Senin, 27 Maret 2017

Branding In The Digital Age: Branding Mudah Tanpa Susah dengan Cara CNI

Tak dapat dipungkiri bahwa dunia digital mampu mengubah segalanya hanya dalam waktu singkat. Orang punya modal pengetahuan hanya seadanya, tiba-tiba bisa kaya dan terkenal karena olah digital. Sebaliknya, orang yang begitu lama populer tiba-tiba dilempar jauh ke jurang oleh pengagumnya juga karena perkembangan dunia digital.

Pentingnya Branding
Foto: Dok. http://www.speeli.com/
Begitulah kekuatan teknologi di era digital. Di negara ini, kekuatan tersebut sekarang dibangun oleh 132,7 juta pengguna internet, 51% dari total penduduk yang berjumlah 262 juta jiwa. Kekuatan tersebut diyakini akan semakin berlipat jumlahnya dalam waktu singkat.

Berbagai lembaga riset pun melakukan penelitian terhadap perkembangan pemakaian internet, utamanya di Indonesia. Seperti yang dilakukan oleh eMarketer yang mencatat, pertumbuhan pengguna internet di Indonesia dari tahun ke tahun  tumbuh membesar. Pada 2014, pengguna internet di Indonesia mencapai 83,8 juta sedangkan tahun 2015 meningkat menjadi 93,4 juta.

Branding in the digital  age bersama CNI
Foto: Dok.Pribadi
Dari sisi usia pengguna internet terbesar berada di usia muda (18-24 tahun) sebesar 43%. Berdasarkan jenis kelamin pengguna terbanyak adalah laki-laki sebesar 51,5% sedangkan perempuan sebesar 48,5%. Berdasarkan jenis media sosial di Indonesia, pengguna tertinggi adalah media sosial facebook, mencapai 93%, diikuti twitter 80%, Google+ 74%, LinkedIn 39%, dan Instagram 32%.

Digital number in Indonesia
Foto: Dok. Pribadi
Dari beberapa literatur seperti Social Baker (2013) Forbes (Digital in Numbers Indonesia Compilation Presentation), menyebutkan Jakarta menduduki peringkat kedua di dunia untuk pengguna facebook, sebesar 7,4 juta pengguna. Pengguna twitter tertinggi adalah DKI Jakarta, sebesar 2,4% tweet dunia, diikuti oleh Tokyo 2,3%, dan London 2,0%.


Dari hal itu dapat terlihat jelas bahwa pertumbuhan digital mengikis dan mengubah cara pandang seseorang untuk menjalani kehidupan.
Perkembangan teknologi yang sangat canggih telah membuat perubahan besar untuk seluruh kehidupan di dunia. Kemajuan teknologi informasi yang serba digital membawa orang melangkah maju ke dunia bisnis yang sangat revolusioner, mengapa? Karena jangkauannya sangat mudah, murah, praktis, dinamis dalam berkomunikasi dan memperoleh informasi. Dunia Digital Informasi sekarang banyak dipakai seperti memberikan konten dalam berkomunikasi, berbagi informasi, dan branding baik personal maupun perusahaan melalui media sosial.

Perubahan terus terjadi dari dulu hingga sekarang, baik cepat atau lambat, tetap ada yang namanya perubahan. Begitu pula dengan cara-cara manusia berusaha, yang tadinya hanya menggunakan metode konvensional, kini beranjak pada metode-metode yang serba canggih, atau dengan kata lain, perusahaan telah pintar menyiasati cara mereka berusaha dengan memanfaatkan teknologi digital.

Ani Berta, Blogger dan Content Writer sebagai moderator acara
Foto: Dok. Pribadi
Berkaitan dengan itu, pada Minggu (26/3/2017) CNI bersama ISB (Indonesian Social Blogpreneur) mengadakan Blogger Gathering yang mengambil tempat di Burger King, Kawasan Plaza Festival-Kuningan, Jakarta Selatan.  Adapun tema yang diperbincangakan mengenai Branding In The Digital Age dengan narasumber Dewi K Rahmayanti sebagai Social Media Consultant dan Vincent, selaku Founder helofranchise.com. Acara ini dimoderatori oleh Ani Berta selaku blogger dan content writer dan CNI yang sudah memfasilitasi.

Vincent (kiri) dan Dewi K R. (Kanan) pemateri
Foto: Dok. Pribadi
Sebelum Mas Vincent dan Mba Dewi mengumbar slide-slide mereka, Mas Gusti, representatif CNI menyampaikan kilas-kilas CNI dalam dunia usaha, perkembangan CNI dulu dan kini, hingga masuk dalam lini digital marketing.

Mas Gusti representatif CNI dalam paparannya tentang CNI
Foto: Dok. Pribadi
Dalam paparannya itu, Mas Gusti sampaikan bahwa, CNI dulu dan kini berubah. CNI berbenah melaju dalam era digital. Pola dan usaha dikembangkan seiring kemajuan zaman. “Dengan teknologi digital, jangkauan CNI makin luas, makin dikenal publik”, ucapnya.

Dalam kesempatan ini pula, Vincent memaparkan materi mengenai Membangun Branding Melalui Website, sementara itu Dewi K Rahmayanti menyampaikan materi mengenai Strategi Personal Branding di Sosial Media.Bagaimana paparan-paparan keduanya mampu membuat saya bertahan lama dan mengorek begitu banyak pengetahuan? Mari ikuti rangkaian tulisan ini.

Membangun Branding Melalui Website
Ada pertanyaan besar yang menggelayut dalam benak saya manakala hal ini dicuatkan, “mengapa website bukan blog?” dan ternyata, Mas Vincent pun menanyakan hal yang sama kepada peserta Blogger Gathering saat itu. Ada beberapa hal yang saya cermati dari hal, website dan blog pada dasarnya sama, tetapi ada perbedaan mendasar yang kita harus tahu.


Vincent dalam paparannya Membagun Branding Melalui Website
Foto: Dok. Pribadi
Website merujuk pada situs url yang kita miliki dan dapat diakses sehari dengan memasukkan protocol www. Melalui website pula orang-orang yang melihat jati diri, produk, atau bisnis yang kita jalani tak terbatas pada lokasi atau tempat, ruang, dan waktu. Artinya bahwa, website mampu menjangkau lebih luas karena bersifat global. Ya, era memang sudah berubah, kemajuan teknologi membuat banyak metode berganti, alhasil website menjelma.

Perbedaan Website dan Blog seperti yang dituturkan Vincent
Foto: Dok. Pribadi
Website di zaman serba digital ini bukan lagi menjadi barang langka. Tetapi kalau boleh saya bilang “It must be” untuk setiap orang yang ingin meningkatkan kualitas diri, ataupun perusahaan yang ingin dikenal lebih jauh oleh publik.

“Website memiliki jangkauan yang luas dengan kapan dan di mana saja kita ingin mengakses dapat dengan mudah dilakukan. Melalui website, branding akan lebih mudah dilakukan dan meningkatkan jangkauan si pemilik brand, dalam hal ini personal maupun perusahaan,” tutur Vincent.

Sementara blog, hanya sebagaian halaman kecil atau istilah yang biasa  berada dalam website. Biasanya terdiri satu halaman konten yang berisi tulisan dengan topik-topik khusus atau spesifik. Dan itu sudah ditentukan oleh penulisnya sendiri.

Artinya, kapasitas dan ranah tulisan yang ada di dalam blog ini sangat terbatas. Dari sisi desain pun begitu. Desain tidak terlihat dinamis dan layout pun sudah baku sebagai layout bawaan. Mau tidak mau, pemilik blog harus pintar-pintar menciptakan blognya dengan desain menarik tanpa mengurangi keindahan dan kecermatan saat membaca konten yang ada di dalamnya.

Tak hanya konten, produk juga menjadi prioritas dalam branding menurut Vincent
Foto: Dok. Pribadi
Banyak metode atau cara-cara yang dilakukan untuk mencipta atau membuat satu buah website sebagai penunjang branding seseorang atau perusahaan. Contohnya dengan cara Saas Service (Sofware as a service), yang meliputi Wix, Websitebuilder, Blogger, dan sebagainya.

Wix ini merupakan situs untuk membuat website untuk orang-orang yang belum membuat website sebelumnya. Di wix cukup men-drag dan men-drop desain yang sudah disediakan oleh situs wix.com. Pengguna juga tidak perlu membuat hosting terlebih dahulu, hanya dengan mendaftarkan diri sajaa sebagai pengguna wix.com. Selanjutnya, pengguna akan memperoleh hosting seperti yang diinginkan. 

Keuntungan menggunakan wix seperti search engine mudah, tidak diperlukan kemampuan khusus dalam pembuatan website, tersedia flash template dan beragam, dapat disesuaikan dengan konten website, mudah digunakan hanya drag dan drop, mudah ketika menampilkan animasi flash tanpa perlu menyentuh kode, instalasi flash plug in, atau instalasi flash widget, pendaftaran gratis dan cepat (tergantung koneksi internet), dan dapat langsung di-upgrade sehingga menjadi domain sesuai keinginan tanpa adanya WIX. Sementara Kelemahan Wix itu sendiri loading terlalu lama, kalau menggunakan banyak animasi flash pada website yang dibuat, Nama URL website terdapat kata wix.com

Bagaimana pula dengan website builder? Website builder merupakan alat yang memungkinkan pembuatan situs web tanpa kode-kode rumit.Website builder ini terdiri dari Exclusive online tool:  menu online yang disediakan oleh perusahaan hosting web. Biasanya ditujukan untuk pengguna dalam membuat  situs  pribadi  mereka.

Beberapa perusahaan memungkinkan pemilik situs memasang  alternatif  alat (komersial atau open source)--atau biasa dikenal dengan istilah CMS (sytem management content).

Lantas perangkat lunak  yang  terdapat   pada  komputer,  membuat halaman offline dan yang  dapat mempublikasikan  halaman  tersebut pada setiap host. (Dianggap sebagai “situs perangkat lunak untuk mendesain web  yang ada dalam website builder). Sementara, dapat pula menggunakan personal service seperti Wordpress, Joomla, juga Drupal, dan Scratch.

Jangan pernah melupakan komponen-komponen yang membangun satu buah website. Biasanya meliputi konten, produk, fitur (yang dapat membantu user), desain yang meliputi material desain dan boostrap, user journey, dan performa. 

Performa satu buah website meliputi hosting, jaringan, keamanan (security), dan lain-lainnya. Bagian-bagian ini diperlukan seseorang atau company untuk mengembangkan apa yang mereka miliki. Tak berhenti hanya sebatas keinginan membangun website saja.

Beberapa cara untuk membuat website dari Vincent
Foto: Dok. Pribadi
Di era digital sekarang, mau tidak mau, entah itu perseorangan, perusahaan kecil, juga perusahaan besar, website menjadi hal yang paling penting. Ada banyak cara membangun imej perusahaan atau perseorangan di era digital sekarang ini. Apalagi untuk dikenal lebih jauh dengan penggemar atau klien kita.

Dikenal dengan maksud bukan hanya diketahui adanya, tetapi orang tahu bahwa perusahaan yang sedang dijalankan bergerak di bidang apa, kelebihan perusahaan ditonjolkan, solusi-solusi positif dapat diberikan perusahaan kepada orang yang memerlukan. Bahkan untuk orang-orang yang tidak memerlukan profit pun perlu branding melalui website.

Dulu, orang menggunakan metode konvensional untuk mengenalkan diri atau usaha yang dimiliki. Tetapi, kini semua berubah. Di era digital, dalam satu sentuhan jari semua dapat diakses, dipelajari, bahkan “disinggahi”.
Website memberikan jangkauan sangat luas untuk pemilik usaha juga perseorangan. Seperti kita memasang iklan di jalanan yang besar, website pun jelas terlihat tidak dibatasi tempat.

Jelas-jelas bahwa orang dari manapun dapat mengakses, membuat analisis, memberikan jalan/solusi untuk usaha yang sedang dijalani. Website menjadi satu alat komunikasi yang benar-benar paten dan ampuh di era digital sekarang.

Ada satu ucapan dari penulis buku Enchantment, yaitu Guy Kawasaki seperti ini, “Komunikasi digital membuat kita bisa menjangkau lebih banyak orang dengan lebih cepat dan dengan biaya yang lebih sedikiti”. Artinya, dengan website yang kita miliki, jangkauan dan branding usaha semakin jauh. Biaya yang kita keluarkan untuk beriklan pun sangat kecil dan bahkan tanpa biaya sama sekali.

Pengalaman saya ketika membuat branding untuk salah satu usaha platform baca buku secara digital. Tak banyak mengeluarkan biaya. Memanfaatkan website perusahaan semaksimal mungkin. Memenuhi konten-konten di setiap media sosial yang dimiliki perusahaan. Beriklan hampir dapat dilakukan sewaktu-waktu. Peluang-peluang seperti ini yang seharusnya memang dibaca oleh pelaku bisnis dan perseorangan yang ingin  meningkatkan jangkauan dan cakupan usaha tanpa mengeluarkan banyak biaya.

Website mampu membentuk dan membangun kredibilitas perseorangan, usaha, dan perusahaan yang kita miliki. Ada banyak anggapan bahwa hampir semua perusahaan punya website. Karena dengan alasan bahwa sekarang masuk ke era digital, punya  website menjadi barang wajib  untuk perusahaan, bahwa website menjadi tempat paling efektif. Jika usaha atau perusahaan kita belum punya website, orang akan berpikir bahwa perusahaan ini tidak benar-benar dijalankan secara serius.


CNI semakin maju dengan apps-nya
Foto: Dok. Pribadi
CNI yang telah lama berkecimpung dalam dunia usaha, mau tidak mau mengikuti perkembangan zaman. Era digital “memaksa” CNI maju dengan langkah tegap ke depan. Alhasil, tercipta website cantik dan indah untuk memanjakan kliennya berbelanja di www.geraicni.com .


CNI mulai berbenah dengan membuat website untuk branding perusahaan
Foto: Dok. Pribadi
Hal yang dilakukan CNI ini bukan tanpa alasan. Bagi CNI, dengan memiliki website, maka perusahaannya terlihat jauh lebih besar, bahkan dapat dianggap menjadi perusahaan raksasa dari kenyataan yang sebenarnya. 

Salah satu fitur di apps gerai CNI
Foto: Dok. Pribadi
Desain-desain website yang menarik dari CNI mampu membetahkan mata klien untuk tak berpindah ke lain website sejenis. Justru hal inilah yang dicari CNI. Artinya, dengan betah berlama-lamanya konsumen akan meningkatkan kepercayaan calon customer maupun customer yang sudah menjadi pelanggan tetap CNI.

CNI dengan multi produk branding melalui website
Foto: Dok. Pribadi
Jadilah bahwa, membangun branding (brand) di era digital ini satu hal yang ingin dicapai, yaitu bertahan bukan value of money. Penting memang di era digital sekarang ini, satu brand seperti CNI harus punya tujuan hidup. 


Branding CNI cukup berhasil dengan produk Sun Chlorella-nya
Foto: Dok. Pribadi

Branding di era digital tentang kepercayaan. Kita tahu bahwa, transaksi di dunia digital dilakukan di dunia maya, otomatis kepercayaan menjadi kunci mati sebuah kesuksesan.

Fitur-fitur dalam apps gerai CNI yang mudah diakses
Foto: Dok. Pribadi
Nah, mau tidak mau kepercayaan menjadi satu tantangan untuk mengadopsi e-commerce di Indonesia. Bukti nyatanya adalah CNI yang notabenenya dulu merupakan satu usaha yang dilakukan door to door dan dari satu seminar ke seminar lain, kini karena dukungan dan kepercayaan penuh masyarakat masih tetap bertahan. Dengan penetrasi internet yang semakin besar, mau tidak mau e-commerce yang ada, termasuk CNI harus dapat menyinergikan antara channel offline dan online.

Personal Branding di Sosial Media
Pertumbuhan pengguna digital di Indonesia terus bertambah dari tahun ke tahun. Untuk demografi usia pengguna internet terbesar menurut sumber APJII, Profil Internet Indonesia, Desember  2012 berada pada usia 18-24 sebesar 43% dan pengguna terbanyak adalah laki-laki sebesar 51,5%;  sedangkan perempuan sebesar 48,5%.


Apa yang menjadi kekautan Anda sehingga Anda patut dibranding?
Foto: Dok. image.slidesharecdn.com

Menurut sumber We Are Social SG JAN 2014, pengguna tertinggi sosial media adalah facebook yang mencapai 93%, diikuti twitter 80%, Google+ 74%, LinkedIn 39%, dan terakhir Instagram sebesar 32%.

Apa Itu Branding?
Ada perbedaan antara nama merek dan merek. Nama merek yang kita miliki adalah nyata dan orang bisa melihatnya, sementara merek Anda, adalah apa yang ada dalam pikiran pelanggan kita. Ketika nama kita disebut, hal itu berarti apa yang mereka pikirkan saat menyebut nama kita.

Perlu kita ketahui bersama Perbedaan antara Branding dan Pemasaran.
Pengertian yang paling membantu saya untuk membedakan branding dan pemasaran adalah "Pemasaran adalah apa yang Anda lakukan, branding  adalah siapa Anda".

Tronvigroup lebih jauh menjelaskan, bahwa pemasaran lebih dari sekadar taktik dorong mendorong, sedangkan  branding lebih dari sekadar taktik tarik menarik. Pemasaran mempromosikan produk atau jasa, sementara branding  memberi makna mengapa bisnis ada dan mengomunikasikan nilai-nilai inti.

Kita dapat mengatakan bahwa pemasaran menggunakan persuasi sebagai taktik, sementara membangun branding bicara tentang mengembangkan hubungan emosional.

Branding di Era Digital
Membangun brand yang kuat di era digital sangat penting. Tentu saja brand selalu penting. Tetapi ketika kita mempertimbangkan secara online dan mengubah perilaku pengguna, kita dapat melihat manfaat yang jelas dari Branding.

Dewi K Rahmayanti dalam paparannya
Foto: Dok. Pribadi
Contohnya CNI, CNI yang selama ini melakukan selling mouth by mouth, atau door to door, kini berubah drastis. Mereka masuk lebih jauh ke ranah digital dengan membuka www.geraicni.com yang dapat diakses oleh siapa saja. Sudah lebih kurang 2,5 tahun berjalan, CNI makin powerful dan menancapkan lebih tajam kuku-kuku usaha dengan mem-branding perusahaan secara digital melalui website dan media sosial.  

Tak heran apa yang dilakukan CNI sebagai bentuk breakthrough  (terobosan) dalam mengantisipasi kemajuan zaman. Meski begitu, pelanggan-pelanggan CNI tetap setia dan tak lari dari pilihan lain. Branding CNI makin nyata tatkala gerainya dapat diakses melalui berbagai device, baik melalui PC juga smartphone. Aplikasi Gerai CNI di smartphone tak memberatkan device, hanya 742 KB, artinya aplikasi ini sangat ringan.
Wajah baru CNI dengan hadirnya www.geraicni.com
Foto: Dok. Pribadi
Dengan hal ini, aksesibilitas produk atau barang yang ada di CNI dapat dibeli kapan dan di mana saja, tanpa dibatasi ruang dan waktu. Teknologi mobile digital memberikan peluang-peluang besar untuk CNI terus bertumbuh dan mem-branding usaha dan perusahaan secara luas dengan jangkauan mendunia. Branding CNI melalui media sosial dan website berhasil menurut saya.


Salah satu fitur "Produk Favorit CNI" dalam apps gerai CNI
Foto: Dok. Pribadi
Keberhasilan CNI dalam mem-branding usaha dan perusahaan terbukti dengan hadirnya ini http://www.cni.co.id/index.php/products-info . Banyak kemudahan akses yang diberikan. Tak perlu repot-repot harus ke toko nyata kalau ada toko maya yang lebih komplit dan terpercaya.


Fitur "Produk Baru" di apps gerai CNI
Foto: Dok. Pribadi


Branding tak akan pernah selesai untuk diurai. Antusiasme para blogger mendengar dan menyimak setiap kalimat yang keluar dari pegiat dunia digital, semakin menguatkan diri saya  untuk terus mengikuti ilmu dan pengetahuan yang tak saya peroleh dari sekolahan. Inilah branding yang sesungguhnya, hadir dan praktik nyata di depan mata.

 Branding meliputi beragam aspek
Foto: Dok. slideshare.com
Branding sebagai alat untuk mengembangkan dan mempertahankan keunggulan kompetitif. Dalam dunia media yang serba digital, branding tetap menjadi barang yang kompetitif bahkan lebih dari sekadar tantangan.

Sebuah brand yang didefinisikan dengan baik sangat penting untuk membedakan produk atau jasa dari yang lainnya. Brand memiliki sedikit kontrol atas apa yang dikatakan orang-orang mengenainya, terutama secara daring. Pengguna memiliki akses ke pengguna lain untuk memberi komentar kepada brand yang sangat mempengaruhi keputusan membeli atau tidak dari seseorang.

Branding tidak hanya tentang produk atau jasa kita--ini tentang keterlibatan sosial kita, layanan pelanggan, proses penjualan, karyawan, dan segala sesuatunya--berpikir tentang bagaimana digital telah mengubah segalanya. Branding selalu tentang keterhubungan. Digital mempertinggi keterhubungan brand dan hal-hal  yang berhubungan dengan  orang-orang.

“Personal branding sebagai cara-cara seseorang dalam memasarkan diri dan kariernya sebagai brand (merek). Kita harus mengetahui tentang gambaran citra diri kita, misi, nilai, dan visi yang akan kita bangun”, urai Dewi dalam paparannya kepada Blogger.

Suksesnya Branding seseorang meliputi banyak faktor
Foto: Dok. previews.123rf.com
Nah, bagaimana kita sebagai pribadi dapat melihat diri sendiri. Apa yang baik dan layak ditonjolkan untuk publik. Sebenarnya kita itu ingin dilihat sebagai apa, siapa, bagaimana, dan mengapa? Oleh karenanya, di media sosial, apa yang kita tulis, itu menjadi cerminan diri kita. Berhati-hatilah dengan jari jemari kita saat  di depan perangkat. Kondisi emosional yang tak bersahabat,  justru akan mengenyahkan impian yang Anda idam-idamkan lenyap dalam sekejap.

Alih-alih ingin membranding diri, tetapi badai bencana datang menerpa. Kita harus paham apa yang akan disematkan dalam diri agar orang-orang terus mengenang kita sebagai pribadi yang memang pantas untuk diingat. Dan perlu diketahui tentang hal ini, Are you the NEGATIVE NATHAN? Are you the IRRELEVANT IRENE? Dan Are you the ALL STAR ANNA?

Sembilan puluh tiga persen, seorang manager ketika akan mengambil calon karyawan untuk bekerja, mereka melakukan stalking  media sosial yang dimiliki calon. Di situ akan terlihat, apakah Anda termasuk orang yang suka berkeluh kesah, suka menggosip, senang pamer, menyebarkan berita positif, atau bahkan memberikan dampak buruk kepada media sosial yang Anda punyai sendiri. Hal ini dilakukan seorang manager sebelum dia benar-benar ingin mengambil Anda untuk bekerjasama dengan Anda.

Dari sebagian kita pastinya kenal dan tahu tentang brand-brand seperti Coca Cola (Innocent), Audi (Sage), Rolex (Ruler), Red Bull (Magician), VW (Everyman), Virgin (Outlow), Volvo (Caregiver), Ben&Jerry’s (Jester), juga Nike (Hero). Nah, brand-brand ini memiliki kekuatan masing-masing untuk orang tetap mengingatnya. Kita pun harus tahu di mana kekuatan diri kita sesungguhnya agar branding tentang kita terus tertancap dan diingat.


Merek-merek ini tak akan dikenal jika tidak melakukan branding
Foto: Dok. /image.slidesharecdn.com
Ada bagian-bagian yang memang perlu diingat oleh kita bagaimana agar personal branding diri dikenal luas. Tanyakan pada diri, 1) apa cerita Anda? 2) Apa tujuan promosi Anda? 3) Apa target pasar Anda? Dan 4) Apa media yang cocok untuk personal brand Anda? Keempat hal ini perlu kita pertanyakan untuk menggali nilai potensi apa sebenarnya yang melekat pada diri. Itulah yang seharusnya dipromosikan dengan sasaran dan media yang tepat pula.

Kalau saya compare dengan apa yang pernah saya peroleh seperti di bawah ini, rasanya tidak jauh berbeda, bahwa lima bagian penting yang harus dipahami seseorang dalam membangun personal branding saat ini, yaitu:
1.   Valuesada nilai yang kita pegang teguh sebagai bentuk integritas dalam  berperilaku.
2.   Attitudesikap ketika menyikapi sesuatu hal atau masalah dan empati untuk orang lain.
3.   Passion; apa yang membuat kita senang saat melakukannya.
4.   Goaltujuan atau visi pribadi.
5.   Perspectives; sudut pandang kita terhadap satu hal dan bagaimana  menyesuaikannya dengan sudut pandang orang lain untuk hal tersebut.
  
Dalam kesempatan itu juga Dewi menuturkan bahwa untuk membangun personal branding ini perlu: Persiapan, Penyetingan, dan Tujuan. Akhir dari ketiga hal itu akan muncul sikap Awarness, Engagement, dan Selling.
Dalam hal ini, contoh yang dicuatkan Dewi adalah temannya sendiri, Agnes Soryza.

Biasanya beauty blogger dikenal dengan wanita yang berambut lurus panjang, kulit putih, mulus, kaki bagus, betis dan leher jenjang. Tetapi, tidak demikian dengan Agnes. Justru, Agnes mencatatkan diri sebagai beauty blogger dengan rambut yang kriwil-kriwil dan kulit teen (gelap manja). Artinya, Agnes melepas semua stigma yang melekat tentang beauty blogger selama ini. Dia membangun branding untuk dirinya seperti itu.

Bicara target market, tentu setiap orang berbeda-beda. Zaman terus berganti, pastinya dari sisi bahasa, cara bergaul, dan hal-hal lainnya berbeda dan berubah. Generasi baby boomer tentunya tak sama dengan Gen X di era tahun 1965-1980. Apalagi masuk kepada generasi milenial, yang notabenenya mereka gadget minded. Mau tidak mau, kita harus segera dan cepat beradaptasi agar branding yang ingin kita bangun sampai ke targetnya.

Agar personal branding kita kena ke publik, sangat diperlukan membangun media sosial yang  dimiliki. Semakin banyak dukungan untuk Anda, kemungkinan sukses akan semakin besar. Bicara secara human to human atau personal. Hal ini akan lebih meningkatkan citra diri dan approach kepada orang lain. Buatlah Media Sosial kita terintegrasi, bukan terpisah-pisah. Contohnya, buat dengan nama yang sama akun-akun media sosial yang Anda punyai.

Akun-akun media sosial dengan nama yang sama, akan mudah diingat orang dan terngiang. Memberdayakan orang-orang dalam artian positif untuk membuat keputusan. Orang-orang yang berada di dekat kita pastinya akan dapat memberi dampak nyata, ketimbang mereka yang belum Anda  kenal untuk membuat Anda jadi dikenal. Biarkan orang-orang yang berada di dekat Anda bersosial.

Samakan nama akun media sosial yang dipunyai agar lebih mudah
membuat branding nama Anda
Foto: Dok. http://smallbizpublicrelations.com/
Ada beberapa kemungkinan dari hal ini, pertama, dengan mereka  melakukan “pekerjaan bersosialisasi”, mereka pun akan mengenalkan Anda kepada publik. Kedua, sosialisasi yang mereka lakukan, bukan semata-mata kepentingan sesaat, tapi justru memberikan peluang untuk Anda agar dapat masuk pula ke dalam lingkungan sosial  yang mereka punyai. Ketiga, keberadaan lingkungan sosial mereka justru akan dapat membawa angin segar terhadap keterlibatan aktivitas Anda di lingkungan sosial mereka. Simbiosis mutualisme!

Aturan-aturan baku yang perlu kita pahami bersama dalam Social media team work adalah, No Magic Solution  (tidak ada sesuatu yang instan). Jadi, memang perlu bekerja keras dan cerdas untuk membuat aturan-aturan baik dan benar dalam kapasitas seseorang yang sedang mem-branding dirinya. Melepaskan atau menanggalkan branding tidaklah mudah. Apalagi jika branding sudah terpatri jauh ke dalam ingatan. Perlu usaha keras untuk membelokkan agar orang terpana dan terkesima dengan branding baru yang dibuat.

Jadi, apapun media sosial yang kita miliki, ada hal-hal yang mesti dilakukan. Seperti yang diuraikan Dewi: Dapatkan secara cepat apa yang menjadi nilai atau poin Anda. Tetap melakukan secara tangkas dan singkat, meskipun apa yang Anda lakukan itu tanpa batas. Pertimbangkan gambar dan buatlah tulisan-tulisan yang cocok berkaitan dengan gambar atau video tentang Anda. Pertimbangkan pula nada dan rasa (kira-kira apa yang dapat membuat orang ingin me-retweet atau membagikan kepada yang lain tentang Anda.  

Jangan pernah Anda melakukan rasis, menyebar kebencian, menyebar HOAX, dan bicara secara sepihak.

Hindari rasis, kebencian, dan hoaks
Foto: Dok. www.theindonesianinstitute.com
Jaga media sosial yang kita miliki dari tulisan-tulisan tak berguna. Hal itu semata-mata untuk menghindari diri Anda dari cercaan yang bisa jadi tak berkesudahan. Jika Anda memiliki media sosial seperti Facebook, media ini menjadi ajang yang cocok untuk Anda melakukan posting panjang. Akan tetapi, perlu hati-hati, jangan sampai posting panjang atau posting yang terlalu sering Anda lakukan justru mengganggu fans-fans Anda.

Di Facebook memang tidak memiliki keterbatasan karakter, tetapi postingan-postingan pendek yang Anda lakukan justru lebih baik daripada postingan panjang membosankan. Lakukan dialog melalui pertanyaan. Buatlah engagement bukan sebagai intruder. Jadi, siapapun yang mengenal Anda, branding Anda adalah Anda. Bukan siapa-siapa.

Sementara, jika Anda sering bercuit-cuit dengan  menggunakan twitter, perlu dipahami bahwa twitter hanya punya 140 karakater. Jadi, sampaikan cuitan poin-poin yang buat orang ingin RT atau share. Cerita-cerita yang Anda buat di Twitter dapat dibuka dengan multiple tweets. Buatlah hastag, karena hastag akan sangat membantu dalam proses pencarian dan juga percakapan. Keterlibatan yang Anda buat dalam satu atau beberapa hal di twitter, bukan sebagai pengganggu.

Bagaimana jika Anda ingin mem-branding diri Anda melalui platform Instagram? Kita tahu, IG tak perlu cerita panjang, tetapi gambar dengan sedikit caption-lah yang akan bicara.  Buatlah cerita-cerita tentang Anda melalui gambar, karena melalui gambar bisa banyak bercerita. Hastag akan sangat membantu dalam pencarian dan trend yang terjadi terhadap diri Anda. Keterlibatan Anda dalam satu dua hal juga bukan sebagai pengganggu.

Karena itu, carilah sumber-sumber yang benar dan bisa membuat Anda semakin dikenal. Keyword (kata kunci) sangatlah penting. Karena itu akan mempermudah kerja Anda. Orang tak perlu repot-repot mengetik nama-nama panjang. Sematkan pula gambar di Google. Google akan membantu siapapun orang yang sedang mencari Anda melalui gambar. Siapa yang membicarakan Anda? Tentunya akan tahu pula siapa orang-orang di balik website yang Anda miliki hingga terlihat cantik dan indah.

Anda senang membuat breaking news di Twitter? Lakukan sesuai petunjuk dan tanpa membuat efek apa-apa kepada branding diri Anda. Beritahu cerita tentang Anda yang sedang terjadi. Sebisa mungkin capture moment-moment yang Anda anggap penting dan ampuh, sampaikan pada follower-follower Anda yang belum mereka tahu dari Anda. Jangan lupa, gunakan hastag yang dapat membantu pencarian cerita dan percakapan.

Hastag branding yang Anda gunakan sebaiknya hastag yang benar-benar belum pernah dipakai siapapun. Pakailah hastag pendek karena akan mempermudah orang mengingat. Coba lakukan penelusuran terhadap hastag yang Anda buat, sebelum hastag tersebut Anda sampaikan ke publik.

Untuk Anda yang ingin melakukan personal branding, perlu kiranya membuat rencana atau jadwal di media sosial yang Anda miliki. Mengorganisir rencana melalui Editorial Plan sangatlah perlu. Misalnya Anda membuat jadwal sehari dua kali posting tentang aktivitas yang Anda lakukan.

Rencana Editorial tidak hanya tanggal dan topik yang ingin dibicarakan, tetapi juga tugas-tugas penulisan, penyebaran berita di media sosial, dan menjalankan ide-ide yang sudah masuk daftar tunggu. Ada dua strategi konten yang perlu dibuat, sebagai pendekatan bab, meliputi:
1.   Bab 1 Konten yang terencana atau direncanakan (Planned Content)
·        Biasanya berisi topik penting industri atau tentang usaha Anda
·        Dapat melingkupi semua hal yang Anda ketahui, baik yang diperlukan sebagai masukan maupun untuk tindak lanjut, seperti pengumuman produk, kegiatan perusahaan, dan juga launching program.
2.   Bab 2. Keterlibatan Langsung (Live engagement)
·        Topik: terkadang Anda dapat mengantisipasi tetapi lebih sering terjadi secara tiba-tiba.

Undang-Undang ITE Pasal 27 Ayat 3 perlu menjadi acuan manakala Anda bermedia sosial. Banyak kasus-kasus yang menjerat pelaku melalui pasal itu. Oleh karenanya, perhatikan tulisan-tulisan yang ingin Anda sebar melalui medsos. Jangan pernah lupakan, medsos juga punya kode etik, ingatlah aturan-aturan dalam bermedsos, dan perhatikan dengan saksama konflik-konflik yang terjadi di media sosial. Jangan sampai menyeret Anda dalam berita bingkai 17 atau 45 inci (baca = Televisi).

Hindarilah komen-komen negatif yang dapat membahayakan diri sendiri, utamanya kredibilitas diri. Hati-hati dengan haters, cintai saja haters Anda karena mereka itu sesungguhnya fans berat kita. Berikanlah jawaban-jawaban cerdas tetapi tidak menggurui, tetap stay calm. Jangan pernah menghapus mereka dari kontak media sosial Anda, dan jangan menjadi defensive.

Hadapi setiap komentar negatif dengan kepala dingin dan tetap memperlakukan hater sebagai teman bicara yang baik. Dari merekalah kita belajar banyak cara memperlakukan diri kita sendiri. Sudah baik dan benarkah kita? Tanyakan pada diri sendiri sebelum  memberi imbas pada orang lain. 

Branding di Era Digital baik personal maupun melalui website
disampaikan oleh pembicara yang kompeten di bidangnya
Foto: Dok. CNI-ISB



4 komentar:

zata ligouw mengatakan...

seneng banget kemaren ikutan acara ini juga mas Jun. Aku belajar banyak dari para pembicara dan dari CNI juga soal sosmed.. langsung pengen serius ngebranding diri dan blog nih..

Ani Berta mengatakan...

Branding tak sekadar branding ya, perlu memadatkan konten agar bisa bermanfaat untuk orang lain :)

dinamars.net mengatakan...

waah, panjang sekali, Om Jun, ulasannya :D. Posisi Indonesia sebagai pengguna facebook masih belum bergeser ya, kalau nomor satu masih Amerika Serikat, Om?

Jun Joe Winanto mengatakan...

Iya Mba Diin... Tapi Indonesia ini termasuk negara yang cepet banget utk namanya Social Media Influenced. Surganya, memang orang-orang di Indonesia sih. Ga heran kalo kadang2 kita ikut2n "latah" punya banyak medsos tapi maintainnya kewalahan. Terus peruntukkannya juga campur aduk. Apa buat apanya masih amburadul. Heheheh