Jumat, 06 Januari 2017

HIJRAH EKSTREM: Ketika Titik Nol Menghampiri

Apa jadinya, diri berbangga dengan dunia? Apa jadinya, dulu berpunya kini harus memapah diri untuk tak merana? Bagaimana rasanya jika diri terhempas dalam lumpur dosa yang rasanya enggan kembali lagi untuk menjadi bersih? Bui pernah ia inapi. Jatuh pada titik terendah dalam kehidupan, membuatnya berpantang putus asa. Mari kita kulik siapa dia.

Mirani Mauliza (kerudung merah) bersama Sophie Beatrik AsaMedia dan Peggy Melati Sukma
di Penjara Wanita Rutan Pondok Bambu-Jakarta Timur
Foto: Dok. Pribadi
Adalah Mirani Mauliza, dunia malam sempat dia lakoni. Dari Night club satu ke night club lain dia singgahi. Pulang dalam kondisi mabuk pun pernah dia rasakan. Hidupnya seakan tak pernah lepas dari alkohol, kehidupan malam, dan mabuk-mabukkan.
Terlahir dari seorang ayah sebagai abdi negara dengan kehidupan yang cukup mapan. Akan tetapi, satu waktu sang ayah yang jarang pulang mengalihkan semua perhatian kepada sang anak. Dengan pangkat sang ayah yang semakin tinggi, tuntutan tugas negara pun semakin banyak diemban, dan komunikasi ayah dengan dirinya semakin jarang.

Dirinya mulai mengalami hal-hal kosong komunikasi dengan sang ayah. Sosok ayah yang dia idam-idamkan hadir di tengah kehidupannya, seakan lenyap begitu saja karena tuntutan tugas dan kewajiban sang ayah sebagai abdi negara. Lambat laun sang ayah semakin jarang pulang, saat pulang ke rumah pun sang ayah selalu menampakkan raut wajah tegang. Tak ayal, pertengkeran pun kerap terjadi. Sang ayah yang dulunya hangat, lembut, penuh kasih, kini berbalik 180 derajat. Apalagi, Mira yang kala itu masih anak-anak tak mampu memahami kondisi yang terjadi di antara keluarga mereka.

Keluarganya pun dihadapkan pada pilihan sulit. Pertengkaran sang ayah dan uminya semakin tak terbendung, karena melibatkan ibu sang umi. Pastinya, orang tua mana yang ingin anaknya menderita dan hidup dalam siksaan lahir batin? Tentu tak ada yang ingin. Pilihan sulit diberikan kepada Ibu untuk Umi Mira. Mau tidak mau harus dipilih. Umi Mira berpisah dengan sang ayah.

Setelah perpisahan itu terjadi, Mira beserta kakak dan adiknya hidup bersama Umi. Akan tetapi, sang ayah punya cara untuk menjumpainya. Satu waktu, tatkala sang umi tak berada di rumah, Mira diambil (= diculik) oleh sang ayah. Perjalanan hidup memang berbeda untuk setiap orang. Dalam keadaan bingung Umi mencari anak-anaknya yang hilang, dan Mira beserta kakak dan adiknya pun tak senyaman saat berada di pelukan sang umi.

Sang Ayah yang “melarikan” anak-anaknya sendiri pun menjadi terlapor atas kasus penculikan. Pilihan Mira untuk  tinggal tetap jatuh pada Uminya. Selang beberapa bulan perceraian, sang Umi menikah kembali. Akan tetapi, sang umi selalu memberi nasihat kepada anak-anaknya jika kelak menikah tak apa dengan orang tak berharta tetapi penuh tanggung jawab dan bekerja keras.  Setelah menikah, Umi, Mira dan saudaranya pindah dari Medan ke Singkawang (Pontianak).

Ya, bagaimana tidak, kehidupannya dulu di Medan berlimpah harta kini harus mampu menikmati “nasi garam”. Buya, panggilan untuk ayah tirinya mampu menggantikan sosok ayah yang diinginkannya. Tidur di atas kardus dia nikmati dan itu berada di pasar.

Suatu ketika sang ayah menjumpai uminya di Pontianak dengan wajah kusut dan mata sendu. Sang ayah ingin menyekolahkan anak-anaknya. Tetapi, umi Mira bersikeras enggan melepas mereka. Nenek Mira dari ayah tirinya mendengar jelas kejadian ribut sesaat itu. Dengan bijak mendinginkan suasana.

Umi berbijak hati untuk melepas kakak Mira ikut sang ayah ke Medan, sedangkan Mira ikut Uminya menyusul Ayah tirinya ke Pekanbaru. Di Pekanbaru, kehidupan keluarganya perlahan mulai berubah. Libur sekolah dimanfaatkan Mira untuk ke Medan mengunjungi kakak dan ayahnya. Dan Mira memutuskan untuk meneruskan sekolah Kelas 3-nya di Medan.

Dunia Mira terus berubah. Di Medan banyak tempat main keren, hingga satu waktu Mira diajak ke tempat yang sebelumnya dia tak pernah singgahi, diskotek! Dengan uang jajan yang relatif besar saat itu (300 ribu rupiah) dan masuk diskotek hanya 5 ribu rupiah, Mira semakin ketagihan. Di situlah dia berkenalan dengan rokok dan botol minuman keras.

Selepas dari SMP itu, Mira disekolahkan di sekolah orang-orang elit, pergaulannya makin menjadi. Rasa gengsi jika teman-temannya memamerkan kekayaan sering menghinggapinya. Pindah sekolah kerap dilakukannya untuk menaikan gengsi semata.
Ya, kebiasaan Mira dengan dunia gemerlap tak bisa dienyahkan begitu saja. Lulus SMA, dia makin menjadi-jadi, jadi “Mahasiswi Liar”. Pacaran putus nyambung. Hingga pacar selingkuh dan 15 butir obat penenang masuk ke dalam tubuh, niat bunuh diri gara-gara pacar selingkuh.

Mira kembali ke Pekanbaru, di Pangkalan Kerinci salah satu daerahnya. Di Pekanbaru, Mira bekerja sebagai penyiar radio dan juga tenaga honorer di salah satu instansi pemerintahan. Di sinilah dia mulai menutupi kepalanya dengan jilbab. Di 2006 dia mulai memasuki bisnis MLM dari salah satu upline-nya di Medan. Dia pun masih berpacaran dengan pacarnya yang dahulu, meski kepala telah ditutupi jilbab. Tetapi, pacaran gaya Mira adalah gayanya. Upline-nya sendiri pun sudah punya pacar, dan Mira memegang niat untuk tak berkhianat.

Bisnisnya terus membesar dengan upline-nya itu. Pada 2008, Mira hilang kontak dengan upline tersebut. Dan dia sudah menjadi leader di MLM itu. Untuk menguji keseetiaan pacarnya, Mira minta dinikahi. Ternyata, pacarnya serius mau menikahi meski pernah selingkuh. Teman-teman Mira pun banyak yang bilang, kenapa mau menikah dengan pria yang pernah selingkuh.

Alhasil pada 2009 tepatnya Januari, Mira bertemu uplinenya. Sementara, pernikahan itu akan dilangsungkan pada 11 Maret 2009. Dari pertemuan dengan upline-nya itu ada rasa yang terpendam dari sang upline-bahwa sesungguhnya dia mencintai Mira. Entah kenapa, pernikahan yang tinggal menghitung hari itu Mira batalkan dan Mira lebih memilih bersama upline-nya berlibur ke Bali dan melepas jilbabnya, kegilaannya dimulai lagi.

Dari bisnis MLM Mira mulai skenario baru dalam hidup. Dia mulai bisnis investasi di bidang pupuk. Dan itu nyata. Permintaan terus meningkat, mau tidak mau Mira harus punya dana segar. Dia membuka bisnis investasi untuk para investor. Alhasil, terkumpul hingga 500 juta rupiah.

Sampul Buku Hijrah Ekstrem
Foto: Dok. Pribadi
Bisninya yang semakin padat, membuat fisiknya kelelahan, diagnosis dokter mengatakan bahwa dirinya mengidap leukemia. Karena sakitnya, Mira harus kemoterapi yang setiap bulan 4,5 juta rupiah harus dikeluarkan. Bisnis pupuk di 8 bulan pertama berjalan lancar dan sukses. Kebutuhan koperasi terpenuhi. Hingga satu ketika, rekan bisnis pemilik koperasi menghilang, sementa para petani sudah mengeluarkan uang ratusan juta rupiah untuk membeli pupuk di koperasi. Pupuk belum diperoleh, uang sudah masuk, pemilik koperasi membawa kabur uang dan Miralah yang menjadi sasaran empuk petani.

Mira habis gali lubang tutup lubang pinjam uang bayar utang (persis lagunya Rhoma Irama… J). Di kondisi yang membuatnya bingung, ada saja investor yang mau berinvestasi, padahal belum pernah bertemu dirinya. Hingga satu ketika, para investor itu membentuk grup bernama “Korban Penipuan Mira”. Para investor mengklaim bahwa total uang yang harus dikembalikan Mira sebesar dua miliar. Kenyataannya tidak sebesar itu. Mereka menghitung juga bunga investasi. Mira terpukul!

Dalam kasus itu, dia sempat mau bunuh diri menyayat tangannya dengan silet. Tetapi, Tuhan berkehendak lain, dia diselamatkan. Beberapa waktu kemudian Mira datang menemui sang pacar, apa lacur, karena kasus itu juga ada investasi dari orang tua sang pacar, Mira justru mendapat perlakuan tak enak dari sang pacar. Di depan pintu, Mira diteriaki Nenek tua dan dilempar sapu.

Langkah gontai Mira mengantarkannya ke masjid dan menenangkan pikiran dengan Salat Duha. Mira memutuskan untuk pulang ke rumah. Selang tiga Minggu sang pacar menghubunginya untuk bertemu tapi sendirian. Mira datang dengan menyewa mobil di sebuah rumah makan yang agak sepi. Ragu sempat menghinggapinya. Tetiba ada dua lelaki kekar menghampirinya, Mira bergegas lari ke mobil tapi kalah cepat, dia berhasil dijegal kedua lelaki itu dan borgol tali dimasukkan ke mobil. Tuhan, sekali lagi baik untuknya. Mobil yang membawanya itu berpapasan dengan mobil patrol polisi, dan polisi curiga, benar saja. Akhirnya, Mira dan debt collector sewaan salah satu investor itu ikut ke kantor polisi.

Uminya yang diberitahu bukan main sedihnya. Pukul 5 pagi Uminya tiba di kantor polisi. Kasus yang menimpa dirinya sebenarnya cukup sederhana, kalau Mira melunasi hutang mereka selesai urusan. Bahkan, polisi menyarankan agar kasus itu diselesaikan secara baik-baik. Para investor minta Mira tandatangani surat perjanjian melunasi hutang dalam 2 minggu. Mira sempat tak mau. Tetapi, polisi dan Umi menyarankan untuk tanda tangan dan Mira dijauhkan dulu dari Pekanbaru.

Kesedihan Mira bertambah manakala dia tahu bahwa yang menjebak justru kekasihnya sendiri. Kecewa berat terus menghinggap. Dari perjanjian yang sudah ditandatangani, Mira dibawa ke Jakarta bukan untuk kabur, tetapi menenangkan diri dan berpikir untuk melunasi hutang. Ya, Mira hanya bisa berdoa dan berdoa. Ibu dan Buyanya menjemputnya ke Jakarta dan pulang bukan ke Pekanbaru tetapi ke Pontianak. Sedekah cincin tatkala Ustaz Yusuf Mansur datang ke Pontianak ia lakukan. Dia pun meminta jodoh yang terbaik manakala cincin itu disedekahkan. Pacarnya yang sesungguhnya Mira cintai bukan menjadi penolong, tetapi meluluhlantakkan harapannya.
Terima kasih Mba Mira untuk Bukunya dan PT Gramedia Pustaka Utama
Foto: Dok. Pribadi
Jodoh tanpa cinta dirinya dari salah satu yang pernah ikut MLM bersambut, Adi Pratama. Mira biasa menyapa Mas Een. Pada Januari 2011 mereka menikah. Akan tetapi, ujian berat Mira masih terus berlangsung. Pemberitaan tentang dirinya masuk ke harian Tribunnews.com dan surat kabar, bahkan televisi. Hingga akhirnya mengantarkannya masuk Bui… Kisah perjalanan Mira masuk bui belumlah usai. Bagaimana liku-liku dirinya di bui dan kisah selanjutnya?

Sangat disayangkan tentunya jika Anda tak mendapatkan bukunya:

sebuah kisah inspiratif
Mirani Mauliza
Hirah Ekstrem: Karena HIJRAH adalah sebuah PERJALANAN HATI
Diterbitkan oleh: PT Gramedia Pustaka Utama
Kompas Gramedia Building
Blok I Lt.5
Jln. Palmerah Barat 29--37
Jakarta 10270

0 komentar: