Minggu, 09 April 2017

Tempat Nongkrong Ga Nguras Kantong: OWL Cafe Makan Enak Tak Selamanya Mahal

Hmm… jadi food blogger itu memang enak, untuk saya lho yaa. Enaknya kenapa? Jadi, tahu banyak rasa dan kenal beragam jenis masakan juga minuman. Lidah semakin terlatih untuk membedakan mana yang benar-benar masakan atau minuman enak dan sangat enak, serta mana yang biasa-biasa saja. Begitu  pula dengan indera penciuman. Hidung semakin tajam untuk membaui, baik yang berbau wangi maupun yang tidak. Masakan dan minuman pun begitu.

OWL Cafe
Foto: Dok. Pribadi
Skill untuk mengetahui bahan-bahan dasar apa saja yang masuk ke dalam satu masakan atau minuman semakin naik kelas. Memang semua perlu proses panjang, tidak serta merta hadir begitu saja. Satu hal lagi yang perlu diingat sebagai food blogger, bukan saja sebagai penikmat, akan tetapi bisa membuat, meski sederhana.

Bagian depan OWL Cafe
Foto: Dok. Pribadi
Melihat dan sharing dengan beberapa food blogger luar, mereka bekerja sendiri dan benar-benar mandiri. Mereka tak sekadar tahu rasa, tetapi mengerti cara. Mereka juga tak sekadar penikmat, tetapi juga bisa membuat. Keingintahuan mereka tinggi tapi tidak sok tahu, mereka pun berbagi knowledge seputar dunia kulinari dengan sesama penikmat, pecinta, dan pembuat. Hebat!

Bagian Kitchen yang terletak di depan
Foto: Dok. Pribadi
Bersyukur dan Alhamdulillahnya saya, diciptakan lidah yang peka terhadap rasa. Menjadi taster untuk beberapa resto. Jadi, hal ini semakin memantapkan saya untuk  ajek menandai rasa.

Namun, ada hal yang membuat saya tidak enak ketika (((Food Blogger))) terserang flu. Bagaimana tidak, “Nasi dimakan rasa sekam, air diminum rasa duri” (gak berlebihan kok hehehe). Tak ada yang enak untuk dinikmati saat virus-virus flu itu menggagahi tubuh dan hidung ini. Semua terasa hambar dan tak berniat untuk singgah barang sebentar di pencecap. Ya, mau tidak mau harus saya nikmati dengan senang hati.

Suasana OWL CAfe
Foto: Dok. Pribadi
Ketika tiba di Owl Café  hari menjelang siang dan hampir lewat jam makan. Langsung saja saya lihat menu-menu utamanya, mata saya tertuju oleh salah satu hidangan yang menurut saya bikin kenyang. Namanya sih, kalau tak biasa menyebut cukup belibet, Cheesy Mushroom Baked Spaghetti.

Di menu ini ada dua bagian, bisa pesan dengan spaghetti atau nasi.
Semuanya di baked dan disajikan dengan keju jamur yang penuh krim. Bayangkan saja, mozzarella yang meleleh saat garpu saya menarik salah satu bagian spaghetti bersama jamur yang penuh krim, itu benar-benar membuat saya terbuai.

Cheesy Mushroom Baked Spaghetti
Foto: Dok. Pribadi
Jamurnya matang sempurna dan krimnya ringan dan tidak buat enek. Ada perpaduan rasa yang sulit saya lupakan tatkala satu kesatuan campuran masuk ke dalam mulut saya aduk bersama gigi geligi. Tarikan mozzarella tak dapat saya lupakan. Begitu pula spaghettinya yang dimasak Aldente  (sempurna). Harga satu porsi Rp65.000, worth it-lah dengan porsinya yang lumayan besar. Kenyang deh!

Sebenarnya, sebelum makan berat ini saya  pesan makanan cemilan terlebih dahulu. Apa yang saya pesan? Ya, Fried tofu with crunchy seasoning, salty egg and served with  hoisin sause (Tahu kremes telur asin), nah itu yang pas deh! Ha ha ha.Namanya panjang bener yaaa, patah sembilan lidah nyebutnya. Tapi singkatnya ya itu tadi.

Fried Tofu with Crunchy Seasoning Salted Egg adn Served with Hoisin Sauce
Foto: Dok. Pribadi
Tahunya enak, gurih, dan tidak asin. Sementara, telur asinnya yang dihancurkan juga tak berasa begitu asin. Asinnya pas. Kremesannya juga garing. Pas-lah di lidah saya yang memang penyuka asin dan pedas. Nah, saus hoisin-nya untuk menyeimbangkan rasa, jadi ada rasa manis-gurih. Ludes tuh tahu hanya beberapa menit. Harganya gak nguras kantong, hanya Rp27.000,-.

Ada yang kurang pas untuk saya saat nongkrong di satu tempat yang notabenenya banyak varian teh. Berhubung saya pecinta berat teh, ada salah satu teh yang saya pesan. Namanya Teh Halia. Teh Halia ini perpaduan antara teh yang kalau saya perhatikan berupa teh merah, susu, jahe, dan gula malaka.

Teh Halia Gula Malaka
Foto: Dok. Pribadi
Nah, ngomongin teh merah, susu, dan jahe, mungkin sudah biasa. Tapi saya bertemu nama baru, “Gula Malaka”. Saya perhatikan dengan saksama, teksturnya mirip gula merah yang dicairkan (tapi dalam keadaan kental). Rasa gulanya juga manis, seperti gula merah kebanyakan. Ada memang rasa gula merah ketika dipanaskan hasil akhirnya terasa sedikit pahit. 

Nah, beberapa sumber yang saya telusuri mengenai gula Melaka atau gula Malaka ini menyebutkan, di Malaysia: gula kelapa (Coco sugar), gula melaka (Gula Merah Kelapa/Coco sugar), gula enau/anau/anao/anaw. Jadi, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan gula jawa yang ada di Indonesia. Ya, beda tempat beda pula penyebutan, pada dasarnya wujudnya sama. Tapi, tetap saja ya, di Indonesia disebutnya gula kelapa atau gula nira. Hasil dari sodetan tangkai bunga kelapa (nira atau manggar).

Rasa memang tak pernah bohong. Ada rasa ada harga (menurut saya sih). Teh Halia mampu memberikan kehangatan tubuh saya di tengah udara dingin yang saat itu sedang turun hujan deras. Pas pula saya pesan Teh Halia Gula Malaka hangat yang satu cup seharga Rp22.000,-. Kalau kalian ingin yang dingin juga ada, satu cup hanya ditambah empat ribu rupiah saja.

Kalo nongkrong, untuk makan saya tidak begitu, tapi kalo minum iya. Ada minuman yang memang sudah biasa sih, Ice Lemon Lychee Tea. Ya, pengen pesan karena lucu tempatnya. Jadi ingat kalau praktikum kimia atau biologi ada namanya labu Erlenmeyer, mirip banget. Rasa tehnya sedikit berkurang karena ada lemon itu tadi. 

Ice Lemon Lychee Tea
Foto: Dok. Pribadi
Basah ketemu asam--inget pelajaran kimia lagi deh--jadi netral, hahah. Asam (jeruk lemon) bertemu basah (teh) memang akan mengubah rasa. Rasa asam, relatif dominan dibanding teh. Untuk menetralisir, saya coba makan buah lecinya. Kombinasi rasa yang pas, asam bertemu manis. 

Masih banyak menu dan minuman di OWL Café yang belum saya coba. Next, saya akan datang lagi dengan sajian pesanan berbeda tentunya. Kalian mau coba OWL Café juga? Ada di Upper Ground Gandaria City dengan logo biru gambar burung hantu. Tempatnya asyik harga bersahabat. So, ga usah jauh-jauh mau makan enak tapi murah. 


3 komentar:

astri damayanti mengatakan...

ish, kapan-kapan pengen ke owl cafe duduk di luar biar bisa lihat jalan

Dzulfikar Al-A'la mengatakan...

Ice lemon teanya menggoda banget ehehehe

Adi Pradana mengatakan...

Bener,ice lemon teanya menggoda banget. Dikombinasikan dwngan leci dan teh. Bikin goyang lidah...