Jumat, 24 Maret 2017

Domino’s Pizza, Sensasi Bahan Lokal dalam Balutan Rasa Internasional


Pizza? Siapa sih yang tak kenal makanan satu ini. Salah satu bentuk flatbread yeasted yang bagian atasnya diisi dengan saus tomat dan keju lantas dipanggang dalam oven. Biasanya, tutupan bagian atas atau topping diisi pula dengan beragam pilihan daging, sayuran, dan bumbu-bumbu khas pilihan. Istilah ini pertama kali ada pada catatan naskah Latin dari Gaeta di abad ke-10 yang berada di  Italia Tengah. Sementara, Pizza modern ditemukan di Naples, Italia. Untuk hidangannya dengan beragam varian sudah menjadi menu populer yang banyak ditemukan di belahan dunia.
Fakta berbicara
Foto: Dok. http://www.todayifoundout.com/
Pada 2009, atas permintaan Italia, bahwa Neapolitan Pizza harus sangat terjaga sebagai hidangan khusus tradisional dan terjamin. Oleh karenanya, The Associazione Verace Pizza Napoletana (True Neapolitan Pizza Association) menjadi satu organsasi non-profit yang berdiri pada 1984 dengan kantor pusat di Naples bertugas mempromosikan dan melindungi  keaslian Neapolitan Pizza.

Pizza dapat dijual secara segar dan beku, baik sebagian maupun secara keseluruhan. Pizza ini menjadi salah satu  item makanan cepat saji yang sudah sangat umum ada di Eropa dan Amerika Utara. Ada beragam jenis oven untuk memasak Pizza juga berbagai jenis bahan campuran untuk membuat pizza, seperti Calzone dan Stromboli.

Kata “Pizza” (dalam bahasa Italia = Pittsa) pertama kali ada dalam teks Latin dari Italia Selatan di kota Gaeta yang masih dalam bagian Kekaisaran Bizantium pada 997 AD (Ano Domini). Di dalam teks tersebut dinyatakan bahwa, untuk  yang menyewa properti tertentu harus memberikan Uskup Gaeta Duodecim Pizza (Dua belas Pizza) setiap Hari Natal, dan dua belas pizza lainnya setiap hari Minggu Paskah. Jadi, Pizza ini dapat diperlakukan sebagai makanan yang sangat dikagumi di negeri asalnya.

Nah, makanan yang mirip dengan pizza sudah ada sejak zaman Neolitikum. Beberapa catatan, bahwa sebagian orang menambahkan bahan-bahan lain untuk roti yang mereka buat. Hal itu agar roti tersebut lebih beraroma.Hal ini dapat ditemukan pada sejarah-sejarah kuno tradisi neolitik.

Orang Yunani Kuno, ketika membuat roti, roti tersebut direndam dalam minyak, ditambah bumbu-bumbu, dan keju. Pada abad ke-6 sebelum masehi, prajurit-prajurit  dari Raja Darius Persia, memanggang roti bulat yang datar  dengan tambahan keju dan kurma di atas perisai tempur mereka. Hal ini demi keinginan untuk memakan roti beraroma keju dan bumbu lainnya.

Sementara itu, pizza modern di Naples Italia terus mengalami evolusi dari jenis roti datar yang ada pada awal abad ke-18 dan 19. Di atas roti datar itu tadi (flatbread) diberi tambahan bahan seperti bawang putih, garam, lemak daging, keju, dan daun basil. Sedangkan tomat yang ditambahkan hanya terkadang saja. Hingga sekitar tahun 1830, pizza dijual secara terbuka  dan masuk ke dalam gerai-gerai toko roti dan pizza. Tradisi neolitik itu tetap hidup hingga saat ini.

Salah  satu legenda kontemporer yang sangat populer menyatakan bahwa, pola dasar pizza itu berasal dari Pizza Margherita yang diciptakan pada 1889, saat Royal Palace of Capodimonte menugaskan Neapolitan Pizzaiolo  (pembuat Pizza), Raffaele Esposito sebagai pencipta pizza membawakan pizza saat mengunjungi Ratu Margherita. Dari tiga pizza berbeda yang dia ciptakan, Ratu sangat menyukai Pizza yang berbalut bendera Italia, yaitu warna merah untuk tomat, hijau untuk kemangi, dan putih untuk keju mozzarella. Selanjutnya, ada jenis pizza yang dinamai sebagai nama ratu, meski penelitian terbaru masih meragukan legenda tersebut.

Pizza dibawa ke Amerika Serikat melalui imigran Italia di akhir abad ke-19. Pertama kalinya muncul di tempat para imigran Italia tersebut terkonsentrasi, Pizzeria sebagai negara pertama, Lombardi yang dibuka pada 1905. Setelah perang dunia ke-2 para veteran yang kembali dari kampanye diperkenalkan dengan masakan Italia itu. Setelahnya, terbukti di pasaran bahwa makanan Italia ini meledak hebat dan pizza menjadi makanan spesial.
Oleh karenanya, sejak saat itu pizza tenar di Amerika, salah satunya Pizza Domino. Di hari-hari tertentu, orang-orang di Amerika, sekitar  13% mengonsumsi Pizza. Berkenaan dengan ini, secara umum jika diperhatikan, rata-rata topping umum pizza di Amerika diisi dengan daging sapi, jamur, bawang Bombay, pepperoni, nenas, bawang putih, ayam, dan juga sosis.

Variasi pizza dalam bentuk lain adalah pizza panggang yang dibuat cukup tipis berbentuk bulat, terkadang juga tak beraturan dari lembaran yeasted adonan pizza. Pizza biasanya langsung dipanggang di atas api, kemudian diisi topping hingga pizza matang dan terasa krispi.

Topping tersebut dapat diiris tipis-tipis agar cepat matang. Isian atau topping ini berupa sosis juga paprika yang bisa dimasak sebelum ditempatkan di atas pizza. Bawang putih, jamur, keju, maupun daging sapi bisa pula ditambahkan untuk memaksimalkan rasa hidangan.

Nah, kali ini saya berkesempatan menyaksikan dan menikmati langsung tujuh varian baru dari Domino’s Pizza dan tiga dessert serba cokelat. Acara ini berlangsung pada Kamis (16/3/2017) bertempat di Domino’s Pizza Senayan City, Jakarta. Hadir di acara tersebut rata-rata Food Blogger dan pecinta kuliner.

Domino’s Pizza mengenalkan tujuh varian baru dengan bahan-bahan dan  cita rasa lokal khas Indonesia, dipadu bebebapa rasa khas Asia, seperti Pizza Ayam Bakar, Beef Rendang, Loaded Meatzza, Spicy Garlic Prawn, Tandoori Chicken, Grand Extravaganza, dan Veggie Deluxe. Tiga dessert yang dihadirkan serba cokelat berupa Chocolate Brownie, Martabak Chocolate Cake, dan Chunky Choc-Chip Cookie.

Bukan hal asing lagi untuk kita tentang Domino’s Pizza ini. Sebagai perusahaan pizza terbesar kedua di dunia memang punya segudang cerita. Sejarah mula berdirinya pada 1960 di Ypsilanti, daerah Michigan yang dimulai oleh dua saudara kembar Tom dan James Monaghan. Mula pertama kali kedua saudara kembar ini membeli pizza, lantas menjualnya kembali dengan nama Dominick. Mereka hanya bermodalkan US$ 1.400. Setelah delapan bulan berlangsung, Tom mengambil pengawasan secara penuh. Hal itu disebabkan James tak ingin  berhenti bekerja sebagai postman.

Bisnis mereka berkembang sangat pesat. Tom membuka dua gerai di sekitar  tempatnya pada 1965. Akan tetapi, Dominick, sebagai pemilik asli tidak mengizinkan Tom menggunakan nama itu di tempatnya yang baru. Alhasil, diubahlah nama Dominick ini menjadi Domino oleh  Tom.

Hebatnya hingga sekarang, ada lebih kurang 13.200 cabang yang tersebar di lebih dari 80 negara. Setiap harinya, sekitar 1,5 juta pizza dijual. Menilik jauh sejarah Domino, tahukah kita ada lambang tiga titik di logonya? Ya, itu diambil oleh Tom dari ketiga toko pertamanya saat dia buka. Sementara untuk  mengantarkan Domino’s Pizza ini ke temapt-tempat pemesanan, Tom menggunakan VW Beetle tua kepunyaan James Monaghan.



Logo Domino's Pizza
Foto: Dok. https://i.ytimg.com

Menu-menu di Domino’s Pizza, sepanjang tahun 1960 hingga 1980 tidak pernah diubah. Mereka tetap punya menu utama satu pizza dengan sebelas topping pilihan dan dibarengi minuman seperti Cola. Menu Domino’s Pizza ini baru ditambah sekitar tahun 1989.
Yuk, mari kita mulai petualangan rasa saya mencicipi menu-menu yang dihadirkan dari Domino’s Pizza ini.

Saya mulai dengan pizza pertama, Tandoori Chicken. Untuk sebagian orang, rasa khas Timur Tengah dengan bumbu-bumbu yang sangat aromatik mampu membangkitkan rasa. Cita rasa masakan ini unik menurut saya. Di negara asalnya, India, Tandoori Chicken direndam dalam yoghurt dengan campuran rempah-rempah tandoori masala. Biasanya ada tambahan cabe rawit, cabe merah bubuk atau kashmiri. Fungsi cabe merah bubuk di sini untuk memberikan warna merah yang menyala. Ditambah pula kunyit (turmeric) untuk menghasilkan warna oranye yang cantik.

Tandoori Chicken Domino's Pizza
Foto: Dok. Pribadi
Rasa tandoori chicken pizza saat lidah saya mencecap, bukan main! Hebat. Eksotisme bumbu yang meresap tak mengalahkan rasa pizza yang nikmat, irisan-irisan paprikanya masih memberikan rasa “kres” saat digigit. Tingkat kematangan ayam sempurna. Cita rasa Asia yang tepat mengena di lidah orang Indonesia. Kenikmatan spices tandoori ini mengingatkan saya pada cita rasa bumbu nasi kebuli. Aroma kunyit, adas, jintan, kapulaga, bunga pekak, kayu manis, dan bumbu lainnya masih sangat melekat.

Adonan pizza-nya juga lembut dan tak lengket di gigi. Saat dikunyah secara bersamaan, ayam, pizza, mayo, dan paprika, memang sedikit menonjol rasa ayam tandoori-nya. Tetapi, tak mengalahkan dari sisi bahan lainnya. Ada harmonisasi rasa manakala  gigi geligi saya mulai mengunyah jadi satu. Kombinasi saus kari, ayam tandoori, saus rahitta, paprika hijau, bawang bombay, dan keju mozzarella, menyatu lekat dalam rasa.

Ayam Tandoori sebagai bentuk hidangan yang berasal dari anak benua India. Menu ini memang sangat populer di India juga negara-negara Asia Selatan lainya. Sangat populer di bagian dunia lainnya seperti Inggris, termasuk Asia Tenggara-Indonesia. Sebagai mana yang dijelaskan oleh Bapak Nevin, representatif Domino’s Pizza, bahwa Tandoori memang cocok untuk lidah tak hanya India, tapi Indonesia.

Hidangan kedua, Beef Rendang Pizza. Ahaa… bicara rendang memang sudah tak asing di telinga saya. Saya berpikir, ini kolaborasi cantik Domino’s Pizza menciptakan hidangan nusantara naik ke kelas dunia. Hebat!


Beef Rendang Domino's Pizza
Foto: Dok.Pribadi
Rendang, sebagai makanan tradisional Indonesia yang sudah mendunia. Olahan rendang berpadu cantik dengan Domino’s Pizza khas Chef Eko. Perpaduan rasa gurih dan pedas rendang khas Minang ini, “nampol” di pencecap saya. Aroma dari topping-nya melesat keluar saat saya membuka boks. Irisan daging yang diresapi bumbu sangat terasa nikmat. Paduan bawang Bombay, membuat cita rasa Beef Rendang Pizza ini makin sulit saya lepaskan dari gigitan.

Aromatik bumbu rendang Domino’s Pizza berbeda dari yang lainnya yang pernah pula saya coba. Di Domino’s Pizza, Beef Rendang Pizza-nya, saya temukan cita rasa yang penuh sensasi di lidah. Bagaimana tidak, ketika pizza masuk dalam gigitan saya secara bersamaan dengan daging rendangnya, dagingnya sangat lembut, bumbu-bumbu rendangnya lesap ke dalam daging. Hebatnya lagi, daging rendangnya tidak hancur meski teksturnya sangat lembut. Aroma rempah dalam rendang pizza sangat menggoda. Sensasi pedas rendang bercampur rempah menantang lidah saya. Lelehan keju Mozzarella, waw, semakin menambah kenikmatan pencecap saya. Ini rasa pizza paling juara.

Chef Domino’s Pizza berhasil mengangkat cita rasa rendang kembali menjadi kelas bertaraf internasional. Buat saya yang orang Sumatera, ini sangat cocok di lidah saya. Beef rendang ini buat saya nagih. Rasa tak pernah bohong, bukan hanya soal selera. Tapi cita rasalah yang menentukan Domino’s Pizza jawara di bidangnya.

Chef internal Domino's Pizza, Chef  Eko
Foto: Dok. Pribadi
Menu Pizza ketiga yang saya cicipi adalah Ayam Bakar Pizza. Aroma ayam bakarnya cukup tajam, berasa gurih. Hebatnya lagi, ayamnya lembut, potongannya tetap utuh, dan tidak hancur. Paduan cantik antara bawang Bombay, ayam bakar, parsley, dan keju mozzarella membuat hidangan ayam bakar naik kelas.


Ayam Bakar Domino's Pizza
Foto: Dok. Pribadi
Gigitan demi gigitan yang saya kolaborasikan dengan seluruh topping yang ada, tak ada yang dominan. Keseimbangan rasa saya temukan. Keunikan pun saya dapatkan. Pizza lembut dengan ayam bakar, membuat lidah saya semakin membara untuk terus memangsanya. Lagi-lagi, Domino’s Pizza mampu memenuhi selera konsumen di Indonesia yang benar-benar bercita rasa Indonesia, tetapi naik ke kelas yang lebih tinggi lagi. Selalu ada cara, bagaimana Chef internal Domino’s Pizza (Chef Eko) mengenalkan rasa Indonesia kepada lidah tak hanya untuk orang Indonesia, tetapi juga untuk lidah orang asing. Keren!

Pizza keempat yang hadir di hadapan saya adalah Spicy Garlic Prawn. Dari namanya sudah bisa saya tebak. Ya, rasa-rasa pedas dipadu aroma bawang putih berpadu cantik dalam ikatan udang, dan potongan dadu tomat merah penuh cinta, serta Bombay yang mesra manja saat lidah mencecap.

Spicy Garlic Prawn Domino's Pizza
Foto: Dok. Pribadi
Betapa tidak, udangnya benar-benar terasa segar dan “kres” saat saya gigit. Hebatnya lagi, tak tercium bau amis seperti kebanyakan olahan udang. Bawang putihnya pun tak menyengat penciuman saya. Bombay, pun tak menebar aroma tajam. Hebatnya, aroma masing-masing topping tak ada yang dominan. Tomat yang dipotong dadu menghasilkan juice yang membuat lembut adonan pizza. Pizza yang dihadirkan terasa juisi, dan ‘bleber”.

Hal yang membuat saya mengenang jauh Spicy Garlic Prawn ini adalah, cita rasa pizza yang krispi berbalut topping-topping cantik dengan rasa menggoda. Rustic Sauce   memberikan cita rasa memanjakan lidah saya. Juara! Rustic Sauce, ada paduan tomat, bawang putih, dan bahan-bahan lainnya hingga tercipta saus berkelas internasional dan sejalan dengan lidah-lidah lokal. Chef Domino’s Pizza, jempol dua!

Hidangan pizza kelima yang saya cicipi adalah Loaded Meatzza Pizza. Nah, kenikmatan saat menyantap pizza itu ketika keju meleleh. Tetapi buat saya tak hanya itu. Kenikmatan menyantap pizza Domino’s ini tatkala beef pepperoni, beef rasher, beef blackpapeer, beef crumble, dan Barbeque Sauce bersatu dalam jalinan kompak pizza yang singgah di mulut saya.

Loaded Meatzza Domino's Pizza
Foto: Dok. Pribadi
Saya termasuk pecinta daging. Meatzza memberikan sensasi baru untuk jenis pizza dengan cita rasa daging bersaus. Lembut dan mudah ditarik. Daging berkelas premium ini memang pantas bersanding dengan Domino’s Pizza yang punya kelas premium pula di bidangnya.
Tak heran, saat saya mencecap, gigitan pertama, kedua, ketiga dan seterusnya enggan berpaling dari gigi saya. Duuh… ada pelet cinta pizza Domino’s yang memanah hati dan mata saya untuk tidak lekas melepas loaded pizza ini. Chef Internal Domino’s memberi cita rasa yang aduhai. Wajar jika Domino’s punya hati di pecintanya. Tak heran pula kalau Domino’s mampu mengejar jenis-jenis lain pizza di kelasnya menjadi terbaik.

Daging beef pepperoninya punya rasa yang gurih dan enak. Beef yang lembut berpadu bawang Bombay, mengeluarkan aroma manja di lidah. Sulit untuk saya melepaskan dari gigitan begitu saja secara sia-sia. Loaded Meatzza, I wanna dating with you again!

Pizza keenam yang singgah di lidah saya adalah Grand Extravaganza. Saya memang pecinta daging. Dari beberapa varian daging pizza yang pernah singgah di lidah saya, Grand Extravaganza Domino’s Pizza berbeda dari yang lainnya. Daging beef rasher terasa lembut dengan bumbu yang sangat meresap ke dalam. Beef Pepperoninya pun tak kalah lezat. Yang membuat Domino’s Pizza Grand Extravaganza ini berbeda dari yang lainnya adalah, ada zaitun hitam dengan rasa aduhai.

Grand Extravaganza Domino's Pizza
Foto: Dok. Pribadi
Aduhai rasa ini saya peroleh dari perpaduan beef rasher, beef pepperoni, zaitun hitam, paprika hijau, bawang Bombay, tomat, parsley, nenas, dan mozzarella cheese yang coba saya makan sekaligus. Benar-benar memberikan sensasi rasa yang menakjubkan di pencecap saya. Rasa ini tak pernah bisa hilang dari ingatan saya. Masih tetap melekat jauh hingga ingin kembali lagi untuk bersenang-senang bersama Grand Extravaganza secara vaganza. Domino’s Pizza Grand Extravaganza Party for the next!!

Last but not least, sajian istimewa Domino’s Pizza mengisahkan cinta para pecinta sayuran. Veggie Deluxe. Bukan hal yang mustahil, percampuran karbohidrat (adonan pizza) dengan beragam jenis sayur, membuat lengkap sajian ini. Ada kelezatan yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya ketika jamur, zaitun hitam, paprika hijau, nenas, bawang Bombay, bersama keju feta dan mozzarella sebagai isian (topping) menghinggap tepat di pencecap.

Veggie Deluxe Domino's Pizza
Foto: Dok. Pribadi
Hal yang membuat saya tertarik jauh dengan Veggie Deluxe ada pada sajian keju feta. Keju ini, pada zaman Yunani dibuat dari susu domba secara pasteurisasi, terkadang ditambahkan pula dengan susu kambing. Keju ini telah diproduksi di Yunani sejak zaman purbakala, bahkan sudah menyebar ke seluruh Balkan. Feta memiliki warna putih dan disimpan di dalam air asin atau air dadih.

Veggie Deluxe dalam Bingkai Rasa
Foto: Dok. Pribadi
Feta Cheese ini, setelah diberi rennet dan menggumpal, segera ditiriskan hingga terbentuk gumpalan keras. Rasanya gurih dan segar. Di sinilah letak nikmatnya Veggie Deluxe. Satu hal yang tak dapat dipisahkan lagi adalah mozzarella yang memberikan rasa menakjubkan. Tingkat kekenyalan Domino’s Pizza berbeda. Adonannya lembut dan tidak lengket di gigi.
Semua percampuran bahan-bahan diolah secara sempurna dengan tingkat kematangan yang sempurna pula. Tingkatan rasa yang memiliki  standar rasa internasional. Tak hanya kena di lidah Indonesia, tetapi mencapai rasa berkelas mancanegara. Rasanya tak berhenti sampai di sini petualangan saya menikmati Domino’s Pizza.

Sajian yang memberikan cita rasa berbeda dari Main Course ke hidangan penutup (dessert) yang diracik dari tangan dingin Chef Domino’s Pizza, dalam olah rasa serba cokelat pun berhenti sejenak di lidah dan gastronomi saya. Dessert ini sebagai daftar dessert terbaru Domino’s Pizza.  Ada apa saja? Mari kita lanjutkan petualangan Gastronomi ini.

Meluncur di hadapan saya pertama kali Chocolate Brownie. Bentuknya memang Brownie. Dengan kekentalan cokelat yang lezat. Paduan rasa yang seimbang antara tingkat kekeringan bagian bawah Brownie-nya dengan oili sauce berbahan cokelat juga. Ini merupakan percampuran bahan yang membuat luluh kerasnya hati. Saya merasakan lembutnya Chocolate Brownie laksana Sabayon yang dilingkari es krim, dan membuat saya terpenjara rasa. Kehangatan yang berasal dari Chocolate Brownie ini mampu menenangkan jiwa. Sulit untuk memalingkan wajah dari godaan cokelat yang mengundang hasrat.

Chocolate Brownie Domino's Pizza Dessert
Foto: Dok. Pribadi
Tingkat kematangan brownie-nya pun sempurna. Menurut saya, tidak lengket di lidah dan gigi. Siraman saus cokelatnya pun menambah lezat dan tak akan terlupakan sepanjang lidah mencecap.

Masih dessert berbahan cokelat yang menghinggap di lidah saya. Dessert ini mengambil inspirasi dari Martabak  Indonesia yang memang populer. Cara cerdas Chef Domino’s Pizza menghadirkan bentuk lain dessert, berupa Martabak Chocolate Cake. Bahan dasar martabaknya lembut dengan tingkat kematangan mendekati sempurna. Rasa cokelat dengan bahan martabak berpadu seimbang, tidak ada rasa yang paling dominan.
Martabak Chocolate Cake dalam Bingkai
Foto: Dok. Pribadi

Martabak Chocolate Cake Domino's Pizza Dessert
Foto: Dok. Pribadi
Bahan-bahan cake yang dimasukkan sesuai porsinya. Baking Powder/Soda Kue sebagai pengembang cukup signifikan dengan rasa. Martabak Chocolate Cake ini menjadi satu hidangan penutup spesial di hati saya. Racikan resep di tangan dingin Chef memberi nuansa baru untuk percokelatan Dominos Pizza.

Berhenti sampai di sini? Tidak! Saya masih mencicipi Chunky Choc-Chic Cookie. Ini merupakan kue dengan cokelat chips yang berada di dalamnya. Membayangkan lumernya cokelat dengan chips lembut yang masuk ke dalam mulut itu benar-benar beda. Ini kenyataannya, di hadapan saya hadir Chunky Choc-Chic Cookie yang lembut. Chips-nya lembut sangat berasa. Siapa sih yang mau mendustai rasa yang hadir dengan keikhlasan di mulut sang pencinta kulinaria?

Chunky Choc-Chic Cookie Domino's Pizza Dessert
Foto: Dok. Pribadi
Apa yang dijelaskan McMichael benar, “Semua orang menyukai cokelat dan dessert sebagai makanan penutup yang lezat setelah makanan utama. Domino’s Pizza menghadirkan dessert barunya sebagai penutup makan dengan rasa manis. Seperti halnya Pizza yang ada di Domino’s Pizza, baru akan dibuat setelah dipesan. Dessertnya pun hangat karena fresh from the oven.
Rasa tak pernah bohong
Foto: Dok. Pribadi
Tak perlu risau, seluruh bahan yang diracik dalam pengawasan Majelis Ulama Indonesia dan berlabel HALAL.  Jadi, bahan-bahan lokal punya taste di lidah internasional juga, kan. Semoga Domino’s Pizza mampu membawa bahan-bahan lokal ke mancanegara dengan rasa. Saya sudah mencoba beragama rasa, kamu kapan?

2 komentar:

ane mpo ratne mengatakan...

wah, jadi pengen makan pizza

Myra Anastasia mengatakan...

Domino's Pizza memang enak. Doughnya tipis dan lembut :)