Minggu, 04 Desember 2016

Painting on Daluang? Why Not?!


God gives everybody talents. And how they use it and create their own brain for visualized every moment in their life. Do not gripe for anything. Enjoy for every story as much as possible. Here, I wanna say what I got sometimes ago. That’s about painting on Daluang. This is for the first time I made it. Who doesn’t know Daluang?  

Kepala Museum Tekstil Jakarta, Esti Utami dalam laporannya
Foto: Dok. Pribadi

Sebelumnya, tidak banyak yang saya ketahui tentang Daluang, Tapa, atau pun Fuya. Sekilas, flashback sebentar untuk apa yang saya peroleh sebelum mengikuti melukis, menggambar, atau apapun namanya itu di atas Daluang bersama seorang wanita yang memiliki bakat terpendam dalam bidang lukis/gambar, Tanti Amelia. Bakat yang terpendam itu dia asah terus menerus sehingga akhirnya seperti sekarang. Dia bisa memberikan dan meneruskan keterampilan yang dimilikinya kepada seluruh crafter blogger yang ingin tahu lebih jauh cara atau teknik melukis di atas kertas yang saya bilang spesial dan mahal, yaitu kertas Daluang.

Kain kulit kayu (Fuya) terakhir buatan Mama Asa Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Experience ini sebagai bentuk kerja nyata yang tak akan pernah saya lupakan dalam hidup. Diberi kesempatan yang tak ternilai oleh Museum Tekstil, Ibu Misari untuk melihat lebih jauh kehidupan Megalitikum yang hingga hari ini masih berlangsung. Apa itu? Ya, pembuatan kain kulit kayu di satu lembah yang sangat mendunia dan hanya dimiliki Indonesia, yaitu Lembah Bada.

Pesona Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Di Lembah inilah semua kekayaan alam telah Tuhan berikan untuk memakmurkan kehidupan masyarakat di sana dengan cara mengolah kulit pohon Malo, Bea, atau Saeh. Kulit-kulit kayu yang sudah dikuliti mereka perlakukan sedemikian rupa, sehingga menghasilkan kain kulit kayu yang boleh dibilang cukup rancak. Proses panjang pembuatannya tak menyurutkan langkah mama-mama di sana untuk melestarikan tradisi megalitikum tersebut.

Dari Lembah Bada-lah saya mulai mengenal apa itu Fuya (kain kulit kayu) untuk sebutan yang ada di Sulawesi. Sementara, jika kita beranjak dan menelusuri literatur penulisan daerah lainnya dengan nama berbeda. Fuya sudah ada di Sulawesi sejak zaman neolitikum. Sejarah kulit kayu di daerah ini tidak tertandingi dan secara mengejutkan berusia lebih tua dari tempat lain di dunia. Ini merupakan keajaiban bahwa teknik tradisional telah bertahan sangat lama di Sulawesi Tengah. Di Sulawesi yang memiliki sejarah panjang kulit kayu, tetap disebut fuya.

Fuya dari Lembah Bada, Sulawesi Tengah
Foto: Dok. Pribadi
Penelitian mengenai kulit kayu Indonesia yang dilakukan negara lain secara bertahap telah mengungkapkan sejarah dan rute penyebaran teknik kulit kayu. Pada waktu bersamaan, penelitian tentang asal usul dan sejarah Daluang, bahan yang digunakan untuk membuat wayang beber, satu bentuk seni yang menjadi kebanggaan Indonesia, tidak mengalami kemajuan sama sekali.
Kertas Daluang Kang Mufid, Bandung
Foto: Dok. Pribadi
Bagaimana dengan Tapa? Tapa tidak dikenal di Jawa maupun di Sulawesi.  Akan tetapi, sebutan tapa dipakai oleh orang-orang di seluruh dunia. Itu sebutan yang paling banyak berada di daerah Hawaii dan Meksiko (daerah Kepulauan Pasifik). Tapa diperkenalkan pertama kali oleh pelaut bernama Marcopolo.

Sementara di Jawa, lebih dikenal dengan nama Daluang, Daluwang, atau Druwang, sedangkan di Bali diberi nama Ulantaga. Perlu diketahui, pemakaian kain kulit kayu di daerah Jawa lebih kepada untuk tulisan dan dikenal dengan Daluang atau Dluwang itu tadi. Dalam bahasa Jawa, “Druwang” memiliki arti, yaitu kertas. Sebagian naskah-naskah kuno yang didapat di Pulau Jawa banyak yang ditorehkan di atas kertas kulit kayu atau daluwang.

Melalui Kriya Indonesia bersama painter Tanti Amelia, kembali saya beroleh kesempatan untuk menorehkan hasil imajinasi ke dalam bentuk lukisan di atas kertas Daluang. Melukis menjadi satu aktivitas yang sangat mengasyikan dan mampu mengejawantahkan imajinasi-imajinasi liar yang terarah pada satu media.

Museum Tekstil menjadi tempat yang sangat nyaman tatkala melukis berlangsung. Helatan ini digelar pada Kamis, 1 Desember 2016 bersama Kartini Blue Bird dan Crafter Blogger. Melukis di atas daluang ini sekaligus mengakhiri Beaten Bark Exhibition: Hidden Treasure: Tapa, Fuya, Daluang di Museum Tekstil Jakarta.

Pada kesempatan itu hadir pula Wakil Deputi Bidang Kebudayaan, Bapak Usmayadi Rameli, Peneliti Kain/Kertas Kulit Kayu Prof. Isamu Sakamoto, Kepala Museum Tekstil Esti Utami, dan Representatif Blue Bird, Ibu Nova. Sebelum workshop dimulai, Kepala Museum Seni, Ibu Esti Utami menyampaikan laporan kegiatan yang dilangsungkan. “Pameran ini bertujuan untuk mengangkat kain kulit kayu hingga mendunia. Kain kulit kayu menjadi kebanggaan bangsa ini. Oleh karenanya perlu dijaga dan dilestarikan,” ucapnya.

Workshop melukis di atas kertas Daluang ini dibuka oleh Asisten Deputi Bidang Kebudayaan, Bapak Usmayadi yang sekaligus menutup pameran Beaten Bark.  Beliau mengatakan, bahwa “Kain kulit kayu menjadi satu tradisi negeri ini yang perlu dijaga dan dipelihara agar tidak punah”.

Asisten Deputi Bidang Kebudayaan, Bapak Usmayadi Rameli
Foto: Dok. Pribadi
Sementara itu, Ibu Nova selaku representatif Blue Bird menyampaikan bahwa, “Peran wanita (Kartini-Kartini Blue Bird) sangat diharapkan agar tradisi kain kulit menjadi satu tradisi yang terus terpelihara hingga akhir zaman. Di tangan-tangan terampil Kartini Blue Bird inilah tradisi kain kulit kayu ini nantinya akan tetap terus dijaga dan diwariskan ke anak cucu”.
Ibu Nova, Representatif  Kartini Blue Bird
menyerahkan lukisan dari Daluang kepada Prof. Sakamoto
Foto: Dok. Pribadi
Pada kesempatan yang sama pula, Asisten Deputi Bidang Kebudayaan menerima penyerahan lukisan dari Ibu Tanti Amelia; Prof. Isamu Sakamoto menerima penyerahan lukisan dari Representatif Blue Bird, Ibu Nova. Sedangkan Kepala Museum Tekstil, Ibu Esti Utami menerima penyerahan lukisan dari Founder Kriya Indonesia, Astri Damayanti.
Founder Kriya Indonesia, Astri Damayanti menyerahkan lukisan dari Daluang
kepada Kepala Museum Tekstil, Ibu Esti Utami
Foto: Dok. Pribadi
Tanti Amelia, menyerahkan lukisan dari Daluang
kepada Asisten Deputi Bidang Kebudayaan, Bpk. Usmayadi
Foto. Dok. Pribadi
Untuk selanjutnya, acara lukis melukis ini dimulai. Peserta diberikan seperangkat alat melukis berupa pensil, penghapus, kertas gambar, kuas, gelas plastik berisi air, dan kertas Daluang. Menyakinkan diri sebelum menorehkan kuas di atas daluang, untuk mengetes gambar di kertas gambar yang diberikan.

Beberapa peralatan melukis
Foto: Dok. Pribadi
Saya coba menggambar jerapah di atas kertas gambar. Setelah yakin, selanjutnya saya pindahkan melukis di atas Daluang. Setiap tarikan garis dengan penuh kehati-hatian saya torehkan di daluang. Jika pun menorehkan garis yang salah, masih bisa dihapus. Akan tetapi, saya harus berhati-hati jangan sampai kerta daluang basah terkena siraman air. Karena teksturnya yang mudah robek jika terkena cairan.


Proses menggambar Jerapah di kertas Daluang
Foto: Dok. Pribadi
Kemudian torehan cat akrilik satu demi satu warna mulai saya tancapkan. Tak banyak bermain warna untuk gambar Jerapah saya itu. Hanya cokelat dan hitam. Sementara warna rumput saya padupadankan dengan warna hijau, kuning, putih, dan kecokelatan. perpaduan dari warna-warna yang sudah saya campurkan punya kesan tersendiri. Gambar itu seolah-olah hidup dan berkata-kata. Jadilah Jerapah model saya dalam satu bingkai indah bersama Daluang.

Lukisan Jerapah yang sudah jadi di atas kertas Daluang
Foto: Dok. Pribadi
Agh, Daluang punya cerita panjang yang akan tetap saya kenang sepanjang zaman. Daluang menjadi mahal. Tak sekadar mahal karena dijual. Tetapi, mahal karena mulai terjegal. #SaveDaluang

Keceriaan Bersama Crafter Blogger
Foto: Dok. Pribadi


1 komentar:

Tanti Amelia mengatakan...

Merasa tersanjung disebut painter, mas Jun... padahal aku da cuma blogger yang suka doodle doang (baca : orat oreeet waeee massss)

barakallah mas Jun, semoga kita tembus go international