Kamis, 04 Mei 2017

Bada Valley, Indonesian Hidden Treasure


Sulawesi Tengah menjadi salah satu tempat paling indah di Indonesia. Pegunungan, danau, dan lembah cantik menghiasi wilayah itu. Ini menjadi daya tarik wisata yang tak terkalahkan.  Palu, menjadi ibukota Sulawesi Tengah yang letaknya tepat berada di sisi Utara. Kota ini dikenal sangat jarang turun hujan, oleh karena itu daerahnya kering dan panas sehingga Palu dikenal sebagai kota terkering di Indonesia. Kalau teman-teman pernah ke Palu, akan merasakan panas yang sangat lekat di kulit saat berjalan di siang hari. Sementara di malam hari, udaranya terasa sejuk.

Suasana Lembah Bada, eksotis dan sangat menawan
Foto: Dok. Pribadi
Adalah Lembah Bada, Lembah yang berada di kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, masuk  ke dalam Taman Nasional Lore Lindu. Berada di sebelah Selatan kota Palu atau sebelah Barat Tentena. Dapat dicapai dengan kendaraan, baik mobil maupun motor dari Palu sekitar 8 jam perjalanan. 

Cerah di Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Perjalanan menuju ke Lembah Bada tergantung pada kondisi cuaca. Jika cuaca sedang tidak hujan, jalanan aman untuk dilalui. Apabila turun hujan, perlu berhati-hati karena beberapa jalan masih dalam bentuk tanah liat merah dan belum diaspal.

Danau Poso di pagi hari
Foto: Dok. Pribadi
Untuk menuju Bada, saya melewati  beberapa kota kecil, seperti Parigi Moutong, Tentena, dan terakhir ke tempat tujuan. Di kiri kanan jalan terdapat perkampungan dengan nuansa pedesaan yang sangat indah, subur, dan menakjubkan.

Lembah Bada  menjelang siang
Foto: Dok. Pribadi
Sebelum perjalanan panjang ke Lembah Bada, saya singgah dan bermalam terlebih dahulu di kota Tentena. Di Tentena, banyak pilihan penginapan untuk melepas penat setelah berjam-jam dalam perjalanan berada di mobil.

Kondisi jalan menuju Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Bersyukurnya, perjalanan ke Lembah Bada yang saya tempuh saat ini relatif aman dan lancar. Jalan-jalan mulai diaspal dan tak begitu banyak ditemui jalanan bertanah liat basah. 

Jalan terjal menuju Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Beberapa waktu lalu, perjalanan menuju ke lembah ini ditempuh dalam waktu panjang, mungkin bisa belasan jam bahkan satu hari penuh. Itu karena kondisi jalan yang tak bersahabat, ditambah lagi jika turun hujan, jalanan semakin buruk dan licin.

Situs Megalitik Palindo (Sepe)
Foto: Dok. Pribadi
Apa daya tarik terkuat di lembah ini sehingga banyak orang berbondong-bondong ingin mengunjunginya, baik orang-orang yang berasal dari dalam dan luar Palu, maupun yang berasal dari luar negeri. Ya, hal paling menarik di Lembah Bada ini adalah Patung Palindo (Palindo Statue). Ketika dahulu belajar sejarah, saya hanya bisa membaca  dari buku tentang budaya megalitikum yang sangat terkenal ini.

Sepe terbesar lebih besar dan tinggi dari tubuh saya
Foto: Dok. Pribadi
Tanpa dinyana, saya menginjakkan kaki di tempat Patung Palindo. Patung  yang berdiri miring di atas permukaan tanah Bada. Masyarakat sekitar sangat percaya terhadap patung tersebut, dulunya berdiri tegak, sebagai sumber kekuatan untuk suku Lore, yaitu suku asli yang mendiami Lembah Bada.

Patung Batu masih dalam kawasan Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Perjalanan menemui patung-patung peninggalan budaya megalitikum itu tak berhenti pada patung Palindo semata. Banyak patung-patung lain yang keberadaannya tersebar di sekitar Lembah Bada. Saya terperangah sekaligus terperanjat melihat keberadaan patung-patung peninggalan megalitikum itu. Betapa tidak, negeri ini penuh dengan peninggalan masa prasejarah yang sangat indah untuk ditelusuri.

Patung batu, saya, dan Prof. Isamu Sakamoto di Lembah Bada
Foto: Dok. Pribad
Sangat beruntunglah saya menjumpai patung-patung megalit yang ada di lembah Bada ini. Mengapa saya bilang beruntung? Karena patung-patung megalit yang saya lihat merupakan patung-patung langka yang ada di dunia. Wow Indonesia! Patung-patung ini hanya terdapat di Napu, Besoa, Bada, dan Amerika Latin yang berada di daerah Marquise Island.

Patung Batu Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Lembah Bada, punya magnet sangat kuat untuk orang-orang di luar Bada sendiri. Selain patung-patung prasejarah, ada satu tradisi yang sudah dilakukan sejak zaman dahulu kala hingga kini. Apa itu? Ya, tradisi pembuatan kain dari kulit kayu. 

Bersama Mama Beri, pembuat kain kulit kayu Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Salah seorang peneliti kain kulit kayu Prof. Isamu Sakamoto, yang berasal dari Surugadai University, Jepang mengatakan, “Tradisi pembuatan kain kulit kayu yang berada di  Lembah Bada muncul pada zaman Neolitikum, sekitar 3.600 tahun lalu yang berarti sebelum zaman megalitikum, pembuatan kain kulit kayu sudah ada dan berkembang pesat, terutama di Lembah Bada Indonesia”.
 
Pembuatan kain kulit kayu di Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Perkembangan di dunia, menurut Profesor Sakamoto, pembuatan kain kulit kayu yang sekarang ini hanya ada di Sulawesi Tengah saja. Hingga saat ini masih terus berproses dan dibuat. Apabila dilihat di lain tempat, ini sudah tidak ada. 
Kain kulit kayu berukuran 1 x 1 m yang dibuat Mama Beri
Foto: Dok. Pribadi
Bila diperhatikan secara saksama, masyarakat yang mengolah kain dari kulit kayu masih menggunakan batu dan batu itu hanya ada di Lembah Bada. Diperhatikan secara saksama pula, batu-batu yang digunakan untuk membuat kain, hanya ditemukan di situs-situ kuno yang terdapat di Lembah Bada (lokasi yang sama).

Alat pukul (baton beaten) kain kulit kayu yang ada di Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Hal yang membuat saya lebih tercengang lagi, ternyata batu-batu yang digunakan sebagai alat pembuat kain kulit kayu itu tadi, menurut para arkeolog dibuat sekitar 3.600 tahun silam. Waaw! Sementara, batu-batu itu hingga kini masih bertahan dan utuh. Luar biasa!

Profesor Isamu Sakamoto dan Mama Beri di Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Bukan apa-apa, hal ini benar-benar memukau dan membukakan mata saya. Sejarah yang sudah berlangsung 3.600 tahun berlalu tetapi, hingga sekarang masih terus berlangsung pembuatan kain kulit kayu tersebut.


Alat yang saya pegang adalah setrika untuk kain kulit kayu di Etnis Lore Iwanua Lengkeka
Foto: Dok. Pribadi
Menurut Profesor Harry Truman Simanjuntak, Arkeolog dan peneliti kulit kayu, di dunia persebaran kain kulit kayu cukup luas, selain di Asia, yang tertua terdapat di China Selatan, ada di Amerika dan beberapa negara. Ditemukan pula kain kulit kayu yang ada di Peru, Bolivia, Brasil, dan di wilayah Kepulauan Pasifik. 

Mama Asa, yang saya pegang  kain kulit kayu terakhir buatannya, saya beruntung mendapatkannya.
Usia Mama Asa ini sudah  lebih dari 90-an tahun
Foto: Dok. Pribadi
Kain  kulit kayu yang berada di Pasifik berkembang sangat baik dari zaman dahulu hingga kini, masih terus berlangsung di beberapa tempat. Hal ini tentu ada kaitan persebarannya dengan yang datang dari China Selatan, masuk ke Taiwan, turun ke Filipina, masuk ke Indonesia, dan sebagian ada yang bermigrasi ke wilayah Timur dan Pasifik.

Menginjakkan kaki di Etnis Lore Iwanua Lengkeka masih dalam kawasan Lembah Bada-Sulteng
Foto: Dok. Pribadi
Beberapa kain kulit kayu sudah punah, seperti di Toraja, pada tahun 1900-an, atau awal abad ke-20 masih ada peneliti Eropa yang melihat dan menyaksikan sendiri pembuatan kain kulit kayu, bahkan diterbitkan dalam sebuah buku. Setelah diteliti dan dilacak kembali beberapa tahun lalu, ternyata pembuatannya sudah tidak ada lagi.  Yang tertinggal hanya produknya saja yang ada di museum setempat, dan di beberapa butik-butik tertentu.

Daya tarik yang sangat kuat untuk saya teliti lebih lanjut, Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Kurator Museum Sulawesi Tengah, Drs Rim, M. Hum, mengatakan bahwa yang ada sekarang ini tinggal orang tua yang sudah lanjut usia yang masih membuat. Karenanya, perlu diberi pemahaman bahwa kulit kayu ini memiliki nilai ekonomi. 

Kak Sonya, Baju Hijau, salah satu  generasi muda penerus pembuat kain kulit kayu di Lembah Bada
Foto: Dok. Pribadi
Oleh karenanya diharapkan, anak-anak cucu mereka juga dapat membuat kain kulit kayu tersebut. Jangan pernah berpikir bahwa membuat kain kulit kayu hanya pekerjaan sia-sia atau buang-buang waktu. Hal  inilah yang perlu benar-benar dijadikan sebuah momentum untuk memacu mereka.

Peran pemerintah, seperti Deperindag, Koperasi, dapat mengajarkan kepada pengrajin ini agar lebih dinamis dalam berproduksi. Memang, tidak semua jenis pohon dapat diambil kulitnya untuk dibuat kain kulit kayu.

Rim mengatakan, di Bada ada sekitar 16 jenis pohon menurut penelitian yang dapat diambil kulitnya untuk pembuatan kain kulit kayu. Sementara, di daerah Kulawi hanya sekitar 6 jenis pohon saja. Memang, lebih banyak di daerah Lore-Bada.


Pohon Saeh (Brossounetia papyrifera) bahan dasar pembuatan kain kulit kayu
Foto: Dok. Pribadi
Jenis-jenis pohon yang dapat diambil kulitnya untuk dijadikan bahan pembuatan kain kulit kayu dan paling sering adalah pohon Ivo atau Bea, pohon Malo, dan beberapa jenis beringin. Kulit kayu dari jenis pohon inilah yang paling sering dipakai.

Beberapa penelitian mengatakan, semua pohon yang bergetah dapat dijadikan kain kulit kayu dan memiliki potensi ekonomi. Ya, pembuatan kain kulit kayu yang berada di Sulawesi Tengah ini merupakan satu budaya kearifan lokal masyarakat setempat yang ingin dan peduli mempertahankan tradisi agar tak mati.

Proses pembuatan kain kulit kayu memerlukan waktu relatif singkat. Jika dilakukan terus menerus hanya menghabiskan waktu sekitar satu minggu. Semua itu tergantung dari berapa meter atau berapa besar kain yang akan dihasilkan. Semakin lebar dan panjang kain, semakin lama waktu yang diperlukan. Kain-kain kulit kayu yang akan dijadikan baju pun perlu waktu lagi. Waktu yang diperlukan sekitar dua minggu hingga satu bulan. Semua itu tergantung pola dan jenis baju yang akan dibuat.

Proses pembuatan kain kulit kayu terbilang sulit. Tahapan-tahapan tertentu harus dilalui untuk menghasilkan kain yang bermutu dan bernilai ekonomi tinggi.  Tahapan-tahapannya sebagai berikut.

Pertama: pencarian bahan baku (material) yang memang banyak terdapat di lembah Bada. Pohon-pohon yang boleh diambil tak sembarang  pohon, adalah pohon dengan umur tertentu. Kearifan penduduk lokal dalam menggunakan bahan baku sangat dijaga. Warga mengambil secukupnya saja. Pohon-pohon yang sudah ditebang lantas dikuliti. Kulit kayu kemudian direbus agar menjadi lemas dan mudah untuk diproses.

Nantinya, kulit kayu yang tadinya berwarna cokelat, setelah boiling (perebusan) akan berubah warna  menjadi putih. Kain kulit kayu yang berwarna putih tadi, akan dibuat kain yang berwarna putih. Kulit kayu yang sudah direbus dan mulai lemas tersebut, lalu dipukul-pukul menggunakan kayu dan batu khusus. Lamanya pembuatan kain  kulit kayu dari kulit kayu yang sudah direbus tadi melalui pemukulan dapat berlangsung antara satu hingga dua minggu. Hal itu tergantung berapa panjang atau pendek kain yang akan dibuat.

Berdasarkan penuturan Antony, seniman pembuat kain kulit kayu, jenis kayu yang digunakan untuk memukul kulit kayu terbuat dari kayu bernama kayu Miras atau ruyung enau. Kayu Miras itu kayu yang relatif keras, berfungsi untuk menghancurkan serat kayu. Kayu Miras yang berbentuk garis lubang panjang difungsikan untuk  serat masuk ke dalam dan membuka helaian serat.

Guratan kayu Miras tersebut merupakan peninggalan nenek moyang. Untuk memperhalus kain kulit kayu mereka mencari cara sendiri atau mengembangkannya sendiri. Pemukulan kulit kayu dengan alat pukul kayu lebih kurang satu hari saja. Untuk hari kedua, mulai dilakukan pemukulan dengan menggunakan alat yang terbuat dari batu. Dalam masyarakat Bada yang membuat kain kulit kayu, untuk pemukul tersebut ada penamaan tersendiri. Untuk pemukulan pertama alatnya disebut Peboba. Hari kedua tetap menggunakan kayu Miras (Enau). Alat kedua yang dipakai untuk memukul adalah Pehelo’i, ketiga masih jenis Pehelo’i tapi terbuat dari batu (namanya batu ike) yang konturnya mulai agak halus.

Setrika kayu (seperti Alu) dan beberapa alat pemukul kain kulit kayu
Foto: Dok. Pribadi
Kain-kain kulit kayu yang dipukul-pukul lama kelamaan akan melebar dan alat-alatnya pun disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk menyambung antara satu kain kulit kayu dengan kain kulit kayu lainnya tidak menggunakan lem. Akan tetapi dengan menempelkan kain kulit kayu yang lainnya dan dipukul-pukul lagi hingga menempel dan menyatu melalui pukulan tadi.

Pekerjaan untuk membuat kain kulit kayu ini memang kebanyakan dilakukan kaum wanita. Mereka melakukannya ketika tidak ada pekerjaan lain atau saat-saat waktu senggang. Biasanya mereka melakukannya setelah pekerjaan utama, khususnya pekerjaan rumah usai. Kesabaran, ketekunan, juga kegembiraan sebagai kunci dari pembuatan kain kulit kayu tersebut.

Kulit kayu yang sudah dipukul-pukul selama beberapa hari tersebut yang tadinya tebal lama kelamaan menjadi tipis akan tetapi liat dan kuat menjadi kain. Tentunya, kandungan air yang terdapat dalam kain kulit kayu masih ada. Untuk menghilangkan kadar airnya, kain kulit kayu dijemur di terik sinar matahari hingga kering sempurna.
Hal yang sangat saya kagumi dalam proses pembuatan kain kulit kayu ini, tak ada satupun bahan-bahan kimia bercampur di dalamnya.

Proses pembuatannya dilakukan secara alami dan tradisional dengan memanfaakan sumber-sumber alam yang ada. Sama halnya dengan  pembuatan kain kulit kayu, untuk pewarnaannya pun demikian, masyarakat Lembah Bada menggunakan pewarna alami yang diturunkan secara turun temurun dari nenek moyang mereka kepada orang-orang yang melakukan pembuatan kain kulit kayu.

Bahan pewarna alami yang digunakan diambil dari pohon yang berada di Lembah Bada sendiri. Pohon tersebut terdapat di pinggir-pinggir jalan dan juga dataran tinggi Bada. Pohonnya bernama Bonoti. Sementara bahasa Manadonya Leilem. Jenis bunga justru tidak digunakan.

Daun Bonoti tadi lantas ditumbuk. Tempat tumbuknya (lumpang) terbuat dari batu. Mengapa batu? Dilihat dari kekerasan daunnya, daun Bonoti itu relatif keras, jadi batu justru mempercepat proses penghancuran, mempercepat penghalusan, dan mempercepat pengeluaran air. Sedangkan tumbukan yang berasal dari kayu justru membuat lama hancur daun Bonoti dan lama pula proses pengeluaran airnya.

Antonio (Pak Tony) merupakan seniman dari Lembah Bada yang berkonsentrasi terhadap pembuatan dan pewarnaan kain kulit kayu. Dia jugalah orang yang memberikan motif-motif pada kain kulit kayu Lembah Bada. Dia seakan mampu memberikan “nyawa” pada kain kulit kayu yang seolah hidup memiliki jiwa.
  
Kemampuan dirinya meracik beragam warna untuk pembuatan warna kain kulit kayu berbasis pada kearifan lokal. Pengetahuannya diperolah secara turun temurun.
Hal yang menjadi catatan penting saya, Pak Tony terkadang mengandalkan ingatannya untuk membuat warna-warna yang ada tanpa membuat catatan. Amazing!

Warna hitam yang dibuat olehnya berasal dari getah Damar (Agathis alba). Getah damar diperolehnya dari hutan di sekitar Lembah Bada.  Getah damar yang diambil pun merupakan getah damar yang sudah mengeras dan mengering.

Selanjutnya getah damar dibakar. Hasil pembakaran getah damar tadi, ditampung dalam belang-belanga yang terbuat dari tanah liat. Asap-asap (Jelaga) yang ditimbulkan dari getah damar tadi akan menempel di sekitar belanga. Pak Tony tak pernah berhenti untuk mencoba mencari pewarnaan baru. Melalui mencoba dan terus mencoba itulah akhirnya dia mendapatkan warna-warna indah alami yang membuat kain kulit kayu yang tadinya putih, kini penuh corak dan warna.
Baju dari kain kulit kayu untuk pria (Koleksi Bang Rim)
Foto: Dok. Pribadi 
Jelaga-jelaga getah damar yang dibakar tadi akan menempel di dalam tutup-tutup belanga. Selanjutnya, jelaga-jelaga damar tadi dikerik perlahan-lahan untuk diambil menjadi pewarna hitam. Diberi sedikit tetesan air sehingga mengeluarkan warna hitam.

Rok dari kain kulit kayu untuk perempuan (Koleksi Bang Rim)
Foto: Dok. Pribadi
Nah, dengan alasan  motif-motif yang dibentuk atau dibuat oleh Pak Tony adalah motif-motif kuno, oleh karenanya, motif tersebut tidak boleh dimodifikasi atau dibuat dalam bentuk lain. Beliau menganggap bahwa motif kuno tersebut sebagai sebuah tradisi masa lalu. Hal itu tak boleh diubah-ubah karena berkaitan dengan adat.

Baju untuk perempuan dari kain kulit kayu (Koleksi Bang Rim)
Foto: Dok. Pribadi
Ada salah satu baju yang dipakai  untuk perempuan dengan motif kerbau. Maksud dari motif tersebut adalah baju itu dipakai pada saat ada kelahiran, perkawinan, dan kematian dengan melakukan upacara kerbau dengan menggunakan baju tersebut. Mas kawin (mahar perempuan) pada saat pernikahan pun memakai kerbau. Penyambutan yang menggunakan ritual juga memakai kerbau. Begitu pula dengan pesta-pesta yang diadakan, harus menggunakan kerbau.

Baju untuk pria dengan motif yang sangat indah (Koleksi Bang Rim)
Foto: Dok. Pribadi
Jadi, di bagian bawah di atas pusar pada baju tersebut terdapat simbol tanduk kerbau. Tanduk kerbau merupakan adat Bada. Tanduk kerbau yang digambarkan di motif baju itu ada yang terdapat secara abstrak. Filsafat nenek moyang mereka diambil dari bulan dan bintang.

Siga atau penutup kepala untuk pria (Koleksi Bang Rim)
Foto: Dok. Pribadi
Filsafat bulan, jika menanam tanaman yang berbiji ditanam pada saat bulan purnama. Menurut Pak Tony, apabila ditanam pada saat bulan purnama, tumbuhan tersebut akan berbuah lebat. Jangan menanam pada saat bintang berkelip. Apabila menanam saat bintang berkelip maka serangan hamalah yang akan diperoleh.

Kain kulit kayu  berumur sekitar 100 tahun (Koleksi Bang Rim)
Foto: Dok. Pribadi
Nilai ekonomi kain kulit kayu tak semata pada pakaian yang digunakan ketika upacara adat berlangsung, akan tetapi menjadi satu hasil karya yang sangat inspiratif dapat digunakan oleh orang banyak.

Celana dari kain kulit kayu untuk pria (Koleksi Bang Rim)
Foto: Dok. Pribadi

Selempang untuk baju pria dari kain kulit kayu (Koleksi Bang Rim)
Foto: Dok. Pribadi
Kain kulit Kayu menjadi sebuah peradaban khas manusia karena memiliki fungsi yang sangat banyak. Pertama untuk fungsi yang sangat praktis, dapat digunakan untuk selimut maupun baju (untuk kebutuhan sehari-hari). 

Lukisan di atas kain kulit kayu
Foto: Dok. Pribadi
Kedua, kain kulit kayu juga berfungsi sebagai status sosial. Di suku-suku tertentu pada masyarakat seperti ketua adat, memiliki baju kebesaran yang terbuat dari kain kulit kayu. Artinya, hanya pemimpin atau orang-orang tertentu yang boleh mengenakan kain tersebut atau sebagai simbol dari strata sosial seseorang.

Fungsi sakral, hanya dipakai pada saat ada upacara-upacara adat tertentu dan orang-orang tertentu pula yang menggunakannya. Hanya orang-orang yang terlibat dalam pelaksanaan upacara adat itu saja yang dapat mengenakannya.

Untuk orang-orang yang memiliki ide-ide kreatif, kain kulit kayu mereka sulap menjadi barang-barang unik, seperti dompet, tas, juga sepatu casual lainnya. Di Sidoarjo Jawa Timur, kain kulit kayu diolah menjadi beberapa barang yang sangat unik dan menarik, seperti tas juga sepatu. Pengusaha lokal memperoleh kain kulit tersebut dari Bengkulu. Permasalahan pada kain kulit kayu adalah bagaimana mengantisipasi jamur atau serangga? Juga bahan yang mudah sobek.

Sebagaimana diketahui, Lembah Bada merupakan lembah yang berjarak relatif jauh dari ibukota Provinsi Sulawesi Tengah. Oleh karenanya, untuk membuka pasar atau memasarkan produk hasil olahan Lembah Bada menjadi terkendala. Sudah dipastikan, apabila di Sulawesi Tengah ini anak-anak mudanya tidak tertarik untuk mengolah atau mempertahankan tradisi kain kulit kayu, suatu saat nanti warisan budaya nenek moyang yang sudah dirintis secara panjang dan lama akan menghilang begitu saja.

Pak Antony sungguh beruntung, beliau menurunkan apa yang ada dalam dirinya kepada anak lelakinya yang bernama Sigit untuk terus mempertahankan dan mengembangkan usaha sang ayah dalam mempertahankan tradisi pembuatan kain kulit kayu di Sulawesi Tengah, khususnya lembah Bada.

Tak dapat dipungkiri, masyarakat kini tak tertarik dengan kain kulit kayu, mengapa? Karena negeri ini sudah dipenuhi dengan tumpukan kain-kain modern yang lebih menarik, baik dari sisi warna, motif, maupun ketahanannya. Upaya untuk mempertahankan ini tak semata-mata hanya dari penduduk lokal, tetapi bagaimana peran pemerintah untuk turut serta mempertahankannya agar tetap ada aktivitas pembuatan kain kulit kayu bahkan bisa terus berkembang.


Daluang yang ada di Jawa
Foto: Dok. Pribadi
Beberapa nama diberikan untuk kain kulit kayu. Di Lembah Bada, sangat dikenal dengan sebutan Fuya. Di Bali diberi nama Ulantaga atau walantaga. Ulantaga biasanya dipakai untuk acara ngaben atau rajah. Sementara itu, di Jawa dikenal dengan sebutan Daluang, Dluwang, Duluwang, atau Druwang. Bahasa Jawa Kuno menyebutkan duluwang memiliki arti kulit kayu, kopiah, pakaian rahib atau pertapa. Daluwang juga sama dengan dalancang.


Salah satu contoh  Wayang Beber, warisan tak benda yang sangat perlu dilestarikan
Foto: Dok. Pribadi
Di Jawa, daluwang banyak dimanfaatkan untuk penulisan manuskrip pada masa kerajaan zaman dulu dan juga wayang yang dikenal dengan wayang beber. Ketika beberapa waktu lalu, saya mengunjungi beberapa tempat yang dianggap menyimpan benda peninggalan sangat bersejarah ini, sebut saja Keraton Surakarta, Museum Radya Pustaka, dan Perpustakaan Puro Pakualaman.
 
Manuskrip asli dari Daluang
Foto: Dok. Pribadi
Manuskrip yang ditemukan di Radya Pustaka termasuk manuskrip terbagus yang masih utuh. Kertas daluang yang dipergunakan hingga kini tetap terpelihara. Beberapa ornamen yang ditorehkan di dalamnya pun cukup indah. Jadi, pada masanya, raja dan ratu kerajaan menuliskan cerita yang di atas kertas tersebut. Penampakan daluang memang sangat berbeda dari kertas kebanyakan. Dari proses pembuatannya pun berbeda pula.

Manuskrip dari Daluang
Foto: Dok. Pribadi
Kalau kertas biasa, kebanyakan dibuat dengan proses pembuburan (pulping) dan lembaran (forming). Umumnya, kertas biasa menggunakan senyawa kimia, sehingga hasil sisa bahan kimia masih tertinggal secara langsung. Hal itu yang membuat kertas biasa tidak dapat bertahan lama ketika terjadi reaksi kimia semacam oksidasi atau hidrolisi.

Sementara itu, daluang dibuat dengan cara menguliti kulit pohon Saeh, dicuci, lantas dikeringkan. Begitu kering, kulit direndam selama 24 jam. Selanjutnya dilakukan proses tempa (kempa). Proses kempa ini kulit saeh dipukul secara merata hingga didapatkan lebar kertas daluang yang diinginkan. Di Sulawesi, biasanya dilakukan perebusan kulit kayu, setelah itu dibungkus menggunakan daun pisang selam 7 hari hingga menghasilkan lendir.

Kemudian kulit  pohon saeh dipukul-pukul dengan beberapa macam alat hingga menghasilkan bentuk, ketebalan, serta lebar yang diinginkan. Di Jawa Barat, daluang dijemur di batang pisang. Batang pisang memiliki tekstur licin sehingga daluang yang dihasilkan lebih halus. Untuk selanjutnya daluang yang kering digosok dengan kerang untuk menghasilkan tekstur yang halus di permukaannya. Memang, dari pembuatannya, daluang punya kelebihan  dari kertas biasa. Daluang dibuat secara tradisional. Oleh karenanya, dapat bertahan lama hingga ratusan tahun dan tanpa bahan kimia buatan.

Jangan heran, bahwa daluang ditemukan pada naskah kuno Kakawin Ramayana di abad ke-9. Diceritakan bahwa daluang sebagai pakaian pandita. Di abad ke-18, daluang dipakai tidak saja untuk pakaian, tapi juga kertas suci, ketu-siga (penutup kepala). Sebelum Islam datang, daluang dipakai untuk bahan wayang beber (Mungkin nanti saya akan bercerita tentang Tradisi Wayang Beber ini). Wayang beber sebagai wayang tertua yang lebih dulu hadir dengan memanfaatkan lembaran atau gulungan daluang untuk mencatat kisah atau cerita pewayangan dalam bentuk bahasa gambar.

Nah, kalau daluang untuk tulis menulis di Indonesia, dimulai dari pesantren hingga dimanfaatkan untuk kebutuhan administrasi zaman belanda menjelang kemerdekaan RI. Mengenai tradisi menulis di Indonesia menggunakan daluang, kira-kira ada sekitar abad ke-14. Seperti terlihat di naskah UU Tanjung Tanah di Gunung Kerinci yang diteliti Dr. Uli Kozok, Hawaiian University sekitar 2003. Sementara, untuk naskah Sunda dapat dicari dari naskah Sunda Kuno dari abad ke-18 koleksi perpusnas. Next saya sambung lagi yaa... 

Banyak banget yang akan saya tuliskan next dan informasi penting lainnya untuk hal ini. Sayang jika dilewatkan begitu saja. Tunggu yaa cerita selanjutnya.

#ODOP12



0 komentar: