Sabtu, 10 Desember 2016

Fachri Albar Masuk Penjara Karena Arifin Putra

Di penghujung tahun 2016 ini, kabar mengejutkan datang dari  Fachri Albar dan Arifin Putra. Hubungan pertemanan yang sudah mereka bangun bertahun-tahun kandas begitu saja. Padahal diketahui, keduanya berteman sudah sangat lama dan satu sama lain pun tahu lebih dan kurangnya. Masing-masing memegang kartu truf-nya.
The Professional Film. The first heist movie in Indonesia
Foto: Dok. The Professional Official dalam Blogger Crony
Bisnis yang telah dijalani oleh keduanya, memicu Arifin Ilham seakan gelap mata. Arifin  ingin menguasai dan mengambil seluruh aset perusahaan yang dipunyai Fachri. Beragam cara ditempuh Arifin. Hingga Fachri Albar diberitakan menggelapkan uang perusahaan. Alhasil, Fachri dinanti bui.
Arifin dengan senangnya terbahak-bahak tanpa melihat penderitaan orang lain yang notabene juga sahabatnya. Penjara memang menjadi target Arifin untuk  Fachri. Arifin memang mampu membesarkan perusahaan yang dimilikinya hasil dari “rampokan” perusahaan Fachri.
Arifin masih tak puas dengan besarnya perusahaan yang dia kelola. Berbagai perusahaan lain pun datang ke tempatnya untuk menanam saham dan juga berbagi (sharing profit). Beberapa perusahaan tergiur dan masuk. Otak bisnis Arifin terus berputar bagaimana perusahaannya terus bertambah besar dan maju.
Akan tetapi, dia tak sadar bahwa Fachri Albar tak berapa lama  dalam penjara keluar. Fachri bukan tipe orang yang tinggal diam dan bertopang daku. Teman dan sekaligus sahabatnya itu telah  menghancurkan kehidupannya. Rumah tangga Fachri pun tercerai berai.
Fachri tak tinggal  diam. Dia memutar otak untuk mengambil kembali aset-aset perusahaannya yang telah dirampok Arifin. Selepas dari penjara itulah Fachri mengumpulkan teman-teman yang masih mendukungnya dan dapat dimintai tolong, yaitu Lukman Sardi, Cornelio Sunny, Melayu Nicole Hall, dan Richard Kyle.
Lukman Sardi sebagai seorang arsitek yang dulunya pernah membantu Arifin Ilham membangun gedung perusahaan milik Arifin bernama Trimitra. Lukman memahami beberapa area penting dalam gedung tersebut. Cornelia Sunny, seorang yang ahli dalam bidang IT dan coding begitu pula Melayu Nicole Hall. Sementara Richard Kyle jago dalam electrical dan jaringan.
Melalui koordinasi Fachri, mereka berlima mulai merencanakan aksi untuk mengambil kembali aset-aset perusahaan  Fachri yang dirampok oleh Arifin. Perencanaan  yang matang dan benar-benar tersusun sistematis membuat Fachri dan teman-teman mudah berkoordinasi dan  melakukan pekerjaan yang diinginkan Fachri.
Bagian-bagian gedung yang dianggap penting Richard pasangi dengan CCTV (kamera pengintai). Aliran listrik telah dikoneksikan dengan sistem laptop Cornelio. Lukman memberitahukan seluruh posisi-posisi penting gedung, termasuk ruang kerja Arifin.
Sementara Melayu Nicole Hall membantu Cornelio Sunny. Aksi balas dendam Fachri dan teman-temannya ke Arifin tak tanggung-tanggung. Hampir seluruh sistem keamanan kantor Trimitra Arifin dikuasai Fachri. Hingga satu ketika, Melayu ditugaskan untuk mengorek keterangan dari Dani, salah satu staf IT yang dipercaya Arifin di kantornya untuk tahu bagaimana sistem security di Trimitra.
Dalam keadaan mabok Dani menceritakan hampir seluruh sistem keamanan di kantor tersebut. Hingga akhirnya, hal yang paling dirahasiakan, yaitu dongle (kode) akses untuk  mendapatkan  file-file berharga transaksi jadi masalah untuk Fachri. Karena, Dani bicara kepada Melayu Nicole bahwa untuk itu diperlukan akses sidik jari dari Arifin sendiri.
Teman-teman Fachri saling menyalahkan dan sempat terjadi keributan di antara mereka. Karena Melayu yang ditugasi untuk mengorek keterangan dari Dani, tidak berhasil sempurna. Cornelio pun berang, dia bilang, “Kalau aku yang ditugasi untuk mengorek keterangan dai Dani, pasti berhasil, karena aku tahu banget dengan Dani dan  aku teman dekatnya”.
Dalam situasi yang panas antar mereka, Fachri pergi sejenak, dan tak dinyana, dia menelepon Arifin. Diterimalah Fachri oleh Arifin dikantornya. Fachri yang perokok mencoba untuk merokok di ruangan Arifin. Agak marah Arifin melarang Fachri. Akhirnya matches Facri diambil paksa Arifin dan dibuang. Dengan menahan amarah, Arifin minta Fachri untuk keluar dari ruangannya.
Trik Fachri untuk mendapatkan sidik jari Arifin berhasil melalui matches. Lukman dan Fachri mulai membuat finger print (sidik jari) Arifin. Lukman, dengan menggunakan keahliannya mencoba bersimulasi membuka brangkas alih-alih sebagai tempat penyimpanan dongle.
Aksi balas dendam benar-benar dimulai oleh Facri dan teman-temannya. Mengetahui hal ini, Arifin seperti kelabakan dan meminta seluruh sistem keamanan kantor lebih diketatkan. Tapi sayang, semua terlambat. Akses penyimpanan dongle dengan sistem keamanan yang dibilang canggih di kantor Arifin berhasil dibobol Fachri. Fachri pun mengambil seluruh akses dongle dan memindahkan  seluruh data ke laptopnya.
Dalam keadaan baku tembak, Imelda Therinne, meminta kepala pasukan keamanan untuk kembali ke kantor dan mengamankan kondisi kantor. Tetapi Arifin bersikukuh agar kepala keamanan tetap menjalankan tugasnya mengejar teman-teman Fachri. Sayang seribu kali sayang, Imelda Therinne, berbalik arah justru membela Fachri.
Tamatlah sudah riwayat perusahaan Trimitra milik Arifin Putra. Fachri berhasil membalaskan dendam dan sakit hatinya kepada Arifin karena Arifinlah yang telah menghancurkan hidup dan perusahaannya.
Ya, kisah ini hanya terjadi di film The Professional. Salah satu karya film Heist Movie pertama di Indonesia besutan sutradara Affandi Abdul Rachman dari MNC Pictures. Bintang-bintang yang sudah tidak asing lagi di penikmat film Indonesia, seperti Fachri Albar (Abiyyasa), Arifin Putra (Reza), Lukman Sardi (Cokro), Richard Kyle (Joe), Cornelio Sunny (Ferry), Melayu Nicole Hall (Sophie), dan Imelda Therrine (Nicole). Sementara itu sebagai produser film adalah Toha Essa.
Inti film ini adalah balas dendam Fachri Albar (Abi) kepada Arifin Putra (Reza) yang menjebloskannya ke penjara. Setelah  masa tahanan Abi selesai, dia ingin menuntuk Reza dan balas dendam pula agar merasakan apa yang pernah Abi rasakan. Mau merasakan  Heist Movie beda dari yang lain? The Professional jawabannya.
The Professionals memberi warna baru bagi genre film laga Indonesia, yaitu smart action. Film ini tidak hanya berkutat pada adegan baku tembak tetapi juga menampilkan misteri.

“Film ini bukan dari Novel ataupun kisah nyata, film The Professional murni fiksi dan benar-benar membuat kita exicted sebagai penonton. Dalam film ini akan disajikan sebuah cerita yang ada misterinya, keseruan atau fun dalam cerita dan adanya smart action disatukan menjadi satu packaging yang menarik,” tutup Affandi.

0 komentar: