Selasa, 18 Juli 2017

Traveling: Katalis Sempurna Kebahagiaan


Bepergian atau traveling itu buat saya menyenangkan, meskipun capek. Tetapi, kalau mau traveling atau trip ke satu tempat, saya tak sembarang pergi. Saya akan cari yang unik, rekomendasi orang-orang yang sudah pernah pergi ke tempat itu, atau ada aktivitas apa di bulan yang sudah saya tentukan untuk pergi ke tempat itu. Karena zaman semakin canggih, beragam informasi tentunya mudah saya dapatkan. Saya bisa berselancar ria dengan device untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyak tentang keunikan daerah tersebut.  Ya, sekali usap dengan jari, semua informasi plus gambar daerah tujuan traveling saya terlihat jelas.


Danau Beratan, Pura Ulun Danu, Bedugul-Bali
Foto: Dok. Pribadi
Saya termasuk orang yang mesti mempersiapkan segala sesuatunya jika hendak bepergian. Untuk apa? Itu sebagai bentuk antisipasi diri agar tidak repot di jalan atau malah merepotkan orang yang jalan bersama saya. Saya bukan tipe yang suka bikin repot orang kalau traveling. Oleh karena itu, traveling saya benar-benar menjadi traveling  bebas hambatan dan lancar jaya. Karena segala sesuatunya sudah saya persiapkan jauh-jauh hari.

Selama melakukan traveling, saya mencatat  hal yang dirasa unik dan penting dalam buku catatan perjalanan maupun di dalam device yang saya bawa. Tak ketinggalan tentunya kamera. Karena, traveling tanpa kamera seperti burung  patah sayap, keplek-keplek atau sengklek kalau orang Jawa bilang, alias ada yang kurang. Meski ada kamera dari telepon pintar saya, tetap saja, kamera DSLR tidak akan pernah lupa. Saat perlu motret cepat, telepon pintar saya yang akan bermain. Tetapi, ketika saya berada di satu daerah yang memungkinkan untuk banyak mengambil angle maupun gambar-gambar wide angle,  kamera DSLR saya yang akan saya keluarkan.

Dalam banyak hal, traveling itu sangat bagus dan mengasyikan, tentunya dapat meningkatkan kesejahteraan mental, tak hanya jangka pendek tapi juga jangka panjang.  Entah itu traveling untuk berbisnis, traveling bersama keluarga dalam jangka lama, tentunya sedikit banyak kehidupan kita dilakukan di jalan.  Ya, traveling untuk saya pribadi akan membuat diri lebih bahagia, mampu membangkitkan rasa percaya diri, memberikan pengalaman dan kenangan baru, menjauhi diri sesaat dari rutinitas yang seakan tak pernah habis, dan tentunya juga,  memungkinkan saya bertemu orang-orang dari penjuru dunia.  

Saya senang ketika mendapatkan pengalaman dan wawasan baru, juga menantang batas-batas yang saya miliki. Traveling, bagi saya menjadi katalis sempurna untuk kebahagiaan, kenapa? Karena, hal ini memungkinkan saya mengalami keajaiban alam, budaya, dan beragam buatan manusia dan ciptaan Tuhan di seluruh dunia.  Pastinya, berada di negeri yang asing itu membuat saya harus keluar dari zona nyaman dan harus membangun kepercayaan diri yang kuat. Traveling juga sebagai sekolah terbaik yang saya peroleh. Belajar banyak tentang dunia di luar saya, terutama untuk diri sendiri.

Traveling itu membuat saya menjadi diri sendiri. Bagaimana tidak, ketika dihadapkan pada situasi yang tidak memungkinkan, mau tidak mau saya harus putar otak. Misalnya, ketika tak tahu arah jalan pulang yang notabenenya itu negeri asing dan baru pertama kali dikunjungi. Ya, alamat hotel tempat menginap, peta, uang, dan kemampuan bahasa harus saya keluarkan. “Malu bertanya, ga bisa pulang”. Ketika saya mampu mengatasi itu semua, di situlah kepercayaan diri timbul.

Traveling dengan rasa bahagia, mampu memberikan setrum  hebat kepada orang-orang di sekitar saya, terutama penduduk setempat. Ya, ketika senyum bahagia, sapaan ramah, orang-orang yang bertemu dengan saya mendapakan efek langsung. Ketika perjalanan saya menyusuri pedalaman hutan Sumatera, Bukit Tiga Puluh, Menjumpai Suku Anak Dalam, Suku Talang Mamak, maupun Melayu Tradisional, Orang-orang Lore, mereka sangat bahagia, ceria, dan ramah. Meski, mungkin sebagian dari mereka ada yang pernah mengalami hal-hal tak menyenangkan dalam hidupnya. Ketika senyuman dan sapaan akrab saya mendarat kepada mereka, hal-hal  tak menyenangkan yang pernah mereka alami itu, sirna.

Saat  saya ber-traveling-tentu akan jauh dari keluarga. Berada jauh dari orang-orang terdekat ketika saya biasa akrab, akan terasa ada yang berbeda. Di situlah, saya lebih bisa menghargai orang-orang terdekat saya, keluarga.

Traveling membuat saya banyak memperoleh teman baru.  Ternyata, pengalaman saya selama traveling memang berbeda saat di rumah. Ada banyak teman baru yang saya peroleh, dan jauh lebih mudah membuat teman baru di jalanan ketimbang di rumah.  Bertemu orang-orang baru yang bisa saya sapa secara ramah dan akrab, juga saya ajak ngobrol.  Traveling membuat peningkatan interaksi sosial yang saya miliki jauh lebih besar ketimbang berkumpul dengan orang-orang yang berpikiran picik.  Apalagi, ketika saya menjumpai dan bercakap-cakap dengan beragam orang dari kultur yang berbeda, hal itu sungguh sangat menarik untuk saya.  Otomatis, sedikit banyak saya dapat belajar juga dari mereka.

Traveling menjadi detoks saya dari media sosial.  Media sosial itu punya banyak impact untuk kita, asal bijak menggunakannya.  Bisa baik juga buruk.  Dengan traveling, sejenak saya membebaskan diri dari internet, gadget, maupun wifi. Tetapi, wi-fi memang sudah sangat umum, ada di mana-mana, karenanya akan sulit untuk di switch off.  Terkadang pun, ketika ponsel saya tersambung dengan wifi, di situlah saya secara tak sadar asyik sendiri dengan gadget, mau tidak mau sejenak memeriksa twitter, menelusuri lini masa facebook, terkadang periksa email masuk.  Lebih baik matikan segera.  Hal itu lebih membebaskan saya untuk traveling ke sana ke mari tanpa gangguan gadget.

Traveling membuat saya sangat menikmati waktu yang Tuhan beri. Ya, traveling itu memberikan saya ruang bernapas yang terkadang hilang dalam eksistensi sehari-hari yang biasa saya lakukan. Penting memanfaatkan kedamaian hidup dengan waktu yang Tuhan beri. Biarkan stress kita lepas. Kalau pun saya pergi dengan pasangan saya, di sinilah waktu yang tepat untuk menghabiskan waktu bersama-sama. Kita, jangan pernah takut untuk traveling dan meminta izin dari perusahaan tempat kita bekerja, karena jatah cuti itu sudah jadi milik Anda.

Ada nilai-nilai pendidikan yang saya peroleh selama melakukan traveling. Ketika saya singgah ke Bali, saya pelajari kulinari Bali juga bahasa baru. Traveling yang saya lakukan itu sebagai cara baru menghadirkan hal-hal baru untuk diri saya dalam menambah pengetahuan dan pendidikan. Dengan traveling dan belajar sesuatu yang baru, membuat otak kita lebih aktif juga meningkatkan kebahagiaan diri terutama saat mempelajari sesuatu hal yang kita anggap menyenangkan.

Vitamin A dan D sebagai boost untuk traveling saya. Ketika bermain di pantai, 20 menit berjemur di bawah sinar matahari sudah cukup untuk merasakan efek penuh vitamin D. Sinar matahari dan kehangatan itu membuat saya berada dalam lingkup kebahagiaan dan suasana hati jauh lebih baik. Efek ini terasa tatkala saya sudah mengakhiri traveling.  


Pantai Pandawa-Bali
Foto: Dok. Pribadi
Traveling itu membawa beragam cerita, baik aneh, lucu, terkadang serius. Dari traveling ini saya bisa cerita hal-hal tersebut dan tentunya membuat saya semakin menarik. Ketika kita menceritakan pengalaman traveling itu, orang-orang sedikit banyak akan mendekat dan ingin tahu. Membuat seseorang yang mendengar cerita kita tertawa, itu sebagai salah satu cara mudah untuk dapat langsung menumbuhkan harga diri. Jadi, jangan malu untuk berpegang pada kenangan traveling kita. Kamu sudah cukup traveling atau perlu traveling? Segera piknik!








8 komentar:

Frida Herlina mengatakan...

Pilihan tepat tuh traveling ke pantai. Hmmm ... Liburan udah usai kok aku malah pengen ke pantai ya?
Hihihi ...

Jun Joe Winanto mengatakan...

Nah, iya Mba Frida... kalo traveling ga nunggu pas liburan Mba Frida... heheheh, selagi ada sela waktu, hajaaarr. Pantai itu mengasyikkan dan semua traveling itu mengagumi ciptaanNYA. Semoga segera terwujud main ke pantainya ya Mba @Frinda Herlina

Dama Vara mengatakan...

Temen setipe nih. saya juga pecinta liburan ke pantai. Tos dulu kita mas Jun!

Yogi mengatakan...

selain vitamin A dan D, di pantai itu banyak vitamin sea mas Jun. :)

dekCrayon mengatakan...

daku kalo travelling jarang utak atik gadget jadi kadang banyak moment yang tak sempat diabadikan. btw pantai itu yang pasti dapat vit G alias gosong hehehe

Jun Joe Winanto mengatakan...

Tooos Dama... Yuuk kapan kita barengan ke pantai. Keknya kalo pantai di Jakarta mesti cari ke pulau2 yg agak menjorok ke dalem. Kalo di luar2 meski notabenenya resort, yaa kurang puas aja.

Jun Joe Winanto mengatakan...

Naaah... Iya Mas Yogi. Wuiiiih saya kalo udah lihat laut, entah kenapa, bawaannya pengen ala2 bulbul gitu, jemur ampe kulit merah trus pijetan, ama ngepang rambut. Hahahah

Jun Joe Winanto mengatakan...

Waaah... Emang sih ya. Tapi mesti siap2 pas klo ada moment indah dan cantik kayak yg ngomenin ini, segera diabadikan. Hahahah...