Senin, 09 Oktober 2017

Digital Classroom, Kini Terwujud Nyata di IPEKA IICS Jakarta




Gelombang besar dunia digital semakin tak terbendung. Digital mengantarkan siapapun yang dapat memanfaatkannya dengan baik namun tak jarang menghancurkan martabat seseorang dengan berbagai cara. Ketidakpahaman khalayak pada dunia digital membuat berbagai penyalahgunaan media digital terjadi di level personal, sosial, juga nasional. 

IPEKA Integrated Christian School [Foto: DokPri]
Teknologi, mendekatkan sekaligus menjauhkan kita. Teknologi diciptakan awalnya sebagai perpanjangan dari indera manusia. Telepon memudahkan kita untuk mendengar suara orang yang berada di ujung dunia lain. Chatting via internet memungkinkan kita untuk “berbincang” tanpa suara.

Kita sudah tidak bisa membayangkan hidup kita tanpa komunikasi,
tanpa media, dan tanpa teknologi. Kita sudah terjebak jauh di dalamnya secara tidak sengaja. Ketika kita masuk abad ke-21, rumah kita sudah ditransformasikan ke dalam situs budaya multimedia, mengintegrasikan audiovisual, informasi, dan pelayanan telekomunikasi. 

Ruang dalam IPEKA [Foto: DokPri]
Hidup kita sekarang ini pun sudah dikelilingi dengan e-commerce, e-learning education, internet shopping, game online dan gaya hidup cyber lainnya. Hal ini memunculkan kekhawatiran mengenai bagaimana masa depan anak muda yang tumbuh di tengah “kehebohan” teknologi ini. Livingstone (2002) mengatakan, bahwa ada spekulasi mengenai ‘digital generation’, anak dalam ‘information age’, ‘ computer nerds’, ‘innocent on the Net’, the’digital divide’, dan ‘addicted surfers’.

Semua konsep tersebut menunjukkan seberapa dekatnya mereka dengan kehidupan virtual. Kehidupan pseudo-reality yang memungkinkan mereka untuk berkomunikasi, berteman, bersosialisasi, serta bermasyarakat dengan teman dan masyarakat semu nyata yang mereka temui di jendela komputer mereka. Ketika bisa melakukan semua hal hanya dengan
duduk di depan komputer, tak perlu lag pergi ke luar kamar untuk bersosialisasi dengan teman, masyarakat, dan manusia asli.

Tempat yang nyaman di IPEKA [Foto: DokPri]
Di area public dan akademis, terdapat klaim yang muncul. Kaum pesimis meratapi akhir dari masa anak muda, nilai tradisional yang seharusnya mereka miliki. Media interaktif dilihat sebagai pertanda munculnya gaya hidup individualistis dan privatisasi yang meningkatkan kemandirian terhadap konsumerisme ekonomi global dan kecenderungan untuk meremehkan budaya nasioal dan regulasi media nasional. Bagi kaum optimis, adanya kesempatan bagi partisipasi demokratis dan partisipasi komunitas untuk kreativitas, ekspresi diri, dan demi tak terbatasnya pengetahuan yang ada dapat mendukung keberagaman, perbedaan, dan debat yang sehat.

Kedua klaim tersebut mengarah pada euforia sekaligus kekhawatiran mengenai semakin berkembangnya teknologi komunikasi. Euforia terhadap semakin terbukanya kesempatan untuk melihat lebih dari apa yang ada di sekitar kita, tahu lebih dari apa yang kita lihat. “Kebahagiaan” akan teknologi yang semakin mudah diakses. Di sisi lain, kekhawatiran menghantui di belakangnya. Efek perkembangan teknologi ini pun berkaitan dengan segala aspek kehidupan: pendidikan, gaya hidup, keluarga, konsumerisme, bahkan budaya.

Teknologi dapat mengkaburkan batas antara kehidupan privat dan publik. Facebook dengan “ What’s on your mind?” nya mendesak penggunanya untuk menceritakan atau mencurahkan apa yang ada di pikirannya. Perasaan yang kadang merupakan sesuatu yang bukan santapan publik, mau tidak mau diberitahukan kepada orang lain. Cara pengekspresian seperti ini lama kelamaan menjadi candu bagi para remaja ini. Daripada mengungkapkannya kepada teman, keluarga, atau orang yang bersangkutan, mereka lebih memilih “teman baru” mereka ini untuk berbagi.


Rekan-Rekan Blogger dan Media siap untuk melihat launching Digital Classroom Chromebook [Foto: DokPri]
Sejalan dengan perkembangan dan kemajuan digital, pada hari ini, Senin (9/10/2017), dalam satu kesempatan menghadiri helatan oleh ACER dan GOOGLE yang Luncurkan ‘Mobile Lab Chromebook Cart’ Pertama di Indonesia bersama IPEKA Integrated Christian School (IICS) Jakarta. Bertempat di Sekolah IPEKA, Kommplek Taman Meruya Ilir, Jalan Batu Mulia Blok K, RT 11/RW 7 Meruya Utara, Kembangan, Jakarta Barat.

Ini merupakan pertama kalinya di Indonesia, di IPEKA yang mengimplementasikan metode pembelajaran blended learning melalui Digital Classroom. Dengan device CB dan ekosistem Google yang sangat memudahkan guru memberi tugas, memberi kebebasan pada siswa mengerjakan tugas, dan guru pun  bisa berdiskusi dengan murid secara real time (nyata).

IPEKA, ACER, Intel, dan Google dalam satu kerjasama [Foto: Dok.Acer]
Hal ini  berarti, ada hal yang berubah di dunia pendidikan tanah air. Pendidikan di tanah air mulai bertransformasi secara digital meski perlahan-lahan tapi pasti. Kemajuan teknologi dan pemanfaatannya tentu tak bisa dihindari dalam mewujudkan pendidikan abad ke-21.

Melalui konsep pembelajaran digital inilah mampu mendorong  siswa berkomunikasi, penguasaan komputer, kolaborasi,  dan memiliki pola pikir yang kritis dan kreatif. 

Digital Classroom Chromebook [Foto: DokPri]
Berdasarkan studi oleh Survei Deloite, Oktober 2016, bahwa 75% guru memercayai bahwa isi pembelajaran digital akan menggantikan buku teks cetak di kurun waktu 10 tahun mendatang. Tak hanya itu, 81% guru pun percaya bahwa pemanfaatan teknologi di sekolah dapat membawa dampak perubahan positif dan sangat signifikan terhadap model pembelajaran.

Model pembelajarang Chromebook [Foto: DokPri]
“Kalau 20 tahun lalu kita bicara artificial intelligence, belajar yang sederhana, contohnya menghitung jarak tercepat. Tetapi kini, model pembelajaran terbaru di dukung oleh informasi dan teknologi”, ucap Handojo, CEO IPEKA IICS.
Kita ketahui juga bahwa tekonologi kini tak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari.   



Atas: Sistem blended learning dan digital classroom. Bawah: Box portable materi [Foto: DokPri]

“Teknologi punya peran penting untuk meningkatkan kualitas hidup dan pendidikan sebagai sarana pembelajaran, baik untuk guru juga  siswa. Teknologi di dalam kelas yang interaktif akan menjadi katalis terjadinya perubahan mendasar terhadap peran guru, dan informasi ke transformasi, juga aktivitas siwa dari pasif menuju lebih aktif dan mandiri mengakses pengetahuan terbaru”, sebagaimana ucap Ganis Samoedra, Google for Education Indonesia. 

IPEKA menjadi satu-satu sekolah dan pertama yang menggunakan Chromebook di Indonesia. Menjadi satu kebanggaan sendiri untuk guru dan siswa-siswa yang ada di dalamnya. IPEKA dikelola oleh satu yayasan dengan sebaran sekolah di 13 lokasi. 


Solusi Chromebook untuk digital classroom [Foto: Dok Acer]
Program Digital Classroom yang dibuat, ternyata telah dirintis oleh IPEKA selama dua tahun. Masa uji (pilot project) itu kini dihadirkan untuk diketahui masyarakat luas. Didukung oleh Google Classroom, juga mempersiapkan guru-guru yang kreatif dan kritis. 

Guru-gurunya pun dididik untuk mampu berdialog dengan siswa. Tidak pula malu-malu untuk bertanya kepada siswa jika memang  siswa lebih tahu. Apalagi, siswa sekarang dibilang digital native, perkembangan dunia digital  mereka jauh lebih maju dibanding (mungkin) guru-gurunya.

IPEKA IICS Jakarta ini sangat sadar betapa pentingnya peran teknologi sekarang. Terutama teknologi untuk meningkatkan pendidikan dan SDS (Sumber Daya Siswa), salah satunya dengan penerapan pembelajaran metode blended learning. Ya, metode itu seabgai gabungan antara proses belajar mengajar tradisional dengan konsep belajar digital & mobil yang memanfaatkan dukungan perangkat dan solusi dari ACER Chromebook untuk siswa juga guru. 

Di sini, ada tiga brand yang berkolaborasi ciamik untuk dunia pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik, yaitu ACER, Intel, dan Google. Kita tahu bahwa orang menjadi baik karena pendidikan dan didikannya. Melalui blended learning ini juga, anak-anak dituntut untuk mendapatkan kepandaian baru dengan penerapan teknologi terbaru. 

Dari sinilah ACER juga terus melakukan inovasi yang saat ini fokus pada dunia pendidikan sebagai salah satu the biggest player of technology. IPEKA menjadi contoh yang semoga juga dicontoh oleh sekolah-sekolah lain di Jakarta khususnya dan Indonesia umumnya.

Pengaplikasian sistem blended learning dengan ACER Chromebook di IPEKA ditujukan untuk anak-anak di kelas pemula,yaitu kelas VII dan kelas X. Mengapa? Karena, kelas-kelas tersebut sebagai kelas pemula yang masih perlu terus dididik dan dikembangkan jenis-jenis kemampuan mereka. Hal itu akan dilakukan untuk tahun depan. Masing-masing anak nantinya akan mendapatkan satu chrome book.

Edukasi dari ACER, Google, dan intel menjadi fondasi masa depan yang kokoh untuk anak-anak didik di Indonesia. Apalagi device makin berkembang dan ACER menjadi salah satu vendor device paling besar. 

Chromebook ini sangat cost saving, artinya buku-buku tak perlu beli lagi dan sudah menjadi satu paket di dalam device. Fitur-fitur  yang dibenamkan juga tergolong aman dan nyaman. Melalui teknologi ini juga ACER bermaksud menyiapkan anak-anak masa depan yang memilili attitude dan knowledge.

Ternyata, metode blended learning yang dihadirkan di digital classroom akan membuat proses belajar menjadi dinamis. Tak ada batasan waktu dalam belajar.  Interaksi antara guru dan murid dapat dilakukan kapan dan di manapun. Ya, ekosistem Google dan perangkat Chromebook mendukung dan memungkinkan siswa menyimpan seluruh dokumen dengan aman di cloud tanpa adanya batas kapasitas penyimpanan.Selain itu juga dapat diakses kapan dan di manapun. Pekerjaan rumah pun jadi lebih mudah. 

Dengan adanya teknologi dan chromebook ini, menurut Pak Herbert, “Ruang kelas berubah cepat, adopsi fungsi teknologi menjadi cara utama untuk guru dan siswa menjalankan pendidikan di era digital. Selama empat dekade, ACER komit dukung sektor pendidikan, dan kami melayani kebutuhan pasar pendidikan sekaligus mendukung terwujudnya digital classroom. Ini merupakan dukungan kami sebagai technology enabler, dalam percepatan implementasi pendidikan abad 21 dalam belajar mengajar secara inovatif juga kolaboratif.”

Beruntunglah, ACER, Google, dan Intel mendukung model pembelajaran digital classroom di IPEKA. Seluruh ACER Chromebook yang dipakai sudah dilengkapi beragam aplikasi yang support dari Google, seperti Google Chrome, Google Drive tanpa kapasitas memori, Google Search, App List Button,You Tube Hangout, Classroom, Calendar, juga situs-situs yang berhubungan dengan pendidikan dan pencarian data. 

Semuanya terintegrasi sehingga baik murid dan guru bisa saling berinteraksi dalam suasana belajar menyenangkan. Nah, paketnya juga ada paket solusi dari ACER Chromebook dengan ekosistem Chrome, Charging Cart, Chrome Device Management Console, dan G-Suite App untuk Education. Jadi, kalau mau tahu info lengkapnya bisa langsung ke www.commercial.acerid.com .

3 komentar:

Sie-thi Nurjanah mengatakan...

Terobosan baru dan terdepan pastinya utk ranah pendidikan di Indonesia. Semoga yg lain pun juga menerapkannya

Agung Han mengatakan...

IPEKA menjadi terdepan di digital class room

Dewi mengatakan...

Asyik ya anak-anak IPEKA, bisa belajar di digital class room