Thursday, March 30, 2017

OWL Cafe Punya Cerita: Gastronomi Dua Budaya Hadir dalam Satu Meja

Ahaaa… kira-kira menu apa saja ya yang bakal dihadirkan dan disajikan untuk saya sebagai food blogger kali ini? Ya, hari ini, Rabu (29/03/2017) saya beroleh undangan untuk “icip-icip” Grand Opening OWL Café yang ada di upper ground Gandaria City. Sempat jepret sana sini sebelum acara dimulai. Saya memerhatikan  cukup saksama setiap desain yang ada. Inilah Café baru yang soft launch-nya sudah dilakukan pada 23 Desember 2016 lalu.

OWL Since 1956 Cafe
Foto: Dok.Pribadi
Desain interior dan eksterior yang saya perhatikan memang cukup berbeda dibandingkan dengan café-café sejenis yang sudah pernah ada. OWL Café berkonsep unik. Melihat sekilas menu-menu makanan, minuman, juga arsitektur interiornya beda. Saya berpikir, “Ini nih café yang  unik dan mungkin tak ada tiganya di Jakarta dan sekitarnya”.

Interior Design Owl Cafe
Foto: Dok. Pribadi
Aah, benar saja! Saya perhatikan satu per satu. Pertama, mata saya tertuju dengan desain interior ruangan. Di ruang bercat putih dengan lampu remang temaram. Ini menunjukkan bahwa OWL Café benar-benar “Café sesungguhnya”. Jadi, gaya-gaya heritage colonial  ini yang buat beda OWL Café dengan kopitiam yang pernah ada. Di dinding bagian dalam ruangan tertancap foto besar beberapa hidangan yang menggiurkan  dan buat menelan ludah, hahaha…

Interior Design OWL Cafe
Foto: Dok Pribadi
Kursi-kursi yang cukup empuk pun saya coba duduki. Ya, empuk ternyata. Meja-meja yang disusun rapi dan  “eksotis” menurut saya, membuat saya makin terpesona dan ingin tahu lebih lanjut apa saja rahasia yang belum tersingkap di dalamnya OWL Café ini. 

Interior Design OWL Cafe
Foto: Dok Pribadi
Pas di sisi kanan  nempel di tembok, ada pajangan cangkir-cangkir cantik, bunga-bunga dan saya serasa di taman, serta pajangan toples-toples yang berisi  roasted biji kopi, sepertinya biji kopi pilihan.

Kuris Empuk OWL Cafe
Foto: Dok. Pribadi
Di bagian depan sisi sebelah kanan, terdapat set menu OWL Since 1956 Café Breakfast  & Lunch Everyday 10 AM-2 PM. Isi set nya beragam, ada Set Meal A yang berisi Pumpkin Kaya Toast, Soft Boiled Egg, Kopi, Teh, dan Jus yang hanya IDR 38K. Set Meal B yang terdiri dari Spaghetti Laksa with Tiger Prawn dengan pilihan minuman kopi, teh, atau jus, IDR 63K. Sementara itu Set Meal C terdiri atas Nasi Lemak dengan pilihan minuman kopi, teh, atau jus harga IDR 63K. Di sisi set menu itu  berwarna nuansa putih dan biru. Kalem ye warnanya. Kesukaan saya.

Set Menu OWL Cafe for Breakfast and Lunch
Foto: Dok. Pribadi
Cerita punya cerita OWL Café untuk hidangan minumnya sangat menonjolkan kopi. Oleh karenanya, jangan heran, kopi ada di pajangan di tempat-tempat yang memang sedap dipandang mata. Beragam racikan dan resep kopi ada di OWL Café ini ternyata sudah melewati proses panjang untuk bisa hadir di tengah-tengah masyarakat Jakarta. Bayangkan saja, lebih kurang 60 tahun teruji, apa tidak “gila” tuh cita rasa kopinya. Resep-resep racikan kopi itu tadi dipengaruhi gaya Straits Asian lho guys.

Sajian dibuat di depan pengunjung
Foto: Dok. Pribadi
Nah, tadi kan saya bilang unik ya. Unik sih memang, ada tetumbuhan sejenis Caladium  (Keladi Hias) di dalam beberapa pot. Kalau saya tidak salah hitung sekitar sembilan pot. Nah, pot-pot keladi hias itu digantung tepat di atas kitchen dan dessert.  So, kitchen-nya pun berada di depan meja-meja pengunjung. Artinya apa? Ini keterbukaan OWL Café kepada pengunjung bahwa yang dibuat di dapur dapat dilihat langsung tanpa dihalang-halangi. 

Tanaman Keladi Hias yang digantung
Foto: Dok. Pribadi
Kita  pernah kalau pesan kopi atau minuman lainnya, yang ngeraciknya entah di mana, tiba-tiba minuman kita sudah datang saja tanpa tahu proses pembuatannya. Di OWL Café tidak begitu, siapapun bisa melihat proses A to Z buat kopi, teh, atau jus.

Mau kopi, teh, atau jus? Di sini tempatnya
Foto: Dok. Pribadi
Saat membuka lembaran menu, saya bertemu tagline ini “OWL CAFÉ: My Heritage With A Modern Twist”. Keren menurut saya. Ya, warisannya dibuat dengan sentuhan modern. Terbukti menurut saya di OWL CafeUG Gandaria City ini. Sentuhan modern yang lekat dengan gaya-gaya heritage colonial itu tadi.

Kisah perjalanan OWL Café ini pada 1956, sekitar 61 tahun lalu sepanjang Straits Asia. Perjalanan ini membentang jauh mulai dari Penang melalui Selat Malaka hingga menuju Jawa. Sebuah tempat percampuran budaya yang berbeda, tempat Kopi Straits Asia menjamur dalam kehidupan.

Sepanjang tahun menunggu, kopi ini begitu lekat dengan banyak kehidupan. Aromanya tidak pernah gagal untuk membangkitkan orang-orang dan rasanya tidak pernah berhenti untuk terus mengangkat semangat, terutama setelah penat bekerja keras seharian.

Nah, saatnya saya mengurai beberapa makanan dan minuman yang sempat singgah di pencecap saya. Pertama kali datang, saya disodori sepotong irisan dari kulit lumpia bening yang diisi daun ketumbar, slice tipis wortel, ketimun, bihun, juga udang. Wortel, ketimun, daun ketumbar, semua dalam kondisi mentah. Tapi pastinya sudah dicuci bersih. Tanya punya tanya, namanya Vietnam Spring Roll.

Kombinasi makanan dan minuman yang unik
Ginger Squash (atas), Otak-Otak Toast (Kiri) dan Vietnam Spring Roll (Kanan)
Foto: Dok. Pribadi
Vietnam Spring Roll ini unik dan menggoda. Ada kecap khusus yang dicocol untuk makannya agar lebih sedap. Saya, tak  sempat mengingat nama kecapnya. Menurut Mba Syifa, salah satu pramusaji di OWL Café bilang, “Kecapnya itu manis dan segar”. Memang iya, saya buktikan sendiri ketika Mba Syifa membawakan untuk saya.

Lantas, saya ditawari untuk mencoba Otak-Otak Toast. Ini juga unik menurut saya. Jadi, kalau yang belum tahu, dipikir ini adalah otak-otak yang benar otak-otak. Nah, namanya sih memang Otak-Otak, tapi tidak semua bahan berbahan otak-otak, melainkan roti tawar yang dipanggang lantas diolesi otak-otak kemudian dipanggang lagi, baru kemudian dipotong-potong kecil berbentuk segi empat atau bujur sangkar.

Perpaduan rasa otak-otak dan roti saat dikunyah memang beda. Otak-otak yang saya rasakan seperti ada bumbu kari atau tandoori. Beda memang. Ciri khas kari  terasa jelas di lidah saya saat mengunyah otak-otak toast ini. Perpaduan rasa gurih yang enak dan tak membuat enek. Dua kali proses pemanggangan, itu mungkin yang membuat otak-otak ini lebih krispi.

Habis icip-icip small menu, pastinya haus kan. Ini nih yang ajib buat saya dan surprised. Saya suka kalau di atas minuman itu ada garnish daun mint. Karena terlihat lebih fresh dan berwarna. Tetapi, ini minuman jelas-jelas berbeda. Paduan aromatik bahan asli Indonesia bercampur soda yang bisa buat “gembira”, tapi bukan soda gembira  lho ya. Namanya Ginger Squash.

Ginger Squash yang aduhai rasanya
Foto: Dok. Pribadi
Jadi, paduan antara jahe yang diiris-iris setebal 2 mm, dicampur dengan larutan soda, dan tentunya diberi gula agar ada rasa. Rasanya unik memang. Ada pedas jahe, ada pula rasa-rasa seperti menggigit lidah dari soda, dan ini enak buat saya. Minuman Straits Asia yang ok punya selain kopi.

Saya masih tergoda dengan minuman selanjutnya. Mencoba Teh Gula Malaka.Rasanya? Waah… aroma teh yang lekat dengan susu dan gula Malaka yang dimasak dengan teknik masak paling jitu, membuat gula malaka (saya lihat dan rasakan seperti gula merah yang dibuat larutan kental) tak berasa gosong atau pahit. Aroma wangi yang bersatu dalam gelas cantik itu membuat saya ingin tambah dan tambah lagi. Teh Gula Malaka ini pas untuk pecinta teh seperti saya.

Teh Gula Malaka
Foto: Dok.Pribadi
Tak afdol ya rasanya kalau tidak mencicipi starter di OWL Café yang recommended banget. Di meja saya dihadirkan dua  Starter yang bikin ngiler, Smoked Duck & Orange Salad with Mango Dressing. Apalagi kalau bukan Salad Daging Bebek dengan Siraman Saus Mangga dan Jeruk,serta Soft Shell Crab Salad with Wasabi Mayo Dressing (Salad Kepiting dengan Siraman Mayo Wasabi).

Mari kita kuliti satu-satu…
Smoked Duck & Orange Salad with Mango Dressing. Inilah salad dengan  daging bebek terbaik di tingkat kematangan sempurna. Lembut daging bebeknya dan tak berbau amis, itu terpenting. Paduan telur rebus, daun raket atau arugula, tomat ceri, lettuce, disiram saus mangga, haduuuh duuh duuh… melting di mulut saya.

Smoke Duck &  Orange Salad with Mango Dressing
Foto: Dok. Pribadi
Untuk makan salad, saya punya cara tersendiri. Komponen-komponen yang ada saya jadikan satu, dan masuk ke dalam mulut bersama-sama. Saat dikunyah, terjadi percampuran rasa yang luar biasa, enaaaak!! Saya penggila bebek. Salad ini istimewa bagi saya. Recommended banget!

Bagaimana dengan Soft Shell Crab Salad with Wasabi Mayo Dressing? Aw aw… jangan ditanya. Daging kepitingnya? Jangankan dagingnya—bukan rakus—hingga cangkang-cangkangnya  pun ludes tak bersisa. Ada rasa bite dan pedas memang. Itu berasal dari wasabi. Pahitnya tak begitu kentara, hanya sekelebatan saja, jadi dinetralisir cepat dengan crab-nya.

Soft Shell Crab with Wasabi Mayo Dressing
Foto: Dok. Pribadi
Campuran daun arugula (daun raket), telur rebus, tomat ceri, lettuce di salad ini, wuuuuzzz banget untuk saya. Keseimbangan rasa dari tiap-tiap bahan pas tak berlebih. Kelembutan crab yang bersatu dalam gigitan bahan, waw! Mau lagi dan lagi. Juara juga di starter OWL Café!

Hidangan berikutnya yang hadir di hadapan saya Hainanese Curry Chicken with Rice. Ini kari ala Singapura. Isiannya ada kacang panjang yang sepengelihatan saya di sauté (mungkin sebelumnya di-blanch lantas di sauté). Ada daun kari yang digoreng, tahu, kentang, dan pastinya ayam.

Hainanese Curry Chicken with Rice
Foto: Dok. Pribadi
Kari ini mirip bumbu tandoori seperti di India. Nah, bisa jadi, di Singapura banyak India dan dipengaruhi pula oleh masakan India. Bumbu-bumbu karinya seimbang, tak ada yang lebih menonjol. Kunyitnya pun tak berbau “langu”. Bumbu tak berasa “makte” (= matang tidak mentah pun tidak) setengah matang mungkin tepatnya.

Paduan warna yang cantik. Isian yang nikmat di lidah. Tahunya lembut tak berasa asam. Terkadan ketika saya menikmati kari yang bercampur tahu, tahunya berasa asam. Kentangnya lembut tetapi tidak hancur. Teknik memasak yang ciamik. Ayamnya pun lembut dan tak hancur, begitu pula kacang panjanya terasa manis dan gurih. Daun karinya “kresss” saat digigit, seperti kerupuk.

Inilah cita rasa yang senyawa dengan lidah Indonesia, Straits Asia memang sejalur, soal bumbu pun begitu. Tak banyak perbedaan, apalagi masih satu rumpun Melanesia. Orang-orang Asia masak berani bumbu. Oleh karenanya, bumbu-bumbunya terlihat kental dan gurih. Santannya pun terlihat licin dan mengkilap tanpa ada unsur minyak yang terbawa. Saya pikir, OWL Café’s Chef memang terlatih dan experience di bidangnya. Soal rasa? Lidah saya memang tak bisa bohong, alamaaaaak!!!

Nasi dengan taburan  bawang goreng di atasnya pun pas tak kebanyakan. Aroma bawang goreng yang ditaburkan seolah menarik-narik lidah saya untuk mencecap lebih jauh lagi. Aroma kari yang tak akan lari dari diri saya untuk tidak menghabiskannya cepat-cepat. Porsinya bisa buat bertiga guys. Kenikmatan kari ini akan melekat erat di lidah saya. Rasanya tak akan pernah dapat saya lupakan.

Gastronomi saya mau tidak mau harus punya bilik kosong untuk menyisakan beberapa bagian makanan lagi. Kali ini yang menyapa saya adalah Spaghetti Laksa with Tiger Prawn. Waaawww… Mata saya pertama kali melihat udang besar yang lezat dengan warna kemerahan. Ada tahu pong, telur rebus setengah bagian, irisan ketimun yang dibuat acar, dan satu bahan lagi yang lost untuk saya cicipi.

Spaghetti Laksa with Tiger Prawn
Foto: Dok. Pribadi
Spaghetti-nya lembut. Memang beda kalau udang yang dimasak udang baru. Rasanya lebih kress, manis, dan segar. Tak ada yang  mengalahkan. Mie Spaghetti-nya lembut dan aldente. Siraman saus yang berbeda dari kebanyakan spaghetti yang ada. Di siram dengan kuah laksa, itu yang menambah nikmat. Aaahh… inilah kenapa saya jatuh cinta berat dengan kuliner. Rasa itu membawa saya terbang ke mana lidah ingin mencecap tanpa dapat ditahan.

Hidangan berikutnya adalah Satay Combo. Combo ini mungkin artinya besar-besar. Jadi, satay combo ini adalah sate ayam dengan  bumbu kecap bercampur irisan cabe rawit dan bawang merah, juga disiram kuah kacang, potongan tomat, dan irisan bawang merah, serta lontong daun potong bulat.
Kuah kacangnya gurih dan cukup enak. Ayamnya besar-besar yang terlebih dahulu sebelum dibakar dibumbui. Aroma amis tak keluar dari ayam. Potongan ketimun dan tomat serta perasan jeruk sebagai penetralisir rasa. Ya, ini makanan yang mengindonesia banget. Lidah-lidah Indonesia pas dengan rasa yang dihadirkan. Pedas manis kuah kecap menambah nikmat. Juara ini di per-sate-an.

Satay Combo
Foto: Dok. Pribadi
Ada sajian pembuka, dilanjutkan sajian utama, tak pas kalau belum coba sajian penutupnya (Dessert). Saya coba yang pertama Mango Pomelo Soya Pudding. Ini semacam sari kedelai atau kembang tahu yang diberi saus mangga dan bulir-bulir jeruk bali.

Paduan rasa yang unik. Sari kedelainya tidak terlalu manis. Dalam satu suapan sendok, saya coba campurkan saus mangga dan jeruk bali. Waah, keluar rasa segar yang tak terbayangkan kenikmatannya. Sehat!

Mango Pomelo Soya Pudding
Foto: Dok. Pribadi
Berikutnya apa dessert yang dihadirkan untuk saya? Ya, ini jadi dessert favorit di OWL Café, Durian Pengat. Selintas, saat membaca beberapa literatur tentang Durian Pengat ini, saya sempat terbetik pemikiran, bahwa ini semacam durian porridge.

Beberapa literatur menyebutkan, bahwa ada beberapa teknik untuk membuat durian pengat. Ada yang dibuat dengan cara dimasak bersama gula dan sedikit air, dan daging durian dihaluskan dengan  cara diaduk-aduk. Ada pula yang dimasak bersama gula jawa dan dicampur jadi satu hingga menghasilkan warna kuning kecokelatan.

Durian Pengat
Foto: Dok. Pribadi
Nah, durian pengat yang saya rasakan di OWL Café ini berbeda. Ada rasa manis yang tak terlalu manis. Juga terkadang ada tone asam yang tidak asam. Keseimbangan rasa yang berpadu cantik dalam mulut saya. Ditambah lagi dengan  cookies-nya yang buat saya nagih untuk tak cepat-cepat menyelesaikan hidangan ini.

Di literatur durian pengat pun disebutkan, ada yang menambahkan ragi untuk memperkuat rasa manis atau asam dengan tingkatan rasa sesuai yang diinginkan. Wah, ini menu unik dan baru yang saya peroleh. Mengulik cita rasa Straits Asia yang sampai ke Jawa (Indonesia) memang eksotis.

Rasa-rasa eksotis Straits Asia ini jarang ditemukan di negara lain di dunia. Wajar saja jika dulu banyak negara-negara di belahan dunia sana yang ingin menguasai hasil bumi di wilayah Straits Asia ini.

Ya, memacu gastronomi untuk terus diisi tak akan membuat saya ingin cepat beranjak pergi dari OWL Café ini. Masih banyak yang perlu saya coba untuk menuntaskan Gastronomi saya.

Pada kesempatan yang sama pula  Director Operasional OWL Café, Kelvin Chan mengatakan,"Kami berharap pembukaan gerai OWL Café di Gandaria City ini akan memberikan alternatif pilihan kepada masyarakat untuk merasakan kenikmatan kopi sejati yang resep-resepnya telah teruji selama lebih dari 60 tahun. Selain itu, kami juga berharap bisa membawa keunikan citarasa Straits Asian di resep-resep kopi yang diracik OWL Café  kepada seluruh pencinta kopi."

Kelvin Chan-Direktur Operasional OWL Cafe
Foto: Dok. Pribadi
Nah, untuk tahun depan, target OWL Café akan membuka 2-3 cabang lagi di beberapa tempat di Jabodetabek.

“Kami melihat peluang bisnis untuk OWL Café di kawasan Jabodetabek sangat terbuka. Karena itu kami akan melanjutkan penetrasi bisnis dengan membuka beberapa cabang lagi tahun depan,” tambah Dwi Danu Hartanto selaku Director Operation.

Di Indonesia, OWL Café dioperasikan oleh PT Montin Vivo Indonesia yang bertindak selaku master franchise. Perusahaan yang berdiri pada 2014 ini memiliki fokus pada bisnis makanan dan minuman dengan bidang usaha seperti restoran, bistro, café, bar, dan lounge.

Potong Tumpeng, penanda Grand Opening OWL Cafe dimulai
Foto: Dok. Pribadi
Selain grand launching, di kesempatan ini juga OWL Café  menyampaikan bantuan sosial kepada Yayasan Al-Hidayah dan Yayasan Yatim Piatu Al-Assirod.

Kegiatan bantuan sosial oleh OWL Café Jakarta tersebut diberikan dalam bentuk uang tunai kepada Yayasan Al-Hidayah dan Yayasan Yatim Piatu Al-Assirod. Program bantuan sosial tersebut akan dijalankan secara berkelanjutan.
“Kami berharap dengan adanya coffeeshop ini semua kalangan masyarakat dapat merasakan manfaat kebaikan dari hadirnya OWL Café itu sendiri” ujar Dwi Danu Hartanto lebih lanjut.

So, mau nongkrong murah tapi gak murahan? OWL Café tempat idaman. OWL Cafe sangat recommended untuk Anda yang mau tahu rasa dan kuliner dua budaya bersatu di atas meja. Cicipi menu-menunya, sampaikan berita baik kepada teman dan handai taulan. Saya akan kembali lagi, kamu kapan? 

1 comments:

Astri Damayanti said...

Hadewwww satenya menggoda iman gue. Jadi pengen makan siang di owl cafe