Selasa, 05 September 2017

Gerakan Masyarakat Hidup Sehat: Cara Cerdas Kementerian KesehatanTanamkan Nilai-Nilai Kesehatan Sejak Dini



Sehat itu jadi milik semua orang, tak hanya individu. Siapapun berhak mengenyam yang namanya sehat. Saat sakit, sehat menjadi satu kata yang sangat mahal harganya. Menjaga kesehatan sedari awal pantaslah dilakukan. Hal itu sebagai bentuk pencegahan dini dari serangan  penyakit.

Gerakan Masyarakat Hidup Sehat, Temu Blogger Semarang [Foto: DokPri]
Kita ketahui bahwa di 30 tahun terakhir terjadi banyak perubahan jenis penyakit karena gaya dan perilaku manusia. Dapat dilihat pada 1990-an, kita jumpai kematian dan kesakitan yang paling besar berupa penyakit menular seperti ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas), Diare, TBC, dan sebagainya.

Berbeda halnya di tahun 2010, penyebab kematian dan kesakitan justru berubah berasal dari penyakit tidak menular (PTM), seperti kencing manis, jantung, juga stroke. Bahkan, PTM yang selama ini banyak dikenal dan “gandrung” menyerang usia tua, mulai berubah arah. Anak-anak muda  semakin banyak yang terkena PTM, baik dari kalangan beradan maupun yang miskin tinggal di kota juga di desa.

Hal itu bisa jadi karena makin majunya budaya, informasi, juga aksesibilitas gaya hidup seseorang maupun masyarakat.

Sejalan dengan ini, Kementerian Kesehatan, melalui Biro Komunikasi & Pelayanan Masyarakat melakukan Sosialisasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat selama tiga hari berturut-turut, 28 hingga 30 Agustus 2017 bersama Blogger Semarang dan Jakarta.
Sosialisasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) ini dilangsungkan di Hotel Santika Premier Semarang dengan beberapa bahasan dari Biro Komunikasi & Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI juga pejabat di lingkungan Dinas Kesehatan Kota Semarang dan Provinsi Jawa Tengah.

Dalam paparan Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, drg. Oscar Primadi, MPH, dalam hal ini diwakili Kepala Bagian Hubungan Media & Lembaga, Indra Rizon, SKM, M.Kes dikatakan bahwa  dalam empat tahun terakhir terjadi pergeseran pola penyakit. Jika dulu penyakit menular merupakan penyakit terbanyak dalam pelayanan kesehatan, saat ini bergeser, Penyakit Tidak Menular yang memiliki proporsi utama (57% dari total kasus).

Hal ini sebagai fenomena yang terjadi pada negara berkembang seperti Indonesia. Itu terjadi akibat perubahan pola hidup masyarakat, pola hidup yang tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, dan kebiasaan makan yang tidak baik. 

Rekan blogger Jakarta & Semarang Germas 2017 Semarang [Foto: DokPri]
Kematian akibat penyakit tidak menular semakin hari semakin meningkat.Menurut sumber Double Burden of Diseases & WHO NCD Profiles (2014) pada 1990, penyakit menular (PM) berada pada persentase 56%, cedera 7%, dan penyakit tidak menular (PTM) di angka 37%. Tahun 2000, PM di angka 43%, cedera 8%, dan PTM di 49%. Tahun 2010 PM berada di angka 33%, cedera 9%, dan PTM di 58%. Pada 2015 PM di angka 30%, cedera 13%, dan PTM naik di 57%.

Faktor risiko penyebab Penyakit Tidak Menular (PTM) terkait  gaya hidup masyarakat yang bergeser di antaranya:
  1. Penduduk kurang beraktivitas fisik, contohnya banyak menghabiskan waktu dengan menonton TV, bermain game dan terlalu lama  di depan komputer. Hal ini dapat menyebabkan faktor risiko kegemukan.
  2. Pola makan yang berubah, kecenderungan masyarakat untuk makan makanan olahan, siap saji, tinggi gula, garam dan lemak dan kurang makanan yang berserat seperti buah dan sayur menyebabkan gangguan pencernaan. Konsumsi gorengan dan makanan berlemak pun kerap dilakukan.
  3. Faktor risiko selanjutnya adalah minum minuman berakohol. Kebiasaan minum minuman beralkohol dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh dan berisiko kematian. Termasuk juga minuman bersoda.
  4. Selanjutnya adalah kebiasaan merokok.  Merokok dapat menyebabkan bermacam macam penyakit di antaranya kanker paru-paru, kanker mulut.
  5. Malas. Malas memberikan kontribusi kepada orang untuk lamban bergerak.

Dari hal-hal tersebut sudah pasti risiko yang ditimbulkan, seperti obesitas, kanker paru, jantung, kematian, gangguan pencernaan, stroke, kerusakan organ, dan sebagainya.
Sudah semestinya, penyakit tidak meular (PTM) itu perlu dicegah. Bagaimana mencegahnya? Ya, melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat-lah salah satu pencegahannya.  Pola atau gaya hidup tidak sehat yang dapat menyebabkan timbulnya satu penyakit tidak menular segera dipangkas alias di STOP. Dicegah dengan GERMAS ini.

Rekan blogger Jakarta dan Semarang saat pemeriksaan kesehatan [Foto: DokPri]

Apa itu GERMAS
Germas atau Gerakan Masyarakat Hidup Sehat merupakan tindakan yang dilakukan secara sistematis dan terencana. Dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan, dan kemampuan  berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup.

Adapun tujuan yang ingin diperoleh dari Germas ini adalah agar masyarakat mampu berperilaku sehat, dan ujung-ujungnya punya dampak kepada kesehatan yang terjaga, lebih produktif dalam segala hal, mendapatkan lingkungan yang bersih, dan biaya untuk berobat semakin berkurang. 

Rekan blogger saat melakan senan Germas [Foto: DokPri]
Apabila masyarakat semakin sadar dengan hidup sehat, otomatis baik dirinya sendiri, keluarga, maupun orang-orang di lingkungannya akan semakin mendapati manfaat yang sangat besar. Ini menjadi semacam langkah nyata hidup lebih sehat dan lebih baik.

Gerakan hidup sehat sudah semestinya diwujudkan pula dengan tindakan nyata. Nyatanya seperti apa? Atau hanya sekadar wacana yang dibesar-besarkan tetapi tanpa bukti untuk dilakukan? Tentu tidak. Melakukan aktivitas fisik seperti berolahgara, menyapu, turun naik tangga, atau membersihkan rumah, itu sebagai nyata kegiatan dari Germas.

Begitu pula soal makanan. Mestilah ada sayur dan buah di atas meja makan. Setengah piring makan yang kita miliki harus berisi buah dan sayur. Terpenting lagi, tidak merokok. Merokok tentu banyak ruginya dibanding manfaatnya. Ada saja penyakit yang dapat menyerang seorang perokok. Sebaiknya hentikan dari sekarang.

Alkohol pun sangat berbahaya jika dikonsumsi. Alkohol dapat membuat seseorang hilang kesadaran. Dari alkohol pula malapetaka datang. Rajinlah memeriksakan kesehatan secara rutin. Kita tidak tahu, apa penyakit yang saat ini hinggap dan bersarang di tubuh kita jika tidak kontrol ke dokter.

Lingkungan yang bersih menjadi acuan untuk menggerakan masyarakat hidup sehat. Lingkungan bersih menjadi indikator bahwa masyarakatnya juga menganut pola hidup sehat. Beberapa wilayah di Indonesia terlihat begitu asri dan bersih. Itu dapat menjadi tanda-tanda kehidupan  yang bersih pula.

Fokus Gerakan Masyarakat Hidup Sehat di 2017 ini ada pada tiga hal, yaitu melakukan aktivitas fisik, mengonsumsi buah dan sayur, dan memeriksa kesehatan secara berkala. Mau tidak mau, suka tidak  suka, pribadi juga masyarakat perlu melakukan ketiga hal tersebut minimal dalam keluarganya.

Oleh karenanya, seluruh lapisan masyarakat yang ada di Indonesia sudah seharusnya melaksanakan Germas ini. Individu, keluarga, dan masyarakat mesti mempraktikkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari. Begitu pual akademisi (universitas), dunia usaha (swasta), organisasi masyarakat (Karang Taruna, PKK, dsb), organisasi profesi menggerakkan institusi dan organisasi masing-masing agar anggotanya berperilaku sehat.

Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah menyiapakan seluruh sarana  dan prasarana seperti kurikulum pendidikan Usaha Kesehatan Sekolah, fasilitas olah raga, sayur dan buah, ikan, fasilitas kesehatan, transportasi, Kawasan Tanpa Rokok (KTR), taman untuk beraktivitas warga, dukungan iklan layanan masyarakat, car free day, air bersih, uji emisi kendaraan bermotor, keamanan pangan, pengawasan terhadap iklan yang berdampak buruk terhadap kesehatan (rokok, makanan tinggi gula, garam, lemak) dan sebagainya. Tugas pemerintah juga memantau dan mengevaluasi pelaksanaannya.

Bicara Gerakan Masyarakat Hidup Sehat tentunya berhubungan dengan aktivitas fisik. Ya, aktivitas fisik dapat kita lakukan di mana dan kapan saja. Sebenarnya, apa sih aktivitas fisik itu? Aktivitas fisik itu menyangkut seluruh gerak tubuh yang melibatkan otot rangka dan pengeluaran energy.

Aktivitas fisik dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja paling sedikit 30 menit setiap hari. Kita juga perlu membatasi kegiatan duduk seperti nonton TV, main game, dan komputer. Tidak pula mengudap makanan yang manis, asin, dan berminyak.

Di Sekolah, dapat pula kita melakukan aktivitas fisik seperti melakukan peregangan pada pergantian jam pelajaran, bermain saat istirahat, dan memperbanyak kegiatan berjalan. Sementara, di rumah melakukan pekerjaan rumah seperti menyapu, mencuci, berkebun, menemani anak bermain. Di tempat kerja bisa melakukan peregangan di sela-sela jam kerja juga  memperbanyak kegiatan berjalan.

Bagaimana saat kita dalam perjalanan? Kita dapat menggunakan tangga, berhenti satu hingga dua halte sebelum halte yang dituju. Bisa juga memarkir kendaraan yang relatif jauh, berhenti untuk peregangan dalam perjalanan jarak jauh atau macet, juga melakukan peregangan di dalam mobil atau bis.

Kalau kita berada di tempat umum, taman kota dapat dimanfaatkan untuk melakukan aktivitas fisik, memperbanyak kegiatan di ruang terbuka, juga bisa menggunakan sepeda ke tempat kerja.

Sayur dan buah sangat baik untuk tubuh. Mengonsumsi sayur dan buah justru akan menghindari diri dari penyakit sembelit,  kulit, dan bibir pecah-pecah. Hidangkan sayur dan buah dalam menu kita sehari-hari, baik di rumah, sekolah, tempat kerja, maupun untuk seluruh keluarga. Bayi, balita, anak sekolah, orang dewasa, pekerja, bumil, maupun usia lanjut. Konsumsilah buah dan sayur lokal yang ada di banyak pasar di Indonesia.  

Hati-hati dengan makananyang banyak mengandung gula, garam dan minyak. Sebisa mungkin batasi asupan ketiga hal itu. Banyak minum air putih justru bagus untuk kesehatan. Mencuci tangan sebelum makan pun sangat penting untuk menghindari masuknya kuman penyakit.

Nah, memeriksa kesehatan secara rutin sangat perlu. Mengecek tekanan darah penting. Termasuk juga kadar gula darah. Kita juga perlu ngecek kolesterol darah, tes darah lengkap di laboratorium, mengukur lingkar perut khusus untuk wanita. Tak salah pula melakukan ters IVA (Infeksi Visual Asam Cuka) untuk deteksi dini kanker mulut rahim yang dapat dilakukan enam bulan sekali. Pemeriksaan tersebut dapat dilakukan enam blan sekali. Bisa dilakukan di Puskesmas dan Pelayanan kesehatan lainnya, juga Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) terdekat.

Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB [Foto: Dok.http://4.bp.blogspot.com]
Check up kondisi tubuh sangat penting untuk antisipasi hadirnya penyakit yang tak diinginkan. “Kalau sudah gejala datang, itu sudah terlambat dan tanda-tanda penyakit tersebut ada”, ucap Dokter Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM.  

Check up menjadi semacam alarm untuk tubuh. Sebagai sarana evaluasi ketika ada ganggungan kesehaatan kronis di diri seseorang. Check up juga dilakukan karena kita tidak tahu bahwa banyak penyakit yang pada awalnya muncul tidak terdapat gejala. Contohnya adanya kolesterol tinggi, trigliserida, kadar kolesterol jahat tinggi, kadar, kolesterol baik (HDL) yang rendah, peningkatan kadar asam urat, naiknya kadar gula darah, terjadi penimbunan lemak pada hati dan hepatitis kronis, anemia, hipertensi, penyakit jantung koroner.

Banyak faktor penyebab terjadinya hal itu. Kita dapat melihat dari pola makan orang Indonesia. Seperti contoh makan bakso. “Sebenarnya, makan bakso hanya sebagai selingan saja, bukan sebagai makanan utama. Oleh karenanya, setelah makan bakso, tidak disarankan makan-makanan berat, seperti nasi”,  tegas dokter Ari lagi.

Apalagi saat-saat tanggal muda, orang Indonesia punya kecenderungan makan di restoran. Dengan bahan makanan yang banyak mengandung lemak jenuh, bersantan, daging rendang, juga gulai-gulaian. Konsumsi serat yang rendah pun dapat berpengaruh pada kondisi tubuh.  Di bawah ini tabel kebutuhan serat berdasarkan RSCM 2005.

 

Rata-rata, konsumsi serat orang Indonesia hanya 12,78 plus minus 9,37 gram. Idealnya, konsumsi serat per hari berjumlah 25 mg/hari. Nah, kalau kadar kolesterol dalam darah seseorang tinggi, otomatis akan terjadi penumpukan pada pembuluh darah, baik pembuluh darah jantung, otak, juga di hati, penumpukan di kandung empedu yang lama kelamaan menjadi batu kandung empedu.  Risiko yang paling berbahaya adalah sakit jantung dan stroke.

Semua kembali lagi pada pola atau gaya hidup. Gaya hidup yang tidak sehat akan memicu timbulnya beragam penyakit dalam tubuh. Asam urat yang tinggi terjadi penumpukan di sendi kecil terutama di kaki, merasakan nyeri yang pertama di jempol kaki. Juga dapat menumpuk di ginjal dan menyebabkan terbentuknya butiran pasir di ginjal.

Adanya penyakit Goutartritis karena pola makan yang tidak sehat. Seperti konsumsi sate maupun sop dari daging yang berlebihan. Perlu juga diperhatikan untuk kadar gula dalam tubuh. Kadar gula yang tinggi dapat menumpuk di pembuluh darah besar dan keci. Kalau penumpukannya terjadi di koroner, dapat menyebakan penyakit jantung koroner, di otak dapat menyebabkan stroke, di ginjal dapat menyebabkan gagal ginjal atau kebocoran ginjal, di syaraf kaki menyebabkan kesemutan, di lambung sakit maag, dan di penis membuat seseorang jadi impoten.

Perlemakan hati dan hepatitis kronis  biasanya sakit yang umumnya tidak dirasakan. Gejala seperti sakit maag. Pada hepatitis  kronis, pasien datang dengan muntah darah atau kaki dan perut bengkak. Nah, untuk anemia,  terjadi karena kekurangan zat besi, perdarahan yang jelas maupun tersembunyi, produksi yang kurang atau penghancuran yang berlebih.

Semuanya dapat dicegah dengan memperhatikan asupan makanan. Menghindari makanan berlemak, jeroan, cokelat, keju, santan, dan goreng-gorengan. Jauhi minuman beralkohol, dan tidak makan berlebihan. Rokok juga sangat berbahaya, oleh karenanya, jauhi rokok.

Tips Hidup Sehat
Minum air putih yang banyak, delapan gelas sehari. Sayur-sayuran menjadi penting begitu pula buah-buahan. Istirahat yang cukup, tidak merokok, dan olahraga teratur. Perilaku CERDIK sangat perlu dilakukan.

Mencegah memang lebih baik dari pada mengobati. Akan tetapi, bila sudah terjadi, apa yang seharusnya kita lakukan? Segeralah berkonsultasi ke dokter dan minum obat sesuai anjuran. Kontrol secara teratur hingga kondisi kembali semual, dan hindari makanan yang bisa memperburuk keadaan.

Jadi, betapa pentingnya check up ya guys!

3 komentar:

ben benavita mengatakan...

Lengkapnyaaaa :3

Jun Joe Winanto mengatakan...

Masih ada lagi Been... Mau Ditambah lagi.

Monica Anggen mengatakan...

Lengkapnya informasi mengenai Germas ini. Ditunggu tambahan berikutnya ya, mas Jun, karena saat ini kayaknya saya juga butuh nih informasi mengenai pola hidup sehat