Jumat, 14 Juli 2017

Tunjangan Hari Ra (Bu) Ya...

Puasa sebulan penuh sudah dijalani untuk yang melakukannya. Setelahnya, tentu menanti bulan kemenangan datang. Apalagi kalau bukan Hari Raya Idul Fitri. Untuk teman-teman yang bekerja, tentunya ada yang dinanti setelah sebelas bulan kerja dengan beragam dinamikanya. 

Tunjangan Hari Ra (Bu) Ya... Nasibmu kini
Foto: Dok. http://static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/
Untuk perusahaan dengan kategori bagus, sedang, dan cukup, tentunya telah mempersiapkan "Amunisi" untuk menjelang bulan Syawal kepada pekerja-pekerjanya. Apalagi kalau bukan THR (Tunjangan Hari Raya).

Mengingat kenangan-kenangan yang sudah lama berlalu, ada sejumput  rindu cerita dengan THR ini. Dulu banget, waktu masih sendirian, gaji lumayan terima tiap bulan. Sudah jadi kebiasaan buat saya, saya pisahkan antara gaji dengan bonus-bonus yang diperoleh termasuk THR ini. 

Gaji, khusus saya masukkan ke dalam tabungan gaji. Sementara itu, untuk bonus-bonus plus THR saya bagi lagi dalam beberapa bagian. Sebenarnya, saya suka  belanja barang, terutama perlengkapan "tempur" untuk bekerja, pastinya baju dan celana. Nah, setengah bagian dari THR sudah saya cadangkan untuk itu. Setengahnya lagi masih saya bagi lagi untuk orang tua dan beberapa keponakan.

Hal paling nikmat itu ketika amplop-amplop yang berisi lembaran uang baru saya berikan ke keponakan. Meski besar nilainya tak seberapa, tetapi ada rasa syukur terlihat dari wajah-wajah ponakan saat amplop dari tangan saya meluncur dan digenggam erat oleh tangan-tangan mereka. Saya tanya, "Va, uangnya THR-nya untuk apa?" Ponakan saya jawab, "Ini uang THR dikumpulin, buat tambahan biaya ujian sekolah dan beli buku". Deg!!!

Saya tak heran dengan para keponakan. Ya, memang mereka menyisihkan uang-uang hasil dari THR itu untuk keperluan sekolah. Ada dalam pikiran mereka bahwa mereka tak ingin pula minta-minta lagi uang ke orang tua saat ada keperluan mendadak. Kalau saya pikir, klasik sih ya jawabannya. Akan tetapi, itu jawaban paling jujur yang keluar dari mulut mereka.

Beda ponakan saya beda pula orang tua saya. Saya paling sering kasih uang THR itu ke Ibu. Nah, tahu sendiri ya yang namanya ibu dengan tagline andalannya, "Kalau harus mengeluarkan sedikit bisa dapat banyak, mengapa harus mengeluarkan banyak untuk dapat  banyak". Eiitss, tetapi memang, rerata ibu-ibu seperti itu. Ya, beberapa waktu lalu saat ibu masih hidup, dari THR yang saya berikan, beliau ngajak saya ke pasar beli ini itu untuk persiapan lebaran. Duh rasanya gimana gitu, ada rasa senang yang tak bisa diungkapkan saya bisa kasih uang dari hasil keringat keikhlasan ke ibu yang sudah bersusah payah melewati suka duka membesarkan saya. Saya sempat juga mbrebes mili (Jawa = air mata tertahan di pelupuk mata yang gak jadi keluar = menggenang), tatkala ibu belanjakan itu uang. Dia penuhi semua kebutuhan keluarga dengan caranya mengeja keuangan. Meski sedikit-sedikit tetapi dicukupkan. Ibu hebat!! Perjuangan tangguhnya saya acungi jempol. 

Bukan berarti bapak yang kala itu belum pensiun tak memberikan THR-nya juga. THR dari bapak, ibu simpan untuk keperluan lainnya. Nah, THR-THR itu ibu olah sedemikian rupa, agar bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin. Bahkan, saya pernah cari tahu juga, THR itu, sebagian ibu simpan pula, hahaha... memang ya, tak heran saya kalau namanya ibu itu mesti pintar urusan keuangan, demi mencukupi semuanya. 

Ya, dari uang THR itu ibu bisa nabung juga, ibu bisa beli bahan makanan, bahkan masih sisa untuk bulan berikutnya. Kalau dibilang lumayan terima uang THR, lumayan juga. Tapi satu hal yang jarang ibu lakukan dari uang THR itu, ibu itu jarang beli baju dari uang THR. Alasannya ada saja, selalu bilang, "Baju yang tahun lalu masih bagus dan masih bisa dipakai". Ya, ibu tak mengutamakan penampilan, tetapi bagaimana uang-uang itu bisa bertahan dan untuk hal-hal bermanfaat lainnya. Ibu saya adalah ibu paling cantik yang saya punya, hehehe... mau pakai baju lama atau baru pun tetap cantik, hahaha...

Ya, beberapa tahun belakangan, ketika sempat bekerja di salah satu perusahaan yang kalau saya lihat, sebenarnya itu perusahaan sanggup kok untuk bayar THR karyawannya yang jumlah karyawannya tak sampai ratusan orang. Saya tahu itu. Kalau dibilang miris, sungguh miris keadaan pada waktu itu. Kejadiannya sekitar tahun 2013 hingga 2015. Tiga kali lebaran saya dan teman-teman lainnya tak pernah mendapat THR. Alasannya pemilik ada saja. Entah perusahaan yang lagi seretlah, entah penjualan yang belum ada, ini dan itu.

Intinya, pemilik ogah mengeluarkan sepeser pun untuk kasih THR karyawan yang merayakan. Tiga tahun tak terima THR tetap saya masih coba untuk bertahan bekerja. Menjelang masuk tahun keempat, mungkin karena kondisi yang sudah tidak kondusif, dan keadaan semakin memburuk, tak ada iktikad baik dari pemilik untuk mencoba memberikan hak pekerja, saya lepaskan saja pekerjaan itu. 

Jadi sayang ya, karena ketaktransparanan pemilik dengan beragam alasan yang dirasa tak masuk akal, hubungan antara karyawan jadi memburuk. Ya, daripada saya membuat dosa yang tidak-tidak dan terus bertambah-tambah karena pembicaraan, lebih baik hengkang. Sangat disayangkan. Saya bilang bahwa di empat tahun belakangan itu, THR buat saya bukan sesuatu lagi.  Gegara THR, jadi tak menjamin hubungan baik antara pemilik dan pekerjanya. Lepaskan!

Ya, sekiranya tak mampu memberikan THR untuk pekerjanya, mungkin lebih baik tak usah mendirikan atau buat perusahaan. Karena, bagaimanapun juga THR itu menjadi hak dari setiap pekerja yang dipekerjakan. Perhitungannya pun jelas dan masuk dalam UU Ketenagakerjaan. Serem juga saya membayangkan kalau buat perusahaan tapi tak kuat keuangan. 

Tentunya, saya tak ingin kejadian itu berulang. THR itu hanya sekelebat saja wujudnya, tetapi memang tetap dinanti. Dinanti oleh siapa? Dinanti oleh mereka yang kerja di kantoran. Sekarang, saya tak harus menanti THR. Bebas dari THR dan bebas untuk memberikan atau tidak THR itu. Ya, tunjangan hari raya itu buat saya tak hanya uang. Saya dan keluarga sehat itu menjadi tunjangan hari raya yang paling  buat bahagia. Uang bisa dicari, dari kesehatan tubuhlah mulanya. Aahh THR... Riwayatmu kini. 


   

 


3 komentar:

Widyanti Yuliandari mengatakan...

THR saya malah harus bener-bener dihemat. Buat lebaran hanya secuil saja. Karena THR dipakai buat bayar spp saya yang lumayan bikin kerontang kantong. Wkwkwkwk Tapi masih untung ada te ha er...oh...oh...oh....

Nchie Hanie mengatakan...

Nah aku tertarik dengan kalimat ini :"sekiranya tak mampu memberikan THR untuk pekerjanya, mungkin lebih baik tak usah mendirikan atau buat perusahaan"
Bener banget, di tempatku bekerja, aku selalu ngotot memperjuangkan THR buat anak2 meski melalui debat dan adu argumen hahahaa, hidup THR!!

Dama Vara mengatakan...

Keren banget si ponakan yang planning gunain uang THR nya untuk nambah uang ujian. Jadi inget masa-masa ujian yang banyak pengeluaran. memang ya, sekolah di negeri kita. Kulitnya saja yang gratis. Di dalamnya butuh keluar biaya lain lain.