Sabtu, 15 Juli 2017

Resolusi Tak Jadi Angan-Angan Basi


Sudah tentu, dalam hidup itu ada permintaan atau tuntutan yang bisa saja terpenuhi, diusahakan untuk diperoleh, atau bahkan tidak terpenuhi sama sekali. Tidak terpenuhinya permintaan atau tuntutan hidup bukan berarti tidak ada kemampuan untuk memperolehnya. Mungkin saja, Sang Khalik menundanya karena ada permintaan terbaik dari kita untuk diwujudkan ke depannya.

Every people love to write their resolutions
Foto: Dok. http://1.bp.blogspot.com/
Biasanya awal tahun, banyak orang membuat keputusan untuk mencari awal yang baru. Tahun baru adalah waktu yang tepat untuk berkomitmen beresolusi mengubah hidup, seperti menjadi lebih sehat, menemukan karier baru, lebih memperhatikan hubungan dekat  dengan pasangan, teman, kerabat, tetangga, dan sebagainya. Namun, membuat resolusi itu harus  berpegang teguh pada hal untuk ditindaklanjuti dan kuat dengan komitmen, bukan asal membuat resolusi.

Memang, kita sebagai manusia mesti banyak-banyak meminta. Banyak meminta dalam bahasa saya adalah berdoa juga berusaha. Berdoa menurut keyakinan kita. Kalau saya sebagai muslim, tentunya tak hanya dalam salat saya berdoa. Di manapun tempat, saya tetap akan berdoa. Permintaan banyak menurut saya tak masalah. Kita tidak tahu, dari sekian banyak permintaan itu, mana nantinya yang Allah SWT akan kabulkan.

Nah, permintaan atau tuntutan dalam diri itu tadi yang biasa disebut resolusi. Jika mengacu pada KBBI, resolusi/re·so·lu·si/ /rĂ©solusi/ n: berupa putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal.

Perlulah kita, saya secara pribadi menancapkan keinginan atau permintaan yang sekiranya bisa saya capai. Setidaknya dalam waktu enam bulan atau setahun ke depan. Tak salah, saya memberikan catatan  dalam kehidupan agar hal-hal yang saya inginkan as a personal bisa diperoleh  dan terwujud. Alhamdulillah, enam bulan pertama, resolusi yang saya tanamkan hampir semuanya terpenuhi.

Kini enam bulan ke depan, kembali saya menancapkan keinginan dan permintaan kepada Sang Khalik sebanyak-banyaknya. Entah mana nanti yang Allah SWT izinkan untuk DIA kabulkan, itu merupakan pemberian terbaik yang diberikanNYA.

Untuk saya pribadi, resolusi itu tak sekadar angan-angan yang nantinya akan jadi basi. Tetapi, bagaimana resolusi yang sudah dituliskan itu benar-benar bisa dicapai secara normal dan wajar dengan cara-cara baik dan benar. Tentunya, hal  itu saya kembalikan kepada kemampuan saya, baik tenaga, pikiran, juga yang paling penting adalah finansial. Jika resolusi yang dituliskan memang ingin bepergian entah ke mana. Hal-hal itu yang mesti saya persiapkan. Mesti sejalan antara keinginan dengan kemampuan diri. Jangan menerapkan nafsu yang besar tetapi tenaga letoi.

Kalau kita sudah membuat resolusi, jangan pernah pula menyatakan ketidaksetujuan atas resolusi tersebut. Bermain-main dengan ide yang luar biasa sah-sah saja. Akan tetapi,sedapat mungkin diminimalisir. Karena, resolusi yang kita tancapkan itu, setidaknya setengah bagiannya akan kita lakukan. Artinya apa? Kalau saya pribadi, resolusi itu seperti janji. Jadi, mana janji yang bisa ditepati terlebih dahulu, itu yang akan saya lakukan. Buatlah janji yang benar-benar meringankan pikiran dan keuangan saat kita membuat resolusi.

Janji (= resolusi) jangan pernah dijadikan kambing hitam apabila tidak berhasil dilakukan. Juga, jangan pernah memperlakukan resolusi sebagai komitmen mutlak. Kalau saya, justru akan mencoba hal yang baru apabila resolusi yang dituliskan ada yang tak dapat dilakukan. Saya akan memberi sedikit ruang “goyah” dalam diri untuk memudahkan perubahan sedikit demi sedikit. Mungkin, saya akan bisa melakukan apapun untuk memastikan pikiran saya pada hal-hal yang sifatnya sementara bisa dicapai.

Resolusi tidak menjadikan saya sebagai seorang penentang. Artinya, resolusi itu sebagai cambuk untuk diwujudkan denga berusaha semaksimal mungkin, juga tidak menjadikan seseorang menjadi egois.

Manusia itu sebagai makhluk yang kompleks alias rumit, termasuk saya. Melalui resolusi lama yang tak tercapai, itu dapat dijadikan cermin untuk membuat gebrakan baru dengan hasil ajaib dan terkagum-kagum. Tetapi, mungkin tidak realistis ketika kita atau saya mengharapkan transformasi dramatis yang terjadi secara instant atau mengharapkan keajaiban dari catatan resolusi. Ini menjadi semacam penyangkalan untuk saya pribadi bahwa ternyata benar, saya dan kita itu makhluk yang kompleks dengan beragam aspek.
Catatan resolusi itu dapat membuka diri seseorang, bagian mana dari kita yang benar-benar menantang untuk dibuat perubahan? Terpenting juga adalah kita perlu memikirkan situasi yang dapat memicu orang untuk memberikan dan mengemukakan aspek-aspek diri kita yang tidak kita sombongkan, ketimbang kita menganggap bahwa solusi sebagai satu ukuran yang akan dapat menciptakan perubahan. Misalnya saja, resolusi saya akan mengurangi makan yang berlebih agar berat badan idealg. Oleh karenanya, saya akan makan jenis makanan yang benar dan tentunya jangan gagal berolahraga. Nah, resolusi diet ini saya yakin, ditakdirkan. Hanya saya yang mengenal diri saya cukup baik untuk menghadapi sebenar-benarnya kebenaran resolusi yang akan  saya lakukan.

Menancapkan diri untuk tidak realistis. Menjadi tidak realistis akan membatasi pilihan saya. Hal itu justru akan membuat diri ini berada di zona yang tidak pernah akan berhasil. Kita tidak akan pernah bisa berubah tatkala kita terus memikirkan kesalahan yang akan terjadi. Hal ini justru akan menyakiti diri kita sendiri. Untuk mengatasi hal itu, saya akan pergi dari zona nyaman.  

Membuat mimpi itu tidak salah kok. Kita itu ditakdirkan mempunyai kemampuan ajaib untuk mencapai seluruh keinginan yang kita inginkan secara maksimal. Bermimpilah, masih sangat dibolehkan dan tidak ada undang-undang yang melarang kita bermimpi. Silakan meneruskan mimpi kita dan mempertimbangkan seluruh kemungkinan yang dapat membuat mimpi-mimpi itu jadi kenyataan, tentunya membuat kita senang. Mimpi itu sebagai satu proses resolusi yang solid untuk diterapkan hingga terbentuk. Pada akhirnya, kita akan diberdayakan oleh proses resolusi itu tadi.

“Mencuri sumber daya”. Cari atau tanya orang-orang di sekitar kita yang sudah mencapai tujuan yang sama. Mencari tahu apa yang membuat mereka berhasil mencapai resolusinya. Mencoba solusi mereka sebagai satu ukuran itu tidak salah. Di sini, saya akan banyak menambahkan atau membuat modifikasi pribadi sehingga gaya, warnah, dan kebiasaan itu benar-benar menjadi saya. Mengikuti jejak orang lain itu menjadi cara luar biasa untuk meningkatkan bakat dan gagasan dalam diri sendiri. Mengetahui apa yang orang lain tahu menjadi investasi dalam diri saya. Belum pernah ada begitu banyak orang yang punya banyak kesempatan untuk belajar dari orang-orang yang terampil, inspiratif, cerdas, menarik, dan inovatif di era digital dan internet sekarang.

Berusahalah dengan cara-cara yang tak mengeluarkan banyak tenaga untuk mewujudkan resolusi hidup kita. Saya pribadi, akan lebih berhati-hati agar resolusi yang saya buat tidak berubah menjadi satu penegasan yang samar. Artinya, hanya duduk-duduk seharian sendirian dan membayangkan tanpa usaha bahwa nanti juga akan datang masanya, tidak seperti itu! Seharusnya, bangun di pagi hari, pergi ke satu tempat yang akan memberikan saya banyak peluang untuk mewujudkan resolusi yang sudah dituliskan.

Memang benar adanya, orang sangat senang menuliskan resolusi mereka karena ada sensasi yang dirasakan. Itu baru menulis lho ya yang seakan-akan mereka sudah menuju ke tempat yang akan dikunjungi atau memperolehnya. Tetapi, kenyataannya belum melakukan apa-apa. Hal inilah yang membuat resolusi seseorang sering gagal diterapkan. Oleh karenanya, jika Anda menuliskan butir resolusi yang sama berulang-ulang di setiap tahun nyatanya belum berhasil diwujudkan, tandanya ada yang salah dalam diri dan perlu diperbaiki.

Cermin yang paling besar dan mudah dilihat itu diri sendiri. Jadi, sebelum kita membuat resolusi ada baiknya berkaca pada diri sendiri. Nah, hal yang sering keluar adalah  “apa yang diinginkan” dan bukan “apa yang dibutuhkan”. Keinginan itu tidak esensial  hanya menyenangkan saja, sementara kebutuhan memang sangat esensial untuk kita miliki. Itulah, selain berkaca pada diri sendiri, pelu juga berkaca pada orang lain sebagai sumber pengetahuan dan referensi.

Tips berikut ini, kemungkina besar bisa mewujudkan meraih resolusi yang kita idam-idamkan.
1.    Fokus pada hal yang ingin diubah dalam kehidupan. Cukup tuliskan  tiga hingga lima hal penting saja. Hendaknya, poin itu berhubungan dalam meraihnya. Lantas tuliskan alasannya dari resolusi itu dan buat secara jelas tujuannya hingga kuat untuk menggapainya. Misalnya, tujuan saya saat ini ingin mengembangkan blog agar mudah dideteksi oleh google dengan blog serta kata kunci spesifik tidak ikut-ikutan orang.
2.    Membuat formula resolusi berupa pernyataan khusus dan harus realistis pula. Kadang-kadang kan kita hanya menulis, misalnya “mau diet dan sehat”. Mending dan lebih baik ditulis saja, “olahraga tiga kali dalam seminggu” lantas tempelkan daftar resolusi di wall yang mudah dilihat dan dijangkau. Fungsinya untuk apa? Itu sebagai tanda pengingat kita.
3.    Bolehlah berbagi cerita mengenai resolusi kita ke orang-orang  yang benar-benar kita anggap bisa dipercaya dan teman dekat. Mereka itu bisa jadi pengingat hidup kita juga support terhadap hal-hal yang kita lakukan kalau tiba-tiba semangat kita lagi kendur dan goyah.
4.    Menikmati proses resolusi itu jauh lebih menyenangkan, hasil akan mengikuti. Jadi, jangan fokus pada hasilnya saja. Saya tetap menyatakan dan menuliskan bahwa resolusi itu sebagai satu perjalanan panjang yang akan berhenti pada satu titik. Titik pemberhentian itulah yang namanya menikmati hasil. Kalau belum mendapatkan hasilnya, setidak-tidaknya kita sudah melakukan proses perubahan dalam hidup secara lebih positif.
5.    Melakukan cek resolusi secara periodik, misal di tiga bulan pertama dan tiga bulan kedua. Hal itu sangat membantu kita untuk menggiring rencana agar tak lari dari yang direncanakan.  Rencana tak selamanya sesuai dengan yang diinginkan. Kadang melenceng dari yang direncanakan, so, perlu cara baru atau cara lain untuk merealisasikannya. Nah, perlu namanya antisipasi, jikalau rencana yang dibuat itu ada indikasi gagal, bisa dicari jalan lain.

Resolusi itu ibarat anak tangga.
Foto: Dok. http://1.bp.blogspot.com/-KfzeztPn0qU/

Jadi, bolehlah menuliskan resolusi kita sebanyak yang dimaui, tetapi antisipasi gagal perlu. Sudah berapa banyak resolusi yang kalian tuliskan dan terwujud? 

2 komentar:

Nchie Hanie mengatakan...

Setuju banget dengan point menikmati proses, kebanyakan orang justru pengen hasil akhirnya aja deh. Ga kecapai, stress melanda. Kalo resolusiku ga ngoyo, ya hanya menjalani saja dan menyiapkan diri untuk kecewa hahhaa

Jun Joe Winanto mengatakan...

Nah, iya Nchie, proses itu yang buat kita jadi tahu bagaimana menghargai.