahagiaan daging kurban ke penjuru negeri juga sebagai program yang dapat membantu para peternak dan masyarakat tak punya (dhuafa) dalam mendapatkan kenaikan kesejahteraan. Hal ini agar mereka mampu mandiri, punya nilai, serta berdaya guna untuk masyarakat banyak.

Dompet Dhuafa membentuk dan melakukan satu program yang meng-encourage dan melibatkan para peternak yang didayakan oleh Dompet Dhuafa, juga sebagai mitra dari Tebar Hewan Kurban itu sendiri. Bagaimana DD melibatkan peternak di dalam programnya?

Proses yang dilakukan DD ketika mengambil peternak dengan cara memberikan bibit hewan, yaitu kambing dan domba juga sapi atau kerbau. Hal ini tidak semata-mata lewat begitu saja. Tetapi ada proses lain yang perlu dilakukan, yaitu ada pembinaan, pemeliharaan, dan tak kalah penting Quality Control yang dilakukan oleh ahli-ahli di bidangnya, dalam hal ini Dompet Dhuafa pun bekerjasama dengan Dinas Peternakan setempat.

Rekan-rekan Blogger dan Media pada #SocioTripKurbanesia2018 Dompet Dhuafa, Cirangkong [Foto: Dok Pri]

Nah, saya sangat beruntung dapat  mengikuti program Dompet Dhuafa untuk Tebar Hewan Kurban ini bersama rekan-rekan blogger dan media. Pada Selasa lalu (7/08/2018), untuk kedua kalinya saya berkesempatan ikut lagi ke salah satu Kebun Indonesia Berdaya yang dibina oleh Dompet Dhuafa. Bertempat di Desa Cirangkong, Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat.

Selain peternakan, Indonesia Berdaya Dompet Dhuafa juga melakukan pertanian [Foto: Dok Pri]
Tak hanya kebun, tetapi juga peternakan dengan lahan seluas 10 hektar itu ditanami beragam jenis tanaman penghasil buah, seperti Pepaya Kalina, Jeruk, Nenas Subang, Buah Naga, hingga Jambu Kristal.


Domba & Kambing siap Tebar Kurban di Desa Cirangkong, Subang [Foto: Dok Pri]

Sementara, peternakannya berupa kambing dan domba. Domba dan kambing-kambing inilah yang menjadi salah satu hewan kurban peternak yang dikelola Dompet Dhuafa bersama peternak.  DD membantu penyebaran hewan-hewan ini nanti yang akan dikurbankan ke berbagai wilayah di tanah air.

Wilayah-wilayah yang dimaksud seperti wilayah yang jarang tersentuh atau tak pernah merasakan daging kurban, wilayah konflik, dan minoritas muslim. Ketika saya melihat dan terjun langsung ke peternakannya ini, ada tiga kandang yang dibentuk memanjang. Isi keseluruhan kandang lebih kurang 240-an ekor domba. Masing-masing kandang terdiri atas 80 ekor domba dan kambing dari berbagai macam pemilik.

Nah, domba-domba yang masuk dalam kategori  pemeliharaan dan penggemukkan untuk kurban ini dari jenis domba ekor gemuk, domba ekor tipis, domba Garut, dan Domba Priangan (Parahyangan).

Salah satu Domba dari Mitra Peternak binaan Dompet Dhuafa di Desa Cirangkong, Subang [Foto: Dok Pri]

Ada tiga bagian kandang dengan perlakuan berbeda-beda.  Pertama, kandang bibit. Kandang ini terdiri atas bibit domba yang diisi enam ekor domba jantan kualitas bagus dan sekitar 70-an ekor domba betina  kualitas bagus pula.

Kandang kedua berupa kandang bibit pertama. Di kandang ini ada sekitar 80 ekor domba yang dimiliki warga berbeda-beda. Ada domba warga yang memang sudah bermitra dengan DD dan ada domba yang memang warganya berinvestasi untuk ini.
Sementara, kandang ketiga adalah kandang penggemukan. Di kandang ini ada sekitar 80 ekor domba pula yang dimiliki oleh para petani. Biasanya petani yang juga punya investasi di lahan perkebunan nenas dan juga melakukan mitra dengan DD.

Di tempat inilah domba dan kambing dibiakkan dalam binaan Dompet Dhuafa [Foto: Dok Pri]

Bagaimana domba-domba dan kambing di Kebun Indonesia Berdaya binaan DD ini dapat memenuhi standar kualitas hewan kurban?  Tentunya, DD memberikan pembekalan yang sangat dibutuhkan dan standardisasi pakan ternak kurban. Pakan untuk ternaknya sendiri dimodifikasi dengan tetap memenuh standar kualitas pakan ternak.

Pakannya terdiri atas campuran jerami padi, kulit nenas, bahkan dikatakan oleh Mas Agung Kharisma, diberi kecap makan. Selanjutnya, pakan ini difermentasi  lebih kurang tiga hari sehingga menghasilkan rasa manis yang diperuntukkan sebagai penambah energi (tenaga) untuk ternak itu sendiri. Pemberian pakan rumput sebisa mungkin dikurangi, karena rumput tinggi selulosa yang dapat mengikat lemak dan air. Sementara, hewan-hewan ini dalam proses  penggemukan.

Selanjutnya, domba-domba dan kambing yang digemukkan ini nanti akan disalurkan untuk hewan kurban atau dijual oleh DD. DD dalam hal ini menyediakan hewan kurban dengan kelas-kelas tersendiri. Siapapun bisa membeli dan berkurban melalui Dompet Dhuafa dan bahkan langsung disalurkan kepada yang memang berhak menerimanya.
Nah, ini standar hewan kurban yang diberikan oleh Dompet Dhuafa untuk siapapun yang ingin berkurban melalui Dompet Dhuafa. 


Kambing dan Domba bertanda merah ini masuk kategori Premium dengan  bobot 29-35 kg [Foto: Dok Pri]
Kambing dan Domba bertanda biru masuk ke kelas standar bobot 23-28 kg [Foto: Dok Pri]

1.    Kambing dengan kriteria standar bobot 23—28 kg per ekor Rp1.975K
2.    Kambing dengan kriteria premium bobot 29-35 kg per ekor Rp2.975K

Mengapa Dompet Dhuafa jadi pilihan tepat saya untuk berkurban? Adanya Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa ini memberikan kemudahan untuk siapapun yang ingin berkurban, berbagi ke  masyarakat kecil yang tak pernah mengecap nikmatnya sate atau gulai kambing ke penjuru tanah air.

Pertama, melalui Dompet Dhuafa, ada kemudahan layanan berkurban. Ada sistem online (daring) yang dibuat oleh DD justru mempermudah orang yang ingin berkurban. Apalagi eranya sudah sangat maju (era digital). Tak hanya itu, secara offline pun DD tetap membuka kanal melalui konter-konter atau gerai-gerai yang ada di pusat belanja.

Tak perlu repot kalau ingin berkurban dan konfirmasi kurban [Foto: Dok Pri]

Kita bisa pilih kanal untuk pembayaran hewa kurban, baik melalui kanal perbankan, QR Code, payment online, kerjasama e-commerce, bahkan juga jemput kurban dan 150 konter atau gerai THK  DD yang tersebar di Jabodetabek. Kalau tidak mau sulit, bisa langsung bayar juga ke kanal ini www.kurban.dompetdhuafa.org .

Untuk mengetahui lokasi konter Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa (THK-DD)
Klik link berikut  https://kurban.dompetdhuafa.org/konter/.  Semoga kehadiran konter ini dapat membuat mudah rekan-rekan untuk berkurban melalui Dompet Dhuafa.


Dompet Dhuafa bersama Kurbanesia dengan kriteri hewan kurbannya [Foto: Dok Pri]

Kedua, kurban memberikan edukasi untuk anak-anak kita.  Peternak yang dibina DD melalui pemberdayaan ekonominya dapat menikmati langsung daging kurban. Jadi kini, bukan mustahil lagi kalau daerah pelosok tidak bisa mendapatkan daging kurban.Insya Allah, melalui DD semua teratasi. Hal ini juga sebagai bentuk dari model bisnis sosial yang mengangkat ekonomi peternak lokal. Mungkin dulu masih dibawah garis kemiskinan, kini merangkak naik dan mandiri secara ekonomi, menjadi insan yang sukses dan berdaya. Kalau peternak ini berdaya, otomatis penyaluran hewan kurban semakin mudah .

Dompet Dhuafa juga menerapkan sistem jemput kurban [Foto: Dok Pri]

Ketiga, tebar hewan kurban Dompet Dhuafa ini dari kota hingga pelosok desa, wilayah konflik, bencana, minoritas muslim, bahkan hingga mancanegara. Jadi, pendistribusian hewan kurban dari DD ini tak terbatas dalam negeri, justru juga merambah luar negeri. Jadi, semua tersalurkan dengan aman dan baik.

Keempat, hewan-hewan yang dikurbankan memenuhi standar dan mutu kualitas sebagaimana hewan kurban. DD dengan para mitranya menerapkan empat hal yang jadi patokan, yaitu 1) bobot hidup. Domba atau kambing standar dengan bobot  23-28 kg; domba atau kambing premiun 29-35 kg, sedangakan sapi  di 250-300 kg;  2) kesehatan dan fisik. Hewan tidak cacat, lepas gigi khususnya kambing-sapi dan berkelamin jantan;  3) pelaksanaan pemotongan. Hal ini sesuai syar’i yang diberlakukan dalam Islam, ada dokumentasi, serta laporan hewan yang dipotong; dan 4) tepat sasaran. Distribusi yang merata untuk masyarakat kurang mampu atau warga miskin.

Kalau kita berkurban di Dompet Dhuafa, akan mendapatkan notif seperti ini [Foto: Dok Pri]

Kelima, adanya pengendalian dan pengontrolan  mutu hewan kurban THK oleh tim QC Dompet Dhuafa. DD merekrut orang yang berkompeten di bidangnya. QC ini punya tugas memantau, kontrol, juga mengecek kesehatan calon hewan kurban sebelum  hari ‘H’. Mengecek dan verifikasi lokasi pendistribusian siapa yang akan  menerimanya. Memantau penyiapan dan saat pemotongan hewan kurban. Terakhir, melakukan  dokumentasi, evaluasi, serta rekomendasi.

Kalau saya berkurban dan siapapun yang berkurban melalui THK ini ada jaminan kepastian, tersalurkannya hewan-hewan kurban  kepada orang yang berhak menerimanya (tepat sasaran) dan dijamin kita tidak kecewa seperti yang pernah saya alami. Orang  yang melakukan kurban pun secara tidak langsung telah membantu peternak yang sudah join sebagai mitra peternak DD.


Blogger dan Media sedang mendengarkan penjelasan dari representatif Dompet Dhuafa [Foto: Dok Pri]

Dompet Dhuafa pun sangat transparan  mengenai laporan penjualan dan orang-orang yang akan berkurban. Bukti-bukti laporan kurban dikirim melalui pesan singkat email. Hal ini dapat diketahui  rekam jejak yang sudah dilakukan DD sejak 2015 yang menggunakan DESI (Dompet Dhuafa Enterprise System). Melalui DESI ini, kalau kita mau berkurban, semua transaksinya hingga laporan dari orang-orang yang melaksanakannya (mitra)  di lapangan tercatat dengan baik dan lengkap.

Nah, semakin banyak orang-orang yang melakukan kurban di Dompet Dhuafa, otomatis semakin banyak pula manfaat yang bisa diambil oleh peternak yang sudah bermitra dengan THK Dompet Dhuafa ini. Di sinilah, kita dan siapapun menjawab panggilan zaman. 

Masih ragukah dengan apa yang sudah saya sampaikan untuk berkurban di THK Dompet Dhuafa Kurbanesia Menjawab Panggilan Zaman ini? Yuk, bersama-sama kita jawab panggilan zaman juga tantangan memberdayakan peternak lolak dan menebar berkah daging kurban di program THK yang sudah ada sejak 1994.  Ayo, terus kita tebar kebahagiaan lewat daging kurban di Idul Adha yang sebentar lagi akan menjelang dengan berkurba melalui Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa.

Mas Ahmad dalam penjelasannya tentang Kurbanesia [Foto: Dok Pri]

Perlu kita tahu juga bahwa, kesenangan Idul Adha tidak hanya milik bangsa Indonesia, tapi ada juga milik saudara kita sesama muslim di luar Indonesia. Juga mereka yang berada di wilayah konflik seperti Suriah dan Palestina. Mereka pun pantas merasakannya, tak ketinggalan pula minoritas muslim Rohingya. Muslim Rohingya mengungsi jauh dari Myanmar, juga ada yang masih menetap di Rakhine. Sementara keperluan dasar hidup mereka jauh dari kata layak.

Jadi, ngapain  kita tunda-tunda untuk berkurban. #KurbanDikitaAja #SocioTripKurbanesia2018 #MembentangKebaikan #MenjawabPanggilanZaman

3 comments:

Mpo Ratne said...

1/3 bagian buat pekurban dan sisanya di bagikan ke masyarakat. Makin memberi manfaat bisa berbagi daging ke daerah yang membutuhkan

Jun Joe Winanto said...

Bener banget Pok. Mestinya begitu, biar daging kurban dirasakan semua orang.

Fanny Fristhika Nila said...

Syukur aku membaca postingan ini mas. Sbnrnya yg aku prihatinin sama, kadang kita kurban tapi hasilnya dibagikan ntah ke orang yg jelas2 mampu. Aku trmasuk prnh dikasih, yg lgs aku bilang kyknya lbh baik dikasih ke orang yg memang membutuhkan. Makanya thn ini aku msh ragu mau kurban di mana yg bnr2 jelas pembagiannya. Tx utk sharingnya, aku jd tau sebaiknya kurban lwt DD aja :)