Kamis, 13 Juni 2013

Kekerasan Sebagai Sebuah Tragedi

Bukan karena kurangnya pengetahuan teknis yang menghambat kita dalam memberikan perlawanan jujur dan serius mengenai kejahatan, justru hambatannya lebih bersifat ideologis dan politis. Apa yang di atas permukaan terlihat sebagai argumen  teknis tentang apa yang bisa kita buat dan tidak mengenai kejahatan. Tiba gilirannya menjadi sebuah argumen moral dan politik terhadap hal-hal yang harus dan tidak boleh kita lakukan.

Kita punya tingkat kekerasan kriminal karena kita sudah  menata kehidupan sosial ekonomi kita lewat cara tertentu dibanding cara lain. Brutalitas dan kekerasan kehidupan Amerika menjadi tanda bahwa ada biaya sosial yang sangat besar untuk mempertahankan penataan tersebut. Tetapi, dengan mata yang sama, menggantikannya juga menjadi hal yang bernilai, dan jika kita terus mentoleransi kondisi yang telah membuat kita menjadi masyarakat industri yang paling keras, maka itu bukan karena masalahnya begitu misterius, atau karena kita tidak tahu apa yang harus dilakukan, tetapi karena kita telah memutuskan bahwa keuntungan yang diperoleh dari mengubah kondisi itu tidak sebanding dengan biayanya.

Mengapa kita terus bergulat dalam kematian dan penderitaan yang tidak bisa dicegah? Bagaimana kita dapat memahami mengapa kita sebagai bangsa secara kolektif bertingkah seperti protagonis terhadap suatu tragedi, membawa kekerasan dan kehancuran untuk diri sendiri dan orang lain yang kita cintai, dan semuanya atas nama moralitas?

Hal itu karena jalan  memahami karakter, baik individu maupun nasional melalui  studi mitos besar dan paradigma tragis yang menunjukkan bentuk pola dasarnya. Pendekatan moral terhadap kekerasan tidak membantu kita memahami sebab dan pencegahan kekerasan. Hal yang lebih buruk lagi, beberapa asumsi moral tentang kekerasan sesungguhnya menghambat upaya kita dalam memelajari sebab dan pencegahan kekerasan.


Cara pemikiran moral yang paling populer terhadap kekerasan justru menimbulkan kesimpulan keliru bahwa memahami perilaku kekerasan berarti memaafkannya. Bagaimana dengan tindakan kekerasan yang telah melebihi batas? (JJW). Bisa dilihat juga di link berikut: www.migrantinstitute.net/kekerasan-sebagai-sebuah-tragedi.

0 komentar: