Rabu, 10 Oktober 2012

BADAK YANG ANGKUH


Di pedalaman hutan Ujung Kulon ada seekor badak yang memiliki tubuh tambun. Badak itu memiliki cula yang sangat tajam. Kaki-kakinya besar dan sangat kuat. Di hutan itu, dia terpilih menjadi raja hutan.
Badak sangat ditakuti oleh hewan-hewan lain penghuni hutan itu. Tidak ada seekor hewan pun yang berani dan sanggup menentangnya. Serigala sekalipun tidak berani mengajak berkelahi. Bahkan, Harimau dan Singa yang terkenal buas pun tidak sanggup menghadapinya. Tak heran, itu karena kekuatan badak yang sangat luar biasa besarnya. Selain itu, belum ada hewan yang mengalahkan dirinya. Oleh karena itu, badak didaulat menjadi Raja Badak. Akan tetapi, angkuhnya minta ampun.

Ketika Raja Badak sedang berjalan-jalan melewati kumpulan para hewan, cukup keras Raja Badak berkata, “Hei, siapa yang berani dan siap bertanding melawanku?”
Para hewan yang mendengar lantang ucapan Raja Badak, semuanya terdiam. Semua menundukkan kepala dan ketakutan. Tak ada satupun yang berani mengeluarkan suara, meski hanya berbisik. Bergaya yang sangat angkuh, Raja Badak mempertunjukkan kekuatannya kepada para hewan yang ada di hutan itu dengan cara mencokel akar pohon kelapa melalui culanya. Akhirnya, pohon kelapa itu roboh. Begitu pula dengan pohon jambu yang tepat berada di depannya, juga tumbang. Rantingnya patah mematah, dan daunnya berguguran. Rumput-rumput dan ilalang pun disibakkan, sehingga akar-akarnya ikut tercabut. Tanah-tanah yang menempel di akar rerumputan dan ilalang pun berhamburan tak tentu arah. Raja Badak merasa di atas angin seolah tak ada yang benar-benar sanggup melawan dirinya.

Ketika suasana dalam keadaan tegang, tiba-tiba datang seekor kera. Raja Badak lantas berkata, “Hai hewan pohon berbuntut, dari mana kau?”
“Kenapa Raja Badak? Aku sedang berjalan-jalan menikmati indahnya pemandangan dan udara segar di hutan ini”, jawab Kera.

“Kenapa jalan sendirian dan tidak bersamaku?” tanya Raja Badak lagi.
“Berjalan sendirian lebih asyik, Raja Badak terlalu percaya diri, mengapa engkau harus ikut bersamaku!” jawab Kera sambil tersenyum.
Raja Badak sepertinya tersinggung mendengar ucapan Kera. Dia tak mengira jika hewan berbuntut itu berani berkata seperti itu. Seolah-olah telah memandang enteng dirinya. Selama ini, hewan-hewan penghuni hutan Ujung Kulon sangat takut kepadanya.

“Apa kau bilang?” kata Raja Badak bernada emosi.
“Apa engkau belum tahu kalau aku ini raja hutan yang sangat disegani dan ditakuti hewan-hewan penghuni hutan di sini. Begitu beraninya dirimu bicara tidak sopan? Engkau tidak takut kepadaku?”
“Aku tidak takut”, sela Kera. “Aku tidak akan pernah takut kepada hewan yang angkuh sepertimu, hei Raja Badak”. Sebenarnya, kekuatanmu tidak luar biasa, sama seperti hewan-hewan lain penghuni hutan ini!”
Perkataan Kera membuat Raja Badak semakin emosi. Kemarahan Raja Badak tak dapat ditahan-tahan lagi. “Benar-benar makhluk berbuntut tak waras!” Saatnya sekarang aku ingin menikmati isi kepalamu yang gurih itu!” kata Raja Badak dengan raut wajah merah padam.
“Ohh… baik jika engkau menginginkan isi kepalaku. Tetapi, terlebih dahulu Raja Badak harus dapat mengalahkanku dalam perlombaan esok hari di dalam hutan ini”, kata Kera berbuntut panjang menantang Raja Badak.

“Esok kita akan berlomba untuk mencari siapa yang paling kuat antara aku dan engkau. Jika engkau keluar sebagai pemenang, silakan ambil isi kepalaku dan cabik-cabik badanku dengan cula tajammu. Akan tetapi, jika aku  keluar sebagai pemenang, maka engkau harus tunduk dan patuh terhadap setiap perintahku dan mengakui bahwa akulah makhluk di hutan ini yang paling jago”, ucap Kera berbuntut sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Owh, boleh juga usulmu itu hei Kera berbuntut, teriak Raja Badak seolah menyetujui tantangan dari Kera.
Lantas, hewan-hewan penghuni di Hutan Ujung Kulon itu pulang ke tempat masing-masing. Seluruh penghuni hutan akan kembali esok pagi untuk melihat perlombaan antara Raja Badak dan Kera berbuntut.
Akankah Kera akan bertindak bodoh? Tentu tidak. Kera berani menantang Raja Badak sebab dia sudah punya ide untuk mengalahkan Raja Badak itu. Beberap waktu lalu, Kera membuat patung yang menyerupai dirinya. Patung itu dibuat dari kayu besi yang terkenal sangat keras dan kuat. Patung itu bukan patung sembarangan. Karena, patung itu dapat bergerak seperti layaknya Kera sungguhan. Oleh karena itu, jika digerakkan seolah-olah patung itu hidup. Kera beristirahat untuk mempersiapkan tenaga esok pagi sebelum perlombaan. Dia juga membuat patung itu benar-benar mirip dengan dirinya.

Pagi mulai menjelang, seluruh hewan penghuni hutan berkumpul di tempat yang sudah ditentukan itu. Mereka ingin melihat perlombaan seru dan sangat jarang itu. Gemuruh suara sangat ramai ketika Raja Badak muncul di hutan itu lebih awal. Selang beberapa menit diikuti oleh Kera berbuntut, gemuruh suarah pun kembali menggema di seantero hutan itu. Para penghuni hutan melihat situasi semakin seru dan panas.
“HIduuup Raja Badak!” Hidup Kera! Teriak penghuni hutan Ujung  Kulon penuh semangat.
Sang Bangau pun memberi komando, pertandingan segera dimulai. Raja Badak langsung mendengus dan mengejar Kera dengan culanya yang tajam. Sang Kera tetap tenang, malah menyambut serangan Raja Badak.

Awalnya, Kera tersudut dan terjatuh di tanah karena kaitan cula Raja Badak.  Akan tetapi, dia berdiri lagi menantang Raja Badak. Sementara itu, Raja Badak merasakan sesuatu yang sangat menyakitkan di culanya. Dia tidak mengira kalau tubuh Kera begitu kuat dan keras.
Saking geram dan penasaran, Raja Badak mengaitkan lagi culanya ke tubuh Kera. Kera terhempas lagi ke tanah, tetapi cepat berdiri dan mengajaknya berkelahi lagi. Terus-menerus Raja Badak mengaitkan culanya, sehingga membuat cula itu lama kelamaan kerkikis, menipis, lecet-lecet, dan patah. Sedang Kera tetap tenang dan bangkit menantang Raja Badak.

Raja Badak merasakan sakit yang teramat sangat karena culanya patah. Akhirnya, dia tidak mampu lagi meneruskan perlombaan itu. Akhirnya, sang Kera ditetapkan sebagai pemenang. Raja Badak harus siap mengakui kekalahannya dari Kera, dan mengakui pula jika Kera lebih pintar dari dirinya. ––Jun Joe—

0 komentar: